Tag Archives: travelwriter

Budapest Central Market Hall

Jika anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satu tempat yang selalu di kunjungi turis saat berada di Budapest adalah Central Market Hall atau Great Market Hall. Pagi hari sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest ini terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca.

Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali. Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar.

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi pasar ini? Pasar ini buka pada hari Senin sampai Sabtu mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hari minggu tutup. Jika anda tidak suka terlalu ramai maka anda bisa berkunjung pada pagi hari sekitar jam 8-9 hari Senin – Jumat, karena pada hari Sabtu pasar akan sangat ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Jangan lupa mengunjungi pasar ini saat anda ke Budapest!

 

KELILING ASIA MEMBURU CAHAYA

“Be in this world as though you were a stranger or a wayfarer” – Hadith

Bumi Allah itu luas dan perjalanan membuatku menyadari betapa kecilnya manusia. Kita singgah sejenak di bumi yang luas ini sebelum melanjutkan perjalanan yang lebih panjang lagi. Perjalanan juga mengajariku cara pandang yang luas dari berbagai sisi tentang suatu masalah, bertemu dengan orang yang berbeda-beda dan memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa Islam itu lembut, bersahabat dan tidak menakutkan. Aku mencintai perjalanan karena perjalanan mengajari banyak hal positip tentang kehidupan.
Awalnya saya tidak tertarik menulis buku perjalanan karena sudah terlalu banyak orang menuliskannya. Kalaupun menulis ingin mengambil sudut pandang yang berbeda, tetapi saya belum tahu sudut pandang yang mana. Tetapi seorang teman memaksa saya menulis. “Untuk apa melakukan perjalanan kalau tidak menjadi kenangan?” Begitu katanya. Dan salah satu kenangan bagi penulis adalah menuliskannya dalam sebuah buku. Memang saya sudah menuliskan artikel-artikel tentang perjalanan itu di berbagai majalah, tetapi belum mengumpulkan dalam sebuah buku. Teman saya terus memaksa, “Buku ini akan menjadi jejak kebaikan.” Katanya lagi. Akhirnya saya luluh.

 

 

Akhir 2016 ketika saya mengalami hal buruk dalam pekerjaan saya mulai menulis buku ini untuk menghibur diri. Menulis sambil mengingat-ingat senangnya di perjalanan membuat depresi saya berkurang. Saya belum berpikir ada penerbit yang akan menerbitkannya. Selain menulis ulang, saya juga mengumpulkan artikel-artikel yang sudah dimuat majalah dan saya ubah fokusnya. Saya ingin menulis tentang hal-hal baik yang saya temui di perjalanan. Hal baik selalu related dengan cahaya, maka saya menyebutkan “Memburu Cahaya” kebaikan di tempat-tempat yang saya lewati.
Sebulan menulis ulang dan mengubah fokus, saya kemudian mengirimkan ke penerbit. Seminggu kemudian penerbit GRASINDO (Kelompok Gramedia) menghubungi saya ingin menerbitkannya tepat pada bulan Maret untuk moment hari Kartini. Dan begitulah setelah editing dan pemilihan foto koleksi yang saya miliki, buku ini terbit. Tidak banyak masalah dan halangan untuk proses penerbitannya. Editor juga sangat menolong memperbaiki naskah saya.
“KELILING ASIA MEMBURU CAHAYA” adalah buku nonfiksi saya yang pertama tentang perjalanan. Sebelumnya saya menerbitkan buku novel dan kumpulan cerpen. Ternyata menulis nonfiksi itu menarik karena semua sumber dari fakta. Benar-benar seperti membuka kenangan baik kemudian menuliskannya. Saya menyukainya. Buku ini hanya sebagai jejak saya setelah mengunjungi beberapa negara Asia dan semoga bisa berbagi kebaikan dengan para pembaca.

 

Untuk yang belum baca, silakan ke toko buku. Masih ada di toko buku dan silakan membelinya, biar penulis bisa melakukan perjalanan yang lain dan menuliskannya. Sampai jumpa di toko buku!