October 02, 2020
5 mins

Perjalanan sekarang seperti angan-angan yang jauh. Pandemi menghancurkan semua tiket perjalanan yang saya miliki. Setidaknya tiga rencana traveling tahun 2020 yaitu ke China, Timor Timur dan Eropa. Bagusnya semua tiket perjalanan bisa direfund 100% karena memang pesawatnya tidak berangkat. Dalam kondisi seperti ini, sedih dan stuck sudah pasti, tetapi apa sih sebenarnya yang paling saya rindukan dari perjalanan?

Ada beberapa hal yang saya rindukan dari perjalanan mulai dari menyusuri tempat-tempat baru, nyasar dan menemukan hal aneh sampai teman-teman perjalanan yang kadang menyebalkan atau juga menyenangkan. Setiap perjalanan ada ceritanya masing-masing yang selalu sangat menarik buat saya. Tetapi yang paling saya rindukan adalah bertemu orang-orang lokal, bergaul dengan mereka untuk mengetahui kehidupan mereka dan mencecap keramahan mereka. Kejadian-kejadian spontan kebaikan orang lokal ini selalu saya rindukan saat saya lama tidak melakukan perjalanan. Sayangnya beberapa kejadian tidak terekam dalam kamera karena benar-benar spontan. Jadi mungkin cerita dan fotonya tidak bersesuaian.

Saya mengingat beberapa pertemuan menyenangkan dari perjalanan saya. Tahun 2016 saya pergi ke China. Saya nyasar ketika mencari penginapan saya dan semua orang hanya bisa berbahasa China. Semua tulisan jalan juga berbahasa China. Saya benar-benar hampir putus asa ketika itu ditambah lagi saya kelaparan. Tiba-tiba saya melihat rumah makan kecil di pinggir jalan milik orang muslim. Saya mampir dan membeli makanan. Sebenarnya toko itu belum buka, tapi melihat saya dan teman saya kelaparan serta kebingungan sepertinya pemilik toko kasihan. Saya kemudian dipersilakan makan bahkan ketika saya membayar dia menolak. Katanya kita satu saudara seiman, anda tidak usah bayar, kita saling mendoakan saja.

Di perjalanan yang lain pada tahun 2011 saat saya ke Korea, saya bersama seorang teman juga nyasar saat mencari salah satu gedung. Tiba-tiba seorang cowok bersedia mengantar saya sampai ke gedung itu menggunakan mobilnya. Awalnya saya ketakutan saat masuk mobil, tapi ternyata cowok itu benar-benar mengantarkan saya ke gedung yang saya cari. Teman saya memberikan souvenir dari Indonesia, lalu kami berpisah. Tak hanya itu, saat saya dan teman saya kelaparan, kami masuk ke kedai kecil di Korea. Seorang wanita paruh baya melayani kami dengan ramah bahkan menunggui kami makan. Kedai itu berasa kedai privat buat kami. Meskipun tidak bisa berbahasa Inggris tetapi ibu ini memahami komunikasi bahasa tubuh yang kami gunakan. Bahkan saat kami bingung mencari terminal, dua orang wanita mengantar kami hingga terminal. Kejadian di Korea ini benar-benar membuat saya rindu kembali ke sana.

Tahun 2019 saat ke Rusia, entah sudah berapa kali saya dan teman-teman kebingungan mencari alamat rumah. Sampai salah masuk ke sana dan ke mari berjam-jam. Tetapi selalu ada orang yang menolong kami. Memang sebagian mereka tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka berusaha menolong kami menemukan tempat yang kami cari. Bahkan membantu mengangkat koper kami tanpa mau dibayar.

Tahun 2017, saat saya pergi ke Geneva Swiss, saya ketiduran di tram karena sangat capek. Seorang penumpang membangunkan saya dan bilang kalau saya sudah sampai tempat tujuan. Sepertinya dia memang mendengar saat saya dan teman-teman menyebutkan tempat tujuan saya. Di Belanda juga saya mengalami hal spontan menyenangkan saat tidak bisa pulang karena tram berhenti. Waktu itu ada pertandingan bola dan kondisi jalanan banyak orang lalu lalang. Semakin malam akan semakin ramai bahkan banyak orang mabuk maka disarankan segera pulang, sayangnya tidak ada tram. Seorang wanita yang kebetulan juga menunggu tram kemudian mengajak kami jalan agak jauh ke stasiun yang lain. Dari stasiun ini, saya kemudian bisa mendapatkan tram menuju penginapan. Ternyata wanita ini rumahnya tidak jauh dari lokasi penginapan saya. Sementara di Paris, saat ke masjid saya bertemu seorang gadis yang belum lama menjadi mualaf. Gadis ini bahkan menjadi teman baik saya hingga saat ini. Kami masih bertukar kabar dan berbagi cerita.

Tahun 2019, saya ke Vietnam dan menjelajahi beberapa pasar bukan untuk belanja tapi untuk bertemu beberapa orang yang ingin saya tulis kisahnya. Ternyata saya menemukan banyak orang menarik di beberapa pasar ini. Mereka terbuka dan penuh perhatian. Saya merasa sangat bahagia bertemu mereka. Hal-hal seperti ini sebenarnya yang paling saya rindukan dalam perjalanan. Moment-moment yang spontan, jujur dan penuh ketulusan ini tidak sering saya dapatkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Kapan bisa traveling lagi? Saya merindukan mereka.

PREVIOUS ARTICLE
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)