Tag Archives: Indonesia

MENDAKI GUNUNG SAMPAH BANTARGEBANG

Mendengar kata Bantargebang, ingatan saya melayang pada unggahan sebuah foto oleh actor Hollywood yang juga aktivis lingkungan, Leonardo Dicaprio, di akun resmi instagramnya pada 6 September 2019. Dalam foto karya Adam Dean tersebut tampak seorang pemulung sedang memungut sampah di Bantargebang. Unggahan ini menimbulkan reaksi netizen Indonesia yang kebanyakan merasa malu. Salah satunya, “bangga menjadi orang Indonesia. Kita suka membeli apapun dengan bungkus plastik.” 

Sampah memang menjadi masalah klasik yang belum juga ditemukan solusi terbaiknya di ibukota dari tahun ke tahun. Itu juga yang membuat saya tertarik mengunjungi Bantargebang. Pada bulan Maret 2022, tepat pukul 10 pagi, saya tiba di pintu gerbang Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Saya masuk lewat belakang kelurahan Sumur Batu.


Gunungan sampah yang tinggi seolah melambaikan tangan ketika ban mobil saya terperosok ke dalam lumpur. Dua orang pemuda mengenakan kaos hitam lengan panjang, topi rimba kusam dan sepatu boot plastik membantu saya keluar dari kubangan lumpur. Setelah mobil terparkir aman, saya melewati lorong kecil di depan rumah-rumah bedeng berdinding triplek yang dihuni pemulung Bantargebang. Beberapa pria dan wanita sedang duduk sambil mengobrol santai. Saya turun ke jalan utama yang dilewati truk-truk pengangkut sampah dan perlahan menyusuri jalan itu.
Ketika mendongak ke atas, tampak gunungan sampah dan para pemulung sedang bekerja. Mereka mengenakan baju panjang, sepatu boot plastik, penutup kepala dan keranjang yang terlilit di punggungnya. Tangannya memegang tongkat bercapit untuk memunguti sampah. Matahari yang menyengat menghitamkan wajah mereka. Saya terus melangkah.


Pembuangan sampah ibukota ini sudah mencapai titik kritis. Minimnya lahan sehingga sampah harus ditumpuk menyerupai piramida. Saat ini tinggi gunungan sampah sudah mencapai 40 meter dari maksimal yang diijinkan, 50 meter. Dari lima zona, empat diantaranya sudah mencapai batas maksimal. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Kehidupan warga yang tinggal dalam radius hingga lima kilometer dari TPST Bantargebang juga terancam. Bau busuk menyengat dan air sumur tercemar air lindi sampah. Air lindi sampah terbentuk dari air hujan yang terjebak tumpukan sampah. Ini sangat berbahaya dan beracun karena mengandung konsentrasi senyawa organik maupun anorganik tinggi.


“Mau naik ke atas, Mbak?” tanya seorang lelaki usia kisaran 35 tahun yang kemudian saya kenal bernama Usman.
Saya bergabung dengan Usman duduk di bangku bambu yang berada di depan rumah bedeng. Dua orang lelaki lainnya yang lebih tua, Sulaiman dan Markoni yang berusia kisaran 50 tahun ikut ngobrol sambil memilah-milah sampah.
“Saya baru enam bulan kerja di sini,” katanya sambil memandangi gunungan sampah di depan kami yang menjulang dengan sorot mata penuh harapan.
“Covid bikin sulit cari kerja. Jadi buruh pabrik susah diterima. Istri nyuruh jadi sopir angkot, tapi angkot juga susah dapat penumpang. Di sini lebih pasti.”
“Asal rajin ngambil sampah, pasti bisa makan,” timpal Sulaiman.


Sulaiman berasal dari Bekasi Timur, sudah 10 tahun bekerja sebagai pemulung di Bantargebang. Seluruh keluarganya dibawa tinggal di rumah bedeng. Bagi Sulaiman, Bantargebang menjadi tempat paling tepat untuk mengais rezeki karena ia tidak memiliki pendidikan. Ia sudah nyaman tinggal di Bantargebang dan tidak ingin pindah ke tempat lain. Sementara Markoni yang berasal dari Padang juga sudah 10 tahun lebih tinggal di rumah bedeng. Meski terlintas keinginan untuk kembali ke kampung halaman, tetapi sampah lebih menjanjikan.

Kerja keras dan ketelitian menjadi modal utama para pemulung di Bantargebang. Jika beruntung mereka bisa menemukan barang-barang mahal seperti emas dan handphone bekas yang bisa dijual kepada pengepul. Sementara barang lain yang diincar para pemulung adalah plastik sekali pakai, kertas, karung-karung bekas hingga busa kasur. Bahkan belatung juga laku dijual.


Menurut Usman, harga sampah plastik per kg Rp.400 tetapi jika langsung dijual ke pabrik bisa dua kali lipat. Ada sekitar 7000 pemulung yang tinggal di rumah bedeng seputar TPST Bantargebang. Mereka datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia mulai dari Madura, Padang, Tangerang, Cikarang, Karawang dan sekitaran Bekasi. Mereka terpaksa datang ke Bantargebang karena tidak ada lapangan kerja di kampung. Lahan pertanian sudah habis dan mereka tidak memiliki pendidikan yang memadai. Sampah kemudian menjadi pilihan terbaik.

Pertemuan saya dengan tiga lelaki itu membawa saya ke rumah bedeng di belakang mereka. Di sana ada gubuk kecil dari kayu beratap terpal. Empat ibu-ibu muda sedang mengobrol. Saya memperkenalkan diri lalu bergabung. Di samping mereka tampak bangunan terbuka dari bambu yang dipenuhi anak-anak sedang belajar membaca dan menulis. Ternyata ibu-ibu muda itu sedang menunggu anak mereka sekolah. Beberapa aktivis dan relawan mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak pemulung. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung dan agama.

“Saya tinggal di sini sejak tahun 2004,” kata Mama Akmal wanita berparas manis, mengenakan daster batik merah tanpa lengan dan riasan wajah lengkap. “Saya lebih kerasan di sini ketimbang di kampung, suami tidak punya kerjaan di sana. Mau bertani tidak bisa, jadi buruh tidak bisa.”


Sependapat dengan tiga lelaki yang saya temui, empat ibu-ibu muda ini juga meyakini bahwa sampah adalah berkah bagi mereka. Tidak ada yang lebih pasti soal rezeki dibanding sampah yang diangkut truk-truk dari Jakarta dan Bekasi.
Sudah 36 tahun TPST Bantargebang beroperasi. Dibuka tahun 1986, TPST terbesar di Indonesia bahkan di dunia menurut versi National Geografi ini, memiliki luas total 110.3 hektar. Secara administratif, wilayah TPST Bantargebang terletak di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat yaitu kelurahan Ciketing Udik, Sumur Batu dan Cikiwul. Namun status tanah dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setiap hari jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang sekitar 7000-7500 ton dari DKI Jakarta. Pembuangan sampah khusus milik Pemerintah Kota Bekasi terletak di Sumur Batu tempat saya masuk ke lokasi ini.


“Waktu banjir dan longsor, rumah ini kena juga. Beberapa pemulung meninggal tertimbun sampah,” kata Mama Akmal saat mempersilakan saya masuk ke dalam rumahnya.

Rumah bedeng mungil berdinding triplek itu cukup rapi. Dua kamar tidur disekat dengan tirai kain, dapur untuk memasak dan kamar mandi. Lantainya ditutupi plastik perlak warna abu-abu. Bagian dinding dihias tanaman gantung imitasi serta gambar doraemon di sisi yang lain. Meski berada tepat di depan gunung sampah dan jalan utama truk-truk sampah lewat, rumah bedeng ini terasa nyaman. Mama Akmal menyewa rumah bedeng ini dengan harga Rp.300.000.

“Tidak semua wanita ikut memulung, kami menjaga anak-anak di rumah,” kata teman Mama Akmal sambil mencomot makanan yang ada di depannya.

Lalat mengerubungi sisa makanan yang baru saja diambil, empat wanita itu tertawa-tawa menceritakan kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa anak selesai sekolah dan bergabung, ikut mengambil makanan yang dirubung lalat.

“Kita sudah kebal, tapi kalau tidak terbiasa jangan coba-coba, nanti sakit perut,” kata Mama Akmal seperti memahami kekhawatiran saya.


Seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun mendekati saya dan menarik-narik tangan saya. Sikapnya seolah sudah kenal dekat. Ia bernama Izan dan mengajak saya mendaki gunung sampah. Beberapa anak lain juga bergabung. Mereka berlari-lari kecil sambil menyanyi. Melompat ke atas bak sampah, naik ke atas tumpukan-tumpukan sampah sambil salto, menggantungkan tangan ke pinggiran bak sampah sambil menggoyang-goyangkan kakinya sementara teman yang lain menarik celananya sampai telanjang. Tawa mereka berderai penuh kegembiraan.
Saya kuwalahan mengikuti mereka mendaki gunung sampah. Beberapa kali Ijan mengulurkan tangan untuk menolong saya naik ke bukit yang lebih tinggi. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan sampah yang membusuk, para pemulung yang sibuk memunguti plastik dan truk-truk yang terus berdatangan. Saat truk datang, para pemulung berlari menyambut rezeki yang ditumpahkan dari atas truk dan berebut memunguti barang-barang yang bisa dijual.


“Dulu, ada yang meninggal tertimbun sampah yang ditumpahkan dari truk,” kata seorang anak perempuan setelah menyelamatkan kaki saya yang terjeblos sampah basah.

Saya tertegun memandang anak perempuan itu. Ia menceritakan hal tragis itu seperti hal biasa. Tidak ada yang menakutkan. Mungkin mereka tidak memahami betapa bahaya tempat bermain mereka dan tempat orang tuanya bekerja. Tetapi kenyataan memang berkata sebaliknya. Bisa jadi mereka telah kebal. Mereka terlihat sehat, ceria dan bersemangat bermain di tengah sampah rumah tangga, pasar, kantor, banjir, jalanan, bahkan sampah medis yang berbahaya saat covid-19 melanda.


Saya terus naik mengikuti langkah anak-anak itu. Di puncak gunung sampah terdapat tenda-tenda kecil yang dibangun para pemulung sebagai pelindung saat mereka bekerja. Seorang ibu tua berjaket abu-abu duduk berteduh di salah satu tenda kecil bersama teman-temannya. Saya bergabung dengan ibu tua itu dan membiarkan anak-anak berlarian di antara sampah.

“Ini rumah dan harapan saya, neng…” kata ibu tua itu tanpa saya tanya.

Saya memandang wajah ibu tua yang menghitam dan tampak kontras dengan kain penutup kepala warna merah muda yang ia kenakan. Senyum lebarnya mengembang menampakkan giginya yang telah habis. Tetapi saya memang melihat harapan di matanya, juga rumah yang enggan ia tinggalkan.

Lamat-lamat saya seolah mendengar suara Fiersa Besari menyanyikan lagu Alam Bukan Tempat Sampah. “Laut bukan tempat sampah, gunung bukan tempat sampah, alam bukan tempat sampah, jadikan bumi lebih indah…”
Tetapi bagi sebagian orang sampah adalah rumah dan harapan.

***

MENGAKRABI PESONA DAN BAHAYA KAWAH IJEN

Tropper yang saya tumpangi melesat menembus malam. Tersorot lampu depan tropper, jalanan beraspal halus dari Banyuwangi kota menuju pos Paltuding Ijen tampak berkelok-kelok dibayangi sisi kiri dan kanan hutan lebat. Udara dingin menerobos melalui jendela tropper yang terbuka sebagian. Tidak terlalu dingin, hanya sekitar 17 derajat sehingga saya tidak perlu mengenakan jaket.

“Perlu waktu satu jam dari kota sampai Paltuding dan banyak cerita mistis di jalanan ini, nanti saya ceritakan waktu kita balik,” kata Aldo, pemandu pendakian, yang duduk di samping sopir.

Sebelum melambung sebagai kota wisata, kota ini memang lebih dikenal dengan sitgma kota mistis. Saya melirik sisi jalan yang menikung tajam dan curam. Tampak dua pohon besar menjulang tertutup kain putih pada bagian tengahnya. Pohon itu memang kelihatan angker, tetapi pikiran saya berkecamuk pada hal lain. Saya membayangkan perjalanan mendaki gunung Ijen sebentar lagi. Tentu tidak mudah dengan kondisi kaki kiri bermasalah meskipun sudah minum obat dan cukup tidur.

Pukul 01.30 dini hari, tropper tiba di pos Paltuding, titik berkumpulnya para pendaki. Belum banyak pendaki yang datang. Aldo mengajak saya memasuki salah satu warung yang berjajar di sana dan memesan segelas teh panas sebelum gerbang pendakian dibuka 30 menit lagi. Dua orang bule duduk di pojok warung sedang mengobrol.

Tiket memasuki kawah Ijen sebenarnya bisa dibeli secara online, namun fasilitas pengecekan tiket masih manual sehingga tidak ada bedanya dengan pembelian di loket tiket.  Menurut Aldo, pada musim liburan, antrian pembelian tiket sangat panjang sehingga sebagian orang tidak kebagian tiket bahkan kesiangan untuk naik ke puncak.

“Pendakian ini hanya sekitar 3,4 kilometer saja, melewati enam pos dan akan terbagi menjadi tiga bagian. Pertama pemanasan, kedua jalan menanjak dan ketiga landai seperti di jalanan Thamrin Jakarta. Setiap pos ada toilet namun tidak selalu ada air,” jelas Aldo.

Tepat pukul 2 saat gerbang dibuka, saya, Aldo dan Astrid, seorang teman wanita mulai mendaki. Tidak banyak pendaki malam ini, sebagian besar rombongan bule bersama pemandunya masing-masing. Dua ojek dorong yang diikuti enam orang penariknya mengikuti kami. Mereka sudah sejak di pos Paltuding menawari kami naik ojek dorong saja ketimbang capek mendaki.

Dengan ketinggian 2386 mdpl, jalanan mendaki dari Paltuding hingga puncak gunung Ijen hanya satu jalur. Lebar jalan ini ada yang seluas 3 meter dan 1,5 meter dengan sisi kiri dan kanan jurang. Kontur tanah berpasir akan memadat setelah hujan. Beruntung sebelum tengah malam tadi, Banyuwangi diguyur hujan sehingga lebih nyaman didaki. Sepatu hiking yang saya kenakan juga sangat membantu. Meskipun begitu, mendekati pos 1 yang menurut Aldo hanya pemanasan sudah terasa tanjakannya. Astrid tampak menunduk lemas ketika tiba di pos 1, sementara napas saya mulai ngos-ngosan.

“Naik ojek saja Mbak, masih lima pos lagi, tanjakannya berat,” kata penarik ojek dorong itu santai.

Astrid masih menunduk bertumpu tongkat, sementara wajahnya pucat. Kalau menggunakan ojek dorong memang lebih baik dari awal mengingat ongkosnya tidak murah yaitu Rp.800.000, pulang pergi. Saya mulai menimbang seandainya sampai pos 3 tidak kuat maka sangat rugi membayar segitu banyak. Saya duduk bersandar di pojok pos sambil minum beberapa teguk air. Kaki kiri saya baik-baik saja, tidak terasa sakit. Saya kemudian memutuskan terus berjalan kaki.

“Saya nyerah, naik ojek saja deh,” kata Astrid tiba-tiba membuat saya terkejut sekaligus was-was.

Aldo kemudian memesankan satu ojek dorong yang ditarik oleh tiga orang. Saya menitipkan ransel pada Astrid sehingga bisa lebih ringan berjalan hanya membawa air mineral dan tongkat. Astrid begitu cepat menghilang dibawa ojek dorong dalam kegelapan, sementara saya kembali mulai mendaki.

Bulan menjelang purnama menerangi pendakian. Tiga rombongan bule menyalip saya yang berjalan bagaikan siput. Tidak ada satupun bule naik ojek dorong bahkan mereka setengah berlari melewati tanjakan. Diam-diam saya iri kepada mereka. Terbiasa berjalan kaki dan terlihat sangat bugar. Saya terlalu dimanjakan dengan kendaraan ini itu saat bepergian sehingga terasa berat untuk mendaki.

“Ojek saja Mbak, itu tanjakan depan semakin parah. Mbak ndak akan kuat naiknya. Enak pakai ojek langsung sampai,” kata penarik ojek dorong saat saya berhenti setiap sepuluh langkah.

“Depan pos 4, habis itu jalanan kayak di Thamrin,” bisik Aldo menyemangati namun tidak memaksaku. “Sekali tanjakan lagi saja kita sampai.”

Mendadak saya merasa pendakian ini seperti kehidupan. Ada malaikat yang membimbing saya menuju tujuan yaitu Aldo dan ada setan yang terus menggoda agar saya menyerah dalam perangkap rayuannya yaitu para penarik ojek dorong. Konsep sok mendalam di kepala saya itu menolong saya terus berjalan dan mengabaikan tawaran mereka naik ojek dorong.

Bayangan tentang jalanan landai seperti di Thamrin lenyap saat berhasil melewati pos 4.  Jalanan semakin menanjak bahkan saya menemukan sudut-sudut dengan kemiringan 45 derajat yang sangat melelahkan. Saya hampir menyerah di pos 5, tetapi tawaran penarik ojek dorong justru memacu semangat saya untuk terus berjalan. Saya tipe orang yang saat ditantang atau diremehkan justru akan berkobar mengejar tujuan saya.

Sampai titik ini saya tidak mengatakan kepada Aldo bahwa terdapat kista di kaki kiri saya yang belum dioperasi. Seharusnya tidak memungkinkan untuk pendakian ini. Biasanya saya hanya kuat berjalan maksimal sejauh 5000 langkah di dataran. Itupun setelahnya saya harus istirahat satu atau dua hari agar kaki saya normal kembali. Tidak hanya itu, Aldo juga tidak tahu bahwa saya penderita hypertensi yang tergantung pada obat harian. Saya merasa bersalah menyembunyikan semua ini, tetapi saya ingin membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mampu melakukan ini. Saya sehat dan saya bisa!

Tiba di puncak, Astrid sudah menunggu sambil memandang berkeliling dari ketinggian. Jalanan landai ala Thamrin yang dikatakan Aldo hanya halusinasi semata. Hingga saya berhasil mencapai puncak, jalanan tetap menanjak meski tanjakannya tak sesulit saat melewati pos 4 dan 6.  Ada kegembiraan yang meluap saat mencapai puncak. Ternyata fisik saya tidak seburuk dugaan saya sendiri dan keluarga saya. Tetapi apakah setelah sampai puncak semuanya selesai? Oh, sepertinya belum.

Blue fire ada di bawah sana dengan medan berbatu terjal. Kalau berani turun, kita akan memulai perjalanan dari sana!” kata Aldo menunjuk gerbang kecil di ujung dengan senternya.

“Berapa jauh?” tanya saya mulai gamang.

“Butuh waktu 45 menit turun dan 45 menit naik. Tergantung kecepatan kalian. Kalau tidak mau kehilangan moment sunrise di atas sana harus cepat.”

Saya dan Astrid saling pandang. Tampak mata Astrid memberi kode untuk turun, mengingat dia tidak terlalu lelah karena naik ojek dorong, tetapi bagaimana dengan kaki saya? Medan terjal berbatu itu lebih sulit lagi. Saya melongok ke bawah dan tidak menemukan penampakan jalan yang akan kami tempuh selain hanya jurang dan tumpukan batu-batu dalam kegelapan. Saya menimbang-nimbang beberapa saat sebelum kemudian memutuskan yang terbaik.

“Ayo kita turun!”

BLUE FIRE DAN PEKERJA TAMBANG BELERANG

Jalan setapak berbatu terjal yang sulit dilihat pijakannya itu miring 45 derajat dan gelap. Hanya diterangi senter pada batu-batu yang saya pijak, samar-samar dalam terang bulan saya melihat sekeliling saya jurang. Salah pijak sedikit saja bisa menggelinding ke bebatuan yang tajam atau bahkan mendekati bibir kawah. Hanya sedikit pengunjung lokal yang turun ke bawah. Kebanyakan bule juga sudah berbalik arah ke atas. Mungkin mereka hanya perlu waktu 30 menit untuk sampai bawah.

Tujuan kami dini hari ini ingin melihat blue fire. Hanya ada di dua gunung aktif di dunia yaitu Indonesia dan Islandia, fenomena blue fire ini menjadi incaran pendaki manca negara. Orang lokal sendiri kebanyakan lebih suka menikmati sunrise di puncak ketimbang berlelah-lelah turun ke bawah dengan medan yang terjal. Sebagian orang lokal menyebut pemandangan itu hanya seperti kompor gas, jadi mengapa harus capek-capek turun melihatnya?

Panas bumi yang bertekanan tinggi bertemu dengan kandungan belerang sehingga terjadi oksidasi. Reaksi dari pembakaran belerang inilah yang kemudian menghasilkan panas dan cahaya. Oleh reseptor mata manusia diterima sebagai warna biru. Tidak salah jika orang lokal menyebut mirip api kompor gas, memang fenomena blue fire ini mirip kompor gas. Jika kompor mengalir melalui kapiler, blue fire Ijen keluar di permukaan belerang.

“Kita berhenti di pertengahan, jika api biru kelihatan dari sini tidak usah sampai bawah,” kata Aldo.

Sampai titik tengah kami membutuhkan waktu sekitar 30 menit, itupun nyaris seperti merangkak. Kami menepi di permukaan tanah datar dan melihat kejauhan pada titik lokasi blue fire. Belum tampak dari tempat kami berhenti. Setelah memasang masker gas, kami memutuskan meneruskan perjalanan turun.

Sekitar jam 4 dini hari, kami sampai di lokasi blue fire. Asap mengepul dari sisi kiri kawah dan seringkali terbawa angin menerpa pengunjung. Tidak main-main, asap ini terdiri dari karbon dioksida dan hydrogen sulfida. Jika terhisap akan merusak pernapasan bahkan mampu merenggut nyawa. Mata juga menjadi pedas dan berair saat terkena asap ini. Tetapi saya lihat para pekerja tambang hanya mengenakan kain penutup kepala bahkan tidak mengenakan apapun untuk melindungi pernapasan mereka. Beberapa orang menembus asap tebal itu untuk mengaduk-aduk belerang.

Tidak seperti dahulu, kini Blue fire hanya menyala kecil. Itupun dinyalakan dulu oleh penjaga tambang. Menurut salah satu pekerja tambang, jika dibiarkan terus menerus menyala, persediaan belerang akan habis. Maka mereka memilih jalan tengah, pekerja tambang dan wisatawan sama-sama mendapatkan manfaatnya.  Tambang tetap berjalan dan blue fire tetap menyala. Pengunjung juga disarankan memberikan uang seikhlasnya kepada penjaga blue fire atau lebih tepatnya yang menyalakan blue fire.

Tidak hanya asap yang sangat berbahaya untuk kesehatan, para pekerja tambang juga harus berhadapan dengan air kawah ijen yang memiliki kandungan asam sangat tinggi dan cukup mudah membunuh manusia. Bahkan sejak tahun 2012, sudah tiga kali terjadi tsunami kawah Ijen.

Pada 29, Mei 2020, gelombang setinggi 3 meter dari kawah menghantam areal pertambangan dan sekeliling cekungan kawah. Satu pekerja tambang tidak berhasil menyelamatkan diri dan ditemukan terapung di kawah esok harinya.

“Saya sudah duapuluh lima tahun bekerja di sini. Dari jam satu siang kemarin belum pulang,” kata seorang bapak penambang setelah menembus asap tanpa pelindung muka. “Demi anak istri, semua bahaya akan saya hadapi.”

“Teman saya meninggal waktu tsunami dua tahun lalu, sementara saya berhasil lari menyelamatkan diri. Tempat ini bahaya, makanya saya selalu mengingatkan pengunjung untuk hati-hati,” tambah bapak satunya.

Dua lelaki pekerja tambang itu memperlihatkan potongan-potongan belerang yang sudah dimasukkan ke dalam dua keranjang rotan. Dua rotan itu berisi sekitar 70 kilogram belerang yang akan mereka pikul melewati jalur terjal berbatu tempat saya turun tadi. Pundak mereka sudah mengeras kapalan selama puluhan tahun memikul. Sampai di puncak mereka memecah belerang menjadi lebih kecil dan memasukkan ke dalam karung. Dari puncak ke Paltuding mereka membawa belerang itu menggunakan troli. Dulu sebelum menggunakan troli, menurut Aldo mereka memikul belerang itu sampai Paltuding. Sebagian dari pekerja tambang ini juga menarik ojek dorong untuk pengunjung sehingga tak diragukan lagi kekuatan fisik mereka.

“Setiap hari para pekerja tambang mengumpulkan 150 sampai 200 kilogram belerang yang dijual ke pengepul dengan harga per kilogram Rp.1000 sampai Rp.1250. Penghasilan ini masih lebih baik ketimbang berladang,” kata bapak pekerja tambang itu.

Blue fire meredup pada pukul 05.00 pagi. Para wisatawan juga sudah berkumpul di puncak menunggu sunrise. Saya sudah merelakan ketinggalan sunrise karena perjalanan balik ke atas sudah pasti merangkak lagi. Tetapi perjalanan balik ke atas kali ini sudah terang sehingga kelihatan keseluruhan medan terjal yang kami lewati. Mengerikan tetapi juga luar biasa indah. Kami merangkak memutar di antara bebatuan seolah tidak berada di bumi.

Aldo selalu mengingatkan untuk menepi dan tidak menganggu perjalanan para pekerja tambang setiap berpapasan dengan mereka. Sambil memikul belerang seberat 70 kilogram ke puncak, para pekerja tambang menawarkan souvenir dari belerang dalam berbagai macam bentuk cetakan seperti kura-kura, ikan dan lain sebagainya dengan harga Rp.20.000 per biji. Belerang selain bisa dimanfaatkan untuk pertanian juga dapat digunakan untuk pengobatan.

SUNRISE DAN LOKASI INSTAGRAMABLE

Jelas sampai di puncak, saya ketinggalan sunrise. Pengunjung juga sudah mulai turun meninggalkan puncak Ijen sementara saya masih berjalan pelan menuju lokasi sunrise. Saya melihat pemandangan gunung lain yang ada di kompleks Pegunungan Ijen, di antaranya Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante dan puncak Gunung Merapi yang berada di timur Kawah Ijen. Berpadu dengan bukit berbatu yang saya daki, tempat ini memang luar biasa indah.

Sepanjang menuju lokasi sunrise, saya menemukan pohon-pohon mati yang sangat eksotis, gerombolan edelweiss yang tidak berbunga dan dahan-dahan pohon bekas terbakar. Kebakaran beberapa kali terjadi disebabkan para pendaki yang datang terlalu awal dan membuat api unggun karena  kedinginan.

Matahari memang sudah muncul, tetapi para pengunjung juga sudah turun sehingga tempat foto-foto instagramable menjadi kosong. Lokasi instagramable itu memang tepat berada di puncak dengan background Kawah Ijen yang berwarna toska. Tidak hanya pemandangan kawah yang sangat cantik, tetapi dahan-dahan mati juga menambah lokasi ini menjadi eksotis.

Semakin siang intensitas asap belerang semakin tinggi. Kawah Ijen yang berwarna toska tidak lagi terlihat selain hanya gumpalan-gumpalan asap. Di balik semua bahaya yang mengincar pekerja tambang maupun pengunjung, pemandangan puncak Ijen memang luar biasa mempesona. Bahaya dan pesona yang membuat saya merasa lebih akrab dengan Tuhan. ***

Ijen, Mei 2022

JOGJA, PANDEMI YANG MENGENDAPKAN RINDU

Setelah dua tahun saya tidak keluar kota, saya memutuskan untuk mengunjungi Yogjakarta begitu kondisi membaik. Dengan memantau pergerakan kasus yang semakin hari semakin mengecil, saya memberanikan diri memesan tiket kereta. Kenapa ke Jogja? Ya, saya tidak tahu lagi tempat yang paling saya rindukan selain Jogja. Benar memang, ada satu kalimat yang mengatakan bahwa Jogja itu terbuat dari angkringan dan rindu. Begitu juga saya, tidak kuat menahan rindu begitu lama saat tidak bisa mengunjungi Jogja. Tidak ada kejadian istimewa sebelumnya yang membuat saya menjadi seperti itu, tetapi sepertinya Jogja memang memikat hati banyak orang. Bahkan ada harapan kecil di hati saya, untuk bisa menghabiskan hari tua di Jogja.

 

 

Baiklah, kejauhan mengkhayalnya. Singkat cerita, akhirnya saya memesan tiket kereta ekonomi ke Jogja. Seorang teman nyeletuk, pasti kamu kangen duduk tegak di kereta ekonomi, ya? Pasti kamu ingin mengulang kegilaan masa lalu ya? Padahal kereta ekonomi zaman sekarang itu sudah bagus lho! Dan saya enjoy menikmati perjalanannya. Penumpang kereta menjaga prokes dengan baik dan kereta juga bersih. Saya memesan penginapan tidak jauh dari stasiun kereta sehingga dengan mudah saya menjangkau tempat itu untuk istirahat setelah delapan jam perjalanan dari Jakarta.

 

Pandemi belum berakhir, sehingga saya memutuskan untuk menjaga prokes dengan ketat. Begitu memasuki kamar hotel saya melepas semua pakaian dan menyingkirkan ke dalam tas tersendiri lalu mandi keramas dengan banyak sabun. Setelah merasa bersih, saya memesan makanan secara online agar tidak keluar kamar lagi. Begitu makanan datang saya makan lalu istirahat.  Saya tidak mau kecapekan.

Lalu baru esok harinya saya melihat-lihat Jogja. Entah mengapa, saya merasa kota ini menjadi lesu dan tidak bergairah. Sepertinya pandemi telah mengubah segalanya. Jalanan yang terasa sepi dan orang-orang yang terlihat tidak bersemangat. Bahkan saat saya menyusuri pinggiran alun-alun utara, saya merasa tidak di Jogja. Saya masih menghindari keramaian sehingga memutuskan untuk ke Gunung Kidul. Tujuan pertama saya adalah  Desa Wisata Nglangeran. Menurut saya berwisata ke alam masih lebih aman ketimbang berada di antara banyak orang. Sopir yang mengantar saya juga antigen lebih dahulu sehingga saya merasa lebih tenang.

Bagaimanapun lesunya di dalam kota, begitu tiba di Gunung Kidul saya terpesona. Desa Wisata Nglangeran ini menurut berita yang saya baca banyak meraih penghargaan sebagai desa wisata terbaik. Ada wisata alam, geologi, sejarah, dan kuliner di sini. Sebenarnya saya ingin mengunjungi puncak Gunung Api Purba yang menjadi ikon desa wisata Nglangeran dan sudah diakui UNESCO sebagai situs Geopark Global Gunung Sewu. Tetapi saya tidak menyiapkan fisik dan perbekalan untuk hiking. Akhirnya saya hanya bisa menikmati pemandangan gunung itu dari bawah. Padahal jika sampai puncak, kita bisa menikmati pemandangan Gunung Kidul dari ketinggian.

Jangan sedih dulu, jika tidak siap hiking sampai atas, kita masih bisa menikmati ketinggian dari waduk Embung Nglangeran. Danau buatan ini jernih dan berada di ketinggian. Pecinta lokasi instagramable pasti suka berada di sini. Saya tidak begitu suka segala sesuatu yang dibuat manusia dengan sengaja, tapi tempat ini sangat indah apalagi saat melihat tempat yang jauh dari ketinggian. Sangat rekomended.

Setelah dari Nglangeran yang baru kali ini saya kunjungi, saya menuju tempat lain yang juga baru sekali itu saya kunjungi. Yaitu, situs Warungboto. Beberapa waktu lalu, situs ini ngehits karena putri Presiden foto prewedding di sini. Begitu melihat dari sisi jalan saya yakin itu tempatnya. Tetapi sopir online mengatakan itu kuburan. Ya memang, situs Warungboto berdekatan dengan kuburan, tetapi jangan salah masuk karena ada petunjuk yang jelas.

Seorang bapak paruh baya sedang membersihkan bagian depan situs saat saya memasuki halaman situs Warungboto. Dan Pak Sugiyono mengatakan bahwa situs belum buka karena pandemic. Tetapi saya diizinkan mengambil foto-foto dari luar. Baiklah, tidak masalah. Situs ini dari depan tampak memiliki tiga bagian. Dua samping kiri dan kanan kemudian bagian tengah yang paling besar. Bagian kanan merupakan restorasi dari bangunan lama yang sudah runtuh. Menurut Pak Sugiyono, bangunan ini berhubungan dengan Taman Sari. Kalau Taman Sari merupakan tempat para putri, sementara Warungboto merupakan pesanggrahan raja. Memang arsitektur bangunannya sangat mirip dengan Taman Sari. Saya hanya bisa melihat-lihat dari luar sehingga tidak bisa mengenali bagian dalamnya.

Baru malam harinya saya mengunjungi Malioboro dan nongkrong di depan Malioboro Mall. Tetapi entah mengapa, aku merasa kota ini menjadi sedih karena hantaman pandemic. Bahkan saat duduk menikmati malam, Malioboro juga terasa mati. Orang-orang berjalan melewati Malioboro dengan semangat yang hanya sisa. Bisa jadi itu hanya aura yang saya tangkap sendiri, mungkin orang lain tidak merasakannya. Tetapi bagaimanapun, ketika saya meninggalkan Jogja, hati saya masih tertinggal di sana. Selalu ada janji untuk kembali. Ke Jogja suatu hari nanti. Dan memang, janjiku selalu kutepati untuk menumpahkan segala rindu yang mengendap.

HORAS MENJUAH-JUAH!

Menjelajahi sebagian Sumatera Utara sebenarnya tidak ada dalam rencana saya. Tapi karena tujuan utama saya ke Aceh gagal, akhirnya saya memutuskan keliling Sumatera Utara. Tidak banyak yang saya lihat karena saya hanya punya waktu sehari dari pagi sampai malam, tetapi lumayanlah. Dengan mobil sewaan dan seorang sopir sepuh yang lihai menyetir saya berangkat pukul 9 pagi mengelilingi Sumatera Utara.

 

Tujuan pertama saya Danau Toba karena cukup jauh, sekitar 5 jam perjalanan dari tempat saya menginap di kota Medan. Tempat ini sudah pasti sangat touristik, tapi ini salah satu tempat yang ada dalam mimpi saya untuk dikunjungi. Saya mengenal Danau Toba dari buku bacaan dongeng yang dibelikan Ibu waktu saya kecil. Ada banyak kisah tentang Danau Toba di buku itu membuat saya bermimpi untuk mengunjunginya kelak. Meski tidak sengaja, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi itu.

Mobil melintasi hutan sepanjang perjalanan menuju Danau Toba dan mampir membeli Lemang, makanan khas Medan yang dijual di pinggir jalan. Lemang menyerupai lemper kalau di Jawa, enaknya dimakan saat hangat. Sepertiga perjalanan kemudian, mobil mampir di Vihara Avolakitesvara yang terletak di Jalan Pusuk Buhit, Pematang Siantar. Vihara yang menjadi salah satu destinasi wisata lintas agama ini terletak di ketinggian dengan pemandangan yang indah dan terdapat patung Dewi Kwan Im yang tingginya mencapai 22,8 meter.  Menurut Pak Sopir, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan pada weekend dan sore hari. Saya tiba di Vihara tepat jam 11 siang sehingga panasnya luar biasa. Saya hanya singgah 30 menit mengambil foto lalu melanjutkan perjalanan karena tidak kuat dengan panasnya.

Hampir jam 1 siang saat saya tiba di pinggiran Danau Toba dan disarankan makan siang di salah satu warung makan pinggir danau oleh Pak Sopir. Makanannya sebenarnya masakan padang tapi ada juga beberapa makanan khas seperti jus Martabe dan ikan pora-pora goreng. Jus martabe terbuat dari markisa dan terong Belanda yang ditambah dengan potongan lidah buaya. Sementara ikan pora-pora adalah ikan air tawar yang berasal dari Danau Toba.  Saya suka dua makanan ini, sangat suka malahan.

Setelah sholat dhuhur di warung ini, saya jalan ke sekiling Danau Toba, tapi di spot ini tampak kurang menarik. Tidak ada yang bisa saya lihat selain tulisan Selamat Datang di Danau Toba dan panas tengah hari yang menyengat. Mungkin dari Samosir, Danau Toba tampak indah tapi sayangnya saya tidak punya waktu ke Samosir.  Pak Sopir menyarankan saya melanjutkan perjalanan ke air terjun Sipiso-piso dan singgah sebentar di spot lain untuk melihat Danau Toba jika dari spot ini kurang memuaskan. Saya setuju kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Spot lain yang lebih menawan untuk melihat Danau Toba itu adalah di depan Rumah Pengasingan Bung Karno di Parapat. Tempat yang dulunya perkebunan milik Belanda ini lebih sejuk dan pemandangannya sangat indah.  Bung Karno pernah diasingkan ke sini selama dua bulan bersama Agus Salim dan Sjahrir.  Saya sebenarnya ingin masuk ke dalam rumah pengasingan Bung Karno ini, tetapi pintunya dikunci dan tidak ada penjaganya, mungkin sedang sholat karena masih waktu dhuhur. Akhirnya saya hanya duduk beberapa saat di depan rumah ini untuk menikmati Danau Toba dari kejauhan lalu melanjutkan perjalanan.

Pak Sopir sebenarnya ingin mengantar saya ke banyak lokasi menarik, tetapi waktunya tidak akan cukup. Akhirnya kami memutuskan ke air terjun SiPiso-Piso kemudian mampir Berastagi. Sepanjang perjalanan menuju SiPiso-Piso, saya minta berhenti beberapa kali karena menemui ladang bunga matahari dan deretan bunga-bunga yang indah. Pak Sopir sangat sabar membiarkan saya foto sepuas-puasnya di spot tersebut. Sampai tiba di air terjun SiPiso-Pisopun saya kesorean.

Air terjun SiPiso-Piso sebenarnya sangat keren. Air terjun itu menyembur dari celah bebatuan tinggi dan pengunjung bisa menikmatinya sepanjang perjalanan menuju dasar air terjun. Perlu waktu sekitar 1 jam berjalan kaki mencapai dasar air terjun, tetapi saya hanya sampai separuhnya karena kuatir keburu malam. Sepanjang berjalan menuju dasar air terjun melalui jalanan berundak rapi yang kiri kanan tampak pemandangan hutan hijau yang menakjubkan. Sayangnya tempat indah ini kurang didukung dengan fasilitas yang memadai. Toilet yang kurang bersih dan sampah yang bercecer dimana-mana. Belum lagi tempat parkir yang kurang rapi dan terkesan sembarangan. Tepat jam 5 sore saya melanjutkan perjalanan.

Berastagi masih jauh, tetapi Pak Sopir sepuh masih semangat mengantarkan saya. Beliau semangat bercerita perbedaan Horas dan Menjuah-Juah. Meskipun keduanya sama-sama sapaan salam, tetapi Horas lebih banyak digunakan oleh suku Batak sementara Menjuah-Juah lebih banyak digunakan suku Karo. Beliau juga menyarankan saya mampir ke pasar buah Berastagi meskipun sudah malam. Katanya sayang kalau sudah sampai sini tidak mampir pasar Buah Berastagi.

Saya hanya melihat Sumatera Utara dalam beberapa jam, tetapi kota ini menarik. Saya belum tahu banyak seperti apa di dalamnya selain hanya cerita-cerita dari Pak Sopir. Semoga lain kali memiliki kesempatan lebih baik untuk ekplore sehingga bisa mengenali lebih dalam. Horas! Menjuah-Juah!