Tanah Suci dan Cinta

“Tidak ada cinta yang abadi selain cinta-Nya”


Banyak orang bilang, melakukan perjalanan ke tanah suci tidak hanya membutuhkan uang tetapi juga membutuhkan undangan dari Allah. Menurutku itu benar!
Ada satu masa dalam hidupku, aku bisa melakukan perjalanan itu dengan mengandalkan uang. Tetapi kenyataannya aku sama sekali tidak berminat dan memilih melakukan perjalanan ke negara lain. Bahkan saat kakak dan teman mulai mengkritik perjalanan-perjalananku ke beberapa negara dan menunda keberangkatanku ke tanah suci, aku mulai marah. Kenapa mereka ikut campur urusanku? Aku mau kemanapun itu uangku dan itu urusanku. 
Tetapi pada pertengahan tahun 2014 segalanya berubah. Tidak hanya berada di titik kritis kehidupan dengan berbagai masalah, sisa trauma yang susah disembuhkan dan luka baru yang datang tiba-tiba, tetapi aku juga sangat merindukan pergi ke tanah suci. Rindu yang sangat. Padahal aku sama sekali tidak punya uang untuk membayar paket perjalanan ke tanah suci. 
Apa yang bisa kulakukan? Aku dengan gegabah mendaftar ke satu agen travel umroh lalu mencairkan sisa tabungan yang jumlahnya hanya separuh dari harga paket yang mesti kubayar. Lalu sisanya bagaimana? Masih sibuk mikir gimana dapat uang separuhnya lagi, agen travel mendesak terus sampai seperti rentenir mengejar buruannya padahal masih ada waktu satu setengah bulan lagi. Merasa tidak nyaman dikejar-kejar sekaligus panik bagaimana mencari separuh uang itu, aku memutuskan membatalkan bergabung dengan travel ini dengan resiko kehilangan uang pendaftaran. Jadi uangku yang sudah nggak cukup makin aja nggak cukup.

Tapi aku tidak menyerah. Aku memutuskan daftar lagi di salah satu pameran travel dan disana mendapatkan diskon sebanyak uang pendaftaranku yang hilang di travel sebelumnya. Tetapi masalahnya uangku tetap masih kurang separuhnya. Dari mana aku akan mendapatkan kekurangan uang itu? Tiba-tiba pulang dari mendaftar, rezeki itu datang. Separuh uang yang kurang plus uang saku sekitar satu juta sampai di tanganku. Alhamdulillah. 

 
Apakah semudah itu? Ternyata tidak. Sebulan menjelang berangkat aku sakit-sakitan. Darah tinggi sampai 175/110 dan sempat pingsan di blok M. Bahkan kondisi depresiku semakin parah. Aku seperti tidak punya harapan melanjutkan hidup, tidak punya semangat dan sangat sedih. Makan susah dan tidur tidak nyenyak. Berat badan susut begitu banyak. Apa yang terjadi denganku? Keluargaku bingung juga sahabat-sahabatku. Seorang sahabat muslimah dari Kanada bilang, ”Allah akan menyembuhkanmu di tanah suci nanti sis, kalau perlu teman bicara aku akan selalu ada.” Dan, melalui email-email yang panjang, aku menumpahkan semua kegalauanku. Kegalauan yang aku sendiri kurang tahu pasti karena apa. Dengan sabar dia membaca dan membalasnya sekaligus mensupport bahwa aku akan baik-baik saja. Terimakasih sahabat.
Hingga hari keberangkatan itu tiba. 12 Januari 2015.
Begitu mendarat di Madinah dan naik bis menuju hotel air mataku tumpah ruah. Memandangi hamparan tanah haram, mataku tidak percaya. Benarkah aku sudah sampai? Inilah tanah haram? Di sinikah Islam yang kupilih sebagai petunjuk hidup dan matiku berawal? Islam yang membuatku jatuh cinta sejak aku kelas dua SD. Aku terisak-isak terus dalam perjalanan ke hotel. Menarik perhatian beberapa orang di bis, tapi aku tak peduli. Lagipula aku tidak bisa mengendalikan perasaanku yang tidak menentu.
Pada hari pertama kedatangan itu, aku bisa menikmati makanan dengan lahap. Kesehatanku prima dan aku bisa mengikuti semua ibadah tanpa jeda. Dengan waktu tidur hanya 2 jam permalam, aku sangat kuat, sehat dan semangat. Subhanallah! Hari demi hari semakin membuatku semangat. Apalagi begitu menginjakkan kaki di Mekah. Aku menangis bahagia. Sangat bahagia. Semua penyakitku sepertinya terbang hilang. Semua luka berasa menguap. Semua trauma berasa lenyap. Yang tertinggal hanya cinta. Cinta-Nya.
Tidak hanya merasakan cinta-Nya yang begitu nyata dan kuat, cerita hidup teman-teman dalam perjalanan ini membuatku banyak merenung. Tidak ada manusia yang lepas dari cobaan. Salah seorang teman yang selalu tersenyum, gemar menolong dan tidak pernah menampakkan kesedihan ternyata baru kehilangan suaminya. Mereka baru saja menikah empat bulan dan sang suami dipanggil menghadap Rabb-Nya. Lalu pasangan senior yang tidak dikaruniai putra dan selalu kelihatan gembira. Pada akhirnya manusia hanya singgah sebentar di dunia dengan segala senda guraunya. Tujuan akhirnya adalah akherat dan pertemuan dengan Tuhan-nya. Lalu kenapa kita begitu sedih, sedangkan cinta-Nya begitu besar?
Kini, aku juga sadar kenapa orang-orang sholeh tersenyum saat kembali menemui Rabb-Nya. Karena mereka bahagia bertemu kekasihnya. Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya mereka saat bertemu Rabb-Nya. Sedangkan aku yang bergelimang dosa saja, sangat bahagia bisa berdekatan dengan Allah. Aku merasa cinta-Nya memancar begitu indah, menyembuhkan semua luka-luka. Aku ingin kembali ke tanah itu. Ya Rabb, panggillah aku kembali.

Mengingat Desember Di Macau Mosque & Cemetery (2)


Masjid itu memang satu komplek dengan pemakaman muslim. Tampak lengang dan tidak nampak seorangpun di sana. Aku dan Meidy melangkah menuju pelataran belakang masjid yang dekat dengan pemakaman dan menemukan seorang wanita berjilbab hitam panjang sedang menangis. Aku dan Meidy saling pandang lalu memutuskan untuk duduk di samping wanita itu tanpa bicara apapun. Saat dia mengangkat wajahnya, aku bisa mengenali bahwa dia orang Indonesia. Ia tersenyum padaku dan Meidy lalu mengusap air matanya.
Masjid Macau
“Teman saya dari Indonesia sakit dan meninggal.  Dia masuk Macau dengan ilegal. Saya berharap masih bisa dimakamkan di sini,” katanya.
“Sakit apa?”
“Demam tinggi,” jawabnya. “Inilah susahnya kalau ilegal, kalau nggak dapat ijin dimakamkan di sini, kemungkinan dia akan di kremasi.”
Rumah nenek Aisha
Dan ia menangis terisak-isak lagi. Adzan dhuhur berkumandang, tampak beberapa lelaki berwajah Indonesia memasuki masjid dan mbak jilbab hitam bangkit dari duduknya untuk mengambil wudhu. Ia sempat bertanya kami siapa dan berasal dari Indonesia mana. Dalam sekejab kami sudah akrab seperti layaknya saudara. Tak lama kamipun sholat berjamaah.
Aku, nenek Aisha dan si mbak
Usai sholat jama’ah, seorang nenek masuk ke dalam masjid. Si mbak memperkenalkan kami ke nenek yang berwajah chinese ini. Beliau seorang mualaf dan tinggal di rumah mungil dekat masjid sendirian. Nama mualaf nenek ini Aisyah. Karena iman Islamnya, dia rela meninggalkan keluarganya dan hidup sendirian di usianya yang sudah renta. Subhanallah. Si mbak yang sering mengirimi nenek ini makanan setiap ke masjid. Aku jadi berkaca-kaca melihat kondisi nenek, rumahnya dan kekuatan iman Islamnya.
Karena ada titipan salam dari headwriter, aku diantar si mbak menemui imam masjid. Ternyata beliau berasal dari Sumatera. Rasanya lega setelah menyampaikan titipan salam. Kami menunggu ashar sambil menemani si mbak menunggu jenazah temannya. Tetapi sampai adzan ashar berkumandang, jenazaha tak juga datang. Ternyata si teman sudah di kremasi dan tidak bisa dimakamkan di sini. Si mbak menangis lagi, tetapi sambil terus berdoa untuk temannya.
Pemakaman di areal masjid
 Usai ashar kami memutuskan pulang. Karena tidak tahu jalan pulang ke hotel, si mbak berbaik hati mengantarkan kami sampai terminal. Sepanjang perjalanan kaki menuju terminal, si mbak cerita suka dukanya bekerja di negeri yang jauh dari kampung halaman. Tujuh tahun sudah si mbak merantau, bermula dari Hongkong. Ia bekerja untuk membiayai anak-anaknya. Pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan asongan. Sampai kemudian dia bekerja di Macau sebagai pembantu rumah tangga. Sementara suaminya menceraikannya. “Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi juga tidak sulit jika kita mau mensyukurinya,” katanya.
Sebelum berpisah, kami berpelukan lalu menghilang di keramaian terminal. Aku sendiri lupa nama si mbak dan lupa minta nomor handphonenya. Tetapi aku berharap suatu hari kalau aku ke Macau lagi bisa bertemu dengan Mbak ini. Semoga.