NONTON SIRKUS DI MOSKOW

Malam itu suhu turun menjadi 7 derajat. Teman perjalanan saya sedang ke minimarket saat saya membuka-buka aplikasi KLOOK mencari tiket pertunjukan di Moskow. Sudah beberapa negara saya kunjungi tanpa sempat menonton pertunjukan khas mereka dan kali ini saya tidak mau kelewatan lagi. Sebenarnya saya ingin menonton teater atau balet di Moskow, tetapi mengingat pertunjukan teaternya berbahasa Rusia dan baletnya sangat mahal, maka saya mencari alternatif lain. Lalu saya menemukan sirkus yang harga tiketnya hanya Rp. 189.000 untuk kelas 9. Begitu saya klik, ternyata tiket kelas 9 sudah habis, adanya tiket kelas 8 dengan harga Rp. 332.000. Baiklah, akhirnya saya dan dua orang teman sepakat untuk membeli tiket itu. Tiket akan dikirim dalam 24 jam dan benar, esoknya saya sudah menerima tiket berbahasa Rusia. Setelah saya Google translate, dalam tiket terdapat alamat, pintu masuk, kursi dan jam show.

Sebenarnya, sejak kecil saya tidak suka menonton sirkus bahkan saya belum pernah menonton sirkus seumur hidup saya. Saya takut melihat binatang-binatang buas di dalam kerangkeng dan membayangkan binatang itu ngamuk melukai pawangnya hingga membuat keributan yang luar biasa seperti di film-film. Setelah dewasa ini, saya tidak suka sirkus karena kasihan melihat binatang-binatang itu dijinakkan dan dijadikan ajang untuk mencari uang oleh manusia. Menurut saya tidak seharusnya mereka berada di sana menjadi budak-budak manusia.  Mereka seharusnya punya kehidupannya sendiri, di hutan. Tetapi rasa ingin tahu saya tentang sirkus dan  saat sirkus ini datang ke Indonesia tiketnya sangat mahal sehingga saya tidak mampu membelinya, maka mumpung berada di Rusia saya memaksakan diri sendiri untuk menontonnya.

Dengan naik metro ganti line dua kali sampailah saya di tempat sirkus ini. Lokasinya sangat mudah dijangkau, gedungnya bagus dan mentereng dengan hiasan khas sirkus di puncaknya. Penonton (yang kebanyakan dari turis Tiongkok) berdatangan dengan tertib. Saya hanya menunjukkan tiket di handphone kemudian diverifikasi lalu bisa masuk melalui pintu yang disebutkan ditiket. Saat saya datang ternyata sirkus sudah mulai sekilat 10 menit, sehingga saya ditahan dipintu sejenak agar tidak menganggu penonton dan pemain. Pintu masuk dan pengaturan pertunjukan ini sangat profesional sehingga kita telat datangpun tidak bikin ribut dan menganggu yang lain. Setelah satu show berakhir, petugas segera menunjukkan kursi kami.

Kursi kelas 8 ternyata ada di deretan paling belakang. Tapi nggak usah sedih, karena deretan paling belakang inipun masih bisa menikmati pertunjukan dengan jelas karena gedungnya tidak terlalu besar. Hanya beberapa penonton menganggu dengan kamera yang diacung-acungkan ke depan sehingga menutupi saya. Sirkus ini sangat modern dan menarik. Kostumnya luar biasa, penampilannya luar biasa dan dikemas dengan sangat menghibur. Setiap jeda satu show dengan show lainnya dimunculkan karakter-karakter komedi yang berinteraksi dengan penonton. Saya suka bagian ini meskipun tidak ada bahasa Inggrisnya, tetapi masih bisa dipahami.

Jika awalnya saya ingin pulang seandainya sirkus ini membosankan, ternyata waktu tiga jam dengan istrirahat 15 menit masih kurang. Saya justru enggan beranjak setelah sirkus selesai. Betapa profesionalnya mereka. Saya membayangkan kedisiplinan mereka berlatih dan terus berlatih. Sirkus ini rekomended untuk di tonton meskipun saya tetap sedih melihat binatang-binatang itu di dalam sana dan tidak setuju mereka menjadi seperti itu.

Hampir tengah malam saat saya keluar dari gedung pertunjukan dan berjalan kedinginan menuju stasiun metro. Saya terus berpikir tentang mereka para pelaku sirkus ; berlatih-berlatih dan berlatih. Kadang-kadang hidup tidak menyediakan pilihan lain kecuali yang ada di depan mata kita, tetapi bisa juga kehidupan itu memang yang terbaik untuk kita atau memang itu yang kita cita-citakan. Stasiun metro mulai lengang tapi kereta tetap datang setiap 90 detaik sekali. Saya masih hanyut melamunkan para pelaku sirkus.

BLUSUKAN DI PASAR TRADISIONAL VELIKY NOVGOROD RUSIA

Tempat yang paling saya incar untuk blusukan di setiap negara yang saya kunjungi itu adalah pasar tradisional. Bukan untuk belanja (meskipun kadang jadi belanja juga), tapi saya senang melihat orang-orang lokal berkegiatan di pasar, bertransaksi, saling ngobrol dan menjajakan barang dagangannya. Tak hanya manusianya, barang-barangnya sudah tentu unik dan berbeda dari setiap negara.  Kali ini saya blusukan ke salah satu pasar tradisional yang ada di Veliky Novgorod, kota tertua di Rusia.

Jam 3 sore karena kedinginan setelah menyusuri jalanan kota Veliky yang sepi, saya belok ke pasar tradisional ini. Sebenarnya hanya ingin menghangatkan badan dengan masuk ke dalam pasar, tapi jadi malah keterusan menyusuri semua lorongnya. Pasar ini tidak luas, namun bersih dan rapi. Terdiri dari dua lantai, pembagian kios-kiosnya tidak menentu, bahkan terkesan tidak beraturan sehingga lantai satu bisa jadi berjualan makanan basah dan kering, pakaian, bunga plastik, mini market dan minuman. Begitu juga dengan lantai dua yang berisi kain, pakaian, mainan anak-anak dan minuman.

Saya kemudian kembali ke lantai satu untuk mencari teh khas Rusia setelah mengecek di internet teh mana yang sebaiknya saya beli. Saya memang suka membeli teh dari berbagai negara saat ke pasar selain hanya ingin ngobrol dengan penjualnya. Tetapi di sini saya tidak bisa mengobrol karena semuanya berbahasa Rusia sementara saya tidak paham bahasa Rusia. Tidak ada yang bicara dalam bahasa Inggris, sehingga saya hanya menduga-duga pembicaraan mereka, menggunakan kalkulator untuk menawar harga atau menggunakan google translate.

Saya menemukan teh yang saya cari di lantai satu, dekat dengan penjual coklat. Harga tehnya hanya 95 Rubel atau Rp.25.000 lalu saya membeli satu setelah bingung mau membeli yang mana dan penjualnya menyarankan saya membeli jenis teh hitam. Setelah ngobrol pakai bahasa tubuh dan akhirnya nggak saling paham juga, saya hanya senyum-senyum dan meminta untuk memotret penjualnya. Penjualnya ramah dan murah senyum, dia mengijinkan saya memotret apa saja yang ingin saya potret.  Dari penjual teh saya bergeser ke penjual coklat.  Ada berbagai coklat dengan harga yang murah dibandingkan di Indonesia (tentu saja) tetapi saya tidak membeli coklat. Saya malah jalan-jalan ke arah lain bagian pakaian dan sepatu.

Begitu memasuki satu kios saya disambut mbak-mbak cantik yang penampilannya nyaris seperti artis di film-film spionase. Ternyata mbak cantik ini penjual jaket di salah satu kios. Dia menawarkan jaketnya yang sedang sale seharga sekitar 100 ribuan jika dirupiahkan menggunakan bahasa Rusia. Orangnya ramah, tetapi sayangnya lagi, dia tidak bisa berbahasa Inggris, jadi kami hanya ngobrol menggunakan google translate yang sangat terbatas dan kalkulator untuk menanyakan harga.  Teman saya kemudian tergoda untuk melihat jaket-jaketnya lebih detail bahkan kemudian membelinya sementara saya justru berpindah ke bagian lain yaitu sepatu setelah meminta ijin untuk memotret mbak cantik itu. Dia bilang ke teman-temannya di pasar kalau saya fotographer, dan saya tertawa ngikik menjawabnya menggunakan bahasa Indonesia, “bukan-bukan, saya hanya suka memotret, bukan fotographer.” Ya, sekali-kali menggunakan dua bahasa berbeda nggak apa-apa ‘kan? Biar sekalian saja sama bingungnya.

Seorang ibu paruh baya menjual sepatu boots sambil menggendong anjing pudelnya berwarna coklat yang lucu. Ibu ini tampak ngos-ngosan setiap bergerak. Tetapi begitu saya melihat-lihat sepatunya, dia tampak antusias. Saya menanyakan harga menggunakan kalkulator dan lagi-lagi berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh, tetapi ibu ini cukup bisa memahami maksud saya.  Karena saya membutuhkan sepatu boots dan harga yang ditawarkan hanya 100 ribuan dalam rupiah, maka saya membelinya satu. Tetapi setelah beres pembelian, saya meminta untuk memotret ibu paruh baya itu. Awalnya saya pikir ibu itu akan menolak di foto, ternyata begitu saya menunjuk kamera saya, si ibu malah mengambil anjing pudelnya dan memeluknya untuk diajak foto bersama.

Setelah puas menyusuri pasar malah kebablasan belanja saya kemudian keluar pasar. Tampak di luar, penjual labu sibuk melayani pembeli, kios-kios roti dan minuman kaleng sementara saya memutuskan untuk menyeberang melalui penyeberangan bawah tanah ke seberang pasar. Dalam penyeberangan bawah tanah juga ada penjual pakaian dan minuman. Di seberang pasar tampak pasar kaget yang menjual sayuran, tanaman hias, bunga, bawang putih, jamur dan umbi-umbian.  Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah lain untuk mencari mini market. Kota tua Novgorod sangat cantik, saya akan mengulaskan tersendiri di bagian destinasi. Ikuti terus perjalanan saya di Rusia, ya! Terima kasih!

LUGGAGE STORAGE DI STASIUN LENINGRAD MOSCOW

Pengen jalan-jalan keliling kota Moscow tapi males bawa barang berat? Kamu bisa menitipkan barang-barangmu di Luggage Storage yang ada di beberapa train stasiun atau tempat tertentu seperti Red Square. Tapi sebelumnya kamu harus cek dulu informasi mengenai luggage storage itu mulai dari harga, ukuran barang yang dititipkan sampai persyaratan yang diperlukan untuk menitipkan luggage kamu.

Jika traveling sebelumnya saya membawa ransel, tapi traveling ke Rusia kali ini saya membawa koper 20’. Cukup repot dan berat untuk orang yang terbiasa dengan bawaan minim, tetapi karena musim gugur saya nggak mau kedinginan sehingga saya membawa beberapa jaket tebal.  Nah, masalah mulai muncul saat jam check out dan keberangkatan kereta ke kota lain masih tengah malam. Untuk menunggu waktu dari jam 12 siang hingga 12 malam, saya nggak mungkin menyeret koper keliling kota Moscow ‘kan? Ini dia saya memerlukan Luggage Storage yang bisa menyimpan barang saya hingga jam 12 malam nanti sehingga saya bisa menghabiskan waktu dengan nyaman.

Sebenarnya ada banyak Luggage Storage seperti di Red Square, namun menurut keterangan luggage stirage di Red Square menggunakan tangga dan tidak ada lift sehingga saya urung ke sana. Beberapa stasiun juga menyediakan Luggage Storage seperti Bellorussky tetapi saya memilih menitipkan koper saya di Leningrad stasiun karena malamnya saya akan naik kereta dari sini ke kota lain, jadi tidak perlu repot lagi menyeret koper ke tempat lain.

 


Terletak di lantai bawah stasiun kereta Leningrad berdekatan dengan toilet dan orang berjualan souvenir, Luggage Storage ini ada dua tipe yaitu manual dan otomatis. Untuk luggage otomatis ukuran tas hanya sesuai kotak yang ada di sana, jadi kalau koper kamu melebihi batas tidak akan bisa masuk. Tetapi untuk manual kamu bisa memasukkan ukuran berapapun ke dalam ruangan itu tanpa batas ukuran. Saya kemudian memilih menitipkan barang saya di tempat yang manual karena koper saya cukup besar dan ribet masukin ke dalam kotak. Harga per koper/tas 250 RUBEL atau sekitar Rp.66.000 untuk sehari menitipkan barang, hitungannya per tas bukan besarannya. Sementara harga storage luggage otomatis juga sama tergantung besaran box yang dipilih.

 

Itu pengalaman saya menitipkan tas di Leningrad stasiun, kalau ingin bertanya lebih banyak bisa melalui komen di bawah atau email. Saya masih akan melanjutkan kisah perjalanan saya di Rusia! Jangan pindah blog dulu 😊

 

MENCOBA SLEEPER TRAIN DAN BUS ANTAR KOTA DI RUSIA

Jika anda mengurus semua perjalanan anda sendiri ke negara lain tanpa melibatkan orang ketiga seperti paket tour dan tour leader, maka untuk mencapai kota lain dipastikan anda membutuhkan sarana transportasi antar kota ini.  Susah nggak sih nyarinya? Di mana beli tiketnya? Saya secara berulang mendapat pertanyaan ini dari temen-temen setiap pergi ke beberapa tempat. Oke, mari kita ngobrol tentang angkutan antar kota yang saya gunakan di Rusia.

Saya membutuhkan angkutan antar kota dari Moscow ke Saint Petersburg return kemudian dari Saint Petersburg ke Veliky Novgorod return. Sebenarnya bisa menggunakan pesawat juga tetapi selain tiketnya lebih mahal, saya juga males ribet check in, ngurus bagasi dan melewati screening bandara yang memerlukan waktu lama, jadi saya memilih menggunakan kereta dan bus.  Pilihannya jatuh ke sleeper train dengan waktu tengah malam agar bisa irit biaya hotel karena tidur di kereta sementera memilih bus agar bisa bertemu banyak orang lokal.

Setelah tanggalnya fix, saya mulai berburu tiket tiga bulan sebelum keberangkatan karena bisa jadi akan mendapatkan harga promo atau lebih banyak pilihannya. Dari beberapa group backpacker disarankan membeli tiket secara online di beberapa website seperti www.tutu.ru, www.russianrailways.com, www.eng.rzd.ru, www.russiantrains.com  tetapi saya menemukan website yang kemudian saya yakin membelinya di sana karena prosesnya mudah, bisa menggunakan kartu kredit, ada bahasa Inggrisnya dan yang penting harganya lebih murah dari yang lain pada saat itu yaitu www.infobus.eu.

Saya kemudian memesan tiket untuk sleeper train Moscow-Saint Petersburg return dan bus Saint Petersburg- Veliky Novgorod return.  Harga sleeper train Moscow-Saint Petersburg setara dengan harga tiket kereta eksekutif di Indonesia yaitu kisaran 2556 RUB atau Rp.677.000 sekali jalan sementara harga bus untuk Saint Petersburg-Veliky kisaran 500 RUB atau Rp.132.500 untuk sekali jalan. Setelah pembayaran lunas menggunakan kartu kredit, tiket akan dikirim ke email dalam bentuk PDF yang kemudian saya print meskipun bisa juga tiket digital. Di dalam tiket sudah tertera nomor kursi yang kita pilih, nama bus/sleeper train, terminal/stasiun keberangkatan dan lama perjalanan. Tetapi semua dalam bahasa Rusia. Jangan panik dulu, setidaknya kita masih bisa copy paste tulisan itu ke Google translate dan membiarkan Google translate menjalankan tugasnya. Ribet? Ya, tentu saja! Tapi ini menantang untuk belajar lebih jauh.

 

Karena tidak menemukan petunjuk gambar sleeper train yang saya naiki akan seperti apa dari internet karena bingung dengan bahasa Rusia di tiket, saya tidak berani berharap banyak. Saya membayangkan kalau mendapatkan sleeper train seperti di Tiongkok beberapa tahun lalu akan saya nikmati saja, tetapi sambil berdoa semoga ini lebih nyaman. Ternyata doa saya dikabulkan. Sleeper train di Rusia sangat nyaman bahkan saya merasa lebih nyaman ketimbang menginap di hostel. Mulai dari datang di stasiun kondisinya tertib, informasi jam keberangkatan jelas dalam bahasa Rusia maupun Inggris, masuk ke dalam kereta juga mudah (kecuali memasukkan bagasi yang segambreng dan itu memang salah saya sendiri).

Sleeper train ini berbentuk kompartemen-kompartemen, satu kompartemen berisi 4 tempat tidur. Tampak rapi, bersih dan wangi. Bagian bawah berbentuk sofa, namun ketika waktu tidur bisa dibalik menjadi bed, sementara bagian atas berbentuk bed yang rapi dengan bantal, selimut, handuk, cantolan jaket, rak-rak mungil untuk menaruh tas tangan kita dan jemuran kecil untuk handuk. Sayangnya tidak disediakan colokan listrik di bed bagian atas dan hanya di bed bawah tersedia colokan listrik. Untuk naik ke bed atas, juga tersedia pijakan seperti tangga yang bisa ditutup saat penghuni bed atas sudah berada di tempatnya. Tak hanya itu lampu di kompartemen ini ada beberapa pilihan. Masing-masing bed memiliki lampu sendiri jika ingin membaca, sementara untuk keseluruhan kompartemen, lampu bisa dipilih terang atau redup. Oh, masih ada tambahan disediakan snack roti, yogurt dan air mineral serta sarapan yang bisa memilih sendiri mulai dari pancake, omelet berisi daging serta kopi dan teh. Namun kopi dan tehnya tidak gratis. Bagaimana dengan toilet? Jangan kuatir, meskipun standart toilet Eropa tanpa air, tetap disediakan tissu basah, kering dan kondisinya sangat bersih tidak berbau.

Saya beruntung dua kali perjalanan sleeper train ini satu kompartemen dengan mereka yang lancar menggunakan bahasa Inggris. Saat berangkat saya satu kompartemen dengan nenek Linda dari Amerika yang berada di bed bawah, usianya saya tebak diatas 70 tahun dan dua orang laki-laki, satu lelaki Rusia dan satu lagi lelaki Asia. Nenek Linda cepat akrab karena  melihat tulisan di jaket saya “Pennsylvania University” dan beliau pernah mengajar di sana. Kami terlibat banyak obrolan tentang musik, Rusia, gereja dan kegiatan beliau selama keliling Rusia. Sementara saat baliknya, saya satu kompartemen dengan ibu-ibu (saya lupa namanya) yang juga lancar berbahasa Inggris dan malah menerjemahkan ke saya setiap pramugari kereta menjelaskan soal segala sesuatu yang ada di kereta menggunakan bahasa Rusia. Saya bersyukur bertemu mereka sehingga tidak ribut menggunakan Google translate saat pramugari kereta bicara. Naik sleeper train di Rusia merupakan pengalaman menyenangkan buat saya sampai 7 jam perjalanan dari jam 23.30 hingga 7 pagi tidak terasa lama.

Sementara perjalanan naik bus dari Saint Petersburg- Veliky Novgorod juga sangat menyenangkan kecuali bagian hampir terlambat karena kuatir salah terminal. Saya datang di terminal 5 menit sebelum bus berangkat dan tidak ada satupun manusia yang bisa berbahasa Inggris.  Lucunya saya hanya mencocokkan simbol di tiket dengan bus yang ada di terminal dan menebak mungkin itu bus yang akan saya naiki. Untung benar, kalau tidak saya pasti sudah ketinggalan bus. Jalanan di Rusia sangat mulus meskipun di kota juga sangat macet, tetapi driver membawa bus dengan tenang dan nyaman. Berhenti sekali di rest area dengan waktu 15 menit sebelum kemudian melanjutkan perjalanan. Butuh waktu sekitar 4 jam dari Saint Petersburg hingga Veliky Novgorod. Sama dengan naik sleeper train, naik bus di Rusia juga sangat nyaman meskipun jarang sekali bertemu turis Asia seperti saya. Saya ingin mengulang perjalanan bus ini dengan menyusuri golden ring Rusia dengan hanya membawa ransel nanti. Itu dulu sedikit informasi naik sleeper train dan bus di Rusia ya teman-teman, kita lanjutkan ke cerita lainnya! 😊

 

 

 

 

RUSIA : BLUE MOSQUE DAN JEJAK SOEKARNO DI SAINT PETERSBURG

Hari pertama di Saint Petersburg, sore hari setelah istirahat kami percaya diri hendak mengunjungi tempat-tempat wisata terdekat dengan jalan kaki mengikuti Google map. Tapi dalam suhu 9 derajat dan tangan yang kebas kedinginan mendadak sulit memencet-mencet tombol ponsel. Sebagai pembaca map yang buruk akhirnya kami mengikuti kata hati. Dan nyasarlah kami ke lapangan yang luas dengan beberapa cowok sedang party. Mereka tak memedulikan orang asing yang nyasar lewat dekatnya, lalu kami melihat lampu-lampu di kejauhan. Kami meyakini di sekitar lampu-lampu yang berpendar itu jalan besar, maka bergegaslah kami ke sana. Sekitar 1.5 km, kami menemukan jalanan dengan mobil-mobil melaju kencang seperti jalan tol tapi kami juga melihat beberapa orang bisa menyeberang jalan meskipun sepertinya resikonya sangat besar. Tidak berani menyeberang dengan resiko ketabrak, kami mencari penyeberangan.

Tetapi hampir 1 km berjalan tak juga menemukan penyeberangan. Sekeliling kami tidak ada manusia lain yang jalan kaki, hanya ada mobil-mobil yang melaju kencang. Harapan kami hanya satu, berjalan lagi untuk menemukan penyeberangan. Dan benar, setelah 1 km berjalan lagi, tepat di depan gedung pengadilan ada penyeberangan ke samping sungai Neva. Tetapi begitu sampai pinggiran sungai Neva, kita masih tidak tahu harus berjalan kemana untuk mencari makan malam. Mall-mall dengan gemerlap lampu tampak sangat jauh, mustahil kami jalan kaki ke sana. Akhirnya kamipun menyerah dan memesan taksi online yang kemudian mengantar kami ke mall Galeria. Drivernya seorang muslim Tajikistan dengan bahasa Inggris sedikit tapi cukup kami pahami. Dan begitulah selalu saja nyasar itu meninggalkan kesan lucu karena ternyata, mall Galeria ini posisinya ada di belakang tempat penginapan kami! Ya ampun! Baiklah, kalau tidak nyasar, kami pasti tidak tahu kalau penginapan kami dekat mall.

Setelah nyasar akhirnya nemu tempat penyeberangan

Kedinginan, kelaparan belum makan nasi sejak kemarin, saya menemukan restoran Vietnam yang menjual nasi dan Tom Yam seafood. Ketika sedang menunggu pesanan, masuk dua cowok ngobrol berbahasa Indonesia. Kami langsung saling paham kalau sebangsa, ternyata mereka mahasiswa Indonesia yang kuliah S2 di Saint Petersburg. “Kalau mbak pengen nanya-nanya saya di depan,” katanya sambil senyum. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan, begitu selesai makan, langsung menuju meja mereka. Dan hampir satu jam dapat petuah bagaimana menghabiskan waktu di Saint Petersburg menggunakan metro tanpa nyasar, tempat-tempat menarik yang harus kami kunjungi, termasuk jalur terdekat ke masjid Soekarno yang ingin saya kunjungi esok harinya.

Ketemu mahasiswa Indonesia yang baik hati

Mengunjungi Masjid Soekarno atau Blue Mosque atau Saint Petersburg Mosque memang salah satu tujuan saya saat di Saint Petersburg Rusia.  Saya sangat tertarik sekaligus penasaran dengan teman-teman traveler yang selalu menyebut Masjid Soekarno di Saint Petersburg itu. Bagaimana masjid di Rusia ini sangat terkenal dengan sebutan Masjid Soekarno? Apa sejarah yang melatarinya?  Apakah benar ada hubungannya dengan Presiden Soekarno pada masa pemerintahannya dahulu? Well, saya bisa membaca dari berita, tetapi saya ingin melihat masjid itu dengan mata saya sendiri.

Stasiun metro Gorkovskaya

Jam 9 pagi saat matahari belum mengurangi gigil kedinginan saya, dengan mengenakan jaket tebal saya menuju metro stasiun Mayakovskaya. Temen-temen mahasiswa Indonesia semalam bilang, saya sebaiknya naik metro line 3 dari stasiun Mayakovskaya kemudian turun di Gostiny Dvor ganti metro line 2 dari Nevsky Prospekt kemudian turun di stasiun Gorkovskaya. Petunjuk yang dikatakan temen-temen mahasiswa ini sama dengan yang ditunjukkan Google Map. Ternyata sangat mudah. Begitu exit dari stasiun Gorkovskaya, saya bisa melihat kubah biru masjid Soekarno menjulang tidak jauh dari pintu stasiun. Sayapun menyeberang jalan dan hanya butuh berjalan lima menit untuk sampai pintu gerbang masjid Soekarno.

Masjid Soekarno dari seberang jalan

Masjid tampak sepi, tetapi ada beberapa wisatawan bersama tour guide sedang mengunjungi masjid. Saya segera masuk ke dalam dan diarahkan penjaga masjid ke bagian perempuan. Karena belum waktunya sholat wajib dan saya juga sedang tidak sholat, maka saya memutuskan untuk duduk menikmati keindahan bangunan di dalam masjid ini. Berada di dalam masjid Soekarno saya jadi teringat masjid lain yang hampir mirip bangunannya yaitu Tokyo Camii. Di dalam masjid tidak diperkenankan memotret, tetapi penjaganya mengijinkan saya mengambil satu foto. Lalu apa hubungannya masjid ini dengan Soekarno Presiden RI yang pertama sehingga sering disebut dengan nama Masjid Soekarno?

Terletak di pusat kota Saint Petersburg yang dulunya bernama Leningrad tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul, masjid ini menjadi pusat komunitas muslim Saint Petersburg. Masjid yang didirikan pada tahun 1910 dengan gaya arsitektur Turki ini sebenarnya memiliki nama asli Jamul Muslimin.  Pada masa itu masjid Jamul Muslimin merupakan masjid terbesar di Eropa dengan jamaah sekitar 8000. Namun pada era komunisme selama Uni Soviet berkuasa, semua tempat ibadah ditutup dan tidak boleh digunakan sehingga masjid Jamul Muslimin dialih fungsikan sebagai gudang penyimpanan barang.

Menurut sejarah, pada tahun 1956 saat hubungan Indonesia-Rusia sangat harmonis dan Presiden Soekarno menerima undangan Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev untuk kunjungan kenegaraan ke Rusia beliau melihat kubah biru itu dan meyakininya bahwa itu masjid. Soekarno kemudian meminta Nikita Khrushchev untuk memfungsikan kembali masjid itu dan permintaan itu disetujui. Sejak itu Blue Mosque kembali difungsikan sebagai tempat ibadah muslim hingga saat ini sehingga sering disebut sebagai masjid Soekarno.

 

Di samping masjid Soekarno ini ada kedai makanan halal yang kebabnya sangat enak. Temen-temen traveler muslim bisa menikmati berbagai kudapan lezat dan halal dengan harga yang terjangkau. Saya membeli roti isi ayam, kebab dan minuman untuk bekal menyusuri Saint Petersburg setelah itu karena kuatir tidak menemukan makanan halal lagi. Penjualnya muslim dan sangat ramah. Beliau mengijinkan saya mengambil banyak foto dan video di kedainya.

Kehidupan muslim di sekitar masjid Soekarno tampak biasa saja. Tidak ada hal-hal mencolok atau berbeda saya rasakan di sini, bahkan orang-orang juga tidak terlalu kaget melihat wanita berjilbab di jalanan. Dari Blue Mosque saya akan menceritakan tempat lain lagi. Tunggu kelanjutan perjalanan saya di Rusia ya!

 

 

RUSIA : Jangan Menilai Buku Dari Covernya

“Jangan menilai buku dari covernya, jangan menilai orang Rusia dari film Hollywood.”

Malam sebelum berangkat traveling ke Rusia, saya menonton film “The Way Back” garapan Peter Weir tahun 2010 yang bercerita tentang Janusz seorang yang didakwa mata-mata atas saksi istrinya sendiri lalu ditahan di kamp Siberia yang tidak manusiawi. Tentara Rusia memperlakukan dia dengan sadis hingga Janusz berhasil melarikan diri melewati banyak rintangan alam dan selamat sampai di India.  Usai menonton film saya masih berdebar, apa benar orang-orang Rusia begitu tidak menyenangkan seperti film-film Hollywood yang saya tonton? Seorang teman yang sedang solo traveling ke Mongolia lalu memasuki Rusia melalui Irkutsk lewat pesan online bilang kalau mereka memang tidak ramah, jadi mesti mempersiapkan diri menghadapi hal yang sangat berbeda dari traveling sebelumnya. Oh, baiklah!

Setelah 13 jam penerbangan Jakarta-Moscow, transit di Bangkok semalam,  tepat jam 10 malam berikutnya sampailah saya di Demodedovo International Airport Moscow. Ada dua bandar udara internasional lainnya di Moscow selain Demodedovo yaitu Vnukovo dan Sheremetyevo. Begitu keluar dari lobby bandara saya disergap suhu 7 derajat celcius. Tangan rasanya kebas saat memesan taksi online Yandex karena sudah tidak sanggup naik metro menuju penginapan. Yandex sangat mudah digunakan seperti grab, uber atau gocar di Indonesia, kita juga bisa menggunakan nomor Indonesia tanpa perlu memiliki nomor lokal.  Pembayaran bisa cash ataupun kartu kredit. titik penjemputan yang dipilihpun tepat ditempat kita berada, jadi tidak usah menggeser-geser titik. Lima menit kemudian Yandex yang saya pesan datang lalu mengantarkan ke penginapan. Satu jam lebih diselingi macet, menjelang tengah malam saya tiba di depan alamat yang saya tuju. Sopir yang tidak bisa bahasa Inggris hanya menunjuk bangunan di depan saya, lalu saya menyeret koper ke sana.

Dan mulailah drama itu! Bangunan itu memiliki akses untuk masuk, sementara saya tidak punya akses dan tidak bisa menelepon pemilik penginapan karena tidak memiliki nomor lokal. Tidak yakin bahwa pintu masuknya yang memiliki akses itu, saya segera berjalan ke samping memasuki pintu lain yang kebetulan terbuka. Tiba-tiba seorang cowok Rusia pulang belanja dan bilang bahwa alamat yang saya tuju bukan di situ. Dia tersenyum ramah dan bersedia mengantar ke alamat yang benar. Akhirnya cowok itu mengantar ke pintu samping kanan hingga masuklah saya ke sebuah tempat seperti kost-kost-an. Tampak beberapa anak muda sedang duduk sambil belajar. Tempat itupun ternyata bukan alamat yang saya tuju.  Sepertinya ini memang benar-benar kost-kostan. Ya ampun! Saya benar-benar tersesat!

Dua cowok di rumah seperti kost-kost-an itu berbaik hati mengantar kami ke alamat yang mereka yakini benar. Dia tidak bisa berbahasa Inggris tapi masih bisa menggunakan bahasa isyarat yang saya pahami. Ternyata balik lagi, alamatnya ada di pintu yang ada aksesnya itu dan si cowok memiliki akses untuk masuk. Dini hari, saya berhasil istirahat di penginapan yang saya pesan atas bantuan cowok-cowok baik itu. Tak hanya itu di jalanan seorang ibu yang pernah ke Bali juga berusaha menolong kami yang tersesat, hanya saja memang jarang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan ada yang berbaik hati mengangkat koper kami saat kami kesulitan membawanya.

Esok malamnya saat saya nongkrong di kafe dekat stasiun menunggu perjalanan malam ke Sank Petersburg, dua orang bapak-bapak Rusia mengajak kami ngobrol. Ternyata mereka pernah keliling Indonesia dan meski menggunakan Inggris terbata-bata tampak mereka berusaha ramah. Kami sempat bertanya, “apa benar orang Rusia susah tersenyum? Dia justru tersenyum tipis, “tidak semua begitu. Mungkin yang susah tersenyum beban hidupnya berat, tapi saat liburan di luar Rusia mereka akan mudah tersenyum.”  Sebagian mereka memang terlihat judes, tapi jangan tertipu dengan muka judes karena mereka ringan tangan mengangkatkan koper kami keluar dari kompartemen kereta.

Kesan pertama saya terhadap orang Rusia baik dan melegakan. Ternyata benar, jangan menilai sesuatu dari kabar-kabar yang dihembuskan orang lain, mending lihat sendiri kenyataannya. Oke, ini hanya kesan pertama saya sebagai turis. Bisa jadi orang lain akan mengalami hal yang berbeda, atau mereka yang tinggal lama di Rusia tentu lebih tahu secara mendalam. Saya masih akan menulis terus tentang Rusia, jadi jangan pindah chanel dulu! 🙂 Oya, foto yang saya tampilkan mungkin tidak tepat mengikuti tulisan, tetapi menggambarkan bagaimana orang Rusia yang saya temui. Tunggu tulisan saya selanjutnya! 🙂