Menyusuri 5 Sungai Romantis Di Eropa


“Be still like a mountain and flow like a great river” – Lao Tzu

Hidup di Jakarta belasan tahun, membuat saya terbiasa memunggungi sungai yang mengalir di tengah kota.  Sampah yang menggunung memenuhi sungai, rupa air yang menghitam dan aroma tak sedap membuat siapapun enggan berdekatan dengan sungai. Meskipun tahun-tahun terakhir kepedulian atas perbaikan sungai di Jakarta meningkat namun butuh kerja keras dan waktu yang lama untuk bisa menghadapkan kembali wajah kita ke sungai. Tetapi itu di Jakarta yang sungainya telah rusak oleh arogansi manusia. Berbeda dengan sungai-sungai di negara maju yang justru menjadi lokasi wisata, tempat warga melepas penat bahkan menjadi peninggalan bersejarah. Ketika saya mengunjungi beberapa negara di Eropa, saya memiliki kesempatan menyusuri 5 sungai romantis yang membelah kota-kota itu dan menjadi tempat wisata yang romantis.
1.     SUNGAI SEINE PARIS
Setelah berjalan kaki menyusuri kota Paris yang cantik seharian, menjelang senja saya memutuskan untuk turun ke tepi sungai Seine.  Sungai ini membelah kota Paris bagian utara dan selatan.  Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata yang sangat menarik.  Sungai Seine juga menjadi ikon kota Paris selain menara Eiffel.  Sungai sepanjang 776 kilometer ini memiliki puluhan jembatan yang bertengger di atasnya menghubungkan Paris bagian utara dan selatan. 
Saya berjalan kaki menyusuri tepi sungai Seine dan bertemu banyak orang yang duduk menikmati pemandangan sambil bercengkerama. Wisata menyusuri sungai ini bisa menggunakan cruise yang akan melewati hampir semua ikon-ikon wisata di Paris seperti menara Eiffel, gereja Notredame, Jardin Tino Rossi dan museum terbuka Musee de la Sculpture en Plein Air.  Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai waktu yang kita miliki dan kemampuan kantong. Ada tur biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, tur makan malam hingga tur private. Saya memilih tur biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan harga 14 Euro atau sekitar Rp. 200.000.  Tiket bisa dibeli langsung di dermaga atau online. Saya membeli langsung di dermaga. 
Tepat menjelang matahari terbenam cruise memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka agar lebih leluasa mengambil foto. Seorang wanita Asia berambut panjang yang cantik memandu perjalanan kami.  Sepanjang perjalanan menyusuri sungai, saya melihat banyak orang duduk-duduk di tepi sungai atau berjalan menyusuri sepanjang sungai. Mereka menikmati senja dan menunggu malam tiba.  Matahari bersinar keemasan ketika kami berada di kawasan menara Eiffel. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris pada musim semi, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.
2.    SUNGAI THAMES INGGRIS
Sungai Thames membelah kota Inggris dan mengalir di sepanjang selatan Inggris menuju laut.  Mengalir sepanjang 346 kilometer, sungai pendek ini berfungsi sebagai penyedia protein ikan bagi penduduk sekitar dan sebagai pensuplai air serta menjadi sarana transportasi. 
Tetapi sebelum menjadi sungai paling bersih di dunia, menurut data pada tahun 1957, sungai ini pernah disebutkan sebagai sungai mati karena limbah sampah dan kotoran manusia. Sungai menjadi polusi dan kadar oksigennya sangat rendah. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi di sungai Thames. Berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem dilakukan. Pada tahun 1970 semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.
Seperti di Paris, kita juga bisa menyusuri sungai Thames menggunakan cruise.  Saya tidak sempat mencobanya, tetapi menurut informasi yang saya terima ada beberapa operator cruise yang bisa dipilih dengan harga mulai dari 15 poundsterling atau sekitar Rp. 270.000.  Di sepanjang sungai ini juga terdapat wisata terkenal seperti Big Ben, London Eye, House of Parliament, Games of The XXX Olympiade dan Shakespeare’s Globe.  Selain menyusuri sungai Thames menggunakan cruise, kita juga bisa menikmati pemandangan sepanjang sungai dengan duduk di kafe-kafe sepanjang tepi sungai sambil menikmati suasana romantis. 
3.     SUNGAI DANUBE BUDAPEST
Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Saya menikmati tepian sungai ini di kota Budapest, Hungaria. 
Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata. Saya menikmati tepian sungai Danube pada sore hari tepat saat matahari hendak tenggelam. 
Seperti di sungai negara Eropa lain yang menjadi tempat wisata, ada beberapa operator cruise yang melayani wisatawan untuk menyusuri sepanjang sungai Danube.  Tetapi saya lebih memilih menikmati tepian sungai Danube dengan berjalan kaki.  Banyak lokasi wisata terkenal Budapest yang bisa kita nikmati di sepanjang tepian sungai Danube seperti gedung Parlemen Budapest, memorial sepatu besi, kastil Buda yang bersinar ditimpa cahaya lampu dari kejauhan, serta jembatan Chain.  Jam menunjukkan pukul 10 malam saat saya meneruskan perjalanan menyusuri tepian sungai Danube. Masih banyak orang-orang duduk di pinggiran sungai sambil ngobrol dan menikmati suasana malam. Tepian sungai ini tak kalah romantis dengan sungai Thames dan Seine.
4.     SUNGAI VITAVA PRAHA
Praha tak hanya terkenal sebagai kota tua yang cantik dan eksotis, tetapi juga memiliki sungai panjang yang diatasnya bertengger 18 jembatan, salah satunya adalah jembatan Charles yang sangat terkenal.  Saya menikmati sungai Vitava dari atas jembatan Charles hingga turun ke sisi jembatan untuk mencelupkan kaki sambil menggoda bebek-bebek yang berenang. 
Banyak tempat wisata yang bisa kita nikmati sambil menyusuri sungai Vitava seperti Kastil Praha, Charles Bridge, Vysehard dan Dancing House menggunakan kapal Cruise. Seperti di negara lain, ada berbagai operator cruise yang bisa dipilih sesuai kemampuan kantong kita dan waktu yang kita miliki.  Saya tidak menyusuri sungai Vitava menggunakan cruise tapi hanya berjalan sebentar di sepanjang tepian sungai.   
Matahari musim semi terasa menyengat saat saya kembali naik ke atas jembatan meninggalkan orang-orang yang duduk bersama orang-orang yang dicintainya sambil memandangi lanskap kota yang indah di kejauhan.
5.    KANAL-KANAL DI KOTA AMSTERDAM BELANDA
Mengunjungi Amsterdam tanpa menikmati kanal-kanalnya akan terasa hambar. Begitu kata seorang sahabat saya. Kanal-kanal itu memang telah menjadi simbol kota bahkan memiliki nilai sejarah yang tinggi yang juga merupakan salah satu daftar warisan dunia Unesco. Saat saya mengunjungi Amsterdam, sebenarnya tidak memiliki banyak waktu untuk menyusuri kanal-kanalnya, tetapi karena terjebak di tengah kota Amsterdam akibat suporter bola yang memenuhi kota, saya terpaksa menyusuri sepanjang sisi kanal untuk mencari jalan pulang. 
Setiap kanal memiliki keindahan dan keunikannya sendiri. Beberapa kanal yang terkenal dan banyak dikunjungi wisawatan diantaranya adalah kanal yang menyajikan sudut pemandangan menarik berupa 15 jembatan. Untuk melihatnya kita harus berdiri di sisi jalan yang bernomor ganjil.  Lalu Golden Bend yang memiliki pemandangan bangunan-bangunan megah di Amsterdam.   
Saya suka menikmati kanal-kanal ini dengan berdiri di atas jembatan sambil melihat para wisatawan berperahu sepanjang kanal. Di atas jembatan juga banyak sepeda terparkir dan bunga-bunga dalam pot yang menambah romantisnya pemandangan. 
Menikmati sungai-sungai di negara maju membuat saya memiliki harapan besar.  Sebelum umur saya habis, semoga Jakarta juga memiliki sungai-sungai yang menjadi tempat menarik untuk berwisata dan melepas penat sebelum matahari terbenam.   ***


Vienna : Dari Jejak Film Before Sunrise Sampai Rumah Mozart


“You can never replace anyone because everyone is made up of such beautiful specific details.”  Celine – Before Sunrise”


Jika anda penggemar  film BEFORE SUNRISE produksi tahun 1995 oleh Richard Linklater, anda pasti terkenang romantisnya kota Vienna, Austria. Dalam film itu dikisahkan Jesse dan Celine berkenalan di kereta dalam perjalanan mereka dari Budapest. Jesse kemudian meminta Celine untuk menemaninya sehari saja keliling Vienna sebelum esok harinya ia kembali ke Amerika. Akhirnya Celine-pun setuju menemani Jesse menghabiskan waktu sehari semalam di Vienna.  Film yang diperankan Ethan Hawk dan Julie Delpy ini menjadi salah satu road movie yang sangat menarik karena dialog-dialognya yang kuat dan setting lokasinya yang indah. Meskipun saya tidak bersama Ethan Hawk menyusuri Vienna, tetapi saya senang melihat sedikit jejak-jejak romantis film Before Sunrise di sana.
 
Setelah penerbangan satu jam dari Geneva, saya tiba di Vienna jam 2 sore. Saya berencana menginap dua malam di Vienna tetapi kenyataannya saya hanya bisa menikmati Vienna sehari semalam persis seperti Jesse dan Celine dalam film Before Sunrise karena hari pertama saya datang terlalu capek untuk menjelajah Vienna dan saya memutuskan tidur di penginapan.  Dari bandara Vienna, kami naik metro dan turun di stasiun Kliebergasse. 
 Saya menginap di rumah warga lokal Vienna yang saya pesan melalui situs online. Sebenarnya saya hanya menyewa satu kamar, tetapi pemiliknya sedang traveling sehingga kami boleh memakai keseluruhan rumah.  Dan mulailah penjelajahan saya di Vienna dimulai dari rumah warga lokal yang saya tempati. Pemiliknya bernama Aurora, seorang ibu yang memiliki satu putri sekitar 10 tahun. Aurora memiliki usaha katering dan apartemennya berada agak jauh dari pusat kota.  Dari jendela dapur apartemen Aurora saya bisa melihat senja keemasan menyelimuti kota Vienna. 
 
Esok harinya, saya baru keluar untuk menjelajahi kota Vienna. Dengan naik metro sekali dari stasiun Kliebergasse sampailah kami di kawasan kota tua Dom. Vienna sangat cantik dan artistik.  Tak hanya dikenal sebagai kota musik, Vienna atau Wina, Austria ini juga dikenal dengan beragam museum dan istana yang masih berdiri megah hingga saat ini.  Tidak banyak lokasi wisata yang ingin saya kunjungi di Vienna karena waktunya sangat singkat, maka saya memutuskan untuk menyusuri jalan dan mampir di lokasi wisata yang kebetulan satu arah kemana saya berjalan.  Tempat pertama yang saya lewati adalah Sthepans Dom.

Sthepans Dom atau Katedral St. Stephan merupakan gereja bergaya Gothik yang berada di pusat kota Vienna.  Gereja ini memiliki genting yang warna-warni dan menara yang cantik. Dikontruksikan selama 65 tahun dari 1368-1433, gereja tua ini menjadi saksi sejarah di Vienna. Sayangnya beberapa bagian luar sedang direnovasi ketika saya ada di sana, sehingga sedikit semrawut. Banyak wisatawan masuk ke dalam gereja, namun saya memilih jalan memutar ke belakang gereja dan menemukan jalan menuju Mozarthaus.

Memasuki jalan sempit Domgasse tidak ada bangunan yang terlihat istimewa.  Semua bangunan tampak mirip, hanya ada satu pintu dengan papan nama Mozarthaus Vienna. Tempat ini merupakan bekas apartemen yang dijadikan tempat tinggal Wolfgang Amadeus Mozart tahun 1784-1787. Apartemen ini memiliki enam lantai, tetapi Mozart menempati lantai satu. Di rumah ini pula, Mozart menulis opera terkenal “Marriage of Figaro” sehingga apartemen ini juga sering disebut sebagai Figarohaus atau rumah Figaro.  Komponis agung ini meninggalkan jejak yang masih terus dicari dari generasi ke generasi  hingga tigaratus tahun lebih setelah meninggalnya. 
Setelah mengunjungi Mozarthaus, saya melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang sempit tapi artistik mencari Kleines Cafe yang menjadi salah satu lokasi film Before Sunrise. Terletak di Franziskanerplatz, cafe ini kecil dan sederhana. Ruangan dalam hanya ada 4 meja dan selebihnya meja bar. Sementara di tenda luar tampak lebih banyak meja. Begitu memasuki kafe, seorang lelaki tua yang ramah memakai celemek, menyambut kami dan mempersilakan kami memilih meja di dalam. Kami mencoba secangkir kopi dan kue yang lumayan enak.  Hampir satu jam kami duduk di Kleines Cafe menikmati kopi dan melihat pengunjung cafe berganti-ganti. 
Hari menjelang sore ketika kami meninggalkan Kleines Cafe menuju Karntner Strasse, satu pusat perbelanjaan yang menjadi tempat para turis berbelanja oleh-oleh dan mencicipi coklat khas Vienna. Tidak banyak yang bisa saya lihat di Vienna dan saya juga tidak seperti Celine yang menemukan Jesse. Tetapi saya bersyukur bisa sampai di ibukota musik dunia yang cantik ini.

KELILING ASIA MEMBURU CAHAYA

“Be in this world as though you were a stranger or a wayfarer” – Hadith

Bumi Allah itu luas dan perjalanan membuatku menyadari betapa kecilnya manusia. Kita singgah sejenak di bumi yang luas ini sebelum melanjutkan perjalanan yang lebih panjang lagi. Perjalanan juga mengajariku cara pandang yang luas dari berbagai sisi tentang suatu masalah, bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa Islam itu lembut, bersahabat dan tidak menakutkan. Aku mencintai perjalanan karena perjalanan mengajari banyak hal positip tentang kehidupan.
Awalnya saya tidak tertarik menulis buku perjalanan karena sudah terlalu banyak orang menuliskannya. Kalaupun menulis ingin mengambil sudut pandang yang berbeda, tetapi saya belum tahu sudut pandang yang mana. Tetapi seorang teman memaksa saya menulis. “Untuk apa melakukan perjalanan kalau tidak menjadi kenangan?” Begitu katanya. Dan salah satu kenangan bagi penulis adalah menuliskannya dalam sebuah buku. Memang saya sudah menuliskan artikel-artikel tentang perjalanan itu di berbagai majalah, tetapi belum mengumpulkan dalam sebuah buku. Teman saya terus memaksa, “Buku ini akan menjadi jejak kebaikan.” Katanya lagi. Akhirnya saya luluh.

 

 

Akhir 2016 ketika saya mengalami hal buruk dalam pekerjaan saya mulai menulis buku ini untuk menghibur diri. Menulis sambil mengingat-ingat senangnya di perjalanan membuat depresi saya berkurang. Saya belum berpikir ada penerbit yang akan menerbitkannya. Selain menulis ulang, saya juga mengumpulkan artikel-artikel yang sudah dimuat majalah dan saya ubah fokusnya. Saya ingin menulis tentang hal-hal baik yang saya temui di perjalanan. Hal baik selalu related dengan cahaya, maka saya menyebutkan “Memburu Cahaya” kebaikan di tempat-tempat yang saya lewati.
Sebulan menulis ulang dan mengubah fokus, saya kemudian mengirimkan ke penerbit. Seminggu kemudian penerbit GRASINDO (Kelompok Gramedia) menghubungi saya ingin menerbitkannya tepat pada bulan Maret untuk moment hari Kartini. Dan begitulah setelah editing dan pemilihan foto koleksi yang saya miliki, buku ini terbit. Tidak banyak masalah dan halangan untuk proses penerbitannya. Editor juga sangat menolong memperbaiki naskah saya.
“KELILING ASIA MEMBURU CAHAYA” adalah buku nonfiksi saya yang pertama tentang perjalanan. Sebelumnya saya menerbitkan buku novel dan kumpulan cerpen. Ternyata menulis nonfiksi itu menarik karena semua sumber dari fakta. Benar-benar seperti membuka kenangan baik kemudian menuliskannya. Saya menyukainya. Buku ini hanya sebagai jejak saya setelah mengunjungi beberapa negara Asia dan semoga bisa berbagi kebaikan dengan para pembaca.

 

Untuk yang belum baca, silakan ke toko buku. Masih ada di toko buku dan silakan membelinya, biar penulis bisa melakukan perjalanan yang lain dan menuliskannya. Sampai jumpa di toko buku!

AHA Moment SKYSCANNER Indonesia : INSPIRASI HIDUP DARI BENUA EROPA


“Kamu kira, kalau sudah memakai pakaian Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap saja, monyet!” – Pramudya Ananta Toer dalam  BUMI MANUSIA.

 

Menara Eiffel

Pada masanya,  sebagai bangsa yang dijajah ratusan tahun, bepergian ke Eropa itu mustahil. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya. Bukan hanya karena biayanya yang besar, tetapi juga mental sebagai bangsa terjajah yang hanya berani meletakkan sebagian cita-cita dalam khayalan. Tetapi masa itu telah lewat. Hari ini, bepergian ke Eropa menjadi lebih mudah. Tiket pesawat promo dengan harga sesuai kantong bisa dengan mudah kita pesan melalui mesin pencari Skyscanner Indonesia. Informasi perjalanan murah ke Eropa juga bisa kita temukan di berbagai group traveller. Para pejalan dengan senang hati akan berbagi pengalaman mereka menjelajahi Eropa sekaligus tips-tips mendapatkan harga transportasi dan penginapan yang murah. Dan… voilaaa! Para pemimpipun bisa mewujudkan cita-citanya. Saya termasuk salah satu pemimpi itu!

BERJUANG MEWUJUDKAN MIMPI
Sejak kecil saya suka membaca buku-buku dengan setting Eropa dan berharap kelak bisa bepergian ke Eropa. Tetapi saya dilahirkan di keluarga yang biasa-biasa saja, jangankan pergi ke Eropa, pergi ke kota sebelah saja membutuhkan waktu setahun untuk menabung. Bukan hanya itu, saya juga sakit-sakitan. Tetapi setelah saya bekerja dan tinggal di Jakarta, saya memberanikan diri untuk bermimpi. Bukanlah Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi kita?   Tentu saja, kita juga harus berjuang untuk mewujudkannya.

Saya di depan Gedung PBB Geneva, Swiss

Saya mengurus semua persiapan ke Eropa  sendirian tanpa agen perjalanan. Mulai dari menabung jauh-jauh bulan, mengejar tiket promo, mengurus dua visa Eropa (UK dan Scengen), memesan bus dan kereta sambungan antar negara tiga bulan sebelumnya agar mendapat promo, mencari penginapan murah dan mempelajari jalan menuju lokasi yang akan saya tuju. Tidak semuanya mulus, pada pertengahan tahun pekerjaan saya bermasalah dan uang yang saya cadangkan untuk biaya ke Eropa tidak dibayarkan. 

Perjalanan mengajarkan banyak hal

Pada saat itu saya sudah pasrah. Mungkin Tuhan belum mengizinkan saya pergi sejauh itu. Saya mulai mempersiapkan mental jika tidak berhasil berangkat dan melepaskan semua biaya yang sudah saya bayarkan sebagian di depan. Saya juga menjadi lebih dekat dengan Tuhan untuk memohon, meminta sekaligus memberi kekuatan jika perjalanan ini gagal. Saya sadar sesadar-sadarnya perjalanan juga serupa takdir, hanya akan terjadi jika Tuhan berkehendak.  Pada puncak keikhlasan saya, ternyata pertolongan itu datang. Ada satu kerjaan yang mencairkan uangnya sehingga saya bisa berangkat ke Eropa. And then…. my dream comes true!

EROPA, MY DREAM COMES TRUE!
Tuhan benar-benar memeluk mimpi saya. Pada bulan Mei 2017, saya berhasil keliling Eropa dalam satu bulan, mengunjungi 7 negara 8 kota besar mulai dari London, Edinburg, Paris, Geneva, Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam.    

Saya di Museum Louvre
 Memulai perjalanan panjang dengan menjelajah Inggris saya menemukan banyak hal menarik di negara ini. London sangat multikultural, menghargai perbedaan dan terbuka pada ras yang berbeda-beda. Mereka hidup berdampingan dengan baik dan tidak mudah terkejut dengan sesuatu yang berbeda dengan diri mereka. Saya juga menemukan banyak muslimah berjilbab di jalan dan melakukan kegiatan mereka dengan aman. Saya mengunjungi hampir semua lokasi wisata terkenal seperti Big Ben, London Eye, Buckingham Palace, Trafalgar Square, London Brigde, Sherlock Holmes Museum, Camden Market, Oxford city dan Harry Potter Tour.  Tak hanya itu saya juga menyempatkan diri pergi ke Edinburg Skotlandia meski hanya sehari.  
London Big Ben

Paris merupakan kota yang luar biasa kaya dengan benda-benda seni bernilai tinggi sekaligus rawan dunia kriminalitas. Orang-orangnya tak seramah di Inggris tetapi kotanya luar biasa cantik dan klasik. Saya mengunjungi lokasi wisata mainstream seperti Menara Eiffel, Montmartre, Sungai Seine, Arch de Triomphe, Museum Louvre dan lain sebagainya.  Melanjutkan perjalanan ke Geneva saya hanya memiliki satu tujuan yaitu mengunjungi gedung PBB. Geneva sangat mahal sehingga saya hanya berani mengunjunginya dalam sehari sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam. Saya jatuh cinta pada Budapest yang menurut saya salah satu kota tercantik di Eropa sekaligus murah untuk ukuran Eropa. 
Budapest yang cantik

Selama keliling Eropa, saya memilih menginap di rumah warga lokal sehingga saya tahu bagaimana mereka menjalani hari-harinya. Dari sanalah inspirasi tentang kehidupan Eropa kemudian saya lihat dan saya pelajari. Saya melihat bagaimana mereka mengorganisir hal-hal kecil sehari-hari dengan detail, saya melihat bagaimana mereka berjuang keras untuk membiayai hidup mereka di kota yang mahal. Tak hanya tempat wisata yang apik, Eropa juga menyuguhkan manusia-manusia yang menarik.

INSPIRASI DARI MEREKA
Eropa mengajarkan saya banyak hal positip. Hal-hal kecil yang dilakukan warganya membuat saya terinspirasi dan mengadopsi sikap-sikap itu ketika kembali ke Indonesia.  Misalkan saja ; saya terinspirasi ketika para pengunjung kafe dan restoran membereskan bekas makan minumnya sendiri dan menaruhnya ke tempat sampah. Saya terinspirasi bagaimana mereka disiplin di jalan dan membuang sampah pada tempatnya. Saya terinspirasi bagaimana mereka menjaga peninggalan bersejarah yang berumur ratusan tahun dan dikagumi wisatawan dari segala penjuru dunia. Saya terinspirasi bagaimana mereka menghargai privacy orang lain dan tidak sibuk kepo atau nyinyir pada hal yang bukan urusan mereka. Saya terinspirasi bagaimana mereka mandiri, mengerjakan banyak hal sendiri, selalu bersemangat dan tidak bergantung pada orang lain. Saya terinspirasi bagaimana sebagian dari  mereka memperlakukan saya yang berjilbab dengan baik, berbeda dengan berita-berita tentang kebencian di media. 

Rumah warga lokal di Praha

Dan saya….sebagai bangsa yang pernah terjajah lama oleh Eropa sadar, mereka manusia yang sama dengan kita. Memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak perlu merasa inferior karena perbedaan warna kulit karena pada dasarnya kita semua sama-sama MANUSIA.

Crepes terkenal di Paris

Setelah berhasil mewujudkan satu mimpi besar saya ini, saya merasa menjadi orang yang berbeda. Saya tahu bagaimana caranya bermimpi, berjuang mewujudkannya  kemudian mengikhlaskan apapun yang diputuskan oleh Tuhan tentang sebuah hasil. Saya mulai bisa menikmati proses memperjuangkan sesuatu pada mimpi-mimpi saya yang lain. Setiap kali saya teringat kebiasaan disiplin dan mandiri orang-orang Eropa, saya juga menjadi terpacu dan malu saat sedang tidak bersemangat. Setiap melihat orang-orang usil di tempat wisata, saya tergerak untuk mengingatkan agar mereka menjaga peninggalan besar yang dimiliki bangsa ini. Tidak hanya melihat tempat-tempat baru yang menakjubkan, perjalanan juga mengajarkan saya tentang kehidupan yang mendalam.