Tag Archives: travelwriter

YANG DIRINDUKAN DARI PERJALANAN

Perjalanan sekarang seperti angan-angan yang jauh. Pandemi menghancurkan semua tiket perjalanan yang saya miliki. Setidaknya tiga rencana traveling tahun 2020 yaitu ke China, Timor Timur dan Eropa. Bagusnya semua tiket perjalanan bisa direfund 100% karena memang pesawatnya tidak berangkat. Dalam kondisi seperti ini, sedih dan stuck sudah pasti, tetapi apa sih sebenarnya yang paling saya rindukan dari perjalanan?

Ada beberapa hal yang saya rindukan dari perjalanan mulai dari menyusuri tempat-tempat baru, nyasar dan menemukan hal aneh sampai teman-teman perjalanan yang kadang menyebalkan atau juga menyenangkan. Setiap perjalanan ada ceritanya masing-masing yang selalu sangat menarik buat saya. Tetapi yang paling saya rindukan adalah bertemu orang-orang lokal, bergaul dengan mereka untuk mengetahui kehidupan mereka dan mencecap keramahan mereka. Kejadian-kejadian spontan kebaikan orang lokal ini selalu saya rindukan saat saya lama tidak melakukan perjalanan. Sayangnya beberapa kejadian tidak terekam dalam kamera karena benar-benar spontan. Jadi mungkin cerita dan fotonya tidak bersesuaian.

Saya mengingat beberapa pertemuan menyenangkan dari perjalanan saya. Tahun 2016 saya pergi ke China. Saya nyasar ketika mencari penginapan saya dan semua orang hanya bisa berbahasa China. Semua tulisan jalan juga berbahasa China. Saya benar-benar hampir putus asa ketika itu ditambah lagi saya kelaparan. Tiba-tiba saya melihat rumah makan kecil di pinggir jalan milik orang muslim. Saya mampir dan membeli makanan. Sebenarnya toko itu belum buka, tapi melihat saya dan teman saya kelaparan serta kebingungan sepertinya pemilik toko kasihan. Saya kemudian dipersilakan makan bahkan ketika saya membayar dia menolak. Katanya kita satu saudara seiman, anda tidak usah bayar, kita saling mendoakan saja.

Di perjalanan yang lain pada tahun 2011 saat saya ke Korea, saya bersama seorang teman juga nyasar saat mencari salah satu gedung. Tiba-tiba seorang cowok bersedia mengantar saya sampai ke gedung itu menggunakan mobilnya. Awalnya saya ketakutan saat masuk mobil, tapi ternyata cowok itu benar-benar mengantarkan saya ke gedung yang saya cari. Teman saya memberikan souvenir dari Indonesia, lalu kami berpisah. Tak hanya itu, saat saya dan teman saya kelaparan, kami masuk ke kedai kecil di Korea. Seorang wanita paruh baya melayani kami dengan ramah bahkan menunggui kami makan. Kedai itu berasa kedai privat buat kami. Meskipun tidak bisa berbahasa Inggris tetapi ibu ini memahami komunikasi bahasa tubuh yang kami gunakan. Bahkan saat kami bingung mencari terminal, dua orang wanita mengantar kami hingga terminal. Kejadian di Korea ini benar-benar membuat saya rindu kembali ke sana.

Tahun 2019 saat ke Rusia, entah sudah berapa kali saya dan teman-teman kebingungan mencari alamat rumah. Sampai salah masuk ke sana dan ke mari berjam-jam. Tetapi selalu ada orang yang menolong kami. Memang sebagian mereka tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka berusaha menolong kami menemukan tempat yang kami cari. Bahkan membantu mengangkat koper kami tanpa mau dibayar.

Tahun 2017, saat saya pergi ke Geneva Swiss, saya ketiduran di tram karena sangat capek. Seorang penumpang membangunkan saya dan bilang kalau saya sudah sampai tempat tujuan. Sepertinya dia memang mendengar saat saya dan teman-teman menyebutkan tempat tujuan saya. Di Belanda juga saya mengalami hal spontan menyenangkan saat tidak bisa pulang karena tram berhenti. Waktu itu ada pertandingan bola dan kondisi jalanan banyak orang lalu lalang. Semakin malam akan semakin ramai bahkan banyak orang mabuk maka disarankan segera pulang, sayangnya tidak ada tram. Seorang wanita yang kebetulan juga menunggu tram kemudian mengajak kami jalan agak jauh ke stasiun yang lain. Dari stasiun ini, saya kemudian bisa mendapatkan tram menuju penginapan. Ternyata wanita ini rumahnya tidak jauh dari lokasi penginapan saya. Sementara di Paris, saat ke masjid saya bertemu seorang gadis yang belum lama menjadi mualaf. Gadis ini bahkan menjadi teman baik saya hingga saat ini. Kami masih bertukar kabar dan berbagi cerita.

Tahun 2019, saya ke Vietnam dan menjelajahi beberapa pasar bukan untuk belanja tapi untuk bertemu beberapa orang yang ingin saya tulis kisahnya. Ternyata saya menemukan banyak orang menarik di beberapa pasar ini. Mereka terbuka dan penuh perhatian. Saya merasa sangat bahagia bertemu mereka. Hal-hal seperti ini sebenarnya yang paling saya rindukan dalam perjalanan. Moment-moment yang spontan, jujur dan penuh ketulusan ini tidak sering saya dapatkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Kapan bisa traveling lagi? Saya merindukan mereka.

10 SUNGAI INI MENYUGUHKAN PANORAMA YANG MENARIK

Perjalanan bagi saya adalah waktu yang tepat untuk kontemplasi. Karena itu juga, saya tidak suka bersama banyak orang. Salah satu tempat yang selalu saya kunjungi selain kota tua adalah sungai.  Sungai menjadi saksi bisu bergulirnya sejarah di negara tersebut dan menjadi tempat yang asyik untuk duduk melamun saat senja. Berikut sungai yang pernah saya kunjungi di beberapa negara.

1. SUNGAI DANUBE BUDAPEST, HUNGARIA

Mengunjungi sungai Danube pada senja hari merupakan ide yang tepat. Saya sampai di Budapest pada malam sebelumnya naik bus dari Vienna Austria. Begitu sampai, saya  kebingungan saat hendak masuk ke gedung tua tempat saya menginap.  Hostel itu berada di lantai 4 gedung tua dengan pintu gerbang yang besar dan berat sampai saya tidak kuat mendorongnya. Seorang cowok lewat dan kasihan melihat saya kesulitan mendorong pintu. Dia membantu saya mendorong pintu dan menyelesaikan drama itu. Tetapi memang banyak drama saat di Budapest. Saya kesulitan mencari kartu transportasi sehingga memutuskan mengikuti google map untuk berjalan kaki sampai sungai. Untung dari hostel ke sungai tidak terlalu jauh. Justru saya menemukan banyak hal menarik sepanjang perjalanan dari hostel ke sungai seperti yang bisa saya kunjungi esok harinya.

Saya tiba di pinggir sungai tepat saat lampu-lampu kota yang berwarna kekuningan mulai menyala tetapi langit masih terang. Lampu yang diatur sedemikian artistik itu membuat bangunan-bangunan tua di sekitar sungai berubah keemasan. Salah satunya adalah gedung Parlemen Budapest yang menjadi tujuan wisata para turis. Beberapa operator cruise yang mengangkut turis tampak bolak balik menyusuri sungai. Mereka menikmati pemandangan senja dan bangunan-bangunan bersejarah di kota Buda dan Pest dari kapal. Sebagian penumpang melambaikan tangan ke arah turis yang duduk menikmati senja di tepi sungai.  Sungai Danube pada senja hari sangat cantik dan romantis.

Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata para turis. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat bangunan-bangunan tua cantik di kota Buda yang ada di seberang sungai.

Setelah duduk menikmati suasana Budapest dari pinggir sungai Danube sekitar tiga jam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar pinggir sungai ke arah jembatan Chain. Sebelum sampai di jembatan Chain, saya melewati Szechenyi Street. Tampak beberapa orang membawa bunga mawar dan meletakkan bunga mereka di atas sepatu besi yang ada di pinggir sungai.  Tempat itu adalah Shoes on The Danube Promenade, memorial untuk memeringati korban Holocaust, “Mengenang korban yang ditembak ke Sungai Danube oleh milisi Arrow Cross pada 1944-1945”. Instalasi yang terdiri dari 60 pasang sepatu dari besi dan di belakangnya terdapat bangku yang terbuat dari batu sepanjang 1.188 meter dengan tinggi 71 cm ini merupakan saksi salah satu momen terkelam di Budapest selama Perang Dunia II tepatnya pada musim dingin 1944-1945.  Ribuan orang Yahudi pada masa itu diikat bersamaan dan ditembak ditepi sungai. Jasad mereka dilemparkan ke Sungai Danube oleh Arrow Cross Party. Sungai Danube menjadi pemakaman Yahudi paling mengeringkan pada masa itu. Karena sepatu saat itu sangat berharga maka sebelum ditembak mereka dipaksa melepaskan sepatunya dan sepatu itu akan dijual ke pasar gelap oleh para eksekutornya. Memorial ini terbuka untuk dikunjungi para turis, terkadang juga kerabat para korban. Mereka meletakkan bunga, koin dan lilin di sana.

Malam semakin sepi saya melanjutkan perjalanan ke jembatan Chain yang masih ramai. Orang-orang duduk di pinggir sungai sekitar jembatan Chain menikmati malam. Sayapun bergabung untuk duduk di sana. Sungai Danube yang cantik dan romantis namun menyimpan tragedi kelam dari masa lalu ini sayang untuk dilewatkan jika anda ke Budapest.

2.SUNGAI SEINE PARIS, PRANCIS

Sungai Seine memang menjadi tujuan utama saya saat berkunjung ke Paris. Sebagai orang yang suka melamun di pinggir sungai, tempat ini tidak akan saya lewatkan. Sungai Seine tidak hanya menjadi ikon pariwisata di Paris tetapi juga menjadi inspirasi banyak seniman Prancis ; pematung, pelukis, filmmaker bahkan penulis dalam karya-karya mereka. Maka setelah seharian berjalan kaki menyusuri kota Paris yang super eksotis, saya turun ke trotoar tepi sungai Seine. Siapa tahu saya juga mendapatkan inspirasi seperti para seniman itu, meskipun kenyataannya saya malah terkagum-kagum dengan pemandangan sepanjang sungai sehingga tidak mendapatkan inspirasi apapun.

Sungai Seine membelah kota Paris menjadi dua bagian yaitu utara dan Selatan dengan panjang 776 kilometer dan memiliki puluhan jembatan yang bertengger diatasnya. Sebagai sungai terpanjang kedua di Perancis setelah Sungai Loire, pada awalnya Sungai Seine digunakan sebagai sarana transportasi dan pembuangan. Tetapi pada masa kini, sungai Seine menjadi salah satu cagar budaya UNESCO. Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Selain Eiffel, sungai Seine merupakan ikon kota Paris. Di sepanjang pinggir sungai banyak turis, orang lokal yang duduk menikmati senja atau olahraga juga mereka yang bekerja di sungai.  Wisata yang ditawarkan adalah menyusuri sungai dengan naik cruise yang akan melewati ikon-ikon wisata di Paris. Jika menyisir dari arah timur menuju arah barat Sungai Seine, akan tampak puluhan situs yang terletak di kanan-kiri lembah Sungai Seine. Di lembah kiri sungai tampak berturut-turut la Grand Bibliotheque, Institut de Paris, Musee d’Orsay, hingga Menara Eiffel. Sementara, di sayap kanan sungai berdiri dengan megah bangunan yang lain dari Bercy, Hotel de Ville, Musee du Louvre, hingga Jardin Trocadero. Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai fasilitas yang ditawarkan dan kemampuan kantong kita. Ada cruise yang menawarkan tour biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, ada dinner tour hingga private tour. Saya memilih tour biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan tiket yang bisa dibeli langsung di dermaga atau online di website. Saya memilih membeli langsung di dermaga.

Tepat menjelang matahari terbenam cruise yang saya naiki memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka sehingga lebih leluasa mengambil foto. Tidak banyak turis yang naik cruise ini sehingga saya bebas memilih tempat duduk. Seorang wanita Asia berambut panjang dan cantik memandu perjalanan itu.  Matahari bersinar keemasan menerpa menara Eiffel sehigga terlihat sangat cantik dari sungai. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.

3.SUNGAI THAMES, INGGRIS

Menyusuri tepian sungai Thames selalu menjadi satu bundel kegiatan berwisata para turis seluruh dunia yang datang ke London, Inggris. Karena selain sangat populer, di sekitar sungai ini bisa dijumpai banyak ikon kota London seperti Big Ben, London Eye, dan Tower Bridge. Saya hanya memiliki waktu sebentar pada siang hari selepas mengunjungi Big Ben untuk menyusuri tepi sungai ini sehingga tidak sempat melamun lama-lama dan menunggu senja datang. Tetapi waktu sebentar itu saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sungai Thames mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut sepanjang 356 kilometer.  Selain sebagai penyedia ikan bagi penduduk kota, sungai ini juga menjadi pensuplai air serta sarana transportasi. Meskipun dinobatkan sebagai sungai terbersih di dunia, tetapi pada masa lalu sungai ini pernah menjadi sungai mati karena limbah sampah dan manusia dengan polusi yang sangat tinggi. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi itu dengan berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem. Semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.

Seperti di beberapa negara Eropa lainnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati sungai Thames mulai dari mengikuti tour cruise dengan berbagai jenis paket yang akan membawa turis ke berbagai ikon wisata seperti London Eye, Tower Bridge, Gedung Parlemen Kerajaan Inggris, Big Ben dan Gereja Katedral St. Paul. Atau bisa juga mampir di salah satu kafe-kafe pinggir sungai dan duduk di sana menikmati lalu lalang orang sambil memesan beberapa makanan kecil. Saya tidak memiliki waktu untuk keduanya sehingga hanya berdiri beberapa menit di pinggiran sungai sambil melihat lalu lalang orang di sekitaran Tower Bridge. Seorang penjual kacang almond tampak ramai dikerubungi turis dan saya ikut bergabung untuk membeli kacang almond dalam berbagai rasa itu. Begitu saya memegang kacang almond, merpati yang beterbangan di situ mendekat. Sayapun menikmati kacang almond bersama beberapa merpati sambil menunggu matahari tidak terlalu panas untuk meninggalkan tempat itu.

4.SUNGAI VLTAVA, PRAHA, REPUBLIK CEKO

Saya tiba di Praha pagi hari setelah nyasar-nyasar mencari apartemen tempat saya menginap yang ternyata jauh dari pusat kota dan ada di ujung blok. Pemilik apartemen itu, Miroslav, seorang cowok gondrong berwajah baik dan penuh senyum datang satu jam setelah saya menunggu dengan kaki kesemutan di depan gedung. Tetapi begitu memasuki apartemen semua rasa lelah itu terobati dengan kegugupan naik lift tua yang cara operasinya masih manual dan ruangan apartemen yang terasa wow sekali. Bagaimana tidak?  Apartemen itu cukup besar dan bagus. Bahkan Miro melengkapinya dengan beberapa bahan makanan gratis di kulkas, peta kota Praha dan konsultasi gratis lokasi-lokasi menarik yang harius saya kunjungi. Saya bebas memasak, mencuci dan melakukan apa saja layaknya di rumah sendiri selama tinggal di Praha. Meskipun lokasinya agak jauh dari tujuan wisata, tetapi berdekatan dengan mall yang disana saya bisa mendapatkan makanan dengan mudah.

Saya lupa menulis kota tua Praha di tulisan saya sebelumnya tentang Old Town padahal Praha adalah kota tua paling eksotis. Memasuki pusat kota Praha saya seperti memasuki  masa lalu. Nyaris semua bangunan tua masih berdiri dengan megahnya menjadi fokus pariwisata. Sebelum duduk di pinggir sungai Vltava, saya memutuskan untuk menjelajahi kota tua Praha dan memulainya dari Charles Bridge. Satu dari puluhan jembatan yang sangat terkenal dan menjadi tujuan utama para turis. Karena masih pagi, Charles Bridge belum ramai sehingga tenang untuk menikmatinya.  Charles Bridge merupakan jembatan bersejarah yang sudah berumur 8 abad dibangun pada masa pemerintahan Raja Charles IV. Jembatan ini membentang di atas sungai Vlatva ini menghubungkan dua kota di Praha yaitu Old Town dan Lesser Town. Sebelum menyeberangi jembatan, saya naik ke menara yang ada di gerbang jembatan untuk melihat kota Praha dari ketinggian. Di menara ini juga ada kisah sejarah masa lalu jembatan Charles.

Sekelompok pemuda memainkan musik di dekat pintu masuk jembatan Charles membuat suasana semakin romantis. Lampu-lampu antik dan patung bergaya Eropa klasik di sisi kiri dan kanan jembatan tampak sangat cantik saat diabadikan dengan kamera dengan latar kota tua. Saya merasakan aura eksotis dan mistis yang bersamaan. Kota ini benar-benar menjerat saya. Apalagi saat turun dari jembatan lalu mampir ke Praha Castle dan masuk ke salah satu library kafe di salah satu bangunan tua. Saya benar-benar terkesima dengan kecantikan kota ini. Endingnya, menjelang sore saya turun ke pinggir sungai Vltava.

Pinggiran sungai Vltava tempat saat menikmati suasana tampak masih natural dan tidak dibangun macam-macam. Ada beberapa bangku tua dan pohon-pohon meranggas di sekelilingnya. Burung-burung beterbangan bebas dan bebek-bebek liar berwarna hijau cantik berenang di sungai. Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko, 430 km, yang mengalir ke tenggara di sepanjang hutan Bohemia dan kemudian ke utara melintasi Bohemia, melalui Cesky Krumlov, Ceske Budejovice dan Praha. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat jembatan Charles yang melintang dengan patung-patung Baroque yang menghiasinya. Sungai Vltava juga menjadi tempat berkumpul penduduk lokal yang melakukan aktivitas seperti berjualan di pasar loak, melakukan olahraga dan masih banyak lagi. Saya ingin menunggu senja di tepi sungai Vltava, tetapi matahari terbenam baru pukul 10 malam, jadi saya memutuskan meninggalkan pinggir sungai Vltava dan kembali ke apartemen. Untuk anda yang menyukai hal-hal klasik seperti saya, Praha jangan dilewatkan.

5.SUNGAI NEVA, SANK PETERSBURG, RUSIA

Saya tiba di Sank Petersburg setelah semalaman naik kereta dari Moscow. Di kota ini banyak tempat yang saya rencanakan untuk dikunjungi salah satunya sungai Neva. Tetapi saya terdampar di tepi sungai Neva karena nyasar mencari makan malam. Setelah mengunjungi salah satu gereja kuno dan salah belok saat di pertigaan, saya malah tiba di lokasi antah berantah. Berharap menemukan mall tetapi malah tiba di pinggir jalan besar bebas hambatan. Setelah mencari penyeberangan yang ternyata jauh sekali, akhirnya saya tiba di tepi sungai Neva. Pada suhu 9 derajat dan malam yang sangat sepi, sungai Neva mengalir tenang. Hanya ada satu orang lokal sedang memancing saat saya tiba. Sungai Neva melintasi Sank Petersburg dan bermuara di Teluk Finlandia. Meskipun panjangnya hanya 74 km, tetapi sungai Neva merupakan salah satu sungai yang memiliki volume air terbesar di Eropa. Sungai Neva menghubungkan Danau Ladoga yang merupakan danau terbesar di Eropa dengan Laut Baltik.

Menikmati malam yang dingin di tepi sungai Neva pada sisi jalan bebas hambatan terasa sangat privat karena hanya berteman seorang pemancing lokal. Di seberang sungai tampak gedung-gedung megah menjulang dengan lampu yang menyala gemerlapan. Saya berpikir mungkin di sana ada mall dengan foodcourt didalamnya sehingga saya bisa makan malam. Tetapi rasanya sayang melewatkan duduk melamun di pinggir Sungai Neva karena saya khawatir besok tidak memiliki waktu lagi. Maka saya memutuskan untuk turun ke pinggir sungai melalui undakan semen yang tertata rapi dan duduk di salah satu bangku semen yang memang disiapkan untuk orang yang bersantai di sana. Beberapa kapal melintas membawa muatan. Sungai Neva memang selama berabad-abad menjadi sarana transportasi yang penting antara Rusia, Swedia, Finlandia dan Baltik hingga pernah terjadi peperangan di tepi sungai ini. Neva juga menjadi cikal bakal lahirnya kota Sank Petersburg.

Seperti di negara Eropa lainnya, banyak kapal wisata yang lalu lalang menyusuri sungai Neva. Semua tempat wisata di Sank Petersburg seperti Benteng  Peter dan Paul, Istana Musim Dingin, Penunggang Kuda Perunggu, Taman Musim Panas, Biara Alexander Nevsky, Katedral Smolny, Istana Marmer dan banyak lagi bisa dijangkau melalui sungai karena lokasinya dekat dengan sungai. Sehingga kapal wisata yang menyusuri sungai bisa berhenti untuk menurunkan turis di tempat wisata yang ingin mereka kunjungi. Tetapi dari semua tempat wisata itu, bagi saya Sungai Neva menjadi daya tarik tersendiri yang menyimpan sejarah masa lalu.  Jam menunjukkan pukul 9 malam saat saya berjalan terus menyusuri sepanjang sisi sungai Neva namun tidak juga menemukan mal. Akhirnya saya memesan taksi online yang kemudian mengantar saya ke Galeria Mal yang ternyata posisinya ada di sebelah apartemen tempat saya menginap. Untung di Galeria Mal saya bertemu mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kemudian memberi masukan agar tidak nyaasar-nyasar lagi. Tetapi kesulitan membaca peta itu ada baiknya karena ketemu hal-hal tak terduga yang menyenangkan saat perjalanan.

6.SUNGAI VOLKHOV, VELIKY NOVGOROD, RUSIA

Setelah naik bus 4 umum jam dari Sank Petersburg, saya sampai di kota Veliky Novgorod. Kota kecil yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Apartemen yang saya sewa berada di dekat Kremlin (Benteng) yang menjadi tujuan wisata sehingga hanya perlu berjalan kaki untuk memasuki Kremlin. Tetapi kota Veliky Novgorod memang kecil dan sebenarnya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki untuk mengunjungi kawasan wisatanya. Menikmati sungai pada senja hari sepertinya tidak mungkin dengan suhu bulan November yang sangat dingin, bahkan saat saya tiba di apartemen pukul 5 sore saja sudah tidak berani keluar karena hujan dan dinginnya luar biasa.

Maka saya mengunjungi Sungai Volkhov pada esok harinya. Itupun saat matahari tepat diatas kepala dan saya masih saja menggigil kedinginan. Setelah memasuki Kremlin dan mengunjungi situs-situs bersejarah di dalam Kremlin, saya menyeberangi jembatan yang berada tepat di atas sungai Volkhov. Banyak orang menikmati siang di pinggiran sungai bersama keluarganya dan memberi makan merpati yang beterbangan di sekitar situ. Di ujung jembatan ada kapal yang digunakan sebagai restoran dan bangku-bangku yang bisa digunakan untuk duduk menikmati ponorama sungai.

Sungai Volkhov memiliki panjang 224 km dan menghubungkan Danau Ilmen dan Danau Ladoga. Kota Veliky Novgorod terletak di sepanjang aliran sungai ini. Meskipun hanya kecil tetapi sungai ini memiliki peran yang sangat strategis sebagai transportasi perdagangan pada abad pertengahan.  Sungai Volkhov merupakan satu-satunya sungai yang menembus jauh ke pedalaman Rusia menuju Baltik. Di sekitar sungai ini masih berupa hutan kecil dengan banyak pohon menjulang.  Andai saja suhu dan cuaca bersahabat, sangat menyenangkan duduk-duduk menikmati senja di tepiannya ditemani burung-burung kecil yang jinak bersarang di pohon-pohon rendah. Tetapi meskipun kedinginan, musim gugur sangat cantik karena daun-daun merah beterbangan di sekeliling sungai. Pada senja harinya saat saya pulang dari pasar dan melewati sungai melalui jembatan diatasnya, saya melihat langit kemerahan dan orang-orang duduk di tepi sungai. Tetapi saya tidak sanggup melakukan itu karena udara semakin dingin. Mungkin saya akan kembali ke pinggir sungai Volkhov pada musim panas yang lain, semoga saja saya bisa kembali untuk menikmatinya.

7.SUNGAI CHEONGGYECHEON, SEOUL, KOREA SELATAN

Tempat favorit saya di Seoul, selain Taman Nasional Gunung Seoraksan, rumah-rumah tradisional di Jeonju, yaitu sungai Cheonggyecheon. Selama di Seoul saya mengunjungi sungai ini setiap sore hingga malam hanya untuk duduk menikmati suasana dan memandangi lalu lalang orang sambil mencelupkan kaki ke airnya yang sejuk. Orang-orang mengenal sungai Han sebagai sungai utama di Korea Selatan tetapi sungai Cheonggyecheon ini menjadi tujuan turis yang datang ke Seoul.  Siang sampai malam selalu ramai. Tetapi bagusnya berkunjung senja sampai malam karena tidak panas dan sering ada festival atau atraksi-atraksi gratis di sekitarnya. Saya sempat menonton festival musik gratis di dekat sungai ini waktu berkunjung ke sana.

Sungai Cheonggyecheon memang bukan sungai sebenarnya. Sungai ini adalah sungai buatan yang mengalir di tengah kota, diantara gedung-gedung tinggi. Melalui proses yang panjang akhirnya sungai ini menjadi primadona wisata Seoul. Tak hanya menjadi ruang publik yang menarik untuk berjalan kaki atau duduk menikmati kota, tetapi aliran sungai ini juga menjadi bukti bahwa suasana desa dengan gemericik air dan tumbuh-tumbuhan bisa dihadirkan di tengah gemerlap metropolitan.  Di sekeliling sungai ini juga banyak restoran dan kafe sehingga kita bisa duduk menikmati makanan sambil memandang aliran sungai. Jika malam hari dan kita turun ke bawah, kita bisa menyeberangi sungai melalui batu-batu yang sudah ditata sedemikian rupa. Di ujung sungai tampak patung dengan air mancur dan cekungan besar yang digunakan para turis dan orang lokal untuk melempar koin. Sepertinya itu koin keberuntungan. Saya menyusuri sepanjang sisi sungai dan menemukan beberapa penjual makanan dan pelukis foto.  Di tempat yang lumayan sepi saya duduk dan mencelupkan kaki ke air yang sejuk. Seketika kaki yang pegal karena menjelajah seharian hilang. Apalagi sambil menikmati es krim. Sungai Cheonggyecheon selalu akan menjadi tempat favorit saya ketika kembali ke Seoul.

8. SUNGAI CHAO PHRAYA, BANGKOK, THAILAND

Mengunjungi Bangkok tanpa menyusuri sungai Chao Phraya itu rasanya pasti ada yang kurang karena sungai Chao Phraya mengalir di hampir seluruh kota Thailand. Sungai dengan panjang 372 km ini mengalir dari Bangkok dan bermuara di Teluk Thailand.  Hari terakhir di Bangkok sambil menunggu penerbangan malam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar dan sampailah di tepi sungai Chao Phraya. Jadi tidak ada rencana untuk duduk-duduk manis melamun di tepi sungai seperti di kota lain karena waktu perjalanan saya kali itu sangat sempit.  Tapi karena di depan saya ada dermaga maka saya belok saja dan memesan tiket untuk naik boat keliling sungai. Pemandangan tetap cantik meskipun siang bolong dan panas, saya membayangkan pada waktu senja pasti lebih cantik lagi.

Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan 4 sungai kecil yaitu sungai Ping, Wang, Nan dan Yom. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi yang sangat penting, sungai ini juga berfungsi untuk irigasi dan pasar terapung. Dari sungai ini kita juga bisa melihat ikon wisata Bangkok seperti Wat Arun, Grand Palace, kawasan belanja Asiatique dan hotel-hotel mewah yang berjajar di tepi sungai. Karena memilih tiket paling murah maka saya hanya sekali jalan dan turun pada dermaga berikutnya. Saya benar-benar tidak puas dengan perjalanan ini dan berharap bisa mengulangnya. Karena menurut saya menyurusi Bangkok melalui sungai Chao Phraya adalah cara terbaik untuk mengenali kota ini. Apalagi saya belum mendapatkan sunsetnya. Saya akan kembali suatu saat nanti jika ada kesempatan.

9. SUNGAI MEKONG, PHNOM PENH, KAMBOJA

Terletak di tepi sungai Mekong Phnom Penh memiliki banyak tempat menarik untuk di ekplore salah satunya sungai Mekong itu sendiri yang tepiannya menjadi tempat publik berjalan kaki, duduk menikmati senja dan pedagang asongan berjualan. Sungai ini tepat berada di tengah kota, dekat dengan taman di depan Royal Palace dan deretan restoran serta hotel di sepanjang sisi yang lainnya. Saya menikmati sungai Mekong Phnom Penh pada senja hari tepat sebelum matahari terbenam.  Sedang asyik melamun membayangkan naik kapal menyusuri sungai terpanjang di Asia ini, seorang penjual cemilan Kamboja sebangsa jangkrik, kalajengking, kecoa dan belalang lewat di dekat saya menawarkan dagangannya. Pada masa kecil ketika saya tinggal di desa, tetangga juga banyak makan belalang dan jangkrik tetapi bukan kecoa dan kalajengking. Saya tidak membeli tetapi jika ingin memotret saya harus membeli dulu. Akhirnya saya beringsut ke sisi yang lain berpapasan dengan para biksu yang sedang lewat dan berhenti di dekat penjual balon yang dikerubungi anak-anak.

Dengan panjang 4200 km, sumber aliran sungai Mekong dari dataran tinggi Tibet Cina yang kemudian melintasi Kamboja bagian utara hingga selatan dan melewati Phnom Penh. Sebenarnya selain duduk melihat sungai yang mengalir tenang itu ada cara lain untuk menikmati sungai Mekong yaitu dengan menyewa kapal dan menyusuri sepanjang sungai. Dengan kapal ini wisatawan juga bisa mampir ke ikon-ikon wisata di Phnom Penh. Tetapi selain mahal, saya lebih suka menikmati sungai ini dengan bergabung bersama orang-orang lokal dan pedagang asongan yang sibuk menawarkan dagangannya. Sementara untuk mengunjungi ikon-ikon wisata itu saya menggunakan tuk-tuk. Hampir jam 7 malam ketika saya meninggalkan pinggir sungai Mekong dan berjalan menuju hostel bersama beberapa biksu yang juga berjalan dengan arah yang sama. Setiap kota selalu menarik untuk di ekplore dengan semua kekayaan khasnya, saya menyukai keramaian orang-orang lokal yang menunggu matahari terbenang di pinggir sungai Mekong Phnom Penh.

 10. SUNGAI KAMOGAWA, KYOTO, JEPANG

 Kyoto menyuguhkan wisata klasik yang diburu para pemuja eksotisme seperti saya. Selain bangunan-bangunan tua peninggalan bersejarah dari zaman Edo di Gion district, kuil Kiyomizudera,  Fushimi Inari Taisha, hutan bambu Arashiyama, kuil Nijo, pasar Nishiki juga ada satu sungai yang menarik untuk disusuri tepiannya yaitu sungai Kamogawa.  Setelah menyusuri Gion dan mencari makanan di Pasar Nishiki, saya berjalan terus menyusuri trotoar yang disampingnya banyak restoran dan toko-toko hingga kemudian saya menemukan sungai Kamogawa. Sungai Kamogawa adalah sungai utama yang membelah Kyoto menjadi dua bagian yaitu barat dan timur. Untuk menikmati sungai ini kita bisa berjalan kaki atau bersepeda menyusuri sepanjang sisinya. Saat senja banyak turis dan orang-orang lokal mengenakan pakaian tradisional Jepang Kimono berjalan menyusuri tepian sungai ini sementara sebagaian yang lain duduk di pinggir sungai menikmati senja. Di sepanjang sungai ini juga nampak berjejer rumah-rumah penduduk dengan nuansa khas Kyoto. Karena lokasinya yang masih banyak pohon dan seperti hutan kecil, saat menyusuri sungai Kamogawa, kadang kita akan berjumpa hewan-hewan yang belum pernah kita jumpai sebelumnya.

Sumber air sungai Kamogawa berasal dari gunung Sajikigatake yang berada di sisi utara Kyoto dan mengalir hingga ke Teluk Osaka. Karena berasal dari pegunungan air sungai ini jernih dan lingkungan sekitarnya juga masih natural. Kita bisa menikmati sungai Kamogawa tanpa halangan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Bahkan duduk di dekat sungai ini seperti berada di kawasan pegunungan yang sejuk dan asri. Kata seorang teman, pada malam hari sungai ini juga ramai dikunjungi penduduk lokal dan turis. Mereka duduk di sepanjang sungai untuk menikmati malam sambil memandang lampu-lampu dari jembatan yang memantul gemerlapan ke permukaan air.  Sungai yang masih alami ini sangat menarik untuk disusuri saat anda berkunjung ke Kyoto. (*)

SOLO TRAVELING MENUJU SUNYI

Pertengahan Maret ini seharusnya saya backpacking ke China tepatnya kota Changsa, Zhangjiajie. Sudah lama saya ingin menjelajah Zhangjiajie, tempat di mana hutan Avatar berada. Hutan yang menjadi lokasi syuting film Avatar (atau setidaknya jika syutingnya tidak di sana) hutan itu menjadi inspirasi setting film animasi keren itu. Saya sudah membayangkan betapa serunya menaklukkan ketakutan saya sendiri menjelajah ketinggian. Karena saya phobia ketinggian dan semua tempat yang akan saya kunjungi berada di ketinggian. Mulai dari Avatar mountain, glass bridge, lorong yang menembus gunung, hingga naik cable car yang jaraknya sangat Panjang.  Saat survey lokasi saja aslinya saya sudah mumet membayangkannya. Tetapi kapan lagi saya bisa menghadapi ketakutan say ajika tidak sekarang? Maka rencana perjalanan matang sudah saya siapkan. Mulai dari memesan hotel, bus, kereta hingga guide. Kali ini saya ingin memakai guide karena tidak sanggup nyasar-nyasar di hutan sendirian.

Lalu berita itu datang bulan Januari. Wabah corona di Wuhan. Saya sempat diskusi dengan teman dekat saya orang Belanda tentang perjalanan saya ini.  Teman dekat saya bilang sebaiknya saya mempertimbangkan beberapa hal. Pertama kesehatan saya yang akhir-akhir ini tidak stabil. Kedua lokasi wabah mungkin jauh dari tempat yang saya tuju. Dan ketiga melakukan pencegahan jika memang berangkat, mulai dari bersiap obat, menjaga kebersihan dan lain-lainnya. Saat ini saya masih percaya bisa berangkat karena Changsa berada lumayan jauh dari Wuhan, sementara Zhangjiajie lebih jauh lagi.  Maka saya bersiap-siap apa saja yang akan saya butuhkan selama backpacking. Hingga akhir Januari ternyata wabah di Wuhan meledak kemudian bandara melakukan screening ketat bahkan menutup perjalanan dari dan ke China. Sayapun memutuskan untuk membatalkan perjalanan ini. Menyusul kemudian pihak penerbangan mengembalikan uang tiket dan menutup semua penerbangan ke sana hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Perjalanan inipun kemudian batal.

Dalam waktu yang cepat virus corona menyebar ke seluruh dunia, sehingga akses ke banyak negara ditutup dan para traveler memutuskan pulang ke rumah (saya membaca dari group-group perjalanan betapa chaosnya kondisi mereka yang pesawatnya dicancel, terjebak di karantina atau negara yang dikunjunginya mendadak lockdown). Kebanyakan traveler yang masih memungkinkan pulang ke rumah kemudian memutuskan pulang. Berdiam di rumah karena itu akan menjadi bentuk solidaritas kita untuk tidak menjadi perantara virus itu menyebar ke orang lain. Bahkan kemudian, sebagai pejalan kita akan menemukan dunia yang berbeda pada masa virus ini menyebar. Kita yang biasanya kemana-mana melihat dunia baru, bertemu dengan orang-orang baru, berkumpul di tempat-tempat tertentu untuk berbagi pengalaman perjalanan, kemudian harus pulang ke kesunyian. Tidak bisa bepergian, harus menjaga jarak dengan orang lain bahkan kemungkinan hanya bisa memandangi foto-foto perjalanan kita melalui laptop sambil duduk di pembaringan kamar kita.

“Kalau badai virus ini berlalu, gue mau traveling lagi!” kata seorang pejalan di salah satu komentar media social dengan nada prustasi. Bagi sebagian pejalan, lockdown dan karantina mandiri di seluruh dunia memang menciptakan kegelisahan tersendiri. Bosan dan emosi. Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa semua perjalanan yang kita lakukan keliling dunia manapun pada akhirnya nanti kita akan kembali ke sunyi? Kita tidak akan pernah tahu, apakah bisa lolos dari badai ini lalu melakukan traveling lagi, tetapi yang pasti kita tahu, saat ini kita sedang melakukan perjalanan pulang ke kesunyian itu. Mungkin kita akan berhenti sejenak sebelum sampai, mampir-mampir dulu di Eropa, Afrika atau benua lainnya, tetapi toh kita akan melanjutkan perjalanan kita ke tempat sunyi itu. Sendirian. Ya, sendirian. Tanpa siapapun. Solo traveling.

Jika badai virus ini berlalu dan saya selamat, saya justru belum tahu apa yang hendak saya lakukan. Karena kejadian demi kejadian akhir-akhir ini begitu menampar saya. Kadang kita membenci orang-orang yang hidup soliter dan kita bangga berada dalam kerumunan-kerumunan tertentu, tetapi Allah justru saat ini menginginkan kita berada dalam sunyi, sendirian dan merenungi apa yang telah kita lakukan pada semesta juga orang-orang di sekeliling kita. Allah seperti ingin kita kembali sendiri. Hanya bersama-Nya merenungi untuk apa sebenarnya kehidupan yang diberikan pada kita ini.

Pada kenyataannya semua manusia memang sendirian. Solo traveling. Jika ada manusia-manusia yang ditakdirkan bersama kita, itu hanya karena garis perjalanan mereka dekat dengan jalan yang kita lalui. Pada akhirnya kita akan berbelok ke arah lain, ke jalan kita sendiri lalu pulang ke sunyi. Hanya bersama Allah. Mau kemana setelah badai ini lewat? Kita semua tujuannya satu, solo traveling ke tempat yang sunyi. Menghadap Allah cepat atau lambat.

 

JUM’ATAN DI MASJID KATEDRAL MOSKOW

Bisa melewati hari Jum’at di satu kota asing itu bagi saya luar biasa. Artinya saya punya kesempatan untuk mengunjungi masjid di kota itu jika memungkinan ada masjidnya. Masuk ke masjid dimana Islam menjadi minoritas dan bertemu saudara-saudara seiman di tanah asing selalu menjadi hal yang saya tunggu-tunggu. Maka waktu sampai Moskow Kamis malam, esoknya saya langsung merencanakan ke masjid yang ada di tengah kota Moskow. Namanya Masjid Katedral Moskow.

Kok namanya agak aneh ya? Masjid Katedral Moskow.  Biasanya nama Katedral berhubungan dengan gereja tapi menurut informasi, orang Moskow terbiasa menyebut gereja besar dengan nama Katedral, maka masjid besar di Moskow inipun disebutnya Katedral. Selain itu, masjid ini juga disebut Masjid Sabornaya atau Masjid Agung karena memang berfungsi sebagai masjid terbesar di kota itu.  Masjid ini terletak di Prospect Mira Street, tepat di sebelah bangunan Olympic Indoor Stadium. Jadi jika naik metro bisa turun di stasiun Prospect Mira kemudian jalan kaki ke arah Prospect Mira street. Karena kebetulan saya ke sana hari Jum’at maka tinggal mengikuti Ja’maah yang berjalan berduyun-duyun menuju masjid.

Awalnya saya kira masjid ini akan sepi, tetapi ternyata sangat ramai. Jama’ahnya sangat banyak dan memang masjid ini melayani lebih dari 2 juta umat Islam di Moskow. Saudara-saudara muslim disini saya lihat dari berbagai negara pecahan Rusia seperti Tajikistan, Kyrgystan, Turkmenistan, dan juga muslim Moskow. Masjid Katedral Moskow dibangun pada tahun 1903 dan menjadi salah satu masjid tertua dari empat masjid yang masih berdiri di kota Moskow setelah Moscow Historical Mosque yang dibangun pada 1928. Saya mengikuti aliran jamaa’ah hingga sampai pada pagar pemeriksaan satpam dan diijinkan masuk ke halaman masjid.

Tempat wudhu wanita ternyata ada di bagian bawah. Jadi setelah masuk halaman kemudian belok ke kanan, kita akan menemukan tangga ke arah bawah. Di sana ada tempat wudhu wanita yang kemudian juga terhubung dengan lorong menuju lift khusus wanita. Ruang sholatnya ada di lantai atas. Di dekat ruang sholat disediakan mukena dan tempat menyimpan sepatu serta tas. Tetapi saya membawa tas saya ke ruang sholat kuatir kenapa-napa jika saya letakkan disana. Sampai di ruang sholat ternyata penuh. Banyak sekali Jama’ah wanita yang ikut sholat Jumat. Melihat dari wajahnya sepertinya mereka kebanyakan dari negara-negara pecahan Rusia. Saya sebenarnya ingin komunikasi dengan mereka, sayangnya mereka tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa Bahasa Rusia, jadilah hanya tersenyum-senyum saja.  Khutbah Jum’at juga menggunakan Bahasa Rusia tetapi suasanya sangat menyejukkan meski saya tidak memahami bahasanya.

Setelah selesai sholat Jum’at, diluar ada penjual teh hangat dan makanan kecil. Sebenarnya saya ingin mencoba makanan kecil yang pembelinya antri sampai panjang itu, tetapi setelah sadar yang membeli teh hangat semuanya laki-laki, saya kemudian mundur dan meninggalkan tempat itu. Di depan masjid sembari mengambil foto, seorang pria tua menghampiri saya dan mengajak ngobrol dengan Bahasa Rusia. Setelah saya bilang minta maaf tidak bisa Bahasa Rusia, pria itu kemudian ngajak ngobrol terbata-bata dengan Bahasa Inggris. Wajahnya ramah, sejuk dan rambutnya telah memutih. Tapi saya tahu, pria ini sedang menceramahi saya tentang sesuatu. Saya hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum lalu pamitan dan salam.

Di bagian kiri masjid, ada kantin memanjang yang menjual banyak makanan. Saya sangat ingin masuk ke sana untuk membeli teh hangat karena suhu 10 derajat itu membuat saya membeku. Tetapi lagi-lagi isinya hampir kebanyakan laki-laki dan mereka berdesakan di kantin memanjang itu. Akhirnya saya mengurungkan niat ke sana dan memutuskan kembali ke stasiun. Sempat nyasar saat balik ke stasiun tetapi malah menemukan beberapa hal menarik di sekitaran masjid, seperti bazar Jum’at yang menjual berbagai macam barang seperti pasmina, buku dan makanan. Jum’atan di masjid Agung Moskow ini sangat berkesan bagi saya terutama bertemu dengan saudara-saudara muslim dari tempat yang jauh. Kita bersaudara dalam Islam, mari saling memegang tangan dan menguatkan.

TIPS BERKELANA DENGAN ORANG “GENGGES”

“Sekali bertemu orang gengges, maka perjalananmu akan menyiksa lahir batin.” Begitulah motto hidup para pejalan yang menderita parah akibat ke”genggesan” seseorang di perjalanan.  Apa sih orang gengges itu? Kalo menurut internet gengges itu artinya merepotkan, ribet dan menyebalkan. Satu kata terakhir saya tambahin sendiri. Kalau kita terbiasa traveling dengan santai, simple alias nggak mau ribet sama bawaan dan dandanan maka perjalananmu akan jadi neraka saat mendadak seseorang dengan karakter seperti itu muncul memasuki areal hidupmu.

Dia bawaannya berkontainer-kontainer, sementara kamu hanya bawa ransel 24 liter. Dia dandannya bisa 3 jam sebelum explore sebuah kota sementara kamu bedakan aja jarang. Dia hobbynya ke mall dan belanja sementara target jalanmu ke tempat-tempat baru di kota tersebut. Dia gampang marah jika keinginannya tidak terpenuhi sementara kamu sudah banyak toleransi ke dia. Dia ngelead sesuai maunya sementara kamu juga bayar mahal untuk perjalanan ini. Dia susah kompromi untuk banyak hal, sementara tinggal di apartemen yang sama. Dan yang paling bahaya, dia bisa memanipulasi dengan menjadikan dirinya korban atas banyak hal yang terjadi dalam perjalanan padahal semua temannya justru meladeni banyak kemauannya.

Okay! Well! Tapi hal-hal seperti itu bisa saja kan terjadi dalam perjalanan? Bisa banget, karena kita tidak bisa menebak siapa yang akan muncul dalam hidup kita, tiba-tiba saja seorang teman membawa temannya yang super gengges tanpa aba-aba dan mendadak aja kita shock! Atau…. bisa jadi kita sendiri gengges di mata teman-teman kita tanpa kita sadari. Maka kejadian-kejadian menyebalkan itu sebenarnya bisa membuat kita intropeksi sejauh mana kita juga menyebalkan di mata teman-teman kita.

Ada beberapa antisipasi yang bisa kamu lakukan sebelum moodmu jadi bener-bener buruk lalu kamu ngamuk-ngamuk dan perjalanan kamu jadi nggak bahagia. Sudah keluar uang banyak tapi nggak bahagia? Oh NO! BIG NO!

  1. Kalau model gengges datang dalam perjalananmu, kamu harus siap-siap. Jangan sampai bergantung soal kunci penginapan dan internet sama dia. Karena kamu harus mempersiapkan diri untuk misah jalan dengan dia sebelum bomnya meledak. Tapi lihat dulu segengges apa dia, kalau kamu masih bisa tolerat ya oke-oke saja.
  2. Kamu harus tegas, jangan ikutan menye-menye tapi akhirnya kamu sendiri yang rugi. Beberapa orang gengges justru manfaatin ketidaktegaan kita dan kebaikan kita. So, do it! Say no if you dont like it! Kamu nggak usah kasihan kalau misalnya dia nggak berani sendirian tapi justru tetep ngerepotin kamu. Tega-tega deh!
  3. Kamu tetap harus fokus pada tujuanmu. Terlebih kalau tujuan dia mulai sangat mendominasi sehingga kamu nggak kebagian tujuanmu sendiri. Kamu harus berani ngomong dan memisahkan diri darinya.
  4. Lain kali cek dulu teman yang akan bergabung dalam perjalanan kamu. Jika dia terlihat benih-benih gengges mending sebelum berangkat bikin perjanjian pra perjalanan. Ini penting kalo perlu tertulis biar nggak bikin masalah di kemudian hari.

Sebenarnya perjalanan itu juga berlaku seleksi alam. Jika kita tidak menyenangkan nggak akan ada orang yang mau jalan sama kita. Tapi kalo kita oke, maka banyak teman yang akan jalan sama kita. Itu aja sih ukurannya! Oh wait! Kadang-kadang hal buruk yang datang dalam hidup kita itu juga berkah khususnya buat penulis seperti saya. Karena sejak bertemu beberapa orang gengges saya jadi dapat ide cerita untuk menulis hal-hal yang sebelumnya diluar jangkauan otak saya. Nah! Selamat berjuang jika kalian bertemu teman gengges dalam perjalanan!

 

BERTEMU “BULAT OKUDZHAVA” DI ARBAT STREET MOSKOW

Saya hanya memiliki waktu 3 jam untuk mengunjungi Arbat Street sebelum meninggalkan kota Moscow. Sementara perjalanan dari stasiun Leningradsky tempat saya nge-locker koper ke Arbaskaya pasti membutuhkan waktu lama karena nyari-nyari jalan dulu sekaligus nyasar-nyasarnya. Belum lagi metro sore yang padat oleh orang-orang Moscow pulang kerja. Tapi apapun yang terjadi saya harus ke Arbat Street!

 

Arbat Street itu kalau di Indonesia semacam Malioboro di Yogyakarta. Pendestrian yang sisi kiri dan kanannya berjajar orang-orang berjualan souvenir, kafe-kafe dan gedung-gedung tua bersejarah.  Arbat street sebenarnya sudah ada sejak abad ke 15 namun sempat rusak karena kebakaran. Baru kemudian dibangun lagi pada abad ke 19.  Harga souvenir di sini memang lebih mahal ketimbang di Izmailovo market tetapi memang lebih bagus. Bahkan boneka Matryoshka yang dijual disini lebih detail dan lebih halus. Karena saya sudah membeli boneka Matryoshka di Izmaolovo market maka di sini saya ingin mencari barang yang lain.

Menurut informasi, jika pergi ke Rusia barang yang seharusnya dibeli adalah benda-benda seni seperti lukisan dan vodka. Karena saya tidak minum vodka maka saya membeli salah satu lukisan berukuran kecil seharga sekitar Rp.300 ribu kalau dirupiahkan. Harusnya harganya lebih mahal tetapi karena saya merengek pada penjualnya agar kasih diskon pada saya yang datang jauh-jauh dari Indonesia, penjual handsome yang juga pelukisnya itu akhirnya mengijinkan saya membeli dengan harga diskon.  Lukisan bergambar dua wanita Rusia sedang di depan rumahnya bersalju itu akhirnya saya masukkan ke dalam tas.

 

Ada dua jalan di Arbat street yaitu old Arbat dan new Arbat. Old Arbat lebih klasik dengan bangunan-bangunan tua dan barang-barang yang dijual juga souvenir-souvenir khas Rusia dan benda-benda seni, sementara di New Arbat lebih seperti mall yang menjual barang-barang branded. Di pertengahan jalan old Arbat, saya menemukan patung yang saat saya mengambil fotonya malah dia seperti hidup dan memandang saya. Saya ketakutan karena sebelumnya banyak kejadian horor di apartemen tempat kami menginap. Tetapi ternyata patung yang disampingnya berdiri lelaki sedang menunjukkan foto untuk mencari anaknya yang hilang itu adalah patung Bulat Okudzhava.

Siapa Bulat Okudzhava? Ia salah satu penyair, penulis, musisi, novelis dan penyanyi Rusia pada tahun 1960-an. Lagu yang diciptakan Bulat Okudzhava merupakan lagi terkeren sepanjang masa yang dicintai orang-orang Rusia. Salah satunya lagu “Kami Butuh Satu Kemenangan” tahun 1970 untuk film perang ikonik, Belorussian Station.  Patung Bulat Okudzhava yang ada di Arbat Street seolah sedang berjalan dengan gulungan koran terselip di sakunya ini dibuat oleh Georgy Frangulyan. Patung ini menurutku sangat menarik karena matanya seperti hidup saat menatap orang yang ada di depannya. Saya belum pernah membaca syair atau mendengar lagu dari Bulat Okudzhava tetapi entah kenapa patung di depan saya itu berasa seperti dekat dan ingin mengajak ngobrol saya. Jika teman saya tidak menarik lengan saya, mungkin saya akan berdiri lama di sana berpandangan dengan Bulat Okudzhava.  Saya ingin menjelajah Arbat street hingga ke ujung, tetapi penerbangan saya sudah mepet. Sebelum sampai ujung saya berbalik arah ke stasiun Arbaskaya meninggalkan Bulat Okudzhava. Selamat tinggal Bulat! Aku akan kembali lagi nanti!

VELIKY NOVGOROD (2) : JEJAK RURIK DI PINGGIR SUNGAI VOLKHOV

“We have fond memories of the old location”

Saya terbangun linglung melihat teman perjalanan saya berdiri di hadapan saya dengan ketakutan. “Ada apa Ri? Ada apa?” Saya terengah-engah dan mengambil minuman di meja lalu menghela napas dalam. Saya menoleh ke arah gudang kecil di samping saya dan tidak ada siapapun di sana. Gadis kecil berkuncir telah lenyap dari pandangan. Saya kembali membaringkan tubuh sambil meminta teman saya kembali ke kamarnya, “besok aja aku ceritain, sekarang tidur lagi aja.”

Saya terbangun jam 5 pagi untuk sholat subuh kemudian tidur lagi sampai jam 8 pagi. Di luar udara sangat dingin dan gerimis turun membuat malas beranjak dari selimut. Gadis berkuncir mungkin juga bergelung dalam selimutnya sehingga enggan menemui saya lagi. Baru sekitar jam 11 siang saat hujan mulai reda, saya bersiap untuk menjelajahi kota tua kecil kelahiran Rusia ini. Dengan berbekal payung, peta dan jaket tebal saya keluar apartemen. Begitu keluar pintu apartemen, saya bertemu nenek-nenek yang sibuk bercengkerama dengan kucingnya. Kebanyakan nenek-nenek ini hanya tinggal sendirian di apartemen bersama kucingnya di berbagai lantai tanpa lift.  Saya menaiki lantai 4 melalui tangga dengan langkah terseok sementara nenek-nenek ini dengan santai naik turun tangga diikuti para kucingnya. Di Rusia jumlah wanita lebih banyak daripada pria, mungkin karena itu juga saya lebih banyak menemukan wanita lansia daripada pria lansia.  Saya berjalan menyusuri jalan di samping apartemen dan menemukan banyak tempat makan, supermarket, cafe, penjual buah-buahan, bunga, sayuran bahkan makanan halal. Hanya perlu melewati satu blok, saya sudah sampai di jalan besar yang diseberangnya terdapat Kremlin (sebuah bangunan yang berbentuk benteng dan memiliki gerbang). Kremlin di Veliky Novgorod bisa jadi merupakan Kremlin tertua di Rusia.

Setelah melewati jalan setapak hutan kecil yang rimbun, tampak menara Kremlin menyembul dari kejauhan. Saya jadi teringat benteng kota Xi’an Tiongkok yang cantik. Kremlin di Veliky Novgorod juga secantik benteng di kota Xi’an Tiongkok.  Angin berhembus kencang bersamaan dengan udara dingin yang menusuk tulang. Saya merapatkan jaket dan memandangi Kremlin dari tempat saya berdiri. Saya membayangkan bangsa Viking yang datang ke Veliky Novgorod pada masa lalu melalui jalur laut untuk berdagang dan membajak di lautan. Pada abad ke IX, sungai-sungai Novgorod merupakan bagian dari rute perdagangan bangsa Viking ke Yunani. Dari perdagangan inilah kemudian bangsa Viking yang terkenal terampil dalam berperang menjadi prajurit di bawah penguasa Slavia, kemudian menetap di Novgorod dan menjadi penduduk Rus.  Salah satu bangsa Viking yang bernama Rurik menurut sejarah datang di kota ini karena diminta untuk melindungi kota dari serangan perampok namun kemudian Rurik berkuasa di kota ini.  Saya akan menyusuri jejak-jejak Rurik yang masih tertinggal di kota ini.

Angin dingin dan kencang menghamburkan jilbabku bersamaan dengan daun-daun merah musim gugur yang berjatuhan dari pepohonan. Saya terus melangkah menyusuri sepanjang sisi Kremlin yang panjang untuk mencapai gerbang utama.  Di depan gerbang Kremlin tampak seorang wanita tua sedang memainkan akordion. Mengenakan baju tebal berwarna merah, kerudung kuning dan sepatu boots hitam, wanita tua itu tersenyum padaku. Duduk di strollernya yang berwarna biru, wanita tua itu tampak menikmati permainan musiknya sendiri. Saya suka melihat caranya tersenyum yang ramah dan bersahabat tidak seperti orang Rusia kebanyakan yang kaku. Setelah menaruh uang di kotak yang ada di depannya, saya segera memasuki gerbang Kremlin.

Veliky Novgorod terletak di pinggir Sungai Volkhov. Sungai ini membagi kota menjadi dua bagian yaitu Sofiyskaya dan Torgovaya. Terkenal dengan warisan budayanya, Veliky Novgorod merupakan satu-satunya tanah Rusia kuno yang tidak hancur selama abad ke 9 hingga ke 13. Banyak sekali peninggalan bersejarah yang masih terjaga dengan baik di kota ini, bahkan ada 37 benda yang masuk dalam daftar Warisan Dunia Unesco.  Saya melewati gerbang Kremlin tanpa dipungut biaya wisata apapun, kemudian memasuki areal dalam Kremlin dan mata saya disergap pemandangan taman dengan eksotisme musim gugur.  Terdapat Monumen Millennium of Rusia di sisi kanan dari arah masuk gerbang Kremlin, lalu Katedral St. Sophia, St. Sophia Bell Tower, The History Museum dan Kokuy Tower. Saya kemudian keluar gerbang Kremlin dan menyeberangi jembatan bersama orang-orang lokal yang lalu lalang. Dari jembatan penyeberangan (pendestrian bridge) ini, saya bisa memandang Kremlin yang megah dan eksotis dengan Kokuy Tower yang menjulang.

 

Setelah sampai di seberang, saya bertemu dengan patung gadis yang sedang duduk santai di pinggir sungai seolah sedang melepas penat setelah berjalan mengelilingi kota Veliky yang cantik. Sepatunya dilepas di sebelahnya, bibirnya tersenyum simpul, matanya menatap langit yang biru cerah. Patung ini lebih dikenal dengan The Girl Tourist yang menjadi spot menarik untuk berfoto para turis karena di belakang sang gadis tampak pemandangan sungai Volkhov yang mengalir tenang dan bersih serta kapal cantik yang sedang bersandar. Gadis ini tampak modern dan pastilah tidak pernah bertemu Pangeran Rurik.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Court Of Yaroslav.  Taman dengan gereja-gereja kecil seperti Cathedral of St. Nicholas dan Gereja St. George.  Saya duduk beberapa saat di taman karena banyak burung-burung kecil yang berumah di tanaman sekitar taman. Burung-burung ini tidak terbang menjauh dan jinak dengan manusia seolah saat saya duduk di salah satu bangku taman mereka mengajak ngobrol.  Tak hanya burung-burung kecil, tampak beberapa lansia juga duduk di taman sambil bercengkeram dan memberi makanan pada burung-burung ini.

Setelah menikmati suasana lengang bersama burung-burung dan lansia, saya melanjutkan perjalanan ke arah jalan raya kemudian menyeberang untuk melihat toko souvenir di sana. Kota ini sangat sepi dan nyaris seperti tanpa aktivitas. Tetapi saat kita memasuki toko atau restoran, terasa kehangatan para penguhuninya. Seorang pemuda dengan bahasa Inggris terbata meminta maaf saat saya menunggu antrian di belakangnya untuk menukar uang di salah satu money changer. Dia bilang keluarganya yang sedang antri sedang menjual rumah dan memerlukan uang untuk menukar tapi perlu konsultasi agak lama. Saya sebenarnya tidak masalah, tetapi dia yang tidak enak sendiri karena saya lama menunggu. Bahkan saat saya hendak membeli salah satu souvenir dengan bahasa Rusia, dia menerjemahkan bahasa dalam souvenir itu. Kota ini memang lengang dan terlihat dingin, tetapi manusianya hangat dan ramah.

 

 

Penjelajahan hari itu saya akhiri dengan mengunjungi perbukitan yang merupakan jejak-jejak kediaman Pangeran pertama Rusia, Rurik. Terletak di perbukitan, bangunan tua itu menjadi saksi bisu bahwa pada abad 9 hingga 10 dinasti Rurik menjadi cikal bakalnya Rusia. Di sisa-sisa kediaman asli Rurik yang masih dilestarikan inilah saya dapat merasakan negeri terluas di dunia ini bermula. Negeri besar yang melewati banyak perubahan zaman mulai dari invasi Mongol Tartar hingga revolusi. Namun dari semua perubahan zaman itu, Veliky Novgorod satu-satunya kota yang terselamatkan dari kehancuran.  Sebelum malam, saya meninggalkan sisa-sisa kediaman Rurik sambil berharap bisa kembali ke kota ini dan melihat lebih dalam lagi tentang kehidupan penghuninya. Semoga.

VELIKY NOVGOROD (1) : THE BIRTHPLACE OF RUSSIA & HANTU GADIS KECIL

“Old things always seems better”

Hampir pukul 4 sore saat bus yang saya tumpangi dari Saint Petersburg tiba di terminal bus Veliky Novgorod. Sopir yang wajahnya khas Rusia menunggu saya menurunkan koper dari bagasi bus tanpa tersenyum sedikitpun.

“Spasiba!” kataku sambil mengangguk sopan pada sopir lalu mendorong koper ke pinggir. Selama di Rusia, kata yang paling saya kuasai hanyalah “spasiba” alias terima kasih karena bahasa Rusia kedengeran begitu ruwet di telingaku meski jadi menantang untuk dikuasai lebih banyak. Bus itu melanjutkan perjalanan lagi sementara saya celingukan mencari jalan keluar terminal. Lalu saya menyeret koper saya ke arah pintu terminal. Tidak banyak orang di terminal, hanya ada beberapa pemuda memanggul tas mirip tas belanja tanah abang kalau di Jakarta dan beberapa keluarga yang baru datang dari perjalanan. Saya terus menyeret koper saya menuju depan terminal lalu berhenti di samping kios kecil yang menjual kopi dan makanan. Saya melihat berkeliling untuk mengenal wajah kota yang baru saja masuki.

Veliky Novgorod awalnya bukan tujuan perjalanan saya. Tetapi karena saya tidak mendapatkan kereta ke Kazan maka saya memutuskan untuk singgah di kota ini beberapa hari. Sepertinya akan menarik karena menurut sejarahnya kota ini adalah kota tertua di Rusia yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di kota ini ada sisa-sisa kediaman asli Rurik, pangeran pertama Rusia. Saya selalu tertarik dengan hal-hal yang terhubung dengan masa lalu karena banyak yang bisa dipelajari dari kisah-kisah masa lalu. Tidak hanya pembelajaran itu yang saya kejar namun juga penampakannya yang eksotis. Benar saja, kota ini memang tua, tenang dan eksotis.

Bus-bus tua berseliweran di jalanan yang bertabur daun-daun kekuningan musim gugur, para Babushka (nenek) berjalan di trotoar bersama binatang piaraannya dan ibu-ibu muda berjalan cepat sepulang aktivitas mengenakan jaket merah, kuning atau hijau. Orang-orang di kota ini memakai pakaian yang lebih berwarna ketimbang warna pakaian orang-orang di Moscow atau Saint Petersburg. Tetapi memang saya lihat lebih banyak lansia yang tinggal di kota ini ketimbang anak muda. Mungkin anak mudanya bekerja di kota lain seperti Moscow atau Veliky Novgorod.

Sebenarnya saya ingin naik bus menuju apartemen yang telah saya sewa, tetapi dengan bawaan koper yang berat saya memutuskan menggunakan taksi online Yandex. Tidak sampai lima menit taksi Yandex sudah menjemput saya di depan terminal lalu mengantarkan saya menuju apartemen. Hanya membutukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai apartemen. Saya tiba agak terlambat sehingga pemilik apartemen sudah menunggu lama di depan gedung apartemen. Pemiliknya seorang wanita muda yang tidak bisa bahasa Inggris, mengenakan jaket hijau army dan wajah polos tanpa make up. Setelah komunikasi menggunakan bahasa isyarat yang bisa saling dipahami, wanita itu hendak meninggalkan apartemen. Saya menanyakan dimana meletakkan kunci saat saya check out nanti dan dia menyuruh saya meninggalkan kunci di meja televisi. Sepertinya keamanan di Rusia terjaga sehingga beberapa apartemen yang saya inapi selalu cuek meminta meninggalkan saja kuncinya check out jika dia belum datang.

Apartemen itu ada di lantai 4 dengan gedung yang sudah tua. Tanpa lift saya harus mengangkat koper saya menaiki tangga hingga tiba di depan pintunya. Tetangga apartemen seorang Babushka (nenek) yang hidup sendirian bersama kucingnya. Dan begitu pintu apartemen terbuka, saya merasakan aura yang kurang enak, sepertinya tempat ini ada yang ‘menunggu’ di dalam. Tapi saya tidak memedulikan dan masuk ke dalam, meletakkan koper lalu memilih tempat tidur di dalam yang dekat dengan gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Mengabaikan semua yang saya rasakan, saya membuka pintu balkon, melihat kejauhan kota tua yang mulai menguning karena senja turun dan menikmati daun-daun jatuh menimpa balkon apartemen.

Suhu menunjukkan angka 10 derajat dan di luar hujan mulai turun. Saya mengurungkan niat untuk berjalan-jalan sekitar apartemen karena suhu 10 derajat bagi orang tropis sangat dingin dan memutuskan duduk di depan jendela dapur sambil memandangi hujan dan menyesap kopi perlahan-lahan. Entah kenapa, saya merasa terhubung dengan kota ini, rasanya seperti pulang ke rumah. Kota yang tenang, eksotis dan nyaman untuk ditinggali. Berbeda dengan Moscow dan Saint Petersburg yang ramai dan sibuk. Veliky Novgorod tampak sederhana, apa adanya dan cantik. Saya merasa di sini bisa menjadi diri saya sendiri, tanpa perlu mengenakan topeng.  Saya jatuh cinta pada kota tua ini, sejak pertama melihatnya.

Sambil membaca-baca booklet tentang Veliky Novgorod dan tempat-tempat menarik yang bisa saya kunjungi esok harinya, saya membayangkan bertemu Pangeran Pertama Rusia dari dinasti Rurik di tempat ini. Mungkin sangat menarik jika saja ada mesin waktu yang bisa membawa saya menemui mereka, ngobrol tentang kehidupan mereka di tempat menarik ini dan cita-cita mereka di masa depan. Lalu saya tertawa sendiri dengan lamunan saya dan memutuskan untuk membuat mie instant yang saya bawa dari Indonesia untuk makan malam. Selesai makan malam kantuk tak tertahankan dan saya langsung tidur meringkuk di pembaringan samping gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Dan time travel itu terjadi dalam mimpi saya.

Seorang gadis kecil dengan rambut merah berponi dan dikuncir sepinggang berjalan pelan keluar dari gudang kecil gelap di samping tempat tidur saya. Gadis kecil itu mengenakan rok pendek kotak-kotak warna merah dan atasan putih tulang lengan panjang, mengenakan sabuk tampak rapi dan manis. Sepatunya hitam dengan kaos kaki tinggi. Gadis itu tersenyum pada saya dan mengulurkan tangannya untuk menyalami saya. Tidak ada kata-kata, tetapi wajahnya ramah dan penuh senyum seolah mengucapkan selamat datang. Saya menyambutnya tak kalah ramah dan merasa terhubung dengannya. Tetapi saat saya mau melepaskan tangan saya, gadis kecil itu memegang tangan saya begitu erat dan menarik saya hingga jatuh tertelungkup di gudang. Beberapa saat saya mengigau, akhirnya saya bisa terbangun. Dengan mata masih buram, saya melihat bayangan gadis itu berdiri di depan gudang kecil gelap itu.

(to be continued…)

RUSIA : Jangan Menilai Buku Dari Covernya

“Jangan menilai buku dari covernya, jangan menilai orang Rusia dari film Hollywood.”

Malam sebelum berangkat traveling ke Rusia, saya menonton film “The Way Back” garapan Peter Weir tahun 2010 yang bercerita tentang Janusz seorang yang didakwa mata-mata atas saksi istrinya sendiri lalu ditahan di kamp Siberia yang tidak manusiawi. Tentara Rusia memperlakukan dia dengan sadis hingga Janusz berhasil melarikan diri melewati banyak rintangan alam dan selamat sampai di India.  Usai menonton film saya masih berdebar, apa benar orang-orang Rusia begitu tidak menyenangkan seperti film-film Hollywood yang saya tonton? Seorang teman yang sedang solo traveling ke Mongolia lalu memasuki Rusia melalui Irkutsk lewat pesan online bilang kalau mereka memang tidak ramah, jadi mesti mempersiapkan diri menghadapi hal yang sangat berbeda dari traveling sebelumnya. Oh, baiklah!

Setelah 13 jam penerbangan Jakarta-Moscow, transit di Bangkok semalam,  tepat jam 10 malam berikutnya sampailah saya di Demodedovo International Airport Moscow. Ada dua bandar udara internasional lainnya di Moscow selain Demodedovo yaitu Vnukovo dan Sheremetyevo. Begitu keluar dari lobby bandara saya disergap suhu 7 derajat celcius. Tangan rasanya kebas saat memesan taksi online Yandex karena sudah tidak sanggup naik metro menuju penginapan. Yandex sangat mudah digunakan seperti grab, uber atau gocar di Indonesia, kita juga bisa menggunakan nomor Indonesia tanpa perlu memiliki nomor lokal.  Pembayaran bisa cash ataupun kartu kredit. titik penjemputan yang dipilihpun tepat ditempat kita berada, jadi tidak usah menggeser-geser titik. Lima menit kemudian Yandex yang saya pesan datang lalu mengantarkan ke penginapan. Satu jam lebih diselingi macet, menjelang tengah malam saya tiba di depan alamat yang saya tuju. Sopir yang tidak bisa bahasa Inggris hanya menunjuk bangunan di depan saya, lalu saya menyeret koper ke sana.

Dan mulailah drama itu! Bangunan itu memiliki akses untuk masuk, sementara saya tidak punya akses dan tidak bisa menelepon pemilik penginapan karena tidak memiliki nomor lokal. Tidak yakin bahwa pintu masuknya yang memiliki akses itu, saya segera berjalan ke samping memasuki pintu lain yang kebetulan terbuka. Tiba-tiba seorang cowok Rusia pulang belanja dan bilang bahwa alamat yang saya tuju bukan di situ. Dia tersenyum ramah dan bersedia mengantar ke alamat yang benar. Akhirnya cowok itu mengantar ke pintu samping kanan hingga masuklah saya ke sebuah tempat seperti kost-kost-an. Tampak beberapa anak muda sedang duduk sambil belajar. Tempat itupun ternyata bukan alamat yang saya tuju.  Sepertinya ini memang benar-benar kost-kostan. Ya ampun! Saya benar-benar tersesat!

Dua cowok di rumah seperti kost-kost-an itu berbaik hati mengantar kami ke alamat yang mereka yakini benar. Dia tidak bisa berbahasa Inggris tapi masih bisa menggunakan bahasa isyarat yang saya pahami. Ternyata balik lagi, alamatnya ada di pintu yang ada aksesnya itu dan si cowok memiliki akses untuk masuk. Dini hari, saya berhasil istirahat di penginapan yang saya pesan atas bantuan cowok-cowok baik itu. Tak hanya itu di jalanan seorang ibu yang pernah ke Bali juga berusaha menolong kami yang tersesat, hanya saja memang jarang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan ada yang berbaik hati mengangkat koper kami saat kami kesulitan membawanya.

Esok malamnya saat saya nongkrong di kafe dekat stasiun menunggu perjalanan malam ke Sank Petersburg, dua orang bapak-bapak Rusia mengajak kami ngobrol. Ternyata mereka pernah keliling Indonesia dan meski menggunakan Inggris terbata-bata tampak mereka berusaha ramah. Kami sempat bertanya, “apa benar orang Rusia susah tersenyum? Dia justru tersenyum tipis, “tidak semua begitu. Mungkin yang susah tersenyum beban hidupnya berat, tapi saat liburan di luar Rusia mereka akan mudah tersenyum.”  Sebagian mereka memang terlihat judes, tapi jangan tertipu dengan muka judes karena mereka ringan tangan mengangkatkan koper kami keluar dari kompartemen kereta.

Kesan pertama saya terhadap orang Rusia baik dan melegakan. Ternyata benar, jangan menilai sesuatu dari kabar-kabar yang dihembuskan orang lain, mending lihat sendiri kenyataannya. Oke, ini hanya kesan pertama saya sebagai turis. Bisa jadi orang lain akan mengalami hal yang berbeda, atau mereka yang tinggal lama di Rusia tentu lebih tahu secara mendalam. Saya masih akan menulis terus tentang Rusia, jadi jangan pindah chanel dulu! 🙂 Oya, foto yang saya tampilkan mungkin tidak tepat mengikuti tulisan, tetapi menggambarkan bagaimana orang Rusia yang saya temui. Tunggu tulisan saya selanjutnya! 🙂

 

 

 

VINH HUNG HOI AN, VIETNAM ; LIBRARY HOTEL UNTUK PECINTA BUKU

Anda suka membaca buku disela perjalanan sambil leyeh-leyeh di hotel yang nyaman? Jika perjalanan anda sampai kota tua Hoi An, Vietnam, saya merekomendasikan Vinh Hung Library hotel. Hotel yang terletak tepat di kota tua Hoi An ini selain memiliki desain yang klasik dan cantik juga berkonsep library.

Sebagi backpacker sebenarnya saya lebih suka menginap di hostel karena jelas lebih murah dan akan menemukan banyak teman baru dari berbagai negara jika saya tinggal di dormitori. Cerita teman-teman baru dari berbagai negara ini menjadi amunisi buat saya menulis. Tetapi saat memilih-milih hostel di Hoi An saya malah menemukan hotel library ini di mesin pencari. Saya yang biasanya memang selalu membawa buku untuk dibaca dalam setiap perjalanan, ingin merasakan atmosfir yang berbeda dengan menginap di sini.

Saat sopir taksi menurunkan saya di depan hotel, saya langsung penasaran melihat desain unik di bagian depan. Begitu memasuki ruang resepsionis, tampak berbagai macam buku ditata rapi dan siap dibaca. Koleksinya pun tidak sedikit dan mencakup buku dari berbagai belahan dunia. Didominasi novel dan buku perjalanan, siapa saja bebas membawa buku yang ada di rak untuk dibaca asal dikembalikan.

Ada dua tipe kamar yang bisa kita sewa yaitu kamar dengan balkon yang berada di lantai atas, dan kamar tanpa balkon yang berada di lantai satu. Dilengkapi dengan wifi, kolam renang dan cafe kecil hotel ini sangat nyaman. Kamar saya ada di lantai dua dengan balkon yang memiliki pemandangan kota Hoi An meskipun pemandangan ini tidak terlalu cantik karena membentur jalanan gang. Di dalam kamar juga terdapat beberapa buku yang siap dibaca. Tampak buku populer dan wajib buat para pejalan “Eat, Pray and Love” di atas rak dan beberapa novel barat.  Desain kamarnya juga sangat unik dan klasik. Dengan barang-barang klasik khas Vietnam anda pecinta hal-hal eksotis akan menyukai hotel ini. Tak hanya di dalam kamar dan di ruang resepsionis buku-buku itu berada, di pojokan lorong hotel juga terdapat rak-rak buku yang siap dibaca. Bahkan saat sarapan pagi, di sekeliling ruang makan juga dipenuhi buku yang ditata sedemikian menarik.

Anda pecinta buku? Jangan lupa menginap di sini, saya yakin anda tak akan kecewa!