WISATA PEMAKAMAN

Entah sejak kapan tepatnya, saya suka berwisata ke pemakaman, apalagi jika pemakaman itu unik. Ada beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi dengan tujuan wisata maupun karena survey untuk pekerjaan saya menulis naskah. Menurut saya mengunjungi pemakaman tertentu selain magis juga banyak pembelajaran tentang hidup. Dari pemakaman yang unik kita bisa mempelajari tradisi daerah yang kita kunjungi. Ini sangat menarik. Berikut beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi.

1. GOA LONDA, TANA TORAJA

Tahun 2010 saya mengambil cuti dari pekerjaan saya sebaga karyawan di sebuah televisi dan pergi mengunjungi Tana Toraja dengan tujuan ke pemakaman Goa Londa. Goa Londa terletak di perbukitan dan sepanjang menyusuri goa akan menemukan jasad-jasad yang di semayamkan di liang-liang goa.  Di pintu goa terdapat deretan patung yang dinamakan Tau-Tau yang melambangkan jenazah yang ada di dalam goa. Di sisi lainnya tampak peti-peti janazah yang dinamakan Erong. Menyusuri Goa Londa semakin ke dalam semakin gelap dan lembab. Jika beruntung kita akan menemukan jenazah yang baru saja disemayamkan. Beruntung apa malah menakutkan? Hehe. Saya menemukan satu jenazah yang masih baru dan yang lainnya sudah menjadi tulang belulang maupun tengkorak.

2. BAYI KAMBIRA, TANA TORAJA

Pemakaman unik lainnya yang saya kunjungi di Tana Toraja adalah pemakaman bayi Kambira di pohon Tarra. Terletak di tengah rerimbunan pohon-pohon, pemakaman bayi di pohon ini memiliki pintu-pintu kecil yang terbuat dari daun ijuk. Proses pemakamanpun cukup unik. Pohon Tarra dilubangi dengan diameter seukuran bayi kemudian jenazah diletakkan di dalamnya lalu lubang ditutup menggunakan ijuk. Mereka percaya bayi yang dikuburkan akan kembali ke rahim ibunya.

3. TRUNYAN, BALI

Tahun 2014 tanpa sengaja saya mengunjungi pemakaman unik Trunyan di Bali. Gara-garanya dari Ubud ke Kintamani naik motor dan kecapekan. Saya merasa nggak ada gunanya kalau hanya berdiri di ketinggian Kintamani lihat pemandangan. Maka saat teman menawarkan mengunjungi Trunyan dengan menyisir jalur sisi perbukitan di pinggir danau Batur saya langsung setuju. Jadi nyisir lewat jalur darat, baru kemudian nyebrang ke pemakaman hanya sekitar 10 menit pakai perahu penduduk lokal. Di Desa Trunyan, mayat tidak dibakar melalui ritual Ngaben seperti umumnya masyarakat di Pulau Bali. Di sini mayat  diletakkan ditempat terbuka di dalam Ancak Saji (anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas. Posisinya berjejer berpakaian lengkap dan hanya kelihatan bagian mukanya saja dari celah Ancak Saji. Lagi-lagi saya beruntung atau menakutkan (?) ketika saya berkunjung, ada jenazah baru di Ancak Saji tersebut. Pemakaman ini dinaungi Pohon Taru Menyan yang sudah berusia ratusan tahun. Menurut penduduk lokal pohon berbau wangi inilah yang menetralisir bau jenazah sehingga tidak berbau sama sekali.

4. PEMAKAMAN JEPANG

Wisata saya ke pemakaman berlanjut ketika saya mengunjungi Jepang tahun 2015.  Teman saya, seorang host couchsurfing mengajak saya dan teman-teman berwisata non turistik, salah satunya ke pemakaman. Awalnya mau mengunjungi rumah seorang penulis terkenal pada masanya yang sudah dijadikan museum, tetapi karena kesorean kami diajak ke pemakaman. Pemakaman di Jepang sangat mahal sehingga menurut teman saya kematian jadi menakutkan.

Pemakaman pada umumnya dilakukan dalam tradisi gabungan Shinto dan Buddha, jenazah dikremasi lalu abunya dimasukkan ke pot abu. Dalam satu nisan ada banyak nama yang merupakan satu garis keturunan. Saya mengunjungi pemakaman ini menjelang maghrib, gara-gara kesorean ke museum itu, dan sepertinya teman saya tidak takut sama sekali malah senang menjelaskan ini itu. Ada yang pengen wisata ke pemakaman juga? Hehe. Berdekatan dengan kematian dan pemakaman kadang-kadang memberikan sudut pandang lain soal hidup yang telah dijalani. Coba saja, hehe.

MENIKMATI MALAM DI THE BUND SHANGHAI

Ketika saya traveling ke Shanghai seorang teman yang sedang mengambil S2 di Shanghai menyarankan saya tinggal di kawasan The Bund. Apa sih, The Bund? Ternyata The Bund itu pusat kota Shanghai yang menjadi tujuan para turis.  Sebuah dermaga panjang di tepi Sungai Huangpu. Saya memesan penginapan yang letaknya hanya sekitar 1 km dari The Bund jadi bisa berjalan kaki ke The Bund kapan saja. Karena banyaknya tempat yang saya kunjungi saya baru bisa ke The Bund malam hari.

Dan, wow! Pada malam hari kawasan The Bund ini berkilau! Deretan gedung tinggi dan bangunan kuno berarsitek Eropa klasik memancarkan lampu-lampu keemasan. Saya juga bisa melihat kapal dengan lampu warna-warni yang melintasi Sungai Huangpu. Tak hanya itu, di tempat ini ada menara yang sangat terkenal di seluruh dunia yaitu Oriental Pearl Tower.

Pada malam hari kawasan ini hidup dan penuh energi. Saya duduk di tepi Sungai Huangpu ini hingga tengah malam bersama teman. Nah, saya bagikan foto-fotonya kali ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 KERETA BAWAH TANAH INI LAYAK DICOBA SAAT TRAVELING

Pejalan tanpa menggunakan paket tour pasti memerlukan transportasi umum untuk menjelajah. Selain lebih murah, menggunakan transportasi umum merupakan cara singkat untuk mempelajari budaya dan gaya hidup tempat baru. Saya dan teman-teman selalu menggunakan transportasi umum karena jelas lebih irit dan sebisa mungkin menghindari naik taksi. Alasannya tentu saja bangkrut kalau naik taksi kemana-mana. Berikut ini kereta bawah tanah yang pernah saya jajal di beberapa negara untuk menjelajahi sebagian kecil dari negara itu.

1. LONDON UNDERGROUND

 

Spring 2017, saya tiba di London pukul 2 dini hari waktu setempat setelah belasan jam terbang dari Jakarta. Negeri yang saya lihat dari buku-buku yang saya baca ini ingin saya kunjungi sejak saya kecil. Tetapi London sangat mahal untuk pejalan seperti saya, jadi saya harus menghemat salah satunya dengan naik transportasi umum ke berbagai tujuan. Begitu memasuki stasiun underground, saya langsung berbelok ke minimarket yang ada di pojokan stasiun untuk membeli kartu Oyster. Dengan kartu Oyster saya bisa menjelajah London menggunakan kereta bawah tanah/Tube/London Underground, tram, bus, London Overgound, TfL Rail, River Bus dan National Rail service. Dengan kartu Oyster di tangan saya menuju penginapan yang sudah saya pesan melalui internet. Karena nyasar-nyasar lebih dulu maka saya tiba di penginapan yang berada di kawasan Westminster sekitar pukul 7 pagi.

 

Dibangun ratusan tahun lalu, kereta bawah tanah London merupakan kereta bawah tanah pertama di dunia. Bahkan London Underground ini sudah beroperasi sejak tahun 1863, pada saat kereta api masih mengandalkan tenaga uap. Lalu pada tahun 1890 dimulai penggunaan kereta listrik. London Underground atau The Tube merupakan transportasi umum yang sangat diminati karena tidak macet dan lebih cepat. Saya menggunakan The Tube ini kemana-mana saat di London karena penginapan saya dekat dengan stasiun dan memang lebih mudah dijangkau.

Stasiun-stasiun Underground di London kebanyakan sudah tua namun terjaga dengan baik. Justru menurut saya jadi eksotis dan sangat menarik. Bayangkan stasiun-stasiun dengan desain tua ini sudah berumur ratusan tahun dan jadi saksi bisu sejarah yang bergerak di sana. Tetapi pada stasiun-stasiun tertentu tampak lebih modern. Untuk pecinta bola tentu tidak akan melewatkan stasiun-stasiun yang mengabadikan club bola kesayangan. Kalau saya paling suka dengan Baker Street stasiun. Karena di sana saya bisa bertemu dengan Sherlock Holmes. Pagi hingga malam kereta bawah tanah ini selalu ramai apalagi pada jam-jam sibuk. Pintunya bergerak sangat cepat jadi harus benar-benar hati-hati. Saya sempat terhantam pintu dan jatuh ke dalam kereta karena hampir kejepit pada suatu malam pulang dari keliling London. Memiliki 11 jalur yang bisa dipelajari dengan mudah, London Underground ini menjadi pilihan terbaik untuk sarana transportasi saat menjelajah London.

2. JAPAN SUBWAY

 

 

Spring tahun yang lain, saya traveling ke Jepang. Di Osaka dan Tokyo transportasi paling mudah yang bisa saya gunakan yaitu Subway atau kereta bawah tanah. Kartu yang saya gunakan adalah Pasmo yang bisa dibeli di mesin-mesin tiket stasiun Subway. Cara menggunakan mesin ini tidak jauh berbeda dengan cara membeli tiket di mesin MRT Jakarta. Hanya saja untuk membeli tiket Pasmo atau Suica kita harus membeli di mesin yang ada tulisannya Suica atau Pasmo. Sistemnya juga sama, membeli kartu kemudian mengisi saldo untuk ditap pada setiap perjalanan. Cara lebih detail soal kartu, jalur menggunakan Subway di Osaka dan Tokyo bisa kalian temukan di banyak website, saya tidak akan membahasnya di sini.

Jepang adalah negara pertama di Asia yang memiliki kereta bawah tanah. Tokyo Subway dibuka pada tahun 1927 dan menjadi kereta bawah tanah tercepat dan paling tepat waktu di dunia. Kereta akan datang di setiap stasiun dengan rentang waktu 2-3 menit saja. Subway di Tokyo mengangkut lebih dari 8,7 juta penumpang setiap harinya, karena itu jika menjelajah Tokyo sebaiknya jangan pada jam-jam sibuk. Saya punya pengalaman menarik saat pertama naik Subway di Tokyo. Karena banyak yang memakai baju atau jaket hitam saya bingung mencari teman saya yang naik ke Subway jalur kiri atau kanan. Saya naik ke kiri dan teman saya ternyata naik yang kanan. Akhirnya saya terpaksa turun dan balik lagi setelah nyasar-nyasar.

Subway di Tokyo menghubungkan banyak tempat wisata terkenal yang bisa dikunjungi turis. Mulai dari Kuil Sensoji (Asakusa), zebra Cross (Shibuya), Kabukicho (Shinjuku), Pasar Tsukiji (Tsukiji), Kabuki-za (Higashi-ginza) dan Menara Tokyo (Kamiyacho). Memiliki 9 Jalur utama yang masing-masingnya memiliki kode warna dan huruf yang berbeda, kereta pertama mulai dari jam 5 Pagi, dan kereta terakhir di pukul 12 malam.

3. HONGKONG MTR

 

Pertama kali traveling ke luar negeri Hongkong adalah tujuan pertama saya. Alasannya waktu itu karena ada tiket promo dan saya baru saja resign dari pekerjaan saya sebagai orang kantoran. Jadi di Hongkong ini merupakan pengalaman pertama saya menjelajah kota menggunakan kereta bawah tanah. Kereta bawah tanahnya Hongkong disebut MTR atau Mass Transit Railway. Pernah dinobatkan sebagai jaringan kereta bawah tanah terbaik di dunia, saya tidak sabar untuk mencobanya.

Saya suka mengoleksi kartu transportasi setiap pulang dari traveling dan kartu Octopus untuk naik MTR di Hongkong ini merupakan koleksi saya yang pertama. Seperti jalur kereta bawah tanah lainnya, kartu single trip bisa dibeli di mesin-mesin tiket di setiap stasiun kereta. Tetapi saya memilih Octopus agar memudahkan perjalanan tinggal mengisi saldo dan bisa saya koleksi kartunya. Memiliki 11 jalur, para turis biasanya akan banyak menggunakan 5 jalur saja yaitu Tung Chung Line, Disneyland Line, Island Line, Tsuen Wan Line dan Airport Express Line yang menghubungkan banyak tempat wisata populer. Kereta bawah tanah Hongkong ini mulai beroperasi pada tahun 1979 dan menjadi transportasi populer yang mengangkut 5 juta perjalanan setiap harinya.

Saya paling suka saat naik MTR di Hongkong saat melewati terowongan bawah laut ke Central. Saya membayangkan bagaimana mengerjakan terowongan bawah laut yang kemudian bisa dilewati kereta bawah tanah. Setiap melewati terowongan saya gemetaran, takut mendadak terowongan akan pecah dan kereta amblas ke dalam lautan. Pengalaman pertama naik kereta bawah tanah di Hongkong ini sangat berkesan buat saya meskipun saya sering nyasar karena kesulitan membawa peta. Yang jelas MTR Hongkong akan menjadi pilihan untuk menjelajah Hongkong dengan mudah.

4. CHINA SUBWAY

 

Banyak pilihan transportasi di China mulai dari bus, subway, atau taksi. Ketika saya traveling ke China saya terpaksa menggunakan tiga-tiganya sesuai kebutuhan karena tingkat nyasarnya yang sangat tinggi di China. Saat menuju The Great Wall gerbang Mutianyu yang lokasinya sekitar 70 km dari kota Beijing, saya diturunkan bus di lokasi antah berantah dan terpaksa saya naik taksi borongan. Untungnya ada penduduk lokal yang kebetulan bisa bahasa Inggris untuk menawarkan harga taksi ke sopir lokal itu. Beberapa tempat wisata populer di Beijing bisa dijangkau dengan menggunakan subway meskipun belum semuanya dan harus nyambung menggunakan bus atau jalan kaki. Tak hanya di Beijing, saya juga menggunakan subway ketika di Xi’an dari bandara ke pusat kota Xi’an. Sementara untuk keliling di dalam kota Xi’an lebih mudah menggunakan bus.

Beijing subway dibuka tahun 1969 dan merupakan sistem angkutan cepat dan tertua di Tiongkok daratan. Kemudian berkembang setelah tahun 2002 dan memiliki 15 jalur. Untuk tiket saya membeli tiket single trip setiap perjalanan di China karena tidak semua perjalanan saya menggunakan subway.

5. KOREA SELATAN SUBWAY

 

 

Subway di Korea Selatan menjadi moda transportasi favorit karena mudah dan cepat. Saya menggunakan subway ke berbagai tujuan karena hampir semua tempat wisata populer terkoneksi dengan subway dan terintregasi dengan angkutan lain seperti bus ke luar kota. Kebetulan penginapan saya di dekat Hongdae stasiun sehingga memang menggunakan subway adalah pilihan paling mudah. Jika teman-teman ke Seoul saya sarankan menginap di sekitaran Hongdae stasiun tepatnya dekat Hongik University karena tempat di sekitar itu sangat strategis baik untuk kemudahan mencari makanan maupun subway.

Subway di Korea Selatan dibuka pada tahun 1974, memiliki 18 jalur yang melayani Seoul Metropolitan Area. Kita bisa menggunakan tiket T-Money untuk naik subway dan membeli sesuatu di minimarket. Stasiun-stasiun Korea Selatan tampak modern dan ramai dengan gerai-gerai jualan mulai dari makanan, baju sampai mirip mall. Saya punya pengalaman menarik waktu naik subway di Korea Selatan. Hari pertama saya sudah keluar kota naik bus, namun sambungan sampai penginapan menggunakan subway. Nyaris jam 12 malam dan subway sudah kosong. Hanya ada satu orang cowok sedang mabuk di ujung gerbong. Waktu saya turun di Hongdae stasiun, ternyata banyak orang mabuk juga di jalanan dekat penginapan. Saya baru tahu sebaiknya tidak keluar terlalu malam karena kalau ketemu orang mabuk bisa jadi bahaya. Subway sangat rekomended untuk menjelajah Korea asal tidak tengah malam seperti saya.

6. PARIS METRO

 

Saya menginap di dekat stasiun metro selama traveling ke Paris. Jadi begitu turun dari bus setelah perjalanan 8 jam dari London saya langsung mencari stasiun metro menuju penginapan. Tiket dapat dibeli di setiap loket stasiun secara manual maupun otomatis. Jika membeli di mesin tiket, maka kita harus menggunakan kartu kredit. Ada banyak pilihan tiket. Ada yang satuan, ada yang membeli per-10 biji sehingga lebih murah. Bentuk tiketnya juga kecil dan lucu. Saya suka melewati gerbang tiket dan memasukkan tiket kecil itu ke dalam gerbang kemudian tiket akan keluar di ujung. Tetapi saat membeli tiket di mesin menggunakan kartu kredit harus hati-hati. Banyak mesin yang dipasangi scam sehingga nomor kartu kredit kita dicuri. Saya sempat kena juga.

Menjelajahi Paris menggunakan metro atau kereta bawah tanah adalah pilihan yang tepat. Metro ini terkoneksi dengan banyak tempat wisata populer di Paris. Tinggal mempelajari peta maka sampailah tempat yang kita tuju. Tetapi saya kurang suka suasana bawah tanah metro di Paris. Menurut saya agak menakutkan. Stasiun-stasiunnya sudah tua dan kusam, maklum metro di Paris dibuka pada tahun 1920. Setiap memasuki bawah tanah, saya merasa memasuki tempat yang penuh tantangan. Bukan hanya tangganya yang tanpa escalator dan super tinggi, tetapi mata orang lokal yang menatap curiga tanpa senyum membuat nyali saya ciut. Tapi jangan salah, meski begitu banyak juga yang ringan tangan menolong. Saat saya kesusahan mengangkat koper, seorang cowok sigap membawakan koper saya sampai tangga paling atas dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Metro di Paris sangat unik menurut saya, bukan hanya stasiun dan metronya namun juga orang-orangnya. Jika anda berkesempatan traveling ke sana harus dicoba.

7. MOSCOW METRO

 

Metro Moscow ini salah satu tempat favorit saya. Bukan hanya sekedar moda transportasi yang memudahkan untuk menjelajah Moscow tetapi stasiun-stasiunnya merupakan mahakarya seni yang luar biasa. Anda bisa membaca tulisan saya khusus tentang metro Moscow di artikel yang lain di blog ini. Setiap tempat wisata populer di Moscow juga terkoneksi dengan metro sehingga memudahkan untuk menjangkau tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tiket bisa dibeli di stasiun melalui mesin tiket atau loket dengan mudah. Jika anda tidak memahami bahasa Rusia, pilih loket yang petugasnya bisa berbahasa Inggris, terdapat tulisan di loketnya.

Metro Moscow ini dibuka pada tahun 1935 sebagai jaringan kereta api bawah tanah pertama di Uni Soviet. Hingga saat ini metro Moscow memiliki 12 jalur dengan rata-rata penumpang harian sebesar 7 juta orang. Menurut saya metro Moscow merupakan metro tercantik di dunia dengan arsitektur yang sangat menawan di masing-masing stasiun. Tak hanya itu jalur metro ini juga menyimpan sejarah. Salah satu stasiun pada masa perang dunia II digunakan sebagai pos komando dan tempat perlindungan dari bom-bom Jerman. Jadi, menyusuri jalur metro Moscow ini nyaris seperti memasuki museum dengan bangunan yang sangat indah.

8. BANGKOK MRT

 

Saya menjajal Bangkok MRT hanya satu kali jalan saat menuju stasiun Thailand Cultural center untuk menonton pertunjukan Siam Niramit. Karena bersamaan dengan waktu jam pulang kantor, MTR-nya sangat penuh dan tidak nyaman. Saya sampai harus berdiri berdesakan dengan teman saya agar bisa masuk ke dalam MRT.

MRT Bangkok dibuka tahun 2004 dengan desain stasiun-stasiun yang modern mirip dengan di Jepang atau Jakarta. Pembelian tiket bisa dilakukan di mesin-mesin tiket stasiun secara mandiri. Di stasiun ini juga berjejer restoran dan minimarket. Saya tidak memiliki banyak pengalaman menjelajah Bangkok menggunakan MRT karena selain perjalanan saya ke pertunjukan Siam Niramit, saya lebih banyak jalan kaki di pusat kota.

9. SINGAPORE MRT

 

Menjelajah Singapore paling mudah tentu saja menggunakan MRT. Dibuka pada tahun 1987, MRT Singapore merupakan angkutan cepat tertua kedua di Asia Tenggara. MRT di Singapore memiliki lima jalur yang menghubungkan lebih dari 100 stasiun. Peta dan rutenya bisa anda temukan di internet dengan mudah dan anda pelajari sebelum menjelajah Singapore. MRT di Singapore sangat penting karena merupakan angkutan utama di sana.

Saya selalu memilih penginapan dekat dengan stasiun sehingga memudahkan saya untuk ke berbagai tempat. Begitu juga ketika pertama kali ke Singapore. Tiket MRT bisa kita dapatkan dengan mudah melalui mesin tiket. Sementara untuk Singapore EZ-Link Card bisa anda beli melalui layanan travel online. Jangan lupa jam operasional MRT Singapore mulai jam 5.30 pagi hingga 23.30 malam. Anda bisa menjelajah Singapore hingga tengah malam tanpa perlu takut tidak mendapatkan angkutan untuk kembali ke penginapan.

10. JAKARTA MRT

 

Jika London Underground dibuka ratusan tahun yang lalu, Jakarta memiliki MRT sejak tahun lalu, 2019. Dengan pembukaan jalur Bundaran HI – Lebak Bulus dengan desain MRT Jakarta mirip dengan Subway di Jepang. Stasiun-stasiunnya tampak simple dan modern. Beberapa stasiun memiliki escalator yang cukup dalam tetapi saya suka menggunakan MRT Jakarta ini jika tujuan perjalanan saya ke sekitaran Lebak Bulus. Karena sangat memudahkan dan tidak macet. Tiket bisa dibeli melalui loket atau mesin tiket. Meskipun sangat terlambat, tetapi bisa memiliki MRT membuat Jakarta layak disetarakan dengan beberapa negara maju lainnya. Semoga jalur-jalur lainnya segera dibuka.

SERIAL “13 REASONS WHY” DAN DEPRESI DI SEKITAR KITA

Seorang gadis tiba-tiba bunuh diri dan meninggalkan pesan berupa kaset kepada teman-teman di sekelilingnya. Hannah Baker, begitu nama gadis itu, tidak menunjukkan bahwa dia seorang yang menderita penyakit mental apapun. Hannah seorang gadis yang cantik, terlihat ceria dan berusaha bergaul dengan siapa saja. Tetapi diam-diam dia menyimpan kekecewaan yang dalam terhadap lingkungannya ; teman-teman sekolahnya yang saling membully dan tidak tulus, guru-gurunya yang tidak tanggap terhadap masalah-masalah anak didiknya dan orang tuanya yang egois. Kaset yang ditinggalkan itu membuka rahasia penyebab ia bunuh diri mulai dari orang-orang terdekatnya yang dia anggap tidak peduli pada perasaannya hingga puncak dari segalanya ia diperkosa teman sekolahnya pada suatu malam dan mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya. Tanpa kaset-kaset itu, tidak ada seorangpun yang tahu penyebab Hannah bunuh diri.

Orang-orang seperti Hannah banyak di sekeliling kita. Apalagi sebagian besar lingkungan kita menganggap remeh orang-orang yang sakit secara batin. Sebagian dari kita hanya peduli saat orang lain sakit secara fisik. Padahal sakit secara batin itu efeknya sangat besar dan bisa menimbulkan sakit-sakit fisik. Saya jadi ingat dalam satu wawancara televisi seorang cowok yang menderita depresi begitu lama mengalami kecelakaan. Kesan pertama yang dia terima dari orang-orang di sekelilingnya saat ia mengalami depresi banyak orang menertawakannya dan tidak memercayainya, sementara saat ia mengalami kecelakaan banyak yang menjenguk dan peduli. Ya, sebagian kita memang masih begitu, menganggap depresi adalah bentuk tidak kompetennya seseorang menghadapi terpaan badai hidup, tidak becusnya orang tersebut melihat sisi terang dari apa yang dia hadapi, merespon sesuatu terlalu dramatis dan berlebihan hingga ada pula yang membandingkan dengan orang lain yang kemungkinan penderitaannya lebih parah namun sanggup melewati itu.

“Tidak ada segala sesuatu yang berjalan sesuai maumu,” kata seorang teman suatu ketika saat saya menceritakan bahwa saya mengalami depresi. Saya juga pernah mengalami depresi meski levelnya tidak berat. Trauma masa kecil, rentetan pengkhianatan yang pahit dan tekanan hidup yang berat membuat saya jatuh ke liang depresi. Ada satu masa saya tidak bisa makan dalam seminggu dan hanya bisa minum air. Ada satu masa saya terbangun pagi hari dengan kondisi yang letih luar biasa. Ada satu masa dimana saya berkubang dalam kesedihan yang dalam tanpa sebab. Ada satu masa dimana saya tidak bisa menangis untuk mengekpresikan kepedihan yang dalam. Efeknya secara fisik kemana-mana, sakit lambung, paru-paru, ginjal bahkan tidak bisa berjalan. Tapi semua itu sudah berlalu. Sejak saya menemukan diri saya sendiri dan hidup membebaskan diri sesuai kata hati, saya perlahan sembuh. Itu butuh perjuangan bertahun-tahun, bahkan bantuan psikolog untuk menunjukkan petanya kemana saya akan berjalan. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dengan semua itu saya tidak pernah meremehkan siapapun yang datang pada saya dan mengaku depresi. Saya selalu menyediakan dua telinga untuk mendengar mereka tanpa memvonis apapun. Karena saya tahu rasanya, saya tahu penderitaannya.

Bukan hanya dalam sebuah serial, banyak contoh di dunia nyata yang bisa kita lihat secara gamblang. Robin Williams, actor komedi yang periang dan selalu tampil menghibur dalam film-filmnya itu memutuskan bunuh diri karena depresi akut, halusinasi dan penyakit degenerative. Tetapi beberapa berita mengatakan ia memutuskan butuh diri karena merasa tidak lucu lagi. Dalam kacamata orang lain yang tidak peka pasti akan bilang “masa hanya karena tidak lucu lantas bunuh diri?” Lalu kita lupa melihat masalah dari sudut pandangnya. Kita sibuk membandingkannya dengan orang lain yang mungkin kelihatan lebih menderita tetapi sanggup melewati segalanya. Hey, kamu orang-orang yang suka meremehkan depresi dan penderitaan batin orang lain! Kita paham semua manusia memiliki masalahnya masing-masing. Tapi ingat setiap manusia memiliki proses yang berbeda menghadapi masalah. Kita tidak bisa menggeneralisir semua manusia sama sehingga kita jatuh pada penghakiman bahwa “kamu nggak kompeten, kamu cemen dan kamu memalukan!” Bisa jadi orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya ini sudah begitu lama bertarung menghadapi depresi, berjuang melawan tekanan-tekanan sampai kemudian ia merasa tidak mampu lagi. Atau bisa jadi orang itu telah datang padamu memohon kedua telingamu mendengarkan penderitaannya tetapi kamu justru memvonisnya tidak kompeten menghadapi hidup. Dan kamu menjadi salah satu teman Hannah Baker yang menyebabkan ia bunuh diri. Mau jadi orang seperti itu?

Mungkin sekaranglah waktunya kita memulai untuk peka terhadap sakit batin orang lain di sekeliling kita. Jika memiliki kedua telinga untuk mendengar, dengarkan mereka. Jika bisa membantu, bantulah mereka menemui psikolog atau psikiater. Jangan memvonis mereka saat mereka berkubang dalam depresi. Kita tidak pernah tahu, kata-kata kita yang bagian mana yang begitu menyakitkan sehingga justru memperburuk kondisinya. Kalau kita tidak punya hal yang baik untuk diberikan lebih baik diam. Jangan sampai kita mendorong ia melakukan hal yang lebih buruk dalam hidupnya. Mari kita mulai peduli pada orang-orang di sekeliling kita dan tidak menggeneralisir mereka. Setiap orang melewati proses yang berbeda dalam garis perjalanan hidupnya. Ingat itu!

*feature pic by ngopulse.org

PENULIS ‘JADUL’ DI ERA DIGITAL

Suatu siang saat membuka-buka laman berita online saya membaca kalimat ini : “Kita memerlukan 4000 tahun untuk berpindah dari penggunaan besi menjadi industri. Lalu kita hanya memerlukan 40 tahun untuk berpindah ke tahap computer. Namun ke depannya kita hanya memerlukan 4 tahun untuk menjadikan dunia ini berbeda dari sebelumnya. Hingga pada akhirnya setiap hari kita akan melihat teknologi yang berbeda.” Saya menyadari bahwa saat ini saya berada pada dunia di mana setiap hari melihat perkembangan teknologi yang sangat pesat dan berbeda untuk semua bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang tulis menulis yang saya tekuni.

Saya suka menulis sejak sekolah dasar ketika buku harian dengan gembok di pinggirnya sangat ngetrend. Ibu membelikan buku harian itu agar saya bisa menuliskan pikiran-pikiran saya karena saya sangat pemalu untuk bicara. Ibu juga memberikan saya banyak bacaan agar saya bisa melihat dunia luar dari tempat tinggal kami yang terpencil di pegunungan. Lalu saya mulai menulis di media koran dan majalah ketika duduk di bangku SMA. Pada masanya dimuat di koran atau majalah merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena dua atau tiga gelintir orang yang suka membaca di kampung itu akan menangis tersedu-sedu saat membaca cerita kita yang mengharu biru. Kadang mereka datang ke rumah untuk memeluk kita karena sedih setelah membaca ceritanya. Lucu memang, tapi itu sungguh pernah terjadi pada masa lalu.

Memasuki masa kuliah saya berhenti menulis. Hanya dua cerpen yang terbit di majalah selama empat tahun. Setelah kuliah saya bekerja di dunia computer dan selama empat tahun juga tidak menulis. Tetapi selama bekerja itu saya mulai punya keinginan kembali menulis. Tahun 2004 saya memutuskan berhenti sebagai karyawan perusahaan computer dan menjadi full writer dengan mendisiplinkan diri menulis setiap hari. Mulai tahun itu banyak tulisan saya terbit di media cetak baik berupa cerpen, cerita bersambung maupun cerita anak. Media-media yang pernah memuat tulisan saya waktu itu diantaranya adalah Majalah Femina, Majalah Paras, Majalah Annida, Koran Suara Pembaruan, Koran Republika, Majalah Sabili, Majalah Ummi, Majalah Noor, Koran Jawa Pos, Koran Kompas rubrik Kompas Anak dan entah majalah apalagi saya lupa. Tidak hanya dimuat dimedia cetak, tetapi saya juga menerbitkan sejumlah buku novel remaja, cerita anak dan kumpulan cerpen.  Seingat saya produktivitas saya menulis luar biasa. Mungkin karena saya membutuhkan uang dari menulis atau memang saya sedang semangat-semangatnya.

Pada masa itu menulis masih mengikuti alur lama. Penulis semedi menuliskan kisahnya – memberikan ke redaktur atau editor – kemudian kalau sesuai akan dimuat atau dicetak sebagai buku – penulis menerima honor/royalty. Tidak ada tugas penulis mempromosikan karyanya karena semua tugas promo ada dipundak marketing penerbitan atau majalah.  Maka pada masa itu banyak karya yang lebih terkenal dibanding pribadi penulisnya. Bahkan penulisnya terkesan misterius dan susah ditemukan. Saya suka berada dibalik layar seperti itu dan tidak diketahui banyak orang. Hingga tahun 2008 saya masuk ke industri televisi yang bergelut dengan ratusan naskah televisi di tempat saya bekerja, saya masih nyaman berada di balik layar menuliskan naskah, mempersiapkan syuting, mengikuti proses casting pemain untuk menyesuaikan dengan karakter naskah hingga menonton previewnya di ruangan tertutup dan diam-diam bertepuk tangan saat tontonan itu sukses. Tugas marketing sudah ada yang menjalankan sendiri, saya focus menulis dan mengedit naskah-naskah scenario itu.

Tetapi kini zaman mulai berubah total. Persis seperti kalimat yang saya temukan di laman berita online tentang teknologi di awal tulisan ini, saat ini saya berada di zaman yang setiap hari terjadi perubahan teknologi secara cepat. Nyaris saat saya berkedip hal-hal baru selalu muncul. Penulis juga tidak cukup bersembunyi di balik layar, semedi dan tepuk tangan diam-diam menikmati kesuksesannya. Dan ini masalah bagi saya! Beberapa masalah yang saya hadapi di era digital ini dan cara saya mencoba menyelesaikannya adalah :

  1. Penulis Sebagai Marketing.

Di era digital ini, penulis harus muncul mempromosikan sendiri karya-karyanya secara massive agar laku dijual. Sudah bukan zamannya penulis sembunyi dan bersikap misterius membiarkan karyanya berjalan sendiri menuju pembaca. Dengan tingkat daya baca yang rendah, penerbit harus berjuang lebih keras untuk menjual buku. Bagus jika penulis memiliki akun social media yang aktif dengan banyak followers. Beban marketing kemudian juga berpindah ke pundak penulis. Sudah bukan zamannya penulis bersikap misterius dan bersembunyi. Ini masalah besar buat saya. Saya tipikal orang yang sangat tidak suka menampakkan diri berlebihan. Saya tidak suka menjadi pusat perhatian dan berhadapan dengan banyak orang yang langsung melihat muka saya. Bahkan saya tidak suka bicara secara langsung di telepon karena saya butuh memproses informasi yang masuk sebelum menjawabnya. Saya lebih suka berkomunikasi melalui pesan sehingga saya punya waktu untuk berpikir.  Dalam kondisi yang sangat terbuka dan langsung, saya merasa tertekan dan tidak bisa berpikir.  Ini sangat berat bagi saya, tetapi saya mencoba tetap mempromosikan karya saya melalui tulisan, membuat blog, mengunggah status di social media dan berinteraksi langsung dengan teman-teman melalui komentar-komentar. Setidaknya muka saya tetap tidak muncul secara langsung dan saya masih memiliki ruang untuk berpikir sebelum bereaksi.

  1. Mengikuti Selera Pasar.

Sebenarnya tidak hanya di era digital penulis mengikuti selera pasar, tetapi pada masa lalu penulis masih memiliki banyak ruang untuk bergerak mengikuti seleranya sendiri. Bahkan dari selera asli para penulis di masa lalu itu muncul trend-trend baru. Saat ini apa yang diinginkan pasar akan diburu mati-matian sehingga kebanyakan orang bergerak ke arah sana untuk menjadi yang diburu. Ini juga masalah buat saya karena saya paling tidak suka selera kebanyakan. Kalau semua orang sudah membuat satu resep biasanya saya melihatnya saja sudah kenyang dan ingin membuat hal lain. Tetapi kenyataannya sesuatu yang melawan selera pasar memang agak susah dijual. Masalah ini saya hadapi dengan mempelajari selera pasar dan mengaplikasikan apa yang saya sukai ke dalamnya. Mungkin masih bergerak ke arah pasar sedikit, tetapi elemen-elemennya masih sesuatu yang saya sukai. Misalnya cerita remaja tetapi dengan muatan masalah yang lebih berat bukan hanya percintaan.

  1. Melawan Instant

Era digital menyuguhkan segala sesuatu yang berbau instant. Menulis di platform digital sangat berbeda dengan menulis pada masa lalu. Menulis di platform digital kita bisa mencicil novel yang kita tulis lalu menguploadnya untuk dibaca banyak orang. Kelebihannya, penulis jadi tertantang untuk cepat menyelesaikan tulisan itu. Sementara kekurangannya penulis tidak memiliki banyak waktu untuk mengendapkan karyanya dan merenungkan karyanya sebelum benar-benar diunggah. Saya menyiasati ini dengan gaya lama yaitu menulis sampai selesai, melakukan pengendapan dan menguploadnya setelah benar-benar siap. Proses ini akan melawan hal-hal instant yang disuguhkan era digital.

  1. Media Yang Rumit & Generasi Yang Beda

Untuk penulis jadul seperti saya media digital kadang-kadang menyulitkan. Saya perlu menyesuaikan diri beberapa lama untuk mempelajari menu-menu yang ada disana. Entah menu upload, menu hapus, dan banyak lagi. Tentu tidak mudah bagi mereka yang gaptek untuk memasuki era ini karena jangankan terlibat didalamnya, masuk ke platformnya saja seringkali tidak paham. Tak hanya itu generasi pengguna platform ini jelas generasi baru yang sangat berbeda. Selera mereka seringkali membuat saya menghela napas karena saya tidak memahaminya. Tetapi saya mencoba untuk menyesuikan diri dengan generasi ini, tetapi menulis hal-hal yang saya sukai dan sesekali membumbuhi dengan hal-hal yang terjadi pada generasi mereka. Untuk platform kebetulan saya suka ngoprek jadi meski membutuhkan waktu untuk memasukinya masih tidak terlalu bermasalah.

  1. Royalti Sesuai Viewers

Sebenarnya ini mirip dengan royalty yang sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Hanya saja karena sesuai viewers maka selera pasar akan sangat mengendalikan penghasilan seorang penulis di era digital. Karya-karya dengan viewers banyak sudah pasti memiliki penghasilan lebih meskipun mungkin karya itu biasa-biasa saja. Sementara karya-karya yang sepi viewers tentu penghasilannya sedikit. Namun pada masa lalu, penulis buku masih mendapatkan DP dari bukunya dengan jumlah yang lumayan, apapun isi bukunya. Sementara pada masa digital semua hal diserahkan pada selera pasar.  Untuk masalah yang satu ini, ya.. bagaimana ya? Karena saya tidak mau menyerah begitu saja mengikuti selera pasar secara mentah-mentah, maka saya berusaha rajin mengiklankan link karya saya di platform digital ke social media.

Yeah, era digital bagi penulis jadul benar-benar melelahkan. Tetapi jangan menyerah wahai penulis jadul, mau tidak mau zaman memang pasti berubah dan kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri kecuali cepat mati tergilas. Tetap semangat berkarya untuk saya sendiri khususnya dan teman-teman penulis jadul yang masih berjuang menyesuaikan diri. Semangat!

YOUTUBE CHANNELS SERIBULANGKAH

Akhirnya saya membuat YOUTUBE CHANNELS juga untuk SERIBULANGKAH karena memiliki banyak video dan foto perjalanan yang bisa teman-teman ikuti secara visual. Detail cerita perjalanan di blog ini, tetapi jika ingin mengikuti diary SERIBULANGKAH secara visual bisa di YOUTUBE. Teman-teman subscribe dong….. Terima kasih.

Akan banyak video-video di sana. Berikut linknya…