RANI AULIA : SOLO TRAVELER YANG MERDEKA

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya mengagumi traveler wanita yang satu ini. Saya belum pernah bertemu dengannya secara darat, tetapi saya mengikuti perjalanannya keliling dunia melalui sosial media. Pada 2016, Rani Aulia memulai perjalanan solo travelingnya selama 333 hari mengunjungi 22 negara  diantaranya Eropa, Kanada, Norway, Maroko, Turky, Iran, Georgia, India dan ratusan kota di dalamnya.  Mengaku sebagai sosok yang takut ketinggian, takut air, takut naik motor dan takut pada ulat bulu, wanita yang akrab di sapa Teh Rani ini sempat tidak percaya mampu bertahan solo traveler selama setahun. Perjalanan itu kemudian mengawali perjalanan-perjalanan menakjubkan lainnya seperti yang terbaru solo traveling menjelajah Afrika dalam 3 bulan.

Jika melihat dari sosial medianya, gaya perjalanan Teh Rani sangat membumi dan merdeka. Menyusuri berbagai negara dengan gembira, berbaur dengan warga lokal dan berusaha mengenali kehidupan orang-orang lokal.  Saya kemudian mengirimkan email untuk ngobrol-ngobrol dengan Teh Rani dan mengajaknya berbagi di SHARING seribulangkah.com/. Berikut ini obrolan saya dengan Teh Rani, semoga saja menginspirasi teman-teman yang ingin solo traveling juga seperti Teh Rani.

Hai Teh Rani, apa kabar? Saat ini sedang traveling di negeri mana? Ceritakan dong sedikit tentang diri Teh Rani. Ada nggak pengaruh keluarga yang membuat Teh Rani suka traveling?

Halo… kabar baikk… saat ini kebetulan lagi di Indonesia, lagi liburan… Halo halo nama saya Rani asal dari Bandung, saya seneng traveling ga ada pengaruh dari siapa-siapa ya.. dari dulu emang seneng jalan-jalan muter-muter kayak gangsing.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani sejak masih kerja sampai travel around the world.  Ada nggak proses ragu-ragu saat memutuskan keluar dari pekerjaan lalu traveling ?

Perasaan ragu jelas ada ya, itu salah satu keputusan besar yang saya buat, biasanya saya resign untuk pindah kerja ke tempat lain tapi waktu itu saya resign untuk memburu mimpi saya nyoba traveling menyusuri dunia dalam waktu yang lama. Galaunya lamaaaa banget, karena sejujurnya saya udah nyaman dengan pekerjaan saya, teman-teman yang cocok banget, tapi emang desire untuk traveling dalam waktu lama tinggi banget, karena saya kesel cuman bisa traveling 10 hari mana ijinnya cutinya repot lagi, tiap pengen traveling dilema karena cuti, jadinya ya dengan bersimbah air mata saya lapor pak boss mau resign..

Apa sih Teh yang perlu dipersiapkan sebagai cewek untuk menjadi solo traveler seperti Teh Rani? Bagaimana reaksi keluarga saat Teh Rani berpamitan untuk solo traveling? Lalu apa kendalanya di perjalanan dan bagaimana mengatasinya?

Siapin niat dan mental aja dulu, kadang saya bingung sama pertanyaan begini hahhahaha karena sejujurnya tidak ada yang saya siapkan, saya ini penakut banget, naek motor aja saya takut, dibonceng orang saya takut hahahahhah tapi mungkin tiap orang racikannya beda ya.. ada yang emang berani di sisi ini ada yang berani di sisi itu, ada yang belajar motor itu easy peasy tapi buat saya belajar motor itu menggerikan. Tapi sebetulnya kalau udah ada niat kita pasti bisa, apapun itu yang kita hadapi di jalanan kita pasti bisa menghadapinya, karena emang insting survival itu pada dasarnya ada di racikan masing-masing manusia. Reaksi keluarga, shock haha waktu itu saya bawa kabarnya pas mama lagi di opname di rumah sakit lagi, biasanya kalo mama lagi di sakit gitu bawaanya mellow gitu.. taulah jadinya ngobrol kemana-mana, waktu itu mama sama kakak saya lagi serius ngajak ngobrol, nanya kapan saya punya niatan menikah hahahahahha tapi sama saya malah dijatuhin bomb, mau resign trus pergi traveling selama setahun, mama shock berat, kakak saya nyoba menerima dan beliau memberi pengertian ke mama. Kendalanya  banyaklaah.. tapi yang utama sih masalah pasport, pasport kita lemah banget kemana-mana butuh visa, jadinya opsi untuk long trip gitu jadi terbatas. Mengatasinya ya cari rute yang free visa atau bisa e-visa atau voa. Kendala lainnya mungkin karena saya itu orangnya clumsy dan pelupa lupa ini itu yang akhirnya banyak drama, istilahnya you name it lah gara-gara kecerobohan saya, rasanya semua pernah yang belum itu ilang pasport (amiiiit amiiittt jabang bayiiii.. jangan sampai yaaa), bahkan saya pernah jatuh ketimpa tangga ketimpa anak tangga lagi. Key bca diblokir trus dompet ilang terus ketinggalan pesawat tanpa uang yang tersisa. Bayangkan.. kemping di bandara Casablanca selama seminggu sampe akhirnya berhasil keluar bandara.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani setahun ke berbagai tempat dengan biaya minim dan menurut saya itu sangat menarik. Bagaimana mengatur bujet perjalanan dengan biaya seperti itu?  Bagaimana jika terjadi sesuatu di perjalanan, apakah Teh Rani mempersiapkan second plan misalnya tabungan lain untuk mencover perjalanan?

Sebetulnya ga ada istilah mengatur budget saking minimnya budget saya, uang perhari saya hanya cukup untuk biaya transportasi ama makan aja, saya selalu nyari tumpangan tidur makan-pun ga pernah ke restaurant paling cuman roti sama telor saja, dengan budget yang saya punya, beneran ga ada pilihan. Saya ga punya tabungan lain untuk mencover perjalanan, ya intinya sih harus hati-hati supaya meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang berujung saya harus mengeluarkan dana lebih. Walaupun ada asuransi perjalanan tetap hati-hati.

Saat ini sudah berapa negara yang Teh Rani kunjungi dan negara mana yang menurut Teh Rani paling berkesan sehingga ingin kembali dan kembali lagi?

Berapa negara ya.. udah lupa, udah ga pernah ngitung lagi hahhahaha.. yang berkesan banyak, tapi Switzerland, Norwegia itu 2 negara langganan, yang setiap tahun saya pasti kembali kesana untuk menikmati alamnya. India Jepang atau Korea itu lebih ke karena saya ada ikatan aja, ntah itu untuk maen snowboarding atau untuk meditasi.

Menurut Teh menarik mana traveling di Indonesia atau di luar negeri? Apa sih kemudahan dan kesulitan masing-masing itu.

Kalo saya bilang sama menariknya karena mau sok nasionalis, artinya saya bohong hahahha, tbh traveling ke luar lebih menarik, berada di tempat dimana saya tidak bisa bahasa mereka tidak familiar dengan keadaaanya itu lebih menarik aja. Kemudahan traveling di Indonesia itu saya familiar dengan bahasanya jadi gampang bertanya kalo nyasar sedangkan di luar harus keluar sedikit energi untuk bertanya karena bahasa yang berbeda, kesulitan traveling di Indonesia itu mungkin transportasi ya, ujung ke ujung belum terkoneksi dengan bagus, sebetulnya di luar juga sama ada banyak yang masih dibawah Indonesia, transportasinya banyak yang masih berantakan, secara saya seneng buat eksplore negara2 yang emang kurang familiar bagi para turis-turis karena aksesnya susah.

Saya melihat dari sosmed Teh Rani banyak menjalin persahabatan saat traveling dan itu sangat menyentuh. Bagaimana menjalin persahabatan melalui perjalanan karena tentu mereka memiliki karakter yang berbeda dari masing-masing negara. Orang mana yang menurut Teh paling mudah menjalin persahabatan?

Kadang kalo gitu itu semacam takdir aja gitu, kita berada di frekuensi yang cocok sehingga kita cocok aja, saya di host sama seorang wanita di Tromso dan sekarang dia jadi teman baik saya, mungkin pemikiran frekuensi kami sama sehingga kami cocok, dan karena itu saya akhirnya mendapatkan kesempatan eksplor Norwegia utara secara gratis, diajak roadtrip sampe ke perbatasan Rusia. Tromso itu kota yang sangat mahal tapi saya selalu bisa kembali kapan saja tanpa harus membayar penginapan, yang ada temen saya itu merasa senang karena saya menyempatkan diri untuk mengunjungi dia di Artic Circle. Terus pernah ketemu tiga orang traveler dari Polandia di Gergeti Triniry church di Kazbegi pas winter, kita cuman sapa-sapaan yang berakhir janjian dinner bareng dan sekarang mereka jadi teman baik saya, beberapa kali kami bertemu lagi dan beberapa kali saya sempatkan untuk mampir ke Warsaw bertemu mereka. Kalo seperti pas traveling di Afrika ya saya berusaha untuk menyapa orang lokalnya dan berinteraksi dengan mereka karena berkomunikasi dengan orang lokal itu hal yang sangat menarik buat saya, mengetahui keseharian mereka, cerita mereka, hal-hal itu merupakan hal yang menarik dan itu juga sebagai bahan cerita saya nanti saat pulang.

Teh Rani juga kemudian bikin paket trip. Bagaimana syaratnya bisa bergabung dalam paket trip Teh Rani?

Ga ada syaratnya sih. Tinggal cepet-cepetan daftar aja. Syaratnya harus tau siapa saya, harus tau model traveling saya gimana biar nanti ga kaget begitu join ama tripnya. Kemana aja? Negara2 yang punya view bagus macam New Zealand, Iceland, Canada, India, atau less tourist macam Mongolia, Georgia. Itulah kenapa kadang saya suka nanya “tau saya ga? tau gimana cara saya traveling ga?” soalnya kalo tau, saya yakin yang manja-manja udah menjauh duluan hehehe.

Masih ada nggak negara yang dicita-citakan tetapi belum dikunjungi? Kenapa belum bisa ke sana?

Ga ada hahahahhahha.. semua negara yg ingin saya liat sudah saya liat, sisanya ya mungkin negara-negara lain yang punya jajaran pegunungan yang belum saya liat. Kalo cita2 sih saya pengen ke Kutub Utara or Selatan, itu tuh negara bukan sih?

Teh Rani juga pecinta K-Pop ya, group apa sih yang paling Teh Rani sukai dan kalau nggak salah perjalanan ke konser-konser K-Pop menjadi perjalanan yang dinikmati secara pribadi. Ada nggak nanti akan dinikmati rame-rame sama paket tripnya?

Saya bukan pecinta K-Pop saya pecinta BTS hahahahahha.. mengikuti world tour BTS itu betul-betul perjalanan yang seru. Sabtu – Minggu nonton konser, Senin – Jumat traveling  atau eksplor kotanya. Ga ada bedanya dengan Backpacking biasa, tinggal di penginapan murah di outskirt city sehingga jadi tantangan saat pulang konser yang notabene diatas jam 10 malam, ya pada intinya nonton konser tapi dengan dibarengi oleh skill backpacking yang mumpuni itu sangat menguntungkan sehingga budget yang dikeluarkan itu ga terlalu besar. Saat orang lain habis puluhan juta untuk sekali nonton konser, dengan jumlah yang sama saya bisa pergi 6 kali konser di 3 kota berbeda.  Trus lagi mengikuti world itu sangat menarik karena saya berpindah-pindah tepat, jadi biar ga hanya konser aja biar lebih berfaedah ya sambil traveling, Sabtu Minggu saya jingkrak2 sisanya saya pake buat discover kota yang saya datangi. Wah enggak deh, nonton konser itu Me-Time.. kalo barengan oke, tapi kalau harus ngurus orang lain enggak deh, soalnya dapat tiket konser BTS itu susah dan kalau momentnya dihancurkan orang lain bisa-bisa saya menyesal seumur hidup hahaha

Kalau disuruh memilih, lebih suka investasi pada pengalaman perjalanan atau investasi barang-barang? Kenapa?

Investasi pengalaman donk, karena menyenangkan aja. Menceritakan pengalaman kita ke orang lain itu menyenangkan sekali. Membahagiakan sekali. Storytelling itu hal yang paling membahagiakan buat saya.

Setelah keliling dunia nanti, ada nggak cita-cita lain yang pengen Teh Rani capai? Apakah masih berhubungan dengan traveling?

Ga ada, saya punya keinginan apa-apa. Cuman pengen menjalani hari demi hari rileks, jauh dari prahara dan tetap bahagia.

Kasih semangat dan tips dong Teh buat traveler cewek yang masih takut melakukan perjalanan sendirian seperti saya ini.

Kamu kuat! Kamu bisa! Salah satu yang paling menyenangkan buat saya saat traveling adalah saat saya menemukan kalo saya itu bisa, saya lebih kuat dari yang saya pikirkan.

Terima kasih Teh Rani!

(Semua foto diambil dari facebook Rani Aulia)

 

MOSKOW : BERBURU MATRYOSHKA DI IZMAILOVO MARKET

“Jangan lupa beliin aku Matryoshka ya, Ci,” pesan ponakan beberapa hari sebelum saya berangkat ke Rusia. Matryoshka merupakan boneka khas Rusia yang di dalamnya terdapat boneka-boneka dengan ukuran lebih kecil. Model-model boneka ini bermacam-macam mulai dari karakter dongeng, pemimpin salah satu negara tertentu sampai gadis petani Rusia. Matryoshka berasal dari kata Matryona yang merupakan nama dari seorang wanita bertubuh gemuk sehingga di dalamnya terdapat banyak boneka lain yang lebih kecil.

Menurut sejarahnya, boneka Matryoskha diperkenalkan pada Pameran Dunia di Paris pada tahun 1900. Seorang pelukis bernama Sergey Malyutin membuat sketsa matryoskha dan meminta bantuan Vasiliy Zvyozdochkin, seorang pengrajin kayu untuk membuat matryoskha. Malyutin kemudian mengecat boneka tersebut menjadi sosok gadis manis yang menggunakan pakaian tradisional Rusia, lengkah dengan kerudungnya dan pernak-pernik khas Rusia lainnya. Sejak di perkenalkan pada pameran di Paris itu, matryoskha kemudian diproduksi besar-besaran di Sergiyev Posad, sebuah wilayah pinggiran Moskow yang hingga saat ini daerah tersebut menjadi pusat kerajinan matryoshka di Rusia.

Sayangnya, saya tidak sempat mengunjungi Sergiyev Posad karena mepetnya waktu backpacking saya di Rusia. Saya hanya mengunjungi Izmailovo market karena menurut informasi banyak menjual boneka matryoskha sekaligus souvenir khas Rusia. Maka, pada hari Jum’at sore, sebelum saya pergi menonton sirkus, saya menyempatkan diri berburu matryoskha di Izmailovo market.  Saya hanya punya waktu 3 jam untuk naik metro, mencari-cari lokasi pasar hingga membeli barang yang saya cari. Apalagi ternyata saat cek di internet, hari Jum’at itu pasarnya libur. Tetapi saya dan teman saya nekat pergi ke Izmailovo market.

 

Izmailovo market terletak di Moskow bagian timur dapat dijangkau dengan metro line 3 dan turun di Partizanskaya Station. Dari stasiun ini bisa jalan kaki sekitar 10 menit menuju Izmailovo market. Di depan Izmailovo market ada Izmailovo kremlin yang di dalamnya terdapat museum juga. Tetapi saya tidak sempat mampir karena kuatir telat nonton sirkus. Jadi setelah makan di mall dekat pasar, saya buru-buru ke pasar yang ternyata sepi. Memang hari Jum’at sebenarnya pasar tutup, tetapi masih ada beberapa kios yang berjualan.

Begitu memasuki pasar, penjual souvenir yang lancar berbahasa Indonesia langsung memanggil saya. Mereka hapal pengunjung dari Indonesia suka belanja sampai mereka bisa berbahasa Indonesia. Deretan souvenir khas Rusia dan boneka Matryoskha berbagai ukuran tampak sangat menarik di beberapa kios. Bahkan pasmina-pasmina buatan Khasmir juga berderet diantara souvenir-souvenir itu. Saya memilih beberapa souvenir dan matryoskha untuk oleh-oleh. Harga di pasar ini cukup miring meskipun kalau dibandingnya dengan souvenir di Arbat Street tidak jauh-jauh juga jika kita tidak bisa menawarnya. Mungkin pada hari lain saat kios-kios di pasar Izmailovo buka semua pasti lebih semarak. Saya hanya mengunjunginya sekilas karena mengejar waktu dengan suhu 8 derajat sehingga sangat kedinginan. Tepat jam 5 sore saya berlari kembali ke stasiun metro untuk mengejar waktu nonton sirkus.  Duh, sayang sekali saya tidak bisa kembali ke pasar itu esok harinya karena sudah kecapekan. Harusnya lebih banyak yang bisa saya ceritakan jika saya bisa kembali. Mungkin lain waktu saya akan kembali. Semoga.

HARRY FEAR: THE BRITISH JOURNALIST WHO WILL INSPIRE YOU!

Harry Fear is best known for his unique live video streaming coverage of the Gaza – Israel conflict in 2012 on RT news channel (formerly Russia Today) which is pioneering the use of wartime video streaming.  He covered several of France’s recent terrorist incidents; the historic closure of the Calais ‘Jungle’ camp; anti-migrant violence and the rise of the far-right in Europe; the Greek Debt Crisis; and Turkey’s ongoing crackdown on dissent. Harry is also a keen public speaker and has spoken to audiences on five continents. He has delivered three TEDx talks (Challenging Realities, the Mainstream Media and You; The Globalised Heart; and Passionate, Political, Personal Development) – (source www.harryfear.co.uk)

Harry Fear is a passionate journalist and proficient behind the camera. He filmed a documentary film, A Matter of Hope, about HIV/AIDS in South Africa (2010), Gaza Still Alive (2019) and currently working on a ‘mini documentary’ for a startup educational NGO called Africa Innovate in Malawi. Getting in touch with Harry was easier than expected. He is a good friend who is humble and very pleasant. We talked about many issues and  I have decided to share our nice conversation here.

Assalamu’alaikum wr.wb.  Can you tell me a bit about yourself?

Wasalam! I’m a 30-year-old British journalist and filmmaker, best for my wartime coverage of Palestine and my political and social reporting from the UK. I’ve been lucky to travel to a large number of countries and have been privileged to have witnessed or reporter on all types of extraordinary and historic events – two Israel–Gaza wars, the (so called) European refugee crisis, the aftermath of terrorist attacks and various socioeconomic and political stories.

Your documentary about Palestine a couple of years ago was viral, and the world could see what’s happened there in Gaza, Palestine. What  motivates to filming about Palestine? And how did you get a chance to cover stories about Palestine?

It was a blessing that the work I was doing back then to raise awareness about the horror of war in Gaza was seen by so many people. I’m very grateful that I was able to have some positive effect in exposing the unacceptable truth that is so often suppressed. I first visited Palestine as an eyewitness citizen journalist when I was 22 years old. With the help of Palestinian friends and local hospitality, I simply used by self-developing skills in media to report what was happening. The chance was open to anyone as the Egypt–Gaza border in particular largely reopened in 2012 as Egypt’s Morsi was then in power.

Does this documenting about Palestinian encourage you to convert to Islam?

The Palestinians faith in life (steadfastness [AR: “sumud”]) and their psychospiritual resilience definitely informed my inspiration of Islam. But I was more touched by experiences in the UK that led me to practically find Islam. However, it was, indeed, of political context my finding Islam – given rampant Islamophobia in the UK and the very real political attack vectors with their sights on Islam, Muslims and Muslimness.

I follow your social media and see your post. Is your post on social media the same as your daily life? Is there any difficulty you have faced to learn about Islam? How do you handle it?

Well, let’s raise a red flag. Social media doesn’t indicate anyone’s piety or faithfulness. I do admit, though, that I love to use Instagram as a place where I can be spiritually and religiously fully expressive. I save that for Instagram and have a quite different audience there to the other social media platforms. Being consistency (that is, avoiding hypocrisy) is something we all struggle with and I’m not going to pretend that I don’t face that also (!). As for troubles I’ve faced with Islam, they are many; and too many to go into here. But above all, Islam is amorphous and means different things to different people. Some things like the 5 daily prayers are more static and less contentious, but most else is quite various and even controversial. Finding one’s own authentic and integrated Islam is thus quite difficult if one wants to be authentic and not adopt a particular sub-culture or sub-ideology of Islam. I can say it took me years to find and realise what ‘my Islam’ was going to be. As for how I handle social media and my faith: the main thing I do is try to avoid posting photographs of myself as I’ve come to see that modesty is extremely important and the spiritual, social and psychological harms that come from the excesses of ego and vanity in the social media space are enormous and cancerous. I’ve come to prefer to keep photos of myself to a minimum thus.

Being a journalist and filmmaker must make your travel around the world to filming about a lot of things. How many countries have you visited? What’s your favorite country and why? Do you want to get back to that country?

Over the last decade in media, I’ve been privileged enough to travel a lot. I’ve just visited Malawi for the first time. I’ve visited about 33 countries. My favourite country is easily Egypt. I find the people the most warm, friendly, honest and down to earth. Those are qualities that I find life affirming to feel and convect. I also found Canada very positive. Sweden, too. Malaysian food is the best in the world for taste. I’d love to visit Tunisia and Lebanon next. For the last two years, I’ve carbon offset all of my flights, which is a duty (and privilege) I feel strongly about.

It is difficult now to trust the media. A lot of times journalists write news not based on the facts or even framing with specific purposes. What is your opinion about it?

Well, news should be based on facts. If it is based on falsehoods or distorted facts, it’s what’s been come to be called ‘fake news’.There is a lot of opinion, though, these days – op-eds and analysis pieces –, which should be marked as opinion (rather than news) according to best practices. But, it’s, indeed, true that politicians are less and less adequately challenged on the falsehoods and distortions they present, which has led to a diminishing of journalism and a weakening of citizens’ trust in their media. Framing is everything, indeed. Framing is how a story’s pillars are formed, which informs (no pun intended) what facts are chosen and what ‘moral of the story’ is thus given. But it’s important to illuminate that agenda is also important. Agenda is the real power that we often don’t think of. The journalists bosses are somehow the TV/press outlets’ editors, who decide which countries or policies or people or stories are covered at all. If you can exclude certain stories from people’s vision, how you frame a story becomes strongly subsidiary. These days stories are often chosen, framed and produced around intentions of what’s “normative” (i.e. mainstream), “commercially viable” (i.e. able to grab people’s attention), “professional” (i.e. based on conventional corporate wisdoms). The titular quote comes to mind: “you can’t be neutral on a moving train”. The normative, commercially viable and professional media therefore are small-C conservative of certain power structures and prejudices. This explains why media coverage very much shapes our perception of events as well as our ability to reimagine reality. I recommend a great book “How to Re-imagine the World: A Pocket Guide for Practical Visionaries”. What’s needed is sustained (crowd-funded) alternative media that shows up (and indirectly trolls) the corporate media and its literally insane coverage.

I watched your new documentary “Gaza Still Alive” which is in my opinion, is so inspiring. What do you want to say through this documentary?

‘Gaza: Still Alive’ was a passion project more than a year in development from conception to release. It is the culmination of my war and security reporting in Gaza and following of the geopolitical dynamics of the Israel–Palestine conflict. It uncovers the often overlooked subterranean scars of the Israel-Palestine injustice on Palestinian civilians; civilians who are often wilfully dehumanised by the corporate mainstream media. The film seeks to sensitively humanise and sensibilise the audience to Palestinians deep invisible psychological suffering as a result of successive Israel regimes’ oppression. I chose the mental health angle for various reasons, including because it’s under-reported and because it facilitates a more empathic viewership as audiences are asked to imagine the mental health landscape of interviewed characters. The Palestinian people are almost uniquely brutalised by the world’s great powers. The scars are somehow unimaginable and unbearable; and yet in the film Palestinians teach us resilience and strength in the face of evil. But further, the film also explores the physical and mental health cost of this apparently superhuman ability to survive in the face of all efforts to crush them.

Do you have any plans to make a similar documentary? Perhaps about the kids from war victims in Yemen, Syria, Rohingya?

Trust me, making one in-depth film about war trauma is quite enough to research and direct. It’s not really cheery stuff. And a lot of the dynamics and analyses are sadly transferable between conflict zones.

You are very determined to fight for truth and justice in documentary works and social media posts. What made you take the position to continue to fight for the truth?

I guess I’m just a really angry person.I’m kidding. That’s a hard question to answer, though. I suppose I’m just drawn to speaking up and exposing what I think is important to expose like a moth to a flame. I don’t feel unique in this. I think it’s partly driven by my personality and character type and lived experiences.

Do you have any plans to go to Indonesia someday?

I’ve not got plans to travel to Indonesia. I was invited to speak in Indonesia in 2012/13 after the November 2012 7-day war, but due to local political considerations at that time the country was skipped over expected immigration complications.

Last but not least, what is your favorite quote that may inspire our readers?

Touching on my comments before ego, modesty and personal development, I love this translated line of poetry from poet Abyd, who according to Islamic theology was quoted by our Prophet Mohammed (ﷺ). “Everything other than God is vanity.”

Thank you so much, Harry! Wassalam.

(all pictures are taken from Harry Fear’s Instagram and Facebook @harryfear)

WIN RUHDI BATHIN : “KOPI GAYO DAN TEMPAT SINGGAH TRAVELER MANCA NEGARA”

Ngobrol tentang Kopi Gayo dan dataran tinggi Gayo dengan Bang Win (begitu saya memanggil beliau) selalu mendatangkan banyak inspirasi di kepala saya untuk menuliskan banyak hal. Tak hanya soal kopi Gayo, tetapi Bang Win juga menyediakan tempat singgah untuk para traveler di rumahnya.  Saya sebagai traveler amatir semakin tertarik untuk mengajaknya berbagi cerita di SHARING kali ini.  Ada banyak hal bisa didapatkan dari cerita-cerita Bang Win, semoga pembaca juga mendapatkan inspirasi dari obrolan kami.

Salam Bang, apa kabar keluarga dan Tanah Gayo? Apakah sekarang masih musim panen kopi? Apa saja kesibukan abang saat ini?

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk dan bagi Allah. Keluarga sehat dengan Rahmat Allah. Semoga syukur tak henti dalam senang dan sedih. Sekarang sedang panen kopi. Bermula di bulan September lalu hingga tirus di bulan April tahun depan. Kesibukan saya seperti biasa rutinitas dengan pekerjaan yang saya banggakan lalu antar jemput dua anak perempuan saya. Dua anak saya lainnya sekolah di luar daerah. Selain itu, pagi ke kafe hingga tengah hari, melayani penikmat kopi gayo sambil bercerita ngalor ngidul isu terkini di daerah bersama pelanggan. Juga menyiapkan kopi untuk kafe, pelanggan di luar daerah dan luar negeri.

Bang Win selain wartawan dan fotografer juga petani kopi dari hulu sampai hilir (menanam kopi sendiri, mengolah sendiri dan memiliki kafe sendiri yaitu WRB kafe). Ceritakan dong Bang suka dukanya menjadi petani kopi dari hulu ke hilir.

Sukanya menjadi petani adalah kita bisa mengawal kopi. Dari tanam hingga panen. Petani adalah pekerja keras dan Insya Allah hadiahnya adalah sehat. Kita bisa mengolah semua variant kopi Gayo yang diminati pelanggan. Seperti kopi madu/ honey, natural, semi washed, full washed, Luwak dan lain sebagainya. Dukanya tentu saja repot, saya mengerjakan sendiri kopinya, sementara kalau ada permintaan lebih, saya mengambil dari kawan kawan saya yang saya tahu betul prosesnya.

Tanoh Gayo merupakan salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, apakah kopi Gayo menjadi motivasi Bang Win menyediakan tempat singgah bagi traveler manca negara?

Kopi Gayo sudah dikenal dunia sejak era Belanda. Belanda sudah menanam Arabica sejak 1908. Kemudian mengekspor-nya lewat VOC bersama kentang dan teh.
Jadi, kopi Gayo sudah banyak dikenal khususnya di Eropa.  Kebetulan saya ikut Sosial Media Couch Surfing (CS) yang menyediakan tempat bagi traveler untuk tinggal, menginap dan mengenal budaya setempat . Para traveler yang singgah di rumah saya menyatakan sangat menyukai kopi Gayo. Tak hanya kopinya tetapu juga alam Gayo yang cantik dan masyarakatnya yang ramah dan bersahabat.

Tempat singgah bagi traveler yang datang ke rumah saya hanyalah tempat biasa kami makan bersama keluarga yang disebut dapur. Ukurannya sekitar 2 x 3 meter dan ada di kampung. Tetapi dari tempat ini saya mendapatkan banyak kisah menarik dari para traveler dunia. Ada tamu dari Afrika Selatan yang bangga bisa mencicipi kopi termahal dunia, yakni kopi Luwak. Sangking senangnya, tamu Afrika Ini telpon kerabatnya di Afrika dan mengatakan sedang minum kopi luwak di Gayo. Lain lagi cerita Stass dari Rusia. Saking sukanya dengan kopi Gayo,Stass mengirim kopi Gayo untuk keluarganya di Rusia. Biaya kirimnya hampir satu juta. “Saya ingin keluarga saya juga merasakan kopi luar biasa ini,” kata Stass.

Bagaimana sih awalnya Bang Win tertarik bergabung dengan couchsurfing dan menyediakan tempat bagi traveler?

Awalnya Saya berkenalan dengan dua wisatawan di Takengon. Mereka dari Inggris dan Sumatra Utara, keduanya tergabung di CS. Dari sana saya berpikir, CS ini sosmed ysng menarik dan bisa mendatangkan orang dari seluruh dunia. Kalau saya jadi host di Gayo, orang bisa datang dari seluruh dunia dan menjadi semacam magnet penarik wisatawan. Dari situlah saya kemudian bergabung di CS. Dan ternyata dugaan saya benar, sejak bergabung di CS, puluhan wisman datang ke Gayo dari seluruh dunia.

Traveler dari negara mana saja yang singgah di rumah Bang Win? Bagaimana komentar mereka tentang Tanoh Gayo?

Wisatawan yang datang ke rumah saya dari Ukraina, Rusia, Spanyol, Ecuador, Australia, Afrika Selatan, Inggris. Amerika, Thailland, Polandia, Francis. Switzerland. Afrika Selatan, Belanda, Italia, Jakarta, Jambi dan lain sebagainya. Umumnya para wisman ini sudah tahu kopi Gayo sebagai salah satu kopi terbaik dunia meskipun ada juga yang baru mengenalnya. Bahkan ada bule yang baru tahu pohon kopi, mereka kira kopi itu menjalar. Ada juga yang setelah merasakan kopi Gayo kemudian tertarik untuk berbisnis kopi Gayo di negara mereka.

Tamu asing ini mengakui bahwa Tanoh Gayo sangat indah pemandangannya. Memiliki sejarah panjang sendiri. Termasuk prasejarah Gayo di Mendale dan Ujung Karang. Mereka mengakui keramahan dan kearifan lokal gayo masih sangat murni dan jujur. Berbeda dengan beberapa kawasan wisata lain di Asia, seperti Thailand dan Philipina.

Apa sih suka dukanya menerima tamu dari manca negara? Ada nggak kendala dengan lingkungan saat menerima orang asing di rumah Bang Win dan menemani mereka keliling Tanoh Gayo?

Banyak sukanya sih karena berbagi kisah hidup di negara masing masing tentang budaya, mata pencaharian, agama dan banyak lagi. Kendalanya paling soal bahasa. Bahasa Inggris saya tak begitu fasih tapi saya sih nekat saja. Tidak semua wisman ini juga lancar berbahasa Inggris. Kalau kendala lingkungan tempat tinggal saya, tidak ada. Sebelum menerima tamu asing ini, waktu chatting saya menekankan bahwa di Gayo berlaku Syariat Islam.
Tamu lelaki harus  pisah ruangan tidur dengan perempuan. Kecuali ada surat nikah. Tapi umumnya mereka sudah tahu tentang Islam.

Apakah Bang Win lebih banyak menerima tamu dari manca negara ketimbang wisatawan dari Indonesia?

Saya tidak saja menerima tamu dari luar  negeri saja. Ada juga yang wisatawan dari negara kita sendiri. Dari berbagai kota Indonesia.karena di CS, anggotanya banyak di Indonesia.

Apa sih sebenarnya yang Bang Win dapat dari pertemuan dengan traveler-traveler manca negara ini?

Ini yang paling menarik menurut saya. Setelah makan malam bersama kami  biasanya bercerita tentang banyak hal, mulai dari bagaimana mereka hidup di negara mereka, biaya hidup, sumber penghasilan, pernikahan, agama dan kenapa mereka berwisata keliling dunia juga apa yang mereka dapat dari berkelana keliling dunia.  Hidup di Barat umumnya berbiaya tinggi, mereka setiap hari bekerja keras dari pagi hingga petang. Hidup jadi membosankan karena seperti robot dengan rutinitas. Untuk liburan keliling dunia, mereka bisa menabung bertahun tahun, barulah di musim dingin di negaranya, mereka liburan. 2 hingga 3 bulan bahkan setahun. Saat berlibur ini mereka merasakan kebebasan, kemerdekaan dan interaksi dengan penduduk dunia lainnya. Mereka sangat terkesanbelajar makan menggunakan tangan, sulit awalnya tetapi kemudian bisa melakukannya. Juga bagaimana mengajarkan wisman ini duduk bersila untuk lelaki dan tempoh untuk wanita.

Kami juga berdiskusi tentang Islam dan agama mereka. Sebagai Muslim, kami ingin menunjukkan bahwa Islam itu Rahmat bagi siapa saja. Wajah Islam sesungguhnya yang kami miliki adalah ahlak. Adab dan keramahan serta toleransi dalam praktek. Kami tidak membedakan kewarganegaraan, agama dan budaya asing. Wisatawan asing ini ternyata tahu bahwa Islam itu agama damai. Sehingga mereka tidak pernah takut saat menjadi tamu di rumah warga Muslim di Aceh lagi dan Teroris itu bukan ajaran  Islam.
Bagi kami, Islam itu adalah akhlak. Representasi nyata adalah Rasulullah sebsgai contohnya.

Menurut Bang Win, apakah ke depan Gayo bisa menjadi pusat kopi dunia yang akan menjadi magnet wisatawan untuk datang ke sana lebih banyak lagi? Misalnya dengan mulai dari adanya sekolah kopi hingga mungkin museum kopi nantinya?

Sebenarnya Gayo sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara. Banyak wisatawan asing, seperti Korea Selatan , Taiwan dan negara lainnya datang untuk berwisata kopi. Salah satu mereka menyebut tanag sucinya kopi adalah Gayo.

Bagi pengusaha kopi dunia, atau para penikmat kopi, pasti tahu kopi Gayo. Perdagangan kopi Gayo sudah dimulai sejak pra kemerdekaan, era kolonial dan penjajahan Belanda. Kawasan Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues adalah kawasan spesial arabica Gayo yaitu Gayo mountain coffee. Bisa dibayangkan, lahan di tiga kabupaten ini diisi pohon kopi, kecuali untuk jalan,rumah, sungai dan kawasan hutan. Ratusan ribu penduduknya menggantungkan hidupnya dari pohon kopi. Nilai perdagangannya satu kabupaten hingga Rp. 4-5 Trilyun setahun. Gayo adalah kawasan terbesar di Asia dengan lahan kopi arabicanya, sekolah sekolah kopi juga tumbuh pesat, khususnya cupping atau uji citarasa kopi yang diberi angka atau skor. Di Universitas Gajah Putih Takengon program studi kopi Gayo juga sudah dibuka tahun ini dan mulai menerima mahasiswa. Museum kopi mungkin masih akan menjadi mimpi dan wacana semata jika melihat lambatnya pihak yang memiliki kebijakan soal ini.

Bang Win sebenarnya suka traveling juga nggak? Kalau iya, ada nggak rencana berkunjung balik ke negeri para traveler yang datang ke rumah Bang Win suatu hari nanti?

Iya, saya sangat suka traveling. Traveling memperkaya khasanah berpikir dan bertindak. Kita jadi kaya rasa. Hal ini berdampak pada ekspektasi kita tentang semua hal. Bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Saya sangat ingin ke luar negeri. Mengunjungi teman teman yg pernah datang ke sini.Dan mereka berkata, datanglah ke tempat mereka kapan saja. Any time.Tapi, masih mimpi. Saya hanyalah petani biasa. Pendapatan saya belum mampu membiayai perjalanan ke luar negeri bersama anak dan istri.

Terakhir, kasih masukan dong Bang buat para traveler saat menjejakkan kaki di tanah baru agar mereka bisa lebih berguna buat warga lokal. Terima kasih Bang Win. Salam buat keluarga.

Ketika berkunjung ke tempat baru, orang baru, situasi baru. Satu hal yg berlaku seperti mata uang. Yakni, adab dan kejujuran. Adab akan dikenang orang sebagai budi baik. Selain itu jika Kita tinggal d irumah host,keterampilan memasak, mendongeng, sulap dan keterampilan lainnya sangat membantu membuat kehadiran kita akan dikenang. Juga souvenir kecil  murah dari daerah kita akan menjadi penjalin silaturrahmi.

(Semua foto diambil dari facebook Win Ruhdi Bathin)

METRO MOSKOW, MAHAKARYA SENI DAN ARSITEKTUR DI BAWAH TANAH

Seorang teman pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah terus menerus mengirim pesan agar saya memotret semua bangunan lawas bersejarah yang saya lewati selama saya melakukan perjalanan di Rusia.  Bagi pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah dan benda-benda seni yang masih terjaga kelestariannya, Rusia memang surganya. Rusia memiliki bangunan-bangunan dari berbagai zaman yang menjadi saksi perubahan zaman dan bertahan dari kebakaran, invasi Tartar-Mongol hingga revolusi.

Salah satu tempat yang saya susuri adalah stasiun metro di Moskow, Rusia. Tidak hanya sebagai alat transportasi yang mudah dijangkau, namun hampir semua stasiun metro di Moskow adalah mahakarya seni dan arsitektur yang sangat indah. Saat menyusuri stasiun-stasiun ini, saya merasa berada dalam galeri seni yang besar dan menikmati karya-karya seniman pada masa lampau yang terukir di dinding stasiun.  Dibuka pada tahun 1935, sarana transportasi bawah tanah ini memiliki 13 jalur dan 236 stasiun.  Saya tidak bisa mengunjungi semua stasiun itu karena waktu perjalanan yang singkat tetapi setidaknya saya mengunjungi beberapa stasiun terindah.

Saat mendorong pintu stasiun, saya sudah merasakan aroma masa lalu. Pintu yang saya dorong terbuat dari kayu, kokoh dan klasik.  Bersamaan dengan ramainya warga Moskow yang pulang kerja sore hari, saya mencari mesin untuk membeli kartu  Troika. Beberapa mesin menyediakan pilihan Bahasa Inggris dan sangat mudah digunakan. Tetapi jika anda ragu, bisa membeli di loket yang juga disediakan petugas khusus yang bisa berbahasa Inggris (English Speaking) jika anda tidak bisa berbahasa Rusia.  Setelah beres urusan tiket, saya masuk ke dalam stasiun dan turun menggunakan eskalator untuk menuju jalur yang saya tuju. Kebanyakan stasiun metro di Moskow berada di dalam tanah dengan kedalaman maksimal 74 meter di Stasiun Park Pobedy. Tetapi pada setiap stasiun, saya merasa gemetar karena eskalatornya curam dan dalam. Begitu sampai di bawah, saya tercengang melihat stasiun di depan mata saya.

 

Stasiun cantik pertama yang saya lewati bernama Taganskaya. Dibuka pada tahun 1950, dengan arsitektur abad pertengahan stasiun bernuansa biru ini didesain oleh arsitek K.Ryzhkov dan A.Medvedev.  Stasiun ini dinamai Taganskaya karena posisinya terletak di bawah Taganskaya Square. Desainnya bergaya flamboyan pasca perang dengan motif tradisional Rusia. Tampak lengkungan-lengkungan menyerupai kubah pada bagian atap, dinding dan pintu keluar menuju masing-masing jalur. Pilar-pilarnya dihiasi panel majolika berwarna biru sedangkan lantainya terbuat dari granit berwarna hitam dan abu-abu. Pencahayaan stasiun ini berasal dari 12 lampu gantung antik yang berhias panel majolika berwarna biru senada.  Pada dinding stasiun ini terdapat profil-profil seperti pelaut, operator tangki dan pilot juga pahlawan tentara Soviet. Nuansa stasiun ini terasa lembut karena perpaduan warna biru, krem dan pencahayaan dari lampu gantung yang dramatis.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun cantik yang lainnya. Stasiun kedua yang saya lewati adalah Kiyevskaya.  Stasiun yang dibuka tahun 1954 ini didesain oleh E.I.Katolin, V.K. Skugarev dan G.E. Golubev. Menurut informasi, stasiun ini dibangun dibawah pengawasan langsung pemimpin Soviet Nikita Khruschev sebagai penghormatan pada tanah kelahirannya Ukraina.  Pembukaan stasiun ini juga bertepatan dengan peringatan tahun penyatuan kembali Ukraina dan Rusia sehingga desain yang ditampilkan bertemakan persahabatan kedua bangsa. Berjalan di stasiun ini, saya seperti berada di galeri Renaissance yang megah dan indah.  Bernuansa emas dengan lobby yang dihiasi marmer dan granit serta pada dindingnya terdapat 18 panel mosaik dalam tradisi Florentine karya A.V. Myzin. Panel relief di dinding itu menunjukkan sejarah hubungan antara Rusia dan Ukraina dari masa Pereyaslav tahun 1954 hingga revolusi pada 1917. Di bawah relief-relief itu terdapat tempat duduk kecil yang bisa digunakan untuk menunggu atau menikmati stasiun ini. Banyak turis rombongan atau sendiri mengunjungi stasiun ini. Saya memutuskan untuk menikmati suasana keramaian pulang kerja di stasiun megah ini sambil duduk di bawah salah satu relief sebelum melanjutkan ke stasiun lainnya.

 

Stasiun berikutnya yang tak kalah cantik adalah Novoslobodskaya. Saat memasuki stasiun ini saya seperti memasuki gereja.  Menurut informasi, pada awal pembukaannya memang para arsitek sempat takut stasiun ini akan menyerupai gereja tetapi saat ini mereka justru melihat stasiun ini seperti akuarium bawah laut yang sangat  cantik. Saya berjalan berkeliling di antara lalu lalang orang dan  tampak 32 panel kaca berwarna-warni yang sangat cantik di dinding stasiun. 32 panel kaca ini merupakan karya 3 seniman yaitu M.Ryskin, E.Krests dan Latvia E.Veylandan. Di dalam setiap panel kaca ini terdapat keping kaca warna-warni yang disatukan dalam frame  kuning keemasan.  Enam dari panel kaca berwarna itu menggambarkan orang-orang dari berbagai peofesi mulai dari arsitek, musisi, ahli agronomi sementara 26 sisanya merupakan gambar bintang yang rumit dan pola-pola geometris. Di ujung koridor stasiun, saya melihat ada satu karya yang sedikit berbeda dan mengusung nilai perdamaian. Mosaik ini ternyata karya Pavel Korin yang diberi judul “Peace Throughout the World.”  Dengan penerangan lampu gantung yang pas stasiun ini tampak bersinar seperti istana bawah laut yang sangat cantik.

 

Mayakovskaya adalah stasiun berikutnya yang membuat saya kagum. Terletak 33 meter di bawah permukaan tanah, stasiun ini memiliki dinding-dinding tinggi dan ramping yang terbuat dari baja pesawat terbang. Berjalan di stasiun ini saya seolah mengelilingi sebuah aula besar yang tampak futuristik. Dibuka pada tahun 1938, stasiun ini dirancang oleh arsitek Alexey Dushkin sedangkan nama Mayakovskaya diambil dari nama penyair terkenal Soviet pada tahun 1893-1930 yang bernama Vladimir Mayakovskiy. Tema stasiun ini adalah “24 Jam di Tanah Soviet.” Penggambaran tema itu tampak di 34 mosaik yang terdapat di langit-langit stasiun. Stasiun Mayakovskaya selama perang dunia II digunakan sebagai pos komando sekaligus tempat perlindungan dari serangan bom Jerman.  Bahkan Joseph Stalin tinggal di tempat ini selama perang dunia II dan berpidato di depan para pemimpin partai dan orang-orang Moskow di tengah aula stasiun ini. Tak hanya desainnya yang mengagumkan dan cantik, tetapi stasiun ini juga memiliki nilai historis pada perang dunia II.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun yang lainnya. Stasiun berikutnya adalah Komsomolskaya.  Terletak 37 meter di bawah tanah, stasiun metro dari rangkaian nomor 5 ini berada di jalur Koltsevaya di antara stasiun Prospekt Mira dan Kurskaya.  Dibuka pada tahun 1952, tepat di bawah Komsomolskaya square, stasiun ini merupakan salah satu stasiun paling sibuk di Moskow. Stasiun Komsomolskaya tampak mewah dengan desain kekaisaran Rusia dan Moskow Baroque.  Dengan lampu gantung perunggu yang elegan, mozaik yang terbuat dari smalt, arcade marmer dan lantai yang dirancang oleh Alexey Shchusev, stasiun ini merupakan puncak gaya kekaisaran Stalinis. Pavel Korin merupakan seniman yang paling berpengaruh dalam menciptakan  delapan mozaik indah di langit-langit stasiun ini dimana inspirasinya datang dari pidato Joseph Stalin di Parade Moskow tahun 1941, sementara gagasan untuk mendesain mozaik ini berasal dari Katedral Saint Shopia di Kiev. Dari lantai atas stasiun yang megah ini saya menikmati lalu lalang warga Moskow yang mengejar kereta yang datang setiap 90 detik itu.

 

Dan stasiun terakhir yang sempat saya kunjungi adalah Ploshchad Revolyutsii.  Terletak di bawah Revolution Square, stasiun dengan penerangan redup ini tampak luar biasa megah.  Ada 76 patung perunggu dengan gaya realisme sosialis di dinding-dindingnya yang menggambarkan masyarakat Uni Soviet dengan beragam profesinya mulai dari pekerja pabrik, insinyur, pelajar, tentara, petani, pelaut, atlet, penulis, penerbang dan lain sebagainya.  Karena tempatnya yang tidak terlalu luas, patung-patung ini hampir semuanya berposisi duduk. Konon orang yang melewati stasiun dan menyentuh patung-patung ini akan mendapat keberuntungan. Stasiun yang arsitekturnya dirancang oleh Alexey Dushkin ini mengarah ke jantung kota Moskow dan berada di jalur biru. Dibuka pada tahun 1938 patung-patung yang berada dalam stasiun ini sebenarnya menggambarkan transformasi Rusia dari masa pra-revolusioner, revolusi kemudian era kotemporer.  Sayang saya melewati stasiun ini menjelang tengah malam sehingga sedikit gelap untuk mengambil foto dan suasananya jadi agak menakutkan. Tapi itu toh tidak mengurangan kemegahan stasiun Ploshchad Revolyutsii.  Mengunjungi stasiun-stasiun metro di Moskow tak hanya menikmati keindahan mahakarya seni dan arsitektur, tetapi juga menengok kembali jejak-jejak sejarah Rusia dalam karya para seniman Rusia.

 

Pctures by : mine and Google

VELIKY NOVGOROD (2) : JEJAK RURIK DI PINGGIR SUNGAI VOLKHOV

“We have fond memories of the old location”

Saya terbangun linglung melihat teman perjalanan saya berdiri di hadapan saya dengan ketakutan. “Ada apa Ri? Ada apa?” Saya terengah-engah dan mengambil minuman di meja lalu menghela napas dalam. Saya menoleh ke arah gudang kecil di samping saya dan tidak ada siapapun di sana. Gadis kecil berkuncir telah lenyap dari pandangan. Saya kembali membaringkan tubuh sambil meminta teman saya kembali ke kamarnya, “besok aja aku ceritain, sekarang tidur lagi aja.”

Saya terbangun jam 5 pagi untuk sholat subuh kemudian tidur lagi sampai jam 8 pagi. Di luar udara sangat dingin dan gerimis turun membuat malas beranjak dari selimut. Gadis berkuncir mungkin juga bergelung dalam selimutnya sehingga enggan menemui saya lagi. Baru sekitar jam 11 siang saat hujan mulai reda, saya bersiap untuk menjelajahi kota tua kecil kelahiran Rusia ini. Dengan berbekal payung, peta dan jaket tebal saya keluar apartemen. Begitu keluar pintu apartemen, saya bertemu nenek-nenek yang sibuk bercengkerama dengan kucingnya. Kebanyakan nenek-nenek ini hanya tinggal sendirian di apartemen bersama kucingnya di berbagai lantai tanpa lift.  Saya menaiki lantai 4 melalui tangga dengan langkah terseok sementara nenek-nenek ini dengan santai naik turun tangga diikuti para kucingnya. Di Rusia jumlah wanita lebih banyak daripada pria, mungkin karena itu juga saya lebih banyak menemukan wanita lansia daripada pria lansia.  Saya berjalan menyusuri jalan di samping apartemen dan menemukan banyak tempat makan, supermarket, cafe, penjual buah-buahan, bunga, sayuran bahkan makanan halal. Hanya perlu melewati satu blok, saya sudah sampai di jalan besar yang diseberangnya terdapat Kremlin (sebuah bangunan yang berbentuk benteng dan memiliki gerbang). Kremlin di Veliky Novgorod bisa jadi merupakan Kremlin tertua di Rusia.

Setelah melewati jalan setapak hutan kecil yang rimbun, tampak menara Kremlin menyembul dari kejauhan. Saya jadi teringat benteng kota Xi’an Tiongkok yang cantik. Kremlin di Veliky Novgorod juga secantik benteng di kota Xi’an Tiongkok.  Angin berhembus kencang bersamaan dengan udara dingin yang menusuk tulang. Saya merapatkan jaket dan memandangi Kremlin dari tempat saya berdiri. Saya membayangkan bangsa Viking yang datang ke Veliky Novgorod pada masa lalu melalui jalur laut untuk berdagang dan membajak di lautan. Pada abad ke IX, sungai-sungai Novgorod merupakan bagian dari rute perdagangan bangsa Viking ke Yunani. Dari perdagangan inilah kemudian bangsa Viking yang terkenal terampil dalam berperang menjadi prajurit di bawah penguasa Slavia, kemudian menetap di Novgorod dan menjadi penduduk Rus.  Salah satu bangsa Viking yang bernama Rurik menurut sejarah datang di kota ini karena diminta untuk melindungi kota dari serangan perampok namun kemudian Rurik berkuasa di kota ini.  Saya akan menyusuri jejak-jejak Rurik yang masih tertinggal di kota ini.

Angin dingin dan kencang menghamburkan jilbabku bersamaan dengan daun-daun merah musim gugur yang berjatuhan dari pepohonan. Saya terus melangkah menyusuri sepanjang sisi Kremlin yang panjang untuk mencapai gerbang utama.  Di depan gerbang Kremlin tampak seorang wanita tua sedang memainkan akordion. Mengenakan baju tebal berwarna merah, kerudung kuning dan sepatu boots hitam, wanita tua itu tersenyum padaku. Duduk di strollernya yang berwarna biru, wanita tua itu tampak menikmati permainan musiknya sendiri. Saya suka melihat caranya tersenyum yang ramah dan bersahabat tidak seperti orang Rusia kebanyakan yang kaku. Setelah menaruh uang di kotak yang ada di depannya, saya segera memasuki gerbang Kremlin.

Veliky Novgorod terletak di pinggir Sungai Volkhov. Sungai ini membagi kota menjadi dua bagian yaitu Sofiyskaya dan Torgovaya. Terkenal dengan warisan budayanya, Veliky Novgorod merupakan satu-satunya tanah Rusia kuno yang tidak hancur selama abad ke 9 hingga ke 13. Banyak sekali peninggalan bersejarah yang masih terjaga dengan baik di kota ini, bahkan ada 37 benda yang masuk dalam daftar Warisan Dunia Unesco.  Saya melewati gerbang Kremlin tanpa dipungut biaya wisata apapun, kemudian memasuki areal dalam Kremlin dan mata saya disergap pemandangan taman dengan eksotisme musim gugur.  Terdapat Monumen Millennium of Rusia di sisi kanan dari arah masuk gerbang Kremlin, lalu Katedral St. Sophia, St. Sophia Bell Tower, The History Museum dan Kokuy Tower. Saya kemudian keluar gerbang Kremlin dan menyeberangi jembatan bersama orang-orang lokal yang lalu lalang. Dari jembatan penyeberangan (pendestrian bridge) ini, saya bisa memandang Kremlin yang megah dan eksotis dengan Kokuy Tower yang menjulang.

 

Setelah sampai di seberang, saya bertemu dengan patung gadis yang sedang duduk santai di pinggir sungai seolah sedang melepas penat setelah berjalan mengelilingi kota Veliky yang cantik. Sepatunya dilepas di sebelahnya, bibirnya tersenyum simpul, matanya menatap langit yang biru cerah. Patung ini lebih dikenal dengan The Girl Tourist yang menjadi spot menarik untuk berfoto para turis karena di belakang sang gadis tampak pemandangan sungai Volkhov yang mengalir tenang dan bersih serta kapal cantik yang sedang bersandar. Gadis ini tampak modern dan pastilah tidak pernah bertemu Pangeran Rurik.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Court Of Yaroslav.  Taman dengan gereja-gereja kecil seperti Cathedral of St. Nicholas dan Gereja St. George.  Saya duduk beberapa saat di taman karena banyak burung-burung kecil yang berumah di tanaman sekitar taman. Burung-burung ini tidak terbang menjauh dan jinak dengan manusia seolah saat saya duduk di salah satu bangku taman mereka mengajak ngobrol.  Tak hanya burung-burung kecil, tampak beberapa lansia juga duduk di taman sambil bercengkeram dan memberi makanan pada burung-burung ini.

Setelah menikmati suasana lengang bersama burung-burung dan lansia, saya melanjutkan perjalanan ke arah jalan raya kemudian menyeberang untuk melihat toko souvenir di sana. Kota ini sangat sepi dan nyaris seperti tanpa aktivitas. Tetapi saat kita memasuki toko atau restoran, terasa kehangatan para penguhuninya. Seorang pemuda dengan bahasa Inggris terbata meminta maaf saat saya menunggu antrian di belakangnya untuk menukar uang di salah satu money changer. Dia bilang keluarganya yang sedang antri sedang menjual rumah dan memerlukan uang untuk menukar tapi perlu konsultasi agak lama. Saya sebenarnya tidak masalah, tetapi dia yang tidak enak sendiri karena saya lama menunggu. Bahkan saat saya hendak membeli salah satu souvenir dengan bahasa Rusia, dia menerjemahkan bahasa dalam souvenir itu. Kota ini memang lengang dan terlihat dingin, tetapi manusianya hangat dan ramah.

 

 

Penjelajahan hari itu saya akhiri dengan mengunjungi perbukitan yang merupakan jejak-jejak kediaman Pangeran pertama Rusia, Rurik. Terletak di perbukitan, bangunan tua itu menjadi saksi bisu bahwa pada abad 9 hingga 10 dinasti Rurik menjadi cikal bakalnya Rusia. Di sisa-sisa kediaman asli Rurik yang masih dilestarikan inilah saya dapat merasakan negeri terluas di dunia ini bermula. Negeri besar yang melewati banyak perubahan zaman mulai dari invasi Mongol Tartar hingga revolusi. Namun dari semua perubahan zaman itu, Veliky Novgorod satu-satunya kota yang terselamatkan dari kehancuran.  Sebelum malam, saya meninggalkan sisa-sisa kediaman Rurik sambil berharap bisa kembali ke kota ini dan melihat lebih dalam lagi tentang kehidupan penghuninya. Semoga.

VELIKY NOVGOROD (1) : THE BIRTHPLACE OF RUSSIA & HANTU GADIS KECIL

“Old things always seems better”

Hampir pukul 4 sore saat bus yang saya tumpangi dari Saint Petersburg tiba di terminal bus Veliky Novgorod. Sopir yang wajahnya khas Rusia menunggu saya menurunkan koper dari bagasi bus tanpa tersenyum sedikitpun.

“Spasiba!” kataku sambil mengangguk sopan pada sopir lalu mendorong koper ke pinggir. Selama di Rusia, kata yang paling saya kuasai hanyalah “spasiba” alias terima kasih karena bahasa Rusia kedengeran begitu ruwet di telingaku meski jadi menantang untuk dikuasai lebih banyak. Bus itu melanjutkan perjalanan lagi sementara saya celingukan mencari jalan keluar terminal. Lalu saya menyeret koper saya ke arah pintu terminal. Tidak banyak orang di terminal, hanya ada beberapa pemuda memanggul tas mirip tas belanja tanah abang kalau di Jakarta dan beberapa keluarga yang baru datang dari perjalanan. Saya terus menyeret koper saya menuju depan terminal lalu berhenti di samping kios kecil yang menjual kopi dan makanan. Saya melihat berkeliling untuk mengenal wajah kota yang baru saja masuki.

Veliky Novgorod awalnya bukan tujuan perjalanan saya. Tetapi karena saya tidak mendapatkan kereta ke Kazan maka saya memutuskan untuk singgah di kota ini beberapa hari. Sepertinya akan menarik karena menurut sejarahnya kota ini adalah kota tertua di Rusia yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di kota ini ada sisa-sisa kediaman asli Rurik, pangeran pertama Rusia. Saya selalu tertarik dengan hal-hal yang terhubung dengan masa lalu karena banyak yang bisa dipelajari dari kisah-kisah masa lalu. Tidak hanya pembelajaran itu yang saya kejar namun juga penampakannya yang eksotis. Benar saja, kota ini memang tua, tenang dan eksotis.

Bus-bus tua berseliweran di jalanan yang bertabur daun-daun kekuningan musim gugur, para Babushka (nenek) berjalan di trotoar bersama binatang piaraannya dan ibu-ibu muda berjalan cepat sepulang aktivitas mengenakan jaket merah, kuning atau hijau. Orang-orang di kota ini memakai pakaian yang lebih berwarna ketimbang warna pakaian orang-orang di Moscow atau Saint Petersburg. Tetapi memang saya lihat lebih banyak lansia yang tinggal di kota ini ketimbang anak muda. Mungkin anak mudanya bekerja di kota lain seperti Moscow atau Veliky Novgorod.

Sebenarnya saya ingin naik bus menuju apartemen yang telah saya sewa, tetapi dengan bawaan koper yang berat saya memutuskan menggunakan taksi online Yandex. Tidak sampai lima menit taksi Yandex sudah menjemput saya di depan terminal lalu mengantarkan saya menuju apartemen. Hanya membutukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai apartemen. Saya tiba agak terlambat sehingga pemilik apartemen sudah menunggu lama di depan gedung apartemen. Pemiliknya seorang wanita muda yang tidak bisa bahasa Inggris, mengenakan jaket hijau army dan wajah polos tanpa make up. Setelah komunikasi menggunakan bahasa isyarat yang bisa saling dipahami, wanita itu hendak meninggalkan apartemen. Saya menanyakan dimana meletakkan kunci saat saya check out nanti dan dia menyuruh saya meninggalkan kunci di meja televisi. Sepertinya keamanan di Rusia terjaga sehingga beberapa apartemen yang saya inapi selalu cuek meminta meninggalkan saja kuncinya check out jika dia belum datang.

Apartemen itu ada di lantai 4 dengan gedung yang sudah tua. Tanpa lift saya harus mengangkat koper saya menaiki tangga hingga tiba di depan pintunya. Tetangga apartemen seorang Babushka (nenek) yang hidup sendirian bersama kucingnya. Dan begitu pintu apartemen terbuka, saya merasakan aura yang kurang enak, sepertinya tempat ini ada yang ‘menunggu’ di dalam. Tapi saya tidak memedulikan dan masuk ke dalam, meletakkan koper lalu memilih tempat tidur di dalam yang dekat dengan gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Mengabaikan semua yang saya rasakan, saya membuka pintu balkon, melihat kejauhan kota tua yang mulai menguning karena senja turun dan menikmati daun-daun jatuh menimpa balkon apartemen.

Suhu menunjukkan angka 10 derajat dan di luar hujan mulai turun. Saya mengurungkan niat untuk berjalan-jalan sekitar apartemen karena suhu 10 derajat bagi orang tropis sangat dingin dan memutuskan duduk di depan jendela dapur sambil memandangi hujan dan menyesap kopi perlahan-lahan. Entah kenapa, saya merasa terhubung dengan kota ini, rasanya seperti pulang ke rumah. Kota yang tenang, eksotis dan nyaman untuk ditinggali. Berbeda dengan Moscow dan Saint Petersburg yang ramai dan sibuk. Veliky Novgorod tampak sederhana, apa adanya dan cantik. Saya merasa di sini bisa menjadi diri saya sendiri, tanpa perlu mengenakan topeng.  Saya jatuh cinta pada kota tua ini, sejak pertama melihatnya.

Sambil membaca-baca booklet tentang Veliky Novgorod dan tempat-tempat menarik yang bisa saya kunjungi esok harinya, saya membayangkan bertemu Pangeran Pertama Rusia dari dinasti Rurik di tempat ini. Mungkin sangat menarik jika saja ada mesin waktu yang bisa membawa saya menemui mereka, ngobrol tentang kehidupan mereka di tempat menarik ini dan cita-cita mereka di masa depan. Lalu saya tertawa sendiri dengan lamunan saya dan memutuskan untuk membuat mie instant yang saya bawa dari Indonesia untuk makan malam. Selesai makan malam kantuk tak tertahankan dan saya langsung tidur meringkuk di pembaringan samping gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Dan time travel itu terjadi dalam mimpi saya.

Seorang gadis kecil dengan rambut merah berponi dan dikuncir sepinggang berjalan pelan keluar dari gudang kecil gelap di samping tempat tidur saya. Gadis kecil itu mengenakan rok pendek kotak-kotak warna merah dan atasan putih tulang lengan panjang, mengenakan sabuk tampak rapi dan manis. Sepatunya hitam dengan kaos kaki tinggi. Gadis itu tersenyum pada saya dan mengulurkan tangannya untuk menyalami saya. Tidak ada kata-kata, tetapi wajahnya ramah dan penuh senyum seolah mengucapkan selamat datang. Saya menyambutnya tak kalah ramah dan merasa terhubung dengannya. Tetapi saat saya mau melepaskan tangan saya, gadis kecil itu memegang tangan saya begitu erat dan menarik saya hingga jatuh tertelungkup di gudang. Beberapa saat saya mengigau, akhirnya saya bisa terbangun. Dengan mata masih buram, saya melihat bayangan gadis itu berdiri di depan gudang kecil gelap itu.

(to be continued…)

NONTON SIRKUS DI MOSKOW

Malam itu suhu turun menjadi 7 derajat. Teman perjalanan saya sedang ke minimarket saat saya membuka-buka aplikasi KLOOK mencari tiket pertunjukan di Moskow. Sudah beberapa negara saya kunjungi tanpa sempat menonton pertunjukan khas mereka dan kali ini saya tidak mau kelewatan lagi. Sebenarnya saya ingin menonton teater atau balet di Moskow, tetapi mengingat pertunjukan teaternya berbahasa Rusia dan baletnya sangat mahal, maka saya mencari alternatif lain. Lalu saya menemukan sirkus yang harga tiketnya hanya Rp. 189.000 untuk kelas 9. Begitu saya klik, ternyata tiket kelas 9 sudah habis, adanya tiket kelas 8 dengan harga Rp. 332.000. Baiklah, akhirnya saya dan dua orang teman sepakat untuk membeli tiket itu. Tiket akan dikirim dalam 24 jam dan benar, esoknya saya sudah menerima tiket berbahasa Rusia. Setelah saya Google translate, dalam tiket terdapat alamat, pintu masuk, kursi dan jam show.

Sebenarnya, sejak kecil saya tidak suka menonton sirkus bahkan saya belum pernah menonton sirkus seumur hidup saya. Saya takut melihat binatang-binatang buas di dalam kerangkeng dan membayangkan binatang itu ngamuk melukai pawangnya hingga membuat keributan yang luar biasa seperti di film-film. Setelah dewasa ini, saya tidak suka sirkus karena kasihan melihat binatang-binatang itu dijinakkan dan dijadikan ajang untuk mencari uang oleh manusia. Menurut saya tidak seharusnya mereka berada di sana menjadi budak-budak manusia.  Mereka seharusnya punya kehidupannya sendiri, di hutan. Tetapi rasa ingin tahu saya tentang sirkus dan  saat sirkus ini datang ke Indonesia tiketnya sangat mahal sehingga saya tidak mampu membelinya, maka mumpung berada di Rusia saya memaksakan diri sendiri untuk menontonnya.

Dengan naik metro ganti line dua kali sampailah saya di tempat sirkus ini. Lokasinya sangat mudah dijangkau, gedungnya bagus dan mentereng dengan hiasan khas sirkus di puncaknya. Penonton (yang kebanyakan dari turis Tiongkok) berdatangan dengan tertib. Saya hanya menunjukkan tiket di handphone kemudian diverifikasi lalu bisa masuk melalui pintu yang disebutkan ditiket. Saat saya datang ternyata sirkus sudah mulai sekilat 10 menit, sehingga saya ditahan dipintu sejenak agar tidak menganggu penonton dan pemain. Pintu masuk dan pengaturan pertunjukan ini sangat profesional sehingga kita telat datangpun tidak bikin ribut dan menganggu yang lain. Setelah satu show berakhir, petugas segera menunjukkan kursi kami.

Kursi kelas 8 ternyata ada di deretan paling belakang. Tapi nggak usah sedih, karena deretan paling belakang inipun masih bisa menikmati pertunjukan dengan jelas karena gedungnya tidak terlalu besar. Hanya beberapa penonton menganggu dengan kamera yang diacung-acungkan ke depan sehingga menutupi saya. Sirkus ini sangat modern dan menarik. Kostumnya luar biasa, penampilannya luar biasa dan dikemas dengan sangat menghibur. Setiap jeda satu show dengan show lainnya dimunculkan karakter-karakter komedi yang berinteraksi dengan penonton. Saya suka bagian ini meskipun tidak ada bahasa Inggrisnya, tetapi masih bisa dipahami.

Jika awalnya saya ingin pulang seandainya sirkus ini membosankan, ternyata waktu tiga jam dengan istrirahat 15 menit masih kurang. Saya justru enggan beranjak setelah sirkus selesai. Betapa profesionalnya mereka. Saya membayangkan kedisiplinan mereka berlatih dan terus berlatih. Sirkus ini rekomended untuk di tonton meskipun saya tetap sedih melihat binatang-binatang itu di dalam sana dan tidak setuju mereka menjadi seperti itu.

Hampir tengah malam saat saya keluar dari gedung pertunjukan dan berjalan kedinginan menuju stasiun metro. Saya terus berpikir tentang mereka para pelaku sirkus ; berlatih-berlatih dan berlatih. Kadang-kadang hidup tidak menyediakan pilihan lain kecuali yang ada di depan mata kita, tetapi bisa juga kehidupan itu memang yang terbaik untuk kita atau memang itu yang kita cita-citakan. Stasiun metro mulai lengang tapi kereta tetap datang setiap 90 detaik sekali. Saya masih hanyut melamunkan para pelaku sirkus.

BLUSUKAN DI PASAR TRADISIONAL VELIKY NOVGOROD RUSIA

Tempat yang paling saya incar untuk blusukan di setiap negara yang saya kunjungi itu adalah pasar tradisional. Bukan untuk belanja (meskipun kadang jadi belanja juga), tapi saya senang melihat orang-orang lokal berkegiatan di pasar, bertransaksi, saling ngobrol dan menjajakan barang dagangannya. Tak hanya manusianya, barang-barangnya sudah tentu unik dan berbeda dari setiap negara.  Kali ini saya blusukan ke salah satu pasar tradisional yang ada di Veliky Novgorod, kota tertua di Rusia.

Jam 3 sore karena kedinginan setelah menyusuri jalanan kota Veliky yang sepi, saya belok ke pasar tradisional ini. Sebenarnya hanya ingin menghangatkan badan dengan masuk ke dalam pasar, tapi jadi malah keterusan menyusuri semua lorongnya. Pasar ini tidak luas, namun bersih dan rapi. Terdiri dari dua lantai, pembagian kios-kiosnya tidak menentu, bahkan terkesan tidak beraturan sehingga lantai satu bisa jadi berjualan makanan basah dan kering, pakaian, bunga plastik, mini market dan minuman. Begitu juga dengan lantai dua yang berisi kain, pakaian, mainan anak-anak dan minuman.

Saya kemudian kembali ke lantai satu untuk mencari teh khas Rusia setelah mengecek di internet teh mana yang sebaiknya saya beli. Saya memang suka membeli teh dari berbagai negara saat ke pasar selain hanya ingin ngobrol dengan penjualnya. Tetapi di sini saya tidak bisa mengobrol karena semuanya berbahasa Rusia sementara saya tidak paham bahasa Rusia. Tidak ada yang bicara dalam bahasa Inggris, sehingga saya hanya menduga-duga pembicaraan mereka, menggunakan kalkulator untuk menawar harga atau menggunakan google translate.

Saya menemukan teh yang saya cari di lantai satu, dekat dengan penjual coklat. Harga tehnya hanya 95 Rubel atau Rp.25.000 lalu saya membeli satu setelah bingung mau membeli yang mana dan penjualnya menyarankan saya membeli jenis teh hitam. Setelah ngobrol pakai bahasa tubuh dan akhirnya nggak saling paham juga, saya hanya senyum-senyum dan meminta untuk memotret penjualnya. Penjualnya ramah dan murah senyum, dia mengijinkan saya memotret apa saja yang ingin saya potret.  Dari penjual teh saya bergeser ke penjual coklat.  Ada berbagai coklat dengan harga yang murah dibandingkan di Indonesia (tentu saja) tetapi saya tidak membeli coklat. Saya malah jalan-jalan ke arah lain bagian pakaian dan sepatu.

Begitu memasuki satu kios saya disambut mbak-mbak cantik yang penampilannya nyaris seperti artis di film-film spionase. Ternyata mbak cantik ini penjual jaket di salah satu kios. Dia menawarkan jaketnya yang sedang sale seharga sekitar 100 ribuan jika dirupiahkan menggunakan bahasa Rusia. Orangnya ramah, tetapi sayangnya lagi, dia tidak bisa berbahasa Inggris, jadi kami hanya ngobrol menggunakan google translate yang sangat terbatas dan kalkulator untuk menanyakan harga.  Teman saya kemudian tergoda untuk melihat jaket-jaketnya lebih detail bahkan kemudian membelinya sementara saya justru berpindah ke bagian lain yaitu sepatu setelah meminta ijin untuk memotret mbak cantik itu. Dia bilang ke teman-temannya di pasar kalau saya fotographer, dan saya tertawa ngikik menjawabnya menggunakan bahasa Indonesia, “bukan-bukan, saya hanya suka memotret, bukan fotographer.” Ya, sekali-kali menggunakan dua bahasa berbeda nggak apa-apa ‘kan? Biar sekalian saja sama bingungnya.

Seorang ibu paruh baya menjual sepatu boots sambil menggendong anjing pudelnya berwarna coklat yang lucu. Ibu ini tampak ngos-ngosan setiap bergerak. Tetapi begitu saya melihat-lihat sepatunya, dia tampak antusias. Saya menanyakan harga menggunakan kalkulator dan lagi-lagi berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh, tetapi ibu ini cukup bisa memahami maksud saya.  Karena saya membutuhkan sepatu boots dan harga yang ditawarkan hanya 100 ribuan dalam rupiah, maka saya membelinya satu. Tetapi setelah beres pembelian, saya meminta untuk memotret ibu paruh baya itu. Awalnya saya pikir ibu itu akan menolak di foto, ternyata begitu saya menunjuk kamera saya, si ibu malah mengambil anjing pudelnya dan memeluknya untuk diajak foto bersama.

Setelah puas menyusuri pasar malah kebablasan belanja saya kemudian keluar pasar. Tampak di luar, penjual labu sibuk melayani pembeli, kios-kios roti dan minuman kaleng sementara saya memutuskan untuk menyeberang melalui penyeberangan bawah tanah ke seberang pasar. Dalam penyeberangan bawah tanah juga ada penjual pakaian dan minuman. Di seberang pasar tampak pasar kaget yang menjual sayuran, tanaman hias, bunga, bawang putih, jamur dan umbi-umbian.  Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah lain untuk mencari mini market. Kota tua Novgorod sangat cantik, saya akan mengulaskan tersendiri di bagian destinasi. Ikuti terus perjalanan saya di Rusia, ya! Terima kasih!

LUGGAGE STORAGE DI STASIUN LENINGRAD MOSCOW

Pengen jalan-jalan keliling kota Moscow tapi males bawa barang berat? Kamu bisa menitipkan barang-barangmu di Luggage Storage yang ada di beberapa train stasiun atau tempat tertentu seperti Red Square. Tapi sebelumnya kamu harus cek dulu informasi mengenai luggage storage itu mulai dari harga, ukuran barang yang dititipkan sampai persyaratan yang diperlukan untuk menitipkan luggage kamu.

Jika traveling sebelumnya saya membawa ransel, tapi traveling ke Rusia kali ini saya membawa koper 20’. Cukup repot dan berat untuk orang yang terbiasa dengan bawaan minim, tetapi karena musim gugur saya nggak mau kedinginan sehingga saya membawa beberapa jaket tebal.  Nah, masalah mulai muncul saat jam check out dan keberangkatan kereta ke kota lain masih tengah malam. Untuk menunggu waktu dari jam 12 siang hingga 12 malam, saya nggak mungkin menyeret koper keliling kota Moscow ‘kan? Ini dia saya memerlukan Luggage Storage yang bisa menyimpan barang saya hingga jam 12 malam nanti sehingga saya bisa menghabiskan waktu dengan nyaman.

Sebenarnya ada banyak Luggage Storage seperti di Red Square, namun menurut keterangan luggage stirage di Red Square menggunakan tangga dan tidak ada lift sehingga saya urung ke sana. Beberapa stasiun juga menyediakan Luggage Storage seperti Bellorussky tetapi saya memilih menitipkan koper saya di Leningrad stasiun karena malamnya saya akan naik kereta dari sini ke kota lain, jadi tidak perlu repot lagi menyeret koper ke tempat lain.

 


Terletak di lantai bawah stasiun kereta Leningrad berdekatan dengan toilet dan orang berjualan souvenir, Luggage Storage ini ada dua tipe yaitu manual dan otomatis. Untuk luggage otomatis ukuran tas hanya sesuai kotak yang ada di sana, jadi kalau koper kamu melebihi batas tidak akan bisa masuk. Tetapi untuk manual kamu bisa memasukkan ukuran berapapun ke dalam ruangan itu tanpa batas ukuran. Saya kemudian memilih menitipkan barang saya di tempat yang manual karena koper saya cukup besar dan ribet masukin ke dalam kotak. Harga per koper/tas 250 RUBEL atau sekitar Rp.66.000 untuk sehari menitipkan barang, hitungannya per tas bukan besarannya. Sementara harga storage luggage otomatis juga sama tergantung besaran box yang dipilih.

 

Itu pengalaman saya menitipkan tas di Leningrad stasiun, kalau ingin bertanya lebih banyak bisa melalui komen di bawah atau email. Saya masih akan melanjutkan kisah perjalanan saya di Rusia! Jangan pindah blog dulu 😊