Category Archives: Macau

Mengingat Desember Di Macau Mosque & Cemetery (2)


Masjid itu memang satu komplek dengan pemakaman muslim. Tampak lengang dan tidak nampak seorangpun di sana. Aku dan Meidy melangkah menuju pelataran belakang masjid yang dekat dengan pemakaman dan menemukan seorang wanita berjilbab hitam panjang sedang menangis. Aku dan Meidy saling pandang lalu memutuskan untuk duduk di samping wanita itu tanpa bicara apapun. Saat dia mengangkat wajahnya, aku bisa mengenali bahwa dia orang Indonesia. Ia tersenyum padaku dan Meidy lalu mengusap air matanya.
Masjid Macau
“Teman saya dari Indonesia sakit dan meninggal.  Dia masuk Macau dengan ilegal. Saya berharap masih bisa dimakamkan di sini,” katanya.
“Sakit apa?”
“Demam tinggi,” jawabnya. “Inilah susahnya kalau ilegal, kalau nggak dapat ijin dimakamkan di sini, kemungkinan dia akan di kremasi.”
Rumah nenek Aisha
Dan ia menangis terisak-isak lagi. Adzan dhuhur berkumandang, tampak beberapa lelaki berwajah Indonesia memasuki masjid dan mbak jilbab hitam bangkit dari duduknya untuk mengambil wudhu. Ia sempat bertanya kami siapa dan berasal dari Indonesia mana. Dalam sekejab kami sudah akrab seperti layaknya saudara. Tak lama kamipun sholat berjamaah.
Aku, nenek Aisha dan si mbak
Usai sholat jama’ah, seorang nenek masuk ke dalam masjid. Si mbak memperkenalkan kami ke nenek yang berwajah chinese ini. Beliau seorang mualaf dan tinggal di rumah mungil dekat masjid sendirian. Nama mualaf nenek ini Aisyah. Karena iman Islamnya, dia rela meninggalkan keluarganya dan hidup sendirian di usianya yang sudah renta. Subhanallah. Si mbak yang sering mengirimi nenek ini makanan setiap ke masjid. Aku jadi berkaca-kaca melihat kondisi nenek, rumahnya dan kekuatan iman Islamnya.
Karena ada titipan salam dari headwriter, aku diantar si mbak menemui imam masjid. Ternyata beliau berasal dari Sumatera. Rasanya lega setelah menyampaikan titipan salam. Kami menunggu ashar sambil menemani si mbak menunggu jenazah temannya. Tetapi sampai adzan ashar berkumandang, jenazaha tak juga datang. Ternyata si teman sudah di kremasi dan tidak bisa dimakamkan di sini. Si mbak menangis lagi, tetapi sambil terus berdoa untuk temannya.
Pemakaman di areal masjid
 Usai ashar kami memutuskan pulang. Karena tidak tahu jalan pulang ke hotel, si mbak berbaik hati mengantarkan kami sampai terminal. Sepanjang perjalanan kaki menuju terminal, si mbak cerita suka dukanya bekerja di negeri yang jauh dari kampung halaman. Tujuh tahun sudah si mbak merantau, bermula dari Hongkong. Ia bekerja untuk membiayai anak-anaknya. Pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan asongan. Sampai kemudian dia bekerja di Macau sebagai pembantu rumah tangga. Sementara suaminya menceraikannya. “Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi juga tidak sulit jika kita mau mensyukurinya,” katanya.
Sebelum berpisah, kami berpelukan lalu menghilang di keramaian terminal. Aku sendiri lupa nama si mbak dan lupa minta nomor handphonenya. Tetapi aku berharap suatu hari kalau aku ke Macau lagi bisa bertemu dengan Mbak ini. Semoga.

Mengingat Desember di Mesquita e Cemitério de Macau (1)

A good traveler has no fixed plans, and is not intent on arriving.  ~Lao Tzu

“Good Morning from Macau!”  kicauku di twitter pada suatu pagi di bulan Desember 2011 dari salah satu hostel mungil di dekat kawasan kasino Grand Lisboa Macau. Aku main internet sambil meringkuk di selimut.  Sebenarnya suhu cuma sekitar 18 derajat celcius, tapi buat orang tropis sepertiku sudah cukup bikin menggigil dan malas beranjak dari pembaringan.

Beberapa menit kemudian, headwriterku di sinetron series mention. “Tary lagi di Macau? Salam hormat ya untuk imam masjid Macau. Saya pernah singgah di sana beberapa waktu lalu.”  Aku membalas mention itu,”Insya Allah.” Tiba-tiba aku sadar. Waduh! “Salam” itu kan harus disampaikan dan kata “Insya Allah” itu harus diusahakan sampai titik darah penghabisan. Wah, gimana nih? Padahal aku nggak tahu dimana masjid itu! Sisi hatiku yang lain bilang “makanya ri, lain kali jangan segampang itu bilang insya Allah.”  Akhirnya aku memutuskan untuk mengubah beberapa rencana dan memasukkan agenda ke masjid Macau pada sore hari menjelang Ashar.
jalanan Macau malam hari
Setelah resign sebagai karyawan stasiun “Televisi Milik Kita Bersama” pada Agustus 2011 dan mendapati kenyataan hidup yang meleset dari rencana, aku memutuskan untuk melihat dunia di luar sana. Meidy, sepupuku yang baru pulang sekolah di Perancis bersedia menjadi travelmate-ku. Kebetulan dia juga lagi galau dan butuh hal-hal baru untuk penyegaran hidupnya. Karena perjalanan dengan paket wisata sudah pasti mahal, maka kami memutuskan backpacker ke Macau-Hongkong-Singapura dalam 12 hari. Ini pertama kalinya aku keluar negeri!

Dengan panduan buku-buku traveling dan Om Google, aku mengurus sendiri akomodasi dan transfortasi selama perjalanan ke tiga negara itu. Keder juga sih, soalnya pertama kalinya pergi dan semua ngurus sendirian.  Tujuan utamaku pergi hanya ingin melihat dunia yang berbeda dan menemukan hal-hal baru. Tetapi, mention dari headwriter-ku itu membuatku punya tujuan lain. Aku ingin sholat di masjid kota-kota yang aku kunjungi! Dan begitulah seterusnya, mencari masjid kemudian menjadi tujuan utama bagiku ketika mengunjungi tempat-tempat baru.
pendestrian di pinggir waduk
Setelah mengunjungi tempat-tempat wisata populer di Macau, aku dan Meidy naik bis menuju menuju pemberhentian terakhir di dekat pelabuhan. Menurut peta, dari sana bisa berjalan kaki ke arah masjid. Tetapi begitu turun dari bis, kami berada di sebuah perempatan dan tidak tahu harus kemana.  Tak seorangpun yang kami temi bisa berbahasa Inggris sampai akhirnya kami mengikuti insting untuk naik ke pinggiran sebuah waduk besar.  Kami bertanya menggunakan bahasa isyarat  pada orang yang kami temui kemudian dan menunjukkan peta lokasi masjid. Orang itu menunjuk ke kanan lalu ke kanan lagi. Hmm, sepertinya tidak jauh. Kami segera berjalan mengikuti petunjuk orang itu.
Kami berjalan menyusuri pendestrian pinggir waduk yang bersih dan banyak ditanami bunga warna warni. Udara sangat segar dan waduk tampak  tenang di kejauhan. Tempat ini sepertinya juga dipakai olahraga karena banyak alat-alat untuk olahraga. Tetapi setelah kami berjalan sekitar 30 menit, belokan ke masjid itu tak juga kami temukan. Dimana masjid itu? Kami terus berjalan dan bertemu mbak-mbak dan mas-mas dari Indonesia sedang bercengkerama di pinggir waduk sambil menikmati sore hari. Aku dengar mereka ngomong bahasa Jawa. “Kapan kowe mulih? Yak opo se kon iku? Gak main blas wis!” Hehehe. Sepertinya mereka berasal dari tanah kelahiranku.

alat olahraga di pinggir waduk
 Seorang cowok hitam manis yang berpapasan dengan kami senyum-senyum. Apa maksudnya ya? Ia kemudian menghampiri kami dan bertanya, “Dari Malaysia?” Meidy menggeleng. “Kami dari Indonesia.” “Mau ke masjid. Dimana ya?” Cowok itu menunjuk jalan di ujung . Waduhhh! Masih jauh rupanya. Kami kemudian pamit dan melanjutkan perjalanan menuju masjid. Cowok hitam manis itu senyum-senyum sambil melambaikan tangannya. Meidy tertawa geli.

Seperti petunjuk cowok itu, kami berbelok ke kanan. Tapi kami menemukan kelenteng. Apa masjid di sini arsitekturnya seperti ini? Tapi nggak ada tulisannya masjid? Kayaknya bukan ini deh! Mungkin masih di depan sana. Aku dan Meidy terus berjalan sampai menemukan rumah (kalau di Indonesia kontrakan kali ya). Meidy terdiam bingung. Mana masjidnya?
2011 belum populer selfie lho padahal! haha
“Mungkin masjidnya di dalam sana. Ngetuk pintu dan nanya orang aja yuk,” kataku. Tapi Meidy terdiam ragu. Aku tidak sabar dan melangkah ke halaman. Meidy mengikutiku. Semua pintu tertutup dan sangat sepi. Meidy berhenti dan mencermati petanya lagi. Aku ikut melihat peta. Tiba-tiba beberapa menit kemudian ada suara-suara napas. Kami menoleh ke arah suara. Bersamaan itu tampak anjing besar berwarna hitam di halaman agak jauh dari kami membuka matanya. Melihat orang asing, anjing itu langsung bangkit dan menyalak. Sorot matanya penuh permusuhan. Lalu, dua anjing besar lainnya datang! Ketiganya sama besarnya dan sama sangarnya!  Waaaaaaa! Ini benar-benar gila! Aku mencoba memasukkan bayangan anjing-anjing lucu, baik dan setia ke dalam otakku. Tapi kenyataannya aku tetap saja ketakutan! Nggak lucu kalau sampai digigit anjing di sini, beneran deh! OMG tolongggg!

Aku dan Meidy berdiri membeku di tengah halaman sementara tiga anjing ganas itu terus menyalak dan seperti hendak menerkam kami. Meidy memegang tanganku erat sampai lecet rasanya, sementara sekujur tubuhku dingin. Aku mulai baca-baca doa. Paling nggak semoga ada manusia muncul dari balik pintu rumah itu. Tapi tidak ada satu manusiapun. Anjing itu terus menyalak dan mendekati kami. Aku menarik lengan Meidy agar berjalan pelan-pelan keluar halaman. Aku dengar Meidy berbisik,”kalau terjadi apa-apa, maafin aku ya.” Aku diam saja dan menarik Meidy berjalan pelan-pelan keluar halaman. Begitu keluar dari halaman, aku memberi aba-aba ke Meidy,”lariiiii!” Dan kami lari tunggang langgang dikejar anjing. Kami tiba di depan gerbang tinggi sebuah bangunan lalu tanpa pikir panjang kami mendorong gerbang  yang tidak terkunci itu. Kami segera menutup gerbang dan sembunyi. Tiga anjing itu berkeliaran di luar gerbang, menyalak-nyalak dan mengendus gerbang. Hampir seperempat jam mereka di sana, baru pergi setelah putus asa tidak menemukan kami. 

waduk yang keren

Begitu situasi aman, aku dan Meidy menghela napas lega. Kami melihat sekeliling lalu membaca tulisan di gerbang. Tampak tulisan arab “Bismillah” kemudian ada huruf china dan di bawahnya (kami nggak tahu artinya apaan) dan ada lagi tulisan, “Macau Mosque and Cemetery” “Mesquita E Cemeterio De Macau.” Kami saling berpandangan lalu berpelukan senang. Alhamdulillah! Akhirnya kita menemukan masjidnya! Tapi kenapa tempat ini sangat sepi? Aku memandang berkeliling dan tidak menemukan siapapun. Ada banyak pohon menjulang tinggi dan daun-daun kering berjatuhan. Beberapa sisi juga tampak kotor dan tua. Tiba-tiba tangan Meidy mencengkeram lenganku kuat-kuat lagi.

“Lihat itu.. lihat itu.. itu kan.. itu kan…” wajah Meidy pias ketakutan. Aku menoleh ke arah telunjuk Meidy dan mendapati barisan nisan diam membeku di sana. Hah!? Ini masjid atau kuburan???
(berlanjut ke bagian 2)

Macau


NEGERI SERIBU LORONG

“The world is my home, and every man in it my brother”-James Michener

 
 
Seorang teman berkata kepada saya;  jika ingin menikmati perpaduan budaya Eropa dan Cina di suatu negeri maka pergilah ke Macau. Hm, sepertinya menarik. Saya bisa menikmati dua budaya sekaligus, Eropa dan Cina. Apalagi negara ini bebas Visa, maka dengan gembira saya memutuskan untuk pergi. Sebagai koloni Eropa tertua di Cina sejak abad 16, pengaruh Portugis sangat kental di negara ini. Arsitektur gedung khas Eropa, bangunan bergaya Art Deco, tempat-tempat bersejarah, nama jalan hingga makanan, hampir semuanya beraroma Portugis. Pemerintah Portugal menyerahkan kedaulatan Macau terhadap Republik Rakyat Cina pada tahun 1999.  Dan Macau kini merupakan sebuah Daerah Administratif khusus Cina, yang artinya meskipun Macau merupakan bagian dari Republik Rakyat Cina tetapi Macau memiliki system pemerintahan dan pendapatan yang berdiri sendiri. Selain budaya Cina dan Eropa yang mencolok, Macau juga terkenal dengan Casino. Sehingga Macau sering disebut sebagai Las Vegas-nya Asia. Melalui tulisan ini, anda akan saya ajak menyusuri lorong-lorong Makau, salah satu negara kaya di Asia.
KOTA SERIBU LORONG
Menggunakan penerbangan direct flight Jakarta-Macau, saya tiba di Bandara International Macau pukul 16. 30 waktu Macau, dengan perbedaan waktu lebih cepat satu jam dengan Jakarta. Setelah menyelesaikan urusan imigrasi saya segera menuju tourism desk di dekat pintu keluar bandara.  Meski dengan komunikasi yang sedikit tersendat karena bahasa Inggrisnya yang tidak familiar di telinga saya, saya berhasil mendapatkan informasi bus yang akan membawa saya ke dalam kota.
Transfortasi di Macau sangat bagus. Selain menyediakan shuttle bus gratis dari Airport dan Ferry Terminal menuju hotel-hotel berbintang tempat Casino yang bisa dinaiki siapa saja, juga terdapat public bus yang bisa diakses dengan mudah dari setiap halte dengan ongkos yang murah. Awalnya saya memilih untuk menunggu shuttle bus gratis menuju Grand Lisboa (Casino terbesar di Macau) tetapi karena terlalu malam shuttle bus yang menuju Grand Lisboa sudah tidak beroperasi. Akhirnya saya memutuskan untuk naik public bus menuju ke dalam kota dengan membayar 5 HKD atau sekitar Rp.6000. Selain Hongkong dollar, mata uang yang berlaku di Macau adalah Patacas (MOP). Tetapi karena setelah keluar dari Macau, mata uang Patacas tidak bisa digunakan lagi, saya lebih memilih menyimpan Hongkong dollar.
Macau adalah negeri kecil yang terletak sekitar 65 km sebelah barat Hongkong dan hanya memiliki tiga pulau kecil yaitu Macau Peninsula, Taipa dan Coloane. Saya merasa takjub begitu bus berjalan menuju kota. Selain bus yang bersih dan nyaman, saya terpesona oleh lampu-lampu yang berpendar di sepanjang jalan. Lampu-lampu itu ditata sedemikian rupa sehingga menghasilkan cahaya yang indah. Gemerlap hotel-hotel berbintang dan Casino terlihat gemerlap. Negeri kecil yang cantik, teratur dan bersih. Begitu kesan pertama saya begitu bus berhenti di pusat kota, tepat di terminal bus Grand Lisboa.
Turun dari bus saya segera menyiapkan gambar hotel dan nama hotel yang tertulis dalam bahasa Canton. Menurut informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman yang berkunjung ke Macau, dengan menunjukkan gambar tempat yang ingin dituju dan nama jalan dalam bahasa Canton akan mempermudah saya. Dan benar saja, begitu saja tunjukkan gambar hotel dan jalan yang sedang saya cari, seorang gadis langsung menunjukkan tangannya, “there!”. Saya segera menyusuri jalan itu dan menemukan banyak lorong. Nama jalan di Macau selalu dimulai dengan nama Travessa, Avenida, Estrada dan Rua. Avenida dan Estrada adalah jalan utama yang biasanya terdiri dari dua arah. Rua adalah jalan lebih kecil yang biasanya satu arah dan Travessa adalah lorong yang hanya bisa dilalui motor, pejalan kaki, sepeda atau becak Macau. Saya menemukan banyak sekali lorong-lorong ini sehingga saya menyebutnya sebagai kota seribu lorong. Hotel kecil yang saya pesan berada di Avenida de D.Joao dan saya memutuskan untuk beristirahat di hotel kecil yang nyaman itu sebelum melanjutkan perjalanan menyusuri lorong-lorong kota Macau esok harinya.
EGG TART, MARGARET’S CAFÉ NATA dan PASTERIA KOI
Dengan mematuhi itinerary perjalanan yang saya rancang, saya bersiap keliling Macau hari itu. Saya ingin memulainya dengan sarapan di Margaret’s Café Nata yang berada tidak jauh dari tempat saya menginap. Tidak sabar rasanya mencicipi Portuguese egg tart dan menu-menu lain di Margaret’s Café Nata yang sangat terkenal itu. Tetapi, begitu saya berbelok ke arah Café’s Nata tampak sepi. Apakah Café ini sudah tidak berjualan lagi? Saya penasaran dan menghampiri tempat itu. Saya mendapatkan informasi bahwa Margaret’s Café Nata tutup pada hari Rabu. Dengan kecewa saya meninggalkan tempat itu dan berjalan menyusuri sepanjang trotoar ke arah Senado Square. Toko-toko disepanjang trotoar yang saya lewati masih tutup, tetapi para pekerja sudah mengantri untuk masuk kerja. Pagi terasa baru menggeliat ketika saya memasuki area Senado Square.
Senado Square adalah sebuah area yang terdiri dari deretan gedung-gedung tua bersejarah, pusat perbelanjaan, toko-toko yang menyediakan souvenir khas Macau dan juga makanan khas Macau. Pada waktu malam, Senado Square tampak sangat indah dalam pendar cahaya lampu yang berwarna kuning keemasan. Jalan vaping blok berkilau seperti lukisan. Di salah satu sudut tampak taman kecil dan pohon-pohon yang rimbun sehingga orang-orang bisa berteduh dibawahnya dengan nyaman. Saya juga banyak menemukan tempat-tempat public yang nyaman dan pendestrian yang aman di beberapa lorong dan sudut kota.

Di pojok Senado square saya melihat toko kue Koi Kei Pastelaria. Toko kue ini sangat terkenal di Macau. Saya memasuki toko kue ini dan menemukan berbagai jenis makanan khas Macau seperti permen kacang, almond cake, kue semprong khas Macau, Chinese cake, dendeng daging babi dan sapi juga egg tart. Banyak turis membeli oleh-oleh makanan khas Macau di toko ini. Saya sendiri memutuskan membeli Portuguese egg tart setelah gagal makan egg tart di Margaret’s Café Nata. Kue ini masih hangat ketika saya membawanya ke taman pojok Senado square. Sambil duduk di bawah pohon rindang, mengamati lalu lalang orang sambil  menikmati Portugues egg tart. Kue mungil berbahan dasar telur, tepung, susu dan mentega ini memang lezat. Pantas saja sangat terkenal.
BANGUNAN BERSEJARAH
Setelah menikmati Portuguese egg tart yang lezat, saya memutuskan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata.  Berjalan sekitar sepuluh menit dari Senado square, saya menemukan reruntuhan gereja St. Paul yang merupakan symbol pariwisata Macau. Meskipun saya berkunjung bukan pada hari libur, tetapi banyak sekali turis-turis yang mengunjungi tempat ini.
Hanya halaman depan berbatu dan tangga besar yang tersisa dari Gereja St. Paul. Gereja ini dibangun pada tahun 1602 di samping Jesuit College of St. Paul’s, universitas Barat pertama di Asia dimana para misionaris belajar tentang China sebelum bertugas di Ming Court di Beijing sebagai ahli astronomi dan ahli matematika. Di tahun 1835, kebakaran melanda universitas dan gereja tersebut, meninggalkan hanya halaman depan yang dramatik itu dengan empat baris tiang, lengkap dengan ukiran dan patung. Arsitektur Gereja St. Paul yang unik mengingatkan pada gaya Renaissance Eropa dan arsitektur Asia dalam sebuah campuran mempesona dari unsur China dan Barat. 
 
Di dekat Ruins of St. Paul’s terdapat Museum of Sacred Art and Crypt. Museum ini memajang lukisan, patung dan benda religi lainnya dari gereja-gereja di Macau sementara di pemakaman sejajar museum pengunjung dapat memperhatikan relik-relik dari para martir Jepang dan Vietnam. Masuk ke dalam bangunan museum saya menemukan area luas di ketinggian. Sisi-sisinya dibentengi tembok tinggi dan terdapat beberapa meriam.
Tempat yang bernama Benteng Gunung ini merupakan benteng barat pertama di China. Benteng Gunung dari abad ke-17 menempati puncak bukit di semenanjung Macau dan merupakan salah satu benteng Barat terkuno di China. Sekitar 300 tahun yang lalu, saat puncak kejayaan Dinasti Ming dan sebelum Ruins of St. Paul’s dilahap api, Benteng Gunung menjaga kota. Di tahun 1998, Museum Macau dengan tiga lantai dibangun di dalam benteng tersebut dan sekarang menjadi tempat tujuan wisata utama.  Di kaki bukit sebelah timur dari Monte Fort Anda akan menemukan Koridor Benteng, menempati tanah di tengah Museum Macau dan zona pejalan kaki St. Lazarus. Monte Fort terletak dekat pintu masuk kota dan tempat yang terkenal untuk acara seperti ‘20th Macau International Music Festival’.
Usai mengunjungi Ruins of St.Paul, museum dan Benteng Gunung, saya melanjutkan perjalanan ke A Ma Temple.  Dibutuhkan waktu sekitar sepuluh menit naik public bus dari Senado square.  Kuil A-Ma adalah tempat kaum Portugis mendarat pertama kali di Macau. Kuil ini menjadi titik awal dari perjalanan bersejarah.  Kuil tersebut terdiri atas koridor untuk berdoa, paviliun dan halaman yang dibangun di bukit berbatu dan disambungkan dengan jalan yang berputar melewati gerbang-gerbang bulan dan taman-taman mini. Pada pintu masuk terdapat sebuah batu besar dimana sebuah sampan pelayaran tradisional diletakkan lebih dari 400 tahun yang lalu. Di batu yang lain terdapat  ukiran karakter-karakter merah yang sedang meminta restu dari para dewa. Legenda China mengatakan bahwa dengan menyentuh puncak dari gerbang bulan yang berada di atas bukit akan membawa keberuntungan baik dalam hal percintaan. Di seberang kuil terdapat Museum Kelautan, menampilkan banyak aspek sejarah kelautan Portugis dan China meliputi periode mulai dari abad ke-15 sampai abad ke-17. Beberapa restoran Portugis yang terkenal berlokasi tak jauh dari sana. Bangunan-bangunan bersejarah ini menunjukkan kebersamaan budaya timur dan barat.
Sore harinya, saya menyempatkan diri mengunjungi satu-satunya masjid di Macau.  Dengan berbekal peta saya mencari Mesquita de Macau. Masjid ini terletak di dekat Macau Ferry terminal. Setelah memutari reservoir dan kawasan tepi laut yang sepi lalu jalan setapak yang sedikit menanjak, saya menemukan gerbang masjid yang bernama resmi Mesquita E Cemetario de Macau. Pintu gerbang terbuka ketika saya memasuki halaman masjid yang sangat sepi ini. Tiba-tiba seorang nenek-nenek menyerukan salam dan menyapa saya menggunakan bahasa isyarat. Nenek yang masih terlihat cantik meski sudah berusia 89 tahun ini bernama Aisha dan menetap di halaman samping masjid. Ia memperingatkan saya agar tidak tidur di masjid.
Jendela-jendela masjid yang lebar tampak terbuka dan seorang wanita yang tidak mau disebut namanya tampak duduk termenung memandangi makam di sisi kanan masjid. Matanya sembab dan merah. Setelah berkenalan, wanita dari Indonesia yang bekerja sebagai TKW di Macau ini sedang menunggu temannya yang hendak dimakamkan sore ini. Seorang tenaga kerja wanita asal Indonesia sudah tidak memiliki visa dan meninggal di Macau. Sebuah pertemuan yang dramatis di tengah gemerlapnya Macau. Ketika kembali ke Ferry terminal, wanita ini mengantar saya dan kami bertemu banyak tenaga kerja wanita sedang istirahat di trotoar sepanjang reservoir.
 
GEMERLAP MALAM dan CASINO
Hari menjelang malam ketika saya menaiki shuttle bus gratis dari Macau Ferry terminal menuju The Venetian Resort; sebuah hotel, casino dan pusat perbelanjaan yang megah. Begitu memasuki halaman The Venetian Resort, tampak pilar-pilar gedung yang kokoh dan mewah. Di dalam gedung tampak deretan Casino yang terdapat penjaga di pintunya. Saya langsung naik ke lantai tiga tempat sungai/kanal buatan lengkap dengan gondola ala Venice. Desain langit-langit gedung yang diwarnai seperti langit sungguhan tampak sangat menawan. Dengan membayar 108 MOP, pengunjung bisa menaiki gondola ini dan mendengarkan suara pengemudinya saat menyanyi dengan merdu.
Casino memang telah menjadi bagian dari kota Macau. Hampir setiap hotel kecil dan besar, resort dan tempat-tempat umum selalu menyediakan kartu-kartu, dadu dan mesin judi. Bahkan jumlah Casino di Macau telah melampaui jumlah Casino di Las Vegas. Pendapatan terbesar negara kaya di Asia ini dari Casino dan pariwisata tempat-tempat bersejarah yang dinobatkan sebagai World Heritage. Saya mengagumi Macau yang bisa menjaga warisan budaya dengan baik namun modernisasi dan teknologi juga terus berkembang. Masih banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di negeri ini seperti : bungy jumping dan skywalk di Macau Tower, Lotus Flower Plaza (Monumen Bunga Lotus), Macau Fisherman’s Wharf, sebuah theme park di Macau dan The Bubble, sebuah pertunjukan multimedia di City of Dreams.

Lampu-lampu di sepanjang jalan tampak gemerlap ketika saya turun di terminal bus grand Lisboa dan berjalan menuju penginapan. Sisi-sisi jalan dan gedung-gedung tua yang tersorot lampu kekuningan tampak eksotik dan misterius. Saya mengagumi Macau karena keberhasilannya menjaga keseimbangan masa lampau dan masa kini. Sebuah negeri yang lorong-lorongnya membawa kenangan pada setiap traveler yang singgah di sana. (end)