MENJENGUK MASA LALU.

Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart” ~ Haruki Murakami

Lebaran ini saya pulang ke kampung masa kecil saya setelah 4 lebaran sebelumnya saya lewatkan di tempat lain. Terletak di pesisir Laut Selatan, sebenarnya  kampung masa kecil saya ini  sudah menjadi kota. Jalanan mulus, gang-gang yang sudah dicor rapi, rumah-rumah yang berdiri bagus dengan sanitasi yang memadai dan terdapat ruang publik untuk hiburan masyarakat . Jika saat saya kecil dulu jalanan depan rumah hanya dilewati kerbau yang mau ke sawah, sekarang menjadi jalur utama yang sangat ramai.  Motor yang pengendaranya tanpa helm ngebut bak balapan di sirkuit, mobil yang lalu lalang memasuki gang, pemuda-pemuda tanggung berambut stylis dengan cat merah, pirang, ungu di puncaknya, gadis-gadis ber-make-up lengkap dengan gaya fashioanable dan tak ketinggalan makanan-makanan kota seperti burger, sosis, fried chicken dijual di sini. Tidak bisa dihindari, kampung masa kecil saya telah lenyap dan berubah menjadi kota.

 

Bagi saya, pulang ke tempat ini adalah menjenguk masa lalu. Masa lalu yang menjadikan saya seperti sekarang. Seandainya rumah tidak bisa rusak, kami sekeluarga lebih suka membiarkan bangunan lama tetap berdiri tanpa polesan sesuatu yang baru, agar kami bisa sama-sama mengais kenangan ; makan bersama di wajan bekas memasak ikan kecap, tidur di tikar pandan, menggoreng satu telur dibagi banyak orang, membaca buku berulang-ulang karena buku waktu saya kecil sangat langka, meminta Bu Guru membuka perpustakaan agar saya dapat membaca buku lain, berebut wafer di kaleng Kong Guan dan melihat orang berjalan di hutan yang jauh dari kamar kami.

Tidak hanya kenangan-kenangan bersifat fisik yang saya kais dari masa lalu saya di tempat ini, tapi juga pemikiran-pemikiran saya di masa kecil.  Saya dibesarkan oleh ibu yang suka membaca dan menginginkan anak-anaknya lebih maju. Meski pendidikan ibu hanya tamat SMP, tetapi dari bacaannya yang banyak, beliau bisa memandang lebih luas ketimbang orang-orang di sekelilingnya. Dan begitulah saya dibesarkan. Di tengah banyak luka perjalanan hidup keluarga saya, saya dididik menjadi perempuan mandiri dan tidak hanya bercita-cita untuk menikah. Memasuki usia SMP saya haus bacaan dan informasi sementara akses bacaan dan informasi sangat sulit. Kami tidak memiliki televisi dan antena radio jarang bisa sampai. Maka saya mengirim surat-surat ke berbagai penjuru Indonesia melalui kolom sahabat pena yang ada di majalah remaja yang dipinjamkan ibu untuk saya. Dari surat-surat itulah saya bertukar pikiran dengan banyak teman di banyak tempat di Indonesia dan bercita-cita suatu ketika saya akan pergi lebih jauh untuk bertemu mereka. Ketika teman-teman seusia saya mulai puber dan sibuk pacaran, saya haus informasi dan jatuh cinta pada buku.

 

Masa remaja saya menjadi sedikit beda dengan teman-teman saya. Jika teman-teman memandang saya sebagai pendiam, sebenarnya pikiran saya bergolak. Saya sedikit pemberontak, antimainstrem dan benci feodalisme.  Ketika orang di sekitar saya bangga bergaul dengan pejabat serta nepotisme, saya membenci sikap-sikap itu. Bergaul bisa dengan siapa saja asal itu menyenangkan dan bermanfaat, tidak perduli siapapun dia. Saya juga berpikir bahwa cita-cita tidak harus menjadi PNS (kamu bisa menjadi apa saja, asalkan bisa memaksimalkan potensi dirimu), perempuan tidak hanya bertugas menikah dan beranak pinak, perempuan harus bisa dipandang karena kepandaiannya bukan hanya karena fisiknya yang menawan dan perempuan tidak harus berkulit putih agar tidak dicaci maki.  Saya tidak mampu mengungkapkan pikiran-pikiran saya yang bergolak itu melalui ucapan kecuali melalui sedikit tulisan saya dan menerapkan dalam kehidupan saya sendiri.

Melihat kehidupan teman-teman saya, saya seringkali merasa kehidupan saya berhenti. “Saya hanya begini-begini saja, sementara orang lain sudah berjalan jauh.” Tetapi kenyataannya hidup ini terus berjalan dan berubah.  Setiap mengais kenangan di tempat ini, saya melihat saya banyak berubah ; cara pandang saya, cara saya menghadapi masalah dan memperlakukan orang lain. Tetapi perubahan itu tidak menjauh dari pemikiran-pemikiran saya di masa kecil dan remaja. Jika dulu saya tersiksa dengan lingkungan yang memvonis saya, sekarang saya bisa memahami bahwa cara pandang saya memang berbeda dengan mereka sehingga mereka mungkin sulit menerima cara pandang saya. Maka saya sekarang bisa tersenyum menghadapi cara pandang mereka terhadap saya.

 

Ada perasaan senang sekaligus sedih melihat tempat masa kecil saya ini menjadi kota.  Saya kehilangan hal-hal eksotis yang dulu saya miliki di tempat ini, tetapi itu tidak bisa ditolak lagi. Semua tempat cepat atau lambat telah menjadi kota. Serbuan budaya kota mengalir deras melalui internet tanpa batas. Semua trend yang ada di kota dengan mudah diadopsi semua orang di manapun lokasinya asal terjangkau signal. Semoga yang terserap hal-hal yang baik dan bermanfaat yang akan merangsang pemikiran-pemikiran untuk lebih maju, bukan malah mundur.

Namun, jika semua tempat telah menjadi kota, semoga saya masih bisa menyimpan barang-barang masa lalu di tempat ini untuk mengais kenangan. Agar saya tidak lupa dari mana pemikiran-pemikiran berbeda saya pada masa kini berasal.  Saya akan menjenguknya selama umur masih ada.

 

 

BRUNEI DARUSSALAM : NO SMOKING, NO TIPPING! (PART 2)

“Peace cannot be kept by force ; it can only be achieved by understanding, ~ Albert Einstein.

Hari kedua di Brunei Darussalam, saya merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat turistik seperti Regalia Museum dan Masjid Omar Ali Saefuddin.  Karena menunggu bus lewatnya sangat lama, maka saya memesan taksi online (DART) yang beroperasi seperti GRAB atau GOCAR kalau di Indonesia. Selain angkutan umum sangat jarang, kebanyakan warga menggunakan mobil untuk transportasi. Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil kancil dengan pengemudi muda menjemput saya.  Begitu mobil melaju di jalanan menuju Regalia Museum, pengemudi muda ini banyak mengajak saya ngobrol, mulai dari menunjukkan tempat yang menarik dikunjungi di Brunei, sampai obrolan tentang Jakarta.  Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai Regalia Museum dan pengemudi muda itu menolak kembalian ongkos taksi online yang sengaja saya tinggalkan untuknya. Ia mengembalikan tepat sesuai angka sen terkecil.  Sikap ini mendadak membuat saya nyaman berada di negera kecil ini.  Tidak hanya no tipping, negeri ini juga no smoking. Sejak tahun 2012  merokok tidak diperbolehkan di negera ini. Jika tertangkap polisi harus membayar denda yang cukup besar.  Brunei merupakan satu negara bebas rokok terluas di dunia.  Tidak ada smoking room dimanapun bahkan dikamar mandi dipasang signboard “no smoking”.  Di areal luar-pun dilarang merokok dengan alasan, semua orang berhak atas udara yang bersih, jadi jangan sampai tercemar oleh asap rokok orang lain.

Regalia Museum

 

Regalia Museum berada tepat di tengah kota Brunei Darussalam dan berisi koleksi tribute to Sultan. Berisi koleksi foto-foto Sultan dari masa kecil hingga dewasa, kunjungan-kunjungan berbagai negara ke Brunei Darussalam dan cinderamata dari berbagai negara. Pengunjung hanya boleh memotret di luar ruangan koleksi, sementara di bagian dalam hanya diperbolehkan melihat-lihat. Saya menemukan banyak cinderamata dari Indonesia terpajang di koleksi bagian dalam berjejeran dengan cinderamata dari berbagai negara lain.

Areal dalam Regalia Museum

 

Udara di luar sangat panas menjelang waktu dhuhur saat saya berjalan ke arah  belakang museum sekitar 100 meter tempat masjid Omar Ali Saefuddin berdiri.  Dengan gaya arsitektur Mughal Islam dan Italia, masjid ini selesai dibangun pada tahun 1958.  Nama Omar Ali Saefuddin diambil dari nama Sultan Brunei ke-28. Di sekitar masjid ini terdapat laguna atau kolam buatan di tepi sungai di Kampong Ayer serta replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke -16. Kubah masjid Omar Ali Saefuddin dilapisi emas murni dengan tinggi bangunan 52 meter sehingga dapat dipandang dari berbagai tempat di Brunei Darussalam.

Bagian dalam Masjid Omar Ali Saefuddin

 

Saya menghabiskan waktu hingga waktu taraweh di masjid Omar Ali Saefuddin ini. Selain mengambil foto juga ngobrol dengan pekerja migran dari Indonesia, Bangladesh dan India. Bahkan saya berbuka puasa di pelataran masjid dengan mereka dengan makanan yang disalurkan penduduk lokal ke masjid. “Saya dulu bekerja rumah tangga, tapi sekarang sudah punya usaha sendiri, jualan jamu,” kata pekerja dari Indonesia yang sudah di Brunei selama 18 tahun, bahkan satu anaknya sudah sekolah di sana. “Setahun saya pulang ke Jawa dua kali, “tambahnya. Banyak saudara kita bekerja di Brunei, bahkan saya selalu menemukan orang-orang Jawa di semua restoran tempat saya makan, rata-rata mereka sudah bekerja minimal 4 tahun dan akan kembali lagi.  Taraweh di Brunei 23 rakaat, tetapi beberapa jamaah yang memilih 8 rakaat menunggu di luar untuk kemudian bergabung lagi saat witir.  Di luar masjid saat taraweh juga tersedia banyak makanan gratis yang bisa diambil para jamaah atau siapa saja yang sedang berada di masjid.  Malam itu karena sudah lelah, saya memutuskan segera kembali ke hotel dan melanjutkan explore esok harinya.

Istana Nurul Iman, tempat kediaman Sultan

 

Hari berikutnya saya masih menggunakan DART untuk ekplore Brunei, dan kali ini dijemput dengan mobil Fortuner. Pengemudinya pendiam, sehingga saya tidak banyak ngobrol. Tujuan saya banyak sebenarnya, namun ternyata hampir semua lokasi tidak sama dengan bayangan saya. Kebanyakan lokasi yang saya kunjungi sepi sehingga saya seperti orang aneh jalan-jalan tidak jelas menyusuri lokasi wisata itu.  Pertama mengunjungi Istana Nurul Iman yang sepi dan hanya bisa melihat di depan pagarnya. Kedua saya mengunjungi pasar Kiangeh yang juga hanya ada beberapa penjual sayur. Lalu saya melanjutkan perjalanan ke Kampong Ayer. Ini agak lebih menarik ketimbang dua tempat sebelumnya.

Kampong Ayer

 

Kampong Ayer (kampung air) merupakan kawasan pemukiman yang secara historis merupakan pemukiman penting di Brunei. Pemukiman yang dibangun di atas sungai Brunei memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari sekolah, kantor polisi, kolam renang, hingga museum.  Satu bagian tampak dengan bangunan lebih tua sementara bagian lain sudah menggunakan beton dan sangat bagus. Saya hanya sempat menyusuri beberapa bagian karena ingin berkeliling menggunakan perahu.  Selama beberapa abad Kampong Ayer menjadi pusat ekonomi dan sosial yang penting di Brunei hingga awal imperialisme Inggris di Brunei.  Dari Kampong Ayer ini, saya memutuskan menyewa perahu untuk menyusuri sungai hingga ke pasar Gadong.  Jadi perjalanan saya tidak hanya menjelajah daratan namun juga melalui sungai.

Kampung Ayer

 

Sore menjelang buka puasa, saya mengunjungi pasar Gadong untuk berbuka puasa di sini bersama warga lokal yang antri belanja di pasar Gadong dan sebagian buka puasa di sini. Tulisan tentang Pasar Gadong, nanti akan saya tuliskan tersendiri.  Seminggu di Brunei Darussalam meninggalkan kenangan yang menarik buat saya. Negeri yang sepi namun tenang ini ramah dan nyaman untuk dikunjungi.  Saya memang tak mendapatkan tempat wisata sesuai impian saya, tetapi keramahan penduduknya dan ketenangan negara ini mempesona.

 

 

BRUNEI DARUSSALAM : RAMADHAN DI NEGERI SULTAN (PART 1)

“Ramadhan does not come to change our schedules. It comes to change our hearts.”

Masjid Omar Ali Saefuddien

Saya percaya perjalanan itu berkaitan dengan takdir. Begitu juga perjalanan saya ke Brunei Darussalam ramadhan ini. Selama 9 tahun menjalani hobby backpacker, Brunei tidak sedikitpun terlintas dalam kepala saya untuk dikunjungi karena saya selalu mencari tempat-tempat yang etnik dan eksotis. Tapi nyatanya saya malah mendapat tiket gratis return ke Brunei Darussalam. Dan berangkatlah saya ke negara terkaya kelima di dunia dari 182 negara yang memiliki ladang minyak bumi dan gas alam  versi Forbes ini.

 

Dengan penerbangan pagi dari Kualalumpur, di gate ruang tunggu keberangkatan saya bertemu seorang bapak-bapak dari Malang yang bekerja di salah satu bengkel di Brunei Darussalam selama tiga tahun terakhir setelah sebelumnya bekerja di Malaysia. Banyak orang Indonesia bekerja di sini, entah itu di rumah tangga atapun mereka memiliki usaha sendiri. Di restaurant samping hotel tempat saya menginap, waitresnya juga gadis dari Madiun, Jawa Timur.  Maka tidak mengherankan kalau saya sering mendengar percakapan bahasa Jawa di beberapa tempat.

Penerbangan dari Kualalumpur ke Brunei Darussalam memerlukan waktu 2 jam. Brunei International Airport tampak kecil, rapi dan efisien. Perjalanan kali ini saya memesan shuttle hotel karena menurut informasi angkutan umum di sini agak susah dan harus menunggu lama. Maklum kebanyakan penduduk Brunei menggunakan mobil pribadi sehingga ( sepertinya) angkutan umum tidak begitu diperlukan.  Tetapi kita bisa menggunakan aplikas taksi online DART yang biayanya lebih murah dari taksi umum. Sopir yang menjemput saya di airport sangat ramah dan berbahasa Melayu yang mudah saya pahami. Baru ngobrol dengan sopir ini saja, saya sudah mendapat feeling saya akan suka perjalanan ini. Dan benar, saya menyukai perjalanan saya.

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Tetapi jika anda suka bertemu orang-orang baru dari berbagai belahan dunia dan mempelajari karakter-karakter mereka maka anda akan suka berkunjung ke sini.  Kebanyakan orang Brunei ramah, hangat dan suka menolong. Setidaknya itu yang saya rasakan sejak saya datang. Mereka selalu tersenyum, memberi informasi detail tentang negaranya, dan sikapnya hangat. Saya yang memang suka tersenyum saat bertemu orang asing sekalipun jadi merasa nyaman di negara ini karena mereka juga tersenyum balik pada saya.

Terdiri dari 4 distrik yakni Belait, Brunei dan Muara, Temburong dan Tutong, negara kecil ini sangat sepi.  Penduduk asli mengatakan bahwa negara mereka ramai pada hari raya lebaran atau hari jadi Sultan. Saya memilih tinggal di Gadong, kawasan yang menurut informasi paling ramai karena banyak ruko, mall dan restaurant di banding tinggal di kawasan Bandar Seri Begawan yang jam 7 malam sudah sepi. Meskipun begitu untuk orang yang biasa tinggal di kebisingan Jakarta, Gadong inipun masih sepi.  Tetapi kondisi sepi ini tidak menakutkan, justru bagi saya terasa nyaman dan tenang.

Ada beberapa tempat wisata yang bisa anda kunjungi di Brunei Darussalam seperti Kampong Ayer, Masjid Omar Ali, Istana Nurul Iman, Jerudong Park, The Royal Regalia Museums dan Masjid Sultan Hassanal Bolkiah.  Saya baru mengunjungi Regalia Museums dan Masjid Omar Ali Saifuddin pada tulisan part 1 ini karena lebih suka banyak diam di masjid selain udara yang panas dan menghemat energi karena sedang puasa.

Regalia Museums terletak di pusat kota Bandar Seri Begawan dan buka setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore kecuali pada hari Jum’at yang hanya buka pukul 9 pagi hingga pukul 11.30 siang.  Museum yang berisi tentang sejarah Brunei dan tribute untuk Sultan ini sangat menarik untuk dikunjungi dan gratis. Semua tempat wisata di Brunei tidak menggunakan tiket berbayar untuk memasukinya.

Tidak jauh dari Regalia Museums, hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saya menemukan Masjid Omar Ali Saifuddien. Masjid ini dinamai berdasarkan Omar Ali Saifuddien III, Sultan Brunei ke-28. Masjid ini diselesaikan pada tahun 1958 dengan arsitektur Islam modern yang memadukan arsitektur Mughal dengan gaya Italia. Masjid ini dibangun diatas laguna di tepi sungai Brunei di Kampong Ayer dengan menara kubah emas dan dilengkapi dengan taman indah yang mengelilingi masjid. Ada jembatan yang membentang diatas laguna menuju replika perahu kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke 16.

Saya merencanakan diam di masjid ini mulai ashar hingga waktu berbuka puasa. Ternyata menjelang berbuka puasa banyak pekerja migran dari India, Bangladesh dan Indonesia berkumpul di sini untuk berbuka puasa bersama. Saya kemudian bergabung dengan mereka berbuka puasa di sini. Banyak yang menyiapkan makanan dan minuman untuk orang-orang yang berbuka di masjid. Dan sayapun kebagian makanan itu. Di tengah para perantau yang mengais rezeki di tanah asing, saya merasakan buka puasa saya begitu berharga.

(to be continued)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hoi An, Vietnam : Lawas Dan Romantis

“Some folks call her a runaway. A failure in the race. But she knows where her ticket takes her. She will find her place in the sun”

― Tracy Chapman

Setelah Google map membuat saya nyasar-nyasar mencari tempat makan halal dan tidak menemukannya, saya tiba di jalanan besar dengan lalu lalang orang yang kebanyakan turis berambut pirang. Dengan penerangan lampion yang artistik di berbagai tempat, suasana malam menjadi hangat dan romantis.

“Nanti saya ingin bulan madu di sini,” Saya terpesona pada malam yang romantis dan bangunan-bangunan tua yang eksotis. “Kamu sudah memilih tempat bulan madumu, jadi yang mana calon suamimu?” Saya balas tertawa.

Hoi An merupakan kota kecil di Vietnam Tengah yang pada abad ke 15 hingga abad ke 19 merupakan pelabuhan dagang utama di Asia Tenggara dan menjadi pusat kerajaan Champa. Namun seiring runtuhnya dinasti Nguyen dan redupnya kejayaan Hoi An pelabuhan dagang itu pindah ke Da Nang, kota pelabuhan terdekat.  Hampir selama ratusan tahun, Hoi An tak tersentuh modernisasi sehingga sampai hari ini bisa kita nikmati eksotisme keaslian bangunan-bangunan tuanya yang berarsitek perpaduan Jepang dan Tiongkok.

Bahkan sejak 1999, Hoi An ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia UNESCO sebagai pelabuhan dagang Asia Tenggara yang terawat dengan baik. Bangunan-bangunan tua ini pada masa kini digunakan sebagai hotel, kafe, ruko dan tempat tinggal yang masih terjaga keasliannya.

Untuk mencapai Hoi An diperlukan waktu satu jam perjalanan udara atau sekitar semalam perjalanan darat dari Hanoi, kota yang saya kunjungi sebelumnya di Vietnam Utara.Karena waktu saya sempit, saya menggunakan pesawat dari Hanoi sore hari dan tiba di Da Nang international airport malam hari.  Tidak ada bandara di Hoi An, jadi bandara terdekatnya adalah di kota Da Nang. Dari Da Nang dibutuhkan waktu 40 menit untuk sampai di Hoi An menggunakan taksi, shuttle bus atau bus. Karena saya tiba di Da Nang sudah malam, maka yang tersedia hanya taksi. Beberapa taksi yang direkomendasikan oleh para traveler adalah Mai Linh, Son Han, Tien Sa Da Nang, dan Vinasun taksi. Saya kemudian memilih Vinasun taksi. 

Karena sebelumnya saya kena scam taksi di Hanoi saat terjebak macet pengalihan jalan akibat Trump-Kim Hanoi Summit, jadi saya langsung curiga saat taksi membelah jalanan kota Da Nang dan argo taksi bergerak cepat menuju angka million. Saya langsung nyolek sopir taksi dan menanyakan jumlah argonya. Ternyata saya salah lihat koma di argo. Argo yang benar menunjukan ratusan, bukan million. Sopir taksi malah menertawakan kecurigaan saya dan ketika sampai di depan hotel malah mengembalikan uang tips yang saya berikan untuk menunjukkan kejujurannya. Saya jadi malu.

Tak hanya Hoi An The Ancient Town yang menarik buat saya, tapi ada satu tempat yang ingin saya kunjungi yaitu MYSON SANCTUARY komplek candi Hindu sebagai peninggalan kejayaan kerajaan Champa. Dari kota Hoi An dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai di komplek MYSON menggunakan bus bersama banyak traveler yang lain. Terletak di perbukitan, candi-candi ini sebagian telah hancur karena perang Vietnam. MYSON juga salah satu warisan peninggalan dunia UNESCO yang banyak dikunjungi wisatawan.

Saya sendiri mengunjungi candi ini karena dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa salah satu putri Champa yang bernama Anawarati atau Dwarawati menikah dengan raja Majapahit Brawijaya V (Kertabhumi) dan sekarang makamnya ada di Trowulan Mojokerto. Jadi saya merasa tempat ini ada hubungannya dengan negara saya.

Bahkan dalam salah satu ruangan candi tampak patung Garuda yang sekarang menjadi lambang negara kita. Saya tidak paham benar soal candi-candi Hindu, tetapi yang menarik lagi kemudian adalah orang-orang Champa ini setelah bersinggungan dengan pedagang Arab kemudian beragama Islam. Mereka tersebar di Saigon, Vietnam selatan, Kamboja dan Thailand. Lokasi ini kemudian menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik buat turis Asia maupun Barat. Dengan fasilitas yang nyaman, mobil terbuka hingga pintu masuk areal Myson dan kafe yang menyediakan makanan, pengunjung bisa menikmati kunjungannya dengan gembira.

Tetapi saya sarankan kalau berkunjung ke tempat ini lebih baik pagi hari karena jika siang hari panasnya luar biasa.
Sebagai kota pelabuhan, Hoi An sudah jelas lebih panas dibanding Hanoi. Keindahan kota ini akan tampak pada sore saat sunset hingga malam hari lampion-lampion menyala. Sungai yang membelah tengah kota tua semarak dengan perahu-perahu sewaan yang membawa pasangan-pasangan romantis diterangi temaram lampion. Saat teman saya mengajak naik, saya malah memilih duduk di sisi sungai melihat beberapa wanita tua yang menjual lampion kecil dalam wadah kertas untuk dilarung ke atas sungai.

Orang-orang berjuang untuk hidup tentu saja, ketika pasangan-pasangan romantis naik perahu, nenek-nenek tua ini berjuang menjual lampion-lampion kecil untuk melanjutkan hidupnya.  Saya ingin menghabiskan malam ini sampai pagi di tepi sungai, tetapi saya salah duga. Tepat jam 9, setelah saya mencicipi kopi Vietnam di salah satu kafe, lampion-lampion mulai mati. Kafe-kafe juga mulai closing dan mengusir pembelinya.

Turis-turis mulai pulang ke hotel masing-masing. Begitu saya, akhirnya memutuskan kembali ke hotel. Lebih lucu lagi ternyata hotel sudah mematikan semua lampu dan penjaga tidur di depan pintu masuk. Tepat jam 10 malam, kota romantis ini telah mati.

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di beberapa negeri seperti Edinburgh Old Town di Inggris, Phuket Old Town di Thailand, Kyoto Old Town di Jepang, Takayama Old Town di Jepang,  Jeonju Hanok village di Korea, Geneva Old Town di Geneva Swiss dan saya jatuh cinta pada Hoi An The Ancient Town dibanding yang lainnya. Saya akan kembali lagi untuk bulan madu. Semoga.

Hanoi, Vietnam : Kota Ramah Di Tepi Sungai Merah

“Every new friend, is a new adventure, the start of more memories… – Patrick Lindsay.
Pagi baru dimulai saat pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Noi Bai international airport Hanoi, Vietnam utara.  Waktu tempuh dari Kualalumpur ke Hanoi sekitar 2 jam penerbangan. Belum meletihkan untuk satu perjalanan udara bahkan saya bisa menikmatinya.  Ini kedua kalinya saya menjejakkan kaki di Vietnam setelah sebelumnya pada tahun 2011, saya mengunjungi Saigon, Ho chi Minh, Vietnam selatan.
 
Noi Bai International airport tidak terlalu megah. Begitu selesai urusan imigrasi, hanya perlu berjalan sebentar sudah berhadapan dengan pintu keluar utama.  Setelah mematuhi nasehat pejalan lain untuk menukarkan uang USD yang saya bawa dari Indonesia di Songviet Corp Currency Exchange karena nilai tukarnya lebih bagus dari money changer yang lain dan tidak memotong biaya apapun, saya segera keluar pintu utama.  Bus bernomor 86 akan membawa saya ke pusat kota Hanoi. Bus stop 86 terletak di sisi kiri setelah keluar pintu utama airport. Hanya dengan tiket seharga 35.000 VND atau sekitar Rp. 22.000,  bus berwarna kuning yang mirip TransJakarta dan nyaman ini akan membawa saya ke pusat kota. Rata-rata backpacker dari berbagai negara menggunakan bus ini karena dipastikan lebih murah dibanding taksi atau angkutan online. Di Hanoi juga beroperasi Grab car dan Grab Bike, meskipun saya tidak sempat mencoba angkutan online itu karena lebih banyak berjalan kaki atau naik bus. 
Saya meminta kondektur agar memberi tahu saat bus tiba di Old Quarter tempat saya menginap, yang ternyata masih harus berjalan sekitar 1 kilometer dari halte tempat saya turun menuju hotel. Tetapi keramahan resepsionis hotel membuat keletihan saya mencari lokasi hotel hingga nyasar-nyasar langsung hilang. Saya suka cara mereka memperlakukan tamu. Sopan, ramah, hangat dan ringan tangan untuk membantu.  
Hanoi merupakan ibukota Vietnam yang dahulu berfungsi sebagai ibukota Vietnam Utara. Terletak di tepi kanan Sungai Merah, Hanoi memiliki iklim yang lembab ; saat musim panas sangatlah panas dan lembab namun pada musim dingin, relatif dingin dan kering.  Bulan Februari ini Hanoi masih dingin dan berkabut. Hujan juga masih turun jadi jaket dan jas hujan sangat diperlukan.  Vietnam yang bernama resmi Republik Sosialis Vietnam ini merupakan negara paling timur di Semenanjung Indochina, Asia Tenggara. Berbatasan dengan Tiongkok di sebelah utara, Laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan Laut China Selatan membentang di sebelah timur.

 

Sebagai backpacker muslim, tantangan saya di setiap perjalanan adalah mencari makanan halal.  Makanan halal di Hanoi tidaklah sulit, meski juga tidak gampang ditemukan. Di areal Masjid Al Noor, Hang Luoc street ada kantin kecil yang menyediakan makanan halal dengan menu-menu yang sangat enak. Sore setelah istirahat sejenak, saya memasuki kantin kecil itu dan bertemu banyak muslim dari berbagai negara. Seperti layaknya saudara yang lama tidak berjumpa, kami langsung akrab dan berbagi kursi. Beberapa orang lelaki bahkan makan di emperan masjid karena kursi kantin sudah penuh. Saya setuju dengan saudara dari Malaysia bahwa makanan di sini sangat enak. Bahkan hanya dengan menu tumis kangkung saja rasanya luar biasa. Mungkin juga karena saya sangat kelaparan.   
  
Tak hanya di Masjid Al Noor, saya juga mencoba restaurant halal India PK Spice Restaurant di Hang Manh street yang terletak di kawasan Old Quarter. Jadi untuk teman-teman muslim yang akan berkunjung ke Hanoi tidak perlu khawatir mencari makanan halal, memang tidak banyak tetapi mudah ditemukan jika anda menginap di kawasan Old Quarter.
Hanoi Old Quarter merupakan tempat yang terdiri dari 36 ruas jalan dan telah berusia lebih dari 1000 tahun. Berbagai gerai toko berada di ruas jalan ini seperti cinderamata, obat-obatan herbal, baju, sutera pelangi, bunga dan banyak lagi. Ruas-ruas jalan ini dinamai berdasarkan produk yang dijual. Old Quarter menurut saya sangat menarik, apalagi di kawasan ini juga terdapat beberapa tempat wisata seperti Ba Ma Temple, Danau Hoan Kiem, Ngoc Son temple, Viatnemese Women’s Museum, Dong Xuan Market dan beberapa tujuan wisata menarik lainnya.  Saya lebih suka berjalan kaki menyusuri 36 ruas jalan di Old Quarter meskipun bisa menggunakan Cyclo, atau becak khas Vietnam. Setelahnya bisa berjalan menuju tepi danau Hoan Kiem untuk  duduk menikmati senja. 

 

“Where are you from?” tanya seorang lelaki pejalan saat saya duduk di salah satu meja kapal Halong Bay esok harinya.  “Indonesia,” jawabku sambil duduk di hadapannya. Seorang perempuan berambut pirang, satu lagi berwajah melayu berambut keriting dan satu lagi mengenakan jilbab duduk di samping lelaki itu. “Oh, i see. Nasi goreng right? I like nasi goreng,” lanjut lelaki itu.  Dan pembicaraan kami mengalir lancar disertai gurauan. Meraka dari Australia, Philipina, Malaysia dan Brazilia. Keempatnya solo traveler yang dipertemukan dalam bus menuju Halong Bay dan sudah pernah berkeliling Indonesia sampai ke lekuk-lekuknya sementara saya yang asli Indonesia malah belum. Oke, pertemuan yang menarik di meja kapal Halong Bay, semenarik tempat yang sudah sangat lama ingin saya kunjungi ini.

 

Teluk Halong merupakan teluk di sebelah utara Vietnam yang berbatasan dengan Tiongkok dan berjarak sekitar 170 km dari Hanoi. Saya memesan paket tour dari Klook karena tidak bisa pergi naik motor sendirian dan juga tidak tahu caranya jika harus pergi sendirian. Klook menurut saya sangat recomended karena profesional pelayanan dan guidenya yang tanggap juga ramah. Saya dijemput di hotel dan bertemu peserta lain di salah satu jalan kawasan Old Quarter dan pulangnya diantar ke jalan dekat hotel lagi. Bus yang saya naiki juga bagus dan nyaman, termasuk makanan dan kapal di Halong Bay. Bahkan request halal food saat memesan tiket secara online juga disediakan ketika makan bersama di kapal.  Secara khusus sang guide menyajikan sepiring makanan halal khusus. 

 

Teluk Halong sejak tahun 1994 ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco, bahkan pada tahun 2012, teluk ini menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia versi New 7 Wonders Foundation. Teluk ini terdiri dari 1900 lebih pulau-pulau kapur yang menjulang dramatis. Beberapa pulau memiliki goa yang besar dan cantik seperti goa Hang Dau Go yang merupakan goa terbesar di kawasan Halong. Mengunjungi teluk ini, saya seperti diseret ke tempat asing yang mistis dan luar biasa indah. Kabut yang menyelimuti pulau-pulau kapur yang menjulang itu menambah kecantikan teluk ini. Sayangnya saya belum sempat mengekplor lebih dalam kehidupan penghuni teluk ini karena waktu yang sempit. Jadi saya hanya bisa menikmati keindahannya sebagai turis tanpa mengetahui kehidupan penghuninya.  Saya ingin kembali dan bertemu penghuninya suatu saat nanti.
Hanoi yang cantik, penduduknya yang ramah dan teman perjalanan saya yang menyenangkan, membuat perjalanan singkat saya sangat berkesan. Saat resepsionis meminta maaf jika ada kekurangan selama saya tinggal di sana, lalu bersama tiga petugas hotel lainnya mengantarkan saya ke mobil yang akan mengantar saya ke bandara, mendadak saya gelisah. Saya seperti hendak berpisah dengan saudara-saudara saya sendiri. Saya enggan pergi, tetapi pejalan harus terus berjalan meski hati saya tertambat di Hanoi.