All posts by Admin2

RUSIA : Jangan Menilai Buku Dari Covernya

“Jangan menilai buku dari covernya, jangan menilai orang Rusia dari film Hollywood.”

Malam sebelum berangkat traveling ke Rusia, saya menonton film “The Way Back” garapan Peter Weir tahun 2010 yang bercerita tentang Janusz seorang yang didakwa mata-mata atas saksi istrinya sendiri lalu ditahan di kamp Siberia yang tidak manusiawi. Tentara Rusia memperlakukan dia dengan sadis hingga Janusz berhasil melarikan diri melewati banyak rintangan alam dan selamat sampai di India.  Usai menonton film saya masih berdebar, apa benar orang-orang Rusia begitu tidak menyenangkan seperti film-film Hollywood yang saya tonton? Seorang teman yang sedang solo traveling ke Mongolia lalu memasuki Rusia melalui Irkutsk lewat pesan online bilang kalau mereka memang tidak ramah, jadi mesti mempersiapkan diri menghadapi hal yang sangat berbeda dari traveling sebelumnya. Oh, baiklah!

Setelah 13 jam penerbangan Jakarta-Moscow, transit di Bangkok semalam,  tepat jam 10 malam berikutnya sampailah saya di Demodedovo International Airport Moscow. Ada dua bandar udara internasional lainnya di Moscow selain Demodedovo yaitu Vnukovo dan Sheremetyevo. Begitu keluar dari lobby bandara saya disergap suhu 7 derajat celcius. Tangan rasanya kebas saat memesan taksi online Yandex karena sudah tidak sanggup naik metro menuju penginapan. Yandex sangat mudah digunakan seperti grab, uber atau gocar di Indonesia, kita juga bisa menggunakan nomor Indonesia tanpa perlu memiliki nomor lokal.  Pembayaran bisa cash ataupun kartu kredit. titik penjemputan yang dipilihpun tepat ditempat kita berada, jadi tidak usah menggeser-geser titik. Lima menit kemudian Yandex yang saya pesan datang lalu mengantarkan ke penginapan. Satu jam lebih diselingi macet, menjelang tengah malam saya tiba di depan alamat yang saya tuju. Sopir yang tidak bisa bahasa Inggris hanya menunjuk bangunan di depan saya, lalu saya menyeret koper ke sana.

Dan mulailah drama itu! Bangunan itu memiliki akses untuk masuk, sementara saya tidak punya akses dan tidak bisa menelepon pemilik penginapan karena tidak memiliki nomor lokal. Tidak yakin bahwa pintu masuknya yang memiliki akses itu, saya segera berjalan ke samping memasuki pintu lain yang kebetulan terbuka. Tiba-tiba seorang cowok Rusia pulang belanja dan bilang bahwa alamat yang saya tuju bukan di situ. Dia tersenyum ramah dan bersedia mengantar ke alamat yang benar. Akhirnya cowok itu mengantar ke pintu samping kanan hingga masuklah saya ke sebuah tempat seperti kost-kost-an. Tampak beberapa anak muda sedang duduk sambil belajar. Tempat itupun ternyata bukan alamat yang saya tuju.  Sepertinya ini memang benar-benar kost-kostan. Ya ampun! Saya benar-benar tersesat!

Dua cowok di rumah seperti kost-kost-an itu berbaik hati mengantar kami ke alamat yang mereka yakini benar. Dia tidak bisa berbahasa Inggris tapi masih bisa menggunakan bahasa isyarat yang saya pahami. Ternyata balik lagi, alamatnya ada di pintu yang ada aksesnya itu dan si cowok memiliki akses untuk masuk. Dini hari, saya berhasil istirahat di penginapan yang saya pesan atas bantuan cowok-cowok baik itu. Tak hanya itu di jalanan seorang ibu yang pernah ke Bali juga berusaha menolong kami yang tersesat, hanya saja memang jarang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan ada yang berbaik hati mengangkat koper kami saat kami kesulitan membawanya.

Esok malamnya saat saya nongkrong di kafe dekat stasiun menunggu perjalanan malam ke Sank Petersburg, dua orang bapak-bapak Rusia mengajak kami ngobrol. Ternyata mereka pernah keliling Indonesia dan meski menggunakan Inggris terbata-bata tampak mereka berusaha ramah. Kami sempat bertanya, “apa benar orang Rusia susah tersenyum? Dia justru tersenyum tipis, “tidak semua begitu. Mungkin yang susah tersenyum beban hidupnya berat, tapi saat liburan di luar Rusia mereka akan mudah tersenyum.”  Sebagian mereka memang terlihat judes, tapi jangan tertipu dengan muka judes karena mereka ringan tangan mengangkatkan koper kami keluar dari kompartemen kereta.

Kesan pertama saya terhadap orang Rusia baik dan melegakan. Ternyata benar, jangan menilai sesuatu dari kabar-kabar yang dihembuskan orang lain, mending lihat sendiri kenyataannya. Oke, ini hanya kesan pertama saya sebagai turis. Bisa jadi orang lain akan mengalami hal yang berbeda, atau mereka yang tinggal lama di Rusia tentu lebih tahu secara mendalam. Saya masih akan menulis terus tentang Rusia, jadi jangan pindah chanel dulu! 🙂 Oya, foto yang saya tampilkan mungkin tidak tepat mengikuti tulisan, tetapi menggambarkan bagaimana orang Rusia yang saya temui. Tunggu tulisan saya selanjutnya! 🙂

 

 

 

CARLOS FIGUEIREDO : Keliling Dunia Bersama PITUFO

“Jika kamu tidak menemukan teman untuk memulai perjalanan, maka kamu akan menemukan teman dalam perjalanan”. Itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan persahabatan saya dengan Carlos. “Departures’ salah satu program adventure-nya National Geografic membuat kami berteman sekaligus mendorong saya memulai melakukan perjalanan beberapa tahun silam. Tak hanya tips-tips traveling dan tempat-tempat rekomendasi yang saya dapatkan dari Carlos, tapi juga banyak hal positip. Salah satu yang saya kagumi adalah cara dia memandang orang lain tanpa membeda-bedakan apapun latar belakangnya. Sharing kali ini saya ingin membagi cerita perjalanan Carlos.

Hey Carlos! Tell us a bit about yourself!

Well, my name is Carlos Figueiredo and I have Africa in my heart, because I was born in Angola in June 1964 and lived there for my first 11 years. At that age I came to Portugal with my parents and I live in a small town called Fátima, in the Centre of the country. I studied Law at the University but did not continued…I should have studied design or architecture, but I didn’t. So, has you know, at the present time, I work in a beautiful store where I sell art and decoration items. Sometimes I do design projects…just sometimes. I’m very curious about everything and I love to learn about our planet, about the Universe. I’m a traveler…every time I can, inside and outside of Portugal. I love our planet and all the species in it and I try hard to protect them (planet and animals). My daily life is as green as possible. I like Art (films included!), History, Astronomy, Geography and Biology. I like interior design and gardening. I’m becoming a minimalist, so I try to surround myself only by things and people who means something for me (like you, my dear friend!).

What countries does your family have its roots in, and how did that shape your love for travel?

All my family roots are, as far as I know, Portuguese. I don’t know if we have Nordic or Roman or Arab roots, because they lived in this territory before Portugal was a country. I feel I have something Arab in my soul. My mother’s family moved to Angola in the late 19th century, so my Great- Grand Mother, my Grand Mother and my Mother were born in Africa. The fact that we lived in Africa marked our way of being and living. We used to travel a lot in Angola, so that kind of living shaped, for sure, my love for travel.

How many countries have you visited? What are your top 3 favourite countries and why?

I visited 33 countries until now. Not counting Angola and Portugal. It’s very difficult to choose 3, but Morocco, Egypt and India are among my favorite. Angola and Portugal are very special for many reasons.

Your favorite cuisine out of all of your travels? Why?

My favorite cuisine is Indian, for all that spicy flavor. I have to say that African cuisine is very spicy too and I grew eating it as well as Portuguese food while I lived in Angola.

I love to see you travelling with Pitufo, looks sweet. Pitufo means SMURF in Spanish, right? When did you meet Pitufo? Did you buy it or someone gave you as a gift?

Yes, Pitufo is Smurf in Spanish. In 2012, my travel friend Victor rescued Pitufo from a fair and offered me that wonderful blue friend. We took him to Jordan that year and, from there, Pitufo became a travel companion in all my trips, even inside Portugal.

Do people also love Pitufo? Where did he stays during the trip?

First he was an undercover or clandestine traveler, always hidden. He only came out of the backpack for pictures. Now, even he travels inside a backpack, sometimes comes out and everybody sees him. He used to fly in the suitcase, down in the plane’s luggage hold, but from 2015 he travels near me in the plane…inside my backpack. Sometimes he comes out for pictures near the window! People loves Pitufo and always smile when they see him.

What will visiting every country in the world mean to you personally?

It means knowledge. I don’t travel to say that I’ve been there. I travel to know, to learn as much as possible about every people who lives in this planet, about their History, about the other animal and plant species with which these peoples share their land.

Can you tell me any particularly crazy or scary stories from your travels so far?

Fortunately, no scary stories. Well, just one, precisely with Pitufo! When we came from Dubai, the suitcase where he traveled in, stayed in Istanbul, where we stopped in our way home. I thought I had lost him, poor little one, alone in Turkey! But, that night, someone came from the Lisbon airport to deliver that suitcase at my home…what a joy!!!!! Pitufo was smiling and happy. He had caught the next plane to Lisbon, all by his own. He was proud of himself. So, from that day on, he always travels with me inside the plane passenger’s cabin. I have other stories, very interesting moments, that I can tell you another time.

I saw your mom on instagram. So beautiful. She likes travel too?

Thank you. She would like a lot, but now she’s afraid to fly! She traveled by plane before, when we came from Angola, but now she refuses to get in a plane. When she was young, she and her parents, used to travel by ship between Africa and Portugal. But we already traveled together here in Portugal. She loves Pitufo!

The last question, will you visit Indonesia?

For sure I will visit your wonderful country. So many things and places to visit, so many things to learn about!  Meet you there…or here in Portugal! Why not? Thank you to include me in your project!

 

note : all pictures taken from Carlos Figueiredo dan Pitufo the traveler instagram (@figueiredo64 and @pitufothetraveler)

.

 

ANDREAS TRIJAYA : “Selalu Ada Kisah Dari Setiap Perjalanan”

Bekerja sebagai presenter dan reporter salah satu stasiun televisi swasta  membuat sahabat saya satu ini sering bertugas ke berbagai tempat. Dia juga seorang backpacker yang sudah mengunjungi banyak negara di Asia.  Saya menyimak kisah perjalanannya yang menarik melalui akun instagramnya @andreastj. Banyak hal inspiratif yang saya dapat darinya dan menggerakkan saya untuk menyerap hal-hal baik. Sikapnya yang positip, tenang dan sabar dalam berbagai kondisi membuat orang di sekelilingnya tertular aura positip. Dia tak banyak berubah selama 9 tahun saya mengenalnya. Sharing kali ini saya ingin ngobrol dengan sahabat saya Andreas Trijaya tentang kisah perjalanannya.

Hai Andre! Cerita sedikit dong kegiatan kamu sehari-hari saat ini.

Hai! Saat ini saya Associate Producer di salah satu stasiun TV Swasta, kegiatan saya sehari-hari nggak jauh dari koordinasi dengan tim liputan, edit naskah dan mendampingi proses editing video. Ada kalanya juga turun ke lapangan untuk liputan, tapi udah agak jarang. Sebagai netizen, sehari-hari ya scrolling sosmed, posting instastory sampah dan liat2 flash sale di marketplace.

Sejak kapan sih suka traveling? Ada nggak hal yang bikin Andre suka traveling waktu kecil dulu?

 

Waktu kecil sebenernya jarang traveling karena saya bukan dari keluarga berkelebihan. Semua serba cukup-cukup aja, jadi nggak ada dana lebih untuk traveling. Kalau pun pergi keluar kota, biasanya mengunjungi saudara yang paling jauh pun cuma ke Malang. Waktu SMA dan masa kuliah saya nggak pernah traveling, jadi setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya baru coba-coba traveling.
Tahun 2013 saya mulai coba-coba traveling dengan dua teman dekat sejak SMA, ke Malang karena waktu itu ada tiket murah Jakarta-Surabaya PP hanya 400ribu. Perjalanan Surabaya-Malang kami tempuh menggunakan mobil “taksi” dari bandara Juanda. Kami satu mobil dengan sepasang suami istri. Dalam perjalanan, si bapak yang pernah bekerja di Vietnam bercerita pada kami soal negara itu. Kami pun bertekad suatu saat bakal ke Vietnam juga (yang akhirnya kesampaian tahun 2016 sewaktu trip 3 negara Vietnam – Kamboja – Thailand). Tahun 2015, kami mulai “latihan” traveling ke luar negeri ke Malaysia dan Singapura. Dari situlah, setiap tahun kami berusaha traveling bareng keluar negeri. Sekaligus jadi titik awal saya untuk menyelesaikan trip ASEAN sebelum usia 30 tahun (meski kenyataannya meleset juga).

Andre sudah mengunjungi banyak negara dan pelosok Indonesia. Semua itu karena pekerjaan kamu sebagai reporter atau murni sebagai backpacker?

Untuk trip ke 9 negara ASEAN selain Indonesia, saya solo backpacker dan bareng teman. Tapi  ada juga saya ke Malaysia, Singapura, Thailand dan Timor Leste karena pekerjaan. Untuk Indonesia, mostly karena pekerjaan dan  saya sudah mengunjungi 25 provinsi.

Gimana sih Ndre mengatur perjalanan biar jatuhnya murah tapi tetap nyaman?

Murah mahal itu sebetulnya relatif ya. Tapi paling tidak, selama bepergian saya mendapat harga tiket lebih murah daripada biasanya. Untuk mendapat tiket murah, biasanya saya menunggu musim promo, mayoritas sih dari AirAsia. Biasanya dari pembelian sampai keberangkatan, paling tidak ada rentang waktu 6 bulan sampai setahun. Rentang waktu itulah saya pakai untuk cicilan tiket, menabung untuk biaya traveling dan mencari alternatif akomodasi. Soal nyaman, tidak semua orang bisa bepergian tanpa bagasi pesawat. Untungnya, saya selalu bisa menakar barang bawaan sehingga cukup di kabin pesawat yang maksimal hanya 7-10kg. Biasanya, saya membawa baju atau barang yang kira-kira bisa dibuang saja, sehingga tidak menambah beban saat kepulangan (karena digantikan dengan sedikit oleh-oleh). Penginapan yang nyaman dan murah juga penting. Saya bukan tipe orang yang bisa menginap di dormitory, jadi sebisa mungkin saya mencari kamar yang murah dan terjangkau transportasi publik.

Dari semua negara yang sudah Andre kunjungi, negara mana yang paling Andre suka? Kenapa?

Entah kenapa saya suka Kuala Lumpur. Suasananya nggak beda jauh dengan Jakarta, tapi biaya makan cukup murah dan akses transportasi publik mudah dijangkau. Selain itu, banyak street food yang enak-enak.

Asyik mana sih solo trip sama pergi rame-rame? Kalau lagi solo trip gimana caranya Andre ngambil moment dari foto-foto itu sendirian di tengah keramaian?

Saya fleksibel kok, dua duanya asik. Mau pergi sendiri atau bersama teman bisa bikin saya nyaman. Hanya saja, kalau pergi bersama teman ada kalanya harus meredam ego. Semua harus disepakati bersama. Soal foto, sejak 2013 saya sudah mencoba jadi turis mandiri. Berbekal tripod, kamera ponsel dan remote bluetooth. Kalau lagi ramai ya cuek aja, kan nggak kenal ini. Paling diliatin aja.

Ada nggak yang Andre cari dari setiap perjalanan?

Nggak ada yang saya cari sih, cuma pingin liat tempat-tempat yang berbeda dari Indonesia aja. Tapi dalam setiap perjalanan, selalu ada kisah untuk diceritakan. Cara hidup dan keyakinan yang berbeda dengan Indonesia, membuat kita bisa lebih berempati dan menghargai perbedaan.

Setelah mengunjungi negara-negara Asean, Tiongkok, Jepang, Korea, Jordan dan Jerusalem destinasi selanjutnya kemana? Kenapa ingin ke negara tersebut?

Rencananya mau ke Taiwan, pengen lihat Ing Te-nya Meteor Garden. Hehehe.. Saya nggak pernah menargetkan tahun ini harus ke sini atau ke sana. Kalau ada tiket murah, ya itu saya beli. Setelah beli, baru cari tau apa yang istemewa dan unik dari negara tersebut. Kebetulan saya sudah ke China, Jepang dan Korea. Yah itung-itung nambah list negara di Asia Timur (walaupun Taiwan termasuk negara yang nggak diakui PBB).

Gimana cara Andre menanggapi orang-orang nyinyir kayak misalnya “traveling itu cuma buang-buang uang mending dibeliin rumah atau mobil, traveling itu kerjaan orang yang melarikan diri dari hal-hal menyedihkan.”

Sama seperti orang nggak paham dengan kegemaran traveling, saya juga nggak paham kenapa orang mencari kebahagiaan dengan berumah tangga. Hahaha.. Jadi ya udah diemin aja, karena standar kebahagiaan orang kan beda-beda. Tapi karena “terlihat” sering traveling, kadang teman-teman saya malah suka nanya gimana caranya dapat tiket murah.

Andre tuh selalu kelihatan positip, sabar dan tenang. Gimana sih bisa konsisten bersikap kayak gitu?

Saya nggak selalu positip juga sih. Ada kalanya berpikiran negatif buat jaga-jaga kemungkinan terburuk. Kalaupun ada kejadian yang nggak menyenangkan saya coba merespon dengan berpikir begini, “mungkin memang jalannya harus begini.” Saya berada di posisi sekarang juga efek dari mencoba berpikiran positip di masa lalu. Misalnya, saya dulu nggak keterima di PTN dan akhirnya kuliah di PTS. Awalnya sedih, tapi kalau saya nggak kuliah disitu, mungkin saya nggak akan bekerja di media yang bisa membawa saya keliling Indonesia. Soal sabar, saya menganggap nggak ada gunanya marah-marah. Kalau semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus buang-buang energi untuk adu mulut atau baku hantam?

Oke deh Ndre, buat mereka yang ingin traveling tapi masih berangan-angan, Andre punya saran nggak?

Kaya jargonnya Tokopedia, mulai aja dulu. Kalau untuk traveling keluar negeri, bisa coba dari yang dekat-dekat dulu. Teman-teman saya suka bertanya, soal kendala bahasa. Perbedaan bahasa ternyata juga jadi salah satu alasan orang takut traveling. Padahal jaman sudah canggih, ada google maps dan google translate. Kalaupun nggak cukup, ada bahasa universal yaitu bahasa tubuh. Nggak perlu malu, karena hakekatnya bahasa hanyalah sarana untuk berkomunikasi. Kalau bahasa tubuh jadi sarana komunikasi yang efektif, kenapa enggak?

 

Note :  All pictures are taken from Andreas Trijaya Instagram.

 

 

 

HORAS MENJUAH-JUAH!

Menjelajahi sebagian Sumatera Utara sebenarnya tidak ada dalam rencana saya. Tapi karena tujuan utama saya ke Aceh gagal, akhirnya saya memutuskan keliling Sumatera Utara. Tidak banyak yang saya lihat karena saya hanya punya waktu sehari dari pagi sampai malam, tetapi lumayanlah. Dengan mobil sewaan dan seorang sopir sepuh yang lihai menyetir saya berangkat pukul 9 pagi mengelilingi Sumatera Utara.

 

Tujuan pertama saya Danau Toba karena cukup jauh, sekitar 5 jam perjalanan dari tempat saya menginap di kota Medan. Tempat ini sudah pasti sangat touristik, tapi ini salah satu tempat yang ada dalam mimpi saya untuk dikunjungi. Saya mengenal Danau Toba dari buku bacaan dongeng yang dibelikan Ibu waktu saya kecil. Ada banyak kisah tentang Danau Toba di buku itu membuat saya bermimpi untuk mengunjunginya kelak. Meski tidak sengaja, akhirnya saya berhasil mewujudkan mimpi itu.

Mobil melintasi hutan sepanjang perjalanan menuju Danau Toba dan mampir membeli Lemang, makanan khas Medan yang dijual di pinggir jalan. Lemang menyerupai lemper kalau di Jawa, enaknya dimakan saat hangat. Sepertiga perjalanan kemudian, mobil mampir di Vihara Avolakitesvara yang terletak di Jalan Pusuk Buhit, Pematang Siantar. Vihara yang menjadi salah satu destinasi wisata lintas agama ini terletak di ketinggian dengan pemandangan yang indah dan terdapat patung Dewi Kwan Im yang tingginya mencapai 22,8 meter.  Menurut Pak Sopir, tempat ini ramai dikunjungi wisatawan pada weekend dan sore hari. Saya tiba di Vihara tepat jam 11 siang sehingga panasnya luar biasa. Saya hanya singgah 30 menit mengambil foto lalu melanjutkan perjalanan karena tidak kuat dengan panasnya.

Hampir jam 1 siang saat saya tiba di pinggiran Danau Toba dan disarankan makan siang di salah satu warung makan pinggir danau oleh Pak Sopir. Makanannya sebenarnya masakan padang tapi ada juga beberapa makanan khas seperti jus Martabe dan ikan pora-pora goreng. Jus martabe terbuat dari markisa dan terong Belanda yang ditambah dengan potongan lidah buaya. Sementara ikan pora-pora adalah ikan air tawar yang berasal dari Danau Toba.  Saya suka dua makanan ini, sangat suka malahan.

Setelah sholat dhuhur di warung ini, saya jalan ke sekiling Danau Toba, tapi di spot ini tampak kurang menarik. Tidak ada yang bisa saya lihat selain tulisan Selamat Datang di Danau Toba dan panas tengah hari yang menyengat. Mungkin dari Samosir, Danau Toba tampak indah tapi sayangnya saya tidak punya waktu ke Samosir.  Pak Sopir menyarankan saya melanjutkan perjalanan ke air terjun Sipiso-piso dan singgah sebentar di spot lain untuk melihat Danau Toba jika dari spot ini kurang memuaskan. Saya setuju kemudian kami melanjutkan perjalanan.

Spot lain yang lebih menawan untuk melihat Danau Toba itu adalah di depan Rumah Pengasingan Bung Karno di Parapat. Tempat yang dulunya perkebunan milik Belanda ini lebih sejuk dan pemandangannya sangat indah.  Bung Karno pernah diasingkan ke sini selama dua bulan bersama Agus Salim dan Sjahrir.  Saya sebenarnya ingin masuk ke dalam rumah pengasingan Bung Karno ini, tetapi pintunya dikunci dan tidak ada penjaganya, mungkin sedang sholat karena masih waktu dhuhur. Akhirnya saya hanya duduk beberapa saat di depan rumah ini untuk menikmati Danau Toba dari kejauhan lalu melanjutkan perjalanan.

Pak Sopir sebenarnya ingin mengantar saya ke banyak lokasi menarik, tetapi waktunya tidak akan cukup. Akhirnya kami memutuskan ke air terjun SiPiso-Piso kemudian mampir Berastagi. Sepanjang perjalanan menuju SiPiso-Piso, saya minta berhenti beberapa kali karena menemui ladang bunga matahari dan deretan bunga-bunga yang indah. Pak Sopir sangat sabar membiarkan saya foto sepuas-puasnya di spot tersebut. Sampai tiba di air terjun SiPiso-Pisopun saya kesorean.

Air terjun SiPiso-Piso sebenarnya sangat keren. Air terjun itu menyembur dari celah bebatuan tinggi dan pengunjung bisa menikmatinya sepanjang perjalanan menuju dasar air terjun. Perlu waktu sekitar 1 jam berjalan kaki mencapai dasar air terjun, tetapi saya hanya sampai separuhnya karena kuatir keburu malam. Sepanjang berjalan menuju dasar air terjun melalui jalanan berundak rapi yang kiri kanan tampak pemandangan hutan hijau yang menakjubkan. Sayangnya tempat indah ini kurang didukung dengan fasilitas yang memadai. Toilet yang kurang bersih dan sampah yang bercecer dimana-mana. Belum lagi tempat parkir yang kurang rapi dan terkesan sembarangan. Tepat jam 5 sore saya melanjutkan perjalanan.

Berastagi masih jauh, tetapi Pak Sopir sepuh masih semangat mengantarkan saya. Beliau semangat bercerita perbedaan Horas dan Menjuah-Juah. Meskipun keduanya sama-sama sapaan salam, tetapi Horas lebih banyak digunakan oleh suku Batak sementara Menjuah-Juah lebih banyak digunakan suku Karo. Beliau juga menyarankan saya mampir ke pasar buah Berastagi meskipun sudah malam. Katanya sayang kalau sudah sampai sini tidak mampir pasar Buah Berastagi.

Saya hanya melihat Sumatera Utara dalam beberapa jam, tetapi kota ini menarik. Saya belum tahu banyak seperti apa di dalamnya selain hanya cerita-cerita dari Pak Sopir. Semoga lain kali memiliki kesempatan lebih baik untuk ekplore sehingga bisa mengenali lebih dalam. Horas! Menjuah-Juah!

 

NISHIKI MARKET KYOTO : Pasar Sejak 400 Tahun Lalu

Mengunjungi Kyoto, selalu membuat saya seperti kembali ke Jepang pada zaman Edo. Kebudayaan ratusan tahun lalu yang masih dilestarikan itu tercermin dari bangunan-bangunan eksotis di sepanjang Gion. Tak hanya bangunan-bangunan eksotis pada zaman Edo, tetapi di sini juga ada Nisiki Market. Pasar rakyat yang ada sejak 400 tahun lalu. Banyak wisatawan manca negara maupun warga lokal berkunjung ke pasar ini. Pasar ini tampak bersih, rapi, dinamis dan menyenangkan. Berkunjung ke Kyoto tanpa mampir ke Nisiki market tidak akan lengkap. Apalagi kalau anda penggemar kuliner Jepang. Nisiki Market menjual banyak sekali kuliner khas Kyoto yang sangat menarik.

Saya berkunjung ke Nishiki Market setelah mengelilingi Gion untuk melihat bangunan-bangunan zaman Edo yang masih berdiri kokoh. Sebenarnya ingin mencicipi teh di salah satu bangunan itu namun batal karena harganya mahal. Maka saya memilih untuk berburu kuliner di Nishiki Market. Memasuki pasar ini saya justru kebingungan mau membeli apa karena segala kuliner Jepang ada di sini. Mulai dari makanan khas Kyoto, buah-buahan, acar, teh sampai ikan asin.

Saya tergoda untuk membeli buah strowberry yang terlihat segar dan besar-besar. Saya jarang menemukannya di Indonesia. Lalu teman saya membeli teh hijau untuk oleh-oleh. Ada bermacam-macam teh bisa kita dapatkan di pasar ini dengan harga terjangkau. Jangan lupa mencoba sushi dan beberapa penganan lokal yang sangat menarik. Jika anda penggemar kuliner, jangan lewatkan mampir ke Nishiki Market!

Kenapa Saya Ingin Pergi ke Rusia?

Suatu sore sekitar tahun 1994 saat saya tenggelam membaca majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, yang populer pada masa itu di Jawa Timur, Bapak datang membawa sebuah buku dan menyodorkan ke saya. Buku asing itu saya pandangi dengan tidak tertarik. Buku apa sih ini? Mungkin buku pewayangan, begitu pikir saya karena Bapak saya seorang dalang dan hobbynya memaksa saya membaca kisah-kisah pewayangan.

“Ini buku kumpulan cerita pendek karya Anton Chekhov, sastrawan Rusia. Kamu harus membacanya kalau ingin jadi penulis,” kata Bapak. Lalu saya menjadi tertarik karena buku itu bukan buku pewayangan. Kata Bapak, Anton Chekhov seorang penulis besar Rusia yang terkenal karya cerpen-cerpen dan dramanya. Inilah awal ketertarikan saya dengan Rusia.

Tak hanya mengenalkan Rusia melalui karya Anton Chekchov, Bapak juga menceritakan hubungan kenegaraan antara Indonesia-Rusia pada masa Presiden Soekarno yang hangat tetapi berubah dingin sejak Presiden Soeharto memangku jabatan. Bapak saya seorang pemuja Soekarno tulen dan mengagumi Rusia. Saya melihat mata Bapak selalu berbinar saat bicara tentang Soekarno ataupun Rusia. Binar yang menulari saya menjadi ingin tahu apa dan bagaimana Rusia.

Tetapi mengenali negara dengan wilayah hampir 1/8 bumi dan terluas di dunia ini terasa sulit. Wajah Rusia melalui banyak media terlihat berbeda. Saat menonton film-film Hollywood wajah Rusia begitu mengerikan sementara saya tidak bisa menonton film-film asli buatan Rusia. Saat membaca karya-karya Chechov saya mengenali perilaku batin manusia Rusia yang unik. Sampai kemudian, Bapak membawakan saya buku lainnya yang berjudul ‘Mati Ketawa Ala Rusia’. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Gus Dur. Buku ini berisi lelucon ala Rusia mulai dari tema politis sampai rumah tangga. Lelucon-lelucon satire tentang kondisi Uni Soviet pada masa itu membuat saya terpingkal-pingkal. Ya Tuhan, Rusia sungguh lucu. Tetapi bagaimana mereka bisa kelihatan begitu misterius dan mengerikan?

Pandangan tentang Rusia yang saling bertolak belakang ini justru membuat saya sangat tertarik tentang Rusia. Bukankah hal-hal yang misterius menggugah adrenalin kita untuk mengetahui lebih banyak? Dan, begitulah saya. Saya tidak  bisa dihadapkan pada hal yang samar-samar dan hanya ‘kata media, kata orang’, saya ingin membuktikannya sendiri seperti apa Rusia itu suatu hari nanti. Itu tekad saya!

Lalu, bertahun-tahun kemudian saat tulisan saya berupa artikel perjalanan dan cerita pendek mulai dimuat media lokal maupun nasional, Uni Soviet-pun telah bubar dan Bapak juga sudah berpulang, saya masih terus mencari informasi tentang Rusia. Internet memuaskan keingintahuan saya tentang Rusia. Negara kaya budaya dengan bangunan-bangunan bersejarah yang luar biasa. Moskow, Saint Petersburg, Kazan, Sochi, Kaliningrad, Velikiy Nodgorod, Vladimir dan banyak lagi tempat menarik di sana yang layak dijelajahi dan dituliskan menjadi pengalaman saya melihat lebih luas. Pengalaman yang ingin saya persembahkan untuk Bapak saya yang telah tiada. Saya akan bilang padanya, “Bapak, saya mewujudkan mimpimu melihat Rusia yang sebenarnya. Dan Bapak benar, Rusia itu mengagumkan.”

Mudahnya Mengurus Sendiri VISA RUSIA

Rusia terkesan misterius sekaligus buruk karena sebagian kita melihatnya dari film-film Hollywood. Tapi bukankah hal-hal yang misterius itu justru menantang sebagian orang untuk melihat faktanya? Salah satunya saya. Saya sangat tertarik datang ke Rusia untuk membuktikan hal-hal misterius itu.  Maka, saya menyiapkan sendiri proses perjalanan saya ke Rusia, salah satunya mengurus visa Rusia saya sendiri.

Sesulit apa sih mengurus visa Rusia kita sendiri? Jawabannya ; Tidak sulit! Jika anda mau membaca petunjuk proses step by step yang tersebar di internet dan mengikutinya. Dengan mengurus sendiri, anda akan menghemat biaya yang diambil agen sekaligus dapat bonus belajar hal baru mengurus visa Rusia. Karena saya suka belajar hal baru dan tidak punya uang untuk berbagi dengan agen, maka saya lebih suka melakukan semuanya sendiri.

Dokumen apa saja yang harus disiapkan untuk mengurus visa Rusia?

  1. Passpor yang masih berlaku sekurangnya 6 bulan sebelum keberangkatan dan harus ada halaman kosong, jangan sampai halaman passpor anda sudah dicap semua sehingga tidak menyisakan halaman kosong.
  2. Invitation Letter yang harus disertakan saat mengajukan dokumen. Invitation Letter ini akan saya jelaskan nanti.
  3. Pas foto berwarna 3.5×4,5 satu lembar, dengan background putih. Foto ini nanti untuk ditempelkan di formulir dan saya tidak diminta foto yang lain lagi.
  4. Tiket Pesawat return Jakarta-Rusia yang sudah dibayar lunas.
  5. Formulir aplikasi visa Rusia yang sudah diisi secara online, kemudian diprint dan dilengkapi dengan foto kita. Petunjuk pengisian formulir dan link-nya bisa anda search sendiri di internet. Sangat mudah tinggal mengikuti saja.
  6. Menyiapkan uang USD untuk membayar visa. USD 80 untuk single entry dengan waktu regular sekitar 14 hari dan USD 160 untuk single entry kilat 5 hari. Biaya untuk double entry atau multiple entry bisa anda cek di website kedutaan Rusia. Sebaiknya anda membawa uang dollar karena kedutaan hanya menerima pembayaran menggunakan USD.

Ada nggak dokumen lain yang perlu disiapkan sebagai pendukung? Saya selalu menyiapkan semua dokumen pendukung meskipun tidak selalu diambil oleh kedutaan karena saya malas bolak-balik ke rumah saya yang di planet lain sementara lokasi kedutaan jauh, jika dokumen itu diperlukan.

  1. Print out semua penginapan yang telah saya pesan dengan bukti PAID.
  2. Print out tiket sambungan antar kota (kereta malam, bus, pesawat dalam Rusia) yang telah saya pesan dengan bukti PAID.
  3. Fotocopy hartu identitas/KTP.
  4. Itinerary perjalanan selama di Rusia, tidak harus detail tetapi itinerary ini bersesuian dengan penginapan, tiket antar kota dan invitation letter.
  5. Asuransi perjalanan, meskipun ini dikembalikan oleh pihak kedutaan. Saya selalu membuat asuransi perjalanan untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi maka saya tidak terlalu merepotkan keluarga saya. Dan salah satu asuransi perjalanan mengcover satu orang biaya keluarga yang berkunjung karena kita sakit di negara tersebut, hingga pemulangan jenazah sampai negara asal.

Apakah persyaratan visa Rusia tidak menggunakan bank reference dan jumlah uang tertentu di rekening seperti visa Scengen, United Kingdom atau beberapa negara lainnya? Tidak! Visa Rusia tidak memerlukan syarat rekening tabungan. Tetapi yang diwajibkan adalah invitation letter dari biro resmi perjalanan di Rusia dan menggunakan bahasa Rusia. Terus gimana cara mendapatkan invitation letter ini? Mereka yang tinggal di hotel sebagian bisa minta invitation letter ke hotel tersebut. Tetapi pihak kedutaan memiliki agen resmi yang mereka percaya yaitu www.brovenik.com. Kita tinggal klik brovenik.com dan disana sudah ada petunjuk dalam bahasa Inggris bagaimana mendapatkan invitation letter itu. Kita akan mengisi formulir kecil, lalu membayar $39.5. Dalam 24 jam invitation letter itu akan dikirimkan ke email kita dalam bentuk PDF dan siap di print untuk digunakan sebagai dokumen syarat pengajuan visa. Semudah itu! Iya, asal kita mau membaca dan mengikuti petunjuknya saja kok!

Formulir isian Visa online

 

Setelah dokumen lengkap, kita datang ke kedutaan Rusia yang ada di seberang Plaza Festival kawasan Kuningan. Tapi jangan harap datang begitu saja akan dapat nomor antrian. Pelayanan di sini masih manual. Kita akan menulis nama kita di dinding pagar kedutaan pada jam 5 pagi agar mendapat nomor antrian sebelum 10 orang (karena mereka hanya melayani 10 nomor, soal ini jangan tanyakan ke saya, saya juga nggak ngerti kenapa di zaman seperti ini, pelayanan antrian masih manual). Lalu kita datang lagi jam 8.30, saat pagar kedutaan hampir buka. Jangan lupa setelah anda menulis nama anda di dinding pagar itu anda potret, jadi misalnya petugas mengatakan nama anda tidak ada, anda masih memiliki buktinya dalam foto itu.

Kedutaan Besar Rusia di Jakarta

Proses memasukkan dokumen tidak begitu rumit, jika semua dokumen lengkap, anda akan mendapatkan kwitansi pembayaran untuk pengambilan visa anda diwaktu yang telah ditentukan. Jika dokumen anda belum lengkap maka akan dikembalikan dan anda diminta untuk memenuhi kekurangan itu. Jadi keutungan pengurusan visa Rusia, kita tidak akan kehilangan uang yang kita bayarkan karena jika dokumen sudah lengkap dan membayar bisa dipastikan kita akan mendapatkan visa.

Kwitansi bukti penerimaan dokumen dan pembayaran untuk pengambilan visa

Dua minggu kemudian, saya mengambil visa saya. Tanpa menggunakan nomoe antrian dan mereka memberikan passport beserta visa di dalamnya sekitar jam 12 siang. Sebaiknya anda datang jam 11-12 untuk pengambilan visa. Karena pagi hari mereka masih mengurus dokumen-dokumen yang masih seabrek meskipun nomor yang mereka berikan hanya 10 biji. Hidup di era online membuat hal-hal manual terasa menyesakkan, tetapi demi bisa melihat Rusia, saya tidak keberatan! Akhirnya saya dapatkan visa saya, dan pengalaman itu saya share ke teman-teman semua. Jangan ragu mengurus visa sendiri!

 

 

 

Hoi An Roastery ; Secangkir Kopi Di Tepi Sungai Thu Bon

Di tepi sungai Thu Bon yang mengalir tenang, kota kuno Hoi An yang sudah berusia 300 tahun lebih tampak eksotis.  Pada malam hari lampion-lampion akan menyala menerangi seluruh penjuru kota kuno dengan bentuk-bentuk yang antik sekaligus cantik.  Bangunan-bangunan kuno ini digunakan sebagai kafe, toko souvenir, restoran, hotel dan bermacam-macam aktivitas. Malam kedua saya berada di kota ini, saya ingin menikmati secangkir kopi sambil memandangi gemerlapnya lampion yang semarak di sepanjang pinggir sungai Thu Bon. Setelah menyusuri sepanjang sisi sungai dan menolak tawaran pengemudi perahu serta penjual lilin kecil yang dilarung di sungai, saya memilih belok ke satu kafe unik yang terletak di pinggir jalan tepi sungai.  Kata seorang teman, saya harus mencoba kopi telur saat berkunjung ke Hoi An. Maka saya memilih Hoi An Roastery. Setelah memilih tempat duduk tepat di pinggir jalan sehingga bisa melihat lalu lalang orang dan gemerlap lampion persis seperti rencana sebelumnya, seorang waitress memberikan daftar menu.

Hoi An Roastery selain menyajikan menu kopi, coklat, jus dan pastry, juga menyajikan menu sarapan. Saya dan teman saya kemudian memesan kopi telur dan kopi drip. Cha Pe Trung atau kopi telur memiliki tampilan mirip dengan cappuccino. Hanya saja foam milk atau bisa susunya diberi campuran kuning telur hingga tampak kekuningan. Bahan-bahan untuk membuat racikan kopi ini terdiri dari kopi bubuk Vietnam, jenis Robusta, air panas, susu kental manis dan kuning telur ayam.  Rasanya menurut saya hampir kayak adonan roti. Jujur saja, saya lebih suka kopi latte daripada kopi telur. Tapi daripada penasaran jadi saya memang harus mencobanya.

Kopi vietnam drip adalah kopi yang diseduh dengan dripper vietnam dan disajikan bersama susu/krimer. Penyajian minuman ini lahir karena menyesuaikan karakter biji robusta dari hasil perkebunan di Vietnam. Metode ini akan menghasilkan minuman dengan cara ekstraksi lewat tetesan. Dripper berbentuk seperti gelas metal dan terdiri dari tabung, plunger, dan tutup metal. Penggunaannya sangat mudah, setelah bubuk kopi dimasukkan, masukkan plunger lalu tekan, taruh dripper di atas gelas, lalu tuang air panas. Saya kemudian menunggu tetesan demi tetesan kopi ini memenuhi cangkir sampai siap diminum. Teman saya mengingatkan jangan sampai saya menyentuh gelas metal itu karena pasti akan terbakar.  Saya lebih menyukai ini ketimbang kopi telur.

Tepat jam 9 malam jalanan di depan sungai mulai sepi. Lampu-lampu kafe mulai mati. Saya yang berniat begadang sampai pagi di kafe dihampiri waitress yang mengatakan bahwa sebentar lagi kafe tutup.  Kopi drip segera saya habiskan dan beranjak meninggalkan kafe.  Tetapi sebelum pergi saya melihat beberapa kemasan kopi bubuk di pojok kafe. Saya ingin membelinya tetapi waitress bilang sudah closing dan meminta saya kembali esok harinya.  Hoi An Roastery, tempat asyik untuk ngopi sambil menikmati semaraknya malam di pinggir sungai Thu Bon.

doc. pribadi & google

VINH HUNG HOI AN, VIETNAM ; LIBRARY HOTEL UNTUK PECINTA BUKU

Anda suka membaca buku disela perjalanan sambil leyeh-leyeh di hotel yang nyaman? Jika perjalanan anda sampai kota tua Hoi An, Vietnam, saya merekomendasikan Vinh Hung Library hotel. Hotel yang terletak tepat di kota tua Hoi An ini selain memiliki desain yang klasik dan cantik juga berkonsep library.

Sebagi backpacker sebenarnya saya lebih suka menginap di hostel karena jelas lebih murah dan akan menemukan banyak teman baru dari berbagai negara jika saya tinggal di dormitori. Cerita teman-teman baru dari berbagai negara ini menjadi amunisi buat saya menulis. Tetapi saat memilih-milih hostel di Hoi An saya malah menemukan hotel library ini di mesin pencari. Saya yang biasanya memang selalu membawa buku untuk dibaca dalam setiap perjalanan, ingin merasakan atmosfir yang berbeda dengan menginap di sini.

Saat sopir taksi menurunkan saya di depan hotel, saya langsung penasaran melihat desain unik di bagian depan. Begitu memasuki ruang resepsionis, tampak berbagai macam buku ditata rapi dan siap dibaca. Koleksinya pun tidak sedikit dan mencakup buku dari berbagai belahan dunia. Didominasi novel dan buku perjalanan, siapa saja bebas membawa buku yang ada di rak untuk dibaca asal dikembalikan.

Ada dua tipe kamar yang bisa kita sewa yaitu kamar dengan balkon yang berada di lantai atas, dan kamar tanpa balkon yang berada di lantai satu. Dilengkapi dengan wifi, kolam renang dan cafe kecil hotel ini sangat nyaman. Kamar saya ada di lantai dua dengan balkon yang memiliki pemandangan kota Hoi An meskipun pemandangan ini tidak terlalu cantik karena membentur jalanan gang. Di dalam kamar juga terdapat beberapa buku yang siap dibaca. Tampak buku populer dan wajib buat para pejalan “Eat, Pray and Love” di atas rak dan beberapa novel barat.  Desain kamarnya juga sangat unik dan klasik. Dengan barang-barang klasik khas Vietnam anda pecinta hal-hal eksotis akan menyukai hotel ini. Tak hanya di dalam kamar dan di ruang resepsionis buku-buku itu berada, di pojokan lorong hotel juga terdapat rak-rak buku yang siap dibaca. Bahkan saat sarapan pagi, di sekeliling ruang makan juga dipenuhi buku yang ditata sedemikian menarik.

Anda pecinta buku? Jangan lupa menginap di sini, saya yakin anda tak akan kecewa!

 

Budapest Central Market Hall

Jika anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satu tempat yang selalu di kunjungi turis saat berada di Budapest adalah Central Market Hall atau Great Market Hall. Pagi hari sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest ini terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca.

Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali. Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar.

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi pasar ini? Pasar ini buka pada hari Senin sampai Sabtu mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hari minggu tutup. Jika anda tidak suka terlalu ramai maka anda bisa berkunjung pada pagi hari sekitar jam 8-9 hari Senin – Jumat, karena pada hari Sabtu pasar akan sangat ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Jangan lupa mengunjungi pasar ini saat anda ke Budapest!