August 28, 2020
4 mins

Entah sejak kapan tepatnya, saya suka berwisata ke pemakaman, apalagi jika pemakaman itu unik. Ada beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi dengan tujuan wisata maupun karena survey untuk pekerjaan saya menulis naskah. Menurut saya mengunjungi pemakaman tertentu selain magis juga banyak pembelajaran tentang hidup. Dari pemakaman yang unik kita bisa mempelajari tradisi daerah yang kita kunjungi. Ini sangat menarik. Berikut beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi.

1. GOA LONDA, TANA TORAJA

Tahun 2010 saya mengambil cuti dari pekerjaan saya sebaga karyawan di sebuah televisi dan pergi mengunjungi Tana Toraja dengan tujuan ke pemakaman Goa Londa. Goa Londa terletak di perbukitan dan sepanjang menyusuri goa akan menemukan jasad-jasad yang di semayamkan di liang-liang goa.  Di pintu goa terdapat deretan patung yang dinamakan Tau-Tau yang melambangkan jenazah yang ada di dalam goa. Di sisi lainnya tampak peti-peti janazah yang dinamakan Erong. Menyusuri Goa Londa semakin ke dalam semakin gelap dan lembab. Jika beruntung kita akan menemukan jenazah yang baru saja disemayamkan. Beruntung apa malah menakutkan? Hehe. Saya menemukan satu jenazah yang masih baru dan yang lainnya sudah menjadi tulang belulang maupun tengkorak.

2. BAYI KAMBIRA, TANA TORAJA

Pemakaman unik lainnya yang saya kunjungi di Tana Toraja adalah pemakaman bayi Kambira di pohon Tarra. Terletak di tengah rerimbunan pohon-pohon, pemakaman bayi di pohon ini memiliki pintu-pintu kecil yang terbuat dari daun ijuk. Proses pemakamanpun cukup unik. Pohon Tarra dilubangi dengan diameter seukuran bayi kemudian jenazah diletakkan di dalamnya lalu lubang ditutup menggunakan ijuk. Mereka percaya bayi yang dikuburkan akan kembali ke rahim ibunya.

3. TRUNYAN, BALI

Tahun 2014 tanpa sengaja saya mengunjungi pemakaman unik Trunyan di Bali. Gara-garanya dari Ubud ke Kintamani naik motor dan kecapekan. Saya merasa nggak ada gunanya kalau hanya berdiri di ketinggian Kintamani lihat pemandangan. Maka saat teman menawarkan mengunjungi Trunyan dengan menyisir jalur sisi perbukitan di pinggir danau Batur saya langsung setuju. Jadi nyisir lewat jalur darat, baru kemudian nyebrang ke pemakaman hanya sekitar 10 menit pakai perahu penduduk lokal. Di Desa Trunyan, mayat tidak dibakar melalui ritual Ngaben seperti umumnya masyarakat di Pulau Bali. Di sini mayat  diletakkan ditempat terbuka di dalam Ancak Saji (anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas. Posisinya berjejer berpakaian lengkap dan hanya kelihatan bagian mukanya saja dari celah Ancak Saji. Lagi-lagi saya beruntung atau menakutkan (?) ketika saya berkunjung, ada jenazah baru di Ancak Saji tersebut. Pemakaman ini dinaungi Pohon Taru Menyan yang sudah berusia ratusan tahun. Menurut penduduk lokal pohon berbau wangi inilah yang menetralisir bau jenazah sehingga tidak berbau sama sekali.

4. PEMAKAMAN JEPANG

Wisata saya ke pemakaman berlanjut ketika saya mengunjungi Jepang tahun 2015.  Teman saya, seorang host couchsurfing mengajak saya dan teman-teman berwisata non turistik, salah satunya ke pemakaman. Awalnya mau mengunjungi rumah seorang penulis terkenal pada masanya yang sudah dijadikan museum, tetapi karena kesorean kami diajak ke pemakaman. Pemakaman di Jepang sangat mahal sehingga menurut teman saya kematian jadi menakutkan.

Pemakaman pada umumnya dilakukan dalam tradisi gabungan Shinto dan Buddha, jenazah dikremasi lalu abunya dimasukkan ke pot abu. Dalam satu nisan ada banyak nama yang merupakan satu garis keturunan. Saya mengunjungi pemakaman ini menjelang maghrib, gara-gara kesorean ke museum itu, dan sepertinya teman saya tidak takut sama sekali malah senang menjelaskan ini itu. Ada yang pengen wisata ke pemakaman juga? Hehe. Berdekatan dengan kematian dan pemakaman kadang-kadang memberikan sudut pandang lain soal hidup yang telah dijalani. Coba saja, hehe.

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)