Tag Archives: traditionalmarket

BLUSUKAN DI PASAR TRADISIONAL VELIKY NOVGOROD RUSIA

Tempat yang paling saya incar untuk blusukan di setiap negara yang saya kunjungi itu adalah pasar tradisional. Bukan untuk belanja (meskipun kadang jadi belanja juga), tapi saya senang melihat orang-orang lokal berkegiatan di pasar, bertransaksi, saling ngobrol dan menjajakan barang dagangannya. Tak hanya manusianya, barang-barangnya sudah tentu unik dan berbeda dari setiap negara.  Kali ini saya blusukan ke salah satu pasar tradisional yang ada di Veliky Novgorod, kota tertua di Rusia.

Jam 3 sore karena kedinginan setelah menyusuri jalanan kota Veliky yang sepi, saya belok ke pasar tradisional ini. Sebenarnya hanya ingin menghangatkan badan dengan masuk ke dalam pasar, tapi jadi malah keterusan menyusuri semua lorongnya. Pasar ini tidak luas, namun bersih dan rapi. Terdiri dari dua lantai, pembagian kios-kiosnya tidak menentu, bahkan terkesan tidak beraturan sehingga lantai satu bisa jadi berjualan makanan basah dan kering, pakaian, bunga plastik, mini market dan minuman. Begitu juga dengan lantai dua yang berisi kain, pakaian, mainan anak-anak dan minuman.

Saya kemudian kembali ke lantai satu untuk mencari teh khas Rusia setelah mengecek di internet teh mana yang sebaiknya saya beli. Saya memang suka membeli teh dari berbagai negara saat ke pasar selain hanya ingin ngobrol dengan penjualnya. Tetapi di sini saya tidak bisa mengobrol karena semuanya berbahasa Rusia sementara saya tidak paham bahasa Rusia. Tidak ada yang bicara dalam bahasa Inggris, sehingga saya hanya menduga-duga pembicaraan mereka, menggunakan kalkulator untuk menawar harga atau menggunakan google translate.

Saya menemukan teh yang saya cari di lantai satu, dekat dengan penjual coklat. Harga tehnya hanya 95 Rubel atau Rp.25.000 lalu saya membeli satu setelah bingung mau membeli yang mana dan penjualnya menyarankan saya membeli jenis teh hitam. Setelah ngobrol pakai bahasa tubuh dan akhirnya nggak saling paham juga, saya hanya senyum-senyum dan meminta untuk memotret penjualnya. Penjualnya ramah dan murah senyum, dia mengijinkan saya memotret apa saja yang ingin saya potret.  Dari penjual teh saya bergeser ke penjual coklat.  Ada berbagai coklat dengan harga yang murah dibandingkan di Indonesia (tentu saja) tetapi saya tidak membeli coklat. Saya malah jalan-jalan ke arah lain bagian pakaian dan sepatu.

Begitu memasuki satu kios saya disambut mbak-mbak cantik yang penampilannya nyaris seperti artis di film-film spionase. Ternyata mbak cantik ini penjual jaket di salah satu kios. Dia menawarkan jaketnya yang sedang sale seharga sekitar 100 ribuan jika dirupiahkan menggunakan bahasa Rusia. Orangnya ramah, tetapi sayangnya lagi, dia tidak bisa berbahasa Inggris, jadi kami hanya ngobrol menggunakan google translate yang sangat terbatas dan kalkulator untuk menanyakan harga.  Teman saya kemudian tergoda untuk melihat jaket-jaketnya lebih detail bahkan kemudian membelinya sementara saya justru berpindah ke bagian lain yaitu sepatu setelah meminta ijin untuk memotret mbak cantik itu. Dia bilang ke teman-temannya di pasar kalau saya fotographer, dan saya tertawa ngikik menjawabnya menggunakan bahasa Indonesia, “bukan-bukan, saya hanya suka memotret, bukan fotographer.” Ya, sekali-kali menggunakan dua bahasa berbeda nggak apa-apa ‘kan? Biar sekalian saja sama bingungnya.

Seorang ibu paruh baya menjual sepatu boots sambil menggendong anjing pudelnya berwarna coklat yang lucu. Ibu ini tampak ngos-ngosan setiap bergerak. Tetapi begitu saya melihat-lihat sepatunya, dia tampak antusias. Saya menanyakan harga menggunakan kalkulator dan lagi-lagi berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh, tetapi ibu ini cukup bisa memahami maksud saya.  Karena saya membutuhkan sepatu boots dan harga yang ditawarkan hanya 100 ribuan dalam rupiah, maka saya membelinya satu. Tetapi setelah beres pembelian, saya meminta untuk memotret ibu paruh baya itu. Awalnya saya pikir ibu itu akan menolak di foto, ternyata begitu saya menunjuk kamera saya, si ibu malah mengambil anjing pudelnya dan memeluknya untuk diajak foto bersama.

Setelah puas menyusuri pasar malah kebablasan belanja saya kemudian keluar pasar. Tampak di luar, penjual labu sibuk melayani pembeli, kios-kios roti dan minuman kaleng sementara saya memutuskan untuk menyeberang melalui penyeberangan bawah tanah ke seberang pasar. Dalam penyeberangan bawah tanah juga ada penjual pakaian dan minuman. Di seberang pasar tampak pasar kaget yang menjual sayuran, tanaman hias, bunga, bawang putih, jamur dan umbi-umbian.  Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah lain untuk mencari mini market. Kota tua Novgorod sangat cantik, saya akan mengulaskan tersendiri di bagian destinasi. Ikuti terus perjalanan saya di Rusia, ya! Terima kasih!

NISHIKI MARKET KYOTO : Pasar Sejak 400 Tahun Lalu

Mengunjungi Kyoto, selalu membuat saya seperti kembali ke Jepang pada zaman Edo. Kebudayaan ratusan tahun lalu yang masih dilestarikan itu tercermin dari bangunan-bangunan eksotis di sepanjang Gion. Tak hanya bangunan-bangunan eksotis pada zaman Edo, tetapi di sini juga ada Nisiki Market. Pasar rakyat yang ada sejak 400 tahun lalu. Banyak wisatawan manca negara maupun warga lokal berkunjung ke pasar ini. Pasar ini tampak bersih, rapi, dinamis dan menyenangkan. Berkunjung ke Kyoto tanpa mampir ke Nisiki market tidak akan lengkap. Apalagi kalau anda penggemar kuliner Jepang. Nisiki Market menjual banyak sekali kuliner khas Kyoto yang sangat menarik.

Saya berkunjung ke Nishiki Market setelah mengelilingi Gion untuk melihat bangunan-bangunan zaman Edo yang masih berdiri kokoh. Sebenarnya ingin mencicipi teh di salah satu bangunan itu namun batal karena harganya mahal. Maka saya memilih untuk berburu kuliner di Nishiki Market. Memasuki pasar ini saya justru kebingungan mau membeli apa karena segala kuliner Jepang ada di sini. Mulai dari makanan khas Kyoto, buah-buahan, acar, teh sampai ikan asin.

Saya tergoda untuk membeli buah strowberry yang terlihat segar dan besar-besar. Saya jarang menemukannya di Indonesia. Lalu teman saya membeli teh hijau untuk oleh-oleh. Ada bermacam-macam teh bisa kita dapatkan di pasar ini dengan harga terjangkau. Jangan lupa mencoba sushi dan beberapa penganan lokal yang sangat menarik. Jika anda penggemar kuliner, jangan lewatkan mampir ke Nishiki Market!

Budapest Central Market Hall

Jika anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satu tempat yang selalu di kunjungi turis saat berada di Budapest adalah Central Market Hall atau Great Market Hall. Pagi hari sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest ini terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca.

Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali. Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar.

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi pasar ini? Pasar ini buka pada hari Senin sampai Sabtu mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hari minggu tutup. Jika anda tidak suka terlalu ramai maka anda bisa berkunjung pada pagi hari sekitar jam 8-9 hari Senin – Jumat, karena pada hari Sabtu pasar akan sangat ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Jangan lupa mengunjungi pasar ini saat anda ke Budapest!