Tag Archives: Travel

TIPS BERKELANA DENGAN ORANG “GENGGES”

“Sekali bertemu orang gengges, maka perjalananmu akan menyiksa lahir batin.” Begitulah motto hidup para pejalan yang menderita parah akibat ke”genggesan” seseorang di perjalanan.  Apa sih orang gengges itu? Kalo menurut internet gengges itu artinya merepotkan, ribet dan menyebalkan. Satu kata terakhir saya tambahin sendiri. Kalau kita terbiasa traveling dengan santai, simple alias nggak mau ribet sama bawaan dan dandanan maka perjalananmu akan jadi neraka saat mendadak seseorang dengan karakter seperti itu muncul memasuki areal hidupmu.

Dia bawaannya berkontainer-kontainer, sementara kamu hanya bawa ransel 24 liter. Dia dandannya bisa 3 jam sebelum explore sebuah kota sementara kamu bedakan aja jarang. Dia hobbynya ke mall dan belanja sementara target jalanmu ke tempat-tempat baru di kota tersebut. Dia gampang marah jika keinginannya tidak terpenuhi sementara kamu sudah banyak toleransi ke dia. Dia ngelead sesuai maunya sementara kamu juga bayar mahal untuk perjalanan ini. Dia susah kompromi untuk banyak hal, sementara tinggal di apartemen yang sama. Dan yang paling bahaya, dia bisa memanipulasi dengan menjadikan dirinya korban atas banyak hal yang terjadi dalam perjalanan padahal semua temannya justru meladeni banyak kemauannya.

Okay! Well! Tapi hal-hal seperti itu bisa saja kan terjadi dalam perjalanan? Bisa banget, karena kita tidak bisa menebak siapa yang akan muncul dalam hidup kita, tiba-tiba saja seorang teman membawa temannya yang super gengges tanpa aba-aba dan mendadak aja kita shock! Atau…. bisa jadi kita sendiri gengges di mata teman-teman kita tanpa kita sadari. Maka kejadian-kejadian menyebalkan itu sebenarnya bisa membuat kita intropeksi sejauh mana kita juga menyebalkan di mata teman-teman kita.

Ada beberapa antisipasi yang bisa kamu lakukan sebelum moodmu jadi bener-bener buruk lalu kamu ngamuk-ngamuk dan perjalanan kamu jadi nggak bahagia. Sudah keluar uang banyak tapi nggak bahagia? Oh NO! BIG NO!

  1. Kalau model gengges datang dalam perjalananmu, kamu harus siap-siap. Jangan sampai bergantung soal kunci penginapan dan internet sama dia. Karena kamu harus mempersiapkan diri untuk misah jalan dengan dia sebelum bomnya meledak. Tapi lihat dulu segengges apa dia, kalau kamu masih bisa tolerat ya oke-oke saja.
  2. Kamu harus tegas, jangan ikutan menye-menye tapi akhirnya kamu sendiri yang rugi. Beberapa orang gengges justru manfaatin ketidaktegaan kita dan kebaikan kita. So, do it! Say no if you dont like it! Kamu nggak usah kasihan kalau misalnya dia nggak berani sendirian tapi justru tetep ngerepotin kamu. Tega-tega deh!
  3. Kamu tetap harus fokus pada tujuanmu. Terlebih kalau tujuan dia mulai sangat mendominasi sehingga kamu nggak kebagian tujuanmu sendiri. Kamu harus berani ngomong dan memisahkan diri darinya.
  4. Lain kali cek dulu teman yang akan bergabung dalam perjalanan kamu. Jika dia terlihat benih-benih gengges mending sebelum berangkat bikin perjanjian pra perjalanan. Ini penting kalo perlu tertulis biar nggak bikin masalah di kemudian hari.

Sebenarnya perjalanan itu juga berlaku seleksi alam. Jika kita tidak menyenangkan nggak akan ada orang yang mau jalan sama kita. Tapi kalo kita oke, maka banyak teman yang akan jalan sama kita. Itu aja sih ukurannya! Oh wait! Kadang-kadang hal buruk yang datang dalam hidup kita itu juga berkah khususnya buat penulis seperti saya. Karena sejak bertemu beberapa orang gengges saya jadi dapat ide cerita untuk menulis hal-hal yang sebelumnya diluar jangkauan otak saya. Nah! Selamat berjuang jika kalian bertemu teman gengges dalam perjalanan!

 

VELIKY NOVGOROD (1) : THE BIRTHPLACE OF RUSSIA & HANTU GADIS KECIL

“Old things always seems better”

Hampir pukul 4 sore saat bus yang saya tumpangi dari Saint Petersburg tiba di terminal bus Veliky Novgorod. Sopir yang wajahnya khas Rusia menunggu saya menurunkan koper dari bagasi bus tanpa tersenyum sedikitpun.

“Spasiba!” kataku sambil mengangguk sopan pada sopir lalu mendorong koper ke pinggir. Selama di Rusia, kata yang paling saya kuasai hanyalah “spasiba” alias terima kasih karena bahasa Rusia kedengeran begitu ruwet di telingaku meski jadi menantang untuk dikuasai lebih banyak. Bus itu melanjutkan perjalanan lagi sementara saya celingukan mencari jalan keluar terminal. Lalu saya menyeret koper saya ke arah pintu terminal. Tidak banyak orang di terminal, hanya ada beberapa pemuda memanggul tas mirip tas belanja tanah abang kalau di Jakarta dan beberapa keluarga yang baru datang dari perjalanan. Saya terus menyeret koper saya menuju depan terminal lalu berhenti di samping kios kecil yang menjual kopi dan makanan. Saya melihat berkeliling untuk mengenal wajah kota yang baru saja masuki.

Veliky Novgorod awalnya bukan tujuan perjalanan saya. Tetapi karena saya tidak mendapatkan kereta ke Kazan maka saya memutuskan untuk singgah di kota ini beberapa hari. Sepertinya akan menarik karena menurut sejarahnya kota ini adalah kota tertua di Rusia yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di kota ini ada sisa-sisa kediaman asli Rurik, pangeran pertama Rusia. Saya selalu tertarik dengan hal-hal yang terhubung dengan masa lalu karena banyak yang bisa dipelajari dari kisah-kisah masa lalu. Tidak hanya pembelajaran itu yang saya kejar namun juga penampakannya yang eksotis. Benar saja, kota ini memang tua, tenang dan eksotis.

Bus-bus tua berseliweran di jalanan yang bertabur daun-daun kekuningan musim gugur, para Babushka (nenek) berjalan di trotoar bersama binatang piaraannya dan ibu-ibu muda berjalan cepat sepulang aktivitas mengenakan jaket merah, kuning atau hijau. Orang-orang di kota ini memakai pakaian yang lebih berwarna ketimbang warna pakaian orang-orang di Moscow atau Saint Petersburg. Tetapi memang saya lihat lebih banyak lansia yang tinggal di kota ini ketimbang anak muda. Mungkin anak mudanya bekerja di kota lain seperti Moscow atau Veliky Novgorod.

Sebenarnya saya ingin naik bus menuju apartemen yang telah saya sewa, tetapi dengan bawaan koper yang berat saya memutuskan menggunakan taksi online Yandex. Tidak sampai lima menit taksi Yandex sudah menjemput saya di depan terminal lalu mengantarkan saya menuju apartemen. Hanya membutukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai apartemen. Saya tiba agak terlambat sehingga pemilik apartemen sudah menunggu lama di depan gedung apartemen. Pemiliknya seorang wanita muda yang tidak bisa bahasa Inggris, mengenakan jaket hijau army dan wajah polos tanpa make up. Setelah komunikasi menggunakan bahasa isyarat yang bisa saling dipahami, wanita itu hendak meninggalkan apartemen. Saya menanyakan dimana meletakkan kunci saat saya check out nanti dan dia menyuruh saya meninggalkan kunci di meja televisi. Sepertinya keamanan di Rusia terjaga sehingga beberapa apartemen yang saya inapi selalu cuek meminta meninggalkan saja kuncinya check out jika dia belum datang.

Apartemen itu ada di lantai 4 dengan gedung yang sudah tua. Tanpa lift saya harus mengangkat koper saya menaiki tangga hingga tiba di depan pintunya. Tetangga apartemen seorang Babushka (nenek) yang hidup sendirian bersama kucingnya. Dan begitu pintu apartemen terbuka, saya merasakan aura yang kurang enak, sepertinya tempat ini ada yang ‘menunggu’ di dalam. Tapi saya tidak memedulikan dan masuk ke dalam, meletakkan koper lalu memilih tempat tidur di dalam yang dekat dengan gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Mengabaikan semua yang saya rasakan, saya membuka pintu balkon, melihat kejauhan kota tua yang mulai menguning karena senja turun dan menikmati daun-daun jatuh menimpa balkon apartemen.

Suhu menunjukkan angka 10 derajat dan di luar hujan mulai turun. Saya mengurungkan niat untuk berjalan-jalan sekitar apartemen karena suhu 10 derajat bagi orang tropis sangat dingin dan memutuskan duduk di depan jendela dapur sambil memandangi hujan dan menyesap kopi perlahan-lahan. Entah kenapa, saya merasa terhubung dengan kota ini, rasanya seperti pulang ke rumah. Kota yang tenang, eksotis dan nyaman untuk ditinggali. Berbeda dengan Moscow dan Saint Petersburg yang ramai dan sibuk. Veliky Novgorod tampak sederhana, apa adanya dan cantik. Saya merasa di sini bisa menjadi diri saya sendiri, tanpa perlu mengenakan topeng.  Saya jatuh cinta pada kota tua ini, sejak pertama melihatnya.

Sambil membaca-baca booklet tentang Veliky Novgorod dan tempat-tempat menarik yang bisa saya kunjungi esok harinya, saya membayangkan bertemu Pangeran Pertama Rusia dari dinasti Rurik di tempat ini. Mungkin sangat menarik jika saja ada mesin waktu yang bisa membawa saya menemui mereka, ngobrol tentang kehidupan mereka di tempat menarik ini dan cita-cita mereka di masa depan. Lalu saya tertawa sendiri dengan lamunan saya dan memutuskan untuk membuat mie instant yang saya bawa dari Indonesia untuk makan malam. Selesai makan malam kantuk tak tertahankan dan saya langsung tidur meringkuk di pembaringan samping gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Dan time travel itu terjadi dalam mimpi saya.

Seorang gadis kecil dengan rambut merah berponi dan dikuncir sepinggang berjalan pelan keluar dari gudang kecil gelap di samping tempat tidur saya. Gadis kecil itu mengenakan rok pendek kotak-kotak warna merah dan atasan putih tulang lengan panjang, mengenakan sabuk tampak rapi dan manis. Sepatunya hitam dengan kaos kaki tinggi. Gadis itu tersenyum pada saya dan mengulurkan tangannya untuk menyalami saya. Tidak ada kata-kata, tetapi wajahnya ramah dan penuh senyum seolah mengucapkan selamat datang. Saya menyambutnya tak kalah ramah dan merasa terhubung dengannya. Tetapi saat saya mau melepaskan tangan saya, gadis kecil itu memegang tangan saya begitu erat dan menarik saya hingga jatuh tertelungkup di gudang. Beberapa saat saya mengigau, akhirnya saya bisa terbangun. Dengan mata masih buram, saya melihat bayangan gadis itu berdiri di depan gudang kecil gelap itu.

(to be continued…)

BLUSUKAN DI PASAR TRADISIONAL VELIKY NOVGOROD RUSIA

Tempat yang paling saya incar untuk blusukan di setiap negara yang saya kunjungi itu adalah pasar tradisional. Bukan untuk belanja (meskipun kadang jadi belanja juga), tapi saya senang melihat orang-orang lokal berkegiatan di pasar, bertransaksi, saling ngobrol dan menjajakan barang dagangannya. Tak hanya manusianya, barang-barangnya sudah tentu unik dan berbeda dari setiap negara.  Kali ini saya blusukan ke salah satu pasar tradisional yang ada di Veliky Novgorod, kota tertua di Rusia.

Jam 3 sore karena kedinginan setelah menyusuri jalanan kota Veliky yang sepi, saya belok ke pasar tradisional ini. Sebenarnya hanya ingin menghangatkan badan dengan masuk ke dalam pasar, tapi jadi malah keterusan menyusuri semua lorongnya. Pasar ini tidak luas, namun bersih dan rapi. Terdiri dari dua lantai, pembagian kios-kiosnya tidak menentu, bahkan terkesan tidak beraturan sehingga lantai satu bisa jadi berjualan makanan basah dan kering, pakaian, bunga plastik, mini market dan minuman. Begitu juga dengan lantai dua yang berisi kain, pakaian, mainan anak-anak dan minuman.

Saya kemudian kembali ke lantai satu untuk mencari teh khas Rusia setelah mengecek di internet teh mana yang sebaiknya saya beli. Saya memang suka membeli teh dari berbagai negara saat ke pasar selain hanya ingin ngobrol dengan penjualnya. Tetapi di sini saya tidak bisa mengobrol karena semuanya berbahasa Rusia sementara saya tidak paham bahasa Rusia. Tidak ada yang bicara dalam bahasa Inggris, sehingga saya hanya menduga-duga pembicaraan mereka, menggunakan kalkulator untuk menawar harga atau menggunakan google translate.

Saya menemukan teh yang saya cari di lantai satu, dekat dengan penjual coklat. Harga tehnya hanya 95 Rubel atau Rp.25.000 lalu saya membeli satu setelah bingung mau membeli yang mana dan penjualnya menyarankan saya membeli jenis teh hitam. Setelah ngobrol pakai bahasa tubuh dan akhirnya nggak saling paham juga, saya hanya senyum-senyum dan meminta untuk memotret penjualnya. Penjualnya ramah dan murah senyum, dia mengijinkan saya memotret apa saja yang ingin saya potret.  Dari penjual teh saya bergeser ke penjual coklat.  Ada berbagai coklat dengan harga yang murah dibandingkan di Indonesia (tentu saja) tetapi saya tidak membeli coklat. Saya malah jalan-jalan ke arah lain bagian pakaian dan sepatu.

Begitu memasuki satu kios saya disambut mbak-mbak cantik yang penampilannya nyaris seperti artis di film-film spionase. Ternyata mbak cantik ini penjual jaket di salah satu kios. Dia menawarkan jaketnya yang sedang sale seharga sekitar 100 ribuan jika dirupiahkan menggunakan bahasa Rusia. Orangnya ramah, tetapi sayangnya lagi, dia tidak bisa berbahasa Inggris, jadi kami hanya ngobrol menggunakan google translate yang sangat terbatas dan kalkulator untuk menanyakan harga.  Teman saya kemudian tergoda untuk melihat jaket-jaketnya lebih detail bahkan kemudian membelinya sementara saya justru berpindah ke bagian lain yaitu sepatu setelah meminta ijin untuk memotret mbak cantik itu. Dia bilang ke teman-temannya di pasar kalau saya fotographer, dan saya tertawa ngikik menjawabnya menggunakan bahasa Indonesia, “bukan-bukan, saya hanya suka memotret, bukan fotographer.” Ya, sekali-kali menggunakan dua bahasa berbeda nggak apa-apa ‘kan? Biar sekalian saja sama bingungnya.

Seorang ibu paruh baya menjual sepatu boots sambil menggendong anjing pudelnya berwarna coklat yang lucu. Ibu ini tampak ngos-ngosan setiap bergerak. Tetapi begitu saya melihat-lihat sepatunya, dia tampak antusias. Saya menanyakan harga menggunakan kalkulator dan lagi-lagi berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh, tetapi ibu ini cukup bisa memahami maksud saya.  Karena saya membutuhkan sepatu boots dan harga yang ditawarkan hanya 100 ribuan dalam rupiah, maka saya membelinya satu. Tetapi setelah beres pembelian, saya meminta untuk memotret ibu paruh baya itu. Awalnya saya pikir ibu itu akan menolak di foto, ternyata begitu saya menunjuk kamera saya, si ibu malah mengambil anjing pudelnya dan memeluknya untuk diajak foto bersama.

Setelah puas menyusuri pasar malah kebablasan belanja saya kemudian keluar pasar. Tampak di luar, penjual labu sibuk melayani pembeli, kios-kios roti dan minuman kaleng sementara saya memutuskan untuk menyeberang melalui penyeberangan bawah tanah ke seberang pasar. Dalam penyeberangan bawah tanah juga ada penjual pakaian dan minuman. Di seberang pasar tampak pasar kaget yang menjual sayuran, tanaman hias, bunga, bawang putih, jamur dan umbi-umbian.  Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah lain untuk mencari mini market. Kota tua Novgorod sangat cantik, saya akan mengulaskan tersendiri di bagian destinasi. Ikuti terus perjalanan saya di Rusia, ya! Terima kasih!

LUGGAGE STORAGE DI STASIUN LENINGRAD MOSCOW

Pengen jalan-jalan keliling kota Moscow tapi males bawa barang berat? Kamu bisa menitipkan barang-barangmu di Luggage Storage yang ada di beberapa train stasiun atau tempat tertentu seperti Red Square. Tapi sebelumnya kamu harus cek dulu informasi mengenai luggage storage itu mulai dari harga, ukuran barang yang dititipkan sampai persyaratan yang diperlukan untuk menitipkan luggage kamu.

Jika traveling sebelumnya saya membawa ransel, tapi traveling ke Rusia kali ini saya membawa koper 20’. Cukup repot dan berat untuk orang yang terbiasa dengan bawaan minim, tetapi karena musim gugur saya nggak mau kedinginan sehingga saya membawa beberapa jaket tebal.  Nah, masalah mulai muncul saat jam check out dan keberangkatan kereta ke kota lain masih tengah malam. Untuk menunggu waktu dari jam 12 siang hingga 12 malam, saya nggak mungkin menyeret koper keliling kota Moscow ‘kan? Ini dia saya memerlukan Luggage Storage yang bisa menyimpan barang saya hingga jam 12 malam nanti sehingga saya bisa menghabiskan waktu dengan nyaman.

Sebenarnya ada banyak Luggage Storage seperti di Red Square, namun menurut keterangan luggage stirage di Red Square menggunakan tangga dan tidak ada lift sehingga saya urung ke sana. Beberapa stasiun juga menyediakan Luggage Storage seperti Bellorussky tetapi saya memilih menitipkan koper saya di Leningrad stasiun karena malamnya saya akan naik kereta dari sini ke kota lain, jadi tidak perlu repot lagi menyeret koper ke tempat lain.

 


Terletak di lantai bawah stasiun kereta Leningrad berdekatan dengan toilet dan orang berjualan souvenir, Luggage Storage ini ada dua tipe yaitu manual dan otomatis. Untuk luggage otomatis ukuran tas hanya sesuai kotak yang ada di sana, jadi kalau koper kamu melebihi batas tidak akan bisa masuk. Tetapi untuk manual kamu bisa memasukkan ukuran berapapun ke dalam ruangan itu tanpa batas ukuran. Saya kemudian memilih menitipkan barang saya di tempat yang manual karena koper saya cukup besar dan ribet masukin ke dalam kotak. Harga per koper/tas 250 RUBEL atau sekitar Rp.66.000 untuk sehari menitipkan barang, hitungannya per tas bukan besarannya. Sementara harga storage luggage otomatis juga sama tergantung besaran box yang dipilih.

 

Itu pengalaman saya menitipkan tas di Leningrad stasiun, kalau ingin bertanya lebih banyak bisa melalui komen di bawah atau email. Saya masih akan melanjutkan kisah perjalanan saya di Rusia! Jangan pindah blog dulu 😊

 

RUSIA : Jangan Menilai Buku Dari Covernya

“Jangan menilai buku dari covernya, jangan menilai orang Rusia dari film Hollywood.”

Malam sebelum berangkat traveling ke Rusia, saya menonton film “The Way Back” garapan Peter Weir tahun 2010 yang bercerita tentang Janusz seorang yang didakwa mata-mata atas saksi istrinya sendiri lalu ditahan di kamp Siberia yang tidak manusiawi. Tentara Rusia memperlakukan dia dengan sadis hingga Janusz berhasil melarikan diri melewati banyak rintangan alam dan selamat sampai di India.  Usai menonton film saya masih berdebar, apa benar orang-orang Rusia begitu tidak menyenangkan seperti film-film Hollywood yang saya tonton? Seorang teman yang sedang solo traveling ke Mongolia lalu memasuki Rusia melalui Irkutsk lewat pesan online bilang kalau mereka memang tidak ramah, jadi mesti mempersiapkan diri menghadapi hal yang sangat berbeda dari traveling sebelumnya. Oh, baiklah!

Setelah 13 jam penerbangan Jakarta-Moscow, transit di Bangkok semalam,  tepat jam 10 malam berikutnya sampailah saya di Demodedovo International Airport Moscow. Ada dua bandar udara internasional lainnya di Moscow selain Demodedovo yaitu Vnukovo dan Sheremetyevo. Begitu keluar dari lobby bandara saya disergap suhu 7 derajat celcius. Tangan rasanya kebas saat memesan taksi online Yandex karena sudah tidak sanggup naik metro menuju penginapan. Yandex sangat mudah digunakan seperti grab, uber atau gocar di Indonesia, kita juga bisa menggunakan nomor Indonesia tanpa perlu memiliki nomor lokal.  Pembayaran bisa cash ataupun kartu kredit. titik penjemputan yang dipilihpun tepat ditempat kita berada, jadi tidak usah menggeser-geser titik. Lima menit kemudian Yandex yang saya pesan datang lalu mengantarkan ke penginapan. Satu jam lebih diselingi macet, menjelang tengah malam saya tiba di depan alamat yang saya tuju. Sopir yang tidak bisa bahasa Inggris hanya menunjuk bangunan di depan saya, lalu saya menyeret koper ke sana.

Dan mulailah drama itu! Bangunan itu memiliki akses untuk masuk, sementara saya tidak punya akses dan tidak bisa menelepon pemilik penginapan karena tidak memiliki nomor lokal. Tidak yakin bahwa pintu masuknya yang memiliki akses itu, saya segera berjalan ke samping memasuki pintu lain yang kebetulan terbuka. Tiba-tiba seorang cowok Rusia pulang belanja dan bilang bahwa alamat yang saya tuju bukan di situ. Dia tersenyum ramah dan bersedia mengantar ke alamat yang benar. Akhirnya cowok itu mengantar ke pintu samping kanan hingga masuklah saya ke sebuah tempat seperti kost-kost-an. Tampak beberapa anak muda sedang duduk sambil belajar. Tempat itupun ternyata bukan alamat yang saya tuju.  Sepertinya ini memang benar-benar kost-kostan. Ya ampun! Saya benar-benar tersesat!

Dua cowok di rumah seperti kost-kost-an itu berbaik hati mengantar kami ke alamat yang mereka yakini benar. Dia tidak bisa berbahasa Inggris tapi masih bisa menggunakan bahasa isyarat yang saya pahami. Ternyata balik lagi, alamatnya ada di pintu yang ada aksesnya itu dan si cowok memiliki akses untuk masuk. Dini hari, saya berhasil istirahat di penginapan yang saya pesan atas bantuan cowok-cowok baik itu. Tak hanya itu di jalanan seorang ibu yang pernah ke Bali juga berusaha menolong kami yang tersesat, hanya saja memang jarang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan ada yang berbaik hati mengangkat koper kami saat kami kesulitan membawanya.

Esok malamnya saat saya nongkrong di kafe dekat stasiun menunggu perjalanan malam ke Sank Petersburg, dua orang bapak-bapak Rusia mengajak kami ngobrol. Ternyata mereka pernah keliling Indonesia dan meski menggunakan Inggris terbata-bata tampak mereka berusaha ramah. Kami sempat bertanya, “apa benar orang Rusia susah tersenyum? Dia justru tersenyum tipis, “tidak semua begitu. Mungkin yang susah tersenyum beban hidupnya berat, tapi saat liburan di luar Rusia mereka akan mudah tersenyum.”  Sebagian mereka memang terlihat judes, tapi jangan tertipu dengan muka judes karena mereka ringan tangan mengangkatkan koper kami keluar dari kompartemen kereta.

Kesan pertama saya terhadap orang Rusia baik dan melegakan. Ternyata benar, jangan menilai sesuatu dari kabar-kabar yang dihembuskan orang lain, mending lihat sendiri kenyataannya. Oke, ini hanya kesan pertama saya sebagai turis. Bisa jadi orang lain akan mengalami hal yang berbeda, atau mereka yang tinggal lama di Rusia tentu lebih tahu secara mendalam. Saya masih akan menulis terus tentang Rusia, jadi jangan pindah chanel dulu! 🙂 Oya, foto yang saya tampilkan mungkin tidak tepat mengikuti tulisan, tetapi menggambarkan bagaimana orang Rusia yang saya temui. Tunggu tulisan saya selanjutnya! 🙂

 

 

 

BRUNEI DARUSSALAM : NO SMOKING, NO TIPPING! (PART 2)

“Peace cannot be kept by force ; it can only be achieved by understanding, ~ Albert Einstein.

Hari kedua di Brunei Darussalam, saya merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat turistik seperti Regalia Museum dan Masjid Omar Ali Saefuddin.  Karena menunggu bus lewatnya sangat lama, maka saya memesan taksi online (DART) yang beroperasi seperti GRAB atau GOCAR kalau di Indonesia. Selain angkutan umum sangat jarang, kebanyakan warga menggunakan mobil untuk transportasi. Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil kancil dengan pengemudi muda menjemput saya.  Begitu mobil melaju di jalanan menuju Regalia Museum, pengemudi muda ini banyak mengajak saya ngobrol, mulai dari menunjukkan tempat yang menarik dikunjungi di Brunei, sampai obrolan tentang Jakarta.  Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai Regalia Museum dan pengemudi muda itu menolak kembalian ongkos taksi online yang sengaja saya tinggalkan untuknya. Ia mengembalikan tepat sesuai angka sen terkecil.  Sikap ini mendadak membuat saya nyaman berada di negera kecil ini.  Tidak hanya no tipping, negeri ini juga no smoking. Sejak tahun 2012  merokok tidak diperbolehkan di negera ini. Jika tertangkap polisi harus membayar denda yang cukup besar.  Brunei merupakan satu negara bebas rokok terluas di dunia.  Tidak ada smoking room dimanapun bahkan dikamar mandi dipasang signboard “no smoking”.  Di areal luar-pun dilarang merokok dengan alasan, semua orang berhak atas udara yang bersih, jadi jangan sampai tercemar oleh asap rokok orang lain.

Regalia Museum

 

Regalia Museum berada tepat di tengah kota Brunei Darussalam dan berisi koleksi tribute to Sultan. Berisi koleksi foto-foto Sultan dari masa kecil hingga dewasa, kunjungan-kunjungan berbagai negara ke Brunei Darussalam dan cinderamata dari berbagai negara. Pengunjung hanya boleh memotret di luar ruangan koleksi, sementara di bagian dalam hanya diperbolehkan melihat-lihat. Saya menemukan banyak cinderamata dari Indonesia terpajang di koleksi bagian dalam berjejeran dengan cinderamata dari berbagai negara lain.

Areal dalam Regalia Museum

 

Udara di luar sangat panas menjelang waktu dhuhur saat saya berjalan ke arah  belakang museum sekitar 100 meter tempat masjid Omar Ali Saefuddin berdiri.  Dengan gaya arsitektur Mughal Islam dan Italia, masjid ini selesai dibangun pada tahun 1958.  Nama Omar Ali Saefuddin diambil dari nama Sultan Brunei ke-28. Di sekitar masjid ini terdapat laguna atau kolam buatan di tepi sungai di Kampong Ayer serta replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke -16. Kubah masjid Omar Ali Saefuddin dilapisi emas murni dengan tinggi bangunan 52 meter sehingga dapat dipandang dari berbagai tempat di Brunei Darussalam.

Bagian dalam Masjid Omar Ali Saefuddin

 

Saya menghabiskan waktu hingga waktu taraweh di masjid Omar Ali Saefuddin ini. Selain mengambil foto juga ngobrol dengan pekerja migran dari Indonesia, Bangladesh dan India. Bahkan saya berbuka puasa di pelataran masjid dengan mereka dengan makanan yang disalurkan penduduk lokal ke masjid. “Saya dulu bekerja rumah tangga, tapi sekarang sudah punya usaha sendiri, jualan jamu,” kata pekerja dari Indonesia yang sudah di Brunei selama 18 tahun, bahkan satu anaknya sudah sekolah di sana. “Setahun saya pulang ke Jawa dua kali, “tambahnya. Banyak saudara kita bekerja di Brunei, bahkan saya selalu menemukan orang-orang Jawa di semua restoran tempat saya makan, rata-rata mereka sudah bekerja minimal 4 tahun dan akan kembali lagi.  Taraweh di Brunei 23 rakaat, tetapi beberapa jamaah yang memilih 8 rakaat menunggu di luar untuk kemudian bergabung lagi saat witir.  Di luar masjid saat taraweh juga tersedia banyak makanan gratis yang bisa diambil para jamaah atau siapa saja yang sedang berada di masjid.  Malam itu karena sudah lelah, saya memutuskan segera kembali ke hotel dan melanjutkan explore esok harinya.

Istana Nurul Iman, tempat kediaman Sultan

 

Hari berikutnya saya masih menggunakan DART untuk ekplore Brunei, dan kali ini dijemput dengan mobil Fortuner. Pengemudinya pendiam, sehingga saya tidak banyak ngobrol. Tujuan saya banyak sebenarnya, namun ternyata hampir semua lokasi tidak sama dengan bayangan saya. Kebanyakan lokasi yang saya kunjungi sepi sehingga saya seperti orang aneh jalan-jalan tidak jelas menyusuri lokasi wisata itu.  Pertama mengunjungi Istana Nurul Iman yang sepi dan hanya bisa melihat di depan pagarnya. Kedua saya mengunjungi pasar Kiangeh yang juga hanya ada beberapa penjual sayur. Lalu saya melanjutkan perjalanan ke Kampong Ayer. Ini agak lebih menarik ketimbang dua tempat sebelumnya.

Kampong Ayer

 

Kampong Ayer (kampung air) merupakan kawasan pemukiman yang secara historis merupakan pemukiman penting di Brunei. Pemukiman yang dibangun di atas sungai Brunei memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari sekolah, kantor polisi, kolam renang, hingga museum.  Satu bagian tampak dengan bangunan lebih tua sementara bagian lain sudah menggunakan beton dan sangat bagus. Saya hanya sempat menyusuri beberapa bagian karena ingin berkeliling menggunakan perahu.  Selama beberapa abad Kampong Ayer menjadi pusat ekonomi dan sosial yang penting di Brunei hingga awal imperialisme Inggris di Brunei.  Dari Kampong Ayer ini, saya memutuskan menyewa perahu untuk menyusuri sungai hingga ke pasar Gadong.  Jadi perjalanan saya tidak hanya menjelajah daratan namun juga melalui sungai.

Kampung Ayer

 

Sore menjelang buka puasa, saya mengunjungi pasar Gadong untuk berbuka puasa di sini bersama warga lokal yang antri belanja di pasar Gadong dan sebagian buka puasa di sini. Tulisan tentang Pasar Gadong, nanti akan saya tuliskan tersendiri.  Seminggu di Brunei Darussalam meninggalkan kenangan yang menarik buat saya. Negeri yang sepi namun tenang ini ramah dan nyaman untuk dikunjungi.  Saya memang tak mendapatkan tempat wisata sesuai impian saya, tetapi keramahan penduduknya dan ketenangan negara ini mempesona.