Misenska Praha : Library Cafe Yang Tenang

“Happiness is a cup of coffee and a good book”

Pagi baru dimulai saat kami tiba di Praha, Republik Ceko, setelah semalaman naik bus dari Budapest. Hanya dengan sekali naik tram dari stasiun Praha sampailah kami di Flora. Tepat jam 8 pagi kami sudah berdiri di depan apartemen Miroslav, tempat kami menginap selama di Praha.  Satu jam menunggu di depan pintu apartemen, Miro, begitu panggilan cowok gondrong berwajah ramah itu muncul dari arah lain. Rupanya ia tinggal di apartemennya yang lain dan kami datang kepagian. 

 

Apartemen Miro
Apartemen Miro terletak di bangunan tua yang liftnya lawas terbuat dari kayu dan sangat antik. Tetapi menurut Miro kebanyakan lift di Praha memang antik seperti itu.  Meskipun beberapa apartemen sekeliling tampak tua dan kusam, tetapi bagian dalam apartemen milik Miro modern, rapi, bersih dan nyaman. Selain semua fasilitas yang lengkap di apartemen, Miro juga menyediakan banyak makanan instant, kopi, teh, gula pasir, roti, buah-buahan bahkan wine seandainya kami bisa meminumnya. Apartemen Miro merupakan tempat ternyaman kami menginap selama keliling Eropa sebulan.  Setelah menunjukkan peta, brosur wisata dan sedikit petuah bagaimana menjelajah Praha, Miro mempersilakan kami istirahat.

 

Praha yang romantis dan magis
Menjelajahi kota Praha seperti memasuki kota abad silam. Hampir semua bangunan tua berarsitektur gothic, renaissance hingga baroque style terawat dengan baik dan menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan dari seluruh dunia. Pemandangan di setiap sudut kota tampak romantis sekaligus magis.  Setelah menjalajahi Old Town Square, Jam astronomis, St. Nicholas Curch, hingga naik ke puncak menara gerbang Charles Bridge untuk melihat pemandangan di kejauhan yang luar biasa indah kami mulai kelelahan dan lapar.  Seorang teman mengusulkan kami menyeberang Charles Bridge lalu beristirahat di Misenska kafe. 
Misenska
Tidak jauh dari Charles Bridge, Misenska kafe terletak di deretan pertokoan unik yang menjual souvenir khas Praha, beberapa hostel dan restoran.  Memasuki Misenska kafe seperti memasuki sebuah rumah tinggal yang tenang.  Kafe masih sepi, mungkin karena belum jam makan siang, ketika kami memilih duduk di areal taman dan seorang waitres memberikan buku menu. Kafe ini buka setiap hari mulai jam 10 pagi hingga jam 10 malam. Di bagian depan tampak perpustakaan kecil berisi berbagai buku yang bisa dibaca para pengunjung kafe sambil duduk santai.   
Library Misenska Cafe
   
Bagian dalam Misenska Cafe
Karena tidak menyediakan menu berat, kami memesan kopi, coklat panas dan cemilan.  Kopi yang disajikan di Misenska kafe tidaklah istimewa seperti kebanyakan kafe lain yang menyediakan Espresso, Cappucino, Caffe latte dan Ice Caffe.  Tetapi pengunjung sepertinya menyukai tempat ini karena suasananya yang tenang dan nyaman. Saya melihat beberapa pengunjung yang baru datang langsung masuk ke perpustakaan memilih-milih buku lalu membawanya ke bagian dalam untuk dibaca seolah tempat ini rumahnya sendiri.  Beberapa pengunjung yang lain berbincang tetapi suaranya rendah sehingga tidak mengganggu pengunjung yang lain.

 

Buku Menu Misenska Cafe

 

Hot Chocolate

 

Coffee, Hot Chocolate dan Cemilan

 

Menurut informasi kota ini lebih terkenal dengan minuman bir-nya, sehingga saya tidak banyak mendapatkan informasi menarik tentang kopi. Tetapi kafe-kafe unik di setiap sudut kota Praha sangat menarik untuk dicoba.  Setelah dua jam menikmati ketenangan Misenska kafe, saya melanjutkan penjelajahan.  Praha merupakan tempat romantis sekaligus magis yang membuat saya ingin kembali suatu saat nanti.*

 

Baduy : Jalinan Persaudaraan 15 Tahun

“Panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, lebih tidak boleh dikurang,” (Pepatah Suku Baduy yang maknanya manusia harus jujur apa adanya)

Rumah Suku Baduy

Hampir tiga minggu saya tidak bisa menulis karena writer’s block. Beberapa deadline berantakan. Semakin saya memaksakan diri untuk menulis, semakin saya kacau.  Saya harus pergi ke suatu tempat yang membuat otak saya fresh.  Lalu, saya memutuskan pergi ke Baduy,  dengan pertimbangan saya bisa jalan-jalan ke hutan sekaligus bertemu saudara Baduy yang pernah saya kunjungi sebelumnya.

Jalan menembus hutan ke perkampungan Baduy

 

Hutan menuju perkampungan Baduy

 

Sungai jernih di Baduy

Ini ketiga kalinya saya ke Baduy.  Pertama kali ke Baduy tahun 2003, mengikuti teman mahasiswa yang sedang penelitian, lalu tahun  2008, riset untuk novel yang sampai hari ini belum juga ditulis. Dari ketiga kunjungan itu saya menginap di tempat yang sama yaitu di rumah Kang Sarpin Baduy luar yang kemudian saya anggap sebagai saudara. Saya mengagumi keluarga Kang Sarpin dan mengikuti perjalanan keluarga ini dari anak-anak mereka kecil hingga tumbuh dewasa.  Jika ada yang bilang ikatan persaudaraan tidak hanya terjadi karena ikatan darah, maka saya menemukan ikatan persaudaraan ini dengan keluarga Kang Sarpin. 
Tahun 2003, pertama kali ke Baduy bertemu Kang Sarpin
 

Tahun 2008, kedua kalinya ke Baduy, Marno anak Kang Sarpin masih kecil
Tahun 2018, ketiga kalinya ke Baduy, Marno anak Kang Sarpin sudah remaja.
Orang-orang yang belum pernah ke Baduy selalu berpikir bahwa Baduy itu seram, susah dijangkau dan antah berantah. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Sebelum ada KRL, memang agak menyebalkan naik kereta dari Jakarta ke Rangkasbitung dengan kondisi kereta yang buruk. Tapi setelah ada KRL perjalanan menjadi sangat gampang. Kita hanya perlu naik KRL dari Tanah Abang ke Rangkasbitung dengan biaya Rp.13.000 selama 2 jam perjalanan lalu disambung dengan mobil ELF ke Ciboleger dengan biaya Rp.25.000 selama 2 jam perjalanan. Dari Ciboleger kita jalan kaki menembus hutan sekitar 1 jam dengan jarak 2 kilometer, baru kemudian sampai di perkampungan Baduy.
Salah satu rumah suku Baduy

 

Kampung Gajeboh Baduy

Gadis mencuci di Sungai
Dari ketiga kali kunjungan saya, Baduy luar mengalami banyak perubahan mulai dari jalanan yang semula tanah menjadi batu-batu berundak sehingga memudahkan para pejalan, rumah-rumah yang semakin rapih serta manusia-manusianya yang menjadi lebih terbuka. Tetapi Baduy tetap sama di mata saya. Tempat ini bukan tempat wisata buat saya, tetapi tempat untuk mencerahkan pikiran dan menata ulang sudut pandang.  Sebagai orang yang tinggal di Jakarta, saya tidak perlu kecentilan mencari sensasi dengan terkaget-kaget tidur di balai-balai, mandi di pancuran terbuka, makan dengan ikan asin atau bergelap-gelap tanpa listrik. Saya lebih suka memasuki alam pikiran warga Baduy yang sederhana, apa adanya dan damai. Bahkan saya mengagumi cara mereka bertemu di jalanan, berhenti sejenak, saling menyapa hangat seperti semut-semut yang bertemu saudaranya.  Karena itu semua, saya lebih suka ke Baduy sendirian bukan bersama rombongan sehingga saya bisa maksimal hidup di tengah-tengah mereka meskipun hanya beberapa hari.
Laki-laki suku Baduy
 

Kegiatan para wanita menenun

Berjalan menembus hutan
Kegiatan yang bisa dilakukan di perkampungan ini adalah pergi ke sungai, menyusuri beberapa perkampungan yang sudah terhubung dengan jembatan bambu dan jalanan batu berundak sehingga sangat mudah untuk menjelajah sendiri sekalipun, ikut tuan rumah ke ladang ikut para wanita belajar menenun dan berkunjung ke Baduy dalam. Jarak Baduy dalam dari Baduy luar sekitar 10 km berjalan kaki. Adat istiadat di Baduy dalam lebih ketat, misalnya kita tidak boleh mandi menggunakan sabun saat mandi di sungai dan hanya menggunakan lampu minyak kecil pada malam hari.  Jika di Baduy luar masih tersedia bilik-bilik pancuran untuk mandi, di Baduy dalam harus ke sungai.
Malam di rumah Suku Baduy
 

Ambu kesayangan, istri Kang Sarpin

 

Gadis-gadis kecil Suku Baduy yang cantik

Saya mencintai Baduy sejak pertama saya datang berkunjung.  Malam-malam gelap di bawah cahaya bulan dan bintang, udara dingin yang membuat tubuh menggigil, suara anjing yang menggonggong di hutan, laki-laki yang bersenandung lagu Sunda sambil berjalan dalam gelap, suara langkah kaki bersahutan dalam hening malam dan tawa lirih para gadis yang duduk di emper rumah menunggu kantuk.  Saya sering berharap malam tidak cepat berlalu saat menginap di Baduy, karena malam-malam di perkampungan ini sangat indah.  Membuat otak saya terbuka, membersihkan sampah yang selama ini terkeliaran tanpa manfaat di kepala saya dan menghadirkan energi-energi positip baru. Selama perkampungan Baduy ini masih ada, saya akan terus kembali.