Tag Archives: traveler

BERTEMU “BULAT OKUDZHAVA” DI ARBAT STREET MOSKOW

Saya hanya memiliki waktu 3 jam untuk mengunjungi Arbat Street sebelum meninggalkan kota Moscow. Sementara perjalanan dari stasiun Leningradsky tempat saya nge-locker koper ke Arbaskaya pasti membutuhkan waktu lama karena nyari-nyari jalan dulu sekaligus nyasar-nyasarnya. Belum lagi metro sore yang padat oleh orang-orang Moscow pulang kerja. Tapi apapun yang terjadi saya harus ke Arbat Street!

 

Arbat Street itu kalau di Indonesia semacam Malioboro di Yogyakarta. Pendestrian yang sisi kiri dan kanannya berjajar orang-orang berjualan souvenir, kafe-kafe dan gedung-gedung tua bersejarah.  Arbat street sebenarnya sudah ada sejak abad ke 15 namun sempat rusak karena kebakaran. Baru kemudian dibangun lagi pada abad ke 19.  Harga souvenir di sini memang lebih mahal ketimbang di Izmailovo market tetapi memang lebih bagus. Bahkan boneka Matryoshka yang dijual disini lebih detail dan lebih halus. Karena saya sudah membeli boneka Matryoshka di Izmaolovo market maka di sini saya ingin mencari barang yang lain.

Menurut informasi, jika pergi ke Rusia barang yang seharusnya dibeli adalah benda-benda seni seperti lukisan dan vodka. Karena saya tidak minum vodka maka saya membeli salah satu lukisan berukuran kecil seharga sekitar Rp.300 ribu kalau dirupiahkan. Harusnya harganya lebih mahal tetapi karena saya merengek pada penjualnya agar kasih diskon pada saya yang datang jauh-jauh dari Indonesia, penjual handsome yang juga pelukisnya itu akhirnya mengijinkan saya membeli dengan harga diskon.  Lukisan bergambar dua wanita Rusia sedang di depan rumahnya bersalju itu akhirnya saya masukkan ke dalam tas.

 

Ada dua jalan di Arbat street yaitu old Arbat dan new Arbat. Old Arbat lebih klasik dengan bangunan-bangunan tua dan barang-barang yang dijual juga souvenir-souvenir khas Rusia dan benda-benda seni, sementara di New Arbat lebih seperti mall yang menjual barang-barang branded. Di pertengahan jalan old Arbat, saya menemukan patung yang saat saya mengambil fotonya malah dia seperti hidup dan memandang saya. Saya ketakutan karena sebelumnya banyak kejadian horor di apartemen tempat kami menginap. Tetapi ternyata patung yang disampingnya berdiri lelaki sedang menunjukkan foto untuk mencari anaknya yang hilang itu adalah patung Bulat Okudzhava.

Siapa Bulat Okudzhava? Ia salah satu penyair, penulis, musisi, novelis dan penyanyi Rusia pada tahun 1960-an. Lagu yang diciptakan Bulat Okudzhava merupakan lagi terkeren sepanjang masa yang dicintai orang-orang Rusia. Salah satunya lagu “Kami Butuh Satu Kemenangan” tahun 1970 untuk film perang ikonik, Belorussian Station.  Patung Bulat Okudzhava yang ada di Arbat Street seolah sedang berjalan dengan gulungan koran terselip di sakunya ini dibuat oleh Georgy Frangulyan. Patung ini menurutku sangat menarik karena matanya seperti hidup saat menatap orang yang ada di depannya. Saya belum pernah membaca syair atau mendengar lagu dari Bulat Okudzhava tetapi entah kenapa patung di depan saya itu berasa seperti dekat dan ingin mengajak ngobrol saya. Jika teman saya tidak menarik lengan saya, mungkin saya akan berdiri lama di sana berpandangan dengan Bulat Okudzhava.  Saya ingin menjelajah Arbat street hingga ke ujung, tetapi penerbangan saya sudah mepet. Sebelum sampai ujung saya berbalik arah ke stasiun Arbaskaya meninggalkan Bulat Okudzhava. Selamat tinggal Bulat! Aku akan kembali lagi nanti!

RANI AULIA : SOLO TRAVELER YANG MERDEKA

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya mengagumi traveler wanita yang satu ini. Saya belum pernah bertemu dengannya secara darat, tetapi saya mengikuti perjalanannya keliling dunia melalui sosial media. Pada 2016, Rani Aulia memulai perjalanan solo travelingnya selama 333 hari mengunjungi 22 negara  diantaranya Eropa, Kanada, Norway, Maroko, Turky, Iran, Georgia, India dan ratusan kota di dalamnya.  Mengaku sebagai sosok yang takut ketinggian, takut air, takut naik motor dan takut pada ulat bulu, wanita yang akrab di sapa Teh Rani ini sempat tidak percaya mampu bertahan solo traveler selama setahun. Perjalanan itu kemudian mengawali perjalanan-perjalanan menakjubkan lainnya seperti yang terbaru solo traveling menjelajah Afrika dalam 3 bulan.

Jika melihat dari sosial medianya, gaya perjalanan Teh Rani sangat membumi dan merdeka. Menyusuri berbagai negara dengan gembira, berbaur dengan warga lokal dan berusaha mengenali kehidupan orang-orang lokal.  Saya kemudian mengirimkan email untuk ngobrol-ngobrol dengan Teh Rani dan mengajaknya berbagi di SHARING seribulangkah.com/. Berikut ini obrolan saya dengan Teh Rani, semoga saja menginspirasi teman-teman yang ingin solo traveling juga seperti Teh Rani.

Hai Teh Rani, apa kabar? Saat ini sedang traveling di negeri mana? Ceritakan dong sedikit tentang diri Teh Rani. Ada nggak pengaruh keluarga yang membuat Teh Rani suka traveling?

Halo… kabar baikk… saat ini kebetulan lagi di Indonesia, lagi liburan… Halo halo nama saya Rani asal dari Bandung, saya seneng traveling ga ada pengaruh dari siapa-siapa ya.. dari dulu emang seneng jalan-jalan muter-muter kayak gangsing.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani sejak masih kerja sampai travel around the world.  Ada nggak proses ragu-ragu saat memutuskan keluar dari pekerjaan lalu traveling ?

Perasaan ragu jelas ada ya, itu salah satu keputusan besar yang saya buat, biasanya saya resign untuk pindah kerja ke tempat lain tapi waktu itu saya resign untuk memburu mimpi saya nyoba traveling menyusuri dunia dalam waktu yang lama. Galaunya lamaaaa banget, karena sejujurnya saya udah nyaman dengan pekerjaan saya, teman-teman yang cocok banget, tapi emang desire untuk traveling dalam waktu lama tinggi banget, karena saya kesel cuman bisa traveling 10 hari mana ijinnya cutinya repot lagi, tiap pengen traveling dilema karena cuti, jadinya ya dengan bersimbah air mata saya lapor pak boss mau resign..

Apa sih Teh yang perlu dipersiapkan sebagai cewek untuk menjadi solo traveler seperti Teh Rani? Bagaimana reaksi keluarga saat Teh Rani berpamitan untuk solo traveling? Lalu apa kendalanya di perjalanan dan bagaimana mengatasinya?

Siapin niat dan mental aja dulu, kadang saya bingung sama pertanyaan begini hahhahaha karena sejujurnya tidak ada yang saya siapkan, saya ini penakut banget, naek motor aja saya takut, dibonceng orang saya takut hahahahhah tapi mungkin tiap orang racikannya beda ya.. ada yang emang berani di sisi ini ada yang berani di sisi itu, ada yang belajar motor itu easy peasy tapi buat saya belajar motor itu menggerikan. Tapi sebetulnya kalau udah ada niat kita pasti bisa, apapun itu yang kita hadapi di jalanan kita pasti bisa menghadapinya, karena emang insting survival itu pada dasarnya ada di racikan masing-masing manusia. Reaksi keluarga, shock haha waktu itu saya bawa kabarnya pas mama lagi di opname di rumah sakit lagi, biasanya kalo mama lagi di sakit gitu bawaanya mellow gitu.. taulah jadinya ngobrol kemana-mana, waktu itu mama sama kakak saya lagi serius ngajak ngobrol, nanya kapan saya punya niatan menikah hahahahahha tapi sama saya malah dijatuhin bomb, mau resign trus pergi traveling selama setahun, mama shock berat, kakak saya nyoba menerima dan beliau memberi pengertian ke mama. Kendalanya  banyaklaah.. tapi yang utama sih masalah pasport, pasport kita lemah banget kemana-mana butuh visa, jadinya opsi untuk long trip gitu jadi terbatas. Mengatasinya ya cari rute yang free visa atau bisa e-visa atau voa. Kendala lainnya mungkin karena saya itu orangnya clumsy dan pelupa lupa ini itu yang akhirnya banyak drama, istilahnya you name it lah gara-gara kecerobohan saya, rasanya semua pernah yang belum itu ilang pasport (amiiiit amiiittt jabang bayiiii.. jangan sampai yaaa), bahkan saya pernah jatuh ketimpa tangga ketimpa anak tangga lagi. Key bca diblokir trus dompet ilang terus ketinggalan pesawat tanpa uang yang tersisa. Bayangkan.. kemping di bandara Casablanca selama seminggu sampe akhirnya berhasil keluar bandara.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani setahun ke berbagai tempat dengan biaya minim dan menurut saya itu sangat menarik. Bagaimana mengatur bujet perjalanan dengan biaya seperti itu?  Bagaimana jika terjadi sesuatu di perjalanan, apakah Teh Rani mempersiapkan second plan misalnya tabungan lain untuk mencover perjalanan?

Sebetulnya ga ada istilah mengatur budget saking minimnya budget saya, uang perhari saya hanya cukup untuk biaya transportasi ama makan aja, saya selalu nyari tumpangan tidur makan-pun ga pernah ke restaurant paling cuman roti sama telor saja, dengan budget yang saya punya, beneran ga ada pilihan. Saya ga punya tabungan lain untuk mencover perjalanan, ya intinya sih harus hati-hati supaya meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang berujung saya harus mengeluarkan dana lebih. Walaupun ada asuransi perjalanan tetap hati-hati.

Saat ini sudah berapa negara yang Teh Rani kunjungi dan negara mana yang menurut Teh Rani paling berkesan sehingga ingin kembali dan kembali lagi?

Berapa negara ya.. udah lupa, udah ga pernah ngitung lagi hahhahaha.. yang berkesan banyak, tapi Switzerland, Norwegia itu 2 negara langganan, yang setiap tahun saya pasti kembali kesana untuk menikmati alamnya. India Jepang atau Korea itu lebih ke karena saya ada ikatan aja, ntah itu untuk maen snowboarding atau untuk meditasi.

Menurut Teh menarik mana traveling di Indonesia atau di luar negeri? Apa sih kemudahan dan kesulitan masing-masing itu.

Kalo saya bilang sama menariknya karena mau sok nasionalis, artinya saya bohong hahahha, tbh traveling ke luar lebih menarik, berada di tempat dimana saya tidak bisa bahasa mereka tidak familiar dengan keadaaanya itu lebih menarik aja. Kemudahan traveling di Indonesia itu saya familiar dengan bahasanya jadi gampang bertanya kalo nyasar sedangkan di luar harus keluar sedikit energi untuk bertanya karena bahasa yang berbeda, kesulitan traveling di Indonesia itu mungkin transportasi ya, ujung ke ujung belum terkoneksi dengan bagus, sebetulnya di luar juga sama ada banyak yang masih dibawah Indonesia, transportasinya banyak yang masih berantakan, secara saya seneng buat eksplore negara2 yang emang kurang familiar bagi para turis-turis karena aksesnya susah.

Saya melihat dari sosmed Teh Rani banyak menjalin persahabatan saat traveling dan itu sangat menyentuh. Bagaimana menjalin persahabatan melalui perjalanan karena tentu mereka memiliki karakter yang berbeda dari masing-masing negara. Orang mana yang menurut Teh paling mudah menjalin persahabatan?

Kadang kalo gitu itu semacam takdir aja gitu, kita berada di frekuensi yang cocok sehingga kita cocok aja, saya di host sama seorang wanita di Tromso dan sekarang dia jadi teman baik saya, mungkin pemikiran frekuensi kami sama sehingga kami cocok, dan karena itu saya akhirnya mendapatkan kesempatan eksplor Norwegia utara secara gratis, diajak roadtrip sampe ke perbatasan Rusia. Tromso itu kota yang sangat mahal tapi saya selalu bisa kembali kapan saja tanpa harus membayar penginapan, yang ada temen saya itu merasa senang karena saya menyempatkan diri untuk mengunjungi dia di Artic Circle. Terus pernah ketemu tiga orang traveler dari Polandia di Gergeti Triniry church di Kazbegi pas winter, kita cuman sapa-sapaan yang berakhir janjian dinner bareng dan sekarang mereka jadi teman baik saya, beberapa kali kami bertemu lagi dan beberapa kali saya sempatkan untuk mampir ke Warsaw bertemu mereka. Kalo seperti pas traveling di Afrika ya saya berusaha untuk menyapa orang lokalnya dan berinteraksi dengan mereka karena berkomunikasi dengan orang lokal itu hal yang sangat menarik buat saya, mengetahui keseharian mereka, cerita mereka, hal-hal itu merupakan hal yang menarik dan itu juga sebagai bahan cerita saya nanti saat pulang.

Teh Rani juga kemudian bikin paket trip. Bagaimana syaratnya bisa bergabung dalam paket trip Teh Rani?

Ga ada syaratnya sih. Tinggal cepet-cepetan daftar aja. Syaratnya harus tau siapa saya, harus tau model traveling saya gimana biar nanti ga kaget begitu join ama tripnya. Kemana aja? Negara2 yang punya view bagus macam New Zealand, Iceland, Canada, India, atau less tourist macam Mongolia, Georgia. Itulah kenapa kadang saya suka nanya “tau saya ga? tau gimana cara saya traveling ga?” soalnya kalo tau, saya yakin yang manja-manja udah menjauh duluan hehehe.

Masih ada nggak negara yang dicita-citakan tetapi belum dikunjungi? Kenapa belum bisa ke sana?

Ga ada hahahahhahha.. semua negara yg ingin saya liat sudah saya liat, sisanya ya mungkin negara-negara lain yang punya jajaran pegunungan yang belum saya liat. Kalo cita2 sih saya pengen ke Kutub Utara or Selatan, itu tuh negara bukan sih?

Teh Rani juga pecinta K-Pop ya, group apa sih yang paling Teh Rani sukai dan kalau nggak salah perjalanan ke konser-konser K-Pop menjadi perjalanan yang dinikmati secara pribadi. Ada nggak nanti akan dinikmati rame-rame sama paket tripnya?

Saya bukan pecinta K-Pop saya pecinta BTS hahahahahha.. mengikuti world tour BTS itu betul-betul perjalanan yang seru. Sabtu – Minggu nonton konser, Senin – Jumat traveling  atau eksplor kotanya. Ga ada bedanya dengan Backpacking biasa, tinggal di penginapan murah di outskirt city sehingga jadi tantangan saat pulang konser yang notabene diatas jam 10 malam, ya pada intinya nonton konser tapi dengan dibarengi oleh skill backpacking yang mumpuni itu sangat menguntungkan sehingga budget yang dikeluarkan itu ga terlalu besar. Saat orang lain habis puluhan juta untuk sekali nonton konser, dengan jumlah yang sama saya bisa pergi 6 kali konser di 3 kota berbeda.  Trus lagi mengikuti world itu sangat menarik karena saya berpindah-pindah tepat, jadi biar ga hanya konser aja biar lebih berfaedah ya sambil traveling, Sabtu Minggu saya jingkrak2 sisanya saya pake buat discover kota yang saya datangi. Wah enggak deh, nonton konser itu Me-Time.. kalo barengan oke, tapi kalau harus ngurus orang lain enggak deh, soalnya dapat tiket konser BTS itu susah dan kalau momentnya dihancurkan orang lain bisa-bisa saya menyesal seumur hidup hahaha

Kalau disuruh memilih, lebih suka investasi pada pengalaman perjalanan atau investasi barang-barang? Kenapa?

Investasi pengalaman donk, karena menyenangkan aja. Menceritakan pengalaman kita ke orang lain itu menyenangkan sekali. Membahagiakan sekali. Storytelling itu hal yang paling membahagiakan buat saya.

Setelah keliling dunia nanti, ada nggak cita-cita lain yang pengen Teh Rani capai? Apakah masih berhubungan dengan traveling?

Ga ada, saya punya keinginan apa-apa. Cuman pengen menjalani hari demi hari rileks, jauh dari prahara dan tetap bahagia.

Kasih semangat dan tips dong Teh buat traveler cewek yang masih takut melakukan perjalanan sendirian seperti saya ini.

Kamu kuat! Kamu bisa! Salah satu yang paling menyenangkan buat saya saat traveling adalah saat saya menemukan kalo saya itu bisa, saya lebih kuat dari yang saya pikirkan.

Terima kasih Teh Rani!

(Semua foto diambil dari facebook Rani Aulia)

 

WIN RUHDI BATHIN : “KOPI GAYO DAN TEMPAT SINGGAH TRAVELER MANCA NEGARA”

Ngobrol tentang Kopi Gayo dan dataran tinggi Gayo dengan Bang Win (begitu saya memanggil beliau) selalu mendatangkan banyak inspirasi di kepala saya untuk menuliskan banyak hal. Tak hanya soal kopi Gayo, tetapi Bang Win juga menyediakan tempat singgah untuk para traveler di rumahnya.  Saya sebagai traveler amatir semakin tertarik untuk mengajaknya berbagi cerita di SHARING kali ini.  Ada banyak hal bisa didapatkan dari cerita-cerita Bang Win, semoga pembaca juga mendapatkan inspirasi dari obrolan kami.

Salam Bang, apa kabar keluarga dan Tanah Gayo? Apakah sekarang masih musim panen kopi? Apa saja kesibukan abang saat ini?

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk dan bagi Allah. Keluarga sehat dengan Rahmat Allah. Semoga syukur tak henti dalam senang dan sedih. Sekarang sedang panen kopi. Bermula di bulan September lalu hingga tirus di bulan April tahun depan. Kesibukan saya seperti biasa rutinitas dengan pekerjaan yang saya banggakan lalu antar jemput dua anak perempuan saya. Dua anak saya lainnya sekolah di luar daerah. Selain itu, pagi ke kafe hingga tengah hari, melayani penikmat kopi gayo sambil bercerita ngalor ngidul isu terkini di daerah bersama pelanggan. Juga menyiapkan kopi untuk kafe, pelanggan di luar daerah dan luar negeri.

Bang Win selain wartawan dan fotografer juga petani kopi dari hulu sampai hilir (menanam kopi sendiri, mengolah sendiri dan memiliki kafe sendiri yaitu WRB kafe). Ceritakan dong Bang suka dukanya menjadi petani kopi dari hulu ke hilir.

Sukanya menjadi petani adalah kita bisa mengawal kopi. Dari tanam hingga panen. Petani adalah pekerja keras dan Insya Allah hadiahnya adalah sehat. Kita bisa mengolah semua variant kopi Gayo yang diminati pelanggan. Seperti kopi madu/ honey, natural, semi washed, full washed, Luwak dan lain sebagainya. Dukanya tentu saja repot, saya mengerjakan sendiri kopinya, sementara kalau ada permintaan lebih, saya mengambil dari kawan kawan saya yang saya tahu betul prosesnya.

Tanoh Gayo merupakan salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, apakah kopi Gayo menjadi motivasi Bang Win menyediakan tempat singgah bagi traveler manca negara?

Kopi Gayo sudah dikenal dunia sejak era Belanda. Belanda sudah menanam Arabica sejak 1908. Kemudian mengekspor-nya lewat VOC bersama kentang dan teh.
Jadi, kopi Gayo sudah banyak dikenal khususnya di Eropa.  Kebetulan saya ikut Sosial Media Couch Surfing (CS) yang menyediakan tempat bagi traveler untuk tinggal, menginap dan mengenal budaya setempat . Para traveler yang singgah di rumah saya menyatakan sangat menyukai kopi Gayo. Tak hanya kopinya tetapu juga alam Gayo yang cantik dan masyarakatnya yang ramah dan bersahabat.

Tempat singgah bagi traveler yang datang ke rumah saya hanyalah tempat biasa kami makan bersama keluarga yang disebut dapur. Ukurannya sekitar 2 x 3 meter dan ada di kampung. Tetapi dari tempat ini saya mendapatkan banyak kisah menarik dari para traveler dunia. Ada tamu dari Afrika Selatan yang bangga bisa mencicipi kopi termahal dunia, yakni kopi Luwak. Sangking senangnya, tamu Afrika Ini telpon kerabatnya di Afrika dan mengatakan sedang minum kopi luwak di Gayo. Lain lagi cerita Stass dari Rusia. Saking sukanya dengan kopi Gayo,Stass mengirim kopi Gayo untuk keluarganya di Rusia. Biaya kirimnya hampir satu juta. “Saya ingin keluarga saya juga merasakan kopi luar biasa ini,” kata Stass.

Bagaimana sih awalnya Bang Win tertarik bergabung dengan couchsurfing dan menyediakan tempat bagi traveler?

Awalnya Saya berkenalan dengan dua wisatawan di Takengon. Mereka dari Inggris dan Sumatra Utara, keduanya tergabung di CS. Dari sana saya berpikir, CS ini sosmed ysng menarik dan bisa mendatangkan orang dari seluruh dunia. Kalau saya jadi host di Gayo, orang bisa datang dari seluruh dunia dan menjadi semacam magnet penarik wisatawan. Dari situlah saya kemudian bergabung di CS. Dan ternyata dugaan saya benar, sejak bergabung di CS, puluhan wisman datang ke Gayo dari seluruh dunia.

Traveler dari negara mana saja yang singgah di rumah Bang Win? Bagaimana komentar mereka tentang Tanoh Gayo?

Wisatawan yang datang ke rumah saya dari Ukraina, Rusia, Spanyol, Ecuador, Australia, Afrika Selatan, Inggris. Amerika, Thailland, Polandia, Francis. Switzerland. Afrika Selatan, Belanda, Italia, Jakarta, Jambi dan lain sebagainya. Umumnya para wisman ini sudah tahu kopi Gayo sebagai salah satu kopi terbaik dunia meskipun ada juga yang baru mengenalnya. Bahkan ada bule yang baru tahu pohon kopi, mereka kira kopi itu menjalar. Ada juga yang setelah merasakan kopi Gayo kemudian tertarik untuk berbisnis kopi Gayo di negara mereka.

Tamu asing ini mengakui bahwa Tanoh Gayo sangat indah pemandangannya. Memiliki sejarah panjang sendiri. Termasuk prasejarah Gayo di Mendale dan Ujung Karang. Mereka mengakui keramahan dan kearifan lokal gayo masih sangat murni dan jujur. Berbeda dengan beberapa kawasan wisata lain di Asia, seperti Thailand dan Philipina.

Apa sih suka dukanya menerima tamu dari manca negara? Ada nggak kendala dengan lingkungan saat menerima orang asing di rumah Bang Win dan menemani mereka keliling Tanoh Gayo?

Banyak sukanya sih karena berbagi kisah hidup di negara masing masing tentang budaya, mata pencaharian, agama dan banyak lagi. Kendalanya paling soal bahasa. Bahasa Inggris saya tak begitu fasih tapi saya sih nekat saja. Tidak semua wisman ini juga lancar berbahasa Inggris. Kalau kendala lingkungan tempat tinggal saya, tidak ada. Sebelum menerima tamu asing ini, waktu chatting saya menekankan bahwa di Gayo berlaku Syariat Islam.
Tamu lelaki harus  pisah ruangan tidur dengan perempuan. Kecuali ada surat nikah. Tapi umumnya mereka sudah tahu tentang Islam.

Apakah Bang Win lebih banyak menerima tamu dari manca negara ketimbang wisatawan dari Indonesia?

Saya tidak saja menerima tamu dari luar  negeri saja. Ada juga yang wisatawan dari negara kita sendiri. Dari berbagai kota Indonesia.karena di CS, anggotanya banyak di Indonesia.

Apa sih sebenarnya yang Bang Win dapat dari pertemuan dengan traveler-traveler manca negara ini?

Ini yang paling menarik menurut saya. Setelah makan malam bersama kami  biasanya bercerita tentang banyak hal, mulai dari bagaimana mereka hidup di negara mereka, biaya hidup, sumber penghasilan, pernikahan, agama dan kenapa mereka berwisata keliling dunia juga apa yang mereka dapat dari berkelana keliling dunia.  Hidup di Barat umumnya berbiaya tinggi, mereka setiap hari bekerja keras dari pagi hingga petang. Hidup jadi membosankan karena seperti robot dengan rutinitas. Untuk liburan keliling dunia, mereka bisa menabung bertahun tahun, barulah di musim dingin di negaranya, mereka liburan. 2 hingga 3 bulan bahkan setahun. Saat berlibur ini mereka merasakan kebebasan, kemerdekaan dan interaksi dengan penduduk dunia lainnya. Mereka sangat terkesanbelajar makan menggunakan tangan, sulit awalnya tetapi kemudian bisa melakukannya. Juga bagaimana mengajarkan wisman ini duduk bersila untuk lelaki dan tempoh untuk wanita.

Kami juga berdiskusi tentang Islam dan agama mereka. Sebagai Muslim, kami ingin menunjukkan bahwa Islam itu Rahmat bagi siapa saja. Wajah Islam sesungguhnya yang kami miliki adalah ahlak. Adab dan keramahan serta toleransi dalam praktek. Kami tidak membedakan kewarganegaraan, agama dan budaya asing. Wisatawan asing ini ternyata tahu bahwa Islam itu agama damai. Sehingga mereka tidak pernah takut saat menjadi tamu di rumah warga Muslim di Aceh lagi dan Teroris itu bukan ajaran  Islam.
Bagi kami, Islam itu adalah akhlak. Representasi nyata adalah Rasulullah sebsgai contohnya.

Menurut Bang Win, apakah ke depan Gayo bisa menjadi pusat kopi dunia yang akan menjadi magnet wisatawan untuk datang ke sana lebih banyak lagi? Misalnya dengan mulai dari adanya sekolah kopi hingga mungkin museum kopi nantinya?

Sebenarnya Gayo sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara. Banyak wisatawan asing, seperti Korea Selatan , Taiwan dan negara lainnya datang untuk berwisata kopi. Salah satu mereka menyebut tanag sucinya kopi adalah Gayo.

Bagi pengusaha kopi dunia, atau para penikmat kopi, pasti tahu kopi Gayo. Perdagangan kopi Gayo sudah dimulai sejak pra kemerdekaan, era kolonial dan penjajahan Belanda. Kawasan Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues adalah kawasan spesial arabica Gayo yaitu Gayo mountain coffee. Bisa dibayangkan, lahan di tiga kabupaten ini diisi pohon kopi, kecuali untuk jalan,rumah, sungai dan kawasan hutan. Ratusan ribu penduduknya menggantungkan hidupnya dari pohon kopi. Nilai perdagangannya satu kabupaten hingga Rp. 4-5 Trilyun setahun. Gayo adalah kawasan terbesar di Asia dengan lahan kopi arabicanya, sekolah sekolah kopi juga tumbuh pesat, khususnya cupping atau uji citarasa kopi yang diberi angka atau skor. Di Universitas Gajah Putih Takengon program studi kopi Gayo juga sudah dibuka tahun ini dan mulai menerima mahasiswa. Museum kopi mungkin masih akan menjadi mimpi dan wacana semata jika melihat lambatnya pihak yang memiliki kebijakan soal ini.

Bang Win sebenarnya suka traveling juga nggak? Kalau iya, ada nggak rencana berkunjung balik ke negeri para traveler yang datang ke rumah Bang Win suatu hari nanti?

Iya, saya sangat suka traveling. Traveling memperkaya khasanah berpikir dan bertindak. Kita jadi kaya rasa. Hal ini berdampak pada ekspektasi kita tentang semua hal. Bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Saya sangat ingin ke luar negeri. Mengunjungi teman teman yg pernah datang ke sini.Dan mereka berkata, datanglah ke tempat mereka kapan saja. Any time.Tapi, masih mimpi. Saya hanyalah petani biasa. Pendapatan saya belum mampu membiayai perjalanan ke luar negeri bersama anak dan istri.

Terakhir, kasih masukan dong Bang buat para traveler saat menjejakkan kaki di tanah baru agar mereka bisa lebih berguna buat warga lokal. Terima kasih Bang Win. Salam buat keluarga.

Ketika berkunjung ke tempat baru, orang baru, situasi baru. Satu hal yg berlaku seperti mata uang. Yakni, adab dan kejujuran. Adab akan dikenang orang sebagai budi baik. Selain itu jika Kita tinggal d irumah host,keterampilan memasak, mendongeng, sulap dan keterampilan lainnya sangat membantu membuat kehadiran kita akan dikenang. Juga souvenir kecil  murah dari daerah kita akan menjadi penjalin silaturrahmi.

(Semua foto diambil dari facebook Win Ruhdi Bathin)

VELIKY NOVGOROD (1) : THE BIRTHPLACE OF RUSSIA & HANTU GADIS KECIL

“Old things always seems better”

Hampir pukul 4 sore saat bus yang saya tumpangi dari Saint Petersburg tiba di terminal bus Veliky Novgorod. Sopir yang wajahnya khas Rusia menunggu saya menurunkan koper dari bagasi bus tanpa tersenyum sedikitpun.

“Spasiba!” kataku sambil mengangguk sopan pada sopir lalu mendorong koper ke pinggir. Selama di Rusia, kata yang paling saya kuasai hanyalah “spasiba” alias terima kasih karena bahasa Rusia kedengeran begitu ruwet di telingaku meski jadi menantang untuk dikuasai lebih banyak. Bus itu melanjutkan perjalanan lagi sementara saya celingukan mencari jalan keluar terminal. Lalu saya menyeret koper saya ke arah pintu terminal. Tidak banyak orang di terminal, hanya ada beberapa pemuda memanggul tas mirip tas belanja tanah abang kalau di Jakarta dan beberapa keluarga yang baru datang dari perjalanan. Saya terus menyeret koper saya menuju depan terminal lalu berhenti di samping kios kecil yang menjual kopi dan makanan. Saya melihat berkeliling untuk mengenal wajah kota yang baru saja masuki.

Veliky Novgorod awalnya bukan tujuan perjalanan saya. Tetapi karena saya tidak mendapatkan kereta ke Kazan maka saya memutuskan untuk singgah di kota ini beberapa hari. Sepertinya akan menarik karena menurut sejarahnya kota ini adalah kota tertua di Rusia yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di kota ini ada sisa-sisa kediaman asli Rurik, pangeran pertama Rusia. Saya selalu tertarik dengan hal-hal yang terhubung dengan masa lalu karena banyak yang bisa dipelajari dari kisah-kisah masa lalu. Tidak hanya pembelajaran itu yang saya kejar namun juga penampakannya yang eksotis. Benar saja, kota ini memang tua, tenang dan eksotis.

Bus-bus tua berseliweran di jalanan yang bertabur daun-daun kekuningan musim gugur, para Babushka (nenek) berjalan di trotoar bersama binatang piaraannya dan ibu-ibu muda berjalan cepat sepulang aktivitas mengenakan jaket merah, kuning atau hijau. Orang-orang di kota ini memakai pakaian yang lebih berwarna ketimbang warna pakaian orang-orang di Moscow atau Saint Petersburg. Tetapi memang saya lihat lebih banyak lansia yang tinggal di kota ini ketimbang anak muda. Mungkin anak mudanya bekerja di kota lain seperti Moscow atau Veliky Novgorod.

Sebenarnya saya ingin naik bus menuju apartemen yang telah saya sewa, tetapi dengan bawaan koper yang berat saya memutuskan menggunakan taksi online Yandex. Tidak sampai lima menit taksi Yandex sudah menjemput saya di depan terminal lalu mengantarkan saya menuju apartemen. Hanya membutukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai apartemen. Saya tiba agak terlambat sehingga pemilik apartemen sudah menunggu lama di depan gedung apartemen. Pemiliknya seorang wanita muda yang tidak bisa bahasa Inggris, mengenakan jaket hijau army dan wajah polos tanpa make up. Setelah komunikasi menggunakan bahasa isyarat yang bisa saling dipahami, wanita itu hendak meninggalkan apartemen. Saya menanyakan dimana meletakkan kunci saat saya check out nanti dan dia menyuruh saya meninggalkan kunci di meja televisi. Sepertinya keamanan di Rusia terjaga sehingga beberapa apartemen yang saya inapi selalu cuek meminta meninggalkan saja kuncinya check out jika dia belum datang.

Apartemen itu ada di lantai 4 dengan gedung yang sudah tua. Tanpa lift saya harus mengangkat koper saya menaiki tangga hingga tiba di depan pintunya. Tetangga apartemen seorang Babushka (nenek) yang hidup sendirian bersama kucingnya. Dan begitu pintu apartemen terbuka, saya merasakan aura yang kurang enak, sepertinya tempat ini ada yang ‘menunggu’ di dalam. Tapi saya tidak memedulikan dan masuk ke dalam, meletakkan koper lalu memilih tempat tidur di dalam yang dekat dengan gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Mengabaikan semua yang saya rasakan, saya membuka pintu balkon, melihat kejauhan kota tua yang mulai menguning karena senja turun dan menikmati daun-daun jatuh menimpa balkon apartemen.

Suhu menunjukkan angka 10 derajat dan di luar hujan mulai turun. Saya mengurungkan niat untuk berjalan-jalan sekitar apartemen karena suhu 10 derajat bagi orang tropis sangat dingin dan memutuskan duduk di depan jendela dapur sambil memandangi hujan dan menyesap kopi perlahan-lahan. Entah kenapa, saya merasa terhubung dengan kota ini, rasanya seperti pulang ke rumah. Kota yang tenang, eksotis dan nyaman untuk ditinggali. Berbeda dengan Moscow dan Saint Petersburg yang ramai dan sibuk. Veliky Novgorod tampak sederhana, apa adanya dan cantik. Saya merasa di sini bisa menjadi diri saya sendiri, tanpa perlu mengenakan topeng.  Saya jatuh cinta pada kota tua ini, sejak pertama melihatnya.

Sambil membaca-baca booklet tentang Veliky Novgorod dan tempat-tempat menarik yang bisa saya kunjungi esok harinya, saya membayangkan bertemu Pangeran Pertama Rusia dari dinasti Rurik di tempat ini. Mungkin sangat menarik jika saja ada mesin waktu yang bisa membawa saya menemui mereka, ngobrol tentang kehidupan mereka di tempat menarik ini dan cita-cita mereka di masa depan. Lalu saya tertawa sendiri dengan lamunan saya dan memutuskan untuk membuat mie instant yang saya bawa dari Indonesia untuk makan malam. Selesai makan malam kantuk tak tertahankan dan saya langsung tidur meringkuk di pembaringan samping gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Dan time travel itu terjadi dalam mimpi saya.

Seorang gadis kecil dengan rambut merah berponi dan dikuncir sepinggang berjalan pelan keluar dari gudang kecil gelap di samping tempat tidur saya. Gadis kecil itu mengenakan rok pendek kotak-kotak warna merah dan atasan putih tulang lengan panjang, mengenakan sabuk tampak rapi dan manis. Sepatunya hitam dengan kaos kaki tinggi. Gadis itu tersenyum pada saya dan mengulurkan tangannya untuk menyalami saya. Tidak ada kata-kata, tetapi wajahnya ramah dan penuh senyum seolah mengucapkan selamat datang. Saya menyambutnya tak kalah ramah dan merasa terhubung dengannya. Tetapi saat saya mau melepaskan tangan saya, gadis kecil itu memegang tangan saya begitu erat dan menarik saya hingga jatuh tertelungkup di gudang. Beberapa saat saya mengigau, akhirnya saya bisa terbangun. Dengan mata masih buram, saya melihat bayangan gadis itu berdiri di depan gudang kecil gelap itu.

(to be continued…)

ANDREAS TRIJAYA : “Selalu Ada Kisah Dari Setiap Perjalanan”

Bekerja sebagai presenter dan reporter salah satu stasiun televisi swasta  membuat sahabat saya satu ini sering bertugas ke berbagai tempat. Dia juga seorang backpacker yang sudah mengunjungi banyak negara di Asia.  Saya menyimak kisah perjalanannya yang menarik melalui akun instagramnya @andreastj. Banyak hal inspiratif yang saya dapat darinya dan menggerakkan saya untuk menyerap hal-hal baik. Sikapnya yang positip, tenang dan sabar dalam berbagai kondisi membuat orang di sekelilingnya tertular aura positip. Dia tak banyak berubah selama 9 tahun saya mengenalnya. Sharing kali ini saya ingin ngobrol dengan sahabat saya Andreas Trijaya tentang kisah perjalanannya.

Hai Andre! Cerita sedikit dong kegiatan kamu sehari-hari saat ini.

Hai! Saat ini saya Associate Producer di salah satu stasiun TV Swasta, kegiatan saya sehari-hari nggak jauh dari koordinasi dengan tim liputan, edit naskah dan mendampingi proses editing video. Ada kalanya juga turun ke lapangan untuk liputan, tapi udah agak jarang. Sebagai netizen, sehari-hari ya scrolling sosmed, posting instastory sampah dan liat2 flash sale di marketplace.

Sejak kapan sih suka traveling? Ada nggak hal yang bikin Andre suka traveling waktu kecil dulu?

 

Waktu kecil sebenernya jarang traveling karena saya bukan dari keluarga berkelebihan. Semua serba cukup-cukup aja, jadi nggak ada dana lebih untuk traveling. Kalau pun pergi keluar kota, biasanya mengunjungi saudara yang paling jauh pun cuma ke Malang. Waktu SMA dan masa kuliah saya nggak pernah traveling, jadi setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya baru coba-coba traveling.
Tahun 2013 saya mulai coba-coba traveling dengan dua teman dekat sejak SMA, ke Malang karena waktu itu ada tiket murah Jakarta-Surabaya PP hanya 400ribu. Perjalanan Surabaya-Malang kami tempuh menggunakan mobil “taksi” dari bandara Juanda. Kami satu mobil dengan sepasang suami istri. Dalam perjalanan, si bapak yang pernah bekerja di Vietnam bercerita pada kami soal negara itu. Kami pun bertekad suatu saat bakal ke Vietnam juga (yang akhirnya kesampaian tahun 2016 sewaktu trip 3 negara Vietnam – Kamboja – Thailand). Tahun 2015, kami mulai “latihan” traveling ke luar negeri ke Malaysia dan Singapura. Dari situlah, setiap tahun kami berusaha traveling bareng keluar negeri. Sekaligus jadi titik awal saya untuk menyelesaikan trip ASEAN sebelum usia 30 tahun (meski kenyataannya meleset juga).

Andre sudah mengunjungi banyak negara dan pelosok Indonesia. Semua itu karena pekerjaan kamu sebagai reporter atau murni sebagai backpacker?

Untuk trip ke 9 negara ASEAN selain Indonesia, saya solo backpacker dan bareng teman. Tapi  ada juga saya ke Malaysia, Singapura, Thailand dan Timor Leste karena pekerjaan. Untuk Indonesia, mostly karena pekerjaan dan  saya sudah mengunjungi 25 provinsi.

Gimana sih Ndre mengatur perjalanan biar jatuhnya murah tapi tetap nyaman?

Murah mahal itu sebetulnya relatif ya. Tapi paling tidak, selama bepergian saya mendapat harga tiket lebih murah daripada biasanya. Untuk mendapat tiket murah, biasanya saya menunggu musim promo, mayoritas sih dari AirAsia. Biasanya dari pembelian sampai keberangkatan, paling tidak ada rentang waktu 6 bulan sampai setahun. Rentang waktu itulah saya pakai untuk cicilan tiket, menabung untuk biaya traveling dan mencari alternatif akomodasi. Soal nyaman, tidak semua orang bisa bepergian tanpa bagasi pesawat. Untungnya, saya selalu bisa menakar barang bawaan sehingga cukup di kabin pesawat yang maksimal hanya 7-10kg. Biasanya, saya membawa baju atau barang yang kira-kira bisa dibuang saja, sehingga tidak menambah beban saat kepulangan (karena digantikan dengan sedikit oleh-oleh). Penginapan yang nyaman dan murah juga penting. Saya bukan tipe orang yang bisa menginap di dormitory, jadi sebisa mungkin saya mencari kamar yang murah dan terjangkau transportasi publik.

Dari semua negara yang sudah Andre kunjungi, negara mana yang paling Andre suka? Kenapa?

Entah kenapa saya suka Kuala Lumpur. Suasananya nggak beda jauh dengan Jakarta, tapi biaya makan cukup murah dan akses transportasi publik mudah dijangkau. Selain itu, banyak street food yang enak-enak.

Asyik mana sih solo trip sama pergi rame-rame? Kalau lagi solo trip gimana caranya Andre ngambil moment dari foto-foto itu sendirian di tengah keramaian?

Saya fleksibel kok, dua duanya asik. Mau pergi sendiri atau bersama teman bisa bikin saya nyaman. Hanya saja, kalau pergi bersama teman ada kalanya harus meredam ego. Semua harus disepakati bersama. Soal foto, sejak 2013 saya sudah mencoba jadi turis mandiri. Berbekal tripod, kamera ponsel dan remote bluetooth. Kalau lagi ramai ya cuek aja, kan nggak kenal ini. Paling diliatin aja.

Ada nggak yang Andre cari dari setiap perjalanan?

Nggak ada yang saya cari sih, cuma pingin liat tempat-tempat yang berbeda dari Indonesia aja. Tapi dalam setiap perjalanan, selalu ada kisah untuk diceritakan. Cara hidup dan keyakinan yang berbeda dengan Indonesia, membuat kita bisa lebih berempati dan menghargai perbedaan.

Setelah mengunjungi negara-negara Asean, Tiongkok, Jepang, Korea, Jordan dan Jerusalem destinasi selanjutnya kemana? Kenapa ingin ke negara tersebut?

Rencananya mau ke Taiwan, pengen lihat Ing Te-nya Meteor Garden. Hehehe.. Saya nggak pernah menargetkan tahun ini harus ke sini atau ke sana. Kalau ada tiket murah, ya itu saya beli. Setelah beli, baru cari tau apa yang istemewa dan unik dari negara tersebut. Kebetulan saya sudah ke China, Jepang dan Korea. Yah itung-itung nambah list negara di Asia Timur (walaupun Taiwan termasuk negara yang nggak diakui PBB).

Gimana cara Andre menanggapi orang-orang nyinyir kayak misalnya “traveling itu cuma buang-buang uang mending dibeliin rumah atau mobil, traveling itu kerjaan orang yang melarikan diri dari hal-hal menyedihkan.”

Sama seperti orang nggak paham dengan kegemaran traveling, saya juga nggak paham kenapa orang mencari kebahagiaan dengan berumah tangga. Hahaha.. Jadi ya udah diemin aja, karena standar kebahagiaan orang kan beda-beda. Tapi karena “terlihat” sering traveling, kadang teman-teman saya malah suka nanya gimana caranya dapat tiket murah.

Andre tuh selalu kelihatan positip, sabar dan tenang. Gimana sih bisa konsisten bersikap kayak gitu?

Saya nggak selalu positip juga sih. Ada kalanya berpikiran negatif buat jaga-jaga kemungkinan terburuk. Kalaupun ada kejadian yang nggak menyenangkan saya coba merespon dengan berpikir begini, “mungkin memang jalannya harus begini.” Saya berada di posisi sekarang juga efek dari mencoba berpikiran positip di masa lalu. Misalnya, saya dulu nggak keterima di PTN dan akhirnya kuliah di PTS. Awalnya sedih, tapi kalau saya nggak kuliah disitu, mungkin saya nggak akan bekerja di media yang bisa membawa saya keliling Indonesia. Soal sabar, saya menganggap nggak ada gunanya marah-marah. Kalau semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus buang-buang energi untuk adu mulut atau baku hantam?

Oke deh Ndre, buat mereka yang ingin traveling tapi masih berangan-angan, Andre punya saran nggak?

Kaya jargonnya Tokopedia, mulai aja dulu. Kalau untuk traveling keluar negeri, bisa coba dari yang dekat-dekat dulu. Teman-teman saya suka bertanya, soal kendala bahasa. Perbedaan bahasa ternyata juga jadi salah satu alasan orang takut traveling. Padahal jaman sudah canggih, ada google maps dan google translate. Kalaupun nggak cukup, ada bahasa universal yaitu bahasa tubuh. Nggak perlu malu, karena hakekatnya bahasa hanyalah sarana untuk berkomunikasi. Kalau bahasa tubuh jadi sarana komunikasi yang efektif, kenapa enggak?

 

Note :  All pictures are taken from Andreas Trijaya Instagram.

 

 

 

HORAS MENJUAH-JUAH!

Menjelajahi sebagian Sumatera Utara sebenarnya tidak ada dalam rencana saya. Tapi karena tujuan utama saya ke Aceh gagal, akhirnya saya memutuskan keliling Sumatera Utara. Tidak banyak yang saya lihat karena saya hanya punya waktu sehari dari pagi sampai malam, tetapi lumayanlah. Dengan mobil sewaan dan seorang sopir sepuh yang lihai menyetir saya berangkat pukul 9 pagi mengelilingi Sumatera Utara.

 

Tujuan pertama saya Danau Toba karena cukup jauh, sekitar 5 jam perjalanan dari tempat saya menginap di kota Medan. Tempat ini sudah pasti sangat touristik, tapi ini salah satu tempat yang ada dalam mimpi saya untuk dikunjungi. Saya mengenal Danau Toba dari buku bacaan dongeng yang dibelikan Ibu waktu saya kecil. Ada banyak kisah tentang Danau Toba di buku itu membuat saya bermimpi untuk mengunjunginya kelak. Meski tidak sengaja, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi itu.

Mobil melintasi hutan sepanjang perjalanan menuju Danau Toba dan mampir membeli Lemang, makanan khas Medan yang dijual di pinggir jalan. Lemang menyerupai lemper kalau di Jawa, enaknya dimakan saat hangat. Sepertiga perjalanan kemudian, mobil mampir di Vihara Avolakitesvara yang terletak di Jalan Pusuk Buhit, Pematang Siantar. Vihara yang menjadi salah satu destinasi wisata lintas agama ini terletak di ketinggian dengan pemandangan yang indah dan terdapat patung Dewi Kwan Im yang tingginya mencapai 22,8 meter.  Menurut Pak Sopir, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan pada weekend dan sore hari. Saya tiba di Vihara tepat jam 11 siang sehingga panasnya luar biasa. Saya hanya singgah 30 menit mengambil foto lalu melanjutkan perjalanan karena tidak kuat dengan panasnya.

Hampir jam 1 siang saat saya tiba di pinggiran Danau Toba dan disarankan makan siang di salah satu warung makan pinggir danau oleh Pak Sopir. Makanannya sebenarnya masakan padang tapi ada juga beberapa makanan khas seperti jus Martabe dan ikan pora-pora goreng. Jus martabe terbuat dari markisa dan terong Belanda yang ditambah dengan potongan lidah buaya. Sementara ikan pora-pora adalah ikan air tawar yang berasal dari Danau Toba.  Saya suka dua makanan ini, sangat suka malahan.

Setelah sholat dhuhur di warung ini, saya jalan ke sekiling Danau Toba, tapi di spot ini tampak kurang menarik. Tidak ada yang bisa saya lihat selain tulisan Selamat Datang di Danau Toba dan panas tengah hari yang menyengat. Mungkin dari Samosir, Danau Toba tampak indah tapi sayangnya saya tidak punya waktu ke Samosir.  Pak Sopir menyarankan saya melanjutkan perjalanan ke air terjun Sipiso-piso dan singgah sebentar di spot lain untuk melihat Danau Toba jika dari spot ini kurang memuaskan. Saya setuju kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Spot lain yang lebih menawan untuk melihat Danau Toba itu adalah di depan Rumah Pengasingan Bung Karno di Parapat. Tempat yang dulunya perkebunan milik Belanda ini lebih sejuk dan pemandangannya sangat indah.  Bung Karno pernah diasingkan ke sini selama dua bulan bersama Agus Salim dan Sjahrir.  Saya sebenarnya ingin masuk ke dalam rumah pengasingan Bung Karno ini, tetapi pintunya dikunci dan tidak ada penjaganya, mungkin sedang sholat karena masih waktu dhuhur. Akhirnya saya hanya duduk beberapa saat di depan rumah ini untuk menikmati Danau Toba dari kejauhan lalu melanjutkan perjalanan.

Pak Sopir sebenarnya ingin mengantar saya ke banyak lokasi menarik, tetapi waktunya tidak akan cukup. Akhirnya kami memutuskan ke air terjun SiPiso-Piso kemudian mampir Berastagi. Sepanjang perjalanan menuju SiPiso-Piso, saya minta berhenti beberapa kali karena menemui ladang bunga matahari dan deretan bunga-bunga yang indah. Pak Sopir sangat sabar membiarkan saya foto sepuas-puasnya di spot tersebut. Sampai tiba di air terjun SiPiso-Pisopun saya kesorean.

Air terjun SiPiso-Piso sebenarnya sangat keren. Air terjun itu menyembur dari celah bebatuan tinggi dan pengunjung bisa menikmatinya sepanjang perjalanan menuju dasar air terjun. Perlu waktu sekitar 1 jam berjalan kaki mencapai dasar air terjun, tetapi saya hanya sampai separuhnya karena kuatir keburu malam. Sepanjang berjalan menuju dasar air terjun melalui jalanan berundak rapi yang kiri kanan tampak pemandangan hutan hijau yang menakjubkan. Sayangnya tempat indah ini kurang didukung dengan fasilitas yang memadai. Toilet yang kurang bersih dan sampah yang bercecer dimana-mana. Belum lagi tempat parkir yang kurang rapi dan terkesan sembarangan. Tepat jam 5 sore saya melanjutkan perjalanan.

Berastagi masih jauh, tetapi Pak Sopir sepuh masih semangat mengantarkan saya. Beliau semangat bercerita perbedaan Horas dan Menjuah-Juah. Meskipun keduanya sama-sama sapaan salam, tetapi Horas lebih banyak digunakan oleh suku Batak sementara Menjuah-Juah lebih banyak digunakan suku Karo. Beliau juga menyarankan saya mampir ke pasar buah Berastagi meskipun sudah malam. Katanya sayang kalau sudah sampai sini tidak mampir pasar Buah Berastagi.

Saya hanya melihat Sumatera Utara dalam beberapa jam, tetapi kota ini menarik. Saya belum tahu banyak seperti apa di dalamnya selain hanya cerita-cerita dari Pak Sopir. Semoga lain kali memiliki kesempatan lebih baik untuk ekplore sehingga bisa mengenali lebih dalam. Horas! Menjuah-Juah!