CERITA DARI PASAR CHOWRASTA

Pukul 7 pagi, saya keluar penginapan untuk menghirup udara pagi Penang, Malaysia. Orang-orang sering menyebutnya Pulau Pinang karena kota ini memang terletak di kepulauan kecil yang masih masuk dalam wilayah Seberang Parai.  Di kalangan orang Indonesia, Penang lebih terkenal sebagai tempat berobat karena memiliki beberapa rumah sakit yang bagus. Padahal tak hanya itu, Penang juga memiliki George Town, salah satu kota yang masuk daftar Unesco Heritage Site karena berhasil melestarikan bangunan bersejarah dari abad lampau.  Bangunan-bangunan tua cantik perpaduan arsitektur Eropa dan Asia yang difungsikan sebagai toko, cafe, restoran dan tempat tinggal ini bisa anda temui saat berjalan-jalan menyusuri George Town.

Tujuan saya pagi ini ke Pasar Chowrasta. Ide mengunjungi pasar ini datang dari seorang sahabat yang menitipkan pesannya ke salah satu penjual buku di Pasar Chowrasta. Tetapi Pasar Chowrasta yang berdiri sejak 1890 dan telah mengalami beberapa perbaikan ini memang menjadi salah satu tujuan wisata. Terletak di perempatan pusat kota tepatnya di jalan Lebuh Tamil, pasar tradisional ini menjual bermacam kebutuhan mulai dari jajanan, sayur mayur, daging, sembako, pakaian dan buku. Di sebelah pasar ini juga terdapat deretan tenda-tenda kecil yang berjualan makanan seperti cendol, rujak, es campur yang menurut saya sangat enak.

Setelah menyusuri lantai 1 pasar Chowrasta, saya naik ke lantai 2, tempat deretan lapak penjual buku berada. Tidak susah untuk menemukan lapak yang dimaksud sahabat saya untuk dikunjungi. Pemiliknya bernama Pakcik Iskandar, lelaki India yang ramah berusia sekitar 60 tahun. Kawasan pasar ini pada pertengahan abad 19 memang banyak dihuni suku Tamil yang berasal dari India Selatan, salah satunya nenek moyang Pakcik Iskandar. Meskipun sekarang populasi orang-orang India di sekitar kawasan Chowrasta mengecil, namun kita masih bisa menemukannya di pasar ini.

 

 

Pakcik Iskandar yang mencintai buku ini sejak muda sudah berjualan di Chowrasta. Koleksi bukunya cukup lengkap terdiri dari buku-buku baru dan buku bekas dari penulis berbagai negara seluruh dunia termasuk buku dari Indonesia. Saya menemukan buku-buku terbitan tahun 1945-1950-an dengan kondisi kertas masih bagus dan harga terjangkau. Pak Iskandar juga mempersilakan saya menawar harga yang beliau ajukan untuk mendapatkan harga yang bagus.

 

Saya kemudian membeli buku LITTLE BOY LOST dari penulis Inggris Marghanita Laski terbitan tahun 1949 yang bercerita tentang laki-laki yang mencari anaknya yang hilang di Perancis selama masa perang dan buku MERRIE ENGLAND dari penulis Paul Johnson terbitan tahun 1964. Ada beberapa buku tua tentang sejarah Melayu yang ingin saya beli tetapi harganya lumayan mahal sehingga saya batal membelinya. Pak Iskandar menguasai semua isi buku yang dijualnya dan menjelaskan setiap detail buku dengan gamblang ke pelanggannya.  Bahkan ketika beberapa orang generasi milenial datang mencari buku romans remaja, Pak Iskandar langsung tanggap dan memahami buku yang dimaksud. Baginya buku adalah denyut nadi kehidupannya dan jalan rezekinya. Meski dunia digital bisa jadi akan menenggelamkan semua buku-buku yang dijualnya, beliau selalu percaya rezeki akan menghampirinya melalui sesuatu yang dicintainya.

Hampir dua jam saya berbincang-bincang tentang Penang dan buku di lapaknya sambil melihatnya melayani pelanggan. Saya sempat menanyakan apakah pelanggannya banyak mencari buku dari penulis Indonesia? Menurut Pakcik Iskandar selalu ada yang mencari buku-buku tokoh Indonesia seperti Soekarno atau tokoh-tokoh Indonesia lainnya tetapi sayang koleksinya dari Indonesia sedikit. Dulu Pakcik sering datang ke Indonesia untuk mengambil buku-buku yang akan dijualnya sebelum kerjasamanya dengan salah satu penerbit berakhir karena penerbit itu tutup.Pasar selalu menghadirkan kehidupan khas manusia-manusia di kota yang ditinggalinya. Pakcik Iskandar dengan koleksi buku-bukunya adalah inspirasi bagi saya untuk bisa memahami bahwa cinta pada buku tak harus mati dengan banjirnya dunia digital. Karena begitulah cinta yang sebenarnya, tak mudah menyerah pada perubahan.

 

 

MENJENGUK MASA LALU.

Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart” ~ Haruki Murakami

Lebaran ini saya pulang ke kampung masa kecil saya setelah 4 lebaran sebelumnya saya lewatkan di tempat lain. Terletak di pesisir Laut Selatan, sebenarnya  kampung masa kecil saya ini  sudah menjadi kota. Jalanan mulus, gang-gang yang sudah dicor rapi, rumah-rumah yang berdiri bagus dengan sanitasi yang memadai dan terdapat ruang publik untuk hiburan masyarakat . Jika saat saya kecil dulu jalanan depan rumah hanya dilewati kerbau yang mau ke sawah, sekarang menjadi jalur utama yang sangat ramai.  Motor yang pengendaranya tanpa helm ngebut bak balapan di sirkuit, mobil yang lalu lalang memasuki gang, pemuda-pemuda tanggung berambut stylis dengan cat merah, pirang, ungu di puncaknya, gadis-gadis ber-make-up lengkap dengan gaya fashioanable dan tak ketinggalan makanan-makanan kota seperti burger, sosis, fried chicken dijual di sini. Tidak bisa dihindari, kampung masa kecil saya telah lenyap dan berubah menjadi kota.

 

Bagi saya, pulang ke tempat ini adalah menjenguk masa lalu. Masa lalu yang menjadikan saya seperti sekarang. Seandainya rumah tidak bisa rusak, kami sekeluarga lebih suka membiarkan bangunan lama tetap berdiri tanpa polesan sesuatu yang baru, agar kami bisa sama-sama mengais kenangan ; makan bersama di wajan bekas memasak ikan kecap, tidur di tikar pandan, menggoreng satu telur dibagi banyak orang, membaca buku berulang-ulang karena buku waktu saya kecil sangat langka, meminta Bu Guru membuka perpustakaan agar saya dapat membaca buku lain, berebut wafer di kaleng Kong Guan dan melihat orang berjalan di hutan yang jauh dari kamar kami.

Tidak hanya kenangan-kenangan bersifat fisik yang saya kais dari masa lalu saya di tempat ini, tapi juga pemikiran-pemikiran saya di masa kecil.  Saya dibesarkan oleh ibu yang suka membaca dan menginginkan anak-anaknya lebih maju. Meski pendidikan ibu hanya tamat SMP, tetapi dari bacaannya yang banyak, beliau bisa memandang lebih luas ketimbang orang-orang di sekelilingnya. Dan begitulah saya dibesarkan. Di tengah banyak luka perjalanan hidup keluarga saya, saya dididik menjadi perempuan mandiri dan tidak hanya bercita-cita untuk menikah. Memasuki usia SMP saya haus bacaan dan informasi sementara akses bacaan dan informasi sangat sulit. Kami tidak memiliki televisi dan antena radio jarang bisa sampai. Maka saya mengirim surat-surat ke berbagai penjuru Indonesia melalui kolom sahabat pena yang ada di majalah remaja yang dipinjamkan ibu untuk saya. Dari surat-surat itulah saya bertukar pikiran dengan banyak teman di banyak tempat di Indonesia dan bercita-cita suatu ketika saya akan pergi lebih jauh untuk bertemu mereka. Ketika teman-teman seusia saya mulai puber dan sibuk pacaran, saya haus informasi dan jatuh cinta pada buku.

 

Masa remaja saya menjadi sedikit beda dengan teman-teman saya. Jika teman-teman memandang saya sebagai pendiam, sebenarnya pikiran saya bergolak. Saya sedikit pemberontak, antimainstrem dan benci feodalisme.  Ketika orang di sekitar saya bangga bergaul dengan pejabat serta nepotisme, saya membenci sikap-sikap itu. Bergaul bisa dengan siapa saja asal itu menyenangkan dan bermanfaat, tidak perduli siapapun dia. Saya juga berpikir bahwa cita-cita tidak harus menjadi PNS (kamu bisa menjadi apa saja, asalkan bisa memaksimalkan potensi dirimu), perempuan tidak hanya bertugas menikah dan beranak pinak, perempuan harus bisa dipandang karena kepandaiannya bukan hanya karena fisiknya yang menawan dan perempuan tidak harus berkulit putih agar tidak dicaci maki.  Saya tidak mampu mengungkapkan pikiran-pikiran saya yang bergolak itu melalui ucapan kecuali melalui sedikit tulisan saya dan menerapkan dalam kehidupan saya sendiri.

Melihat kehidupan teman-teman saya, saya seringkali merasa kehidupan saya berhenti. “Saya hanya begini-begini saja, sementara orang lain sudah berjalan jauh.” Tetapi kenyataannya hidup ini terus berjalan dan berubah.  Setiap mengais kenangan di tempat ini, saya melihat saya banyak berubah ; cara pandang saya, cara saya menghadapi masalah dan memperlakukan orang lain. Tetapi perubahan itu tidak menjauh dari pemikiran-pemikiran saya di masa kecil dan remaja. Jika dulu saya tersiksa dengan lingkungan yang memvonis saya, sekarang saya bisa memahami bahwa cara pandang saya memang berbeda dengan mereka sehingga mereka mungkin sulit menerima cara pandang saya. Maka saya sekarang bisa tersenyum menghadapi cara pandang mereka terhadap saya.

 

Ada perasaan senang sekaligus sedih melihat tempat masa kecil saya ini menjadi kota.  Saya kehilangan hal-hal eksotis yang dulu saya miliki di tempat ini, tetapi itu tidak bisa ditolak lagi. Semua tempat cepat atau lambat telah menjadi kota. Serbuan budaya kota mengalir deras melalui internet tanpa batas. Semua trend yang ada di kota dengan mudah diadopsi semua orang di manapun lokasinya asal terjangkau signal. Semoga yang terserap hal-hal yang baik dan bermanfaat yang akan merangsang pemikiran-pemikiran untuk lebih maju, bukan malah mundur.

Namun, jika semua tempat telah menjadi kota, semoga saya masih bisa menyimpan barang-barang masa lalu di tempat ini untuk mengais kenangan. Agar saya tidak lupa dari mana pemikiran-pemikiran berbeda saya pada masa kini berasal.  Saya akan menjenguknya selama umur masih ada.

 

 

BRUNEI DARUSSALAM : NO SMOKING, NO TIPPING! (PART 2)

“Peace cannot be kept by force ; it can only be achieved by understanding, ~ Albert Einstein.

Hari kedua di Brunei Darussalam, saya merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat turistik seperti Regalia Museum dan Masjid Omar Ali Saefuddin.  Karena menunggu bus lewatnya sangat lama, maka saya memesan taksi online (DART) yang beroperasi seperti GRAB atau GOCAR kalau di Indonesia. Selain angkutan umum sangat jarang, kebanyakan warga menggunakan mobil untuk transportasi. Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil kancil dengan pengemudi muda menjemput saya.  Begitu mobil melaju di jalanan menuju Regalia Museum, pengemudi muda ini banyak mengajak saya ngobrol, mulai dari menunjukkan tempat yang menarik dikunjungi di Brunei, sampai obrolan tentang Jakarta.  Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai Regalia Museum dan pengemudi muda itu menolak kembalian ongkos taksi online yang sengaja saya tinggalkan untuknya. Ia mengembalikan tepat sesuai angka sen terkecil.  Sikap ini mendadak membuat saya nyaman berada di negera kecil ini.  Tidak hanya no tipping, negeri ini juga no smoking. Sejak tahun 2012  merokok tidak diperbolehkan di negera ini. Jika tertangkap polisi harus membayar denda yang cukup besar.  Brunei merupakan satu negara bebas rokok terluas di dunia.  Tidak ada smoking room dimanapun bahkan dikamar mandi dipasang signboard “no smoking”.  Di areal luar-pun dilarang merokok dengan alasan, semua orang berhak atas udara yang bersih, jadi jangan sampai tercemar oleh asap rokok orang lain.

Regalia Museum

 

Regalia Museum berada tepat di tengah kota Brunei Darussalam dan berisi koleksi tribute to Sultan. Berisi koleksi foto-foto Sultan dari masa kecil hingga dewasa, kunjungan-kunjungan berbagai negara ke Brunei Darussalam dan cinderamata dari berbagai negara. Pengunjung hanya boleh memotret di luar ruangan koleksi, sementara di bagian dalam hanya diperbolehkan melihat-lihat. Saya menemukan banyak cinderamata dari Indonesia terpajang di koleksi bagian dalam berjejeran dengan cinderamata dari berbagai negara lain.

Areal dalam Regalia Museum

 

Udara di luar sangat panas menjelang waktu dhuhur saat saya berjalan ke arah  belakang museum sekitar 100 meter tempat masjid Omar Ali Saefuddin berdiri.  Dengan gaya arsitektur Mughal Islam dan Italia, masjid ini selesai dibangun pada tahun 1958.  Nama Omar Ali Saefuddin diambil dari nama Sultan Brunei ke-28. Di sekitar masjid ini terdapat laguna atau kolam buatan di tepi sungai di Kampong Ayer serta replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke -16. Kubah masjid Omar Ali Saefuddin dilapisi emas murni dengan tinggi bangunan 52 meter sehingga dapat dipandang dari berbagai tempat di Brunei Darussalam.

Bagian dalam Masjid Omar Ali Saefuddin

 

Saya menghabiskan waktu hingga waktu taraweh di masjid Omar Ali Saefuddin ini. Selain mengambil foto juga ngobrol dengan pekerja migran dari Indonesia, Bangladesh dan India. Bahkan saya berbuka puasa di pelataran masjid dengan mereka dengan makanan yang disalurkan penduduk lokal ke masjid. “Saya dulu bekerja rumah tangga, tapi sekarang sudah punya usaha sendiri, jualan jamu,” kata pekerja dari Indonesia yang sudah di Brunei selama 18 tahun, bahkan satu anaknya sudah sekolah di sana. “Setahun saya pulang ke Jawa dua kali, “tambahnya. Banyak saudara kita bekerja di Brunei, bahkan saya selalu menemukan orang-orang Jawa di semua restoran tempat saya makan, rata-rata mereka sudah bekerja minimal 4 tahun dan akan kembali lagi.  Taraweh di Brunei 23 rakaat, tetapi beberapa jamaah yang memilih 8 rakaat menunggu di luar untuk kemudian bergabung lagi saat witir.  Di luar masjid saat taraweh juga tersedia banyak makanan gratis yang bisa diambil para jamaah atau siapa saja yang sedang berada di masjid.  Malam itu karena sudah lelah, saya memutuskan segera kembali ke hotel dan melanjutkan explore esok harinya.

Istana Nurul Iman, tempat kediaman Sultan

 

Hari berikutnya saya masih menggunakan DART untuk ekplore Brunei, dan kali ini dijemput dengan mobil Fortuner. Pengemudinya pendiam, sehingga saya tidak banyak ngobrol. Tujuan saya banyak sebenarnya, namun ternyata hampir semua lokasi tidak sama dengan bayangan saya. Kebanyakan lokasi yang saya kunjungi sepi sehingga saya seperti orang aneh jalan-jalan tidak jelas menyusuri lokasi wisata itu.  Pertama mengunjungi Istana Nurul Iman yang sepi dan hanya bisa melihat di depan pagarnya. Kedua saya mengunjungi pasar Kiangeh yang juga hanya ada beberapa penjual sayur. Lalu saya melanjutkan perjalanan ke Kampong Ayer. Ini agak lebih menarik ketimbang dua tempat sebelumnya.

Kampong Ayer

 

Kampong Ayer (kampung air) merupakan kawasan pemukiman yang secara historis merupakan pemukiman penting di Brunei. Pemukiman yang dibangun di atas sungai Brunei memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari sekolah, kantor polisi, kolam renang, hingga museum.  Satu bagian tampak dengan bangunan lebih tua sementara bagian lain sudah menggunakan beton dan sangat bagus. Saya hanya sempat menyusuri beberapa bagian karena ingin berkeliling menggunakan perahu.  Selama beberapa abad Kampong Ayer menjadi pusat ekonomi dan sosial yang penting di Brunei hingga awal imperialisme Inggris di Brunei.  Dari Kampong Ayer ini, saya memutuskan menyewa perahu untuk menyusuri sungai hingga ke pasar Gadong.  Jadi perjalanan saya tidak hanya menjelajah daratan namun juga melalui sungai.

Kampung Ayer

 

Sore menjelang buka puasa, saya mengunjungi pasar Gadong untuk berbuka puasa di sini bersama warga lokal yang antri belanja di pasar Gadong dan sebagian buka puasa di sini. Tulisan tentang Pasar Gadong, nanti akan saya tuliskan tersendiri.  Seminggu di Brunei Darussalam meninggalkan kenangan yang menarik buat saya. Negeri yang sepi namun tenang ini ramah dan nyaman untuk dikunjungi.  Saya memang tak mendapatkan tempat wisata sesuai impian saya, tetapi keramahan penduduknya dan ketenangan negara ini mempesona.