MENCOBA SLEEPER TRAIN DAN BUS ANTAR KOTA DI RUSIA

Jika anda mengurus semua perjalanan anda sendiri ke negara lain tanpa melibatkan orang ketiga seperti paket tour dan tour leader, maka untuk mencapai kota lain dipastikan anda membutuhkan sarana transportasi antar kota ini.  Susah nggak sih nyarinya? Di mana beli tiketnya? Saya secara berulang mendapat pertanyaan ini dari temen-temen setiap pergi ke beberapa tempat. Oke, mari kita ngobrol tentang angkutan antar kota yang saya gunakan di Rusia.

Saya membutuhkan angkutan antar kota dari Moscow ke Saint Petersburg return kemudian dari Saint Petersburg ke Veliky Novgorod return. Sebenarnya bisa menggunakan pesawat juga tetapi selain tiketnya lebih mahal, saya juga males ribet check in, ngurus bagasi dan melewati screening bandara yang memerlukan waktu lama, jadi saya memilih menggunakan kereta dan bus.  Pilihannya jatuh ke sleeper train dengan waktu tengah malam agar bisa irit biaya hotel karena tidur di kereta sementera memilih bus agar bisa bertemu banyak orang lokal.

Setelah tanggalnya fix, saya mulai berburu tiket tiga bulan sebelum keberangkatan karena bisa jadi akan mendapatkan harga promo atau lebih banyak pilihannya. Dari beberapa group backpacker disarankan membeli tiket secara online di beberapa website seperti www.tutu.ru, www.russianrailways.com, www.eng.rzd.ru, www.russiantrains.com  tetapi saya menemukan website yang kemudian saya yakin membelinya di sana karena prosesnya mudah, bisa menggunakan kartu kredit, ada bahasa Inggrisnya dan yang penting harganya lebih murah dari yang lain pada saat itu yaitu www.infobus.eu.

Saya kemudian memesan tiket untuk sleeper train Moscow-Saint Petersburg return dan bus Saint Petersburg- Veliky Novgorod return.  Harga sleeper train Moscow-Saint Petersburg setara dengan harga tiket kereta eksekutif di Indonesia yaitu kisaran 2556 RUB atau Rp.677.000 sekali jalan sementara harga bus untuk Saint Petersburg-Veliky kisaran 500 RUB atau Rp.132.500 untuk sekali jalan. Setelah pembayaran lunas menggunakan kartu kredit, tiket akan dikirim ke email dalam bentuk PDF yang kemudian saya print meskipun bisa juga tiket digital. Di dalam tiket sudah tertera nomor kursi yang kita pilih, nama bus/sleeper train, terminal/stasiun keberangkatan dan lama perjalanan. Tetapi semua dalam bahasa Rusia. Jangan panik dulu, setidaknya kita masih bisa copy paste tulisan itu ke Google translate dan membiarkan Google translate menjalankan tugasnya. Ribet? Ya, tentu saja! Tapi ini menantang untuk belajar lebih jauh.

 

Karena tidak menemukan petunjuk gambar sleeper train yang saya naiki akan seperti apa dari internet karena bingung dengan bahasa Rusia di tiket, saya tidak berani berharap banyak. Saya membayangkan kalau mendapatkan sleeper train seperti di Tiongkok beberapa tahun lalu akan saya nikmati saja, tetapi sambil berdoa semoga ini lebih nyaman. Ternyata doa saya dikabulkan. Sleeper train di Rusia sangat nyaman bahkan saya merasa lebih nyaman ketimbang menginap di hostel. Mulai dari datang di stasiun kondisinya tertib, informasi jam keberangkatan jelas dalam bahasa Rusia maupun Inggris, masuk ke dalam kereta juga mudah (kecuali memasukkan bagasi yang segambreng dan itu memang salah saya sendiri).

Sleeper train ini berbentuk kompartemen-kompartemen, satu kompartemen berisi 4 tempat tidur. Tampak rapi, bersih dan wangi. Bagian bawah berbentuk sofa, namun ketika waktu tidur bisa dibalik menjadi bed, sementara bagian atas berbentuk bed yang rapi dengan bantal, selimut, handuk, cantolan jaket, rak-rak mungil untuk menaruh tas tangan kita dan jemuran kecil untuk handuk. Sayangnya tidak disediakan colokan listrik di bed bagian atas dan hanya di bed bawah tersedia colokan listrik. Untuk naik ke bed atas, juga tersedia pijakan seperti tangga yang bisa ditutup saat penghuni bed atas sudah berada di tempatnya. Tak hanya itu lampu di kompartemen ini ada beberapa pilihan. Masing-masing bed memiliki lampu sendiri jika ingin membaca, sementara untuk keseluruhan kompartemen, lampu bisa dipilih terang atau redup. Oh, masih ada tambahan disediakan snack roti, yogurt dan air mineral serta sarapan yang bisa memilih sendiri mulai dari pancake, omelet berisi daging serta kopi dan teh. Namun kopi dan tehnya tidak gratis. Bagaimana dengan toilet? Jangan kuatir, meskipun standart toilet Eropa tanpa air, tetap disediakan tissu basah, kering dan kondisinya sangat bersih tidak berbau.

Saya beruntung dua kali perjalanan sleeper train ini satu kompartemen dengan mereka yang lancar menggunakan bahasa Inggris. Saat berangkat saya satu kompartemen dengan nenek Linda dari Amerika yang berada di bed bawah, usianya saya tebak diatas 70 tahun dan dua orang laki-laki, satu lelaki Rusia dan satu lagi lelaki Asia. Nenek Linda cepat akrab karena  melihat tulisan di jaket saya “Pennsylvania University” dan beliau pernah mengajar di sana. Kami terlibat banyak obrolan tentang musik, Rusia, gereja dan kegiatan beliau selama keliling Rusia. Sementara saat baliknya, saya satu kompartemen dengan ibu-ibu (saya lupa namanya) yang juga lancar berbahasa Inggris dan malah menerjemahkan ke saya setiap pramugari kereta menjelaskan soal segala sesuatu yang ada di kereta menggunakan bahasa Rusia. Saya bersyukur bertemu mereka sehingga tidak ribut menggunakan Google translate saat pramugari kereta bicara. Naik sleeper train di Rusia merupakan pengalaman menyenangkan buat saya sampai 7 jam perjalanan dari jam 23.30 hingga 7 pagi tidak terasa lama.

Sementara perjalanan naik bus dari Saint Petersburg- Veliky Novgorod juga sangat menyenangkan kecuali bagian hampir terlambat karena kuatir salah terminal. Saya datang di terminal 5 menit sebelum bus berangkat dan tidak ada satupun manusia yang bisa berbahasa Inggris.  Lucunya saya hanya mencocokkan simbol di tiket dengan bus yang ada di terminal dan menebak mungkin itu bus yang akan saya naiki. Untung benar, kalau tidak saya pasti sudah ketinggalan bus. Jalanan di Rusia sangat mulus meskipun di kota juga sangat macet, tetapi driver membawa bus dengan tenang dan nyaman. Berhenti sekali di rest area dengan waktu 15 menit sebelum kemudian melanjutkan perjalanan. Butuh waktu sekitar 4 jam dari Saint Petersburg hingga Veliky Novgorod. Sama dengan naik sleeper train, naik bus di Rusia juga sangat nyaman meskipun jarang sekali bertemu turis Asia seperti saya. Saya ingin mengulang perjalanan bus ini dengan menyusuri golden ring Rusia dengan hanya membawa ransel nanti. Itu dulu sedikit informasi naik sleeper train dan bus di Rusia ya teman-teman, kita lanjutkan ke cerita lainnya! 😊

 

 

 

 

RUSIA : BLUE MOSQUE DAN JEJAK SOEKARNO DI SAINT PETERSBURG

Hari pertama di Saint Petersburg, sore hari setelah istirahat kami percaya diri hendak mengunjungi tempat-tempat wisata terdekat dengan jalan kaki mengikuti Google map. Tapi dalam suhu 9 derajat dan tangan yang kebas kedinginan mendadak sulit memencet-mencet tombol ponsel. Sebagai pembaca map yang buruk akhirnya kami mengikuti kata hati. Dan nyasarlah kami ke lapangan yang luas dengan beberapa cowok sedang party. Mereka tak memedulikan orang asing yang nyasar lewat dekatnya, lalu kami melihat lampu-lampu di kejauhan. Kami meyakini di sekitar lampu-lampu yang berpendar itu jalan besar, maka bergegaslah kami ke sana. Sekitar 1.5 km, kami menemukan jalanan dengan mobil-mobil melaju kencang seperti jalan tol tapi kami juga melihat beberapa orang bisa menyeberang jalan meskipun sepertinya resikonya sangat besar. Tidak berani menyeberang dengan resiko ketabrak, kami mencari penyeberangan.

Tetapi hampir 1 km berjalan tak juga menemukan penyeberangan. Sekeliling kami tidak ada manusia lain yang jalan kaki, hanya ada mobil-mobil yang melaju kencang. Harapan kami hanya satu, berjalan lagi untuk menemukan penyeberangan. Dan benar, setelah 1 km berjalan lagi, tepat di depan gedung pengadilan ada penyeberangan ke samping sungai Neva. Tetapi begitu sampai pinggiran sungai Neva, kita masih tidak tahu harus berjalan kemana untuk mencari makan malam. Mall-mall dengan gemerlap lampu tampak sangat jauh, mustahil kami jalan kaki ke sana. Akhirnya kamipun menyerah dan memesan taksi online yang kemudian mengantar kami ke mall Galeria. Drivernya seorang muslim Tajikistan dengan bahasa Inggris sedikit tapi cukup kami pahami. Dan begitulah selalu saja nyasar itu meninggalkan kesan lucu karena ternyata, mall Galeria ini posisinya ada di belakang tempat penginapan kami! Ya ampun! Baiklah, kalau tidak nyasar, kami pasti tidak tahu kalau penginapan kami dekat mall.

Setelah nyasar akhirnya nemu tempat penyeberangan

Kedinginan, kelaparan belum makan nasi sejak kemarin, saya menemukan restoran Vietnam yang menjual nasi dan Tom Yam seafood. Ketika sedang menunggu pesanan, masuk dua cowok ngobrol berbahasa Indonesia. Kami langsung saling paham kalau sebangsa, ternyata mereka mahasiswa Indonesia yang kuliah S2 di Saint Petersburg. “Kalau mbak pengen nanya-nanya saya di depan,” katanya sambil senyum. Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan, begitu selesai makan, langsung menuju meja mereka. Dan hampir satu jam dapat petuah bagaimana menghabiskan waktu di Saint Petersburg menggunakan metro tanpa nyasar, tempat-tempat menarik yang harus kami kunjungi, termasuk jalur terdekat ke masjid Soekarno yang ingin saya kunjungi esok harinya.

Ketemu mahasiswa Indonesia yang baik hati

Mengunjungi Masjid Soekarno atau Blue Mosque atau Saint Petersburg Mosque memang salah satu tujuan saya saat di Saint Petersburg Rusia.  Saya sangat tertarik sekaligus penasaran dengan teman-teman traveler yang selalu menyebut Masjid Soekarno di Saint Petersburg itu. Bagaimana masjid di Rusia ini sangat terkenal dengan sebutan Masjid Soekarno? Apa sejarah yang melatarinya?  Apakah benar ada hubungannya dengan Presiden Soekarno pada masa pemerintahannya dahulu? Well, saya bisa membaca dari berita, tetapi saya ingin melihat masjid itu dengan mata saya sendiri.

Stasiun metro Gorkovskaya

Jam 9 pagi saat matahari belum mengurangi gigil kedinginan saya, dengan mengenakan jaket tebal saya menuju metro stasiun Mayakovskaya. Temen-temen mahasiswa Indonesia semalam bilang, saya sebaiknya naik metro line 3 dari stasiun Mayakovskaya kemudian turun di Gostiny Dvor ganti metro line 2 dari Nevsky Prospekt kemudian turun di stasiun Gorkovskaya. Petunjuk yang dikatakan temen-temen mahasiswa ini sama dengan yang ditunjukkan Google Map. Ternyata sangat mudah. Begitu exit dari stasiun Gorkovskaya, saya bisa melihat kubah biru masjid Soekarno menjulang tidak jauh dari pintu stasiun. Sayapun menyeberang jalan dan hanya butuh berjalan lima menit untuk sampai pintu gerbang masjid Soekarno.

Masjid Soekarno dari seberang jalan

Masjid tampak sepi, tetapi ada beberapa wisatawan bersama tour guide sedang mengunjungi masjid. Saya segera masuk ke dalam dan diarahkan penjaga masjid ke bagian perempuan. Karena belum waktunya sholat wajib dan saya juga sedang tidak sholat, maka saya memutuskan untuk duduk menikmati keindahan bangunan di dalam masjid ini. Berada di dalam masjid Soekarno saya jadi teringat masjid lain yang hampir mirip bangunannya yaitu Tokyo Camii. Di dalam masjid tidak diperkenankan memotret, tetapi penjaganya mengijinkan saya mengambil satu foto. Lalu apa hubungannya masjid ini dengan Soekarno Presiden RI yang pertama sehingga sering disebut dengan nama Masjid Soekarno?

Terletak di pusat kota Saint Petersburg yang dulunya bernama Leningrad tak jauh dari sungai Neva dan Benteng Peter & Paul, masjid ini menjadi pusat komunitas muslim Saint Petersburg. Masjid yang didirikan pada tahun 1910 dengan gaya arsitektur Turki ini sebenarnya memiliki nama asli Jamul Muslimin.  Pada masa itu masjid Jamul Muslimin merupakan masjid terbesar di Eropa dengan jamaah sekitar 8000. Namun pada era komunisme selama Uni Soviet berkuasa, semua tempat ibadah ditutup dan tidak boleh digunakan sehingga masjid Jamul Muslimin dialih fungsikan sebagai gudang penyimpanan barang.

Menurut sejarah, pada tahun 1956 saat hubungan Indonesia-Rusia sangat harmonis dan Presiden Soekarno menerima undangan Pemimpin Uni Soviet Nikita Khrushchev untuk kunjungan kenegaraan ke Rusia beliau melihat kubah biru itu dan meyakininya bahwa itu masjid. Soekarno kemudian meminta Nikita Khrushchev untuk memfungsikan kembali masjid itu dan permintaan itu disetujui. Sejak itu Blue Mosque kembali difungsikan sebagai tempat ibadah muslim hingga saat ini sehingga sering disebut sebagai masjid Soekarno.

 

Di samping masjid Soekarno ini ada kedai makanan halal yang kebabnya sangat enak. Temen-temen traveler muslim bisa menikmati berbagai kudapan lezat dan halal dengan harga yang terjangkau. Saya membeli roti isi ayam, kebab dan minuman untuk bekal menyusuri Saint Petersburg setelah itu karena kuatir tidak menemukan makanan halal lagi. Penjualnya muslim dan sangat ramah. Beliau mengijinkan saya mengambil banyak foto dan video di kedainya.

Kehidupan muslim di sekitar masjid Soekarno tampak biasa saja. Tidak ada hal-hal mencolok atau berbeda saya rasakan di sini, bahkan orang-orang juga tidak terlalu kaget melihat wanita berjilbab di jalanan. Dari Blue Mosque saya akan menceritakan tempat lain lagi. Tunggu kelanjutan perjalanan saya di Rusia ya!

 

 

RUSIA : Jangan Menilai Buku Dari Covernya

“Jangan menilai buku dari covernya, jangan menilai orang Rusia dari film Hollywood.”

Malam sebelum berangkat traveling ke Rusia, saya menonton film “The Way Back” garapan Peter Weir tahun 2010 yang bercerita tentang Janusz seorang yang didakwa mata-mata atas saksi istrinya sendiri lalu ditahan di kamp Siberia yang tidak manusiawi. Tentara Rusia memperlakukan dia dengan sadis hingga Janusz berhasil melarikan diri melewati banyak rintangan alam dan selamat sampai di India.  Usai menonton film saya masih berdebar, apa benar orang-orang Rusia begitu tidak menyenangkan seperti film-film Hollywood yang saya tonton? Seorang teman yang sedang solo traveling ke Mongolia lalu memasuki Rusia melalui Irkutsk lewat pesan online bilang kalau mereka memang tidak ramah, jadi mesti mempersiapkan diri menghadapi hal yang sangat berbeda dari traveling sebelumnya. Oh, baiklah!

Setelah 13 jam penerbangan Jakarta-Moscow, transit di Bangkok semalam,  tepat jam 10 malam berikutnya sampailah saya di Demodedovo International Airport Moscow. Ada dua bandar udara internasional lainnya di Moscow selain Demodedovo yaitu Vnukovo dan Sheremetyevo. Begitu keluar dari lobby bandara saya disergap suhu 7 derajat celcius. Tangan rasanya kebas saat memesan taksi online Yandex karena sudah tidak sanggup naik metro menuju penginapan. Yandex sangat mudah digunakan seperti grab, uber atau gocar di Indonesia, kita juga bisa menggunakan nomor Indonesia tanpa perlu memiliki nomor lokal.  Pembayaran bisa cash ataupun kartu kredit. titik penjemputan yang dipilihpun tepat ditempat kita berada, jadi tidak usah menggeser-geser titik. Lima menit kemudian Yandex yang saya pesan datang lalu mengantarkan ke penginapan. Satu jam lebih diselingi macet, menjelang tengah malam saya tiba di depan alamat yang saya tuju. Sopir yang tidak bisa bahasa Inggris hanya menunjuk bangunan di depan saya, lalu saya menyeret koper ke sana.

Dan mulailah drama itu! Bangunan itu memiliki akses untuk masuk, sementara saya tidak punya akses dan tidak bisa menelepon pemilik penginapan karena tidak memiliki nomor lokal. Tidak yakin bahwa pintu masuknya yang memiliki akses itu, saya segera berjalan ke samping memasuki pintu lain yang kebetulan terbuka. Tiba-tiba seorang cowok Rusia pulang belanja dan bilang bahwa alamat yang saya tuju bukan di situ. Dia tersenyum ramah dan bersedia mengantar ke alamat yang benar. Akhirnya cowok itu mengantar ke pintu samping kanan hingga masuklah saya ke sebuah tempat seperti kost-kost-an. Tampak beberapa anak muda sedang duduk sambil belajar. Tempat itupun ternyata bukan alamat yang saya tuju.  Sepertinya ini memang benar-benar kost-kostan. Ya ampun! Saya benar-benar tersesat!

Dua cowok di rumah seperti kost-kost-an itu berbaik hati mengantar kami ke alamat yang mereka yakini benar. Dia tidak bisa berbahasa Inggris tapi masih bisa menggunakan bahasa isyarat yang saya pahami. Ternyata balik lagi, alamatnya ada di pintu yang ada aksesnya itu dan si cowok memiliki akses untuk masuk. Dini hari, saya berhasil istirahat di penginapan yang saya pesan atas bantuan cowok-cowok baik itu. Tak hanya itu di jalanan seorang ibu yang pernah ke Bali juga berusaha menolong kami yang tersesat, hanya saja memang jarang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan ada yang berbaik hati mengangkat koper kami saat kami kesulitan membawanya.

Esok malamnya saat saya nongkrong di kafe dekat stasiun menunggu perjalanan malam ke Sank Petersburg, dua orang bapak-bapak Rusia mengajak kami ngobrol. Ternyata mereka pernah keliling Indonesia dan meski menggunakan Inggris terbata-bata tampak mereka berusaha ramah. Kami sempat bertanya, “apa benar orang Rusia susah tersenyum? Dia justru tersenyum tipis, “tidak semua begitu. Mungkin yang susah tersenyum beban hidupnya berat, tapi saat liburan di luar Rusia mereka akan mudah tersenyum.”  Sebagian mereka memang terlihat judes, tapi jangan tertipu dengan muka judes karena mereka ringan tangan mengangkatkan koper kami keluar dari kompartemen kereta.

Kesan pertama saya terhadap orang Rusia baik dan melegakan. Ternyata benar, jangan menilai sesuatu dari kabar-kabar yang dihembuskan orang lain, mending lihat sendiri kenyataannya. Oke, ini hanya kesan pertama saya sebagai turis. Bisa jadi orang lain akan mengalami hal yang berbeda, atau mereka yang tinggal lama di Rusia tentu lebih tahu secara mendalam. Saya masih akan menulis terus tentang Rusia, jadi jangan pindah chanel dulu! 🙂 Oya, foto yang saya tampilkan mungkin tidak tepat mengikuti tulisan, tetapi menggambarkan bagaimana orang Rusia yang saya temui. Tunggu tulisan saya selanjutnya! 🙂

 

 

 

CARLOS FIGUEIREDO : Keliling Dunia Bersama PITUFO

“Jika kamu tidak menemukan teman untuk memulai perjalanan, maka kamu akan menemukan teman dalam perjalanan”. Itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan persahabatan saya dengan Carlos. “Departures’ salah satu program adventure-nya National Geografic membuat kami berteman sekaligus mendorong saya memulai melakukan perjalanan beberapa tahun silam. Tak hanya tips-tips traveling dan tempat-tempat rekomendasi yang saya dapatkan dari Carlos, tapi juga banyak hal positip. Salah satu yang saya kagumi adalah cara dia memandang orang lain tanpa membeda-bedakan apapun latar belakangnya. Sharing kali ini saya ingin membagi cerita perjalanan Carlos.

Hey Carlos! Tell us a bit about yourself!

Well, my name is Carlos Figueiredo and I have Africa in my heart, because I was born in Angola in June 1964 and lived there for my first 11 years. At that age I came to Portugal with my parents and I live in a small town called Fátima, in the Centre of the country. I studied Law at the University but did not continued…I should have studied design or architecture, but I didn’t. So, has you know, at the present time, I work in a beautiful store where I sell art and decoration items. Sometimes I do design projects…just sometimes. I’m very curious about everything and I love to learn about our planet, about the Universe. I’m a traveler…every time I can, inside and outside of Portugal. I love our planet and all the species in it and I try hard to protect them (planet and animals). My daily life is as green as possible. I like Art (films included!), History, Astronomy, Geography and Biology. I like interior design and gardening. I’m becoming a minimalist, so I try to surround myself only by things and people who means something for me (like you, my dear friend!).

What countries does your family have its roots in, and how did that shape your love for travel?

All my family roots are, as far as I know, Portuguese. I don’t know if we have Nordic or Roman or Arab roots, because they lived in this territory before Portugal was a country. I feel I have something Arab in my soul. My mother’s family moved to Angola in the late 19th century, so my Great- Grand Mother, my Grand Mother and my Mother were born in Africa. The fact that we lived in Africa marked our way of being and living. We used to travel a lot in Angola, so that kind of living shaped, for sure, my love for travel.

How many countries have you visited? What are your top 3 favourite countries and why?

I visited 33 countries until now. Not counting Angola and Portugal. It’s very difficult to choose 3, but Morocco, Egypt and India are among my favorite. Angola and Portugal are very special for many reasons.

Your favorite cuisine out of all of your travels? Why?

My favorite cuisine is Indian, for all that spicy flavor. I have to say that African cuisine is very spicy too and I grew eating it as well as Portuguese food while I lived in Angola.

I love to see you travelling with Pitufo, looks sweet. Pitufo means SMURF in Spanish, right? When did you meet Pitufo? Did you buy it or someone gave you as a gift?

Yes, Pitufo is Smurf in Spanish. In 2012, my travel friend Victor rescued Pitufo from a fair and offered me that wonderful blue friend. We took him to Jordan that year and, from there, Pitufo became a travel companion in all my trips, even inside Portugal.

Do people also love Pitufo? Where did he stays during the trip?

First he was an undercover or clandestine traveler, always hidden. He only came out of the backpack for pictures. Now, even he travels inside a backpack, sometimes comes out and everybody sees him. He used to fly in the suitcase, down in the plane’s luggage hold, but from 2015 he travels near me in the plane…inside my backpack. Sometimes he comes out for pictures near the window! People loves Pitufo and always smile when they see him.

What will visiting every country in the world mean to you personally?

It means knowledge. I don’t travel to say that I’ve been there. I travel to know, to learn as much as possible about every people who lives in this planet, about their History, about the other animal and plant species with which these peoples share their land.

Can you tell me any particularly crazy or scary stories from your travels so far?

Fortunately, no scary stories. Well, just one, precisely with Pitufo! When we came from Dubai, the suitcase where he traveled in, stayed in Istanbul, where we stopped in our way home. I thought I had lost him, poor little one, alone in Turkey! But, that night, someone came from the Lisbon airport to deliver that suitcase at my home…what a joy!!!!! Pitufo was smiling and happy. He had caught the next plane to Lisbon, all by his own. He was proud of himself. So, from that day on, he always travels with me inside the plane passenger’s cabin. I have other stories, very interesting moments, that I can tell you another time.

I saw your mom on instagram. So beautiful. She likes travel too?

Thank you. She would like a lot, but now she’s afraid to fly! She traveled by plane before, when we came from Angola, but now she refuses to get in a plane. When she was young, she and her parents, used to travel by ship between Africa and Portugal. But we already traveled together here in Portugal. She loves Pitufo!

The last question, will you visit Indonesia?

For sure I will visit your wonderful country. So many things and places to visit, so many things to learn about!  Meet you there…or here in Portugal! Why not? Thank you to include me in your project!

 

note : all pictures taken from Carlos Figueiredo dan Pitufo the traveler instagram (@figueiredo64 and @pitufothetraveler)

.

 

ANDREAS TRIJAYA : “Selalu Ada Kisah Dari Setiap Perjalanan”

Bekerja sebagai presenter dan reporter salah satu stasiun televisi swasta  membuat sahabat saya satu ini sering bertugas ke berbagai tempat. Dia juga seorang backpacker yang sudah mengunjungi banyak negara di Asia.  Saya menyimak kisah perjalanannya yang menarik melalui akun instagramnya @andreastj. Banyak hal inspiratif yang saya dapat darinya dan menggerakkan saya untuk menyerap hal-hal baik. Sikapnya yang positip, tenang dan sabar dalam berbagai kondisi membuat orang di sekelilingnya tertular aura positip. Dia tak banyak berubah selama 9 tahun saya mengenalnya. Sharing kali ini saya ingin ngobrol dengan sahabat saya Andreas Trijaya tentang kisah perjalanannya.

Hai Andre! Cerita sedikit dong kegiatan kamu sehari-hari saat ini.

Hai! Saat ini saya Associate Producer di salah satu stasiun TV Swasta, kegiatan saya sehari-hari nggak jauh dari koordinasi dengan tim liputan, edit naskah dan mendampingi proses editing video. Ada kalanya juga turun ke lapangan untuk liputan, tapi udah agak jarang. Sebagai netizen, sehari-hari ya scrolling sosmed, posting instastory sampah dan liat2 flash sale di marketplace.

Sejak kapan sih suka traveling? Ada nggak hal yang bikin Andre suka traveling waktu kecil dulu?

 

Waktu kecil sebenernya jarang traveling karena saya bukan dari keluarga berkelebihan. Semua serba cukup-cukup aja, jadi nggak ada dana lebih untuk traveling. Kalau pun pergi keluar kota, biasanya mengunjungi saudara yang paling jauh pun cuma ke Malang. Waktu SMA dan masa kuliah saya nggak pernah traveling, jadi setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya baru coba-coba traveling.
Tahun 2013 saya mulai coba-coba traveling dengan dua teman dekat sejak SMA, ke Malang karena waktu itu ada tiket murah Jakarta-Surabaya PP hanya 400ribu. Perjalanan Surabaya-Malang kami tempuh menggunakan mobil “taksi” dari bandara Juanda. Kami satu mobil dengan sepasang suami istri. Dalam perjalanan, si bapak yang pernah bekerja di Vietnam bercerita pada kami soal negara itu. Kami pun bertekad suatu saat bakal ke Vietnam juga (yang akhirnya kesampaian tahun 2016 sewaktu trip 3 negara Vietnam – Kamboja – Thailand). Tahun 2015, kami mulai “latihan” traveling ke luar negeri ke Malaysia dan Singapura. Dari situlah, setiap tahun kami berusaha traveling bareng keluar negeri. Sekaligus jadi titik awal saya untuk menyelesaikan trip ASEAN sebelum usia 30 tahun (meski kenyataannya meleset juga).

Andre sudah mengunjungi banyak negara dan pelosok Indonesia. Semua itu karena pekerjaan kamu sebagai reporter atau murni sebagai backpacker?

Untuk trip ke 9 negara ASEAN selain Indonesia, saya solo backpacker dan bareng teman. Tapi  ada juga saya ke Malaysia, Singapura, Thailand dan Timor Leste karena pekerjaan. Untuk Indonesia, mostly karena pekerjaan dan  saya sudah mengunjungi 25 provinsi.

Gimana sih Ndre mengatur perjalanan biar jatuhnya murah tapi tetap nyaman?

Murah mahal itu sebetulnya relatif ya. Tapi paling tidak, selama bepergian saya mendapat harga tiket lebih murah daripada biasanya. Untuk mendapat tiket murah, biasanya saya menunggu musim promo, mayoritas sih dari AirAsia. Biasanya dari pembelian sampai keberangkatan, paling tidak ada rentang waktu 6 bulan sampai setahun. Rentang waktu itulah saya pakai untuk cicilan tiket, menabung untuk biaya traveling dan mencari alternatif akomodasi. Soal nyaman, tidak semua orang bisa bepergian tanpa bagasi pesawat. Untungnya, saya selalu bisa menakar barang bawaan sehingga cukup di kabin pesawat yang maksimal hanya 7-10kg. Biasanya, saya membawa baju atau barang yang kira-kira bisa dibuang saja, sehingga tidak menambah beban saat kepulangan (karena digantikan dengan sedikit oleh-oleh). Penginapan yang nyaman dan murah juga penting. Saya bukan tipe orang yang bisa menginap di dormitory, jadi sebisa mungkin saya mencari kamar yang murah dan terjangkau transportasi publik.

Dari semua negara yang sudah Andre kunjungi, negara mana yang paling Andre suka? Kenapa?

Entah kenapa saya suka Kuala Lumpur. Suasananya nggak beda jauh dengan Jakarta, tapi biaya makan cukup murah dan akses transportasi publik mudah dijangkau. Selain itu, banyak street food yang enak-enak.

Asyik mana sih solo trip sama pergi rame-rame? Kalau lagi solo trip gimana caranya Andre ngambil moment dari foto-foto itu sendirian di tengah keramaian?

Saya fleksibel kok, dua duanya asik. Mau pergi sendiri atau bersama teman bisa bikin saya nyaman. Hanya saja, kalau pergi bersama teman ada kalanya harus meredam ego. Semua harus disepakati bersama. Soal foto, sejak 2013 saya sudah mencoba jadi turis mandiri. Berbekal tripod, kamera ponsel dan remote bluetooth. Kalau lagi ramai ya cuek aja, kan nggak kenal ini. Paling diliatin aja.

Ada nggak yang Andre cari dari setiap perjalanan?

Nggak ada yang saya cari sih, cuma pingin liat tempat-tempat yang berbeda dari Indonesia aja. Tapi dalam setiap perjalanan, selalu ada kisah untuk diceritakan. Cara hidup dan keyakinan yang berbeda dengan Indonesia, membuat kita bisa lebih berempati dan menghargai perbedaan.

Setelah mengunjungi negara-negara Asean, Tiongkok, Jepang, Korea, Jordan dan Jerusalem destinasi selanjutnya kemana? Kenapa ingin ke negara tersebut?

Rencananya mau ke Taiwan, pengen lihat Ing Te-nya Meteor Garden. Hehehe.. Saya nggak pernah menargetkan tahun ini harus ke sini atau ke sana. Kalau ada tiket murah, ya itu saya beli. Setelah beli, baru cari tau apa yang istemewa dan unik dari negara tersebut. Kebetulan saya sudah ke China, Jepang dan Korea. Yah itung-itung nambah list negara di Asia Timur (walaupun Taiwan termasuk negara yang nggak diakui PBB).

Gimana cara Andre menanggapi orang-orang nyinyir kayak misalnya “traveling itu cuma buang-buang uang mending dibeliin rumah atau mobil, traveling itu kerjaan orang yang melarikan diri dari hal-hal menyedihkan.”

Sama seperti orang nggak paham dengan kegemaran traveling, saya juga nggak paham kenapa orang mencari kebahagiaan dengan berumah tangga. Hahaha.. Jadi ya udah diemin aja, karena standar kebahagiaan orang kan beda-beda. Tapi karena “terlihat” sering traveling, kadang teman-teman saya malah suka nanya gimana caranya dapat tiket murah.

Andre tuh selalu kelihatan positip, sabar dan tenang. Gimana sih bisa konsisten bersikap kayak gitu?

Saya nggak selalu positip juga sih. Ada kalanya berpikiran negatif buat jaga-jaga kemungkinan terburuk. Kalaupun ada kejadian yang nggak menyenangkan saya coba merespon dengan berpikir begini, “mungkin memang jalannya harus begini.” Saya berada di posisi sekarang juga efek dari mencoba berpikiran positip di masa lalu. Misalnya, saya dulu nggak keterima di PTN dan akhirnya kuliah di PTS. Awalnya sedih, tapi kalau saya nggak kuliah disitu, mungkin saya nggak akan bekerja di media yang bisa membawa saya keliling Indonesia. Soal sabar, saya menganggap nggak ada gunanya marah-marah. Kalau semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus buang-buang energi untuk adu mulut atau baku hantam?

Oke deh Ndre, buat mereka yang ingin traveling tapi masih berangan-angan, Andre punya saran nggak?

Kaya jargonnya Tokopedia, mulai aja dulu. Kalau untuk traveling keluar negeri, bisa coba dari yang dekat-dekat dulu. Teman-teman saya suka bertanya, soal kendala bahasa. Perbedaan bahasa ternyata juga jadi salah satu alasan orang takut traveling. Padahal jaman sudah canggih, ada google maps dan google translate. Kalaupun nggak cukup, ada bahasa universal yaitu bahasa tubuh. Nggak perlu malu, karena hakekatnya bahasa hanyalah sarana untuk berkomunikasi. Kalau bahasa tubuh jadi sarana komunikasi yang efektif, kenapa enggak?

 

Note :  All pictures are taken from Andreas Trijaya Instagram.

 

 

 

HORAS MENJUAH-JUAH!

Menjelajahi sebagian Sumatera Utara sebenarnya tidak ada dalam rencana saya. Tapi karena tujuan utama saya ke Aceh gagal, akhirnya saya memutuskan keliling Sumatera Utara. Tidak banyak yang saya lihat karena saya hanya punya waktu sehari dari pagi sampai malam, tetapi lumayanlah. Dengan mobil sewaan dan seorang sopir sepuh yang lihai menyetir saya berangkat pukul 9 pagi mengelilingi Sumatera Utara.

 

Tujuan pertama saya Danau Toba karena cukup jauh, sekitar 5 jam perjalanan dari tempat saya menginap di kota Medan. Tempat ini sudah pasti sangat touristik, tapi ini salah satu tempat yang ada dalam mimpi saya untuk dikunjungi. Saya mengenal Danau Toba dari buku bacaan dongeng yang dibelikan Ibu waktu saya kecil. Ada banyak kisah tentang Danau Toba di buku itu membuat saya bermimpi untuk mengunjunginya kelak. Meski tidak sengaja, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi itu.

Mobil melintasi hutan sepanjang perjalanan menuju Danau Toba dan mampir membeli Lemang, makanan khas Medan yang dijual di pinggir jalan. Lemang menyerupai lemper kalau di Jawa, enaknya dimakan saat hangat. Sepertiga perjalanan kemudian, mobil mampir di Vihara Avolakitesvara yang terletak di Jalan Pusuk Buhit, Pematang Siantar. Vihara yang menjadi salah satu destinasi wisata lintas agama ini terletak di ketinggian dengan pemandangan yang indah dan terdapat patung Dewi Kwan Im yang tingginya mencapai 22,8 meter.  Menurut Pak Sopir, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan pada weekend dan sore hari. Saya tiba di Vihara tepat jam 11 siang sehingga panasnya luar biasa. Saya hanya singgah 30 menit mengambil foto lalu melanjutkan perjalanan karena tidak kuat dengan panasnya.

Hampir jam 1 siang saat saya tiba di pinggiran Danau Toba dan disarankan makan siang di salah satu warung makan pinggir danau oleh Pak Sopir. Makanannya sebenarnya masakan padang tapi ada juga beberapa makanan khas seperti jus Martabe dan ikan pora-pora goreng. Jus martabe terbuat dari markisa dan terong Belanda yang ditambah dengan potongan lidah buaya. Sementara ikan pora-pora adalah ikan air tawar yang berasal dari Danau Toba.  Saya suka dua makanan ini, sangat suka malahan.

Setelah sholat dhuhur di warung ini, saya jalan ke sekiling Danau Toba, tapi di spot ini tampak kurang menarik. Tidak ada yang bisa saya lihat selain tulisan Selamat Datang di Danau Toba dan panas tengah hari yang menyengat. Mungkin dari Samosir, Danau Toba tampak indah tapi sayangnya saya tidak punya waktu ke Samosir.  Pak Sopir menyarankan saya melanjutkan perjalanan ke air terjun Sipiso-piso dan singgah sebentar di spot lain untuk melihat Danau Toba jika dari spot ini kurang memuaskan. Saya setuju kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Spot lain yang lebih menawan untuk melihat Danau Toba itu adalah di depan Rumah Pengasingan Bung Karno di Parapat. Tempat yang dulunya perkebunan milik Belanda ini lebih sejuk dan pemandangannya sangat indah.  Bung Karno pernah diasingkan ke sini selama dua bulan bersama Agus Salim dan Sjahrir.  Saya sebenarnya ingin masuk ke dalam rumah pengasingan Bung Karno ini, tetapi pintunya dikunci dan tidak ada penjaganya, mungkin sedang sholat karena masih waktu dhuhur. Akhirnya saya hanya duduk beberapa saat di depan rumah ini untuk menikmati Danau Toba dari kejauhan lalu melanjutkan perjalanan.

Pak Sopir sebenarnya ingin mengantar saya ke banyak lokasi menarik, tetapi waktunya tidak akan cukup. Akhirnya kami memutuskan ke air terjun SiPiso-Piso kemudian mampir Berastagi. Sepanjang perjalanan menuju SiPiso-Piso, saya minta berhenti beberapa kali karena menemui ladang bunga matahari dan deretan bunga-bunga yang indah. Pak Sopir sangat sabar membiarkan saya foto sepuas-puasnya di spot tersebut. Sampai tiba di air terjun SiPiso-Pisopun saya kesorean.

Air terjun SiPiso-Piso sebenarnya sangat keren. Air terjun itu menyembur dari celah bebatuan tinggi dan pengunjung bisa menikmatinya sepanjang perjalanan menuju dasar air terjun. Perlu waktu sekitar 1 jam berjalan kaki mencapai dasar air terjun, tetapi saya hanya sampai separuhnya karena kuatir keburu malam. Sepanjang berjalan menuju dasar air terjun melalui jalanan berundak rapi yang kiri kanan tampak pemandangan hutan hijau yang menakjubkan. Sayangnya tempat indah ini kurang didukung dengan fasilitas yang memadai. Toilet yang kurang bersih dan sampah yang bercecer dimana-mana. Belum lagi tempat parkir yang kurang rapi dan terkesan sembarangan. Tepat jam 5 sore saya melanjutkan perjalanan.

Berastagi masih jauh, tetapi Pak Sopir sepuh masih semangat mengantarkan saya. Beliau semangat bercerita perbedaan Horas dan Menjuah-Juah. Meskipun keduanya sama-sama sapaan salam, tetapi Horas lebih banyak digunakan oleh suku Batak sementara Menjuah-Juah lebih banyak digunakan suku Karo. Beliau juga menyarankan saya mampir ke pasar buah Berastagi meskipun sudah malam. Katanya sayang kalau sudah sampai sini tidak mampir pasar Buah Berastagi.

Saya hanya melihat Sumatera Utara dalam beberapa jam, tetapi kota ini menarik. Saya belum tahu banyak seperti apa di dalamnya selain hanya cerita-cerita dari Pak Sopir. Semoga lain kali memiliki kesempatan lebih baik untuk ekplore sehingga bisa mengenali lebih dalam. Horas! Menjuah-Juah!

 

NISHIKI MARKET KYOTO : Pasar Sejak 400 Tahun Lalu

Mengunjungi Kyoto, selalu membuat saya seperti kembali ke Jepang pada zaman Edo. Kebudayaan ratusan tahun lalu yang masih dilestarikan itu tercermin dari bangunan-bangunan eksotis di sepanjang Gion. Tak hanya bangunan-bangunan eksotis pada zaman Edo, tetapi di sini juga ada Nisiki Market. Pasar rakyat yang ada sejak 400 tahun lalu. Banyak wisatawan manca negara maupun warga lokal berkunjung ke pasar ini. Pasar ini tampak bersih, rapi, dinamis dan menyenangkan. Berkunjung ke Kyoto tanpa mampir ke Nisiki market tidak akan lengkap. Apalagi kalau anda penggemar kuliner Jepang. Nisiki Market menjual banyak sekali kuliner khas Kyoto yang sangat menarik.

Saya berkunjung ke Nishiki Market setelah mengelilingi Gion untuk melihat bangunan-bangunan zaman Edo yang masih berdiri kokoh. Sebenarnya ingin mencicipi teh di salah satu bangunan itu namun batal karena harganya mahal. Maka saya memilih untuk berburu kuliner di Nishiki Market. Memasuki pasar ini saya justru kebingungan mau membeli apa karena segala kuliner Jepang ada di sini. Mulai dari makanan khas Kyoto, buah-buahan, acar, teh sampai ikan asin.

Saya tergoda untuk membeli buah strowberry yang terlihat segar dan besar-besar. Saya jarang menemukannya di Indonesia. Lalu teman saya membeli teh hijau untuk oleh-oleh. Ada bermacam-macam teh bisa kita dapatkan di pasar ini dengan harga terjangkau. Jangan lupa mencoba sushi dan beberapa penganan lokal yang sangat menarik. Jika anda penggemar kuliner, jangan lewatkan mampir ke Nishiki Market!

Kenapa Saya Ingin Pergi ke Rusia?

Suatu sore sekitar tahun 1994 saat saya tenggelam membaca majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, yang populer pada masa itu di Jawa Timur, Bapak datang membawa sebuah buku dan menyodorkan ke saya. Buku asing itu saya pandangi dengan tidak tertarik. Buku apa sih ini? Mungkin buku pewayangan, begitu pikir saya karena Bapak saya seorang dalang dan hobbynya memaksa saya membaca kisah-kisah pewayangan.

“Ini buku kumpulan cerita pendek karya Anton Chekhov, sastrawan Rusia. Kamu harus membacanya kalau ingin jadi penulis,” kata Bapak. Lalu saya menjadi tertarik karena buku itu bukan buku pewayangan. Kata Bapak, Anton Chekhov seorang penulis besar Rusia yang terkenal karya cerpen-cerpen dan dramanya. Inilah awal ketertarikan saya dengan Rusia.

Tak hanya mengenalkan Rusia melalui karya Anton Chekchov, Bapak juga menceritakan hubungan kenegaraan antara Indonesia-Rusia pada masa Presiden Soekarno yang hangat tetapi berubah dingin sejak Presiden Soeharto memangku jabatan. Bapak saya seorang pemuja Soekarno tulen dan mengagumi Rusia. Saya melihat mata Bapak selalu berbinar saat bicara tentang Soekarno ataupun Rusia. Binar yang menulari saya menjadi ingin tahu apa dan bagaimana Rusia.

Tetapi mengenali negara dengan wilayah hampir 1/8 bumi dan terluas di dunia ini terasa sulit. Wajah Rusia melalui banyak media terlihat berbeda. Saat menonton film-film Hollywood wajah Rusia begitu mengerikan sementara saya tidak bisa menonton film-film asli buatan Rusia. Saat membaca karya-karya Chechov saya mengenali perilaku batin manusia Rusia yang unik. Sampai kemudian, Bapak membawakan saya buku lainnya yang berjudul ‘Mati Ketawa Ala Rusia’. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Gus Dur. Buku ini berisi lelucon ala Rusia mulai dari tema politis sampai rumah tangga. Lelucon-lelucon satire tentang kondisi Uni Soviet pada masa itu membuat saya terpingkal-pingkal. Ya Tuhan, Rusia sungguh lucu. Tetapi bagaimana mereka bisa kelihatan begitu misterius dan mengerikan?

Pandangan tentang Rusia yang saling bertolak belakang ini justru membuat saya sangat tertarik tentang Rusia. Bukankah hal-hal yang misterius menggugah adrenalin kita untuk mengetahui lebih banyak? Dan, begitulah saya. Saya tidak  bisa dihadapkan pada hal yang samar-samar dan hanya ‘kata media, kata orang’, saya ingin membuktikannya sendiri seperti apa Rusia itu suatu hari nanti. Itu tekad saya!

Lalu, bertahun-tahun kemudian saat tulisan saya berupa artikel perjalanan dan cerita pendek mulai dimuat media lokal maupun nasional, Uni Soviet-pun telah bubar dan Bapak juga sudah berpulang, saya masih terus mencari informasi tentang Rusia. Internet memuaskan keingintahuan saya tentang Rusia. Negara kaya budaya dengan bangunan-bangunan bersejarah yang luar biasa. Moskow, Saint Petersburg, Kazan, Sochi, Kaliningrad, Velikiy Nodgorod, Vladimir dan banyak lagi tempat menarik di sana yang layak dijelajahi dan dituliskan menjadi pengalaman saya melihat lebih luas. Pengalaman yang ingin saya persembahkan untuk Bapak saya yang telah tiada. Saya akan bilang padanya, “Bapak, saya mewujudkan mimpimu melihat Rusia yang sebenarnya. Dan Bapak benar, Rusia itu mengagumkan.”

Mudahnya Mengurus Sendiri VISA RUSIA

Rusia terkesan misterius sekaligus buruk karena sebagian kita melihatnya dari film-film Hollywood. Tapi bukankah hal-hal yang misterius itu justru menantang sebagian orang untuk melihat faktanya? Salah satunya saya. Saya sangat tertarik datang ke Rusia untuk membuktikan hal-hal misterius itu.  Maka, saya menyiapkan sendiri proses perjalanan saya ke Rusia, salah satunya mengurus visa Rusia saya sendiri.

Sesulit apa sih mengurus visa Rusia kita sendiri? Jawabannya ; Tidak sulit! Jika anda mau membaca petunjuk proses step by step yang tersebar di internet dan mengikutinya. Dengan mengurus sendiri, anda akan menghemat biaya yang diambil agen sekaligus dapat bonus belajar hal baru mengurus visa Rusia. Karena saya suka belajar hal baru dan tidak punya uang untuk berbagi dengan agen, maka saya lebih suka melakukan semuanya sendiri.

Dokumen apa saja yang harus disiapkan untuk mengurus visa Rusia?

  1. Passpor yang masih berlaku sekurangnya 6 bulan sebelum keberangkatan dan harus ada halaman kosong, jangan sampai halaman passpor anda sudah dicap semua sehingga tidak menyisakan halaman kosong.
  2. Invitation Letter yang harus disertakan saat mengajukan dokumen. Invitation Letter ini akan saya jelaskan nanti.
  3. Pas foto berwarna 3.5×4,5 satu lembar, dengan background putih. Foto ini nanti untuk ditempelkan di formulir dan saya tidak diminta foto yang lain lagi.
  4. Tiket Pesawat return Jakarta-Rusia yang sudah dibayar lunas.
  5. Formulir aplikasi visa Rusia yang sudah diisi secara online, kemudian diprint dan dilengkapi dengan foto kita. Petunjuk pengisian formulir dan link-nya bisa anda search sendiri di internet. Sangat mudah tinggal mengikuti saja.
  6. Menyiapkan uang USD untuk membayar visa. USD 80 untuk single entry dengan waktu regular sekitar 14 hari dan USD 160 untuk single entry kilat 5 hari. Biaya untuk double entry atau multiple entry bisa anda cek di website kedutaan Rusia. Sebaiknya anda membawa uang dollar karena kedutaan hanya menerima pembayaran menggunakan USD.

Ada nggak dokumen lain yang perlu disiapkan sebagai pendukung? Saya selalu menyiapkan semua dokumen pendukung meskipun tidak selalu diambil oleh kedutaan karena saya malas bolak-balik ke rumah saya yang di planet lain sementara lokasi kedutaan jauh, jika dokumen itu diperlukan.

  1. Print out semua penginapan yang telah saya pesan dengan bukti PAID.
  2. Print out tiket sambungan antar kota (kereta malam, bus, pesawat dalam Rusia) yang telah saya pesan dengan bukti PAID.
  3. Fotocopy hartu identitas/KTP.
  4. Itinerary perjalanan selama di Rusia, tidak harus detail tetapi itinerary ini bersesuian dengan penginapan, tiket antar kota dan invitation letter.
  5. Asuransi perjalanan, meskipun ini dikembalikan oleh pihak kedutaan. Saya selalu membuat asuransi perjalanan untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi maka saya tidak terlalu merepotkan keluarga saya. Dan salah satu asuransi perjalanan mengcover satu orang biaya keluarga yang berkunjung karena kita sakit di negara tersebut, hingga pemulangan jenazah sampai negara asal.

Apakah persyaratan visa Rusia tidak menggunakan bank reference dan jumlah uang tertentu di rekening seperti visa Scengen, United Kingdom atau beberapa negara lainnya? Tidak! Visa Rusia tidak memerlukan syarat rekening tabungan. Tetapi yang diwajibkan adalah invitation letter dari biro resmi perjalanan di Rusia dan menggunakan bahasa Rusia. Terus gimana cara mendapatkan invitation letter ini? Mereka yang tinggal di hotel sebagian bisa minta invitation letter ke hotel tersebut. Tetapi pihak kedutaan memiliki agen resmi yang mereka percaya yaitu www.brovenik.com. Kita tinggal klik brovenik.com dan disana sudah ada petunjuk dalam bahasa Inggris bagaimana mendapatkan invitation letter itu. Kita akan mengisi formulir kecil, lalu membayar $39.5. Dalam 24 jam invitation letter itu akan dikirimkan ke email kita dalam bentuk PDF dan siap di print untuk digunakan sebagai dokumen syarat pengajuan visa. Semudah itu! Iya, asal kita mau membaca dan mengikuti petunjuknya saja kok!

Formulir isian Visa online

 

Setelah dokumen lengkap, kita datang ke kedutaan Rusia yang ada di seberang Plaza Festival kawasan Kuningan. Tapi jangan harap datang begitu saja akan dapat nomor antrian. Pelayanan di sini masih manual. Kita akan menulis nama kita di dinding pagar kedutaan pada jam 5 pagi agar mendapat nomor antrian sebelum 10 orang (karena mereka hanya melayani 10 nomor, soal ini jangan tanyakan ke saya, saya juga nggak ngerti kenapa di zaman seperti ini, pelayanan antrian masih manual). Lalu kita datang lagi jam 8.30, saat pagar kedutaan hampir buka. Jangan lupa setelah anda menulis nama anda di dinding pagar itu anda potret, jadi misalnya petugas mengatakan nama anda tidak ada, anda masih memiliki buktinya dalam foto itu.

Kedutaan Besar Rusia di Jakarta

Proses memasukkan dokumen tidak begitu rumit, jika semua dokumen lengkap, anda akan mendapatkan kwitansi pembayaran untuk pengambilan visa anda diwaktu yang telah ditentukan. Jika dokumen anda belum lengkap maka akan dikembalikan dan anda diminta untuk memenuhi kekurangan itu. Jadi keutungan pengurusan visa Rusia, kita tidak akan kehilangan uang yang kita bayarkan karena jika dokumen sudah lengkap dan membayar bisa dipastikan kita akan mendapatkan visa.

Kwitansi bukti penerimaan dokumen dan pembayaran untuk pengambilan visa

Dua minggu kemudian, saya mengambil visa saya. Tanpa menggunakan nomoe antrian dan mereka memberikan passport beserta visa di dalamnya sekitar jam 12 siang. Sebaiknya anda datang jam 11-12 untuk pengambilan visa. Karena pagi hari mereka masih mengurus dokumen-dokumen yang masih seabrek meskipun nomor yang mereka berikan hanya 10 biji. Hidup di era online membuat hal-hal manual terasa menyesakkan, tetapi demi bisa melihat Rusia, saya tidak keberatan! Akhirnya saya dapatkan visa saya, dan pengalaman itu saya share ke teman-teman semua. Jangan ragu mengurus visa sendiri!

 

 

 

Hoi An Roastery ; Secangkir Kopi Di Tepi Sungai Thu Bon

Di tepi sungai Thu Bon yang mengalir tenang, kota kuno Hoi An yang sudah berusia 300 tahun lebih tampak eksotis.  Pada malam hari lampion-lampion akan menyala menerangi seluruh penjuru kota kuno dengan bentuk-bentuk yang antik sekaligus cantik.  Bangunan-bangunan kuno ini digunakan sebagai kafe, toko souvenir, restoran, hotel dan bermacam-macam aktivitas. Malam kedua saya berada di kota ini, saya ingin menikmati secangkir kopi sambil memandangi gemerlapnya lampion yang semarak di sepanjang pinggir sungai Thu Bon. Setelah menyusuri sepanjang sisi sungai dan menolak tawaran pengemudi perahu serta penjual lilin kecil yang dilarung di sungai, saya memilih belok ke satu kafe unik yang terletak di pinggir jalan tepi sungai.  Kata seorang teman, saya harus mencoba kopi telur saat berkunjung ke Hoi An. Maka saya memilih Hoi An Roastery. Setelah memilih tempat duduk tepat di pinggir jalan sehingga bisa melihat lalu lalang orang dan gemerlap lampion persis seperti rencana sebelumnya, seorang waitress memberikan daftar menu.

Hoi An Roastery selain menyajikan menu kopi, coklat, jus dan pastry, juga menyajikan menu sarapan. Saya dan teman saya kemudian memesan kopi telur dan kopi drip. Cha Pe Trung atau kopi telur memiliki tampilan mirip dengan cappuccino. Hanya saja foam milk atau bisa susunya diberi campuran kuning telur hingga tampak kekuningan. Bahan-bahan untuk membuat racikan kopi ini terdiri dari kopi bubuk Vietnam, jenis Robusta, air panas, susu kental manis dan kuning telur ayam.  Rasanya menurut saya hampir kayak adonan roti. Jujur saja, saya lebih suka kopi latte daripada kopi telur. Tapi daripada penasaran jadi saya memang harus mencobanya.

Kopi vietnam drip adalah kopi yang diseduh dengan dripper vietnam dan disajikan bersama susu/krimer. Penyajian minuman ini lahir karena menyesuaikan karakter biji robusta dari hasil perkebunan di Vietnam. Metode ini akan menghasilkan minuman dengan cara ekstraksi lewat tetesan. Dripper berbentuk seperti gelas metal dan terdiri dari tabung, plunger, dan tutup metal. Penggunaannya sangat mudah, setelah bubuk kopi dimasukkan, masukkan plunger lalu tekan, taruh dripper di atas gelas, lalu tuang air panas. Saya kemudian menunggu tetesan demi tetesan kopi ini memenuhi cangkir sampai siap diminum. Teman saya mengingatkan jangan sampai saya menyentuh gelas metal itu karena pasti akan terbakar.  Saya lebih menyukai ini ketimbang kopi telur.

Tepat jam 9 malam jalanan di depan sungai mulai sepi. Lampu-lampu kafe mulai mati. Saya yang berniat begadang sampai pagi di kafe dihampiri waitress yang mengatakan bahwa sebentar lagi kafe tutup.  Kopi drip segera saya habiskan dan beranjak meninggalkan kafe.  Tetapi sebelum pergi saya melihat beberapa kemasan kopi bubuk di pojok kafe. Saya ingin membelinya tetapi waitress bilang sudah closing dan meminta saya kembali esok harinya.  Hoi An Roastery, tempat asyik untuk ngopi sambil menikmati semaraknya malam di pinggir sungai Thu Bon.

doc. pribadi & google