All posts by Admin2

10 KOTA TUA CANTIK INI LAYAK ANDA KUNJUNGI

Saya menyukai hal-hal berbau klasik dan eksotis. Begitu juga saat traveling. Tempat yang tidak akan saya lewatkan adalah mengunjungi kota tua (OLD TOWN) di setiap negara yang saya lewati. Karena bangunan-bangunan lawas eksotis itu akan bicara banyak hal sekaligus mengajarkan nilai-nilai tertentu pada saya. Jika bangunan-bangunan lawas itu masih berdiri megah hingga saat ini, ada dua hal yang saya kagumi. Pendirinya ratusan tahun yang lalu sekaligus mereka yang berusaha menjaga kelestariannya hingga saat ini. Tidak mudah melestarikan sebuah peninggalan bersejarah berupa bangunan, kenyataannya di negara saya sendiri kebanyakan sudah tinggal puing-puing. Maka, berikut 10 kota tua cantik di dunia yang pernah saya kunjungi dan saya sarankan untuk anda kunjungi jika kebetulan anda lewat di negara tersebut.

1. KOTA TUA EDINBURGH (EDINBURGH OLD TOWN)

Saya tiba di Edinburgh pagi hari setelah naik bus semalaman dari London. Begitu keluar terminal bus, udara dingin 9 derajat sudah menunggu. Tetapi tidak hanya itu yang menunggu saya, begitu kaki menapak trotoar, bangunan-bangunan masa lalu yang yang sangat indah dan sudah berumur seabad lebih menjulang di mana-mana. Seperti time traveler ke masa lalu atau jika anda penggemar serial Harry Potter maka anda akan merasa hidup satu tempat dengan penyihir berwajah imut itu. Hanya saja orang-orang yang melintas di jalanan menggunakan jaket tebal, sepatu boots, bukan pakaian seabad lalu yang penuh renda-renda.  Sayapun melanjutkan berjalan kaki menyusuri Princess street menuju hostel yang sudah saya pesan. Ternyata hostel yang saya pesan tepat berada di tengah kota tua Edinburgh, bahkan keluar sedikit dari pintunya sudah sampai Royal Mile.

Apa itu Royal Mile? Royal Mile adalah sebuah kawasan yang menjadi  jantung kota tua Edinburgh. Di jalanan ini banyak bangunan bersejarah yang bisa kunjungi para turis seperti Kastil Edinburgh (Edinburgh castle), Holyrood Palace, museum nasional Skotlandia, St. Gilles Katedral. Museum penulis, pasar tradisional, gedung parlemen Skotlandia dan Universitas Edinburgh. Oh ya, jika anda penggemar Harry Potter, di kota tua inilah penulisnya JK. Rowling menuliskan bab-bab awal Harry Potter di salah satu kafe bernama The Elephant House yang kemudian menjadi sangat terkenal untuk dikunjungi turis dari seluruh dunia. Saya sengaja menikmati kopi di kafe ini di meja dekat tempat JK. Rowling menulis yang menghadap ke jendela terbuka dengan pemandangan Kastil Edinburgh.  Tak hanya kafe yang menjadi jejak Harry Potter, tapi juga Victoria Street yang menjadi inspirasi JK.Rowling untuk menciptakan Diagon Alley. Di sini juga ada toko souvenir antik seperti The Boys Wizard yang menjual barang-barang sihirnya Harry Potter. Selain bangunan-bangunan bersejarah itu. Edinburgh juga menjadi rumah bagi para penemu besar di dunia seperti David Hume, Adam Smith dan Robert Burns yang direpresentasikan dengan patung-patung mereka di setiap sisi jalan.

Jalanan Royal Mile juga menyediakan atraksi-atraksi menarik seperti festival dan pertunjukan pada waktu-waktu tertentu. Jika anda ingin menyusuri kota tua lebih mendalam, banyak tersedia paket tour berbayar ataupun gratis.  Ada banyak tour gratis berjalan kaki mengelilingi kota tua bersama banyak turis dengan titik kumpul di satu tempat yang dipandu guide orang lokal. Biasanya peserta akan memberi tips sukarela kepada guide lokal tersebut. Bahkan pada malam hari ada paket tour mengunjungi tempat-tempat berhantu. Dan jangan kuatir, jika anda lelah atau lapar banyak restoran di sisi jalanan Royal Mile dan kafe-kafe cantik. Bahkan restoran bertulisan halal di pintunya juga ada jika anda muslim.  Toko-toko yang menjual pakaian khas Skotlandia dan penjual makanan khas Skotlandia juga tersedia di sepanjang jalan ini. Dan pada senja harinya, anda bisa menikmati matahari terbenam dari Calton Hill. Dari ketinggian yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari pusat kota ini, anda bisa melihat keseluruhan kota Edinburgh yang seperti di negeri dongeng tersapu sinar matahari keemasan. Saya yakin anda tak mau melewatkan kota tua yang sangat cantik ini jika berkunjung ke Britania Raya.

2. KOTA TUA GENEVA (GENEVA OLD TOWN)

Orang-orang pergi ke Switzerland atau Swiss biasanya untuk menikmati panorama alam yang luar biasa cantiknya seperti ke Luzern, Lauterbrunnen, Grindelwald, Interlaken dan banyak yang lainnya, tetapi saya malah datang ke Geneva.  Selain danau yang cantik dengan bebek-bebek berenang di dalamnya, kota ini memanjakan pejalan kaki dengan trotoar yang luas dan nyaman. Jika anda tinggal di hostel ataupun hotel akan mendapat kartu transportasi gratis selama di Geneva karena memang transportasi umum di Geneva gratis. Jadi anda bisa keliling kota sepuasnya naik tram dan bus tanpa membayar. Selain gedung PBB Geneva yang ingin saya kunjungi disini, tentu saja kota tua Geneva.

Mengunjungi kota tua Geneva pada senja hari bukanlah waktu yang tepat. Tapi saya membayangkan keliling kota tua pada waktu senja bakal mengasyikkan. Kenyataanny memasuki waktu senja kota sudah mulai sepi nyaris seperti mati. Tetapi kota tua Geneva sangat menarik untuk dijelajahi meskipun hanya kecil saja. Perancis menyebut kota tua Geneva sebagai Vieille Ville yang merupakan kawasan kecil berbentuk bujur sangkar yang didalamnya terdapat bangunan-bangunan lawas yang digunakan sebagai kafe-kafe cantik dan artistik, restoran (Cafe De Ville), galleri, museum sejarah Geneva (Maison Tavel), tempat bersejarah yang menjadi hotel terkenal yaitu Hotel de Ville dan Katedral St. Peter (St.Peter’s Cathedral).  Di tempat ini kita juga diajak kembali ke Geneva ratusan tahun lalu. Jika waktunya tepat kita bisa menikmati festival l’Escalaude yang hanya ada dua tahun sekali. Tapi saat saya ke sana sedang tidak ada festival.

Di sekitar kota tua Geneva terdapat mall, tempat makan dan pendestrian yang banyak dikunjungi turis. Tetapi karena saya ke sana sore maka semua tempat sudah tutup. Bahkan kota sudah sangat sepi. Meskipun tidak banyak yang bisa saya ekplore tetapi kota tua Geneva menjadi salah satu kota tua yang sangat menarik untuk dikunjungi.

3. KOTA TUA KYOTO (KYOTO OLD TOWN)

Selain tempat kelahiran Doraemon, Jepang menyimpan kekayaan zaman kekaisaran Edo yang masih dilestarikan di banyak Prefektur di Jepang. Salah satu tempat yang masih menyimpan eksotisme masa lalu itu adalah Kyoto. Saya tiba di Kyoto setelah semalaman naik bus dari Tokyo. Berbeda jauh dengan Tokyo yang hingar bingar dengan hal-hal modern, Kyoto sangat tenang dan penuh keindahan masa lalu.

Saya menjelajahi Kyoto dari Kiyomizudera temple yang sudah berumur lebih dari seribu tahun. Dibangun dari kayu yang tidak lapuk dengan jalanan yang menanjak dengan taman-taman di pinggirannya yang sangat cantik. Lalu mengunjungi Sogano Bamboo Forest yang didalamnya terdapat kuil Tenryu, kuil Zen terbesar di Jepang dan Fushimi Inaro Taisha, lorong panjang dengan deretan torri (dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal berwarna oranye).  Dan sorenya saya mengunjungi Gion district. Disinilah sebenarnya old town itu karena deretan rumah-rumah kuno peninggalan kekaisaran Edo banyak terdapat disini berjajar dan masih digunakan sebagai tempat tinggal, tempat minum teh, penginapan bahkan rumah tinggal. Keaslian rumah-rumah kuno itu masih terjaga hingga saat ini. Di district ini kita juga bisa bertemu Geisha yang bekerja di rumah-rumah minum teh untuk memainkan kesenian tradisional Jepang. Meskipun hanya district kecil saja, tetapi tempat ini sangat menarik dikunjungi pecinta kota tua.

4. KOTA TUA TAKAYAMA (TAKAYAMA OLD TOWN)

Takayama berada di Prefektur Gifu, yang dikelilingi oleh pegunungan. Bisa disebut sebagai pedesaan Jepang meskipun kenyataanya Takayama tidak seperti desa yang saya bayangkan.  Lebih mirip kota kecil yang penghuninya kebanyakan manula dan ketika bulan Mei saya berkunjung udaranya sangat panas. Memang alam pedesaan dalam mimpi saya hanya ada di Shirakawa Go yang terletak diantara pegunungan, banyak tanaman dan bunga-bunga liar yang indah juga sungai-sungai yang jernih. Dan tujuan saya ke Takayama memang awalnya ke Shirakawa Go. Tapi ternyata di Takayama ada Old Town yang terletak di jalan Sannomachi yang kawasannya lebih luas dari Gion Kyoto.

Selama periode Edo, Takayama dipertahankan sebagai kota budaya dan dagang. Di sepanjang jalan Sannomachi ini kita bisa melihat budaya periode Edo yang masih dipertahankan. Tampak bangunan-bangunan lawas dari kayu yang digunakan sebagai kafe, restoran, toko souvenir, tempat penginapan khas Jepang yang dinamakan Ryokan juga sebagai tempat tinggal. Ada rumah pembuatan sake yang bisa dikunjungi dan dicicipi juga sake-nya dengan gratis. Jika anda penggemar nuansa eksotis kekaisaran Edo, anda tak akan melewatkan jalan Sannomachi di Takayama.

 5. KOTA TUA PHUKET (PHUKET OLD TOWN)

Sebagian besar turis yang berkunjung ke Phuket ingin menikmati pantai, tetapi saya malah menginap di dekat kota tua Phuket. Kota tua Phuket lumayan luas untuk dijelajahi. Dan sebaiknya menjelajah dengan berjalan kaki. Karena sepanjang menyusuri trotoar kota tua, kita akan menemukan banyak bangunan antik dan eksotis yang sayang untuk dilewatkan jika kita naik mobil. Bisa juga menggunakan tuk-tuk tetapi jalanan hanya satu arah, jadi kemungkinan akan memutar dan kembali ke jalanan semula.

Bangunan-bangunan lawas bergaya Portugis menjadi saksi pengaruh Eropa di kota Phuket sekitar abad 16 hingga 18. Kota ini memang mengundang kedatangan kaum kolonial dengan kekayaan timah yang dimilikinya sebagai komoditi yang sangat mahal. Sementara para pekerjanya datang dari Cina sehingga bangunan sehingga ada nuansa Cina yang warna-warni di bangunan-bangunan lawas itu.

Saat ini bangunan-bangunan lawas itu digunakan sebagai kafe, restoran, penginapan bahkan tempat tinggal. Arsitekturnya masih dipertahankan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi turis untuk mengunjunginya. Jika anda muslim dan mencari makanan halal, jangan kuatir. Ada beberapa restoran Malaysia yang menyediakan makanan halal di jalanan kota tua ini. Phuket Old Town jangan sampai anda lewatkan kalau anda berkunjung ke Phuket.

6. KOTA TUA CHIANG MAI (CHIANG MAI OLD TOWN)

Satu kota tua lagi di Thailand yang pernah saya kunjungi adalah Chiang Mai Old Town. Chiang Mai dengan sebutan “Mawar dari Utara” merupakan satu kota cantik yang berada di Thailand bagian utara. Berada di dataran tinggi, Chiang Mai memiliki suhu lebih dingin di banding Phuket atau Bangkok. Dan memasuki Chiang Mai seperti memasuki kota seribu candi karena ada ratusan candi di dalamnya yang sangat menarik untuk di jelajahi.

Kota tua Chiang Mai sendiri merupakan kawasan bujur sangkar yang di dalamnya terdapat rumah-rumah peninggalan masa lalu dan candi-candi yang dibangun ratusan tahun lalu. Kawasan bujur sangkar ini merupakan peninggalan kerajaan Lanna kuno yang menjadi cikal bakalnya bangsa Thailand.  Di kelilingi oleh parit dan tembok yang sebagian telah menjadi puing di beberapa sisi dan tidak diperbolehkan ada bangunan baru di dalam kawasan bujur sangkar ini. Jadi di dalam kawasan kota tua ini hanya ada rumah-rumah masa lalu yang masih dijaga kelestariannya dan candi-candi.

Pada akhir pekan, di dalam kota kuno ini ada pasar malam yang sangat ramai. Posisi pasar malam ini juga berada di sepanjang jalur kota tua. Berbagai souvenir dan makanan khas Chiang Mai ada di sini. Bahkan ada pertunjukan seni yang bisa dinikmati.

7. KOTA TUA HOI AN (HOI AN OLD TOWN)

Kota tua Hoi An berada di Vietnam sekitar satu jam dari kota Da Nang. Jika anda naik pesawat, dari bandara Da Nang perlu sekitar satu jam untuk sampai kota tua Hoi’an. Ini salah satu kota tua favoritku bahkan saya pengen bulan madu ke sini suatu saat nanti. Saya tiba di Hoi An sekitar jam 7 malam, naik taksi dari bandara Da Nang. Tetapi harus hati-hati kalau memilih taksi, gunakan taksi yang benar-benar direkomendasikan sehingga tidak tertipu dengan argo kuda.

Kota tua Hoi An sangat romantis pada malam hari karena seluruh lampu yang menyala di kota ini berbentuk lampion-lampion yang sangat cantik.  Di tengah kota tua kecil ini ada sungai yang mengalir tenang dan perahu-perahu dengan hiasan lampion cantik hilir mudik membawa pasangan-pasangan melintasi sungai sambil menikmati malam. Tidak hanya lampu-lampu itu, tetapi bangunan-bangunan lawas dan jalanan sempit di Hoi An berusia ribuan tahun dengan arsitektur perpaduan gaya lokal dengan pengaruh Jepang dan Tiongkok sangat menarik untuk dijelajahi.  Hoi An merupakan salah satu World Heritage Site kategori pelabuhan dagang Asia Tenggara abad ke 15 hingga 19 yang masih terawat dengan baik hingga saat ini.

Bangunan-bangunan lawas ini digunakan sebagai rumah tinggal, hotel, restoran, kafe-kafe cantik, toko-toko baju dan souvenir serta tempat pertunjukan seni. Hanya saja jika anda berkunjung siang hari situasinya tidak semenarik malam hari dan sangat panas karena kota pelabuhan. Sementara pada malam hari, semua tempat ini akan tutup tepat jam 9 malam. Saya sebenarnya ingin menghabiskan malam nongkrong di kafe sambil menikmati lampu-lampu lampion yang cantik, tetapi tepat jam 9 malam kafe-kafe ini sudah tutup, listrik dimatikan dan kondisi jadi sangat sepi seperti kota mati. Tapi meski begitu, Hoi An tetap salah satu kota favorit saya.

 8. KOTA TUA SHANGHAI (SHANGHAI OLD TOWN)

Shanghai Cina sebenarnya kota metropolis yang sangat gemerlap. Tapi di sini kita bisa menemukan Old Street yang menyuguhkan nuansa masa lalu Cina. Begitu memasuki jalanan ini, kita akan melihat kuil dan Vihara yang membawa kita ke masa lalu Cina. Di kawasan ini kita juga bisa menemukan taman terkenal di Shanghai yang bernama Yuyuan Garden, sebuah taman yang dibangun poada masa Dinasti Ming sekitar tahun 1559. Dengan kolam yang cantik dan bangunan lawas yang eksotis, taman ini menjadi incaran para turis saat mengunjungi Shanghai. Tidak hanya Yuyuan Garden, di tempat ini banyak bangunan tua yang digunakan sebagai tempat berjualan souvenir dan makanan khas Cina. Bahkan di sekitar tempat ini juga ada masjid dan kuil. Sebaiknya jika ingin mampir ke tempat ini jangan  musim liburan karena akan sangat penuh turis dan anda tidak akan bisa menikmatinya. Saya sendiri berkunjung ke sana saat turun hujan, jadi meski kurang nyaman ada hal menarik lainnya yaitu melihat air hujan menimpa kolam cantik di taman Yuyuan membuat saya time travel ke abad-abad saat taman itu dibuat. Tempat ini sangat menarik dan rekomended untuk dikunjungi saat anda berada di Shanghai.

 9. KOTA TUA XI’AN (XI’AN OLD TOWN)

Tujuan utama saya ke Xi’an adalah museum Terracotta.  Tetapi ternyata Xi’an adalah kota kuno yang sangat menarik. Begitu bus yang saya tumpangi memasuki gerbang kota Xi’an saya merasa memasuki abad lampau. Semua bangunan di kota ini kebanyakan masih bernuansa masa lalu, jadi saya merasa benar-benar hidup di masa itu. Xi’an Moslem Quarter adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi selain naik ke benteng-benteng yang mengelilingi seluruh kota Xi’an.  Jika ingin naik ke benteng-benteng yang mengelilingi kota Xi’an baiknya pada pagi hari. Di sana juga disediakan sepeda sehingga anda bisa berkeliling benteng dan melihat keseluruhan kota Xi’an dari ketinggian sambil mengendarai sepeda.

Pada masa dinasti Han ribuan tahun lalu, Xi’an merupakan jalur sutra perdagangan. Banyak pedagang dari Arab dan Persia datang bahkan menetap di Xi’an hingga terbentuklah muslim street. Orang-orang muslim ini dipanggil muslim Hui oleh orang-orang lokal dan mereka berada di Xi’an hingga saat ini.

Moslem Quarter sangat ramai mulai sore hari. Segala jenis makanan khas Xi’an ada di sini, juga souvenir-souvenir. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini masih kuno dan digunakan sebagai tempat berjualan seperti restoran, kafe dan toko baju. Beberapa tempat makanan khas Xi’an menyediakan atraksi menarik bagaimana makanan itu diolah oleh para chef mereka. Menyusuri sepanjang moslem quarter kita juga bisa berbelok ke gang-gang sempit dimana para penduduk lokal tinggal. Lalu jika kita menyusuri gang itu akan menemukan masjid agung Xi’an. Masjid dengan arsitektur nyaris seperti kuil ini sudah berusia ratusan tahun dan sanggup menampung banyak jamaah.  Mengunjungi Xi’an seperti kembali ke masa-masa para pedagang Arab berdatangan lalu menetap di kota ini sehingga saya masih bisa menikmati keramaian moslem quarter.

10. KOTA TUA PENANG (PENANG OLD TOWN)

Jujur saja saya kurang menyukai Kualalumpur, tetapi saya jatuh cinta pada Penang khususnya George Town. Sebenarnya kota ini terkenal sebagai kota berobat bagi orang Indonesia karena banyak rumah sakit bagus di sini. Tetapi jangan salah, Penang juga merupakan satu kota tua yang sangat menarik untuk dikunjungi. Memang sih, tidak seperti kota lain yang banyak dikunjungi muda-mudi bule, saya lebih banyak menemukan manula berjalan-jalan disini. Mungkin karena kotanya sepi dan tenang.

Menyusuri George Town, kita akan menemukan bangunan-bangunan peninggalan serdadu Inggris yang mendarat di pulau itu dan membentuk benteng sekaligus kota pertama mereka. Berdiri sejak tahun 1800-an kawasan kota tua ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Core Zone yang berada dekat bibir pantai dan Buffer Zone yang merupakan perluasan kota.

Berjalan mengelilingi George Town kita tidak akan bosan karena di setiap sudut selalu ada mural-mural yang bisa kita gunakan untuk berfoto selain bangunan-bangunan klasik yang masih terawat dengan baik. Tetapi jika kecapekan, kita bisa naik becak yang banyak mangkal di sepanjang sisi jalan.  Bangunan-bangunan tua itu juga digunakan sebagai restoran, kafe, hotel, tempat tinggal bahkan kantor-kantor penting. Jika anda sudah lelah menyusuri George Town anda bisa naik bus dari terminal ke tempat wisata lain seperti Penang Hill atau Kek lok Sie Temple. Kota tua di berbagai belahan dunia menunggu anda untuk dikunjungi, jangan sampai anda lewatkan.

SOLO TRAVELING MENUJU SUNYI

Pertengahan Maret ini seharusnya saya backpacking ke China tepatnya kota Changsa, Zhangjiajie. Sudah lama saya ingin menjelajah Zhangjiajie, tempat di mana hutan Avatar berada. Hutan yang menjadi lokasi syuting film Avatar (atau setidaknya jika syutingnya tidak di sana) hutan itu menjadi inspirasi setting film animasi keren itu. Saya sudah membayangkan betapa serunya menaklukkan ketakutan saya sendiri menjelajah ketinggian. Karena saya phobia ketinggian dan semua tempat yang akan saya kunjungi berada di ketinggian. Mulai dari Avatar mountain, glass bridge, lorong yang menembus gunung, hingga naik cable car yang jaraknya sangat Panjang.  Saat survey lokasi saja aslinya saya sudah mumet membayangkannya. Tetapi kapan lagi saya bisa menghadapi ketakutan say ajika tidak sekarang? Maka rencana perjalanan matang sudah saya siapkan. Mulai dari memesan hotel, bus, kereta hingga guide. Kali ini saya ingin memakai guide karena tidak sanggup nyasar-nyasar di hutan sendirian.

Lalu berita itu datang bulan Januari. Wabah corona di Wuhan. Saya sempat diskusi dengan teman dekat saya orang Belanda tentang perjalanan saya ini.  Teman dekat saya bilang sebaiknya saya mempertimbangkan beberapa hal. Pertama kesehatan saya yang akhir-akhir ini tidak stabil. Kedua lokasi wabah mungkin jauh dari tempat yang saya tuju. Dan ketiga melakukan pencegahan jika memang berangkat, mulai dari bersiap obat, menjaga kebersihan dan lain-lainnya. Saat ini saya masih percaya bisa berangkat karena Changsa berada lumayan jauh dari Wuhan, sementara Zhangjiajie lebih jauh lagi.  Maka saya bersiap-siap apa saja yang akan saya butuhkan selama backpacking. Hingga akhir Januari ternyata wabah di Wuhan meledak kemudian bandara melakukan screening ketat bahkan menutup perjalanan dari dan ke China. Sayapun memutuskan untuk membatalkan perjalanan ini. Menyusul kemudian pihak penerbangan mengembalikan uang tiket dan menutup semua penerbangan ke sana hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Perjalanan inipun kemudian batal.

Dalam waktu yang cepat virus corona menyebar ke seluruh dunia, sehingga akses ke banyak negara ditutup dan para traveler memutuskan pulang ke rumah (saya membaca dari group-group perjalanan betapa chaosnya kondisi mereka yang pesawatnya dicancel, terjebak di karantina atau negara yang dikunjunginya mendadak lockdown). Kebanyakan traveler yang masih memungkinkan pulang ke rumah kemudian memutuskan pulang. Berdiam di rumah karena itu akan menjadi bentuk solidaritas kita untuk tidak menjadi perantara virus itu menyebar ke orang lain. Bahkan kemudian, sebagai pejalan kita akan menemukan dunia yang berbeda pada masa virus ini menyebar. Kita yang biasanya kemana-mana melihat dunia baru, bertemu dengan orang-orang baru, berkumpul di tempat-tempat tertentu untuk berbagi pengalaman perjalanan, kemudian harus pulang ke kesunyian. Tidak bisa bepergian, harus menjaga jarak dengan orang lain bahkan kemungkinan hanya bisa memandangi foto-foto perjalanan kita melalui laptop sambil duduk di pembaringan kamar kita.

“Kalau badai virus ini berlalu, gue mau traveling lagi!” kata seorang pejalan di salah satu komentar media social dengan nada prustasi. Bagi sebagian pejalan, lockdown dan karantina mandiri di seluruh dunia memang menciptakan kegelisahan tersendiri. Bosan dan emosi. Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa semua perjalanan yang kita lakukan keliling dunia manapun pada akhirnya nanti kita akan kembali ke sunyi? Kita tidak akan pernah tahu, apakah bisa lolos dari badai ini lalu melakukan traveling lagi, tetapi yang pasti kita tahu, saat ini kita sedang melakukan perjalanan pulang ke kesunyian itu. Mungkin kita akan berhenti sejenak sebelum sampai, mampir-mampir dulu di Eropa, Afrika atau benua lainnya, tetapi toh kita akan melanjutkan perjalanan kita ke tempat sunyi itu. Sendirian. Ya, sendirian. Tanpa siapapun. Solo traveling.

Jika badai virus ini berlalu dan saya selamat, saya justru belum tahu apa yang hendak saya lakukan. Karena kejadian demi kejadian akhir-akhir ini begitu menampar saya. Kadang kita membenci orang-orang yang hidup soliter dan kita bangga berada dalam kerumunan-kerumunan tertentu, tetapi Allah justru saat ini menginginkan kita berada dalam sunyi, sendirian dan merenungi apa yang telah kita lakukan pada semesta juga orang-orang di sekeliling kita. Allah seperti ingin kita kembali sendiri. Hanya bersama-Nya merenungi untuk apa sebenarnya kehidupan yang diberikan pada kita ini.

Pada kenyataannya semua manusia memang sendirian. Solo traveling. Jika ada manusia-manusia yang ditakdirkan bersama kita, itu hanya karena garis perjalanan mereka dekat dengan jalan yang kita lalui. Pada akhirnya kita akan berbelok ke arah lain, ke jalan kita sendiri lalu pulang ke sunyi. Hanya bersama Allah. Mau kemana setelah badai ini lewat? Kita semua tujuannya satu, solo traveling ke tempat yang sunyi. Menghadap Allah cepat atau lambat.

 

FREELANCER ITU NGGAK SEPENUHNYA FREE! YAKIN PENGEN JADI FREELANCER?

Banyak teman-teman saya yang iri  melihat saya liburan saat mereka sibuk ‘ngantor’ di hari Senin. “Enak banget sih lo Ri, liburan mulu. Gue pengen kayak lo,” gitu kata mereka. Trus kalo saya lagi rese nyahutin, “kalo lo pengen kayak gue, resign aja dari kantor lo.” Tapi saya jarang sih rese hahaha, saya lebih suka nyahutin, “sama aja aslinya, kalo lo liburan, gue sibuk di depan laptop ngejar deadline.”

Sejak 2011, saya memutuskan bekerja sebagai ‘freelance writer’ setelah hampir 4 tahun bekerja full time di salah satu televisi swasta. Pekerjaan saya sebagai freelance saat ini sebenarnya nggak jauh beda dari pekerjaan saya saat full time di televisi. Masih berkutat di naskah skenario televisi. Bedanya saat di televisi saya sebagai pemeriksa naskah para penulis sekaligus memastikan naskah itu sejalan dengan visi dan misi program, sementara saat freelancer saya sebagai penulis naskah yang diperiksa oleh orang lain. Apakah pekerjaan saya sebagai freelancer jadi turun pangkat? Dari memeriksa jadi diperiksa? Itu tergantung sudut pandangnya.  Saya memang cinta menulis sejak remaja, jadi lebih suka menulis ketimbang memeriksa. Tetapi karena saya butuh banyak ilmu broadcasting sementara saya tidak punya background pendidikan broadcasting maka bekerja di televisi bagi saya adalah pembelajaran.  Maka ketika saya merasa telah cukup saya kembali lagi ke dunia menulis saya.

Menjadi freelancer kenyataannya tidak benar-benar ‘free’. Dimanapun bekerja pasti berkaitan dengan target, deadline dan profesionalisme. Itu nggak hanya ketika bekerja di kantor, saat bekerja sebagai freelancer malah dituntut lebih. Karena bekerja sebagai freelancer kita akan mudah ‘dibuang’ saat orang yang mempekerjakan kita melihat kekurangan kita misalnya ; tidak tepat deadline, tidak ontime dan memiliki attitude yang buruk. Dunia freelancer penulisan naskah televisi sangat sempit, orangnya hanya itu-itu saja, maka saat keburukan kita muncul akan menyebar dan berputar. Mereka akan enggan memakai kita dari berita buruk yang tersebar tentang hal-hal negatif kita saat bekerja. Karena itulah, bekerja sebagai freelancer justru harus memiliki performa yang bagus baik dalam managemen waktu, kemampuan maupun sikap.

Terus kenapa orang kantoran selalu memandang freelancer itu enak? Mungkin karena saat orang kantoran bekerja maka sang freelancer justru liburan di pulau. Leyeh-leyeh seolah nggak kerja tapi punya uang untuk liburan. Kenyataannya yang terjadi adalah, saat orang kantoran liburan maka sebagian besar freelancer justru bekerja mengejar setoran. Bisa jadi lho malah 24 jam pekerjaannya karena revisi yang tiada henti atau mengejar target tayangan misalnya. Sementara pekerja kantoran bisa 9 to 5 tetapi freelancer saat bekerja bisa sewaktu waktu dibutuhkan. Oh, ini saya ngomongin pekerjaan freelancer yang saya jalani yaitu penulis skenario televisi. Mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain sebagai freelancer di bidang lain.

Kalau kenyataannya sama saja dengan pekerja kantoran kenapa memilih bekerja sebagai freelancer dengan penghasilan yang tidak aman? Well, buat saya yang suka bebas, bekerja freelance memberi saya sedikit kebebasan untuk memilih pekerjaan yang saya suka tanpa terikat kontrak yang panjang seperti di kantor. Bekerja freelance hanya terikat project per project. Saya nggak akan pusing memikirkan kontrak jangka panjang yang mungkin saja menyesakkan. Saya bisa saya menyelesaikan satu project kemudian tidak mengambil kontrak selanjutnya karena saya kurang sreg, begitu misalnya. Jadi saya masih jadi pengendali keputusan atas project-project yang saya sukai atau tidak. Tidak seperti di kantor mau nggak mau saya harus mengerjakan apapun karena itu tugas saya untuk mendapatkan upah setiap bulannya.

Bagaimana bisa hidup dengan penghasilan yang tidak pasti? Oke, sudah banyak diketahui pekerjaan sebagai freelance ‘writer’ sangat tidak aman. Tetapi sebenarnya tidak sebegitu menakutkan ketika kita bekerja sebagai penulis naskah skenario. Saya tidak suka menyebutkan jumlahnya, yang jelas cukup untuk memehuni kehidupan saya sebagai single.  Tetapi bukan soal penghasilan sih yang memutuskan saya menjadi freelancer atau tidak. Sebenarnya ada satu hal yang saya suka ketika bekerja sebagai freelancer. Yaitu saya merasa lebih dekat dengan Tuhan karena setiap mendapatkan pekerjaan pada saat-saat sulit saya merasa Tuhan mengulurkan tangan untuk saya. Dan saya suka perasaan dekat dengan Tuhan itu.

Then…. kalau kamu freelancer, kamu akan sering mengalami ini. “Kerja di mana Kak?” Lalu kamu menjawab, “saya kerja freelance.” Terus yang nanya bengong nggak paham. Itu sering banget kejadian menyangkut status pekerjaan sebagai freelancer. Awal-awal saya keluar kantor, saya selalu agak malu jika bertemu tetangga dan mereka nanya “nggak ngantor lagi? Pengangguran?” Well, kita akan terlihat seperti pengangguran karena bekerja di rumah. Bahkan pengantar paket kita sendiri terkadang tidak percaya bahwa yang menerima paket itu kita sendiri karena berdandan dengan daster atau piyama sambil kerja dan lari ke depan menerima paket. Jadilah kita dikira ART di rumah kita sendiri.  Tetapi rasa malu saya lama-lama hilang dan berganti cuek. Ngapain saya peduli, saya nggak merepotkan mereka. Hanya mereka saja yang nggak tahu bahwa bekerja tidaklah harus di kantor.

Baiklah, saya sudah melewati dua status pekerjaan itu. 8 tahun bekerja kantoran dan 9 tahun bekerja freelance.  Sepertinya saya tetap akan memilih bekerja freelance meski resikonya lebih besar secara penghasilan dibanding bekerja kantoran. Karena saya lebih bisa memilih mana yang saya sukai atau tidak dalam mengerjakan sesuatu. Dan tentu saja bisa memilih waktu libur yang saya mau (meski kadang ini nggak semudah dikatakan juga).  Buat temen-temen yang pengen resign dan bekerja freelance sebaiknya dipikir kembali. Karena sebenarnya dimanapun selalu ada resiko dan tantangannya masing-masing. Terlihat enak karena kita hanya melihat hal-hal yang enak. Bisa jadi hal-hal sulit belum kita lihat di permukaan. Well, it’s up to you!

MUSIM GUGUR DI SAINT PETERSBURG

Matahari belum muncul saat saya keluar apartemen dan menyusuri trotoar yang dipenuhi daun-daun merah musim gugur. Saya tak memiliki banyak waktu untuk menjelajahi Saint Petersburg, kota yang pada tahun 1914-1924 bernama Petrograd dan pada masa Uni Soviet bernama Leningrad untuk mengenang Vladimir Lenin. Malam sebelumnya saya sudah nyasar sampai pinggiran sungai Neva yang bersih sekaligus terlihat menakutkan karena ketenangannya. Saya membayangkan sungai Neva menjadi saksi bisu perguliran sejarah di Rusia. Air tenang itu melihat segalanya, tetapi ia tak mengabarkan pada siapapun.

Banyak tempat yang ingin saya tuju di sini. Tetapi waktu yang saya miliki sangat sempit. Tiga hari di tempat ini dengan udara musim gugur yang dingin otomatis kulit tropis saya tidak mudah menyesuaikan diri.  Belum lagi kondisi tubuh saya yang gampang lelah dalam perjalanan dan mimisan. Sebagai orang yang suka menulis dan membaca, tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah Perpustakaan Nasional Rusia. Konon disana menyimpan beberapa manuskrip Melayu, termasuk Sejarah Melayu yang pernah dibawa seorang Laksamana dalam pelayarannya sekitar tahun 1798. Tetapi cita-cita mengunjungi perpustakaan itu tak terlaksana karena saya memutuskan ke tujuan touristik yang lain lebih dulu.  Tempat touristik itu adalah Istana Peterhof, Museum Hermitage dan beberapa tempat lainnya.

HANGATNYA SINAR MATAHARI DI TAMAN ISTANA PETERHOF

Suasana jalanan sekeliling istana masih sepi saat saya turun dari taksi online dan turun tepat di samping pintu masuk istana Peterhof.  Hanya beberapa bus lewat dan orang-orang berangkat kerja dengan mengenakan jaket-jaket tebal. Mukanya masih tampak ngantuk dan hanya melirikku sekilas. Saya celingukan mencari pintu masuk ketika menemukan serombongan kecil turis Tiongkok memasuki pintu di ujung. Saya menebak itulah pintu masuknya karena beberapa petunjuk dalam bahasa Rusia. Dan benar saja, pintu masuknya memang di sana.

Memasuki gerbang istana Peterhof, saya langsung berhadapan dengan taman yang indah. Pohon-pohon yang berjajar teratur dengan daunnya yang memerah, air mancur di berbagai sisi, dan bangku-bangku untuk duduk menikmati taman. Masih terlalu pagi dan matahari belum muncul sementara udara sangat dingin. Saya melompat-lompat kecil untuk menghalau udara dingin dan usaha saya lumayan berhasil meski efeknya saya jadi agak lapar sementara dari apartemen belum sempat sarapan.

Istana Peterhof lebih dikenal dengan Istana Musim Panas. Istana dibangun pada masa Peter Yang Agung pada tahun 1714 dan terinspirasi saat ia berkunjung ke Istana Versailles di Perancis. Terletak di tepi teluk Finlandia, Istana Peterhof langsung berhadapan dengan laut. Pembangunan istana ini bersamaan dengan perang antara Kekaisaran Rusia melawan Swedia pada tahun 1700-1721, sehingga Peter Yang Agung mendedikasikan istana ini sebagai istana kemenangan Rusia atas Swedia.

Saya tidak punya waktu untuk memasuki istana yang sangat luas ini jadi hanya berjalan-jalan di areal taman. Untuk memasuki areal dalam kita perlu membeli tiket lagi sekitar 400 ribu rupiah. Di samping kanan dari arah masuk ada konter tiket yang melayani pembelian tiket tetapi kita juga bisa membelinya melalui berbagai aplikasi online. Sementara di sebelah tempat penjualan tiket ada kafetaria. Matahari belum tinggi saat saya melihat jam dan sudah harus kembali ke pusat kota karena ditunggu pemilik apartemen.  Saya sebenarnya belum puas menikmati hangatnya matahari di taman Istana Peterhof, tetapi saya harus berlari-lari kembali ke pusat kota. Saya berharap di kunjungan yang lain bisa menjelajahi keseluruhan istana ini dengan tenang dan detail.

KEHUJANAN DI CHURCH OF THE SAVIOR ON SPILLED BLOOD

Setelah menunggu teman yang berdoa di salah satu gereja, tujuan saya selanjutnya adalah mengunjungi Church of the Savior on Spilled Blood.  Jalanan sangat ramai turis dan warga lokal. Hujan mulai turun saat saya berjalan menyusuri sepanjang sisi kanal menuju gereja. Beberapa orang mengenakan kostum kerajaan Rusia zaman dulu menawari saya untuk berfoto bersama. Saya tahu mereka akan mematok harga mahal saat saya menuruti keinginannya berfoto bersama. Karena mereka tahu saya paham modusnya, eh, malah mereka mengejar saya. Bercanda memang, tapi saya yang takut kehilangan uang rubel saya untuk foto yang tidak saya inginkan maka saya berlari. Mereka mengejar dan menangkap saya sambil tertawa-tawa. “Oh, you’re so small!” Apa makasudnya coba? Tapi mereka tertawa puas melihat saya meronta-ronta kesal melepaskan diri. Lalu begitu saya lepas mereka melambaikan tangan sambil senyum. Nyebelin banget!

Well, sayapun melanjutkan perjalanan menyusuri sepanjang sisi kanal Griboyedov. sambil kesal. Sesampainya di depan gereja ternyata gereja sedang direnovasi dan tidak diijinkan masuk. Di halaman gereja tampak anak-anak sekolahan sedang melakukan kegiatan zombie-zombiean entah apa. Mereka mengenakan pakaian ala hantu-hantuan dengan muka dicoret-coret.  Saya tertarik dengan kegiatan mereka dan mulai memotret-motret mereka. Sepertinya mereka sadar saya memotretnya dan mereka malah bergaya. Katanya mereka sedang ada kegiatan sekolah. Lucunya mereka melihat saya yang memotret nama teman saya di papan yang saya pegang. “Who is Andrew?” tanyanya. Seorang teman memang menitip foto namanya di depan gereja ini agar suatu hari dia bisa ke sini dan berdoa di sini. Saya dan dia berbeda keyakinan, tetapi dia teman baik saya dan saya tidak pernah keberatan dengan titipan foto seperti ini.

Church of the Savior on Spilled Blood dibangun oleh Tsar Alexander III untuk menghormati Tsar Alexander II yang terbunuh pada tahun 1881 di tempat ini. Gereja ini dibangun sejak 1883 hingga 1907.  Gereja ini memiliki arsitektur yang sangat unik dan cantik, tetapi sejak tahun 1930 diubah penggunaannya menjadi museum. Gereja ini menjadi salah satu gereja yang memiliki mosaik paling banyak di dunia. Sayang saya tidak memasuki bagian dalamnya untuk menjelajah lebih jauh.  Anak-anak berpakaian hantu itu masih berlari-lari mengejar temannya, sementara saya duduk di bangku depan gereja. Penjual souvenir di deretan depan gereja tampak berdiri beku merapatkan jaket tebalnya sambil memandang entah. Sayapun melambaikan tangan ke remaja-remaja tanggung berpakaian zombie lalu melintasi penjual-penjual souvenir tanpa membeli. Kejadian berdarah bertahun-tahun lalu di tempat ini kemudian menjadi kenangan untuk dikunjungi.  The Savior on Spilled Blood.

SENJA DI MUSEUM HERMITAGE DAN WINTER PALACE

Sebenarnya saya membayangkan matahari tenggelam di sekitaran istana musim dingin yang ada di tengah kota ini, tetapi sepertinya tidak mungkin. Bagaimana mungkin akan ada sunset sementara hujan mengguyur sejak siang dan langit gelap mendung. Tetapi suasana ini jadi romantis menurut saya karena saya lebih menyukai hujan ketimbang sunset.  Melihat orang-orang mengenakan mantel hitam panjang dengan sepatu boot yang menimbulkan bunyi tersendiri saat menghantam jalanan basah membuat saya berimajinasi kembali ke kejayaan istana musim dingin yang dibangun Peter yang Agung ini. Istana musim dingin ini menjadi salah satu kediaman resmi keluarga kerajaan Rusia pada tahun 1731 hingga 1917. Bergaya Baroque dengan perpaduan warna hijau dan putih, istana ini tampak megah dan sangat luas ;  terdapat ribuan ruangan, anak tangga, pintu dan jendela. Mungkin beberapa hari menyusurinya baru bisa dijelajahi semuanya.

Di komplek istana musim dingin ini pula terletak Museum Hermitage yang merupakan museum terbesar di dunia. Terdapat jutaan karya seniman terkenal seperti Rembrandt, Da Vinci juga Michaelangelo.  Hermitage merupakan satu museum tertua di Rusia.  Benda-benda dari jaman pra-sejarah atau zaman batu dari seluruh wilayah Rusia dikumpulkan di museum ini sehingga kita bisa mempelajari sejarah peradaban panjang Rusia di museum ini. Jika kita ingin melihat bagaimana kekaisaran Rusia pada masa lalu, kita bisa melihat ruangan-ruangan kekaisaran Rusia yang masih asli. Mulai dari zaman Tsar Alexander II hingga Nicholas II. Semua disusun berdasarkan kronologis dan era masing-masing zaman. Mengunjungi museum ini seperti kembali ke masa lalu yang masih asli.

HUJAN DERAS DI KATEDRAL SAINT ISAAC

Malam sebelumnya, beberapa mahasiswa Indonesia yang saya temui di galeria mall menyarankan jika ingin mengambil view foto terbaik dari Katedral Saint Isaac adalah dari taman di depannya yang ada di pinggir sungai dan saat senja turun. Tapi malah kenyataannya saat saya sampai depan katedral hujan deras turun. Saya pun hanya mengambil foto dari samping menunggu moment bus yang lewat lengang dan tidak terlalu bagus. Sebenarnya ingin ke taman pinggir sungai tapi saya malas menyeberang jalan yang cukup ramai di depan saya. Sayapun memutuskan menikmati Katedral Saint Isaac dari pojokan pinggir jalan tanpa menyeberang jalan.

Gereja ini terletak di St. Isaac Square dan merupakan gereja terbesar ke empat di dunia. Dibangun tahun 1881 hingga 1885. Memiliki kubah sebesar 101 meter dilapisi emas murni, gereja ini dibangun untuk menghormati Saint Isaac Dalmatia, sang pelindung dari Peter yang Agung.  Ini merupakan satu tempat dari sekian banyak tempat menarik di Sank Peterburg yang banyak dikunjungi turis. Sekeliling tempat ini juga sangat menarik untuk berjalan kaki atau bahkan nongkrong di kafe. Sayangnya hujan deras dan saya basah kuyup, jadi saya kurang nyaman untuk nongkrong di kafe dengan baju basah kuyup. Sebelum senja benar-benar selesai saya kembali ke pelataran Hermitage lalu mencari taksi online kembali ke apartemen. Terlalu luas untuk menjelajahi Rusia dalam waktu hanya 10 hari. Saya perlu waktu berbulan-bulan untuk kembali suatu saat nanti. Semoga saya bisa kembali.

 

 

JUM’ATAN DI MASJID KATEDRAL MOSKOW

Bisa melewati hari Jum’at di satu kota asing itu bagi saya luar biasa. Artinya saya punya kesempatan untuk mengunjungi masjid di kota itu jika memungkinan ada masjidnya. Masuk ke masjid dimana Islam menjadi minoritas dan bertemu saudara-saudara seiman di tanah asing selalu menjadi hal yang saya tunggu-tunggu. Maka waktu sampai Moskow Kamis malam, esoknya saya langsung merencanakan ke masjid yang ada di tengah kota Moskow. Namanya Masjid Katedral Moskow.

Kok namanya agak aneh ya? Masjid Katedral Moskow.  Biasanya nama Katedral berhubungan dengan gereja tapi menurut informasi, orang Moskow terbiasa menyebut gereja besar dengan nama Katedral, maka masjid besar di Moskow inipun disebutnya Katedral. Selain itu, masjid ini juga disebut Masjid Sabornaya atau Masjid Agung karena memang berfungsi sebagai masjid terbesar di kota itu.  Masjid ini terletak di Prospect Mira Street, tepat di sebelah bangunan Olympic Indoor Stadium. Jadi jika naik metro bisa turun di stasiun Prospect Mira kemudian jalan kaki ke arah Prospect Mira street. Karena kebetulan saya ke sana hari Jum’at maka tinggal mengikuti Ja’maah yang berjalan berduyun-duyun menuju masjid.

Awalnya saya kira masjid ini akan sepi, tetapi ternyata sangat ramai. Jama’ahnya sangat banyak dan memang masjid ini melayani lebih dari 2 juta umat Islam di Moskow. Saudara-saudara muslim disini saya lihat dari berbagai negara pecahan Rusia seperti Tajikistan, Kyrgystan, Turkmenistan, dan juga muslim Moskow. Masjid Katedral Moskow dibangun pada tahun 1903 dan menjadi salah satu masjid tertua dari empat masjid yang masih berdiri di kota Moskow setelah Moscow Historical Mosque yang dibangun pada 1928. Saya mengikuti aliran jamaa’ah hingga sampai pada pagar pemeriksaan satpam dan diijinkan masuk ke halaman masjid.

Tempat wudhu wanita ternyata ada di bagian bawah. Jadi setelah masuk halaman kemudian belok ke kanan, kita akan menemukan tangga ke arah bawah. Di sana ada tempat wudhu wanita yang kemudian juga terhubung dengan lorong menuju lift khusus wanita. Ruang sholatnya ada di lantai atas. Di dekat ruang sholat disediakan mukena dan tempat menyimpan sepatu serta tas. Tetapi saya membawa tas saya ke ruang sholat kuatir kenapa-napa jika saya letakkan disana. Sampai di ruang sholat ternyata penuh. Banyak sekali Jama’ah wanita yang ikut sholat Jumat. Melihat dari wajahnya sepertinya mereka kebanyakan dari negara-negara pecahan Rusia. Saya sebenarnya ingin komunikasi dengan mereka, sayangnya mereka tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa Bahasa Rusia, jadilah hanya tersenyum-senyum saja.  Khutbah Jum’at juga menggunakan Bahasa Rusia tetapi suasanya sangat menyejukkan meski saya tidak memahami bahasanya.

Setelah selesai sholat Jum’at, diluar ada penjual teh hangat dan makanan kecil. Sebenarnya saya ingin mencoba makanan kecil yang pembelinya antri sampai panjang itu, tetapi setelah sadar yang membeli teh hangat semuanya laki-laki, saya kemudian mundur dan meninggalkan tempat itu. Di depan masjid sembari mengambil foto, seorang pria tua menghampiri saya dan mengajak ngobrol dengan Bahasa Rusia. Setelah saya bilang minta maaf tidak bisa Bahasa Rusia, pria itu kemudian ngajak ngobrol terbata-bata dengan Bahasa Inggris. Wajahnya ramah, sejuk dan rambutnya telah memutih. Tapi saya tahu, pria ini sedang menceramahi saya tentang sesuatu. Saya hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum lalu pamitan dan salam.

Di bagian kiri masjid, ada kantin memanjang yang menjual banyak makanan. Saya sangat ingin masuk ke sana untuk membeli teh hangat karena suhu 10 derajat itu membuat saya membeku. Tetapi lagi-lagi isinya hampir kebanyakan laki-laki dan mereka berdesakan di kantin memanjang itu. Akhirnya saya mengurungkan niat ke sana dan memutuskan kembali ke stasiun. Sempat nyasar saat balik ke stasiun tetapi malah menemukan beberapa hal menarik di sekitaran masjid, seperti bazar Jum’at yang menjual berbagai macam barang seperti pasmina, buku dan makanan. Jum’atan di masjid Agung Moskow ini sangat berkesan bagi saya terutama bertemu dengan saudara-saudara muslim dari tempat yang jauh. Kita bersaudara dalam Islam, mari saling memegang tangan dan menguatkan.

TAK SEMUA ORANG KAYA MENYEBALKAN

Tiga bulan terakhir saya sibuk mengerjakan buku kenangan sebuah organisasi yang bentuknya seperti ensiklopedia tokoh yang menceritakan perjalanan hidup 32 orang di dalamnya. Meskipun ini hal baru dalam dunia kepenulisan yang saya jalani nyaris 15 tahun, tetapi menurut saya sangat menarik. Pertama karena saya sedang kurang nyaman menulis untuk industri dengan deadline yang sangat ketat sementara hypertensi mengincar saya sewaktu-waktu. Kedua, saya memang suka belajar hal baru apapun itu terlebih dalam dunia kepenulisan. Saya sudah lama selalu tertantang untuk belajar berbagai model kepenulisan mulai dari fiksi, artikel, opini, skenario, drama panggung dan yang terbaru penulisan biografi.

Sejak dulu, saya selalu belajar sambil langsung bekerja mulai dari menulis cerpen, novel, artikel hingga skenario. Dan begitu juga kali ini.  Saya membaca buku apa saja, tak terkecuali biografi. Dan bekal bacaan saya serta sedikit teori inilah yang menjadi pegangan saya memulai bekerja. Maka sudah pasti pertama yang saya lakukan adalah mencari narasumber untuk diwawancarai. Dari ensiklopedia 32 orang itu saya menemukan banyak hal menarik dari pribadi-pribadi mereka yang kemudian sangat menginspirai saya sendiri. Misalnya bagaimana mereka tetap menjalani hidup aktif tanpa malas-malasan dan penuh semangat di usia 60 tahunan ke atas. Bagaimana mereka tetap berkarya dan berguna untuk orang lain meskipun sudah usia senja.

Tetapi tokoh yang paling berkesan bagi saya adalah satu sosok yang menurut saya sangat inspiratif. Ia adalah seorang wanita hebat. Pengabdiannya untuk wanita di sekelilingnya perlu diacungkan jempol. Bagaimana tidak? Panggilan hidupnya adalah untuk memajukan wanita di sekelingnya menjadi wanita yang cerdas, mandiri dan setara dengan laki-laki dalam berdiskusi. Wanita menurut tokoh satu ini harus berani mempromosikan dirinya, keluar dari kungkungan budaya patriarki sehingga ia tidak hanya menjadi obyek dalam banyak tempat. Wanita harus menjadi subyek yang dominan dalam segala aspek kehidupan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Lelaki memang imamnya, tetapi wanita harus bisa menjadi mitra diskusi yang setara bagi laki-laki.  Sampai di sini saya mengagumi pemikiran-pemikiran sekaligus kegiatan-kegiatan kongkrit yang beliau lakukan untuk mewujudkan cita-citanya membebaskan wanita dari jurang kebodohan ini.

Bukan hanya itu, banyak hal yang saya kagumi dari tokoh satu ini. Beliau tentu saja bukan orang biasa baik secara materi, jabatan maupun asal usulnya. Tetapi beliau bisa berbaur dengan penulisnya yang “apa adanya”, bahkan bisa mencomot makanan yang sama di satu piring. Hal lain yang saya kagumi adalah cara dia menghargai waktu. Dia orang yang sangat ontime meski usianya sudah lewat 60 tahun dan kadang justru datang lebih awal, padahal seringkali saya yeng membutuhkan beliau bukan beliau yang membutuhkan saya. Caranya menjawab wawancara juga sangat menyenangkan, beliau ngajak ngobrol bahkan curhat, sama sekali tak nampak bahwa beliau salah satu tokoh yang luar biasa. Atau mungkin orang yang sudah sampai pada level tertentu memang begitu? Lebih bisa menempatkan dirinya sendiri ketika bertemu siapa saja.

Sebagai seorang pemimpin beliau bukan tipe one man show, jadi apapun potensi yang ada dalam teamnya beliau kembangkan sehingga orang-orang yang ada dalam teamnya maju dan berkembang. Sayapun ketika pertama bertemu dan terlihat diam, beliau langsung memahami pribadi saya dan berusaha memancing saya agar saya bisa menunjukkan kemampuan saya. Sungguh ini pengalaman yang berharga buat saya, bukan hanya soal bagaimana beliau memperlakukan saya, tapi bagaimana kemudian saya harus memperlakukan orang lain di kemudian hari.  Menulis selalu menjadi pekerjaan yang saya cintai apapun rintangannya, dan hal-hal baru yang bisa dipelajari akan terus saya kembangkan demi cinta itu. Terima kasih Ibu inspirasinya!

TIPS BERKELANA DENGAN ORANG “GENGGES”

“Sekali bertemu orang gengges, maka perjalananmu akan menyiksa lahir batin.” Begitulah motto hidup para pejalan yang menderita parah akibat ke”genggesan” seseorang di perjalanan.  Apa sih orang gengges itu? Kalo menurut internet gengges itu artinya merepotkan, ribet dan menyebalkan. Satu kata terakhir saya tambahin sendiri. Kalau kita terbiasa traveling dengan santai, simple alias nggak mau ribet sama bawaan dan dandanan maka perjalananmu akan jadi neraka saat mendadak seseorang dengan karakter seperti itu muncul memasuki areal hidupmu.

Dia bawaannya berkontainer-kontainer, sementara kamu hanya bawa ransel 24 liter. Dia dandannya bisa 3 jam sebelum explore sebuah kota sementara kamu bedakan aja jarang. Dia hobbynya ke mall dan belanja sementara target jalanmu ke tempat-tempat baru di kota tersebut. Dia gampang marah jika keinginannya tidak terpenuhi sementara kamu sudah banyak toleransi ke dia. Dia ngelead sesuai maunya sementara kamu juga bayar mahal untuk perjalanan ini. Dia susah kompromi untuk banyak hal, sementara tinggal di apartemen yang sama. Dan yang paling bahaya, dia bisa memanipulasi dengan menjadikan dirinya korban atas banyak hal yang terjadi dalam perjalanan padahal semua temannya justru meladeni banyak kemauannya.

Okay! Well! Tapi hal-hal seperti itu bisa saja kan terjadi dalam perjalanan? Bisa banget, karena kita tidak bisa menebak siapa yang akan muncul dalam hidup kita, tiba-tiba saja seorang teman membawa temannya yang super gengges tanpa aba-aba dan mendadak aja kita shock! Atau…. bisa jadi kita sendiri gengges di mata teman-teman kita tanpa kita sadari. Maka kejadian-kejadian menyebalkan itu sebenarnya bisa membuat kita intropeksi sejauh mana kita juga menyebalkan di mata teman-teman kita.

Ada beberapa antisipasi yang bisa kamu lakukan sebelum moodmu jadi bener-bener buruk lalu kamu ngamuk-ngamuk dan perjalanan kamu jadi nggak bahagia. Sudah keluar uang banyak tapi nggak bahagia? Oh NO! BIG NO!

  1. Kalau model gengges datang dalam perjalananmu, kamu harus siap-siap. Jangan sampai bergantung soal kunci penginapan dan internet sama dia. Karena kamu harus mempersiapkan diri untuk misah jalan dengan dia sebelum bomnya meledak. Tapi lihat dulu segengges apa dia, kalau kamu masih bisa tolerat ya oke-oke saja.
  2. Kamu harus tegas, jangan ikutan menye-menye tapi akhirnya kamu sendiri yang rugi. Beberapa orang gengges justru manfaatin ketidaktegaan kita dan kebaikan kita. So, do it! Say no if you dont like it! Kamu nggak usah kasihan kalau misalnya dia nggak berani sendirian tapi justru tetep ngerepotin kamu. Tega-tega deh!
  3. Kamu tetap harus fokus pada tujuanmu. Terlebih kalau tujuan dia mulai sangat mendominasi sehingga kamu nggak kebagian tujuanmu sendiri. Kamu harus berani ngomong dan memisahkan diri darinya.
  4. Lain kali cek dulu teman yang akan bergabung dalam perjalanan kamu. Jika dia terlihat benih-benih gengges mending sebelum berangkat bikin perjanjian pra perjalanan. Ini penting kalo perlu tertulis biar nggak bikin masalah di kemudian hari.

Sebenarnya perjalanan itu juga berlaku seleksi alam. Jika kita tidak menyenangkan nggak akan ada orang yang mau jalan sama kita. Tapi kalo kita oke, maka banyak teman yang akan jalan sama kita. Itu aja sih ukurannya! Oh wait! Kadang-kadang hal buruk yang datang dalam hidup kita itu juga berkah khususnya buat penulis seperti saya. Karena sejak bertemu beberapa orang gengges saya jadi dapat ide cerita untuk menulis hal-hal yang sebelumnya diluar jangkauan otak saya. Nah! Selamat berjuang jika kalian bertemu teman gengges dalam perjalanan!

 

BERTEMU “BULAT OKUDZHAVA” DI ARBAT STREET MOSKOW

Saya hanya memiliki waktu 3 jam untuk mengunjungi Arbat Street sebelum meninggalkan kota Moscow. Sementara perjalanan dari stasiun Leningradsky tempat saya nge-locker koper ke Arbaskaya pasti membutuhkan waktu lama karena nyari-nyari jalan dulu sekaligus nyasar-nyasarnya. Belum lagi metro sore yang padat oleh orang-orang Moscow pulang kerja. Tapi apapun yang terjadi saya harus ke Arbat Street!

 

Arbat Street itu kalau di Indonesia semacam Malioboro di Yogyakarta. Pendestrian yang sisi kiri dan kanannya berjajar orang-orang berjualan souvenir, kafe-kafe dan gedung-gedung tua bersejarah.  Arbat street sebenarnya sudah ada sejak abad ke 15 namun sempat rusak karena kebakaran. Baru kemudian dibangun lagi pada abad ke 19.  Harga souvenir di sini memang lebih mahal ketimbang di Izmailovo market tetapi memang lebih bagus. Bahkan boneka Matryoshka yang dijual disini lebih detail dan lebih halus. Karena saya sudah membeli boneka Matryoshka di Izmaolovo market maka di sini saya ingin mencari barang yang lain.

Menurut informasi, jika pergi ke Rusia barang yang seharusnya dibeli adalah benda-benda seni seperti lukisan dan vodka. Karena saya tidak minum vodka maka saya membeli salah satu lukisan berukuran kecil seharga sekitar Rp.300 ribu kalau dirupiahkan. Harusnya harganya lebih mahal tetapi karena saya merengek pada penjualnya agar kasih diskon pada saya yang datang jauh-jauh dari Indonesia, penjual handsome yang juga pelukisnya itu akhirnya mengijinkan saya membeli dengan harga diskon.  Lukisan bergambar dua wanita Rusia sedang di depan rumahnya bersalju itu akhirnya saya masukkan ke dalam tas.

 

Ada dua jalan di Arbat street yaitu old Arbat dan new Arbat. Old Arbat lebih klasik dengan bangunan-bangunan tua dan barang-barang yang dijual juga souvenir-souvenir khas Rusia dan benda-benda seni, sementara di New Arbat lebih seperti mall yang menjual barang-barang branded. Di pertengahan jalan old Arbat, saya menemukan patung yang saat saya mengambil fotonya malah dia seperti hidup dan memandang saya. Saya ketakutan karena sebelumnya banyak kejadian horor di apartemen tempat kami menginap. Tetapi ternyata patung yang disampingnya berdiri lelaki sedang menunjukkan foto untuk mencari anaknya yang hilang itu adalah patung Bulat Okudzhava.

Siapa Bulat Okudzhava? Ia salah satu penyair, penulis, musisi, novelis dan penyanyi Rusia pada tahun 1960-an. Lagu yang diciptakan Bulat Okudzhava merupakan lagi terkeren sepanjang masa yang dicintai orang-orang Rusia. Salah satunya lagu “Kami Butuh Satu Kemenangan” tahun 1970 untuk film perang ikonik, Belorussian Station.  Patung Bulat Okudzhava yang ada di Arbat Street seolah sedang berjalan dengan gulungan koran terselip di sakunya ini dibuat oleh Georgy Frangulyan. Patung ini menurutku sangat menarik karena matanya seperti hidup saat menatap orang yang ada di depannya. Saya belum pernah membaca syair atau mendengar lagu dari Bulat Okudzhava tetapi entah kenapa patung di depan saya itu berasa seperti dekat dan ingin mengajak ngobrol saya. Jika teman saya tidak menarik lengan saya, mungkin saya akan berdiri lama di sana berpandangan dengan Bulat Okudzhava.  Saya ingin menjelajah Arbat street hingga ke ujung, tetapi penerbangan saya sudah mepet. Sebelum sampai ujung saya berbalik arah ke stasiun Arbaskaya meninggalkan Bulat Okudzhava. Selamat tinggal Bulat! Aku akan kembali lagi nanti!

RANI AULIA : SOLO TRAVELER YANG MERDEKA

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya mengagumi traveler wanita yang satu ini. Saya belum pernah bertemu dengannya secara darat, tetapi saya mengikuti perjalanannya keliling dunia melalui sosial media. Pada 2016, Rani Aulia memulai perjalanan solo travelingnya selama 333 hari mengunjungi 22 negara  diantaranya Eropa, Kanada, Norway, Maroko, Turky, Iran, Georgia, India dan ratusan kota di dalamnya.  Mengaku sebagai sosok yang takut ketinggian, takut air, takut naik motor dan takut pada ulat bulu, wanita yang akrab di sapa Teh Rani ini sempat tidak percaya mampu bertahan solo traveler selama setahun. Perjalanan itu kemudian mengawali perjalanan-perjalanan menakjubkan lainnya seperti yang terbaru solo traveling menjelajah Afrika dalam 3 bulan.

Jika melihat dari sosial medianya, gaya perjalanan Teh Rani sangat membumi dan merdeka. Menyusuri berbagai negara dengan gembira, berbaur dengan warga lokal dan berusaha mengenali kehidupan orang-orang lokal.  Saya kemudian mengirimkan email untuk ngobrol-ngobrol dengan Teh Rani dan mengajaknya berbagi di SHARING seribulangkah.com/. Berikut ini obrolan saya dengan Teh Rani, semoga saja menginspirasi teman-teman yang ingin solo traveling juga seperti Teh Rani.

Hai Teh Rani, apa kabar? Saat ini sedang traveling di negeri mana? Ceritakan dong sedikit tentang diri Teh Rani. Ada nggak pengaruh keluarga yang membuat Teh Rani suka traveling?

Halo… kabar baikk… saat ini kebetulan lagi di Indonesia, lagi liburan… Halo halo nama saya Rani asal dari Bandung, saya seneng traveling ga ada pengaruh dari siapa-siapa ya.. dari dulu emang seneng jalan-jalan muter-muter kayak gangsing.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani sejak masih kerja sampai travel around the world.  Ada nggak proses ragu-ragu saat memutuskan keluar dari pekerjaan lalu traveling ?

Perasaan ragu jelas ada ya, itu salah satu keputusan besar yang saya buat, biasanya saya resign untuk pindah kerja ke tempat lain tapi waktu itu saya resign untuk memburu mimpi saya nyoba traveling menyusuri dunia dalam waktu yang lama. Galaunya lamaaaa banget, karena sejujurnya saya udah nyaman dengan pekerjaan saya, teman-teman yang cocok banget, tapi emang desire untuk traveling dalam waktu lama tinggi banget, karena saya kesel cuman bisa traveling 10 hari mana ijinnya cutinya repot lagi, tiap pengen traveling dilema karena cuti, jadinya ya dengan bersimbah air mata saya lapor pak boss mau resign..

Apa sih Teh yang perlu dipersiapkan sebagai cewek untuk menjadi solo traveler seperti Teh Rani? Bagaimana reaksi keluarga saat Teh Rani berpamitan untuk solo traveling? Lalu apa kendalanya di perjalanan dan bagaimana mengatasinya?

Siapin niat dan mental aja dulu, kadang saya bingung sama pertanyaan begini hahhahaha karena sejujurnya tidak ada yang saya siapkan, saya ini penakut banget, naek motor aja saya takut, dibonceng orang saya takut hahahahhah tapi mungkin tiap orang racikannya beda ya.. ada yang emang berani di sisi ini ada yang berani di sisi itu, ada yang belajar motor itu easy peasy tapi buat saya belajar motor itu menggerikan. Tapi sebetulnya kalau udah ada niat kita pasti bisa, apapun itu yang kita hadapi di jalanan kita pasti bisa menghadapinya, karena emang insting survival itu pada dasarnya ada di racikan masing-masing manusia. Reaksi keluarga, shock haha waktu itu saya bawa kabarnya pas mama lagi di opname di rumah sakit lagi, biasanya kalo mama lagi di sakit gitu bawaanya mellow gitu.. taulah jadinya ngobrol kemana-mana, waktu itu mama sama kakak saya lagi serius ngajak ngobrol, nanya kapan saya punya niatan menikah hahahahahha tapi sama saya malah dijatuhin bomb, mau resign trus pergi traveling selama setahun, mama shock berat, kakak saya nyoba menerima dan beliau memberi pengertian ke mama. Kendalanya  banyaklaah.. tapi yang utama sih masalah pasport, pasport kita lemah banget kemana-mana butuh visa, jadinya opsi untuk long trip gitu jadi terbatas. Mengatasinya ya cari rute yang free visa atau bisa e-visa atau voa. Kendala lainnya mungkin karena saya itu orangnya clumsy dan pelupa lupa ini itu yang akhirnya banyak drama, istilahnya you name it lah gara-gara kecerobohan saya, rasanya semua pernah yang belum itu ilang pasport (amiiiit amiiittt jabang bayiiii.. jangan sampai yaaa), bahkan saya pernah jatuh ketimpa tangga ketimpa anak tangga lagi. Key bca diblokir trus dompet ilang terus ketinggalan pesawat tanpa uang yang tersisa. Bayangkan.. kemping di bandara Casablanca selama seminggu sampe akhirnya berhasil keluar bandara.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani setahun ke berbagai tempat dengan biaya minim dan menurut saya itu sangat menarik. Bagaimana mengatur bujet perjalanan dengan biaya seperti itu?  Bagaimana jika terjadi sesuatu di perjalanan, apakah Teh Rani mempersiapkan second plan misalnya tabungan lain untuk mencover perjalanan?

Sebetulnya ga ada istilah mengatur budget saking minimnya budget saya, uang perhari saya hanya cukup untuk biaya transportasi ama makan aja, saya selalu nyari tumpangan tidur makan-pun ga pernah ke restaurant paling cuman roti sama telor saja, dengan budget yang saya punya, beneran ga ada pilihan. Saya ga punya tabungan lain untuk mencover perjalanan, ya intinya sih harus hati-hati supaya meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang berujung saya harus mengeluarkan dana lebih. Walaupun ada asuransi perjalanan tetap hati-hati.

Saat ini sudah berapa negara yang Teh Rani kunjungi dan negara mana yang menurut Teh Rani paling berkesan sehingga ingin kembali dan kembali lagi?

Berapa negara ya.. udah lupa, udah ga pernah ngitung lagi hahhahaha.. yang berkesan banyak, tapi Switzerland, Norwegia itu 2 negara langganan, yang setiap tahun saya pasti kembali kesana untuk menikmati alamnya. India Jepang atau Korea itu lebih ke karena saya ada ikatan aja, ntah itu untuk maen snowboarding atau untuk meditasi.

Menurut Teh menarik mana traveling di Indonesia atau di luar negeri? Apa sih kemudahan dan kesulitan masing-masing itu.

Kalo saya bilang sama menariknya karena mau sok nasionalis, artinya saya bohong hahahha, tbh traveling ke luar lebih menarik, berada di tempat dimana saya tidak bisa bahasa mereka tidak familiar dengan keadaaanya itu lebih menarik aja. Kemudahan traveling di Indonesia itu saya familiar dengan bahasanya jadi gampang bertanya kalo nyasar sedangkan di luar harus keluar sedikit energi untuk bertanya karena bahasa yang berbeda, kesulitan traveling di Indonesia itu mungkin transportasi ya, ujung ke ujung belum terkoneksi dengan bagus, sebetulnya di luar juga sama ada banyak yang masih dibawah Indonesia, transportasinya banyak yang masih berantakan, secara saya seneng buat eksplore negara2 yang emang kurang familiar bagi para turis-turis karena aksesnya susah.

Saya melihat dari sosmed Teh Rani banyak menjalin persahabatan saat traveling dan itu sangat menyentuh. Bagaimana menjalin persahabatan melalui perjalanan karena tentu mereka memiliki karakter yang berbeda dari masing-masing negara. Orang mana yang menurut Teh paling mudah menjalin persahabatan?

Kadang kalo gitu itu semacam takdir aja gitu, kita berada di frekuensi yang cocok sehingga kita cocok aja, saya di host sama seorang wanita di Tromso dan sekarang dia jadi teman baik saya, mungkin pemikiran frekuensi kami sama sehingga kami cocok, dan karena itu saya akhirnya mendapatkan kesempatan eksplor Norwegia utara secara gratis, diajak roadtrip sampe ke perbatasan Rusia. Tromso itu kota yang sangat mahal tapi saya selalu bisa kembali kapan saja tanpa harus membayar penginapan, yang ada temen saya itu merasa senang karena saya menyempatkan diri untuk mengunjungi dia di Artic Circle. Terus pernah ketemu tiga orang traveler dari Polandia di Gergeti Triniry church di Kazbegi pas winter, kita cuman sapa-sapaan yang berakhir janjian dinner bareng dan sekarang mereka jadi teman baik saya, beberapa kali kami bertemu lagi dan beberapa kali saya sempatkan untuk mampir ke Warsaw bertemu mereka. Kalo seperti pas traveling di Afrika ya saya berusaha untuk menyapa orang lokalnya dan berinteraksi dengan mereka karena berkomunikasi dengan orang lokal itu hal yang sangat menarik buat saya, mengetahui keseharian mereka, cerita mereka, hal-hal itu merupakan hal yang menarik dan itu juga sebagai bahan cerita saya nanti saat pulang.

Teh Rani juga kemudian bikin paket trip. Bagaimana syaratnya bisa bergabung dalam paket trip Teh Rani?

Ga ada syaratnya sih. Tinggal cepet-cepetan daftar aja. Syaratnya harus tau siapa saya, harus tau model traveling saya gimana biar nanti ga kaget begitu join ama tripnya. Kemana aja? Negara2 yang punya view bagus macam New Zealand, Iceland, Canada, India, atau less tourist macam Mongolia, Georgia. Itulah kenapa kadang saya suka nanya “tau saya ga? tau gimana cara saya traveling ga?” soalnya kalo tau, saya yakin yang manja-manja udah menjauh duluan hehehe.

Masih ada nggak negara yang dicita-citakan tetapi belum dikunjungi? Kenapa belum bisa ke sana?

Ga ada hahahahhahha.. semua negara yg ingin saya liat sudah saya liat, sisanya ya mungkin negara-negara lain yang punya jajaran pegunungan yang belum saya liat. Kalo cita2 sih saya pengen ke Kutub Utara or Selatan, itu tuh negara bukan sih?

Teh Rani juga pecinta K-Pop ya, group apa sih yang paling Teh Rani sukai dan kalau nggak salah perjalanan ke konser-konser K-Pop menjadi perjalanan yang dinikmati secara pribadi. Ada nggak nanti akan dinikmati rame-rame sama paket tripnya?

Saya bukan pecinta K-Pop saya pecinta BTS hahahahahha.. mengikuti world tour BTS itu betul-betul perjalanan yang seru. Sabtu – Minggu nonton konser, Senin – Jumat traveling  atau eksplor kotanya. Ga ada bedanya dengan Backpacking biasa, tinggal di penginapan murah di outskirt city sehingga jadi tantangan saat pulang konser yang notabene diatas jam 10 malam, ya pada intinya nonton konser tapi dengan dibarengi oleh skill backpacking yang mumpuni itu sangat menguntungkan sehingga budget yang dikeluarkan itu ga terlalu besar. Saat orang lain habis puluhan juta untuk sekali nonton konser, dengan jumlah yang sama saya bisa pergi 6 kali konser di 3 kota berbeda.  Trus lagi mengikuti world itu sangat menarik karena saya berpindah-pindah tepat, jadi biar ga hanya konser aja biar lebih berfaedah ya sambil traveling, Sabtu Minggu saya jingkrak2 sisanya saya pake buat discover kota yang saya datangi. Wah enggak deh, nonton konser itu Me-Time.. kalo barengan oke, tapi kalau harus ngurus orang lain enggak deh, soalnya dapat tiket konser BTS itu susah dan kalau momentnya dihancurkan orang lain bisa-bisa saya menyesal seumur hidup hahaha

Kalau disuruh memilih, lebih suka investasi pada pengalaman perjalanan atau investasi barang-barang? Kenapa?

Investasi pengalaman donk, karena menyenangkan aja. Menceritakan pengalaman kita ke orang lain itu menyenangkan sekali. Membahagiakan sekali. Storytelling itu hal yang paling membahagiakan buat saya.

Setelah keliling dunia nanti, ada nggak cita-cita lain yang pengen Teh Rani capai? Apakah masih berhubungan dengan traveling?

Ga ada, saya punya keinginan apa-apa. Cuman pengen menjalani hari demi hari rileks, jauh dari prahara dan tetap bahagia.

Kasih semangat dan tips dong Teh buat traveler cewek yang masih takut melakukan perjalanan sendirian seperti saya ini.

Kamu kuat! Kamu bisa! Salah satu yang paling menyenangkan buat saya saat traveling adalah saat saya menemukan kalo saya itu bisa, saya lebih kuat dari yang saya pikirkan.

Terima kasih Teh Rani!

(Semua foto diambil dari facebook Rani Aulia)

 

MOSKOW : BERBURU MATRYOSHKA DI IZMAILOVO MARKET

“Jangan lupa beliin aku Matryoshka ya, Ci,” pesan ponakan beberapa hari sebelum saya berangkat ke Rusia. Matryoshka merupakan boneka khas Rusia yang di dalamnya terdapat boneka-boneka dengan ukuran lebih kecil. Model-model boneka ini bermacam-macam mulai dari karakter dongeng, pemimpin salah satu negara tertentu sampai gadis petani Rusia. Matryoshka berasal dari kata Matryona yang merupakan nama dari seorang wanita bertubuh gemuk sehingga di dalamnya terdapat banyak boneka lain yang lebih kecil.

Menurut sejarahnya, boneka Matryoskha diperkenalkan pada Pameran Dunia di Paris pada tahun 1900. Seorang pelukis bernama Sergey Malyutin membuat sketsa matryoskha dan meminta bantuan Vasiliy Zvyozdochkin, seorang pengrajin kayu untuk membuat matryoskha. Malyutin kemudian mengecat boneka tersebut menjadi sosok gadis manis yang menggunakan pakaian tradisional Rusia, lengkah dengan kerudungnya dan pernak-pernik khas Rusia lainnya. Sejak di perkenalkan pada pameran di Paris itu, matryoskha kemudian diproduksi besar-besaran di Sergiyev Posad, sebuah wilayah pinggiran Moskow yang hingga saat ini daerah tersebut menjadi pusat kerajinan matryoshka di Rusia.

Sayangnya, saya tidak sempat mengunjungi Sergiyev Posad karena mepetnya waktu backpacking saya di Rusia. Saya hanya mengunjungi Izmailovo market karena menurut informasi banyak menjual boneka matryoskha sekaligus souvenir khas Rusia. Maka, pada hari Jum’at sore, sebelum saya pergi menonton sirkus, saya menyempatkan diri berburu matryoskha di Izmailovo market.  Saya hanya punya waktu 3 jam untuk naik metro, mencari-cari lokasi pasar hingga membeli barang yang saya cari. Apalagi ternyata saat cek di internet, hari Jum’at itu pasarnya libur. Tetapi saya dan teman saya nekat pergi ke Izmailovo market.

 

Izmailovo market terletak di Moskow bagian timur dapat dijangkau dengan metro line 3 dan turun di Partizanskaya Station. Dari stasiun ini bisa jalan kaki sekitar 10 menit menuju Izmailovo market. Di depan Izmailovo market ada Izmailovo kremlin yang di dalamnya terdapat museum juga. Tetapi saya tidak sempat mampir karena kuatir telat nonton sirkus. Jadi setelah makan di mall dekat pasar, saya buru-buru ke pasar yang ternyata sepi. Memang hari Jum’at sebenarnya pasar tutup, tetapi masih ada beberapa kios yang berjualan.

Begitu memasuki pasar, penjual souvenir yang lancar berbahasa Indonesia langsung memanggil saya. Mereka hapal pengunjung dari Indonesia suka belanja sampai mereka bisa berbahasa Indonesia. Deretan souvenir khas Rusia dan boneka Matryoskha berbagai ukuran tampak sangat menarik di beberapa kios. Bahkan pasmina-pasmina buatan Khasmir juga berderet diantara souvenir-souvenir itu. Saya memilih beberapa souvenir dan matryoskha untuk oleh-oleh. Harga di pasar ini cukup miring meskipun kalau dibandingnya dengan souvenir di Arbat Street tidak jauh-jauh juga jika kita tidak bisa menawarnya. Mungkin pada hari lain saat kios-kios di pasar Izmailovo buka semua pasti lebih semarak. Saya hanya mengunjunginya sekilas karena mengejar waktu dengan suhu 8 derajat sehingga sangat kedinginan. Tepat jam 5 sore saya berlari kembali ke stasiun metro untuk mengejar waktu nonton sirkus.  Duh, sayang sekali saya tidak bisa kembali ke pasar itu esok harinya karena sudah kecapekan. Harusnya lebih banyak yang bisa saya ceritakan jika saya bisa kembali. Mungkin lain waktu saya akan kembali. Semoga.