November 05, 2020
9 mins

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?  

~ Bait Pertama Puisi Chairil Anwar Karawang-Bekasi

Ini pertama kalinya saya keluar rumah untuk berwisata setelah 9 bulan isolasi karena pandemi. Masih belum berani naik angkutan umum, atau pergi menginap. Jadi saya memilih pergi dengan mobil sendiri dengan perjalanan one day. Tanpa tujuan hendak kemana, akhirnya saya memutuskan ke Karawang. Bekasi-Karawang tidak jauh, tapi entah kenapa terasa sangat jauh buat saya. Segala sesuatu yang tidak menarik memang terasa jauh, begitu juga dengan sebuah tempat. Saya sudah tinggal selama 20 tahun di Bekasi-Jakarta dan Bogor, tapi belum pernah sekalipun berniat mengunjungi Karawang. Paling saat naik kereta dari kampung saya selalu melewati Karawang itupun dini hari jadi tidak bisa melihat apa-apa.

Satu jam perjalanan bermobil dari Bekasi, saya memasuki wilayah Karawang yang memang sebenarnya tidak menarik. Tapi tunggu dulu, jangan putus asa dulu, bukankah saya selalu yakin semua tempat memiliki sisi yang unik untuk di ekplore? Benar, di tempat ini banyak kejadian bersejarah yang bisa kita kenang kembali mulai dari tragedi Rawagede dan Rumah Sejarah Soekarno Rengasdengklok. Tragedi Rawagede terjadi 9 Desember 1947 ketika Belanda melancarkan agresi militer pertama. 431 penduduk Karawang menjadi korban pembantaian ini. Saya tidak mengenal tragedi ini sebelum melihat monumen Rawagede di Karawang mungkin karena tragedi ini tidak pernah menjadi sejarah nasional. Desa Rawagede sudah berganti nama menjadi Balongsari saat ini, tetapi trauma itu masih tersisa. Saya hanya lewat sesaat di monument sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Rumah Sejarah Rengasdengklok.

Tempat wisata yang bisa dikunjungi di Karawang diantaranya situs candi Jiwa, Pantai Tanjung Baru, Curug Bandung, Vihara Sian Djin Ku po, Danau Cipute dan masih banyak lagi.  Saya hanya mengunjungi dua diantaranya, itupun ketika kembali ke rumah sudah malam. Entah kenapa tempat ini terasa sangat jauh.

RUMAH SEJARAH SOEKARNO RENGASDENGKLOK

Bertempat di Desa Kalijaya rumah bersejarah ini mudah ditemukan. Berjarak sekitar 20 meter dari gerbang masuk yang bertuliskan Rumah Sejarah Soekarno Rengasdengklok saya menyusuri jalan beton yang sepanjang sisinya terdapat graffiti tokoh bangsa. Lingkungan rumah ini seperti pemukiman biasa sehingga saya agak ragu rumahnya sebelah mana. Tetapi seorang tetangga rumah membantu parkir dan menunjukkan rumah yang saya cari. Setelah mengikuti protokol kesehatan pandemi, saya memasuki rumah sejarah itu. Seorang wanita, istri cucu (alm.) Djiaw Kie Siong menyambut di pintu dengan ramah. Rumah ini dahulu merupakan rumah alm. Djiaw Kie Song. Tidak dijelaskan dengan pasti kenapa rumah ini yang dipilih, namun menurut cucu alm pemilik rumah, mungkin karena rumah ini tidak terlalu mencolok dan sedikit tersembunyi sehingga tidak mencurigakan. Apalagi kondisi waktu itu sangat genting.

Rumah Rengasdengklok menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, pemuda dalam kelompok Menteng 31 menyembunyikan Soekarno dan Hatta dari pengaruh Jepang untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Desakan itu ditolak tetapi esok harinya proklamasi terjadi di Jakarta. Rumah Sejarah Soekarno ini memang berbeda dengan gambar rumah masa lalu yang saya lihat di internet, beberapa bagian tampak sudah dipoles lebih modern. Namun sebenarnya bangunan utama masih sama, ubin dan perabotan di dalamnya juga masih asli.

Sebuah meja tempat peribadatan berada di tengah ruangan dalam dengan foto-foto masa lalu di atasnya. Tempat tidur Seokarno dan Hatta dengan perabotan yang masih asli lengkap kelambunya tampak bersih dan rapi. Di pojok ruangan ada dua lemari yang berisi foto-foto masa lalu yang menyimpan kenangan sejarah peristiwa Rengasdengklok. Di dinding samping peribadatan, puisi Chairil Anwar terbingkai dengan rapi. Rumah sejarah yang sudah menjadi Cagar Budaya ini terawat dengan sangat baik, menurut cucu yang tinggal di bagian belakang rumah ini, ia memang menjaga rumah ini sesuai pesan kakeknya Djiaw Kie Song yang pada masa hidupnya seorang petani yang menggeluti Feng Sui. Berada di dalam rumah ini meskipun udaranya sangat sejuk, tapi saya bisa merasakan peliknya suasana puluhan tahun lalu saat menjelang proklamasi.

Setelah memotret semua sudut rumah, cucu pemilik rumah yang baik ini bahkan bersedia memotret saya di depan rumah dan membuka pagar depan. Beliau juga menyarankan saya mampir ke Candi Jiwa yang tidak jauh dari tempat itu. Maka setelah pamitan saya memutuskan mampie ke Candi Jiwa.

CANDI JIWA & CANDI BLANDONGAN

Dari rumah sejarah Rengasdengklok, saya menyusuri sepanjang jalan lurus yang bersisian dengan sungai, persawahan dan tanaman menghijau. Pemandangannya sangat indah sebenarnya jika sungai ini tidak dibelakangi dan bisa ditata dengan baik. Saya membayangkan bisa berperahu kecil di sepanjang sungai ini dengan tanaman bunga-bunga yang indah di sepanjang sisinya. Tapi kenyataannya di sepanjang sungai ini merupakan tempat penduduk mandi, mencuci apa saja, sikat gigi, buang hajat dan buang sampah. Jadi sebagian besar pemandangan jadi tidak mengenakkan.Di sudut-sudut jalan tampak poster pasangan yang sedang berlaga di pilkada nanti. Pasangan-pasangan ini tersenyum cerah dan bahagia di dalam fotonya. Salah satunya artis ibukota yang berperan dalam salah satu sinetron dengan rating tertinggi beberapa saat lalu. Semoga saja siapapun yang terpilih bisa mengubah segalanya lebih baik. Tempat ini menarik menurut saya, tetapi jadi sangat mengganggu dengan kegiatan di sepanjang sungai itu.

Setelah menemukan perempatan dengan tanda arah Candi Jiwa, saya belok ke arah kanan lalu tibalah di pinggir sawah. Kompleks candi ini memang terletak di tengah sawah tepatnya di kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Karawang. Setelah parkir di halaman rumah penduduk, saya menuju loket yang banyak orang antri. Ternyata ramai juga yang ingin mengunjungi candi. Tidak ada tiket sebenarnya tetapi harus membayar sukarela untuk memasuki kompleks candi. Lalu saya menyusuri pinggiran sawah yang sedang bagus-bagusnya hampir panen. Sepanjang pinggir sawah itu saya juga bisa menikmati padang luas yang terdapat banyak kambing sejenis biri-biri, ini sangat menarik seandainya digarap lebih maksimal. Jalan menuju candi disekitar persawahan juga sudah bagus dan bersih. Kompleks candi tampak di kejauhan di dalam pagar dan pengunjung hanya boleh melihat candi dari kejauhan.

Candi peninggalan Budha ini diperkirakan berkaitan dengan kerajaan Tarumanegara dan lebih tua dibanding Candi Borobudur. Di kompleks ini sebenarnya terdapat banyak titik candi, tetapi kemungkinan situs yang lain masih terpendam di dalam tanah. Setelah melihat Candi Jiwa, saya melewati persawahan yang sangat asri menuju Candi Blandongan. Candi Blandongan lebih luas dan terawat dengan sangat baik. Pengunjung juga hanya bisa melihat dari jauh karena dipagar. Di sekitar Candi Blandongan terdapat jalan-jalan kecil yang bisa dilewati memutar sehingga pengunjung bisa melihat candi dari berbagai arah. Karena lokasinya persis di tengah sawah maka udaranya terasa sangat enak. Suara penghalau burung dan aroma persawahan terasa khas. Pengunjung bahkan bisa duduk-duduk di bawah pohon menikmati siang di sekeliling candi. Tempat ini menarik menurut saya, hanya saja mungkin belum banyak dikenal. Atau saya yang nggak gaul?

Hampir sore ketika saya ingin melanjutkan ke pantai terdekat. Tetapi mobil malah kepentok jalan kecil yang mepet tambak. Takut jatuh ke dalam tambak, akhirnya saya memutuskan putar balik dan pulang. Karawang yang terasa jauh itu kini lebih dekat dengan saya. Kompleks percandiannya yang bersih dan berada di tengah sawah, sejarah yang melingkupi daerah ini dan bahkan sungai di pinggir jalan yang menyajikan pemandangan menganggu. Semoga saja ke depan tempat ini menjadi semakin menarik untuk dikunjungi.

*Photo monument dari Google, yang lainnya dokumentasi pribadi

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)