Tag Archives: moscow

JUM’ATAN DI MASJID KATEDRAL MOSKOW

Bisa melewati hari Jum’at di satu kota asing itu bagi saya luar biasa. Artinya saya punya kesempatan untuk mengunjungi masjid di kota itu jika memungkinan ada masjidnya. Masuk ke masjid dimana Islam menjadi minoritas dan bertemu saudara-saudara seiman di tanah asing selalu menjadi hal yang saya tunggu-tunggu. Maka waktu sampai Moskow Kamis malam, esoknya saya langsung merencanakan ke masjid yang ada di tengah kota Moskow. Namanya Masjid Katedral Moskow.

Kok namanya agak aneh ya? Masjid Katedral Moskow.  Biasanya nama Katedral berhubungan dengan gereja tapi menurut informasi, orang Moskow terbiasa menyebut gereja besar dengan nama Katedral, maka masjid besar di Moskow inipun disebutnya Katedral. Selain itu, masjid ini juga disebut Masjid Sabornaya atau Masjid Agung karena memang berfungsi sebagai masjid terbesar di kota itu.  Masjid ini terletak di Prospect Mira Street, tepat di sebelah bangunan Olympic Indoor Stadium. Jadi jika naik metro bisa turun di stasiun Prospect Mira kemudian jalan kaki ke arah Prospect Mira street. Karena kebetulan saya ke sana hari Jum’at maka tinggal mengikuti Ja’maah yang berjalan berduyun-duyun menuju masjid.

Awalnya saya kira masjid ini akan sepi, tetapi ternyata sangat ramai. Jama’ahnya sangat banyak dan memang masjid ini melayani lebih dari 2 juta umat Islam di Moskow. Saudara-saudara muslim disini saya lihat dari berbagai negara pecahan Rusia seperti Tajikistan, Kyrgystan, Turkmenistan, dan juga muslim Moskow. Masjid Katedral Moskow dibangun pada tahun 1903 dan menjadi salah satu masjid tertua dari empat masjid yang masih berdiri di kota Moskow setelah Moscow Historical Mosque yang dibangun pada 1928. Saya mengikuti aliran jamaa’ah hingga sampai pada pagar pemeriksaan satpam dan diijinkan masuk ke halaman masjid.

Tempat wudhu wanita ternyata ada di bagian bawah. Jadi setelah masuk halaman kemudian belok ke kanan, kita akan menemukan tangga ke arah bawah. Di sana ada tempat wudhu wanita yang kemudian juga terhubung dengan lorong menuju lift khusus wanita. Ruang sholatnya ada di lantai atas. Di dekat ruang sholat disediakan mukena dan tempat menyimpan sepatu serta tas. Tetapi saya membawa tas saya ke ruang sholat kuatir kenapa-napa jika saya letakkan disana. Sampai di ruang sholat ternyata penuh. Banyak sekali Jama’ah wanita yang ikut sholat Jumat. Melihat dari wajahnya sepertinya mereka kebanyakan dari negara-negara pecahan Rusia. Saya sebenarnya ingin komunikasi dengan mereka, sayangnya mereka tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa Bahasa Rusia, jadilah hanya tersenyum-senyum saja.  Khutbah Jum’at juga menggunakan Bahasa Rusia tetapi suasanya sangat menyejukkan meski saya tidak memahami bahasanya.

Setelah selesai sholat Jum’at, diluar ada penjual teh hangat dan makanan kecil. Sebenarnya saya ingin mencoba makanan kecil yang pembelinya antri sampai panjang itu, tetapi setelah sadar yang membeli teh hangat semuanya laki-laki, saya kemudian mundur dan meninggalkan tempat itu. Di depan masjid sembari mengambil foto, seorang pria tua menghampiri saya dan mengajak ngobrol dengan Bahasa Rusia. Setelah saya bilang minta maaf tidak bisa Bahasa Rusia, pria itu kemudian ngajak ngobrol terbata-bata dengan Bahasa Inggris. Wajahnya ramah, sejuk dan rambutnya telah memutih. Tapi saya tahu, pria ini sedang menceramahi saya tentang sesuatu. Saya hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum lalu pamitan dan salam.

Di bagian kiri masjid, ada kantin memanjang yang menjual banyak makanan. Saya sangat ingin masuk ke sana untuk membeli teh hangat karena suhu 10 derajat itu membuat saya membeku. Tetapi lagi-lagi isinya hampir kebanyakan laki-laki dan mereka berdesakan di kantin memanjang itu. Akhirnya saya mengurungkan niat ke sana dan memutuskan kembali ke stasiun. Sempat nyasar saat balik ke stasiun tetapi malah menemukan beberapa hal menarik di sekitaran masjid, seperti bazar Jum’at yang menjual berbagai macam barang seperti pasmina, buku dan makanan. Jum’atan di masjid Agung Moskow ini sangat berkesan bagi saya terutama bertemu dengan saudara-saudara muslim dari tempat yang jauh. Kita bersaudara dalam Islam, mari saling memegang tangan dan menguatkan.

METRO MOSKOW, MAHAKARYA SENI DAN ARSITEKTUR DI BAWAH TANAH

Seorang teman pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah terus menerus mengirim pesan agar saya memotret semua bangunan lawas bersejarah yang saya lewati selama saya melakukan perjalanan di Rusia.  Bagi pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah dan benda-benda seni yang masih terjaga kelestariannya, Rusia memang surganya. Rusia memiliki bangunan-bangunan dari berbagai zaman yang menjadi saksi perubahan zaman dan bertahan dari kebakaran, invasi Tartar-Mongol hingga revolusi.

Salah satu tempat yang saya susuri adalah stasiun metro di Moskow, Rusia. Tidak hanya sebagai alat transportasi yang mudah dijangkau, namun hampir semua stasiun metro di Moskow adalah mahakarya seni dan arsitektur yang sangat indah. Saat menyusuri stasiun-stasiun ini, saya merasa berada dalam galeri seni yang besar dan menikmati karya-karya seniman pada masa lampau yang terukir di dinding stasiun.  Dibuka pada tahun 1935, sarana transportasi bawah tanah ini memiliki 13 jalur dan 236 stasiun.  Saya tidak bisa mengunjungi semua stasiun itu karena waktu perjalanan yang singkat tetapi setidaknya saya mengunjungi beberapa stasiun terindah.

Saat mendorong pintu stasiun, saya sudah merasakan aroma masa lalu. Pintu yang saya dorong terbuat dari kayu, kokoh dan klasik.  Bersamaan dengan ramainya warga Moskow yang pulang kerja sore hari, saya mencari mesin untuk membeli kartu  Troika. Beberapa mesin menyediakan pilihan Bahasa Inggris dan sangat mudah digunakan. Tetapi jika anda ragu, bisa membeli di loket yang juga disediakan petugas khusus yang bisa berbahasa Inggris (English Speaking) jika anda tidak bisa berbahasa Rusia.  Setelah beres urusan tiket, saya masuk ke dalam stasiun dan turun menggunakan eskalator untuk menuju jalur yang saya tuju. Kebanyakan stasiun metro di Moskow berada di dalam tanah dengan kedalaman maksimal 74 meter di Stasiun Park Pobedy. Tetapi pada setiap stasiun, saya merasa gemetar karena eskalatornya curam dan dalam. Begitu sampai di bawah, saya tercengang melihat stasiun di depan mata saya.

 

Stasiun cantik pertama yang saya lewati bernama Taganskaya. Dibuka pada tahun 1950, dengan arsitektur abad pertengahan stasiun bernuansa biru ini didesain oleh arsitek K.Ryzhkov dan A.Medvedev.  Stasiun ini dinamai Taganskaya karena posisinya terletak di bawah Taganskaya Square. Desainnya bergaya flamboyan pasca perang dengan motif tradisional Rusia. Tampak lengkungan-lengkungan menyerupai kubah pada bagian atap, dinding dan pintu keluar menuju masing-masing jalur. Pilar-pilarnya dihiasi panel majolika berwarna biru sedangkan lantainya terbuat dari granit berwarna hitam dan abu-abu. Pencahayaan stasiun ini berasal dari 12 lampu gantung antik yang berhias panel majolika berwarna biru senada.  Pada dinding stasiun ini terdapat profil-profil seperti pelaut, operator tangki dan pilot juga pahlawan tentara Soviet. Nuansa stasiun ini terasa lembut karena perpaduan warna biru, krem dan pencahayaan dari lampu gantung yang dramatis.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun cantik yang lainnya. Stasiun kedua yang saya lewati adalah Kiyevskaya.  Stasiun yang dibuka tahun 1954 ini didesain oleh E.I.Katolin, V.K. Skugarev dan G.E. Golubev. Menurut informasi, stasiun ini dibangun dibawah pengawasan langsung pemimpin Soviet Nikita Khruschev sebagai penghormatan pada tanah kelahirannya Ukraina.  Pembukaan stasiun ini juga bertepatan dengan peringatan tahun penyatuan kembali Ukraina dan Rusia sehingga desain yang ditampilkan bertemakan persahabatan kedua bangsa. Berjalan di stasiun ini, saya seperti berada di galeri Renaissance yang megah dan indah.  Bernuansa emas dengan lobby yang dihiasi marmer dan granit serta pada dindingnya terdapat 18 panel mosaik dalam tradisi Florentine karya A.V. Myzin. Panel relief di dinding itu menunjukkan sejarah hubungan antara Rusia dan Ukraina dari masa Pereyaslav tahun 1954 hingga revolusi pada 1917. Di bawah relief-relief itu terdapat tempat duduk kecil yang bisa digunakan untuk menunggu atau menikmati stasiun ini. Banyak turis rombongan atau sendiri mengunjungi stasiun ini. Saya memutuskan untuk menikmati suasana keramaian pulang kerja di stasiun megah ini sambil duduk di bawah salah satu relief sebelum melanjutkan ke stasiun lainnya.

 

Stasiun berikutnya yang tak kalah cantik adalah Novoslobodskaya. Saat memasuki stasiun ini saya seperti memasuki gereja.  Menurut informasi, pada awal pembukaannya memang para arsitek sempat takut stasiun ini akan menyerupai gereja tetapi saat ini mereka justru melihat stasiun ini seperti akuarium bawah laut yang sangat  cantik. Saya berjalan berkeliling di antara lalu lalang orang dan  tampak 32 panel kaca berwarna-warni yang sangat cantik di dinding stasiun. 32 panel kaca ini merupakan karya 3 seniman yaitu M.Ryskin, E.Krests dan Latvia E.Veylandan. Di dalam setiap panel kaca ini terdapat keping kaca warna-warni yang disatukan dalam frame  kuning keemasan.  Enam dari panel kaca berwarna itu menggambarkan orang-orang dari berbagai peofesi mulai dari arsitek, musisi, ahli agronomi sementara 26 sisanya merupakan gambar bintang yang rumit dan pola-pola geometris. Di ujung koridor stasiun, saya melihat ada satu karya yang sedikit berbeda dan mengusung nilai perdamaian. Mosaik ini ternyata karya Pavel Korin yang diberi judul “Peace Throughout the World.”  Dengan penerangan lampu gantung yang pas stasiun ini tampak bersinar seperti istana bawah laut yang sangat cantik.

 

Mayakovskaya adalah stasiun berikutnya yang membuat saya kagum. Terletak 33 meter di bawah permukaan tanah, stasiun ini memiliki dinding-dinding tinggi dan ramping yang terbuat dari baja pesawat terbang. Berjalan di stasiun ini saya seolah mengelilingi sebuah aula besar yang tampak futuristik. Dibuka pada tahun 1938, stasiun ini dirancang oleh arsitek Alexey Dushkin sedangkan nama Mayakovskaya diambil dari nama penyair terkenal Soviet pada tahun 1893-1930 yang bernama Vladimir Mayakovskiy. Tema stasiun ini adalah “24 Jam di Tanah Soviet.” Penggambaran tema itu tampak di 34 mosaik yang terdapat di langit-langit stasiun. Stasiun Mayakovskaya selama perang dunia II digunakan sebagai pos komando sekaligus tempat perlindungan dari serangan bom Jerman.  Bahkan Joseph Stalin tinggal di tempat ini selama perang dunia II dan berpidato di depan para pemimpin partai dan orang-orang Moskow di tengah aula stasiun ini. Tak hanya desainnya yang mengagumkan dan cantik, tetapi stasiun ini juga memiliki nilai historis pada perang dunia II.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun yang lainnya. Stasiun berikutnya adalah Komsomolskaya.  Terletak 37 meter di bawah tanah, stasiun metro dari rangkaian nomor 5 ini berada di jalur Koltsevaya di antara stasiun Prospekt Mira dan Kurskaya.  Dibuka pada tahun 1952, tepat di bawah Komsomolskaya square, stasiun ini merupakan salah satu stasiun paling sibuk di Moskow. Stasiun Komsomolskaya tampak mewah dengan desain kekaisaran Rusia dan Moskow Baroque.  Dengan lampu gantung perunggu yang elegan, mozaik yang terbuat dari smalt, arcade marmer dan lantai yang dirancang oleh Alexey Shchusev, stasiun ini merupakan puncak gaya kekaisaran Stalinis. Pavel Korin merupakan seniman yang paling berpengaruh dalam menciptakan  delapan mozaik indah di langit-langit stasiun ini dimana inspirasinya datang dari pidato Joseph Stalin di Parade Moskow tahun 1941, sementara gagasan untuk mendesain mozaik ini berasal dari Katedral Saint Shopia di Kiev. Dari lantai atas stasiun yang megah ini saya menikmati lalu lalang warga Moskow yang mengejar kereta yang datang setiap 90 detik itu.

 

Dan stasiun terakhir yang sempat saya kunjungi adalah Ploshchad Revolyutsii.  Terletak di bawah Revolution Square, stasiun dengan penerangan redup ini tampak luar biasa megah.  Ada 76 patung perunggu dengan gaya realisme sosialis di dinding-dindingnya yang menggambarkan masyarakat Uni Soviet dengan beragam profesinya mulai dari pekerja pabrik, insinyur, pelajar, tentara, petani, pelaut, atlet, penulis, penerbang dan lain sebagainya.  Karena tempatnya yang tidak terlalu luas, patung-patung ini hampir semuanya berposisi duduk. Konon orang yang melewati stasiun dan menyentuh patung-patung ini akan mendapat keberuntungan. Stasiun yang arsitekturnya dirancang oleh Alexey Dushkin ini mengarah ke jantung kota Moskow dan berada di jalur biru. Dibuka pada tahun 1938 patung-patung yang berada dalam stasiun ini sebenarnya menggambarkan transformasi Rusia dari masa pra-revolusioner, revolusi kemudian era kotemporer.  Sayang saya melewati stasiun ini menjelang tengah malam sehingga sedikit gelap untuk mengambil foto dan suasananya jadi agak menakutkan. Tapi itu toh tidak mengurangan kemegahan stasiun Ploshchad Revolyutsii.  Mengunjungi stasiun-stasiun metro di Moskow tak hanya menikmati keindahan mahakarya seni dan arsitektur, tetapi juga menengok kembali jejak-jejak sejarah Rusia dalam karya para seniman Rusia.

 

Pctures by : mine and Google

LUGGAGE STORAGE DI STASIUN LENINGRAD MOSCOW

Pengen jalan-jalan keliling kota Moscow tapi males bawa barang berat? Kamu bisa menitipkan barang-barangmu di Luggage Storage yang ada di beberapa train stasiun atau tempat tertentu seperti Red Square. Tapi sebelumnya kamu harus cek dulu informasi mengenai luggage storage itu mulai dari harga, ukuran barang yang dititipkan sampai persyaratan yang diperlukan untuk menitipkan luggage kamu.

Jika traveling sebelumnya saya membawa ransel, tapi traveling ke Rusia kali ini saya membawa koper 20’. Cukup repot dan berat untuk orang yang terbiasa dengan bawaan minim, tetapi karena musim gugur saya nggak mau kedinginan sehingga saya membawa beberapa jaket tebal.  Nah, masalah mulai muncul saat jam check out dan keberangkatan kereta ke kota lain masih tengah malam. Untuk menunggu waktu dari jam 12 siang hingga 12 malam, saya nggak mungkin menyeret koper keliling kota Moscow ‘kan? Ini dia saya memerlukan Luggage Storage yang bisa menyimpan barang saya hingga jam 12 malam nanti sehingga saya bisa menghabiskan waktu dengan nyaman.

Sebenarnya ada banyak Luggage Storage seperti di Red Square, namun menurut keterangan luggage stirage di Red Square menggunakan tangga dan tidak ada lift sehingga saya urung ke sana. Beberapa stasiun juga menyediakan Luggage Storage seperti Bellorussky tetapi saya memilih menitipkan koper saya di Leningrad stasiun karena malamnya saya akan naik kereta dari sini ke kota lain, jadi tidak perlu repot lagi menyeret koper ke tempat lain.

 


Terletak di lantai bawah stasiun kereta Leningrad berdekatan dengan toilet dan orang berjualan souvenir, Luggage Storage ini ada dua tipe yaitu manual dan otomatis. Untuk luggage otomatis ukuran tas hanya sesuai kotak yang ada di sana, jadi kalau koper kamu melebihi batas tidak akan bisa masuk. Tetapi untuk manual kamu bisa memasukkan ukuran berapapun ke dalam ruangan itu tanpa batas ukuran. Saya kemudian memilih menitipkan barang saya di tempat yang manual karena koper saya cukup besar dan ribet masukin ke dalam kotak. Harga per koper/tas 250 RUBEL atau sekitar Rp.66.000 untuk sehari menitipkan barang, hitungannya per tas bukan besarannya. Sementara harga storage luggage otomatis juga sama tergantung besaran box yang dipilih.

 

Itu pengalaman saya menitipkan tas di Leningrad stasiun, kalau ingin bertanya lebih banyak bisa melalui komen di bawah atau email. Saya masih akan melanjutkan kisah perjalanan saya di Rusia! Jangan pindah blog dulu 😊