Tag Archives: traveling

MEMASUKI THE WHITE HOUSE, MANILA AMERICAN CEMETERY & MEMORIAL

Pemakaman tentara Amerika ini memang menjadi salah satu tempat wisata yang ingin saya kunjungi di Manila. Tetapi tidak pada hari pertama ketika saya baru saja keluar rumah dan hanya ingin melihat-lihat sekeliling. Saya ingin punya waktu khusus untuk berkunjung ke pemakaman ini karena pemakaman buat saya lebih menarik ketimbang mall.

Tetapi, sore itu setelah beberapa menit perjalanan keliling pusat kota Manila, mendadak mobil yang saya tumpangi memutari sebuah bundaran. Lalu di kejauhan tampak barisan nisan putih yang sangat banyak.

“What is that?” tanya saya pada sopir.

“It is the white house,” jawabnya tertawa.

Aku bengong memandangi gerbang tinggi menjulang yang dijaga dua orang penjaga berseragam biru dengan wajah yang ramah.

“Sorry, just kidding. It is American Cemetery,” ralat sopir. “You wanna go inside or just passing by?”

Hmm, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya memutuskan masuk ke areal pemakaman. Setelah menunjukkan kartu identitas ke penjaga dan mereka mengecek keamanan mobil, kami masuk ke areal pemakaman tanpa dipungut biaya. Pemakaman ini buka mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore kecuali tanggal 25 Desember dan 1 Januari.

Begitu memasuki areal pemakaman, mata saya disergap pemandangan ribuan nisan berwarna putih yang berbaris rapi bahkan menurut saya komposisinya enak di lihat hingga bisa dibilang artistik. Pohon-pohon besar dan rindang menaungi nisan-nisan itu, sementara rumput halus menghijau seperti permadani menghampar di sepanjang areal pemakaman. Mobil pemotong rumput dan orang lokal petugas kebersihan makam  sibuk mondar-mandir membersihkan bagian-bagian yang kotor seolah tak akan dibiarkan pemakaman ini kotor sedikt saja. Di kejauhan tampak pegunungan menjadi latar pemandangan sementara di sisi lain gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi.

Saya membayangkan tentara-tentara Amerika yang tidur di bawah sana begitu tenang dan damai berada di tempat sebagus ini, seluas ini dan sebersih ini meskipun pada kenyataannya Amerika pernah memerintah Filipina selama sejak 1898 hingga 1935 karena pada tahun 1935 itu Filipina menjadi negara persemakmuran Amerika. Kemudian Filipina baru mendapatkan kemerdekaannya di tahun 1946.

Pemakaman yang berdiri di areal seluas 62 hektare ini khusus dibuat untuk tentara Amerika yang meninggal dalam Perang Dunia II saat melawan Jepang.  Ada sekitar 16 ribuan lebih tentara yang di makamkan di sini dan 36 ribu lebih nama-nama tentara yang hilang dalam perang diabadikan dalam monumen di tengah pemakaman dekat sebuah kapel kecil. Pemakaman ini terletak di Global City, Taguig, Metro Manila dan dibiayai oleh ABMN (American Battle Monumens Commision).

Menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi, pemakaman tentara Amerika ini dipelesetkan sebagai The White House karena deretan nisannya yang putih dan monumen-monumennya yang kebanyakan juga berwarna putih.

 

 

YANG DIRINDUKAN DARI PERJALANAN

Perjalanan sekarang seperti angan-angan yang jauh. Pandemi menghancurkan semua tiket perjalanan yang saya miliki. Setidaknya tiga rencana traveling tahun 2020 yaitu ke China, Timor Timur dan Eropa. Bagusnya semua tiket perjalanan bisa direfund 100% karena memang pesawatnya tidak berangkat. Dalam kondisi seperti ini, sedih dan stuck sudah pasti, tetapi apa sih sebenarnya yang paling saya rindukan dari perjalanan?

Ada beberapa hal yang saya rindukan dari perjalanan mulai dari menyusuri tempat-tempat baru, nyasar dan menemukan hal aneh sampai teman-teman perjalanan yang kadang menyebalkan atau juga menyenangkan. Setiap perjalanan ada ceritanya masing-masing yang selalu sangat menarik buat saya. Tetapi yang paling saya rindukan adalah bertemu orang-orang lokal, bergaul dengan mereka untuk mengetahui kehidupan mereka dan mencecap keramahan mereka. Kejadian-kejadian spontan kebaikan orang lokal ini selalu saya rindukan saat saya lama tidak melakukan perjalanan. Sayangnya beberapa kejadian tidak terekam dalam kamera karena benar-benar spontan. Jadi mungkin cerita dan fotonya tidak bersesuaian.

Saya mengingat beberapa pertemuan menyenangkan dari perjalanan saya. Tahun 2016 saya pergi ke China. Saya nyasar ketika mencari penginapan saya dan semua orang hanya bisa berbahasa China. Semua tulisan jalan juga berbahasa China. Saya benar-benar hampir putus asa ketika itu ditambah lagi saya kelaparan. Tiba-tiba saya melihat rumah makan kecil di pinggir jalan milik orang muslim. Saya mampir dan membeli makanan. Sebenarnya toko itu belum buka, tapi melihat saya dan teman saya kelaparan serta kebingungan sepertinya pemilik toko kasihan. Saya kemudian dipersilakan makan bahkan ketika saya membayar dia menolak. Katanya kita satu saudara seiman, anda tidak usah bayar, kita saling mendoakan saja.

Di perjalanan yang lain pada tahun 2011 saat saya ke Korea, saya bersama seorang teman juga nyasar saat mencari salah satu gedung. Tiba-tiba seorang cowok bersedia mengantar saya sampai ke gedung itu menggunakan mobilnya. Awalnya saya ketakutan saat masuk mobil, tapi ternyata cowok itu benar-benar mengantarkan saya ke gedung yang saya cari. Teman saya memberikan souvenir dari Indonesia, lalu kami berpisah. Tak hanya itu, saat saya dan teman saya kelaparan, kami masuk ke kedai kecil di Korea. Seorang wanita paruh baya melayani kami dengan ramah bahkan menunggui kami makan. Kedai itu berasa kedai privat buat kami. Meskipun tidak bisa berbahasa Inggris tetapi ibu ini memahami komunikasi bahasa tubuh yang kami gunakan. Bahkan saat kami bingung mencari terminal, dua orang wanita mengantar kami hingga terminal. Kejadian di Korea ini benar-benar membuat saya rindu kembali ke sana.

Tahun 2019 saat ke Rusia, entah sudah berapa kali saya dan teman-teman kebingungan mencari alamat rumah. Sampai salah masuk ke sana dan ke mari berjam-jam. Tetapi selalu ada orang yang menolong kami. Memang sebagian mereka tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka berusaha menolong kami menemukan tempat yang kami cari. Bahkan membantu mengangkat koper kami tanpa mau dibayar.

Tahun 2017, saat saya pergi ke Geneva Swiss, saya ketiduran di tram karena sangat capek. Seorang penumpang membangunkan saya dan bilang kalau saya sudah sampai tempat tujuan. Sepertinya dia memang mendengar saat saya dan teman-teman menyebutkan tempat tujuan saya. Di Belanda juga saya mengalami hal spontan menyenangkan saat tidak bisa pulang karena tram berhenti. Waktu itu ada pertandingan bola dan kondisi jalanan banyak orang lalu lalang. Semakin malam akan semakin ramai bahkan banyak orang mabuk maka disarankan segera pulang, sayangnya tidak ada tram. Seorang wanita yang kebetulan juga menunggu tram kemudian mengajak kami jalan agak jauh ke stasiun yang lain. Dari stasiun ini, saya kemudian bisa mendapatkan tram menuju penginapan. Ternyata wanita ini rumahnya tidak jauh dari lokasi penginapan saya. Sementara di Paris, saat ke masjid saya bertemu seorang gadis yang belum lama menjadi mualaf. Gadis ini bahkan menjadi teman baik saya hingga saat ini. Kami masih bertukar kabar dan berbagi cerita.

Tahun 2019, saya ke Vietnam dan menjelajahi beberapa pasar bukan untuk belanja tapi untuk bertemu beberapa orang yang ingin saya tulis kisahnya. Ternyata saya menemukan banyak orang menarik di beberapa pasar ini. Mereka terbuka dan penuh perhatian. Saya merasa sangat bahagia bertemu mereka. Hal-hal seperti ini sebenarnya yang paling saya rindukan dalam perjalanan. Moment-moment yang spontan, jujur dan penuh ketulusan ini tidak sering saya dapatkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Kapan bisa traveling lagi? Saya merindukan mereka.

6 KEJADIAN HOROR SAAT TRAVELING

Sebelum berangkat traveling kita biasanya  excited sama hal-hal menyenangkan ala-ala liburan.  Kalau saya selalu tidak sabar untuk bertemu hal-hal baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Entah itu sebuah kota, bangunan, orang-orangnya dan yang paling menarik tentu budayanya. Saya juga sangat suka menjalin pertemanan dengan orang-orang baru yang saya temui di perjalanan. Rasanya kebahagiaan saya meledak saat bisa berkomunikasi dengan mereka dan berbagi tawa dengan mereka. Tetapi ternyata nggak semuanya seperti imajinasi sebelum berangkat. Banyak kejadian horror mulai dari hantu sampai orang-orang di perjalanan yang membuat perjalanan menjadi lebih dramatis. Apa aja sih, yang pernah saya alami? Ini beberapa kisah horror yang pernah saya alami saat traveling.

  1. GADIS KECIL BERKEPANG SATU

Veliky Novgorod adalah kota tua yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di sana banyak bangunan-bangunan tua bersejarah ataupun gedung-gedung apartemen yang bangunannya memang sudah sangat tua. Nah, saya menginap di salah satu apartemen yang berada di bangunan tua itu bertetangga dengan seorang wanita tua yang tinggal bersama kucingnya. Saya lihat banyak wanita-wanita tua yang hidup sendirian di apartemen bersama kucingnya.  Pemilik apartemen seorang wanita paruh baya yang tidak bisa berbahasa Inggris tetapi untungnya kami bisa saling memahami menggunakan bahasa isyarat dan kertas print bukti sewa apartemen. Si pemilik langsung pergi begitu saya menyelesaikan pembayaran.

Begitu mendorong pintu gedung tua ini, saya disergap suasana muram dan sepi. Saya merasa ada yang mengamati dari sudut-sudutnya. Cat dinding yang kelabu dan debu yang menempel di setiap sisinya membuat pemandangan menjadi menyeramkan. Apartemen yang saya sewa ada di lantai 4 tanpa lift jadi saya harus mengusung koper saya melalui tangga tua yang sudah rompal pinggirannya. Saya menyesal membawa koper bukan ransel seperti biasanya. Begitu sampai di lantai 4 dan membuka apartemen yang saya sewa, entah kenapa saya merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Itu tadi, saya merasa ada yang mengawasi diam-diam. Tetapi sudah malam dan lelah maka saya mengabaikan itu.

Apartemen ini lumayan luas, ada empat tempat tidur meski dua antaranya sofa bed,  balkon, satu kamar mandi, satu dapur beserta semua perlengkapannya dan gudang kecil yang ada di dekat kamar tidur dalam. Gudang ini kosong, hanya ada cantolan baju saja dan perlengkapan jas hujan.  Saya menyewa apartemen ini bersama beberapa teman, dan memilih kamar dalam yang dekat dengan gudang.  Usai membersihkan diri, saya membaringkan tubuh karena kecapekan sementara beberapa teman mencari makan malam. Saya menitip makanan ke mereka dan memanaskan air di dapur untuk membuat minuman hangat. Suhu sekitar 13 derajat celcius, tidak terlalu dingin meskipun untuk orang tropis seperti saya tetap saja menggigil. Begitu mereka pulang saya langsung makan malam dan tidur lebih dulu.

Ketika membaringkan tubuh di dipan bersprei putih itu, saya masih merasa ada sesuatu yang mengawasi saya diam-diam. Saya jadi tidak nyaman tidur di samping gudang kecil itu. Tetapi saya mengabaikannya dan mencoba berdoa. Di luar terdengar ramai sekali suara orang sedang pesta, mungkin di sebelah apartemen ini bar atau tempat nongkrong-nongkrong. Sementara teman-teman masih ribut makan malam dan memilih-milih foto di handphone mereka. Saya terlalu capek sehingga terlelap lebih dahulu.

Tiba-tiba saya melihat gadis kecil berusia sekitar 13 tahun, berperawakan ramping, rambutnya yang pirang dikepang satu, mengenakan baju atasan warna broken white dengan kerah bundar dipadu dengan rok pendek kain planel kotak-kotak merah, tampak rapi dan manis dimasukkan dengan sabuk. Gadis kecil ini keluar dari gudang di samping saya sambil tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya mengajak saya salaman lalu mengucapkan sesuatu dalam bahasa Rusia, saya seperti memahami bahwa itu ucapan selamat datang. Saya bangkit dari tempat tidur dan menyalami gadis itu dengan senang. “Terima kasih,” jawabku. “Saya akan tinggal di sini beberapa hari.” Lalu, setelah bersalaman cukup lama, saya ingin melepaskan tanganku. Mendadak tangan gadis itu terasa sangat dingin, dan ia tidak mau melepaskan tanganku. Ia menarik tanganku dengan kuat sampai aku jatuh terperosok ke dalam gudang kecil itu. Gadis itupun tertawa cekikikan melihatku jatuh, tawanya sangat menakutkan.

Saya berteriak-teriak ketakutan dalam mimpi yang membuat teman-teman yang belum tidur lari ke arahku dan membangunkanku. Saya bangun dengan ketakutan lalu menoleh ke gudang di sebelah saya. Tetap saja saya merasa ada yang mengawasi dari sana, akhirnya sepanjang malam saya menyalakan lampu padahal saya tidak bisa tidur menggunakan lampu. Kejadian itu membuat kami semua waspada dan tidak membiarkan salah satu dari kami sendirian. Tetapi meski kejadian selanjutnya teman yang lain justru melihat secara nyata penampakannya, saya tidak diganggu lagi. Mungkin itu ucapan selamat datang dan saya tidak diganggu lagi.

  1. SIAPA YANG MEMANGGIL NAMAKU?

Siem Reap Kamboja terkenal dengan eksotisme masa lalunya yang berupa candi-candi tua. Tetapi di sana juga banyak hotel-hotel dengan bangunan yang sudah tua. Saya memesan hotel itu dari aplikasi karena harganya miring dan mendapatkan sarapan yang berlimpah berupa prasmanan. Tetapi ternyata hotel ini banyak yang menunggu tanpa bisa dilihat oleh mata tamu-tamunya.

Halaman hotel ini teduh sekaligus gelap karena banyak tumbuhan. Kamar saya ada di lantai dua. Begitu memasuki kamar saya sudah disambut dengan lukisan wanita berbaju tradisional warna putih dengan rambut lurus panjang berponi dan mata menatap ke siapa saja di depan lukisan. Mata gadis dalam lukisan itu seperti hidup. Sangat menganggu dan menakutkan. Tetapi saya mengabaikan semua perasaan tidak enak itu dan berusaha untuk istirahat. Sangat melelahkan perjalnaan naik bus umum dari Phnom Penh selama delapan jam. Saya langsung tidur setelah membersihkan badan dan mengganti baju.

Tiga jam tidur, waktu saya terbangun tiba-tiba lantai di kamar itu banjir. Baju-baju yang saya letakkan di lantai karena kecapekan untuk memasukkan ke dalam ransel basah semua. Anehnya basahnya hanya di samping tempat tidur saya. Saya mengecek apakah ada kebocoran dari kamar mandi atau AC ternyata tidak ada, lagipula AC ada di sisi yang lain. Tetapi saat melaporkan kondisi ini ke resepsionis mereka bilang kemungkinan AC-nya rusak. Baik, saya bisa menerima, memang mungkin saja AC-nya rusak meski saya melihatnya baik-baik saja. Saya hanya merasa ada yang tidak beres. Dan benar saja, setelahnya teman saya bermimpi seseorang memasuki kamar melalui jendela dan memaksa untuk masuk. Teman saya sampai teriak-teriak karena ketakutan. Akhirnya kami-pun pindah ke kamar lain bersama beberapa teman lain.

Di kamar lain ini lebih luas dan terang suasananya. Ada 4 bed besar sehingga kami bisa berbagi. Tetapi  saya merasa tidak nyaman memasuki kamar mandi entah kenapa. Karena banyak teman, malam itu saya bisa tidur dengan nyaman. Baru kemudian terjadilah hal menakutkan itu. Seorang teman ke kamar mandi sekitar dini hari, teman-teman yang lainnya termasuk saya masih tidur. Tiba-tiba teman yang baru keluar dari kamar mandi membangunkan saya dan bertanya, “kamu barusan nggedor-nggedor pintu kamar mandi dan manggil aku?” Saya bingung karena semua yang ada di kamar sedang tidur. “Nggak tuh, aku lagi tidur, yang lain juga tidur.” Temen saya mulai panik. “Jadi siapa yang barusan manggil-manggil aku?” Teman saya langsung masuk ke selimutnya dan menutup mukanya dengan selimut, sayapun melakukan hal yang sama. Untung esok harinya kami kembali ke Jakarta, jadi tidak terulang lagi kejadian yang lain.

  1. WANITA BERBAJU PUTIH BERMUKA MENGERIKAN

Suatu hari di tahun 2010, saya masih bekerja kantoran dan sangat jenuh. Saya mengambil cuti dengan alasan ingin istirahat tetapi malah saya gunakan kesempatan ini untuk traveling ke Sulawesi Selatan. Ini kejadian paling mengerikan yang pernah saya alami. Apalagi itu pertama kalinya saya traveling. Masih belum pengalaman dan hanya berbekal nekat saja.  Melalui internet saya memesan hotel yang bagus dan murah menurut saya. Saya ingin merasakan suasana tinggal di hotel yang bangunannya seperti rumah adat mereka. Tetapi begitu sampai lokasi hati saya langsung ciut seciut-ciutnya.  Gimana enggak? Hotel itu besar sekali dan tamunya sangat jarang. Mungkin karena memang bukan waktunya liburan atau mungkin lokasinya jauh dari pusat kota jadi susah dijangkau kendaraan. Saya dan teman saya menghuni satu kamar di sebuah gedung yang tidak ada orang sama sekali. Begitu masuk kamar saya sudah ngeri sendiri karena bakal kesepian. Tetapi kejadian mengerikan itu bukan di kamar yang ini meskipun tanda-tandanya sudah berasa.

Esoknya saya pindah ke kamar lain yang lebih besar nyaris seperti pavilion. Berbentuk panggung saya harus naik tangga kayu untuk sampai pintunya. Begitu membuka pintu mulai terasa hal-hal yang tidak enak itu. Lampunya yang temaram dan perabotan yang tua. Males banget lihatnya. Sama sekali bukan hal romantik tetapi malah mengerikan. Begitu ke kamar mandi, saya ragu mau masuk karena kamar mandi itu luas sekali. Ada tiga ruangan besar mulai dari bathup, pancuran, toilet hingga kaca besar-besar untuk berhias. Saya ketakutan waktu mandi karena merasa ada yang memerhatikannya. Bagaimana kalau mendadak sesuatu muncul di bathup atau di kaca? Saya akhirnya membuka pintu kamar mandi dan meminta temen saya menemani di samping pintu. Oke, kegiatan mandi berlangsung aman. Saya menghela napas lega.

Tetapi malamnya sekitar jam 11 malam saat saya sedang menerima telepon tiba-tiba teman saya yang sudah tidur teriak-teriak keras. Ia berlari ke pembaringan saya sambil ketakutan dan menangis. Ada apa sih? Itu, itu! Katanya sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di depannya. Ada apaan? Aku nggak ngelihat apapun. Saya mengambil minum untuk teman saya dan menenangkannya.  Dia masih menangis. “Kamu tadi bangunin aku, tapi pas aku bangun aku lihat kamu pake baju putih panjang, rambut panjang dan wajahmu nakutin,” katanya terus menangis. Saya memang merasa ada yang mengawasi sejak datang di kamar ini, akhirnya semalaman kami tidak tidur. Semua lampu saya nyalakan dan suara murotal dari handphone membelah malam. Untung hanya semalam di kamar itu. Pagi hari belum waktunya check out saya sudah buru-buru keluar dari kamar dan meninggalkan hotel itu.

  1. WAJAH DI CERMIN MUSEUM

Saya menyukai museum, karena dari museum saya belajar banyak hal tentang masa lalu. Nah, siang itu sepulang mengantar teman di daerah Jawa Barat, saya mampir ke salah satu museum yang sangat terkenal di tempat itu. Tidak usah saya sebut nama museumnya ketimbang jadi takut ke sana.  Sebuah museum dengan bangunan rumah kuno yang cantik dan halaman yang luas sangat asri. Ketika saya berkunjung tidak ada pengunjung lain karena sudah sore. Seorang penjaga mengantarkan saya masuk tetapi saya sudah merasakan ketidaknyamanan saat memasuki lorong menuju ruang utama. Penjaga menjelaskan barang peninggalan ini itu dan saya nyelonong masuk ke salah satu ruangan yang di dalamnya penuh barang masih asli dari masanya. Wah, menarik nih, saya kemudian mengeluarkan kamera digital saya.

Di ruangan itu ada satu cermin berbentuk lonjong berdiri, satu lemari lawas dengan pintu geser dan satu meja. Semua benda di kamar ini asli dari masanya. Saya mengambil beberapa foto benda di kamar itu dari berbagai sisi termasuk sisi dalam lemari. Namun saya tidak mengambil foto cermin dari arah depan saya. Saya memotret cermin itu dari samping sehingga saya tidak akan nampak di foto. Menjelang petang setelah menjelajahi halaman, saya pulang. Perjalanan pulang ke Jakarta lama dan macet, maka saya mengisi waktu dengan mengecek foto-foto di kamera. Betapa kagetnya saya saat melihat foto-foto itu banyak penampakan di sana. Ada sosok laki-laki bule mengenakan kacamata bulat sedang melongok dari dalam lemari, ada orang-orang yang duduk di meja dan yang paling mengerikan adalah saya muncul tepat di tengah kaca dengan wajah yang mengerikan. Tubuh dan pakaiannya saya, tetapi wajahnya meleleh. Saya benar-benar ketakutan melihat foto-foto itu. Saya sempat menunjukkan kepada kakak saya, tetapi karena terasa mengerikan saya mendelete semua foto-foto itu.

 

  1. KETUKAN DI DINDING HOTEL

 

Kisah yang ini dalam satu perjalanan liburan sama keluarga ke Bali. Kami memesan dua kamar, satu kamar saya dan yang lain kamar kakak saya. Kamar kami bersebelahan. Sampai di hotel saya tidak merasakan hal-hal yang aneh, apalagi bangunannya terlihat baru dan tidak menampakan suasana yang menakutkan. Saya langsung istirahat dan tertidur hingga jam 11 malam. Tiba-tiba kakak saya yang di kamar sebelah menelepon saya dengan marah-marah. “Nggak usah becanda, saya mau istirahat.” Lalu telepon ditutup. Becanda apa ya? Saya bingung, soalnya saya sedang tidur. Saya biarkan saja kakak saya, tiba-tiba dia mengetuk pintu. Saat saya membuka pintu kakak saya ngamuk karena katanya saya menganggu dia tidur. Menganggu apa sih? “Kamu ngetuk-ngetuk dinding berisik sekali.” Astaga aku tidur, masa ngetuk-ngetuk dinding. Coba cek kamar sebelah. Kamipun pergi ke kamar sebelah yang ternyata tidak ada tamu alias kosong.

Kakak saya mulai agak takut, tapi dia bukan tipe penakut. Dia balik lagi ke kamarnya dan tidur lagi. Tidak lama dia balik lagi ke kamar saya. Karena televisi mendadak nyala sangat keras sampai dia merasa terganggu, lalu televisi itu juga mati sendiri. Ia menyalakan murotal di handphone tetapi kemudian mati sendiri. Baiklah, kakak yang yang tidak penakut ini akhirnya menyerah dan tidur di kamar saya. Luar biasa memang penganggu iseng ini, saya menajamkan pendengaran ke kamar kakak, tetapi tidak mendengar suara apapun.

 

  1. WANITA BERAMBUT BOB DI DEPAN PIANO

Sewaktu di Moscow Rusia saya juga menginap di salah satu apartemen yang terletak di gedung tua. Setelah nyaris satu jam mencari alamatnya dengan menyeret koper ke sana kemari, akhirnya saya menemukan alamatnya, itupun dengan bantuan orang lokal. Mencari alamat di Rusia sangat sulit, karena meskipun nomor yang tertera sama, gedungnya bisa jadi beda.

Apartemen ini ada di lantai 4 tanpa lift dengan kondisi sedang direnovasi. Gedungnya jelas sudah sangat tua, itu terlihat dari bangunan lama yang masih tertinggal. Saya mengangkut koper saya naik ke lantai 4 dengan terseok-seok. Luar biasa, saya benar-benar kapok membawa koper ke Eropa. Beneran nih, mending ransel! Seorang wanita setengah tua mengantar kami ke apartemen dan dia tidak bisa berbahasa Inggris. Orangnya ramah dan baik, sayangnya kami susah berkomunikasi. Jadi semua hal hanya terjadi dalam bahasa isyarat.

Memiliki dua kamar yang besar, satu berdekatan dengan jendela ke jalanan besar di Moscow dan satu lagi ada pianonya. Saya memilih kamar yang ada jendela ke jalan besar. Di sisi lain ada dapur dengan ruang makan kecil dan kamar mandi yang auranya sungguh menakutkan. Kamar mandi itu bercat hijau dengan penerangan yang temaram, kalau lagi mandi dan lampu mati sudahlah, aku nggak tau lagi kondisinya kayak apa. Saya dan teman-teman agak takut memasuki kamar mandi. Tetapi ternyata kemunculan hal menakutkan itu bukan di kamar mandi melainkan di depan piano. Saat malam-malam saya ke kamar mandi, saya mendengar piano di kamar sebelah berbunyi lirih, saya pikir teman saya membunyikannya, ternyata seorang wanita berambut bob sedang duduk di depan piano. Entah siapa dia karena tidak ada teman saya yang berambut bob. Saya segera kabur ke kamar saya dan sembunyi dalam selimut. Suara piano itu lama kelamaan menghilang dan saya tertidur.

 

MUSIM GUGUR DI SAINT PETERSBURG

Matahari belum muncul saat saya keluar apartemen dan menyusuri trotoar yang dipenuhi daun-daun merah musim gugur. Saya tak memiliki banyak waktu untuk menjelajahi Saint Petersburg, kota yang pada tahun 1914-1924 bernama Petrograd dan pada masa Uni Soviet bernama Leningrad untuk mengenang Vladimir Lenin. Malam sebelumnya saya sudah nyasar sampai pinggiran sungai Neva yang bersih sekaligus terlihat menakutkan karena ketenangannya. Saya membayangkan sungai Neva menjadi saksi bisu perguliran sejarah di Rusia. Air tenang itu melihat segalanya, tetapi ia tak mengabarkan pada siapapun.

Banyak tempat yang ingin saya tuju di sini. Tetapi waktu yang saya miliki sangat sempit. Tiga hari di tempat ini dengan udara musim gugur yang dingin otomatis kulit tropis saya tidak mudah menyesuaikan diri.  Belum lagi kondisi tubuh saya yang gampang lelah dalam perjalanan dan mimisan. Sebagai orang yang suka menulis dan membaca, tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah Perpustakaan Nasional Rusia. Konon disana menyimpan beberapa manuskrip Melayu, termasuk Sejarah Melayu yang pernah dibawa seorang Laksamana dalam pelayarannya sekitar tahun 1798. Tetapi cita-cita mengunjungi perpustakaan itu tak terlaksana karena saya memutuskan ke tujuan touristik yang lain lebih dulu.  Tempat touristik itu adalah Istana Peterhof, Museum Hermitage dan beberapa tempat lainnya.

HANGATNYA SINAR MATAHARI DI TAMAN ISTANA PETERHOF

Suasana jalanan sekeliling istana masih sepi saat saya turun dari taksi online dan turun tepat di samping pintu masuk istana Peterhof.  Hanya beberapa bus lewat dan orang-orang berangkat kerja dengan mengenakan jaket-jaket tebal. Mukanya masih tampak ngantuk dan hanya melirikku sekilas. Saya celingukan mencari pintu masuk ketika menemukan serombongan kecil turis Tiongkok memasuki pintu di ujung. Saya menebak itulah pintu masuknya karena beberapa petunjuk dalam bahasa Rusia. Dan benar saja, pintu masuknya memang di sana.

Memasuki gerbang istana Peterhof, saya langsung berhadapan dengan taman yang indah. Pohon-pohon yang berjajar teratur dengan daunnya yang memerah, air mancur di berbagai sisi, dan bangku-bangku untuk duduk menikmati taman. Masih terlalu pagi dan matahari belum muncul sementara udara sangat dingin. Saya melompat-lompat kecil untuk menghalau udara dingin dan usaha saya lumayan berhasil meski efeknya saya jadi agak lapar sementara dari apartemen belum sempat sarapan.

Istana Peterhof lebih dikenal dengan Istana Musim Panas. Istana dibangun pada masa Peter Yang Agung pada tahun 1714 dan terinspirasi saat ia berkunjung ke Istana Versailles di Perancis. Terletak di tepi teluk Finlandia, Istana Peterhof langsung berhadapan dengan laut. Pembangunan istana ini bersamaan dengan perang antara Kekaisaran Rusia melawan Swedia pada tahun 1700-1721, sehingga Peter Yang Agung mendedikasikan istana ini sebagai istana kemenangan Rusia atas Swedia.

Saya tidak punya waktu untuk memasuki istana yang sangat luas ini jadi hanya berjalan-jalan di areal taman. Untuk memasuki areal dalam kita perlu membeli tiket lagi sekitar 400 ribu rupiah. Di samping kanan dari arah masuk ada konter tiket yang melayani pembelian tiket tetapi kita juga bisa membelinya melalui berbagai aplikasi online. Sementara di sebelah tempat penjualan tiket ada kafetaria. Matahari belum tinggi saat saya melihat jam dan sudah harus kembali ke pusat kota karena ditunggu pemilik apartemen.  Saya sebenarnya belum puas menikmati hangatnya matahari di taman Istana Peterhof, tetapi saya harus berlari-lari kembali ke pusat kota. Saya berharap di kunjungan yang lain bisa menjelajahi keseluruhan istana ini dengan tenang dan detail.

KEHUJANAN DI CHURCH OF THE SAVIOR ON SPILLED BLOOD

Setelah menunggu teman yang berdoa di salah satu gereja, tujuan saya selanjutnya adalah mengunjungi Church of the Savior on Spilled Blood.  Jalanan sangat ramai turis dan warga lokal. Hujan mulai turun saat saya berjalan menyusuri sepanjang sisi kanal menuju gereja. Beberapa orang mengenakan kostum kerajaan Rusia zaman dulu menawari saya untuk berfoto bersama. Saya tahu mereka akan mematok harga mahal saat saya menuruti keinginannya berfoto bersama. Karena mereka tahu saya paham modusnya, eh, malah mereka mengejar saya. Bercanda memang, tapi saya yang takut kehilangan uang rubel saya untuk foto yang tidak saya inginkan maka saya berlari. Mereka mengejar dan menangkap saya sambil tertawa-tawa. “Oh, you’re so small!” Apa makasudnya coba? Tapi mereka tertawa puas melihat saya meronta-ronta kesal melepaskan diri. Lalu begitu saya lepas mereka melambaikan tangan sambil senyum. Nyebelin banget!

Well, sayapun melanjutkan perjalanan menyusuri sepanjang sisi kanal Griboyedov. sambil kesal. Sesampainya di depan gereja ternyata gereja sedang direnovasi dan tidak diijinkan masuk. Di halaman gereja tampak anak-anak sekolahan sedang melakukan kegiatan zombie-zombiean entah apa. Mereka mengenakan pakaian ala hantu-hantuan dengan muka dicoret-coret.  Saya tertarik dengan kegiatan mereka dan mulai memotret-motret mereka. Sepertinya mereka sadar saya memotretnya dan mereka malah bergaya. Katanya mereka sedang ada kegiatan sekolah. Lucunya mereka melihat saya yang memotret nama teman saya di papan yang saya pegang. “Who is Andrew?” tanyanya. Seorang teman memang menitip foto namanya di depan gereja ini agar suatu hari dia bisa ke sini dan berdoa di sini. Saya dan dia berbeda keyakinan, tetapi dia teman baik saya dan saya tidak pernah keberatan dengan titipan foto seperti ini.

Church of the Savior on Spilled Blood dibangun oleh Tsar Alexander III untuk menghormati Tsar Alexander II yang terbunuh pada tahun 1881 di tempat ini. Gereja ini dibangun sejak 1883 hingga 1907.  Gereja ini memiliki arsitektur yang sangat unik dan cantik, tetapi sejak tahun 1930 diubah penggunaannya menjadi museum. Gereja ini menjadi salah satu gereja yang memiliki mosaik paling banyak di dunia. Sayang saya tidak memasuki bagian dalamnya untuk menjelajah lebih jauh.  Anak-anak berpakaian hantu itu masih berlari-lari mengejar temannya, sementara saya duduk di bangku depan gereja. Penjual souvenir di deretan depan gereja tampak berdiri beku merapatkan jaket tebalnya sambil memandang entah. Sayapun melambaikan tangan ke remaja-remaja tanggung berpakaian zombie lalu melintasi penjual-penjual souvenir tanpa membeli. Kejadian berdarah bertahun-tahun lalu di tempat ini kemudian menjadi kenangan untuk dikunjungi.  The Savior on Spilled Blood.

SENJA DI MUSEUM HERMITAGE DAN WINTER PALACE

Sebenarnya saya membayangkan matahari tenggelam di sekitaran istana musim dingin yang ada di tengah kota ini, tetapi sepertinya tidak mungkin. Bagaimana mungkin akan ada sunset sementara hujan mengguyur sejak siang dan langit gelap mendung. Tetapi suasana ini jadi romantis menurut saya karena saya lebih menyukai hujan ketimbang sunset.  Melihat orang-orang mengenakan mantel hitam panjang dengan sepatu boot yang menimbulkan bunyi tersendiri saat menghantam jalanan basah membuat saya berimajinasi kembali ke kejayaan istana musim dingin yang dibangun Peter yang Agung ini. Istana musim dingin ini menjadi salah satu kediaman resmi keluarga kerajaan Rusia pada tahun 1731 hingga 1917. Bergaya Baroque dengan perpaduan warna hijau dan putih, istana ini tampak megah dan sangat luas ;  terdapat ribuan ruangan, anak tangga, pintu dan jendela. Mungkin beberapa hari menyusurinya baru bisa dijelajahi semuanya.

Di komplek istana musim dingin ini pula terletak Museum Hermitage yang merupakan museum terbesar di dunia. Terdapat jutaan karya seniman terkenal seperti Rembrandt, Da Vinci juga Michaelangelo.  Hermitage merupakan satu museum tertua di Rusia.  Benda-benda dari jaman pra-sejarah atau zaman batu dari seluruh wilayah Rusia dikumpulkan di museum ini sehingga kita bisa mempelajari sejarah peradaban panjang Rusia di museum ini. Jika kita ingin melihat bagaimana kekaisaran Rusia pada masa lalu, kita bisa melihat ruangan-ruangan kekaisaran Rusia yang masih asli. Mulai dari zaman Tsar Alexander II hingga Nicholas II. Semua disusun berdasarkan kronologis dan era masing-masing zaman. Mengunjungi museum ini seperti kembali ke masa lalu yang masih asli.

HUJAN DERAS DI KATEDRAL SAINT ISAAC

Malam sebelumnya, beberapa mahasiswa Indonesia yang saya temui di galeria mall menyarankan jika ingin mengambil view foto terbaik dari Katedral Saint Isaac adalah dari taman di depannya yang ada di pinggir sungai dan saat senja turun. Tapi malah kenyataannya saat saya sampai depan katedral hujan deras turun. Saya pun hanya mengambil foto dari samping menunggu moment bus yang lewat lengang dan tidak terlalu bagus. Sebenarnya ingin ke taman pinggir sungai tapi saya malas menyeberang jalan yang cukup ramai di depan saya. Sayapun memutuskan menikmati Katedral Saint Isaac dari pojokan pinggir jalan tanpa menyeberang jalan.

Gereja ini terletak di St. Isaac Square dan merupakan gereja terbesar ke empat di dunia. Dibangun tahun 1881 hingga 1885. Memiliki kubah sebesar 101 meter dilapisi emas murni, gereja ini dibangun untuk menghormati Saint Isaac Dalmatia, sang pelindung dari Peter yang Agung.  Ini merupakan satu tempat dari sekian banyak tempat menarik di Sank Peterburg yang banyak dikunjungi turis. Sekeliling tempat ini juga sangat menarik untuk berjalan kaki atau bahkan nongkrong di kafe. Sayangnya hujan deras dan saya basah kuyup, jadi saya kurang nyaman untuk nongkrong di kafe dengan baju basah kuyup. Sebelum senja benar-benar selesai saya kembali ke pelataran Hermitage lalu mencari taksi online kembali ke apartemen. Terlalu luas untuk menjelajahi Rusia dalam waktu hanya 10 hari. Saya perlu waktu berbulan-bulan untuk kembali suatu saat nanti. Semoga saya bisa kembali.

 

 

NONTON SIRKUS DI MOSKOW

Malam itu suhu turun menjadi 7 derajat. Teman perjalanan saya sedang ke minimarket saat saya membuka-buka aplikasi KLOOK mencari tiket pertunjukan di Moskow. Sudah beberapa negara saya kunjungi tanpa sempat menonton pertunjukan khas mereka dan kali ini saya tidak mau kelewatan lagi. Sebenarnya saya ingin menonton teater atau balet di Moskow, tetapi mengingat pertunjukan teaternya berbahasa Rusia dan baletnya sangat mahal, maka saya mencari alternatif lain. Lalu saya menemukan sirkus yang harga tiketnya hanya Rp. 189.000 untuk kelas 9. Begitu saya klik, ternyata tiket kelas 9 sudah habis, adanya tiket kelas 8 dengan harga Rp. 332.000. Baiklah, akhirnya saya dan dua orang teman sepakat untuk membeli tiket itu. Tiket akan dikirim dalam 24 jam dan benar, esoknya saya sudah menerima tiket berbahasa Rusia. Setelah saya Google translate, dalam tiket terdapat alamat, pintu masuk, kursi dan jam show.

Sebenarnya, sejak kecil saya tidak suka menonton sirkus bahkan saya belum pernah menonton sirkus seumur hidup saya. Saya takut melihat binatang-binatang buas di dalam kerangkeng dan membayangkan binatang itu ngamuk melukai pawangnya hingga membuat keributan yang luar biasa seperti di film-film. Setelah dewasa ini, saya tidak suka sirkus karena kasihan melihat binatang-binatang itu dijinakkan dan dijadikan ajang untuk mencari uang oleh manusia. Menurut saya tidak seharusnya mereka berada di sana menjadi budak-budak manusia.  Mereka seharusnya punya kehidupannya sendiri, di hutan. Tetapi rasa ingin tahu saya tentang sirkus dan  saat sirkus ini datang ke Indonesia tiketnya sangat mahal sehingga saya tidak mampu membelinya, maka mumpung berada di Rusia saya memaksakan diri sendiri untuk menontonnya.

Dengan naik metro ganti line dua kali sampailah saya di tempat sirkus ini. Lokasinya sangat mudah dijangkau, gedungnya bagus dan mentereng dengan hiasan khas sirkus di puncaknya. Penonton (yang kebanyakan dari turis Tiongkok) berdatangan dengan tertib. Saya hanya menunjukkan tiket di handphone kemudian diverifikasi lalu bisa masuk melalui pintu yang disebutkan ditiket. Saat saya datang ternyata sirkus sudah mulai sekilat 10 menit, sehingga saya ditahan dipintu sejenak agar tidak menganggu penonton dan pemain. Pintu masuk dan pengaturan pertunjukan ini sangat profesional sehingga kita telat datangpun tidak bikin ribut dan menganggu yang lain. Setelah satu show berakhir, petugas segera menunjukkan kursi kami.

Kursi kelas 8 ternyata ada di deretan paling belakang. Tapi nggak usah sedih, karena deretan paling belakang inipun masih bisa menikmati pertunjukan dengan jelas karena gedungnya tidak terlalu besar. Hanya beberapa penonton menganggu dengan kamera yang diacung-acungkan ke depan sehingga menutupi saya. Sirkus ini sangat modern dan menarik. Kostumnya luar biasa, penampilannya luar biasa dan dikemas dengan sangat menghibur. Setiap jeda satu show dengan show lainnya dimunculkan karakter-karakter komedi yang berinteraksi dengan penonton. Saya suka bagian ini meskipun tidak ada bahasa Inggrisnya, tetapi masih bisa dipahami.

Jika awalnya saya ingin pulang seandainya sirkus ini membosankan, ternyata waktu tiga jam dengan istrirahat 15 menit masih kurang. Saya justru enggan beranjak setelah sirkus selesai. Betapa profesionalnya mereka. Saya membayangkan kedisiplinan mereka berlatih dan terus berlatih. Sirkus ini rekomended untuk di tonton meskipun saya tetap sedih melihat binatang-binatang itu di dalam sana dan tidak setuju mereka menjadi seperti itu.

Hampir tengah malam saat saya keluar dari gedung pertunjukan dan berjalan kedinginan menuju stasiun metro. Saya terus berpikir tentang mereka para pelaku sirkus ; berlatih-berlatih dan berlatih. Kadang-kadang hidup tidak menyediakan pilihan lain kecuali yang ada di depan mata kita, tetapi bisa juga kehidupan itu memang yang terbaik untuk kita atau memang itu yang kita cita-citakan. Stasiun metro mulai lengang tapi kereta tetap datang setiap 90 detaik sekali. Saya masih hanyut melamunkan para pelaku sirkus.

HORAS MENJUAH-JUAH!

Menjelajahi sebagian Sumatera Utara sebenarnya tidak ada dalam rencana saya. Tapi karena tujuan utama saya ke Aceh gagal, akhirnya saya memutuskan keliling Sumatera Utara. Tidak banyak yang saya lihat karena saya hanya punya waktu sehari dari pagi sampai malam, tetapi lumayanlah. Dengan mobil sewaan dan seorang sopir sepuh yang lihai menyetir saya berangkat pukul 9 pagi mengelilingi Sumatera Utara.

 

Tujuan pertama saya Danau Toba karena cukup jauh, sekitar 5 jam perjalanan dari tempat saya menginap di kota Medan. Tempat ini sudah pasti sangat touristik, tapi ini salah satu tempat yang ada dalam mimpi saya untuk dikunjungi. Saya mengenal Danau Toba dari buku bacaan dongeng yang dibelikan Ibu waktu saya kecil. Ada banyak kisah tentang Danau Toba di buku itu membuat saya bermimpi untuk mengunjunginya kelak. Meski tidak sengaja, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi itu.

Mobil melintasi hutan sepanjang perjalanan menuju Danau Toba dan mampir membeli Lemang, makanan khas Medan yang dijual di pinggir jalan. Lemang menyerupai lemper kalau di Jawa, enaknya dimakan saat hangat. Sepertiga perjalanan kemudian, mobil mampir di Vihara Avolakitesvara yang terletak di Jalan Pusuk Buhit, Pematang Siantar. Vihara yang menjadi salah satu destinasi wisata lintas agama ini terletak di ketinggian dengan pemandangan yang indah dan terdapat patung Dewi Kwan Im yang tingginya mencapai 22,8 meter.  Menurut Pak Sopir, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan pada weekend dan sore hari. Saya tiba di Vihara tepat jam 11 siang sehingga panasnya luar biasa. Saya hanya singgah 30 menit mengambil foto lalu melanjutkan perjalanan karena tidak kuat dengan panasnya.

Hampir jam 1 siang saat saya tiba di pinggiran Danau Toba dan disarankan makan siang di salah satu warung makan pinggir danau oleh Pak Sopir. Makanannya sebenarnya masakan padang tapi ada juga beberapa makanan khas seperti jus Martabe dan ikan pora-pora goreng. Jus martabe terbuat dari markisa dan terong Belanda yang ditambah dengan potongan lidah buaya. Sementara ikan pora-pora adalah ikan air tawar yang berasal dari Danau Toba.  Saya suka dua makanan ini, sangat suka malahan.

Setelah sholat dhuhur di warung ini, saya jalan ke sekiling Danau Toba, tapi di spot ini tampak kurang menarik. Tidak ada yang bisa saya lihat selain tulisan Selamat Datang di Danau Toba dan panas tengah hari yang menyengat. Mungkin dari Samosir, Danau Toba tampak indah tapi sayangnya saya tidak punya waktu ke Samosir.  Pak Sopir menyarankan saya melanjutkan perjalanan ke air terjun Sipiso-piso dan singgah sebentar di spot lain untuk melihat Danau Toba jika dari spot ini kurang memuaskan. Saya setuju kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Spot lain yang lebih menawan untuk melihat Danau Toba itu adalah di depan Rumah Pengasingan Bung Karno di Parapat. Tempat yang dulunya perkebunan milik Belanda ini lebih sejuk dan pemandangannya sangat indah.  Bung Karno pernah diasingkan ke sini selama dua bulan bersama Agus Salim dan Sjahrir.  Saya sebenarnya ingin masuk ke dalam rumah pengasingan Bung Karno ini, tetapi pintunya dikunci dan tidak ada penjaganya, mungkin sedang sholat karena masih waktu dhuhur. Akhirnya saya hanya duduk beberapa saat di depan rumah ini untuk menikmati Danau Toba dari kejauhan lalu melanjutkan perjalanan.

Pak Sopir sebenarnya ingin mengantar saya ke banyak lokasi menarik, tetapi waktunya tidak akan cukup. Akhirnya kami memutuskan ke air terjun SiPiso-Piso kemudian mampir Berastagi. Sepanjang perjalanan menuju SiPiso-Piso, saya minta berhenti beberapa kali karena menemui ladang bunga matahari dan deretan bunga-bunga yang indah. Pak Sopir sangat sabar membiarkan saya foto sepuas-puasnya di spot tersebut. Sampai tiba di air terjun SiPiso-Pisopun saya kesorean.

Air terjun SiPiso-Piso sebenarnya sangat keren. Air terjun itu menyembur dari celah bebatuan tinggi dan pengunjung bisa menikmatinya sepanjang perjalanan menuju dasar air terjun. Perlu waktu sekitar 1 jam berjalan kaki mencapai dasar air terjun, tetapi saya hanya sampai separuhnya karena kuatir keburu malam. Sepanjang berjalan menuju dasar air terjun melalui jalanan berundak rapi yang kiri kanan tampak pemandangan hutan hijau yang menakjubkan. Sayangnya tempat indah ini kurang didukung dengan fasilitas yang memadai. Toilet yang kurang bersih dan sampah yang bercecer dimana-mana. Belum lagi tempat parkir yang kurang rapi dan terkesan sembarangan. Tepat jam 5 sore saya melanjutkan perjalanan.

Berastagi masih jauh, tetapi Pak Sopir sepuh masih semangat mengantarkan saya. Beliau semangat bercerita perbedaan Horas dan Menjuah-Juah. Meskipun keduanya sama-sama sapaan salam, tetapi Horas lebih banyak digunakan oleh suku Batak sementara Menjuah-Juah lebih banyak digunakan suku Karo. Beliau juga menyarankan saya mampir ke pasar buah Berastagi meskipun sudah malam. Katanya sayang kalau sudah sampai sini tidak mampir pasar Buah Berastagi.

Saya hanya melihat Sumatera Utara dalam beberapa jam, tetapi kota ini menarik. Saya belum tahu banyak seperti apa di dalamnya selain hanya cerita-cerita dari Pak Sopir. Semoga lain kali memiliki kesempatan lebih baik untuk ekplore sehingga bisa mengenali lebih dalam. Horas! Menjuah-Juah!

 

Budapest Central Market Hall

Jika anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satu tempat yang selalu di kunjungi turis saat berada di Budapest adalah Central Market Hall atau Great Market Hall. Pagi hari sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest ini terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca.

Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali. Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar.

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi pasar ini? Pasar ini buka pada hari Senin sampai Sabtu mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hari minggu tutup. Jika anda tidak suka terlalu ramai maka anda bisa berkunjung pada pagi hari sekitar jam 8-9 hari Senin – Jumat, karena pada hari Sabtu pasar akan sangat ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Jangan lupa mengunjungi pasar ini saat anda ke Budapest!

 

Tertawa Bersama Ibu Dong di Central Market Hoi An

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di dunia seperti Edinburgh old town, Phuket old town, Geneva old town, Kyoto old town, Takayama old town, Kota Tua Jakarta, Penang old town, Chiang Mai old town dan beberapa tempat klasik lain yang saya lupa namanya, tetapi memasuki Hoi An old town membuat saya tercengang. Pada malam hari kota tua Hoi An akan dipenuhi lampion yang sangat indah. Saya merasa hidup di negeri dongeng bersama para peri yang terbang di atas sungai dengan perahu-perahu berlampion yang melintasi sungai. Saya janji pada diri sendiri untuk kembali ke kota ini suatu hari nanti!

Selain keindahan kota tua ini, Hoi An memiliki dua pasar yang banyak dikunjungi wisatawan. Hoi An night market dan Hoi An central market. Hoi An night market bisa kita temui di sepanjang jalan dekat sungai pusat kota tua Hoi An pada malam hari, tetapi jam 9 malam pusat kota ini sudah sangat sepi dan lampu dimatikan semua. Saya yang berniat nongkrong sampai pagi di pusat kota malah lampu kafe sudah dimatikan tepat jam 9 dan pemesanan makanan closing. Terpaksa saya balik ke hotel dengan kondisi sedikit gelap karena hanya beberapa lampu jalanan yang nyala. Bahkan hotel tempat saya menginap juga lampunya sudah dimatikan dan penjaga sudah tidur di depan pintu hotel.

Tetapi esok harinya saya tidak menyia-nyiakan untuk mengunjungi Central Market Hoi An sepulang dari My Son Sanctuary. Kebetulan letak pasarnya tak jauh dari tempat perahu kami ditambatkan. Guide yang mengantar kami ke My Son Sanctuary bilang kalau kami hanya perlu berjalan lurus sampai ketemu jembatan lalu belok kanan. Dan saya mengikuti petunjuk guide itu setelah pamitan.

Central market Hoi An lumayan luas dan bersih. Berbagai macam barang kebutuhan dijual disini, mulai dari sayuran, buah, makanan, kerajinan, pakaian dan kios makanan yang berjejer dengan menu yang menggoda. Saya menyusuri los-los pasar terbuka ini hingga berhenti di depan sebuah lapak yang menjual kopi Vietnam dan makanan khas Vietnam. Pemilik lapak ini sesuai nama tokonya namanya Ibu Dong. Beliau dengan ramah melayani saya yang aslinya hanya akan belanja sedikit tetapi ingin banyak ngobrol. Saya berpikir membeli kopi di sini akan lebih murah ketimbang di tempat lain. Meski kenyataannya kopi yang saya beli di pasar sama dengan harga yang ada di bandara Da Nang.  Ibu Dong sudah lama fokus berjualan kopi dan makanan khas Vietnam. Kopi yang dijualnya memiliki tingkatan tertentu dan orang akan membeli sesuai dengan seleranya. Salah satu kopi paling terkenal adalah merk Trung Ngu Yen dengan berbagai tingkatan nomor. Setelah tawar menawar saya membeli dua tingkatan nomor dengan bonus makanan khas Vietnam yang terbuat dari kelapa. Makanan ini kalau di Indonesia mirip sagon dengan bungkus plastik kecil-kecil rapi. Ibu Dong sangat ramah dan suka becanda. Bahasa Inggrisnya terbata-bata tetapi bisa saya pahami. Katanya berjualan di pasar membuatnya selalu ceria dan lupa masalah-masalah yang dihadapinya. Bertemu pembeli dari berbagai belahan dunia juga membuatnya bisa bertukar banyak informasi. Ibu Dong mengundang saya datang ke rumahnya jika saya masih lama di Hoi An, tetapi sayangnya sore itu saya harus kembali ke Da Nang dan melanjutkan perjalanan.  Obrolan itu kemudian menjadi panjang karena belum ada pembeli lain yang datang. Benar-benar lebih banyak obrolannya daripada barang yang saya beli.

 

Bertemu orang-orang baru selalu memberi energi baik dalam setiap perjalanan saya, salah satunya keceriaan Ibu Dong dan senyumnya yang selalu merekah saat melayani pembeli.“Let me know when you come  back to Hoi An!” katanya terbata saat memeluk saya yang berpamitan meninggalkan lapak dagangannya. Saya tersenyum, “I will.”