FREELANCER ITU NGGAK SEPENUHNYA FREE! YAKIN PENGEN JADI FREELANCER?

Banyak teman-teman saya yang iri  melihat saya liburan saat mereka sibuk ‘ngantor’ di hari Senin. “Enak banget sih lo Ri, liburan mulu. Gue pengen kayak lo,” gitu kata mereka. Trus kalo saya lagi rese nyahutin, “kalo lo pengen kayak gue, resign aja dari kantor lo.” Tapi saya jarang sih rese hahaha, saya lebih suka nyahutin, “sama aja aslinya, kalo lo liburan, gue sibuk di depan laptop ngejar deadline.”

Sejak 2011, saya memutuskan bekerja sebagai ‘freelance writer’ setelah hampir 4 tahun bekerja full time di salah satu televisi swasta. Pekerjaan saya sebagai freelance saat ini sebenarnya nggak jauh beda dari pekerjaan saya saat full time di televisi. Masih berkutat di naskah skenario televisi. Bedanya saat di televisi saya sebagai pemeriksa naskah para penulis sekaligus memastikan naskah itu sejalan dengan visi dan misi program, sementara saat freelancer saya sebagai penulis naskah yang diperiksa oleh orang lain. Apakah pekerjaan saya sebagai freelancer jadi turun pangkat? Dari memeriksa jadi diperiksa? Itu tergantung sudut pandangnya.  Saya memang cinta menulis sejak remaja, jadi lebih suka menulis ketimbang memeriksa. Tetapi karena saya butuh banyak ilmu broadcasting sementara saya tidak punya background pendidikan broadcasting maka bekerja di televisi bagi saya adalah pembelajaran.  Maka ketika saya merasa telah cukup saya kembali lagi ke dunia menulis saya.

Menjadi freelancer kenyataannya tidak benar-benar ‘free’. Dimanapun bekerja pasti berkaitan dengan target, deadline dan profesionalisme. Itu nggak hanya ketika bekerja di kantor, saat bekerja sebagai freelancer malah dituntut lebih. Karena bekerja sebagai freelancer kita akan mudah ‘dibuang’ saat orang yang mempekerjakan kita melihat kekurangan kita misalnya ; tidak tepat deadline, tidak ontime dan memiliki attitude yang buruk. Dunia freelancer penulisan naskah televisi sangat sempit, orangnya hanya itu-itu saja, maka saat keburukan kita muncul akan menyebar dan berputar. Mereka akan enggan memakai kita dari berita buruk yang tersebar tentang hal-hal negatif kita saat bekerja. Karena itulah, bekerja sebagai freelancer justru harus memiliki performa yang bagus baik dalam managemen waktu, kemampuan maupun sikap.

Terus kenapa orang kantoran selalu memandang freelancer itu enak? Mungkin karena saat orang kantoran bekerja maka sang freelancer justru liburan di pulau. Leyeh-leyeh seolah nggak kerja tapi punya uang untuk liburan. Kenyataannya yang terjadi adalah, saat orang kantoran liburan maka sebagian besar freelancer justru bekerja mengejar setoran. Bisa jadi lho malah 24 jam pekerjaannya karena revisi yang tiada henti atau mengejar target tayangan misalnya. Sementara pekerja kantoran bisa 9 to 5 tetapi freelancer saat bekerja bisa sewaktu waktu dibutuhkan. Oh, ini saya ngomongin pekerjaan freelancer yang saya jalani yaitu penulis skenario televisi. Mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain sebagai freelancer di bidang lain.

Kalau kenyataannya sama saja dengan pekerja kantoran kenapa memilih bekerja sebagai freelancer dengan penghasilan yang tidak aman? Well, buat saya yang suka bebas, bekerja freelance memberi saya sedikit kebebasan untuk memilih pekerjaan yang saya suka tanpa terikat kontrak yang panjang seperti di kantor. Bekerja freelance hanya terikat project per project. Saya nggak akan pusing memikirkan kontrak jangka panjang yang mungkin saja menyesakkan. Saya bisa saya menyelesaikan satu project kemudian tidak mengambil kontrak selanjutnya karena saya kurang sreg, begitu misalnya. Jadi saya masih jadi pengendali keputusan atas project-project yang saya sukai atau tidak. Tidak seperti di kantor mau nggak mau saya harus mengerjakan apapun karena itu tugas saya untuk mendapatkan upah setiap bulannya.

Bagaimana bisa hidup dengan penghasilan yang tidak pasti? Oke, sudah banyak diketahui pekerjaan sebagai freelance ‘writer’ sangat tidak aman. Tetapi sebenarnya tidak sebegitu menakutkan ketika kita bekerja sebagai penulis naskah skenario. Saya tidak suka menyebutkan jumlahnya, yang jelas cukup untuk memehuni kehidupan saya sebagai single.  Tetapi bukan soal penghasilan sih yang memutuskan saya menjadi freelancer atau tidak. Sebenarnya ada satu hal yang saya suka ketika bekerja sebagai freelancer. Yaitu saya merasa lebih dekat dengan Tuhan karena setiap mendapatkan pekerjaan pada saat-saat sulit saya merasa Tuhan mengulurkan tangan untuk saya. Dan saya suka perasaan dekat dengan Tuhan itu.

Then…. kalau kamu freelancer, kamu akan sering mengalami ini. “Kerja di mana Kak?” Lalu kamu menjawab, “saya kerja freelance.” Terus yang nanya bengong nggak paham. Itu sering banget kejadian menyangkut status pekerjaan sebagai freelancer. Awal-awal saya keluar kantor, saya selalu agak malu jika bertemu tetangga dan mereka nanya “nggak ngantor lagi? Pengangguran?” Well, kita akan terlihat seperti pengangguran karena bekerja di rumah. Bahkan pengantar paket kita sendiri terkadang tidak percaya bahwa yang menerima paket itu kita sendiri karena berdandan dengan daster atau piyama sambil kerja dan lari ke depan menerima paket. Jadilah kita dikira ART di rumah kita sendiri.  Tetapi rasa malu saya lama-lama hilang dan berganti cuek. Ngapain saya peduli, saya nggak merepotkan mereka. Hanya mereka saja yang nggak tahu bahwa bekerja tidaklah harus di kantor.

Baiklah, saya sudah melewati dua status pekerjaan itu. 8 tahun bekerja kantoran dan 9 tahun bekerja freelance.  Sepertinya saya tetap akan memilih bekerja freelance meski resikonya lebih besar secara penghasilan dibanding bekerja kantoran. Karena saya lebih bisa memilih mana yang saya sukai atau tidak dalam mengerjakan sesuatu. Dan tentu saja bisa memilih waktu libur yang saya mau (meski kadang ini nggak semudah dikatakan juga).  Buat temen-temen yang pengen resign dan bekerja freelance sebaiknya dipikir kembali. Karena sebenarnya dimanapun selalu ada resiko dan tantangannya masing-masing. Terlihat enak karena kita hanya melihat hal-hal yang enak. Bisa jadi hal-hal sulit belum kita lihat di permukaan. Well, it’s up to you!

MUSIM GUGUR DI SAINT PETERSBURG

Matahari belum muncul saat saya keluar apartemen dan menyusuri trotoar yang dipenuhi daun-daun merah musim gugur. Saya tak memiliki banyak waktu untuk menjelajahi Saint Petersburg, kota yang pada tahun 1914-1924 bernama Petrograd dan pada masa Uni Soviet bernama Leningrad untuk mengenang Vladimir Lenin. Malam sebelumnya saya sudah nyasar sampai pinggiran sungai Neva yang bersih sekaligus terlihat menakutkan karena ketenangannya. Saya membayangkan sungai Neva menjadi saksi bisu perguliran sejarah di Rusia. Air tenang itu melihat segalanya, tetapi ia tak mengabarkan pada siapapun.

Banyak tempat yang ingin saya tuju di sini. Tetapi waktu yang saya miliki sangat sempit. Tiga hari di tempat ini dengan udara musim gugur yang dingin otomatis kulit tropis saya tidak mudah menyesuaikan diri.  Belum lagi kondisi tubuh saya yang gampang lelah dalam perjalanan dan mimisan. Sebagai orang yang suka menulis dan membaca, tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah Perpustakaan Nasional Rusia. Konon disana menyimpan beberapa manuskrip Melayu, termasuk Sejarah Melayu yang pernah dibawa seorang Laksamana dalam pelayarannya sekitar tahun 1798. Tetapi cita-cita mengunjungi perpustakaan itu tak terlaksana karena saya memutuskan ke tujuan touristik yang lain lebih dulu.  Tempat touristik itu adalah Istana Peterhof, Museum Hermitage dan beberapa tempat lainnya.

HANGATNYA SINAR MATAHARI DI TAMAN ISTANA PETERHOF

Suasana jalanan sekeliling istana masih sepi saat saya turun dari taksi online dan turun tepat di samping pintu masuk istana Peterhof.  Hanya beberapa bus lewat dan orang-orang berangkat kerja dengan mengenakan jaket-jaket tebal. Mukanya masih tampak ngantuk dan hanya melirikku sekilas. Saya celingukan mencari pintu masuk ketika menemukan serombongan kecil turis Tiongkok memasuki pintu di ujung. Saya menebak itulah pintu masuknya karena beberapa petunjuk dalam bahasa Rusia. Dan benar saja, pintu masuknya memang di sana.

Memasuki gerbang istana Peterhof, saya langsung berhadapan dengan taman yang indah. Pohon-pohon yang berjajar teratur dengan daunnya yang memerah, air mancur di berbagai sisi, dan bangku-bangku untuk duduk menikmati taman. Masih terlalu pagi dan matahari belum muncul sementara udara sangat dingin. Saya melompat-lompat kecil untuk menghalau udara dingin dan usaha saya lumayan berhasil meski efeknya saya jadi agak lapar sementara dari apartemen belum sempat sarapan.

Istana Peterhof lebih dikenal dengan Istana Musim Panas. Istana dibangun pada masa Peter Yang Agung pada tahun 1714 dan terinspirasi saat ia berkunjung ke Istana Versailles di Perancis. Terletak di tepi teluk Finlandia, Istana Peterhof langsung berhadapan dengan laut. Pembangunan istana ini bersamaan dengan perang antara Kekaisaran Rusia melawan Swedia pada tahun 1700-1721, sehingga Peter Yang Agung mendedikasikan istana ini sebagai istana kemenangan Rusia atas Swedia.

Saya tidak punya waktu untuk memasuki istana yang sangat luas ini jadi hanya berjalan-jalan di areal taman. Untuk memasuki areal dalam kita perlu membeli tiket lagi sekitar 400 ribu rupiah. Di samping kanan dari arah masuk ada konter tiket yang melayani pembelian tiket tetapi kita juga bisa membelinya melalui berbagai aplikasi online. Sementara di sebelah tempat penjualan tiket ada kafetaria. Matahari belum tinggi saat saya melihat jam dan sudah harus kembali ke pusat kota karena ditunggu pemilik apartemen.  Saya sebenarnya belum puas menikmati hangatnya matahari di taman Istana Peterhof, tetapi saya harus berlari-lari kembali ke pusat kota. Saya berharap di kunjungan yang lain bisa menjelajahi keseluruhan istana ini dengan tenang dan detail.

KEHUJANAN DI CHURCH OF THE SAVIOR ON SPILLED BLOOD

Setelah menunggu teman yang berdoa di salah satu gereja, tujuan saya selanjutnya adalah mengunjungi Church of the Savior on Spilled Blood.  Jalanan sangat ramai turis dan warga lokal. Hujan mulai turun saat saya berjalan menyusuri sepanjang sisi kanal menuju gereja. Beberapa orang mengenakan kostum kerajaan Rusia zaman dulu menawari saya untuk berfoto bersama. Saya tahu mereka akan mematok harga mahal saat saya menuruti keinginannya berfoto bersama. Karena mereka tahu saya paham modusnya, eh, malah mereka mengejar saya. Bercanda memang, tapi saya yang takut kehilangan uang rubel saya untuk foto yang tidak saya inginkan maka saya berlari. Mereka mengejar dan menangkap saya sambil tertawa-tawa. “Oh, you’re so small!” Apa makasudnya coba? Tapi mereka tertawa puas melihat saya meronta-ronta kesal melepaskan diri. Lalu begitu saya lepas mereka melambaikan tangan sambil senyum. Nyebelin banget!

Well, sayapun melanjutkan perjalanan menyusuri sepanjang sisi kanal Griboyedov. sambil kesal. Sesampainya di depan gereja ternyata gereja sedang direnovasi dan tidak diijinkan masuk. Di halaman gereja tampak anak-anak sekolahan sedang melakukan kegiatan zombie-zombiean entah apa. Mereka mengenakan pakaian ala hantu-hantuan dengan muka dicoret-coret.  Saya tertarik dengan kegiatan mereka dan mulai memotret-motret mereka. Sepertinya mereka sadar saya memotretnya dan mereka malah bergaya. Katanya mereka sedang ada kegiatan sekolah. Lucunya mereka melihat saya yang memotret nama teman saya di papan yang saya pegang. “Who is Andrew?” tanyanya. Seorang teman memang menitip foto namanya di depan gereja ini agar suatu hari dia bisa ke sini dan berdoa di sini. Saya dan dia berbeda keyakinan, tetapi dia teman baik saya dan saya tidak pernah keberatan dengan titipan foto seperti ini.

Church of the Savior on Spilled Blood dibangun oleh Tsar Alexander III untuk menghormati Tsar Alexander II yang terbunuh pada tahun 1881 di tempat ini. Gereja ini dibangun sejak 1883 hingga 1907.  Gereja ini memiliki arsitektur yang sangat unik dan cantik, tetapi sejak tahun 1930 diubah penggunaannya menjadi museum. Gereja ini menjadi salah satu gereja yang memiliki mosaik paling banyak di dunia. Sayang saya tidak memasuki bagian dalamnya untuk menjelajah lebih jauh.  Anak-anak berpakaian hantu itu masih berlari-lari mengejar temannya, sementara saya duduk di bangku depan gereja. Penjual souvenir di deretan depan gereja tampak berdiri beku merapatkan jaket tebalnya sambil memandang entah. Sayapun melambaikan tangan ke remaja-remaja tanggung berpakaian zombie lalu melintasi penjual-penjual souvenir tanpa membeli. Kejadian berdarah bertahun-tahun lalu di tempat ini kemudian menjadi kenangan untuk dikunjungi.  The Savior on Spilled Blood.

SENJA DI MUSEUM HERMITAGE DAN WINTER PALACE

Sebenarnya saya membayangkan matahari tenggelam di sekitaran istana musim dingin yang ada di tengah kota ini, tetapi sepertinya tidak mungkin. Bagaimana mungkin akan ada sunset sementara hujan mengguyur sejak siang dan langit gelap mendung. Tetapi suasana ini jadi romantis menurut saya karena saya lebih menyukai hujan ketimbang sunset.  Melihat orang-orang mengenakan mantel hitam panjang dengan sepatu boot yang menimbulkan bunyi tersendiri saat menghantam jalanan basah membuat saya berimajinasi kembali ke kejayaan istana musim dingin yang dibangun Peter yang Agung ini. Istana musim dingin ini menjadi salah satu kediaman resmi keluarga kerajaan Rusia pada tahun 1731 hingga 1917. Bergaya Baroque dengan perpaduan warna hijau dan putih, istana ini tampak megah dan sangat luas ;  terdapat ribuan ruangan, anak tangga, pintu dan jendela. Mungkin beberapa hari menyusurinya baru bisa dijelajahi semuanya.

Di komplek istana musim dingin ini pula terletak Museum Hermitage yang merupakan museum terbesar di dunia. Terdapat jutaan karya seniman terkenal seperti Rembrandt, Da Vinci juga Michaelangelo.  Hermitage merupakan satu museum tertua di Rusia.  Benda-benda dari jaman pra-sejarah atau zaman batu dari seluruh wilayah Rusia dikumpulkan di museum ini sehingga kita bisa mempelajari sejarah peradaban panjang Rusia di museum ini. Jika kita ingin melihat bagaimana kekaisaran Rusia pada masa lalu, kita bisa melihat ruangan-ruangan kekaisaran Rusia yang masih asli. Mulai dari zaman Tsar Alexander II hingga Nicholas II. Semua disusun berdasarkan kronologis dan era masing-masing zaman. Mengunjungi museum ini seperti kembali ke masa lalu yang masih asli.

HUJAN DERAS DI KATEDRAL SAINT ISAAC

Malam sebelumnya, beberapa mahasiswa Indonesia yang saya temui di galeria mall menyarankan jika ingin mengambil view foto terbaik dari Katedral Saint Isaac adalah dari taman di depannya yang ada di pinggir sungai dan saat senja turun. Tapi malah kenyataannya saat saya sampai depan katedral hujan deras turun. Saya pun hanya mengambil foto dari samping menunggu moment bus yang lewat lengang dan tidak terlalu bagus. Sebenarnya ingin ke taman pinggir sungai tapi saya malas menyeberang jalan yang cukup ramai di depan saya. Sayapun memutuskan menikmati Katedral Saint Isaac dari pojokan pinggir jalan tanpa menyeberang jalan.

Gereja ini terletak di St. Isaac Square dan merupakan gereja terbesar ke empat di dunia. Dibangun tahun 1881 hingga 1885. Memiliki kubah sebesar 101 meter dilapisi emas murni, gereja ini dibangun untuk menghormati Saint Isaac Dalmatia, sang pelindung dari Peter yang Agung.  Ini merupakan satu tempat dari sekian banyak tempat menarik di Sank Peterburg yang banyak dikunjungi turis. Sekeliling tempat ini juga sangat menarik untuk berjalan kaki atau bahkan nongkrong di kafe. Sayangnya hujan deras dan saya basah kuyup, jadi saya kurang nyaman untuk nongkrong di kafe dengan baju basah kuyup. Sebelum senja benar-benar selesai saya kembali ke pelataran Hermitage lalu mencari taksi online kembali ke apartemen. Terlalu luas untuk menjelajahi Rusia dalam waktu hanya 10 hari. Saya perlu waktu berbulan-bulan untuk kembali suatu saat nanti. Semoga saya bisa kembali.

 

 

JUM’ATAN DI MASJID KATEDRAL MOSKOW

Bisa melewati hari Jum’at di satu kota asing itu bagi saya luar biasa. Artinya saya punya kesempatan untuk mengunjungi masjid di kota itu jika memungkinan ada masjidnya. Masuk ke masjid dimana Islam menjadi minoritas dan bertemu saudara-saudara seiman di tanah asing selalu menjadi hal yang saya tunggu-tunggu. Maka waktu sampai Moskow Kamis malam, esoknya saya langsung merencanakan ke masjid yang ada di tengah kota Moskow. Namanya Masjid Katedral Moskow.

Kok namanya agak aneh ya? Masjid Katedral Moskow.  Biasanya nama Katedral berhubungan dengan gereja tapi menurut informasi, orang Moskow terbiasa menyebut gereja besar dengan nama Katedral, maka masjid besar di Moskow inipun disebutnya Katedral. Selain itu, masjid ini juga disebut Masjid Sabornaya atau Masjid Agung karena memang berfungsi sebagai masjid terbesar di kota itu.  Masjid ini terletak di Prospect Mira Street, tepat di sebelah bangunan Olympic Indoor Stadium. Jadi jika naik metro bisa turun di stasiun Prospect Mira kemudian jalan kaki ke arah Prospect Mira street. Karena kebetulan saya ke sana hari Jum’at maka tinggal mengikuti Ja’maah yang berjalan berduyun-duyun menuju masjid.

Awalnya saya kira masjid ini akan sepi, tetapi ternyata sangat ramai. Jama’ahnya sangat banyak dan memang masjid ini melayani lebih dari 2 juta umat Islam di Moskow. Saudara-saudara muslim disini saya lihat dari berbagai negara pecahan Rusia seperti Tajikistan, Kyrgystan, Turkmenistan, dan juga muslim Moskow. Masjid Katedral Moskow dibangun pada tahun 1903 dan menjadi salah satu masjid tertua dari empat masjid yang masih berdiri di kota Moskow setelah Moscow Historical Mosque yang dibangun pada 1928. Saya mengikuti aliran jamaa’ah hingga sampai pada pagar pemeriksaan satpam dan diijinkan masuk ke halaman masjid.

Tempat wudhu wanita ternyata ada di bagian bawah. Jadi setelah masuk halaman kemudian belok ke kanan, kita akan menemukan tangga ke arah bawah. Di sana ada tempat wudhu wanita yang kemudian juga terhubung dengan lorong menuju lift khusus wanita. Ruang sholatnya ada di lantai atas. Di dekat ruang sholat disediakan mukena dan tempat menyimpan sepatu serta tas. Tetapi saya membawa tas saya ke ruang sholat kuatir kenapa-napa jika saya letakkan disana. Sampai di ruang sholat ternyata penuh. Banyak sekali Jama’ah wanita yang ikut sholat Jumat. Melihat dari wajahnya sepertinya mereka kebanyakan dari negara-negara pecahan Rusia. Saya sebenarnya ingin komunikasi dengan mereka, sayangnya mereka tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa Bahasa Rusia, jadilah hanya tersenyum-senyum saja.  Khutbah Jum’at juga menggunakan Bahasa Rusia tetapi suasanya sangat menyejukkan meski saya tidak memahami bahasanya.

Setelah selesai sholat Jum’at, diluar ada penjual teh hangat dan makanan kecil. Sebenarnya saya ingin mencoba makanan kecil yang pembelinya antri sampai panjang itu, tetapi setelah sadar yang membeli teh hangat semuanya laki-laki, saya kemudian mundur dan meninggalkan tempat itu. Di depan masjid sembari mengambil foto, seorang pria tua menghampiri saya dan mengajak ngobrol dengan Bahasa Rusia. Setelah saya bilang minta maaf tidak bisa Bahasa Rusia, pria itu kemudian ngajak ngobrol terbata-bata dengan Bahasa Inggris. Wajahnya ramah, sejuk dan rambutnya telah memutih. Tapi saya tahu, pria ini sedang menceramahi saya tentang sesuatu. Saya hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum lalu pamitan dan salam.

Di bagian kiri masjid, ada kantin memanjang yang menjual banyak makanan. Saya sangat ingin masuk ke sana untuk membeli teh hangat karena suhu 10 derajat itu membuat saya membeku. Tetapi lagi-lagi isinya hampir kebanyakan laki-laki dan mereka berdesakan di kantin memanjang itu. Akhirnya saya mengurungkan niat ke sana dan memutuskan kembali ke stasiun. Sempat nyasar saat balik ke stasiun tetapi malah menemukan beberapa hal menarik di sekitaran masjid, seperti bazar Jum’at yang menjual berbagai macam barang seperti pasmina, buku dan makanan. Jum’atan di masjid Agung Moskow ini sangat berkesan bagi saya terutama bertemu dengan saudara-saudara muslim dari tempat yang jauh. Kita bersaudara dalam Islam, mari saling memegang tangan dan menguatkan.

TAK SEMUA ORANG KAYA MENYEBALKAN

Tiga bulan terakhir saya sibuk mengerjakan buku kenangan sebuah organisasi yang bentuknya seperti ensiklopedia tokoh yang menceritakan perjalanan hidup 32 orang di dalamnya. Meskipun ini hal baru dalam dunia kepenulisan yang saya jalani nyaris 15 tahun, tetapi menurut saya sangat menarik. Pertama karena saya sedang kurang nyaman menulis untuk industri dengan deadline yang sangat ketat sementara hypertensi mengincar saya sewaktu-waktu. Kedua, saya memang suka belajar hal baru apapun itu terlebih dalam dunia kepenulisan. Saya sudah lama selalu tertantang untuk belajar berbagai model kepenulisan mulai dari fiksi, artikel, opini, skenario, drama panggung dan yang terbaru penulisan biografi.

Sejak dulu, saya selalu belajar sambil langsung bekerja mulai dari menulis cerpen, novel, artikel hingga skenario. Dan begitu juga kali ini.  Saya membaca buku apa saja, tak terkecuali biografi. Dan bekal bacaan saya serta sedikit teori inilah yang menjadi pegangan saya memulai bekerja. Maka sudah pasti pertama yang saya lakukan adalah mencari narasumber untuk diwawancarai. Dari ensiklopedia 32 orang itu saya menemukan banyak hal menarik dari pribadi-pribadi mereka yang kemudian sangat menginspirai saya sendiri. Misalnya bagaimana mereka tetap menjalani hidup aktif tanpa malas-malasan dan penuh semangat di usia 60 tahunan ke atas. Bagaimana mereka tetap berkarya dan berguna untuk orang lain meskipun sudah usia senja.

Tetapi tokoh yang paling berkesan bagi saya adalah satu sosok yang menurut saya sangat inspiratif. Ia adalah seorang wanita hebat. Pengabdiannya untuk wanita di sekelilingnya perlu diacungkan jempol. Bagaimana tidak? Panggilan hidupnya adalah untuk memajukan wanita di sekelingnya menjadi wanita yang cerdas, mandiri dan setara dengan laki-laki dalam berdiskusi. Wanita menurut tokoh satu ini harus berani mempromosikan dirinya, keluar dari kungkungan budaya patriarki sehingga ia tidak hanya menjadi obyek dalam banyak tempat. Wanita harus menjadi subyek yang dominan dalam segala aspek kehidupan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Lelaki memang imamnya, tetapi wanita harus bisa menjadi mitra diskusi yang setara bagi laki-laki.  Sampai di sini saya mengagumi pemikiran-pemikiran sekaligus kegiatan-kegiatan kongkrit yang beliau lakukan untuk mewujudkan cita-citanya membebaskan wanita dari jurang kebodohan ini.

Bukan hanya itu, banyak hal yang saya kagumi dari tokoh satu ini. Beliau tentu saja bukan orang biasa baik secara materi, jabatan maupun asal usulnya. Tetapi beliau bisa berbaur dengan penulisnya yang “apa adanya”, bahkan bisa mencomot makanan yang sama di satu piring. Hal lain yang saya kagumi adalah cara dia menghargai waktu. Dia orang yang sangat ontime meski usianya sudah lewat 60 tahun dan kadang justru datang lebih awal, padahal seringkali saya yeng membutuhkan beliau bukan beliau yang membutuhkan saya. Caranya menjawab wawancara juga sangat menyenangkan, beliau ngajak ngobrol bahkan curhat, sama sekali tak nampak bahwa beliau salah satu tokoh yang luar biasa. Atau mungkin orang yang sudah sampai pada level tertentu memang begitu? Lebih bisa menempatkan dirinya sendiri ketika bertemu siapa saja.

Sebagai seorang pemimpin beliau bukan tipe one man show, jadi apapun potensi yang ada dalam teamnya beliau kembangkan sehingga orang-orang yang ada dalam teamnya maju dan berkembang. Sayapun ketika pertama bertemu dan terlihat diam, beliau langsung memahami pribadi saya dan berusaha memancing saya agar saya bisa menunjukkan kemampuan saya. Sungguh ini pengalaman yang berharga buat saya, bukan hanya soal bagaimana beliau memperlakukan saya, tapi bagaimana kemudian saya harus memperlakukan orang lain di kemudian hari.  Menulis selalu menjadi pekerjaan yang saya cintai apapun rintangannya, dan hal-hal baru yang bisa dipelajari akan terus saya kembangkan demi cinta itu. Terima kasih Ibu inspirasinya!

TIPS BERKELANA DENGAN ORANG “GENGGES”

“Sekali bertemu orang gengges, maka perjalananmu akan menyiksa lahir batin.” Begitulah motto hidup para pejalan yang menderita parah akibat ke”genggesan” seseorang di perjalanan.  Apa sih orang gengges itu? Kalo menurut internet gengges itu artinya merepotkan, ribet dan menyebalkan. Satu kata terakhir saya tambahin sendiri. Kalau kita terbiasa traveling dengan santai, simple alias nggak mau ribet sama bawaan dan dandanan maka perjalananmu akan jadi neraka saat mendadak seseorang dengan karakter seperti itu muncul memasuki areal hidupmu.

Dia bawaannya berkontainer-kontainer, sementara kamu hanya bawa ransel 24 liter. Dia dandannya bisa 3 jam sebelum explore sebuah kota sementara kamu bedakan aja jarang. Dia hobbynya ke mall dan belanja sementara target jalanmu ke tempat-tempat baru di kota tersebut. Dia gampang marah jika keinginannya tidak terpenuhi sementara kamu sudah banyak toleransi ke dia. Dia ngelead sesuai maunya sementara kamu juga bayar mahal untuk perjalanan ini. Dia susah kompromi untuk banyak hal, sementara tinggal di apartemen yang sama. Dan yang paling bahaya, dia bisa memanipulasi dengan menjadikan dirinya korban atas banyak hal yang terjadi dalam perjalanan padahal semua temannya justru meladeni banyak kemauannya.

Okay! Well! Tapi hal-hal seperti itu bisa saja kan terjadi dalam perjalanan? Bisa banget, karena kita tidak bisa menebak siapa yang akan muncul dalam hidup kita, tiba-tiba saja seorang teman membawa temannya yang super gengges tanpa aba-aba dan mendadak aja kita shock! Atau…. bisa jadi kita sendiri gengges di mata teman-teman kita tanpa kita sadari. Maka kejadian-kejadian menyebalkan itu sebenarnya bisa membuat kita intropeksi sejauh mana kita juga menyebalkan di mata teman-teman kita.

Ada beberapa antisipasi yang bisa kamu lakukan sebelum moodmu jadi bener-bener buruk lalu kamu ngamuk-ngamuk dan perjalanan kamu jadi nggak bahagia. Sudah keluar uang banyak tapi nggak bahagia? Oh NO! BIG NO!

  1. Kalau model gengges datang dalam perjalananmu, kamu harus siap-siap. Jangan sampai bergantung soal kunci penginapan dan internet sama dia. Karena kamu harus mempersiapkan diri untuk misah jalan dengan dia sebelum bomnya meledak. Tapi lihat dulu segengges apa dia, kalau kamu masih bisa tolerat ya oke-oke saja.
  2. Kamu harus tegas, jangan ikutan menye-menye tapi akhirnya kamu sendiri yang rugi. Beberapa orang gengges justru manfaatin ketidaktegaan kita dan kebaikan kita. So, do it! Say no if you dont like it! Kamu nggak usah kasihan kalau misalnya dia nggak berani sendirian tapi justru tetep ngerepotin kamu. Tega-tega deh!
  3. Kamu tetap harus fokus pada tujuanmu. Terlebih kalau tujuan dia mulai sangat mendominasi sehingga kamu nggak kebagian tujuanmu sendiri. Kamu harus berani ngomong dan memisahkan diri darinya.
  4. Lain kali cek dulu teman yang akan bergabung dalam perjalanan kamu. Jika dia terlihat benih-benih gengges mending sebelum berangkat bikin perjanjian pra perjalanan. Ini penting kalo perlu tertulis biar nggak bikin masalah di kemudian hari.

Sebenarnya perjalanan itu juga berlaku seleksi alam. Jika kita tidak menyenangkan nggak akan ada orang yang mau jalan sama kita. Tapi kalo kita oke, maka banyak teman yang akan jalan sama kita. Itu aja sih ukurannya! Oh wait! Kadang-kadang hal buruk yang datang dalam hidup kita itu juga berkah khususnya buat penulis seperti saya. Karena sejak bertemu beberapa orang gengges saya jadi dapat ide cerita untuk menulis hal-hal yang sebelumnya diluar jangkauan otak saya. Nah! Selamat berjuang jika kalian bertemu teman gengges dalam perjalanan!

 

BERTEMU “BULAT OKUDZHAVA” DI ARBAT STREET MOSKOW

Saya hanya memiliki waktu 3 jam untuk mengunjungi Arbat Street sebelum meninggalkan kota Moscow. Sementara perjalanan dari stasiun Leningradsky tempat saya nge-locker koper ke Arbaskaya pasti membutuhkan waktu lama karena nyari-nyari jalan dulu sekaligus nyasar-nyasarnya. Belum lagi metro sore yang padat oleh orang-orang Moscow pulang kerja. Tapi apapun yang terjadi saya harus ke Arbat Street!

 

Arbat Street itu kalau di Indonesia semacam Malioboro di Yogyakarta. Pendestrian yang sisi kiri dan kanannya berjajar orang-orang berjualan souvenir, kafe-kafe dan gedung-gedung tua bersejarah.  Arbat street sebenarnya sudah ada sejak abad ke 15 namun sempat rusak karena kebakaran. Baru kemudian dibangun lagi pada abad ke 19.  Harga souvenir di sini memang lebih mahal ketimbang di Izmailovo market tetapi memang lebih bagus. Bahkan boneka Matryoshka yang dijual disini lebih detail dan lebih halus. Karena saya sudah membeli boneka Matryoshka di Izmaolovo market maka di sini saya ingin mencari barang yang lain.

Menurut informasi, jika pergi ke Rusia barang yang seharusnya dibeli adalah benda-benda seni seperti lukisan dan vodka. Karena saya tidak minum vodka maka saya membeli salah satu lukisan berukuran kecil seharga sekitar Rp.300 ribu kalau dirupiahkan. Harusnya harganya lebih mahal tetapi karena saya merengek pada penjualnya agar kasih diskon pada saya yang datang jauh-jauh dari Indonesia, penjual handsome yang juga pelukisnya itu akhirnya mengijinkan saya membeli dengan harga diskon.  Lukisan bergambar dua wanita Rusia sedang di depan rumahnya bersalju itu akhirnya saya masukkan ke dalam tas.

 

Ada dua jalan di Arbat street yaitu old Arbat dan new Arbat. Old Arbat lebih klasik dengan bangunan-bangunan tua dan barang-barang yang dijual juga souvenir-souvenir khas Rusia dan benda-benda seni, sementara di New Arbat lebih seperti mall yang menjual barang-barang branded. Di pertengahan jalan old Arbat, saya menemukan patung yang saat saya mengambil fotonya malah dia seperti hidup dan memandang saya. Saya ketakutan karena sebelumnya banyak kejadian horor di apartemen tempat kami menginap. Tetapi ternyata patung yang disampingnya berdiri lelaki sedang menunjukkan foto untuk mencari anaknya yang hilang itu adalah patung Bulat Okudzhava.

Siapa Bulat Okudzhava? Ia salah satu penyair, penulis, musisi, novelis dan penyanyi Rusia pada tahun 1960-an. Lagu yang diciptakan Bulat Okudzhava merupakan lagi terkeren sepanjang masa yang dicintai orang-orang Rusia. Salah satunya lagu “Kami Butuh Satu Kemenangan” tahun 1970 untuk film perang ikonik, Belorussian Station.  Patung Bulat Okudzhava yang ada di Arbat Street seolah sedang berjalan dengan gulungan koran terselip di sakunya ini dibuat oleh Georgy Frangulyan. Patung ini menurutku sangat menarik karena matanya seperti hidup saat menatap orang yang ada di depannya. Saya belum pernah membaca syair atau mendengar lagu dari Bulat Okudzhava tetapi entah kenapa patung di depan saya itu berasa seperti dekat dan ingin mengajak ngobrol saya. Jika teman saya tidak menarik lengan saya, mungkin saya akan berdiri lama di sana berpandangan dengan Bulat Okudzhava.  Saya ingin menjelajah Arbat street hingga ke ujung, tetapi penerbangan saya sudah mepet. Sebelum sampai ujung saya berbalik arah ke stasiun Arbaskaya meninggalkan Bulat Okudzhava. Selamat tinggal Bulat! Aku akan kembali lagi nanti!