Tips Keliling Eropa Murah


Setiap mendengar kata Eropa yang terbayang di kepala kita pasti satu kata, “MAHAL!”. Memang benar Eropa mahal apalagi untuk pengguna mata uang rupiah. Di Eropa, mata uang rupiah seakan tiada harganya. Lantas bagaimana mewujudkan mimpi keliling Eropa dengan “acuan” kata mahal itu? Apakah kita perlu menunggu sampai kaya raya baru bisa keliling Eropa? Saya sih, nggak mau menunggu sampai kaya dulu baru keliling Eropa.  Takutnya saat menjadi kaya ternyata tidak sehat atau buruknya tidak punya umur lagi. So, banyak cara menuju Roma, banyak cara menuju Eropa! Itu bener banget! Jadi gimana dong caranya? Ini cara saya, mungkin akan beda dengan cara Anda, karena itu tadi, banyak jalan menuju Eropa! 
 

 

Saya keliling Eropa satu bulan secara backpacker bersama beberapa teman. Semua persiapan mulai dari tiket, penginapan, rute perjalanan, makanan dan semua hal yang menyangkut kebutuhan traveling kami urus sendiri. Saya sih suka melakukan semuanya karena jadi belajar banyak hal dan tidak bergantung pada penyedia paket perjalanan. Satupun kami tidak menggunakan jasa agen atau paket perjalanan. Dengan cara itu kami bisa irit lebih dari setengah harga paket yang ditawarkan oleh travel tour.  Saya keliling London, Skotlandia, Paris, Geneva, Vienna, Praha, Amsterdam dengan biaya Rp. 29 juta selama satu bulan. Kalau menggunakan paket perjalanan minimal biaya pasti dua kali lipat. Iya dong, kita kan perlu membayar biaya penyelenggara paket tour. Iya kan?

 

 

 

Nah, apa saja sih yang mesti disiapkan untuk perjalanan murah ala saya ini?  Oke, saya akan share di sini, mungkin bisa berguna buat teman-teman yang ingin keliling Eropa dengan cara murah.

 

 

 

1.   TIKET PROMO

 

Mencari tiket promo ini penting bahkan menjadi kunci murahnya perjalanan. Kita bisa mendapatkan tiket promo dengan mencegatnya melalui informasi group-group traveling.  Rajin-rajinlah mengecek group traveling yang selalu berbagi informasi tiket promo karena mereka selalu share seluk beluk tiket promo. Jangan kuatir tidak kebagian, tiket promo ini pada tahun-tahun terakhir banyak sekali dan mudah di dapatkan. Pesawat-pesawat full bujet dengan pelayanan yang bagus seperti Qatar, Etihad dan Emirates juga berlomba mengadakan promo. Bahkan Garuda meski harganya masih mahal buat kantong saya juga promo. Saya sendiri mendapatkan tiket Etihad multicity promo dengan pembelian setahun sebelum keberangkatan di harga Rp. 5,6 juta return dengan rincian perjalanan Jakarta- London kemudian kembali dari Amsterdam – Jakarta.

 

 

 

2. TIKET SAMBUNGAN ANTAR NEGARA

 

Bus merupakan transportasi murah sambungan antar negara. Tetapi ada kalanya kereta dan pesawat juga murah. Tiket promo sambungan antar negara biasanya untuk pembelian tiga bulan sebelum keberangkatan. Saya mencegatnya dengan menggunakan aplikasi GOEURO di android, FLIXBUS dan STUDENT AGENCY. Dengan selalu mengecek aplikasi itu kita akan tahu saat harga termurah muncul. Saya membeli tiket sambungan dengan harga yang lumayan murah. Misalnya London-Skotlandia menggunakan bus mendapat harga Rp.60 ribu, busnya bagus dan nyaman. Skotlandia-London menggunakan pesawat Ryan Air dengan harga Rp.200 ribu. Dan sambungan lain menggunakan kereta seperti Paris-Geneva yang kami beli dengan harga lebih murah dari harga normal. Sebelum berangkat ke Eropa, kami sudah membeli semua tiket sambungan antar negara dengan harga promo. Memang paling murah menggunakan bus, tetapi ada kalanya pesawat lebih murah dari bus jika harga promo. Hanya saja menggunakan pesawat untuk sambungan antar negara itu ribet karena proses check in sementara menggunakan kereta atau bus tinggal masuk dan duduk menunggu berangkat. Saya menyarankan jika anda punya banyak waktu lebih baik menggunakan bus atau kereta daripada pesawat.

 

 

 

3 3.PENGINAPAN

 

Penginapan di Eropa kebanyakan mahal, tetapi tetap bisa kita diakali. Pembelian harus jauh-jauh hari sebelum keberangkatan karena mendekati tanggal berangkat semakin mahal. Banyak pilihan penginapan yang bisa dipakai para backpacker. Tidak hanya hostel tetapi bisa airbnb. Menggunakan airbnb tentu lebih irit jika bersama banyak orang karena harganya akan dibagi. Tetapi kelemahan airbnb, kebanyakan jauh dari pusat kota sehingga perlu biaya transportasi lagi. Sementara hostel dengan tipe dormitory bisa menjadi pilihan murah dengan lokasi lebih strategis.  Sekali lagi, mencari informasi tentang penginapan yang direkomendasikan teman-teman traveler sangat dianjurkan, sehingga tidak salah pilih.

 

 

 

4 5. MAKANAN

 

Untuk sarapan kami membawa makanan instant dari Indonesia seperti indomie, energen dan biskuit. Kami biasanya makan sehari dua kali dan jika porsinya besar, kami bisa makan berbagi. Porsi makanan di Eropa itu besar sehingga kita bisa berbagi berdua atau bahkan bertiga. Karena saya tinggal di airbnb, saya memasak sendiri dengan membeli bahan masakan di minimarket.

 

 

 

5 6. INFORMASI NEGARA YANG KITA KUNJUNGI

 

Sebelum berangkat kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya melalui berita, artikel, grup traveler dan bertanya langsung ke mereka yang tinggal disana. Informasi ini sangat berharga agar kita bisa tahu apa yang mesti kita pilih dan kita lakukan selama perjalanan. Saya hampir semua informasi di negara yang saya lewati saya catat dalam buku kecil. Mulai dari mata uang, penukaran uang yang aman, tempat wisata, makanan, penginapan, kebiasaan orang setempat hingga tempat-tempat yang tidak banyak dikunjungi turis. Jangan lupa kartu transportasi yang akan kita gunakan di negara yang kita kunjungi jika kemungkinan bisa mendapatkan kartu yang lebih murah dari harga normal.

 

 

 

 

Masih banyak sebenarnya tips untuk mengirit perjalanan ke Eropa, yang saya tuliskan diatas hanya yang besar-besar, ohya, yang terpenting juga tidak banyak belanja. Saya sih tidak suka belanja sambil traveling jadi saya juga irit disini. Paling banter hanya membeli tempelan kulkas untuk kenang-kenangan. So…. sebenarnya ke Eropa nggak harus nunggu kaya kalau kita tahu jalan lain menuju Eropa. Let’s go! 

 

Paris : Kota Cinta, Kota Seni – 2


Tengah hari, saya tiba di Arc de Triomphe. Sebagai tujuan turis, tempat ini sudah pasti sangat ramai. Bahkan untuk memotret dengan angle yang tepat saja susah. Saya tidak masuk ke dalam lorong untuk menyusuri bagian bawa Arc de Triomphe karena lebih tertarik untuk menjelajahi jalanan kota Paris.  
Kota Paris bisa dijelajahi dengan jalan kaki. Kita hanya perlu memanfaatkan google map sambil menyusuri trotoar unik abad pertengahan yang menghubungkan tempat-tempat wisata terkenal.  Dari Arc de Triomphe saya berjalan lurus melewati pusat perbelanjaan mewah dan restoran-restoran besar lalu mampir di Paris in Jerman untuk membelikan pesanan teman. Meskipun saya suka berjalan kaki, tetapi menjelajahi Paris dengan kondisi perut tidak terisi nasi membuat kaki saya mudah kram. Ketika menemukan penjual burger dan minuman di sisi jalan, saya langsung membelinya. Tiba-tiba ada orang Indonesia bergabung dengan saya. Seorang ibu dan anaknya yang melakukan perjalanan backpacker juga dari Bali sembari mengunjungi kerabatnya di Belanda. 
Meskipun tidak masuk ke dalamnya, saya menyempatkan mampir di areal Universitas Sorborne dan melihat lalu lalang mahasiwa.  Baru menjelang sore saya sampai di Museum Lovre.  Museum ini benar-benar luar biasa, bahkan dari penampakan luarnya saja sangat mempesona. Saya tidak memasuki museum dan hanya mengambil fotonya dari luar karena benar-benar sudah kecapekan. Saya memutuskan berjalan ke arah taman dan duduk lama di sana sambil melihat lalu lalang orang lewat. Setelah cukup istirahat saya berjalan lagi keluar areal Museum Lovre dan menyisir sepanjang sisi sungai Seine. Tempat ini menjadi tempat favoritku selama beberapa hari di Paris karena sangat romantis, tenang dan nyeni. Apalagi kalau dikunjungi saat matahari kemerahan menjelang tenggelam.
Saya membeli tiket cruise yang murah untuk menyisir sepanjang sisi sungai Seine dan saya menuliskannya di artikel sebelumnya tentang sungai di Eropa. Baru ketika langit gelap, saya kembali berjalan kaki menyusuri trotoar dengan lampu-lampu yang telah menyala. Paris malam hari semakin cemerlang dan unik.  Hanya saja untuk memasuki stasiun metro pada malam hari sangat menakutkan buat saya. Penumpang di dalam metro itu seperti saling memandang curiga dengan wajah yang letih. Setelah luntang-luntung mencari stasiun yang terdapat mesin pembelian tiket, akhirnya kami menemukannya juga. Hampir jam 11 malam saya tiba di hostel.
Tujuan utama saya ke Paris sebenarnya untuk mengunjungi Grande Mosque dan toko buku Shakespeare and Company. Grande Mosque memiliki sejarah unik pada masa perang dunia 2. Pernah menjadi tempat persembunyian Yahudi Eropa dari kejaran Nazi Jerman. Sementara toko buku Shakespeare and Company sudah pasti menjadi tempat wajib kunjung bagi orang yang suka menulis dan membaca. Toko buku ini merupakan tempat favorit Hemingway dan beberapa pengarang terkenal lainnya. ( saya akan menuliskan artikel tersendiri tentang toko buku dan masjid ini di tulisan selanjutnya).

Paris sangat menarik tentu saja karena kekayaan seni yang luar biasa. Saya menyukai kota ini kecuali tingkat kriminalitas yang mengkuatirkan. Saya tidak nyaman jalan karena harus terus-terusan memegangi tas, dompet dan menyimpan semua barang berharga di money belt sampai setiap foto perut saya melendung karena money belt. Benar-benar menyebalkan. Tetapi dari yang menyebalkan dan menyenangkan justru jika ada kesempatan lagi, saya ingin kembali ke Paris. Belum banyak yang saya lihat. Semoga saya bisa kembali.

Paris : Kota Cinta, Kota Seni – 1


 “Paris is the only city in the world where starving to death is still considered an art ”  – Carlos Rutz Zafon (Spanish Novelist)

Pagi masih lengang saat Flixbus yang saya tumpangi 8 jam dari London victoria couch stasiun tiba di salah satu terminal bus di Paris. Kaki masih terasa ngilu duduk semalaman setelah sebelumnya menyeret koper sambil lari-lari di trotoar London karena takut ketinggalan bus.  Tapi akhirnya sampai juga saya di kota cinta Paris. Apakah benar banyak cinta di sini? 

Bus berhenti di terminal terbuka Porte Maillot yang berada tepat di depan stasiun metro. Saya dan dua orang teman segera menyeret koper memasuki stasiun. Bangunan stasiun tampak modern tetapi masih sepi. Hanya ada security mondar-mandir di dekat pintu masuk. Kami mencari petunjuk arah menuju stasiun metro yang ternyata ada di lantai bawah tanah.  Begitu memasuki pintu stasiun metro, saya mulai menangkap suasana yang muram dan berbeda dengan bagian depan stasiun yang modern. Bagian bawah tanah itu tampak tua dan kusam, penjaga loket sedikit galak dan orang-orang yang berjejer antri tiket saling melirik seolah menaruh kecurigaan. Karena belum mempelajari kartu transportasi yang akan kami gunakan, kami membeli tiket sekali jalan ke arah hostel yang terletak di Gare Du Nord. Dengan tiket berukuran kecil dan mesin tua yang unik, saya kesulitan masuk stasiun. Ternyata tiket mungil itu harus dimasukan dan akan muncul di depan setelah palang terbuka. Begitu keluar, akan terdapat tanda garis kecil di tiket pertanda telah dipakai. Setelah melewati mesin tiket kami bingung harus masuk ke stasiun yang mana karena tidak menemukan petunjuk.  Sembarangan kami mengikuti arus orang memasuki salah satu lorong stasiun.
 

Lorong-lorong stasiun itu muram dan horor. Orang-orang dengan lirikan yang seperti curiga hilir mudik tanpa aura wajah ramah. Tidak ada eskalator sehingga kami harus mengangkat koper naik turun tangga setan yang tingginya amit-amit. Agak berharap ada cowok ganteng yang tiba-tiba tersenyum dan membawakan koper kami melewati tangga seperti di London, tapi di Paris kami kurang beruntung. Setelah muter-muter di lorong dan bolak-balik motret jalur metro yang terpampang di tembok stasiun akhirnya kami menemukan jalan menuju hostel.  Dengan dua kali pemberhentian metro, sampailah kami di stasiun Gare Du Nord. 

Gare Du Nord besar dan modern. Pintu keluarnya pun susah ditemukan karena petunjuknya agak memusingkan. Tetapi sekali lagi, saya menemukan wajah-wajah curiga memandang kami sehingga kami menjadi waspada.  Sepanjang keluar stasiun saya menekap tas dan money belt erat-erat.  Sudahlah pergi ke Eropa dengan cara irit mendekati kere kalau sampai kenapa-napa, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.  Banyak gelandangan di pintu depan stasiun dan saya bergegas menghampiri polisi untuk menanyakan lokasi hostel. Polisi tidak yakin lokasinya hanya memberi tahu bahwa jalan yang saya cari ada di sepanjang jalan ini. Saya memutuskan berjalan ke arah kiri dan insting saya benar, Christoper Hostel ada di ujung jalan setelah melewati kedai-kedai makanan halal. Saya membayangkan bisa makan lebih leluasa di sini.

Christoper Hostel luas dan memiliki banyak kamar dormitory. Saya memilih female dormitory dan sekamar dengan cewek Brazil, cewek Afrika dan satu lagi emak-emak dari London.  Terlalu capek setelah perjalanan semalam naik bus dari London dan ketakutan banyak copet di jalan, kami memutuskan untuk tidur di hostel sambil menyusun strategi menjelajah besok harinya. Kami hanya keluar di sekitaran hostel untuk mencari makan sore hingga malam. Itupun masih ada acara nyasar segala. Jadi kapan kami tidak nyasar?

Esoknya kami jalan kaki menuju Sacre-Coeur yang terletak di bukit Montmartre. Menurut cewek Brazil itu tidak jauh dari hostel kami, tapi ketika kami jalan ke sana ternyata kaki sampai kram juga. Apalagi jalan menuju ke sana mendaki dan kami belum sarapan nasi beberapa hari. Sacre-Coeur merupakan gereja dengan kubah putih. Dari pelataran bagian atas kita bisa melihat pemandangan sebagian wilayah Montmartre.  Gereja ini didirikan pada tahun 1875 dan baru selesai dibangun pada tahun 1914.  Ada seorang lelaki tua yang memainkan biola dengan indah di pelataran atas Sacre-Coeur dan saya lebih suka menikmati permainan lelaki tua ini daripada jalan mengelilingi Sacre-Coeur.  
 

Hujan mulai turun ketika kami menuruni bukit dan melewati penjual souvenir yang berjajar di bawah bukit.  Kami memutuskan masuk ke sebuah tempat makan halal yang ada di seberang jalan. Meskipun setiap berjalan harus sangat waspada pada kemungkinan copet supercanggih yang mengintai dompet kami, tetapi hal yang menyenangkan di sekitar Gare Du Nord adalah banyak makanan halal. Karena hujan tak kunjung berhenti, kami kembali ke hostel untuk tidur siang. Ini adalah penjelajahan paling malas yang pernah terjadi dalam misi kami! Bukan apa-apa sih, lebih karena hujan dan kami agak takut dengan suasana Paris.
 

Baru sekitar pukul 2 sore kami kembali keluar hostel. Entah kenapa setiap memasuki stasiun sudah horor saja bawaannya. Apalagi untuk membeli tiket harus menggunakan credit card sehingga kami tidak bisa memperkecil kemungkinan kena scam. Dan benar saja, credit card saya kena scam (digandakan scammer setelah saya masukkan mesin untuk membeli tiket metro). Untung pihak bank segera menghubungi saya dan secepatnya credit card saya di block.  Duh, Paris, dimana cinta itu? Dan, saya mulai mengeluh.

Setelah muter-muter nyasar dan saku jaket temen saya digerayangi copet di metro sampailah kami di stasiun tujuan. Tidak ada barang hilang tetapi seorang ibu baik hati mengejar teman saya dan mengingatkan agar tidak menyimpan sesuatu di saku jaket. Banyak orang baik di mana saja, bahkan munculnya seringkali tidak bisa kita duga.

Begitu keluar stasiun, mata saya disergap bangunan-bangunan tua yang sangat artistik dan memancarkan aura seni. Sejauh mata memandang, bangunan-bangunan itu seperti kehidupan dari masa lampau yang tak pernah bergerak ke masa modern. Saya lebih suka menyebut Paris sebagai kota seni daripada kota cinta, karena setiap sudutnya memancarkan aura dan aroma seni.  Kami menyusuri sepanjang sisi jalan hingga sampai di menara Eiffel. 

Menara Eiffel seperti dugaan saya, sudah pasti ramai pengunjung dari berbagai negara. Saya sebenarnya tidak terlalu excited dengan menara Eiffel karena dalam kepala saya hanya besi yang didirikan membelah kota. Dan sampai hari ini juga tidak paham kenapa orang-orang selalu membuat definisi yang berkaitan dengan cinta di depan menara besi ini. Tetapi well, sudah sampai Paris, maka saya harus mengabadikannya dalam kamera. Siapa tahu sampai akhir hayat saya tidak bisa mengunjungi Paris. Jadi tidak ada salahnya saya mengunjungi menara Eiffel meskipun saya tidak tersentuh dengan berbagai cerita cinta di depan menara besi ini. Hanya sekitar 30 menit di tempat itu, saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Museum Lovre dan Arc de Triomphe.  (bersambung ke tulisan ke -2 )