Bali : Berkeliling Danau Batur, Mengunjungi Kuburan TRUNYAN



“Wherever you go, go with all your heart” – Confusius

 

Tengkorak di kuburan Trunyan


Apa yang ingin anda kunjungi di Bali?  Pantai, gunung, menikmati tradisi yang eksotis, duduk bersantai di kafe sambil ngobrol bersama teman, atau memanjakan diri di spa? Kalau semua itu sudah anda lakukan di Bali, coba hal lain yang lebih menantang dan berpetualang. Saya jamin, liburan anda pasti lebih seru! Apakah sesuatu yang lebih menantang dan berpetualang itu? Berkeliling Danau Batur menggunakan sepeda motor dan mengunjungi kuburan Trunyan. Mau coba? Ada baiknya anda menyimak perjalanan saya beberapa waktu lalu mengelilingi danau Batur dan mengunjungi kuburan Trunyan.

DANAU BATUR YANG CANTIK
 

Danau Batur

 

Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali, terletak di kecamatan Kintamani Bangli, 65 kilometer dari Denpasar. Danau Batur merupakan danau terbesar di Bali yang juga telah ditetapkan sebagai Global Geofark Network atau taman Bumi oleh Unesco. Artinya kawasan danau Batur menjadi taman bumi pertama pertama yang ditetapkan secara resmi oleh Unesco.

Danau Batur

Untuk mencapai tempat ini, anda bisa menyewa mobil dari kawasan Kuta dengan biaya kisaran 400-500 ribu perhari atau menyewa sepeda motor dengan biaya sekitar 50 ribu perhari. Jika perjalanan lancar hanya membutuhkan waktu dua jam dari Denpasar, namun terkadang jalur menuju Kintamani sangat padat sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Saya lebih suka menggunakan sepeda motor karena petualangan akan terasa lebih seru.

Asyiknya bersepeda motor mengelilingi Danau Batur

Beberapa waktu lalu, citra buruk melekat pada wisata danau Batur sehingga wisatawan enggan menikmati danau Batur lebih dekat karena pengemudi seringkali menghentikan perahu di tengah danau dan akan melanjutkan perjalanan jika wisatawan mau membayar sejumlah uang yang diminta pengemudi. Tetapi kondisi sekarang sudah semakin membaik. Meskipun awalnya saya agak ragu, tetapi saya memutuskan untuk menikmati danau Batur lebih dekat.

 

Jalan curam di sekeliling danau Batur

Pemandangan danau Batur dari Kintamani tampak mempesona. Gunung Batur yang menjulang menaungi danau Batur dibawahnya. Wisatawan bisa menikmati pemandangan indah ini sambil duduk bersantai di areal public yang tersedia sambil menikmati makanan kecil. Tetapi saya tidak puas hanya menikmati danau Batur dari ketinggian Kintamani. Saya bersama beberapa teman memutuskan untuk membawa motor turun mendekati danau.  Menyusuri jalanan menurun yang berkelok-kelok, pemandangan danau Batur semakin mempesona dari dekat. Beberapa orang menawari kami menyeberang ke desa Trunyan dengan biaya 800 ribu per kapal, tetapi saya masih ragu untuk menyeberang mengingat kisah-kisah buruk yang pernah saya baca di media. 
 

Memancing di tepi danau

 

Saat kami istirahat di pinggir danau dan menikmati pemandangan tiba-tiba seorang lelaki mendekati kami dan menawarkan perahu untuk menyeberang ke desa Trunyan dengan harga murah. Hanya 400 ribu perkapal! Benarkah? Saya mulai tergoda karena memang sejak lama saya ingin menyeberang ke desa Trunyan. Seorang teman asli Bali kemudian menawar harga itu dan lelaki itu memberi kami harga baru 300 ribu perkapal! Wah, murah sekali! Sayang sekali kalau sudah sampai di sini tapi tidak mampir ke kuburan Trunyan, kan? Saya memutuskan mengambil tawaran itu. Dan kami dikasih aba-aba untuk mengikuti motor lelaki kekar itu.

Desa Trunyan

Kami naik turun bukit di pinggiran danau Batur mengikuti lelaki itu. Pemandangan di sepanjang perjalanan menakjubkan. Hingga kami memasuki batas desa Trunyan, lelaki itu tak juga berhenti. Kami mulai curiga dan was-was kira-kira kami akan dibawa kemana? Apakah karena hanya membayar 300 ribu maka kami dibawa ke perkampungan paling dekat untuk menyeberang ke kuburan Trunyan? Tapi saya justru menikmati perjalanan mengelilingi danau Batur dengan mengendarai motor. Hingga motor lelaki itu melewati pura di pinggir danau Batur dan berhenti di perkampungan paling dekat dengan kuburan Trunyan. Dua orang wisatawan dari Jakarta juga sedang menunggu di sana.

Tak lama perahu dengan tenaga kayuh manusia datang menjemput kami dan kami semakin yakin bahwa kuburan Trunyan tinggal dekat saja. Benar, hanya 15 menit kami naik perahu sudah sampai ke kuburan Trunyan.

KUBURAN TRUNYAN

Welcome to Kuburan Trunyan

 

Desa Trunyan terkenal dengan pemakamannya yang unik. Tidak seperti masyarakat Bali lainnya yang melakukan ngaben untuk jenazah, tetapi warga desa Trunyan meletakkan jenazah di satu area berundak di bawah pohon Taru Menyan. Pohon  besar yang menjulurkan akar-akarnya ini menguarkan bau wangi sehingga mayat yang diletakkan dibawahnya tidak berbau.

Pohon Taru Menyan

Untuk mencapai kuburan Trunyan, pengunjung bisa melalui akses jalur darat sekitar 45 menit dari jalur Panelokan seperti yang saya lakukan lalu dilanjutkan bersampan sekitar 15 menit, atau menyewa boat di dermaga Kedisan yang memerlukan waktu sekitar 45 menit menyeberangi danau Batur. Memasuki areal kuburan, kita akan melihat pemandangan yang mengerikan. Tengkorak yang berjejer di atas undakan, mayat-mayat yang berbaring di ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki), koin-koin bertebaran, baju-baju jenazah yang dibawakan oleh keluarganya sebagian terkubur di tanah dan tulang belulang yang berserakan di atas tanah. Saya beruntung karena ada jenazah yang baru di tempatkan di salah satu ancak saji dan kondisinya masih utuh. Wisatawan bebas mengambil foto di area ini bahkan menyentuh tengkorak-tengkorak yang berjejer di undakan.

Jenazah dalam ancak saji dan barang yang dibawakan dari rumah
Tidak semua jenazah dikuburkan di pekuburan Trunyan. Mereka yang dikuburkan di bawah pohon Taru Menyan adalah mereka yang meninggal secara wajar. Sedangkan mereka yang meninggal karena kecelakaan, dibunuh dan bunuh diri akan dikuburkan di lokasi berbeda yang bernama Sema Bantas. Sedangkan jenazah anak-anak dan bujangan dikuburkan di Sema Muda.
Ancak saji (kurungan bambu berbentuk segitiga sama kaki) hanya berjumlah 11. Jika ada yang meninggal maka salah satu jenazah yang sudah menjadi tulang akan digeser untuk diisi dengan jenazah baru. Di depan ancak saji terdapat foto jenazah, piring, baju, perhiasan, sapu tangan milik jenazah. Kuburan Trunyan ini melengkapi kekayaan wisata Kintamani, Danau Batur yang indah sekaligus menyimpan tradisi yang unik.  Jangan sampai anda lewatkan saat berkunjung ke Bali.

 

Jepang: Keindahan Masa Lalu Dan Masa Kini


“Travel is the only thing you buy, that makes you richer”

Jepang menawarkan ragam wisata yang menarik bagi wisatawan.  Jika anda penggemar hal-hal yang berbau klasik dan eksotis dari masa lalu anda bisa mengunjungi wisata-wisata klasik bernuansa Samurai dari periode Edo yang masih dipertahankan keasliannya. Tetapi jika anda menyukai wisata modern dan futuristik, anda juga bisa mengunjungi tempat-tempat wisata yang menawarkan hal-hal berbau futuristik dan glamour masa kini. Jadi anda ingin mengunjungi yang mana? Jepang memiliki keduanya.

OSAKA

Saat saya mengunjungi Jepang beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk mengambil penerbangan Jakarta- Osaka (Kansai) dan menikmati Osaka beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke kota lain menggunakan bus malam. Osaka memiliki tempat-tempat menarik baik yang klasik maupun modern. Saya membeli one day pass (Amazing Osaka Pass) di Kansai Airport sebelum berkeliling Osaka. Kelebihan one day pass (Amazing Osaka Pass) ini, dengan membeli seharga 2300 Yen, kita sudah bisa berkeliling seharian menggunakan bus dengan nomor tertentu dan masuk beberapa tempat wisata tanpa membayar lagi.
Osaka dari ketinggian

Dengan panduan peta Osaka, saya bersama dua teman dari Indonesia siap menjelajah Osaka.  Sepanjang sisi jalan yang saya telusuri, saya menemukan bangunan-bangunan menjulang dan kota yang sangat modern. Orang-orang lalu lalang menggunakan sepeda dan sebagian bersantai di areal public yang luas sambil membaca buku. Kami memasuki stasiun dan mencari jalan terdekat menuju Hep Five Ferris Wheel. 
Hep Five Ferris Wheel
Hep Five Ferris Wheel adalah sebuah bianglala di atas gedung tinggi. Dari puncaknya kita bisa menyaksikan keseluruhan kota Osaka. Saya sebenarnya paranoid terhadap ketinggian, tetapi sayang rasanya melewatkan bianglala ini. Hep Five Ferris Wheel dibangun sejak Desember 1998 setinggi 106 meter dengan waktu putar 15 menit. Memandangi kota Osaka menjelang sore dari ketinggian 106 meter sungguh menakjubkan. Gedung-gedung tinggi menjulang memenuhi langit, seolah menjadi simbol modernisasi. Setelah 15 menit putaran itu selesai, saya turun dari bianglala itu dengan gemetar. Tapi juga takjub karena saya bisa menaklukkan ketakutan saya.
Parit yang mengelilingi Osaka Castle

Tujuan selanjutnya adalah Osaka Castle. Berbeda dengan pemandangan yang saya temukan dari ketinggian  Hep Five Ferris Wheel yang sangat modern, Osaka Castle menawarkan pemandangan negeri dongeng dari masa lalu. Kastel yang memiliki arsitektur khas istana Jepang ini berbentuk seperti piramida dan dikelilingi oleh perairan atau parit besar. Fungsinya sekarang sebagai museum yang menyimpan bukti-bukti sejarah pembangunan kastel Osaka.
Osaka Minami

 Dari Osaka Castel hari sudah menjelang malam. Kami melanjutkan perjalanan ke  Minami untuk naik  Tombori River Cruise.  Setelah semua penumpang naik kapal, kami kemudian menyusuri Minami. Sepanjang pinggir sungai kami melihat  restoran, hotel dan tempat  belanja. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar duapuluh menit dengan guide yang  kocak. Yang menarik dari tour singkat Tombori River Cruise ini buat saya adalah sepanjang perjalanan kami  melambaikan tangan ke setiap orang ditepian sungai meskipun kami tidak  kenal. Mereka juga balas melambai dengan suka cita. Menurut saya ini bagian yang paling menarik dari tour ini. Keramahan dari orang-orang yang tidak saling mengenal untuk menyapa dan bertukar senyuman.

KYOTO

Jika anda menyukai eksotisme masa lalu seperti saya, maka Kyoto-lah tempatnya. Kyoto merupakan kota kuno yang kaya dengan sejarah masa lalu yang masih dipertahankan hingga sekarang. Dengan berbekal peta dan kartu tranfortasi pasmo, saya dan teman-teman mulai menjelajah Kyoto. 

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kiyomizudera Temple. Jalanan menuju kuil yang berada di atas bukit itu memang menanjak tetapi  masih bisa ditempuh segala umur. Kiyomizudera temple dibangun dengan kayu yang tidak lapuk meski umurnya sudah lebih dari seribu tahun dan berada diatas bukit dengan pemandangan yang bagus. Dari dalam kuil kita bisa memandang kota Kyoto di kejauhan. Di sekeliling kuil juga terdapat taman Jepang dan kolam-kolam jernih yang didalamnya terdapat ikan warna-warni. Turun  dari Kiyomizudera Temple kita melewati Higashiyama district yang merupakan tempat jajaran kafe-kafe dan toko cinderamata khas Jepang. Tempat ini sangat ramai, tetapi teratur dan menarik untuk berbelanja.

Tujuan berikutnya adalah Sagano bamboo forest atau hutan bambu Sagano di Arashiyama pinggiran barat Kyoto. Hutan bambu Sagano merupakan situs alam yang menyenangkan sekaligus menenangkan. Kita bisa menikmati hutan bambu Sagano dengan berjalan kaki, naik becak yang ditarik manusia atau naik sepeda. Kami memasuki hutan dengan berjalan kaki. Jalan setapak dalam hutan bambu ini sekitar 200 meter dan jika anda haus selama perjalanan, jangan kuatir, kita bisa membeli minuman botol/kaleng di mesin minuman yang tersedia di sepanjang perjalanan. Tidak hanya hutan bambu, di sekitar Sagano bamboo forest ini juga terdapat kuil  Tenryu yang merupakan kuil Zen terbesar di Jepang. Jika kita terus berkeliling kita juga akan menemukan rumah-rumah tua khas Jepang dan  taman yang indah, dan pemandangan menakjubkan di tepi sungai. Sagano bamboo forest merupakan tempat yang tepat untuk menenangkan diri dan berdekatan dengan alam.

Fushimi Inari Taisha
Menjelang senja kami melanjutkan perjalanan ke Fushimi Inari Taisha. Berbeda dengan kuil lain di Jepang, Fushimi merupakan lorong panjang dengan deretan rapat Torii (dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal)  berwarna oranye.   Kuil ini terletak di lereng gunung dan untuk mencapai kuil inti , pengunjung harus mendaki ratusan anak tangga dan jalan setapak yang dinaungi Torii warna oranye yang membentuk koridor indah.  Fushimi Inari merupakan kuil untuk Inari yaitu dewa kesuburan sebagai sumber kesuksesan. Menikmati Fushimi saat senja dan lampu mulai menyala sangat mengesankan. Bangunan dan torii berwarna oranye itu akan menyala tertimpa lampu dan memancarkan aura hangat yang menentramkan.

Buah di Nishiki market
Esoknya kami mengunjungi Nishiki Market dan Gion district. Nishiki Market terletak di jantung pusat perbelanjaan Kyoto. Pasar Nishiki menjual segala jenis makanan yang dikeringkan, buah-buahan, sayuran, seafood segar juga yang sudah diawetkan, serta teh khas Jepang. Pasar Nishiki sangat teratur dan rapi. Tidak hanya untuk belanja, pasar ini juga menjadi tempat yang sangat menarik untuk para wisatawan untuk berwisata kuliner dan membeli oleh-oleh.
Tempat yang paling ingin saya kunjungi di Kyoto adalah Gion distric. Gion merupakan tempat yang sangat terkenal karena kebanyakan Geisha berada di sana. Sebagai pekerja seni mereka bekerja di restoran dan rumah teh yang ada di sekitaran Gion. Tetapi sayang, harusnya saya mengunjungi Gion pada waktu malam hari sehingga bisa bertemu Geisha, karena pada sore hari belum banyak dari mereka yang terlihat. Tidak hanya Geisha yang menjadi daya pikat Gion district, tetapi deretan rumah-rumah kuno yang masih dipertahankan keasliannya dan masih terawat dengan baik sangat menarik untuk dijelajahi. Maka meskipun tidak bisa menikmati teh sambil melihat Geisha mempertunjukkan kemampuan seninya, saya cukup terhibur melihat salah satu dari mereka berjalan menyusuri jalan Hanami-koji di areal Gion.

Distric Gion

TOKYO

Dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit, papan-papan iklan yang artistik dan glamour serta orang-orang yang mengenakan pakaian serba hitam berjalan tergesa-gesa, lengkaplah sudah pemandangan Tokyo sebagai kota modern, masa kini, sibuk dan glamour. Dan kota ini memang cocok untuk wisatawan penggemar tempat-tempat modern dan futuristik.
Toko di Harajuku

Tetapi jangan salah, kita juga bisa menemukan kuil Sensoji atau kuil Asakusa Kannon yang tampak tradisional di tengah semua kemodernan itu. Kuil Sensoji banyak dikunjungi wisatawan dan merupakan kuil tertua di Tokyo. Untuk memasuki kuil Sensoji pengunjung harus memasuki dua gerbang. Selain sebagai tempat ibadah, area Sensoji temple juga sebagai pemujaan arwah. Di jalan sekeliling Sensoji Temple kita bisa menemukan kafe-kafe, restoran dan tempat penjualan  cinderamata. Tempat favorit saya di Asakusa adalah rooftop gedung informasi di seberang kuil Sensoji. Dari tempat itu saya bisa melihat Asakusa dari ketinggian. Benar-benar pemandangan yang indah! Kita bisa melihat Sensoji temple, deretan pertokoan, kafe dan restoran, orang lalu lalang serta Tokyo Skytree di kejauhan.
 

Dari Asakusa kami melanjutkan perjalanan ke Harajuku yang terkenal dengan banyak remaja lalu lalang mengenakan dandanan aneh-aneh. Kami memasuki Takeshita-dori dan mulai menelusuri area itu. Kegiatan yang bisa dilakukan di Harajuku selain melihat penampilan para remaja berdandan aneh adalah berbelanja. Banyak butik-butik yang menjual pakaian ajaib ala Harajuku hingga yang biasa saja. Harga yang mereka tawarkan terjangkau. Bagi penyuka belanja mungkin Harajuku bisa menjadi tempat pilihan untuk berbelanja.

Pemandangan malam Tokyo dari Rainbow Brigge
Setelah menyusuri Harajuku, hari sudah malam. Tetapi kami masih memiliki satu wish list yaitu menyeberangi Rainbow Bridge pada waktu malam hari. Saya masih paranoid terhadap ketinggian, apalagi di bawah jembatan itu laut lepas, tetapi saya tidak mungkin menyia-nyiakan tantangan menarik ini. Begitu memasuki areal jembatan, malam begitu sepi mencekam, angin bertipu kencang, hanya ada satu dua orang lewat dan dibawah sana laut lepas tampak hitam pekat. Jembatan dengan panjang 580 meter ini menghubungkan Shibaura Pier dengan Odaiba. Sepertinya akan romantis kalau menyeberangi jembatan ini waktu sunset sambil melihat pemandangan kota Tokyo di kejauhan, bukan malam hari dengan angin kencang dan suasana mencekam seperti ini. Tetapi toh, pemandangan malam dari Rainbow Bridge cukup mengesankan. Lampu-lampu diatas jembatan dan kapal yang lalu lalang di lautan menyala dikejauhan, menyuguhkan pemandangan malam yang berbeda.

Hachiko Entrance
Esoknya kami menyempatkan diri menengok Hachiko yang ada di depan stasiun Shibuya. Tempat ini sangat ramai dan banyak wisatawan ingin bertemu dengan patung anjing Hachiko. Kesetiaan anjing Hachiko menunggui majikannya pulang hingga bertahun-tahun padahal majikannya telah meninggal membuat para wisatawan terharu dan antri berfoto dengan patungnya. Drama memang selalu memikat manusia, dimanapun mereka berada.

 

Pemakaman Jepang

Beberapa hari menikmati Tokyo yang sangat modern, seorang teman asli Jepang membawa kami berkeliling pinggiran Jepang, untuk melihat hal yang berbeda. Kami dibawa mengelilingi pemakaman Jepang juga kuil-kuil di pinggiran Tokyo yang bersejarah dan masih terawat dengan baik. Jepang membuat saya takjub melihat modernisasi dan tradisional yang bersinergi tanpa harus saling mematikan. Sinergi yang menciptakan keindahan. (end).