VINH HUNG HOI AN, VIETNAM ; LIBRARY HOTEL UNTUK PECINTA BUKU

Anda suka membaca buku disela perjalanan sambil leyeh-leyeh di hotel yang nyaman? Jika perjalanan anda sampai kota tua Hoi An, Vietnam, saya merekomendasikan Vinh Hung Library hotel. Hotel yang terletak tepat di kota tua Hoi An ini selain memiliki desain yang klasik dan cantik juga berkonsep library.

Sebagi backpacker sebenarnya saya lebih suka menginap di hostel karena jelas lebih murah dan akan menemukan banyak teman baru dari berbagai negara jika saya tinggal di dormitori. Cerita teman-teman baru dari berbagai negara ini menjadi amunisi buat saya menulis. Tetapi saat memilih-milih hostel di Hoi An saya malah menemukan hotel library ini di mesin pencari. Saya yang biasanya memang selalu membawa buku untuk dibaca dalam setiap perjalanan, ingin merasakan atmosfir yang berbeda dengan menginap di sini.

Saat sopir taksi menurunkan saya di depan hotel, saya langsung penasaran melihat desain unik di bagian depan. Begitu memasuki ruang resepsionis, tampak berbagai macam buku ditata rapi dan siap dibaca. Koleksinya pun tidak sedikit dan mencakup buku dari berbagai belahan dunia. Didominasi novel dan buku perjalanan, siapa saja bebas membawa buku yang ada di rak untuk dibaca asal dikembalikan.

Ada dua tipe kamar yang bisa kita sewa yaitu kamar dengan balkon yang berada di lantai atas, dan kamar tanpa balkon yang berada di lantai satu. Dilengkapi dengan wifi, kolam renang dan cafe kecil hotel ini sangat nyaman. Kamar saya ada di lantai dua dengan balkon yang memiliki pemandangan kota Hoi An meskipun pemandangan ini tidak terlalu cantik karena membentur jalanan gang. Di dalam kamar juga terdapat beberapa buku yang siap dibaca. Tampak buku populer dan wajib buat para pejalan “Eat, Pray and Love” di atas rak dan beberapa novel barat.  Desain kamarnya juga sangat unik dan klasik. Dengan barang-barang klasik khas Vietnam anda pecinta hal-hal eksotis akan menyukai hotel ini. Tak hanya di dalam kamar dan di ruang resepsionis buku-buku itu berada, di pojokan lorong hotel juga terdapat rak-rak buku yang siap dibaca. Bahkan saat sarapan pagi, di sekeliling ruang makan juga dipenuhi buku yang ditata sedemikian menarik.

Anda pecinta buku? Jangan lupa menginap di sini, saya yakin anda tak akan kecewa!

 

Budapest Central Market Hall

Jika anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satu tempat yang selalu di kunjungi turis saat berada di Budapest adalah Central Market Hall atau Great Market Hall. Pagi hari sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest ini terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca.

Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali. Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar.

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi pasar ini? Pasar ini buka pada hari Senin sampai Sabtu mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hari minggu tutup. Jika anda tidak suka terlalu ramai maka anda bisa berkunjung pada pagi hari sekitar jam 8-9 hari Senin – Jumat, karena pada hari Sabtu pasar akan sangat ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Jangan lupa mengunjungi pasar ini saat anda ke Budapest!

 

Saturday Night Market Chiang Mai

Kalau anda berkunjung ke Chiang Mai, Thailand, sebaiknya jangan melewatkan hari Sabtu, karena malamnya ada Saturday Night Market yang semarak dan menarik. Saat saya berkunjung ke Chiang Mai, saya tidak tahu ada pasar malam ini, tetapi sepulang dari Chiang Rai sore hari, mobil yang mengantar saya menurunkan saya di dekat lokasi pasar malam dan mereka menyarankan saya mengunjungi pasar ini.

Saturday Night Market Chiang Mai hanya ada hari Sabtu mulai jam 5 sore sampai jam 11 malam. Terletak di Wulai street tepat di depan gate selatan kota kuno, pasar ini menjual souvenir, lukisan, pakaian dan gerai makanan. Saya yang sejak siang kecapekan ekplore Chiang Rai mencari gerai makanan yang cocok. Saya menemukan nenek-nenek penjual Pad Thai yang dikerubungi pembeli dan ikutan antre.

Pasar ini menurut saya sangat menarik dan hidup. Tidak hanya barang-barang yang dijual, tetapi suasananya juga terasa hangat. Pelaku seni tradisional juga berpentas di sepanjang jalanan ini sehingga selain lampu-lampu yang menyala dramatis, suara musik khas lokal juga membuat rasa capek saya seharian lenyap. Jangan lewatkan Saturday Night Market saat berkunjung ke sini.

TIPS KELILING EROPA MURAH

Setiap mendengar kata Eropa yang terbayang di kepala kita pasti satu kata, “MAHAL!”. Memang benar Eropa mahal apalagi untuk pengguna mata uang rupiah. Di Eropa, mata uang rupiah seakan tiada harganya. Lantas bagaimana mewujudkan mimpi keliling Eropa dengan “acuan” kata mahal itu? Apakah kita perlu menunggu sampai kaya raya baru bisa keliling Eropa? Saya sih, nggak mau menunggu sampai kaya dulu baru keliling Eropa.  Takutnya saat menjadi kaya ternyata tidak sehat atau buruknya tidak punya umur lagi. So, banyak cara menuju Roma, banyak cara menuju Eropa! Itu bener banget! Jadi gimana dong caranya? Ini cara saya, mungkin akan beda dengan cara Anda, karena itu tadi, banyak jalan menuju Eropa!

Saya keliling Eropa satu bulan secara backpacker bersama beberapa teman. Semua persiapan mulai dari tiket, penginapan, rute perjalanan, makanan dan semua hal yang menyangkut kebutuhan traveling kami urus sendiri. Saya sih suka melakukan semuanya karena jadi belajar banyak hal dan tidak bergantung pada penyedia paket perjalanan. Satupun kami tidak menggunakan jasa agen atau paket perjalanan. Dengan cara itu kami bisa irit lebih dari setengah harga paket yang ditawarkan oleh travel tour.  Saya keliling London, Skotlandia, Paris, Geneva, Vienna, Praha, Amsterdam dengan biaya Rp. 29 juta selama satu bulan. Kalau menggunakan paket perjalanan minimal biaya pasti dua kali lipat. Iya dong, kita kan perlu membayar biaya penyelenggara paket tour. Iya kan?

Nah, apa saja sih yang mesti disiapkan untuk perjalanan murah ala saya ini?  Oke, saya akan share di sini, mungkin bisa berguna buat teman-teman yang ingin keliling Eropa dengan cara murah.

 

TIKET PROMO

Mencari tiket promo ini penting bahkan menjadi kunci murahnya perjalanan. Kita bisa mendapatkan tiket promo dengan mencegatnya melalui informasi group-group traveling.  Rajin-rajinlah mengecek group traveling yang selalu berbagi informasi tiket promo karena mereka selalu share seluk beluk tiket promo. Jangan kuatir tidak kebagian, tiket promo ini pada tahun-tahun terakhir banyak sekali dan mudah di dapatkan. Pesawat-pesawat full bujet dengan pelayanan yang bagus seperti Qatar, Etihad dan Emirates juga berlomba mengadakan promo. Bahkan Garuda meski harganya masih mahal buat kantong saya juga promo. Saya sendiri mendapatkan tiket Etihad multicity promo dengan pembelian setahun sebelum keberangkatan di harga Rp. 5,6 juta return dengan rincian perjalanan Jakarta- London kemudian kembali dari Amsterdam – Jakarta.

 

TIKET SAMBUNGAN ANTAR NEGARA

Bus merupakan transportasi murah sambungan antar negara. Tetapi ada kalanya kereta dan pesawat juga murah. Tiket promo sambungan antar negara biasanya untuk pembelian tiga bulan sebelum keberangkatan. Saya mencegatnya dengan menggunakan aplikasi GOEURO di android, FLIXBUS dan STUDENT AGENCY. Dengan selalu mengecek aplikasi itu kita akan tahu saat harga termurah muncul. Saya membeli tiket sambungan dengan harga yang lumayan murah. Misalnya London-Skotlandia menggunakan bus mendapat harga Rp.60 ribu, busnya bagus dan nyaman. Skotlandia-London menggunakan pesawat Ryan Air dengan harga Rp.200 ribu. Dan sambungan lain menggunakan kereta seperti Paris-Geneva yang kami beli dengan harga lebih murah dari harga normal. Sebelum berangkat ke Eropa, kami sudah membeli semua tiket sambungan antar negara dengan harga promo. Memang paling murah menggunakan bus, tetapi ada kalanya pesawat lebih murah dari bus jika harga promo. Hanya saja menggunakan pesawat untuk sambungan antar negara itu ribet karena proses check in sementara menggunakan kereta atau bus tinggal masuk dan duduk menunggu berangkat. Saya menyarankan jika anda punya banyak waktu lebih baik menggunakan bus atau kereta daripada pesawat.

 

PENGINAPAN

Penginapan di Eropa kebanyakan mahal, tetapi tetap bisa kita diakali. Pembelian harus jauh-jauh hari sebelum keberangkatan karena mendekati tanggal berangkat semakin mahal. Banyak pilihan penginapan yang bisa dipakai para backpacker. Tidak hanya hostel tetapi bisa airbnb. Menggunakan airbnb tentu lebih irit jika bersama banyak orang karena harganya akan dibagi. Tetapi kelemahan airbnb, kebanyakan jauh dari pusat kota sehingga perlu biaya transportasi lagi. Sementara hostel dengan tipe dormitory bisa menjadi pilihan murah dengan lokasi lebih strategis.  Sekali lagi, mencari informasi tentang penginapan yang direkomendasikan teman-teman traveler sangat dianjurkan, sehingga tidak salah pilih.

 

MAKANAN

Untuk sarapan kami membawa makanan instant dari Indonesia seperti indomie, energen dan biskuit. Kami biasanya makan sehari dua kali dan jika porsinya besar, kami bisa makan berbagi. Porsi makanan di Eropa itu besar sehingga kita bisa berbagi berdua atau bahkan bertiga. Karena saya tinggal di airbnb, saya memasak sendiri dengan membeli bahan masakan di minimarket.

 

INFORMASI NEGARA YANG KITA KUNJUNGI

Sebelum berangkat kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya melalui berita, artikel, grup traveler dan bertanya langsung ke mereka yang tinggal disana. Informasi ini sangat berharga agar kita bisa tahu apa yang mesti kita pilih dan kita lakukan selama perjalanan. Saya hampir semua informasi di negara yang saya lewati saya catat dalam buku kecil. Mulai dari mata uang, penukaran uang yang aman, tempat wisata, makanan, penginapan, kebiasaan orang setempat hingga tempat-tempat yang tidak banyak dikunjungi turis. Jangan lupa kartu transportasi yang akan kita gunakan di negara yang kita kunjungi jika kemungkinan bisa mendapatkan kartu yang lebih murah dari harga normal.

Masih banyak sebenarnya tips untuk mengirit perjalanan ke Eropa, yang saya tuliskan diatas hanya yang besar-besar, ohya, yang terpenting juga tidak banyak belanja. Saya sih tidak suka belanja sambil traveling jadi saya juga irit disini. Paling banter hanya membeli tempelan kulkas untuk kenang-kenangan. So…. sebenarnya ke Eropa nggak harus nunggu kaya kalau kita tahu jalan lain menuju Eropa. Let’s go!

 

Senyum Manis Adelita Dari Pasar Buah Berastagi

Hampir waktu makan malam saat mobil yang saya sewa seharian untuk keliling Medan melintasi jalanan berbukit dan udara sejuk (dingin) menyerbu kulit saya melalui jendela mobil yang saya buka sedikit. Bapak sopir yang sudah berusia 65 tahun tetapi masih gesit mengatakan kami tiba di kota Berastagi ; kota dengan pemandangan alam yang indah dan udaranya sejuk. Sayangnya saya tiba di sini sudah malam, sehingga hanya melihat sedikit pemandangan indah itu. Tetapi sepanjang perjalanan saya melihat perkebunan jeruk, hamparan bunga matahari dan sayur-sayuran. Berastagi yang berhawa sejuk dan terletak di perbukitan ini memang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani buah, sayuran dan bunga.

“Kita mampir dulu di pasar Berastagi,” kata Pak Sopir. “Kalau sampai sini tidak mampir pasar Berastagi nanti akan rugi,” lanjutnya. Saya menurut saja saat mobil berjuang melewati kemacetan yang panjang. Pasar Berastagi tidak jauh dari Tuju Perjuangan Berastagi yang menjadi gapura memasuki kota Berastagi. “Apa pasar masih buka malam hari seperti ini?” tanyaku. Sopir mengangguk dan berbelok mencari tempat parkir.

Pasar seluas 1 hektar ini tampak rapi. Lampu-lampu menyala menerangi penjual dan pembeli yang masih ramai saat malam tiba. Saya memasuki pasar dari arah samping dan tergoda melihat toko souvenir khas Medan. Berbagai macam souvenir ada di sini mulai dari tempelan kulkas, dompet kecil, gantungan kunci, kain khas Batak, t’shirt bersablon tempat wisata Medan dan banyak jenisnya lagi. Setelah membeli beberapa tempelan kulkas saya memasuki pasar. Deretan buah segar mulai dari jeruk, terong Belanda, markisa, sayuran dan bunga berjejer rapi. Saya kemudian berkeliling melihat buah-buahan yang menggoda itu.

Lalu saya berhenti di satu lapak yang dijaga gadis muda. Senyumnya mengembang saat saya melihat jeruk dan markisa yang dia jual. “Beli Kak, masih segar,” katanya. Saya sengaja berlama-lama memilih jeruk agar bisa ngobrol dengan pembelinya. Namanya Adelita, berjualan buah meneruskan pekerjaan orangtuanya yang petani buah-buahan. Dia tidak melanjutkan kuliah karena ingin membantu orangtuanya bekerja. Dan sepertinya dia juga menyukai pekerjaannya itu. Saya menawar harga jeruk perkilo yang dia ajukan dan dia menyetujuinya. Senyumnya mengembang saat menimbang jeruk dan memasukkan ke dalam tas plastik. “Saya boleh memotret kamu?” tanyaku. “Boleh, siapa tahu bisa masuk televisi,” jawabnya sambil tertawa lebar. Semangatmu semanis jeruk Medan yang kamu jual, Adelita.  Semoga kita bisa bertemu lagi.

 

Tertawa Bersama Ibu Dong di Central Market Hoi An

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di dunia seperti Edinburgh old town, Phuket old town, Geneva old town, Kyoto old town, Takayama old town, Kota Tua Jakarta, Penang old town, Chiang Mai old town dan beberapa tempat klasik lain yang saya lupa namanya, tetapi memasuki Hoi An old town membuat saya tercengang. Pada malam hari kota tua Hoi An akan dipenuhi lampion yang sangat indah. Saya merasa hidup di negeri dongeng bersama para peri yang terbang di atas sungai dengan perahu-perahu berlampion yang melintasi sungai. Saya janji pada diri sendiri untuk kembali ke kota ini suatu hari nanti!

Selain keindahan kota tua ini, Hoi An memiliki dua pasar yang banyak dikunjungi wisatawan. Hoi An night market dan Hoi An central market. Hoi An night market bisa kita temui di sepanjang jalan dekat sungai pusat kota tua Hoi An pada malam hari, tetapi jam 9 malam pusat kota ini sudah sangat sepi dan lampu dimatikan semua. Saya yang berniat nongkrong sampai pagi di pusat kota malah lampu kafe sudah dimatikan tepat jam 9 dan pemesanan makanan closing. Terpaksa saya balik ke hotel dengan kondisi sedikit gelap karena hanya beberapa lampu jalanan yang nyala. Bahkan hotel tempat saya menginap juga lampunya sudah dimatikan dan penjaga sudah tidur di depan pintu hotel.

Tetapi esok harinya saya tidak menyia-nyiakan untuk mengunjungi Central Market Hoi An sepulang dari My Son Sanctuary. Kebetulan letak pasarnya tak jauh dari tempat perahu kami ditambatkan. Guide yang mengantar kami ke My Son Sanctuary bilang kalau kami hanya perlu berjalan lurus sampai ketemu jembatan lalu belok kanan. Dan saya mengikuti petunjuk guide itu setelah pamitan.

Central market Hoi An lumayan luas dan bersih. Berbagai macam barang kebutuhan dijual disini, mulai dari sayuran, buah, makanan, kerajinan, pakaian dan kios makanan yang berjejer dengan menu yang menggoda. Saya menyusuri los-los pasar terbuka ini hingga berhenti di depan sebuah lapak yang menjual kopi Vietnam dan makanan khas Vietnam. Pemilik lapak ini sesuai nama tokonya namanya Ibu Dong. Beliau dengan ramah melayani saya yang aslinya hanya akan belanja sedikit tetapi ingin banyak ngobrol. Saya berpikir membeli kopi di sini akan lebih murah ketimbang di tempat lain. Meski kenyataannya kopi yang saya beli di pasar sama dengan harga yang ada di bandara Da Nang.  Ibu Dong sudah lama fokus berjualan kopi dan makanan khas Vietnam. Kopi yang dijualnya memiliki tingkatan tertentu dan orang akan membeli sesuai dengan seleranya. Salah satu kopi paling terkenal adalah merk Trung Ngu Yen dengan berbagai tingkatan nomor. Setelah tawar menawar saya membeli dua tingkatan nomor dengan bonus makanan khas Vietnam yang terbuat dari kelapa. Makanan ini kalau di Indonesia mirip sagon dengan bungkus plastik kecil-kecil rapi. Ibu Dong sangat ramah dan suka becanda. Bahasa Inggrisnya terbata-bata tetapi bisa saya pahami. Katanya berjualan di pasar membuatnya selalu ceria dan lupa masalah-masalah yang dihadapinya. Bertemu pembeli dari berbagai belahan dunia juga membuatnya bisa bertukar banyak informasi. Ibu Dong mengundang saya datang ke rumahnya jika saya masih lama di Hoi An, tetapi sayangnya sore itu saya harus kembali ke Da Nang dan melanjutkan perjalanan.  Obrolan itu kemudian menjadi panjang karena belum ada pembeli lain yang datang. Benar-benar lebih banyak obrolannya daripada barang yang saya beli.

 

Bertemu orang-orang baru selalu memberi energi baik dalam setiap perjalanan saya, salah satunya keceriaan Ibu Dong dan senyumnya yang selalu merekah saat melayani pembeli.“Let me know when you come  back to Hoi An!” katanya terbata saat memeluk saya yang berpamitan meninggalkan lapak dagangannya. Saya tersenyum, “I will.”

 

 

 

GADONG NIGHT MARKET

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tak banyak tempat wisata kita temukan di sana. Tetapi ada satu tempat yang sedikit ramai pada malam hari. Tempat itu adalah Pasar Malam Gadong.  Kalau anda berkunjung pada bulan Ramadhan, cobalah singgah di Gadong night market yang buka mulai pukul 3 sore hingga 10 malam ini. Anda akan menemukan kemacetan mobil di jalanan menuju Pasar Gadong. Kemacetan yang jarang ditemui di seluruh jalanan Brunei yang sepi hanya dilewati satu dua mobil.

Dengan naik DART (taksi online) dari Pasar Kianggeh yang ternyata hanya ada beberapa orang jualan dengan sebagian besar lapak-lapak kosong, saya tiba di Gadong Night Market tepat pukul 4 sore. Pasar ini sudah ramai dan warga lokal Brunei sudah mengantre di depan stand-stand makanan yang menjual berbagai menu. Ada beberapa orang Indonesia yang juga berjualan di pasar ini. Mereka memutar lagu-lagu Indonesia sehingga Pasar menjadi lebih ramai.

Saya berkeliling Pasar untuk membeli menu buka puasa, tetapi karena berbagai makanan enak ada di sana, saya jadi bingung. Ada nasi lemak, mie goreng, ayam bakar, ikan bakar, nasi ayam, gorengan khas Brunei, jajanan pasar dan banyak lagi. Saya kemudian membeli nasi ayam dan minuman sirup. Di ujung pasar tampak meja kursi untuk pengunjung yang ingin makan di tempat ini, tetapi meja kursi yang disediakan sudah dipenuhi pengunjung. Saya menemukan satu tempat yang masih kosong dan menunggu buka puasa di tempat itu.

Begitu terdengar suara adzan, warga yang menunggu buka puasa langsung menyantap makanannya.  Seorang warga lokal bersama temannya meminta ijin duduk di samping saya, dan kami buka puasa bersama sambil ngobrol. Katanya pasar ini selalu ramai meskipun bukan bulan Ramadhan. Pada hari-hari biasa,  pasar akan ramai hingga jam 10 malam dikunjungi orang yang makan malam di sini. Menyenangkan sekali bergabung dengan warga lokal buka puasa di pasar ini. Setelah buka puasa saya melangkah ke mushala yang ada di depan Pasar Gadong. Mushala ini meski kecil tampak bersih dan lengkap. Brunei memang bukan negara yang memiliki banyak tempat wisata, tapi kehidupan masyarakatnya yang tenang layak kita selami.

 

 

 

Bertemu Survivor Perang Vietnam di Pasar Dong Xuan

“Hello… shopping! Shopping! Very cheap! Very cheap!” teriak seorang lelaki tua yang berjualan souvenir di dekat pintu masuk pasar Dong Xuan Hanoi sambil melambaikan tangan ke saya. Saya yang tidak ingin belanja souvenir hanya menggeleng dan melangkah masuk ke dalam pasar terbesar di Hanoi itu. Tetapi sepanjang saya menyusuri pasar mencari baju Ao Dai (baju tradisional Vietnam), malah kepikiran lelaki tua itu dan berniat mampir melihat barang dagangannya setelah selesai mengelilingi pasar.

Terletak di jantung kota tua Hanoi Vietnam, pasar Dong Xuan yang dibangun oleh Perancis pada akhir abad 19 ini merupakan pasar tertutup yang terdiri dari beberapa lantai dengan banyak kios serta lorong-lorong kecil. Di lantai dasar bagian tengah, ada air mancur dengan tempat duduk di sekelilingnya sehingga pengunjung pasar bisa melepaskan lelah di sini.  Pasar ini menjual berbagai kebutuhan mulai dari pakaian, makanan, sepatu dan souvenir.

Saya kemudian naik ke lantai satu untuk mencari baju Ao Dai. Sudah lama saya ingin memiliki baju tradisional Vietnam ini karena unik dan cantik. Selain itu juga bisa dikenakan wanita berjilbab karena modelnya yang mirip baju kurung. Saya menemukan satu kios yang menjual baju Ao Dai dengan harga sesuai kantong saya dan warna yang saya cari, tetapi sayangnya ukuran untuk saya tidak ada. Akhirnya saya mengurungkan niat membeli baju Ao Dai di pasar ini karena tidak menemukan kios lain dengan harga yang lebih baik. Jika ingin berbelanja di pasar ini, jangan lupa menawar untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Setelah menyusuri lorong-lorong sempit dan mampir di beberapa kios, saya memutuskan untuk keluar dari pasar. Tetapi lebih dulu ingin singgah di kios souvenir lelaki tua di dekat pintu keluar. Begitu saya lewat, lelaki tua itu sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Tampak tenang dan fokus pada bacaannya. Saya memilih-milih souvenir dan dia meletakkan korannya sambil tersenyum lebar menatap saya.

“Shopping! Shopping! Very cheap!” katanya lagi.

Saya tertarik pada tas etnik berwarna merah yang terlihat seperti kain tenun. Lelaki tua itu bangkit mendekati saya, dan saya baru sadar kalau kaki beliau tinggal satu dan mengenakan kruk. Tapi gerakannya energik dan senyumnya sangat ramah. Saat menatap wajahnya saya merasakan aura positip menular ke diri saya.  Saya menanyakan harga tas, dan mengajukan tawaran. Entah tawaran saya terlalu tinggi atau beliau yang murah hati, tetapi tawaran pertama saya langsung disetujuinya. Bahkan beliau memberikan dua dompet kecil sebagai bonus. Teman perjalanan saya memutuskan belanja banyak souvenir di kios ini dan saya menunggunya.

“Take a seat!” katanya menyodori saya kursi plastik untuk duduk. Saya tersenyum dan mengangguk. “cảm ơn”

Matanya berbinar mendengar saya mengucap terima kasih dalam bahasa Vietnam. “Ah, you speak Vietnamese?” Saya tertawa sambil menunjukkan google translate di handphone saya,”No, no… i use google translate. See?”  “Oh, I see. Where are you from?” tanyanya sambil balas tertawa.  “Indonesia.”

“Oh ya, Indonesia. I know your country. Beautiful beach, ah?”

“Ya, i guess so…”

Lalu sambil menunggu teman saya memilih-milih souvenir, kami ngobrol. Saya merasa aura positipnya menulari saya sehingga saya ikut tersenyum lepas.

Namanya Pak Binh Phan, usianya menjelang 70 tahunan. Tapi badannya masih tegap, terlihat sehat dan jejak ketampannya masih jelas di wajahnya.  Saat terjadi perang Vietnam, beliau masih berusia 20-an dan kehilangan satu kakinya. Kondisi yang sulit paska perang dan menyesuaikan hidup dengan satu kaki hampir membuatnya putus asa. Tapi ia sanggup bertahan dan mengatasi kesulitannya dengan berbagai cara. Setelah merintis berbagai usaha namun gagal, kemudian ia berjualan souvenir di pasar Dong Xuan hingga saat ini. Menurutnya bertemu pembeli dari berbagai negara dan mendengar sedikit cerita mereka yang mampir di kiosnya membuatnya lebih semangat.

Saya justru kebalikannya. Saya mendapatkan semangat hidup saya yang sedang remuk saat keliling Vietnam ini kembali lewat Pak Binh Phan. Jika dengan satu kaki saja beliau bisa bertahan melewati banyak hal, bagaimana dengan saya yang memiliki kaki normal? Bahkan yang saya lakukan hanya mengeluh dan mengeluh. Di akhir obrolan saya, Pak Binh Phan memeluk saya penuh respect saat saya meminta foto bersama.  Beliau juga tidak keberatan saat saya mengambil fotonya dari berbagai sudut.  Saya seperti menangkap pesan dari matanya yang bersinar positip bahwa memiliki satu kaki bukan masalah, asalkan masih bisa menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang di sekelilingnya. Terima kasih Pak Binh Phan! You are awesome!

Munjungan, Kenangan dan Harapan

“Kapan awakmu anjok? (kapan kamu turun gunung)?”

Itu pertanyaan teman-teman saya yang tinggal di Trenggalek kota, saat ingin bertemu sementara saya berada di Munjungan. (note : buat yang nggak tahu, Munjungan itu berada di kawasan pegunungan Trenggalek Jawa Timur, pinggir pantai selatan, sementara teman-teman saya tinggal di dataran Trenggalek kota kabupaten).  Dulu setiap mendengar pertanyaan itu saya jadi minder, Ya Tuhan betapa anggunnya saya (anak nggunung maksudnya) dibanding mereka yang tinggal di dataran kota Trenggalek, saya merasa seperti manusia purba yang masih memakai baju dari dedaunan dan menggunakan transportasi sulur-sulur pohon besar ala Tarzan untuk sampai ke seberang.

Sayangnya, meski kampung tempat saya dibesarkan ini sekarang telah menjelma kota, teman-teman saya masih takut “munggah” (naik) ke Munjungan. Mungkin mereka masih berpikir jalan yang meliuk-liuk di sela pegunungan itu akan melahapnya, mabuk perjalanan atau diculik Tarzan? Duh, kalian belum merasakan betapa asyiknya naik mobil pick up terbuka, duduk di belakang, menembus kabut pegunungan yang tinggi, melihat jurang-jurang terjal dengan pemandangan gunung yang dramatis, sungai penuh bebatuan di bawah sana dan menghirup udara segar di sela pohon-pohon yang menjulang. Atau berhenti di puncak tertinggi untuk melihat laut yang membiru di kejauhan sambil menghirup kopi panas dan menikmati semangkuk bakso.  Bahkan sebulan lalu, saya memilih naik mobil bak terbuka duduk di belakang pada malam hari sekitar jam 8-9 malam menembus hutan berkabut dan gerimis. Saya merasa seperti bertualang di Jurasic Park meskipun bak belakang mobil pick up yang saya duduki bekas kambing tapi saya bahagia. Saya jarang memilih naik mobil tertutup (kecuali hujan atau diomelin Ibu) saat pulang karena merasa akan kehilangan sensasi petualangan menembus hutan.

For your information…, Munjungan memiliki banyak tempat wisata yang mungkin tidak ada di dataran kota Trenggalek. “Ya iyalah, karena gunung dan dataran tentu saja berbeda Ri.” (mohon baca dulu, sebelum nyampluk saya, hahaha) Oke, deal! Mari kita lanjutkan sambil nangkis samplukan. Jika kalian ingin santai-santai di tepi pantai sambil nongkrong ngopi sore sampai malam, kami punya pantai Blado yang paling mudah untuk dikunjungi. Jika kalian ingin menikmati pantai berbatu yang romantis dengan pasir ‘agak putih’ lembut dengan background perahu-perahu nelayan, kalian bisa ke pantai Ngampiran. Jika kalian suka air terjun, kami punya coban Wonoasri yang mudah dijangkau dengan naik motor lalu nyambung hiking 15 menit. Jika kalian suka pemandangan hutan yang instagramable, kalian bisa coba Hutan Plumpit. Masih ada pantai Raja’an, Ngadipuro, Slah dan Dadapan yang tak kalah indah.

Kalau makanan bagaimana?  Sebagai daerah pesisir, jika suka kalian bisa memuaskan diri makan seafood. Ikan, udang, cumi, rumput laut dengan berbagai cara masaknya yang menggiurkan. Kalau kalian mau bisa menunggu jaring nelayan naik ke daratan dan membeli satu plastik ikan laut segar dengan harga lebih murah ketimbang esok harinya di pasar.  Atau cicipi jajanan pasar jadul yang enak dan murah seperti getuk, cenil, pecel, punten, tiwul, jadah dan banyak lagi. Tapi kalau kalian suka makanan masa kini, jangan salah! Di sini juga ada fried chicken, sate, tahu bulet, martabak, kue pukis, bakso, nasi goreng dan lain-lainnya. Kalau mau gratis, kalian bisa makan di rumah saya, hanya jika saya dan ibu saya sedang di sana, karena kalau tidak, rumah saya kosong. Oke, apakah sudah membuktikan bahwa kami tidak hanya makan daun-daunan mentah dan berburu binatang ala Tarzan? Kalau belum saya lanjutkan!

Sekarang soal nguri-nguri tradisi, melestarikannya agar tidak punah. Kalau kata eyang Mahatma Gandhi “sebuah budaya bangsa tinggal di hati dan di dalam jiwa rakyatnya.” Ada beberapa tradisi yang masih dilestarikan seperti longkangan dan syawalan. Beberapa tahun terakhir,  desa saya Karangturi-Munjungan merayakan tradisi Syawalan. Saya sengaja memperpanjang libur lebaran saya, agar bisa melihat Syawalan ini.  Seingat saya sejak kecil jika ingin melihat tradisi Syawalan harus ke daerah lain yang merayakannya. Namun kini, Kepala desa kami yang muda dan progresif tampak berusaha melestarikan tradisi ini setiap tahunnya dan melakukan banyak kemajuan di berbagai bidang sehingga desa kami lebih berdaya. Tidak hanya kirab gunungan ketupat, namun juga dilengkapi dengan tarian jaranan, drum band, pasar malam dan panggung hiburan. So, kalau kalian masih berkeinginan “munggah” (naik) ke Munjungan, banyak hal menarik bisa kalian gali, jangan kuatir orangnya juga cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Yakali saya mau bilang jelek, sementara saya juga orang sini. Hahaha.

 

Belasan tahun sudah saya “anjok kebablasan” dari Munjungan dan hidup lama di perantauan bahkan mungkin tak akan pernah kembali menetap di tanah kenangan ini. Saya tidak lahir di tanah kenangan ini, tapi saya datang bersama ibu saat usia saya 4 tahun. Ketika itu jalanan menembus hutan masih bebatuan dan alat transportasinya hanya jeep tua. Lalu saya meninggalkan tanah kenangan ini saat jalanan sudah beraspal, namun sawah-sawah belum banyak yang punah. Saya tidak mempunyai sumbangsih apa-apa untuk tanah tempat saya dibesarkan ini, bahkan mungkin saya memiliki banyak hutang budi. Karena di tanah kenangan ini saya dipaksa menerima hal-hal baru dalam usia 4 tahun, saya banyak belajar menjadi manusia, banyak berpikir tentang tujuan hidup, banyak protes sebagai perempuan yang dibesarkan dalam tradisi Jawa dan banyak mendapatkan inspirasi untuk dituliskan. Saya berharap, semakin maju tanah ini, semakin maju pula masyarakatnya.  Semoga.

Dan, saya berharap teman-teman saya di dataran Trenggalek kota yang selalu nanya, “kapan awakmu anjok?” akan mulai mau “munggah” untuk menikmati keindahannya. Saya percaya, kalian tidak akan kecewa! Saya jamin!

*Credit Picture : Doc. Pribadi dan Wanda

CERITA DARI PASAR CHOWRASTA

Pukul 7 pagi, saya keluar penginapan untuk menghirup udara pagi Penang, Malaysia. Orang-orang sering menyebutnya Pulau Pinang karena kota ini memang terletak di kepulauan kecil yang masih masuk dalam wilayah Seberang Parai.  Di kalangan orang Indonesia, Penang lebih terkenal sebagai tempat berobat karena memiliki beberapa rumah sakit yang bagus. Padahal tak hanya itu, Penang juga memiliki George Town, salah satu kota yang masuk daftar Unesco Heritage Site karena berhasil melestarikan bangunan bersejarah dari abad lampau.  Bangunan-bangunan tua cantik perpaduan arsitektur Eropa dan Asia yang difungsikan sebagai toko, cafe, restoran dan tempat tinggal ini bisa anda temui saat berjalan-jalan menyusuri George Town.

Tujuan saya pagi ini ke Pasar Chowrasta. Ide mengunjungi pasar ini datang dari seorang sahabat yang menitipkan pesannya ke salah satu penjual buku di Pasar Chowrasta. Tetapi Pasar Chowrasta yang berdiri sejak 1890 dan telah mengalami beberapa perbaikan ini memang menjadi salah satu tujuan wisata. Terletak di perempatan pusat kota tepatnya di jalan Lebuh Tamil, pasar tradisional ini menjual bermacam kebutuhan mulai dari jajanan, sayur mayur, daging, sembako, pakaian dan buku. Di sebelah pasar ini juga terdapat deretan tenda-tenda kecil yang berjualan makanan seperti cendol, rujak, es campur yang menurut saya sangat enak.

Setelah menyusuri lantai 1 pasar Chowrasta, saya naik ke lantai 2, tempat deretan lapak penjual buku berada. Tidak susah untuk menemukan lapak yang dimaksud sahabat saya untuk dikunjungi. Pemiliknya bernama Pakcik Iskandar, lelaki India yang ramah berusia sekitar 60 tahun. Kawasan pasar ini pada pertengahan abad 19 memang banyak dihuni suku Tamil yang berasal dari India Selatan, salah satunya nenek moyang Pakcik Iskandar. Meskipun sekarang populasi orang-orang India di sekitar kawasan Chowrasta mengecil, namun kita masih bisa menemukannya di pasar ini.

 

 

Pakcik Iskandar yang mencintai buku ini sejak muda sudah berjualan di Chowrasta. Koleksi bukunya cukup lengkap terdiri dari buku-buku baru dan buku bekas dari penulis berbagai negara seluruh dunia termasuk buku dari Indonesia. Saya menemukan buku-buku terbitan tahun 1945-1950-an dengan kondisi kertas masih bagus dan harga terjangkau. Pak Iskandar juga mempersilakan saya menawar harga yang beliau ajukan untuk mendapatkan harga yang bagus.

 

Saya kemudian membeli buku LITTLE BOY LOST dari penulis Inggris Marghanita Laski terbitan tahun 1949 yang bercerita tentang laki-laki yang mencari anaknya yang hilang di Perancis selama masa perang dan buku MERRIE ENGLAND dari penulis Paul Johnson terbitan tahun 1964. Ada beberapa buku tua tentang sejarah Melayu yang ingin saya beli tetapi harganya lumayan mahal sehingga saya batal membelinya. Pak Iskandar menguasai semua isi buku yang dijualnya dan menjelaskan setiap detail buku dengan gamblang ke pelanggannya.  Bahkan ketika beberapa orang generasi milenial datang mencari buku romans remaja, Pak Iskandar langsung tanggap dan memahami buku yang dimaksud. Baginya buku adalah denyut nadi kehidupannya dan jalan rezekinya. Meski dunia digital bisa jadi akan menenggelamkan semua buku-buku yang dijualnya, beliau selalu percaya rezeki akan menghampirinya melalui sesuatu yang dicintainya.

Hampir dua jam saya berbincang-bincang tentang Penang dan buku di lapaknya sambil melihatnya melayani pelanggan. Saya sempat menanyakan apakah pelanggannya banyak mencari buku dari penulis Indonesia? Menurut Pakcik Iskandar selalu ada yang mencari buku-buku tokoh Indonesia seperti Soekarno atau tokoh-tokoh Indonesia lainnya tetapi sayang koleksinya dari Indonesia sedikit. Dulu Pakcik sering datang ke Indonesia untuk mengambil buku-buku yang akan dijualnya sebelum kerjasamanya dengan salah satu penerbit berakhir karena penerbit itu tutup.Pasar selalu menghadirkan kehidupan khas manusia-manusia di kota yang ditinggalinya. Pakcik Iskandar dengan koleksi buku-bukunya adalah inspirasi bagi saya untuk bisa memahami bahwa cinta pada buku tak harus mati dengan banjirnya dunia digital. Karena begitulah cinta yang sebenarnya, tak mudah menyerah pada perubahan.