Tag Archives: vietnam

10 KOTA TUA CANTIK INI LAYAK ANDA KUNJUNGI

Saya menyukai hal-hal berbau klasik dan eksotis. Begitu juga saat traveling. Tempat yang tidak akan saya lewatkan adalah mengunjungi kota tua (OLD TOWN) di setiap negara yang saya lewati. Karena bangunan-bangunan lawas eksotis itu akan bicara banyak hal sekaligus mengajarkan nilai-nilai tertentu pada saya. Jika bangunan-bangunan lawas itu masih berdiri megah hingga saat ini, ada dua hal yang saya kagumi. Pendirinya ratusan tahun yang lalu sekaligus mereka yang berusaha menjaga kelestariannya hingga saat ini. Tidak mudah melestarikan sebuah peninggalan bersejarah berupa bangunan, kenyataannya di negara saya sendiri kebanyakan sudah tinggal puing-puing. Maka, berikut 10 kota tua cantik di dunia yang pernah saya kunjungi dan saya sarankan untuk anda kunjungi jika kebetulan anda lewat di negara tersebut.

1. KOTA TUA EDINBURGH (EDINBURGH OLD TOWN)

Saya tiba di Edinburgh pagi hari setelah naik bus semalaman dari London. Begitu keluar terminal bus, udara dingin 9 derajat sudah menunggu. Tetapi tidak hanya itu yang menunggu saya, begitu kaki menapak trotoar, bangunan-bangunan masa lalu yang yang sangat indah dan sudah berumur seabad lebih menjulang di mana-mana. Seperti time traveler ke masa lalu atau jika anda penggemar serial Harry Potter maka anda akan merasa hidup satu tempat dengan penyihir berwajah imut itu. Hanya saja orang-orang yang melintas di jalanan menggunakan jaket tebal, sepatu boots, bukan pakaian seabad lalu yang penuh renda-renda.  Sayapun melanjutkan berjalan kaki menyusuri Princess street menuju hostel yang sudah saya pesan. Ternyata hostel yang saya pesan tepat berada di tengah kota tua Edinburgh, bahkan keluar sedikit dari pintunya sudah sampai Royal Mile.

Apa itu Royal Mile? Royal Mile adalah sebuah kawasan yang menjadi  jantung kota tua Edinburgh. Di jalanan ini banyak bangunan bersejarah yang bisa kunjungi para turis seperti Kastil Edinburgh (Edinburgh castle), Holyrood Palace, museum nasional Skotlandia, St. Gilles Katedral. Museum penulis, pasar tradisional, gedung parlemen Skotlandia dan Universitas Edinburgh. Oh ya, jika anda penggemar Harry Potter, di kota tua inilah penulisnya JK. Rowling menuliskan bab-bab awal Harry Potter di salah satu kafe bernama The Elephant House yang kemudian menjadi sangat terkenal untuk dikunjungi turis dari seluruh dunia. Saya sengaja menikmati kopi di kafe ini di meja dekat tempat JK. Rowling menulis yang menghadap ke jendela terbuka dengan pemandangan Kastil Edinburgh.  Tak hanya kafe yang menjadi jejak Harry Potter, tapi juga Victoria Street yang menjadi inspirasi JK.Rowling untuk menciptakan Diagon Alley. Di sini juga ada toko souvenir antik seperti The Boys Wizard yang menjual barang-barang sihirnya Harry Potter. Selain bangunan-bangunan bersejarah itu. Edinburgh juga menjadi rumah bagi para penemu besar di dunia seperti David Hume, Adam Smith dan Robert Burns yang direpresentasikan dengan patung-patung mereka di setiap sisi jalan.

Jalanan Royal Mile juga menyediakan atraksi-atraksi menarik seperti festival dan pertunjukan pada waktu-waktu tertentu. Jika anda ingin menyusuri kota tua lebih mendalam, banyak tersedia paket tour berbayar ataupun gratis.  Ada banyak tour gratis berjalan kaki mengelilingi kota tua bersama banyak turis dengan titik kumpul di satu tempat yang dipandu guide orang lokal. Biasanya peserta akan memberi tips sukarela kepada guide lokal tersebut. Bahkan pada malam hari ada paket tour mengunjungi tempat-tempat berhantu. Dan jangan kuatir, jika anda lelah atau lapar banyak restoran di sisi jalanan Royal Mile dan kafe-kafe cantik. Bahkan restoran bertulisan halal di pintunya juga ada jika anda muslim.  Toko-toko yang menjual pakaian khas Skotlandia dan penjual makanan khas Skotlandia juga tersedia di sepanjang jalan ini. Dan pada senja harinya, anda bisa menikmati matahari terbenam dari Calton Hill. Dari ketinggian yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari pusat kota ini, anda bisa melihat keseluruhan kota Edinburgh yang seperti di negeri dongeng tersapu sinar matahari keemasan. Saya yakin anda tak mau melewatkan kota tua yang sangat cantik ini jika berkunjung ke Britania Raya.

2. KOTA TUA GENEVA (GENEVA OLD TOWN)

Orang-orang pergi ke Switzerland atau Swiss biasanya untuk menikmati panorama alam yang luar biasa cantiknya seperti ke Luzern, Lauterbrunnen, Grindelwald, Interlaken dan banyak yang lainnya, tetapi saya malah datang ke Geneva.  Selain danau yang cantik dengan bebek-bebek berenang di dalamnya, kota ini memanjakan pejalan kaki dengan trotoar yang luas dan nyaman. Jika anda tinggal di hostel ataupun hotel akan mendapat kartu transportasi gratis selama di Geneva karena memang transportasi umum di Geneva gratis. Jadi anda bisa keliling kota sepuasnya naik tram dan bus tanpa membayar. Selain gedung PBB Geneva yang ingin saya kunjungi disini, tentu saja kota tua Geneva.

Mengunjungi kota tua Geneva pada senja hari bukanlah waktu yang tepat. Tapi saya membayangkan keliling kota tua pada waktu senja bakal mengasyikkan. Kenyataanny memasuki waktu senja kota sudah mulai sepi nyaris seperti mati. Tetapi kota tua Geneva sangat menarik untuk dijelajahi meskipun hanya kecil saja. Perancis menyebut kota tua Geneva sebagai Vieille Ville yang merupakan kawasan kecil berbentuk bujur sangkar yang didalamnya terdapat bangunan-bangunan lawas yang digunakan sebagai kafe-kafe cantik dan artistik, restoran (Cafe De Ville), galleri, museum sejarah Geneva (Maison Tavel), tempat bersejarah yang menjadi hotel terkenal yaitu Hotel de Ville dan Katedral St. Peter (St.Peter’s Cathedral).  Di tempat ini kita juga diajak kembali ke Geneva ratusan tahun lalu. Jika waktunya tepat kita bisa menikmati festival l’Escalaude yang hanya ada dua tahun sekali. Tapi saat saya ke sana sedang tidak ada festival.

Di sekitar kota tua Geneva terdapat mall, tempat makan dan pendestrian yang banyak dikunjungi turis. Tetapi karena saya ke sana sore maka semua tempat sudah tutup. Bahkan kota sudah sangat sepi. Meskipun tidak banyak yang bisa saya ekplore tetapi kota tua Geneva menjadi salah satu kota tua yang sangat menarik untuk dikunjungi.

3. KOTA TUA KYOTO (KYOTO OLD TOWN)

Selain tempat kelahiran Doraemon, Jepang menyimpan kekayaan zaman kekaisaran Edo yang masih dilestarikan di banyak Prefektur di Jepang. Salah satu tempat yang masih menyimpan eksotisme masa lalu itu adalah Kyoto. Saya tiba di Kyoto setelah semalaman naik bus dari Tokyo. Berbeda jauh dengan Tokyo yang hingar bingar dengan hal-hal modern, Kyoto sangat tenang dan penuh keindahan masa lalu.

Saya menjelajahi Kyoto dari Kiyomizudera temple yang sudah berumur lebih dari seribu tahun. Dibangun dari kayu yang tidak lapuk dengan jalanan yang menanjak dengan taman-taman di pinggirannya yang sangat cantik. Lalu mengunjungi Sogano Bamboo Forest yang didalamnya terdapat kuil Tenryu, kuil Zen terbesar di Jepang dan Fushimi Inaro Taisha, lorong panjang dengan deretan torri (dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal berwarna oranye).  Dan sorenya saya mengunjungi Gion district. Disinilah sebenarnya old town itu karena deretan rumah-rumah kuno peninggalan kekaisaran Edo banyak terdapat disini berjajar dan masih digunakan sebagai tempat tinggal, tempat minum teh, penginapan bahkan rumah tinggal. Keaslian rumah-rumah kuno itu masih terjaga hingga saat ini. Di district ini kita juga bisa bertemu Geisha yang bekerja di rumah-rumah minum teh untuk memainkan kesenian tradisional Jepang. Meskipun hanya district kecil saja, tetapi tempat ini sangat menarik dikunjungi pecinta kota tua.

4. KOTA TUA TAKAYAMA (TAKAYAMA OLD TOWN)

Takayama berada di Prefektur Gifu, yang dikelilingi oleh pegunungan. Bisa disebut sebagai pedesaan Jepang meskipun kenyataanya Takayama tidak seperti desa yang saya bayangkan.  Lebih mirip kota kecil yang penghuninya kebanyakan manula dan ketika bulan Mei saya berkunjung udaranya sangat panas. Memang alam pedesaan dalam mimpi saya hanya ada di Shirakawa Go yang terletak diantara pegunungan, banyak tanaman dan bunga-bunga liar yang indah juga sungai-sungai yang jernih. Dan tujuan saya ke Takayama memang awalnya ke Shirakawa Go. Tapi ternyata di Takayama ada Old Town yang terletak di jalan Sannomachi yang kawasannya lebih luas dari Gion Kyoto.

Selama periode Edo, Takayama dipertahankan sebagai kota budaya dan dagang. Di sepanjang jalan Sannomachi ini kita bisa melihat budaya periode Edo yang masih dipertahankan. Tampak bangunan-bangunan lawas dari kayu yang digunakan sebagai kafe, restoran, toko souvenir, tempat penginapan khas Jepang yang dinamakan Ryokan juga sebagai tempat tinggal. Ada rumah pembuatan sake yang bisa dikunjungi dan dicicipi juga sake-nya dengan gratis. Jika anda penggemar nuansa eksotis kekaisaran Edo, anda tak akan melewatkan jalan Sannomachi di Takayama.

 5. KOTA TUA PHUKET (PHUKET OLD TOWN)

Sebagian besar turis yang berkunjung ke Phuket ingin menikmati pantai, tetapi saya malah menginap di dekat kota tua Phuket. Kota tua Phuket lumayan luas untuk dijelajahi. Dan sebaiknya menjelajah dengan berjalan kaki. Karena sepanjang menyusuri trotoar kota tua, kita akan menemukan banyak bangunan antik dan eksotis yang sayang untuk dilewatkan jika kita naik mobil. Bisa juga menggunakan tuk-tuk tetapi jalanan hanya satu arah, jadi kemungkinan akan memutar dan kembali ke jalanan semula.

Bangunan-bangunan lawas bergaya Portugis menjadi saksi pengaruh Eropa di kota Phuket sekitar abad 16 hingga 18. Kota ini memang mengundang kedatangan kaum kolonial dengan kekayaan timah yang dimilikinya sebagai komoditi yang sangat mahal. Sementara para pekerjanya datang dari Cina sehingga bangunan sehingga ada nuansa Cina yang warna-warni di bangunan-bangunan lawas itu.

Saat ini bangunan-bangunan lawas itu digunakan sebagai kafe, restoran, penginapan bahkan tempat tinggal. Arsitekturnya masih dipertahankan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi turis untuk mengunjunginya. Jika anda muslim dan mencari makanan halal, jangan kuatir. Ada beberapa restoran Malaysia yang menyediakan makanan halal di jalanan kota tua ini. Phuket Old Town jangan sampai anda lewatkan kalau anda berkunjung ke Phuket.

6. KOTA TUA CHIANG MAI (CHIANG MAI OLD TOWN)

Satu kota tua lagi di Thailand yang pernah saya kunjungi adalah Chiang Mai Old Town. Chiang Mai dengan sebutan “Mawar dari Utara” merupakan satu kota cantik yang berada di Thailand bagian utara. Berada di dataran tinggi, Chiang Mai memiliki suhu lebih dingin di banding Phuket atau Bangkok. Dan memasuki Chiang Mai seperti memasuki kota seribu candi karena ada ratusan candi di dalamnya yang sangat menarik untuk di jelajahi.

Kota tua Chiang Mai sendiri merupakan kawasan bujur sangkar yang di dalamnya terdapat rumah-rumah peninggalan masa lalu dan candi-candi yang dibangun ratusan tahun lalu. Kawasan bujur sangkar ini merupakan peninggalan kerajaan Lanna kuno yang menjadi cikal bakalnya bangsa Thailand.  Di kelilingi oleh parit dan tembok yang sebagian telah menjadi puing di beberapa sisi dan tidak diperbolehkan ada bangunan baru di dalam kawasan bujur sangkar ini. Jadi di dalam kawasan kota tua ini hanya ada rumah-rumah masa lalu yang masih dijaga kelestariannya dan candi-candi.

Pada akhir pekan, di dalam kota kuno ini ada pasar malam yang sangat ramai. Posisi pasar malam ini juga berada di sepanjang jalur kota tua. Berbagai souvenir dan makanan khas Chiang Mai ada di sini. Bahkan ada pertunjukan seni yang bisa dinikmati.

7. KOTA TUA HOI AN (HOI AN OLD TOWN)

Kota tua Hoi An berada di Vietnam sekitar satu jam dari kota Da Nang. Jika anda naik pesawat, dari bandara Da Nang perlu sekitar satu jam untuk sampai kota tua Hoi’an. Ini salah satu kota tua favoritku bahkan saya pengen bulan madu ke sini suatu saat nanti. Saya tiba di Hoi An sekitar jam 7 malam, naik taksi dari bandara Da Nang. Tetapi harus hati-hati kalau memilih taksi, gunakan taksi yang benar-benar direkomendasikan sehingga tidak tertipu dengan argo kuda.

Kota tua Hoi An sangat romantis pada malam hari karena seluruh lampu yang menyala di kota ini berbentuk lampion-lampion yang sangat cantik.  Di tengah kota tua kecil ini ada sungai yang mengalir tenang dan perahu-perahu dengan hiasan lampion cantik hilir mudik membawa pasangan-pasangan melintasi sungai sambil menikmati malam. Tidak hanya lampu-lampu itu, tetapi bangunan-bangunan lawas dan jalanan sempit di Hoi An berusia ribuan tahun dengan arsitektur perpaduan gaya lokal dengan pengaruh Jepang dan Tiongkok sangat menarik untuk dijelajahi.  Hoi An merupakan salah satu World Heritage Site kategori pelabuhan dagang Asia Tenggara abad ke 15 hingga 19 yang masih terawat dengan baik hingga saat ini.

Bangunan-bangunan lawas ini digunakan sebagai rumah tinggal, hotel, restoran, kafe-kafe cantik, toko-toko baju dan souvenir serta tempat pertunjukan seni. Hanya saja jika anda berkunjung siang hari situasinya tidak semenarik malam hari dan sangat panas karena kota pelabuhan. Sementara pada malam hari, semua tempat ini akan tutup tepat jam 9 malam. Saya sebenarnya ingin menghabiskan malam nongkrong di kafe sambil menikmati lampu-lampu lampion yang cantik, tetapi tepat jam 9 malam kafe-kafe ini sudah tutup, listrik dimatikan dan kondisi jadi sangat sepi seperti kota mati. Tapi meski begitu, Hoi An tetap salah satu kota favorit saya.

 8. KOTA TUA SHANGHAI (SHANGHAI OLD TOWN)

Shanghai Cina sebenarnya kota metropolis yang sangat gemerlap. Tapi di sini kita bisa menemukan Old Street yang menyuguhkan nuansa masa lalu Cina. Begitu memasuki jalanan ini, kita akan melihat kuil dan Vihara yang membawa kita ke masa lalu Cina. Di kawasan ini kita juga bisa menemukan taman terkenal di Shanghai yang bernama Yuyuan Garden, sebuah taman yang dibangun poada masa Dinasti Ming sekitar tahun 1559. Dengan kolam yang cantik dan bangunan lawas yang eksotis, taman ini menjadi incaran para turis saat mengunjungi Shanghai. Tidak hanya Yuyuan Garden, di tempat ini banyak bangunan tua yang digunakan sebagai tempat berjualan souvenir dan makanan khas Cina. Bahkan di sekitar tempat ini juga ada masjid dan kuil. Sebaiknya jika ingin mampir ke tempat ini jangan  musim liburan karena akan sangat penuh turis dan anda tidak akan bisa menikmatinya. Saya sendiri berkunjung ke sana saat turun hujan, jadi meski kurang nyaman ada hal menarik lainnya yaitu melihat air hujan menimpa kolam cantik di taman Yuyuan membuat saya time travel ke abad-abad saat taman itu dibuat. Tempat ini sangat menarik dan rekomended untuk dikunjungi saat anda berada di Shanghai.

 9. KOTA TUA XI’AN (XI’AN OLD TOWN)

Tujuan utama saya ke Xi’an adalah museum Terracotta.  Tetapi ternyata Xi’an adalah kota kuno yang sangat menarik. Begitu bus yang saya tumpangi memasuki gerbang kota Xi’an saya merasa memasuki abad lampau. Semua bangunan di kota ini kebanyakan masih bernuansa masa lalu, jadi saya merasa benar-benar hidup di masa itu. Xi’an Moslem Quarter adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi selain naik ke benteng-benteng yang mengelilingi seluruh kota Xi’an.  Jika ingin naik ke benteng-benteng yang mengelilingi kota Xi’an baiknya pada pagi hari. Di sana juga disediakan sepeda sehingga anda bisa berkeliling benteng dan melihat keseluruhan kota Xi’an dari ketinggian sambil mengendarai sepeda.

Pada masa dinasti Han ribuan tahun lalu, Xi’an merupakan jalur sutra perdagangan. Banyak pedagang dari Arab dan Persia datang bahkan menetap di Xi’an hingga terbentuklah muslim street. Orang-orang muslim ini dipanggil muslim Hui oleh orang-orang lokal dan mereka berada di Xi’an hingga saat ini.

Moslem Quarter sangat ramai mulai sore hari. Segala jenis makanan khas Xi’an ada di sini, juga souvenir-souvenir. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini masih kuno dan digunakan sebagai tempat berjualan seperti restoran, kafe dan toko baju. Beberapa tempat makanan khas Xi’an menyediakan atraksi menarik bagaimana makanan itu diolah oleh para chef mereka. Menyusuri sepanjang moslem quarter kita juga bisa berbelok ke gang-gang sempit dimana para penduduk lokal tinggal. Lalu jika kita menyusuri gang itu akan menemukan masjid agung Xi’an. Masjid dengan arsitektur nyaris seperti kuil ini sudah berusia ratusan tahun dan sanggup menampung banyak jamaah.  Mengunjungi Xi’an seperti kembali ke masa-masa para pedagang Arab berdatangan lalu menetap di kota ini sehingga saya masih bisa menikmati keramaian moslem quarter.

10. KOTA TUA PENANG (PENANG OLD TOWN)

Jujur saja saya kurang menyukai Kualalumpur, tetapi saya jatuh cinta pada Penang khususnya George Town. Sebenarnya kota ini terkenal sebagai kota berobat bagi orang Indonesia karena banyak rumah sakit bagus di sini. Tetapi jangan salah, Penang juga merupakan satu kota tua yang sangat menarik untuk dikunjungi. Memang sih, tidak seperti kota lain yang banyak dikunjungi muda-mudi bule, saya lebih banyak menemukan manula berjalan-jalan disini. Mungkin karena kotanya sepi dan tenang.

Menyusuri George Town, kita akan menemukan bangunan-bangunan peninggalan serdadu Inggris yang mendarat di pulau itu dan membentuk benteng sekaligus kota pertama mereka. Berdiri sejak tahun 1800-an kawasan kota tua ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Core Zone yang berada dekat bibir pantai dan Buffer Zone yang merupakan perluasan kota.

Berjalan mengelilingi George Town kita tidak akan bosan karena di setiap sudut selalu ada mural-mural yang bisa kita gunakan untuk berfoto selain bangunan-bangunan klasik yang masih terawat dengan baik. Tetapi jika kecapekan, kita bisa naik becak yang banyak mangkal di sepanjang sisi jalan.  Bangunan-bangunan tua itu juga digunakan sebagai restoran, kafe, hotel, tempat tinggal bahkan kantor-kantor penting. Jika anda sudah lelah menyusuri George Town anda bisa naik bus dari terminal ke tempat wisata lain seperti Penang Hill atau Kek lok Sie Temple. Kota tua di berbagai belahan dunia menunggu anda untuk dikunjungi, jangan sampai anda lewatkan.

Hoi An Roastery ; Secangkir Kopi Di Tepi Sungai Thu Bon

Di tepi sungai Thu Bon yang mengalir tenang, kota kuno Hoi An yang sudah berusia 300 tahun lebih tampak eksotis.  Pada malam hari lampion-lampion akan menyala menerangi seluruh penjuru kota kuno dengan bentuk-bentuk yang antik sekaligus cantik.  Bangunan-bangunan kuno ini digunakan sebagai kafe, toko souvenir, restoran, hotel dan bermacam-macam aktivitas. Malam kedua saya berada di kota ini, saya ingin menikmati secangkir kopi sambil memandangi gemerlapnya lampion yang semarak di sepanjang pinggir sungai Thu Bon. Setelah menyusuri sepanjang sisi sungai dan menolak tawaran pengemudi perahu serta penjual lilin kecil yang dilarung di sungai, saya memilih belok ke satu kafe unik yang terletak di pinggir jalan tepi sungai.  Kata seorang teman, saya harus mencoba kopi telur saat berkunjung ke Hoi An. Maka saya memilih Hoi An Roastery. Setelah memilih tempat duduk tepat di pinggir jalan sehingga bisa melihat lalu lalang orang dan gemerlap lampion persis seperti rencana sebelumnya, seorang waitress memberikan daftar menu.

Hoi An Roastery selain menyajikan menu kopi, coklat, jus dan pastry, juga menyajikan menu sarapan. Saya dan teman saya kemudian memesan kopi telur dan kopi drip. Cha Pe Trung atau kopi telur memiliki tampilan mirip dengan cappuccino. Hanya saja foam milk atau bisa susunya diberi campuran kuning telur hingga tampak kekuningan. Bahan-bahan untuk membuat racikan kopi ini terdiri dari kopi bubuk Vietnam, jenis Robusta, air panas, susu kental manis dan kuning telur ayam.  Rasanya menurut saya hampir kayak adonan roti. Jujur saja, saya lebih suka kopi latte daripada kopi telur. Tapi daripada penasaran jadi saya memang harus mencobanya.

Kopi vietnam drip adalah kopi yang diseduh dengan dripper vietnam dan disajikan bersama susu/krimer. Penyajian minuman ini lahir karena menyesuaikan karakter biji robusta dari hasil perkebunan di Vietnam. Metode ini akan menghasilkan minuman dengan cara ekstraksi lewat tetesan. Dripper berbentuk seperti gelas metal dan terdiri dari tabung, plunger, dan tutup metal. Penggunaannya sangat mudah, setelah bubuk kopi dimasukkan, masukkan plunger lalu tekan, taruh dripper di atas gelas, lalu tuang air panas. Saya kemudian menunggu tetesan demi tetesan kopi ini memenuhi cangkir sampai siap diminum. Teman saya mengingatkan jangan sampai saya menyentuh gelas metal itu karena pasti akan terbakar.  Saya lebih menyukai ini ketimbang kopi telur.

Tepat jam 9 malam jalanan di depan sungai mulai sepi. Lampu-lampu kafe mulai mati. Saya yang berniat begadang sampai pagi di kafe dihampiri waitress yang mengatakan bahwa sebentar lagi kafe tutup.  Kopi drip segera saya habiskan dan beranjak meninggalkan kafe.  Tetapi sebelum pergi saya melihat beberapa kemasan kopi bubuk di pojok kafe. Saya ingin membelinya tetapi waitress bilang sudah closing dan meminta saya kembali esok harinya.  Hoi An Roastery, tempat asyik untuk ngopi sambil menikmati semaraknya malam di pinggir sungai Thu Bon.

doc. pribadi & google

VINH HUNG HOI AN, VIETNAM ; LIBRARY HOTEL UNTUK PECINTA BUKU

Anda suka membaca buku disela perjalanan sambil leyeh-leyeh di hotel yang nyaman? Jika perjalanan anda sampai kota tua Hoi An, Vietnam, saya merekomendasikan Vinh Hung Library hotel. Hotel yang terletak tepat di kota tua Hoi An ini selain memiliki desain yang klasik dan cantik juga berkonsep library.

Sebagi backpacker sebenarnya saya lebih suka menginap di hostel karena jelas lebih murah dan akan menemukan banyak teman baru dari berbagai negara jika saya tinggal di dormitori. Cerita teman-teman baru dari berbagai negara ini menjadi amunisi buat saya menulis. Tetapi saat memilih-milih hostel di Hoi An saya malah menemukan hotel library ini di mesin pencari. Saya yang biasanya memang selalu membawa buku untuk dibaca dalam setiap perjalanan, ingin merasakan atmosfir yang berbeda dengan menginap di sini.

Saat sopir taksi menurunkan saya di depan hotel, saya langsung penasaran melihat desain unik di bagian depan. Begitu memasuki ruang resepsionis, tampak berbagai macam buku ditata rapi dan siap dibaca. Koleksinya pun tidak sedikit dan mencakup buku dari berbagai belahan dunia. Didominasi novel dan buku perjalanan, siapa saja bebas membawa buku yang ada di rak untuk dibaca asal dikembalikan.

Ada dua tipe kamar yang bisa kita sewa yaitu kamar dengan balkon yang berada di lantai atas, dan kamar tanpa balkon yang berada di lantai satu. Dilengkapi dengan wifi, kolam renang dan cafe kecil hotel ini sangat nyaman. Kamar saya ada di lantai dua dengan balkon yang memiliki pemandangan kota Hoi An meskipun pemandangan ini tidak terlalu cantik karena membentur jalanan gang. Di dalam kamar juga terdapat beberapa buku yang siap dibaca. Tampak buku populer dan wajib buat para pejalan “Eat, Pray and Love” di atas rak dan beberapa novel barat.  Desain kamarnya juga sangat unik dan klasik. Dengan barang-barang klasik khas Vietnam anda pecinta hal-hal eksotis akan menyukai hotel ini. Tak hanya di dalam kamar dan di ruang resepsionis buku-buku itu berada, di pojokan lorong hotel juga terdapat rak-rak buku yang siap dibaca. Bahkan saat sarapan pagi, di sekeliling ruang makan juga dipenuhi buku yang ditata sedemikian menarik.

Anda pecinta buku? Jangan lupa menginap di sini, saya yakin anda tak akan kecewa!

 

Tertawa Bersama Ibu Dong di Central Market Hoi An

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di dunia seperti Edinburgh old town, Phuket old town, Geneva old town, Kyoto old town, Takayama old town, Kota Tua Jakarta, Penang old town, Chiang Mai old town dan beberapa tempat klasik lain yang saya lupa namanya, tetapi memasuki Hoi An old town membuat saya tercengang. Pada malam hari kota tua Hoi An akan dipenuhi lampion yang sangat indah. Saya merasa hidup di negeri dongeng bersama para peri yang terbang di atas sungai dengan perahu-perahu berlampion yang melintasi sungai. Saya janji pada diri sendiri untuk kembali ke kota ini suatu hari nanti!

Selain keindahan kota tua ini, Hoi An memiliki dua pasar yang banyak dikunjungi wisatawan. Hoi An night market dan Hoi An central market. Hoi An night market bisa kita temui di sepanjang jalan dekat sungai pusat kota tua Hoi An pada malam hari, tetapi jam 9 malam pusat kota ini sudah sangat sepi dan lampu dimatikan semua. Saya yang berniat nongkrong sampai pagi di pusat kota malah lampu kafe sudah dimatikan tepat jam 9 dan pemesanan makanan closing. Terpaksa saya balik ke hotel dengan kondisi sedikit gelap karena hanya beberapa lampu jalanan yang nyala. Bahkan hotel tempat saya menginap juga lampunya sudah dimatikan dan penjaga sudah tidur di depan pintu hotel.

Tetapi esok harinya saya tidak menyia-nyiakan untuk mengunjungi Central Market Hoi An sepulang dari My Son Sanctuary. Kebetulan letak pasarnya tak jauh dari tempat perahu kami ditambatkan. Guide yang mengantar kami ke My Son Sanctuary bilang kalau kami hanya perlu berjalan lurus sampai ketemu jembatan lalu belok kanan. Dan saya mengikuti petunjuk guide itu setelah pamitan.

Central market Hoi An lumayan luas dan bersih. Berbagai macam barang kebutuhan dijual disini, mulai dari sayuran, buah, makanan, kerajinan, pakaian dan kios makanan yang berjejer dengan menu yang menggoda. Saya menyusuri los-los pasar terbuka ini hingga berhenti di depan sebuah lapak yang menjual kopi Vietnam dan makanan khas Vietnam. Pemilik lapak ini sesuai nama tokonya namanya Ibu Dong. Beliau dengan ramah melayani saya yang aslinya hanya akan belanja sedikit tetapi ingin banyak ngobrol. Saya berpikir membeli kopi di sini akan lebih murah ketimbang di tempat lain. Meski kenyataannya kopi yang saya beli di pasar sama dengan harga yang ada di bandara Da Nang.  Ibu Dong sudah lama fokus berjualan kopi dan makanan khas Vietnam. Kopi yang dijualnya memiliki tingkatan tertentu dan orang akan membeli sesuai dengan seleranya. Salah satu kopi paling terkenal adalah merk Trung Ngu Yen dengan berbagai tingkatan nomor. Setelah tawar menawar saya membeli dua tingkatan nomor dengan bonus makanan khas Vietnam yang terbuat dari kelapa. Makanan ini kalau di Indonesia mirip sagon dengan bungkus plastik kecil-kecil rapi. Ibu Dong sangat ramah dan suka becanda. Bahasa Inggrisnya terbata-bata tetapi bisa saya pahami. Katanya berjualan di pasar membuatnya selalu ceria dan lupa masalah-masalah yang dihadapinya. Bertemu pembeli dari berbagai belahan dunia juga membuatnya bisa bertukar banyak informasi. Ibu Dong mengundang saya datang ke rumahnya jika saya masih lama di Hoi An, tetapi sayangnya sore itu saya harus kembali ke Da Nang dan melanjutkan perjalanan.  Obrolan itu kemudian menjadi panjang karena belum ada pembeli lain yang datang. Benar-benar lebih banyak obrolannya daripada barang yang saya beli.

 

Bertemu orang-orang baru selalu memberi energi baik dalam setiap perjalanan saya, salah satunya keceriaan Ibu Dong dan senyumnya yang selalu merekah saat melayani pembeli.“Let me know when you come  back to Hoi An!” katanya terbata saat memeluk saya yang berpamitan meninggalkan lapak dagangannya. Saya tersenyum, “I will.”