Tag Archives: Backpacker

MEMASUKI THE WHITE HOUSE, MANILA AMERICAN CEMETERY & MEMORIAL

Pemakaman tentara Amerika ini memang menjadi salah satu tempat wisata yang ingin saya kunjungi di Manila. Tetapi tidak pada hari pertama ketika saya baru saja keluar rumah dan hanya ingin melihat-lihat sekeliling. Saya ingin punya waktu khusus untuk berkunjung ke pemakaman ini karena pemakaman buat saya lebih menarik ketimbang mall.

Tetapi, sore itu setelah beberapa menit perjalanan keliling pusat kota Manila, mendadak mobil yang saya tumpangi memutari sebuah bundaran. Lalu di kejauhan tampak barisan nisan putih yang sangat banyak.

“What is that?” tanya saya pada sopir.

“It is the white house,” jawabnya tertawa.

Aku bengong memandangi gerbang tinggi menjulang yang dijaga dua orang penjaga berseragam biru dengan wajah yang ramah.

“Sorry, just kidding. It is American Cemetery,” ralat sopir. “You wanna go inside or just passing by?”

Hmm, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya memutuskan masuk ke areal pemakaman. Setelah menunjukkan kartu identitas ke penjaga dan mereka mengecek keamanan mobil, kami masuk ke areal pemakaman tanpa dipungut biaya. Pemakaman ini buka mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore kecuali tanggal 25 Desember dan 1 Januari.

Begitu memasuki areal pemakaman, mata saya disergap pemandangan ribuan nisan berwarna putih yang berbaris rapi bahkan menurut saya komposisinya enak di lihat hingga bisa dibilang artistik. Pohon-pohon besar dan rindang menaungi nisan-nisan itu, sementara rumput halus menghijau seperti permadani menghampar di sepanjang areal pemakaman. Mobil pemotong rumput dan orang lokal petugas kebersihan makam  sibuk mondar-mandir membersihkan bagian-bagian yang kotor seolah tak akan dibiarkan pemakaman ini kotor sedikt saja. Di kejauhan tampak pegunungan menjadi latar pemandangan sementara di sisi lain gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi.

Saya membayangkan tentara-tentara Amerika yang tidur di bawah sana begitu tenang dan damai berada di tempat sebagus ini, seluas ini dan sebersih ini meskipun pada kenyataannya Amerika pernah memerintah Filipina selama sejak 1898 hingga 1935 karena pada tahun 1935 itu Filipina menjadi negara persemakmuran Amerika. Kemudian Filipina baru mendapatkan kemerdekaannya di tahun 1946.

Pemakaman yang berdiri di areal seluas 62 hektare ini khusus dibuat untuk tentara Amerika yang meninggal dalam Perang Dunia II saat melawan Jepang.  Ada sekitar 16 ribuan lebih tentara yang di makamkan di sini dan 36 ribu lebih nama-nama tentara yang hilang dalam perang diabadikan dalam monumen di tengah pemakaman dekat sebuah kapel kecil. Pemakaman ini terletak di Global City, Taguig, Metro Manila dan dibiayai oleh ABMN (American Battle Monumens Commision).

Menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi, pemakaman tentara Amerika ini dipelesetkan sebagai The White House karena deretan nisannya yang putih dan monumen-monumennya yang kebanyakan juga berwarna putih.

 

 

10 SUNGAI INI MENYUGUHKAN PANORAMA YANG MENARIK

Perjalanan bagi saya adalah waktu yang tepat untuk kontemplasi. Karena itu juga, saya tidak suka bersama banyak orang. Salah satu tempat yang selalu saya kunjungi selain kota tua adalah sungai.  Sungai menjadi saksi bisu bergulirnya sejarah di negara tersebut dan menjadi tempat yang asyik untuk duduk melamun saat senja. Berikut sungai yang pernah saya kunjungi di beberapa negara.

1. SUNGAI DANUBE BUDAPEST, HUNGARIA

Mengunjungi sungai Danube pada senja hari merupakan ide yang tepat. Saya sampai di Budapest pada malam sebelumnya naik bus dari Vienna Austria. Begitu sampai, saya  kebingungan saat hendak masuk ke gedung tua tempat saya menginap.  Hostel itu berada di lantai 4 gedung tua dengan pintu gerbang yang besar dan berat sampai saya tidak kuat mendorongnya. Seorang cowok lewat dan kasihan melihat saya kesulitan mendorong pintu. Dia membantu saya mendorong pintu dan menyelesaikan drama itu. Tetapi memang banyak drama saat di Budapest. Saya kesulitan mencari kartu transportasi sehingga memutuskan mengikuti google map untuk berjalan kaki sampai sungai. Untung dari hostel ke sungai tidak terlalu jauh. Justru saya menemukan banyak hal menarik sepanjang perjalanan dari hostel ke sungai seperti yang bisa saya kunjungi esok harinya.

Saya tiba di pinggir sungai tepat saat lampu-lampu kota yang berwarna kekuningan mulai menyala tetapi langit masih terang. Lampu yang diatur sedemikian artistik itu membuat bangunan-bangunan tua di sekitar sungai berubah keemasan. Salah satunya adalah gedung Parlemen Budapest yang menjadi tujuan wisata para turis. Beberapa operator cruise yang mengangkut turis tampak bolak balik menyusuri sungai. Mereka menikmati pemandangan senja dan bangunan-bangunan bersejarah di kota Buda dan Pest dari kapal. Sebagian penumpang melambaikan tangan ke arah turis yang duduk menikmati senja di tepi sungai.  Sungai Danube pada senja hari sangat cantik dan romantis.

Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata para turis. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat bangunan-bangunan tua cantik di kota Buda yang ada di seberang sungai.

Setelah duduk menikmati suasana Budapest dari pinggir sungai Danube sekitar tiga jam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar pinggir sungai ke arah jembatan Chain. Sebelum sampai di jembatan Chain, saya melewati Szechenyi Street. Tampak beberapa orang membawa bunga mawar dan meletakkan bunga mereka di atas sepatu besi yang ada di pinggir sungai.  Tempat itu adalah Shoes on The Danube Promenade, memorial untuk memeringati korban Holocaust, “Mengenang korban yang ditembak ke Sungai Danube oleh milisi Arrow Cross pada 1944-1945”. Instalasi yang terdiri dari 60 pasang sepatu dari besi dan di belakangnya terdapat bangku yang terbuat dari batu sepanjang 1.188 meter dengan tinggi 71 cm ini merupakan saksi salah satu momen terkelam di Budapest selama Perang Dunia II tepatnya pada musim dingin 1944-1945.  Ribuan orang Yahudi pada masa itu diikat bersamaan dan ditembak ditepi sungai. Jasad mereka dilemparkan ke Sungai Danube oleh Arrow Cross Party. Sungai Danube menjadi pemakaman Yahudi paling mengeringkan pada masa itu. Karena sepatu saat itu sangat berharga maka sebelum ditembak mereka dipaksa melepaskan sepatunya dan sepatu itu akan dijual ke pasar gelap oleh para eksekutornya. Memorial ini terbuka untuk dikunjungi para turis, terkadang juga kerabat para korban. Mereka meletakkan bunga, koin dan lilin di sana.

Malam semakin sepi saya melanjutkan perjalanan ke jembatan Chain yang masih ramai. Orang-orang duduk di pinggir sungai sekitar jembatan Chain menikmati malam. Sayapun bergabung untuk duduk di sana. Sungai Danube yang cantik dan romantis namun menyimpan tragedi kelam dari masa lalu ini sayang untuk dilewatkan jika anda ke Budapest.

2.SUNGAI SEINE PARIS, PRANCIS

Sungai Seine memang menjadi tujuan utama saya saat berkunjung ke Paris. Sebagai orang yang suka melamun di pinggir sungai, tempat ini tidak akan saya lewatkan. Sungai Seine tidak hanya menjadi ikon pariwisata di Paris tetapi juga menjadi inspirasi banyak seniman Prancis ; pematung, pelukis, filmmaker bahkan penulis dalam karya-karya mereka. Maka setelah seharian berjalan kaki menyusuri kota Paris yang super eksotis, saya turun ke trotoar tepi sungai Seine. Siapa tahu saya juga mendapatkan inspirasi seperti para seniman itu, meskipun kenyataannya saya malah terkagum-kagum dengan pemandangan sepanjang sungai sehingga tidak mendapatkan inspirasi apapun.

Sungai Seine membelah kota Paris menjadi dua bagian yaitu utara dan Selatan dengan panjang 776 kilometer dan memiliki puluhan jembatan yang bertengger diatasnya. Sebagai sungai terpanjang kedua di Perancis setelah Sungai Loire, pada awalnya Sungai Seine digunakan sebagai sarana transportasi dan pembuangan. Tetapi pada masa kini, sungai Seine menjadi salah satu cagar budaya UNESCO. Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Selain Eiffel, sungai Seine merupakan ikon kota Paris. Di sepanjang pinggir sungai banyak turis, orang lokal yang duduk menikmati senja atau olahraga juga mereka yang bekerja di sungai.  Wisata yang ditawarkan adalah menyusuri sungai dengan naik cruise yang akan melewati ikon-ikon wisata di Paris. Jika menyisir dari arah timur menuju arah barat Sungai Seine, akan tampak puluhan situs yang terletak di kanan-kiri lembah Sungai Seine. Di lembah kiri sungai tampak berturut-turut la Grand Bibliotheque, Institut de Paris, Musee d’Orsay, hingga Menara Eiffel. Sementara, di sayap kanan sungai berdiri dengan megah bangunan yang lain dari Bercy, Hotel de Ville, Musee du Louvre, hingga Jardin Trocadero. Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai fasilitas yang ditawarkan dan kemampuan kantong kita. Ada cruise yang menawarkan tour biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, ada dinner tour hingga private tour. Saya memilih tour biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan tiket yang bisa dibeli langsung di dermaga atau online di website. Saya memilih membeli langsung di dermaga.

Tepat menjelang matahari terbenam cruise yang saya naiki memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka sehingga lebih leluasa mengambil foto. Tidak banyak turis yang naik cruise ini sehingga saya bebas memilih tempat duduk. Seorang wanita Asia berambut panjang dan cantik memandu perjalanan itu.  Matahari bersinar keemasan menerpa menara Eiffel sehigga terlihat sangat cantik dari sungai. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.

3.SUNGAI THAMES, INGGRIS

Menyusuri tepian sungai Thames selalu menjadi satu bundel kegiatan berwisata para turis seluruh dunia yang datang ke London, Inggris. Karena selain sangat populer, di sekitar sungai ini bisa dijumpai banyak ikon kota London seperti Big Ben, London Eye, dan Tower Bridge. Saya hanya memiliki waktu sebentar pada siang hari selepas mengunjungi Big Ben untuk menyusuri tepi sungai ini sehingga tidak sempat melamun lama-lama dan menunggu senja datang. Tetapi waktu sebentar itu saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sungai Thames mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut sepanjang 356 kilometer.  Selain sebagai penyedia ikan bagi penduduk kota, sungai ini juga menjadi pensuplai air serta sarana transportasi. Meskipun dinobatkan sebagai sungai terbersih di dunia, tetapi pada masa lalu sungai ini pernah menjadi sungai mati karena limbah sampah dan manusia dengan polusi yang sangat tinggi. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi itu dengan berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem. Semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.

Seperti di beberapa negara Eropa lainnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati sungai Thames mulai dari mengikuti tour cruise dengan berbagai jenis paket yang akan membawa turis ke berbagai ikon wisata seperti London Eye, Tower Bridge, Gedung Parlemen Kerajaan Inggris, Big Ben dan Gereja Katedral St. Paul. Atau bisa juga mampir di salah satu kafe-kafe pinggir sungai dan duduk di sana menikmati lalu lalang orang sambil memesan beberapa makanan kecil. Saya tidak memiliki waktu untuk keduanya sehingga hanya berdiri beberapa menit di pinggiran sungai sambil melihat lalu lalang orang di sekitaran Tower Bridge. Seorang penjual kacang almond tampak ramai dikerubungi turis dan saya ikut bergabung untuk membeli kacang almond dalam berbagai rasa itu. Begitu saya memegang kacang almond, merpati yang beterbangan di situ mendekat. Sayapun menikmati kacang almond bersama beberapa merpati sambil menunggu matahari tidak terlalu panas untuk meninggalkan tempat itu.

4.SUNGAI VLTAVA, PRAHA, REPUBLIK CEKO

Saya tiba di Praha pagi hari setelah nyasar-nyasar mencari apartemen tempat saya menginap yang ternyata jauh dari pusat kota dan ada di ujung blok. Pemilik apartemen itu, Miroslav, seorang cowok gondrong berwajah baik dan penuh senyum datang satu jam setelah saya menunggu dengan kaki kesemutan di depan gedung. Tetapi begitu memasuki apartemen semua rasa lelah itu terobati dengan kegugupan naik lift tua yang cara operasinya masih manual dan ruangan apartemen yang terasa wow sekali. Bagaimana tidak?  Apartemen itu cukup besar dan bagus. Bahkan Miro melengkapinya dengan beberapa bahan makanan gratis di kulkas, peta kota Praha dan konsultasi gratis lokasi-lokasi menarik yang harius saya kunjungi. Saya bebas memasak, mencuci dan melakukan apa saja layaknya di rumah sendiri selama tinggal di Praha. Meskipun lokasinya agak jauh dari tujuan wisata, tetapi berdekatan dengan mall yang disana saya bisa mendapatkan makanan dengan mudah.

Saya lupa menulis kota tua Praha di tulisan saya sebelumnya tentang Old Town padahal Praha adalah kota tua paling eksotis. Memasuki pusat kota Praha saya seperti memasuki  masa lalu. Nyaris semua bangunan tua masih berdiri dengan megahnya menjadi fokus pariwisata. Sebelum duduk di pinggir sungai Vltava, saya memutuskan untuk menjelajahi kota tua Praha dan memulainya dari Charles Bridge. Satu dari puluhan jembatan yang sangat terkenal dan menjadi tujuan utama para turis. Karena masih pagi, Charles Bridge belum ramai sehingga tenang untuk menikmatinya.  Charles Bridge merupakan jembatan bersejarah yang sudah berumur 8 abad dibangun pada masa pemerintahan Raja Charles IV. Jembatan ini membentang di atas sungai Vlatva ini menghubungkan dua kota di Praha yaitu Old Town dan Lesser Town. Sebelum menyeberangi jembatan, saya naik ke menara yang ada di gerbang jembatan untuk melihat kota Praha dari ketinggian. Di menara ini juga ada kisah sejarah masa lalu jembatan Charles.

Sekelompok pemuda memainkan musik di dekat pintu masuk jembatan Charles membuat suasana semakin romantis. Lampu-lampu antik dan patung bergaya Eropa klasik di sisi kiri dan kanan jembatan tampak sangat cantik saat diabadikan dengan kamera dengan latar kota tua. Saya merasakan aura eksotis dan mistis yang bersamaan. Kota ini benar-benar menjerat saya. Apalagi saat turun dari jembatan lalu mampir ke Praha Castle dan masuk ke salah satu library kafe di salah satu bangunan tua. Saya benar-benar terkesima dengan kecantikan kota ini. Endingnya, menjelang sore saya turun ke pinggir sungai Vltava.

Pinggiran sungai Vltava tempat saat menikmati suasana tampak masih natural dan tidak dibangun macam-macam. Ada beberapa bangku tua dan pohon-pohon meranggas di sekelilingnya. Burung-burung beterbangan bebas dan bebek-bebek liar berwarna hijau cantik berenang di sungai. Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko, 430 km, yang mengalir ke tenggara di sepanjang hutan Bohemia dan kemudian ke utara melintasi Bohemia, melalui Cesky Krumlov, Ceske Budejovice dan Praha. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat jembatan Charles yang melintang dengan patung-patung Baroque yang menghiasinya. Sungai Vltava juga menjadi tempat berkumpul penduduk lokal yang melakukan aktivitas seperti berjualan di pasar loak, melakukan olahraga dan masih banyak lagi. Saya ingin menunggu senja di tepi sungai Vltava, tetapi matahari terbenam baru pukul 10 malam, jadi saya memutuskan meninggalkan pinggir sungai Vltava dan kembali ke apartemen. Untuk anda yang menyukai hal-hal klasik seperti saya, Praha jangan dilewatkan.

5.SUNGAI NEVA, SANK PETERSBURG, RUSIA

Saya tiba di Sank Petersburg setelah semalaman naik kereta dari Moscow. Di kota ini banyak tempat yang saya rencanakan untuk dikunjungi salah satunya sungai Neva. Tetapi saya terdampar di tepi sungai Neva karena nyasar mencari makan malam. Setelah mengunjungi salah satu gereja kuno dan salah belok saat di pertigaan, saya malah tiba di lokasi antah berantah. Berharap menemukan mall tetapi malah tiba di pinggir jalan besar bebas hambatan. Setelah mencari penyeberangan yang ternyata jauh sekali, akhirnya saya tiba di tepi sungai Neva. Pada suhu 9 derajat dan malam yang sangat sepi, sungai Neva mengalir tenang. Hanya ada satu orang lokal sedang memancing saat saya tiba. Sungai Neva melintasi Sank Petersburg dan bermuara di Teluk Finlandia. Meskipun panjangnya hanya 74 km, tetapi sungai Neva merupakan salah satu sungai yang memiliki volume air terbesar di Eropa. Sungai Neva menghubungkan Danau Ladoga yang merupakan danau terbesar di Eropa dengan Laut Baltik.

Menikmati malam yang dingin di tepi sungai Neva pada sisi jalan bebas hambatan terasa sangat privat karena hanya berteman seorang pemancing lokal. Di seberang sungai tampak gedung-gedung megah menjulang dengan lampu yang menyala gemerlapan. Saya berpikir mungkin di sana ada mall dengan foodcourt didalamnya sehingga saya bisa makan malam. Tetapi rasanya sayang melewatkan duduk melamun di pinggir Sungai Neva karena saya khawatir besok tidak memiliki waktu lagi. Maka saya memutuskan untuk turun ke pinggir sungai melalui undakan semen yang tertata rapi dan duduk di salah satu bangku semen yang memang disiapkan untuk orang yang bersantai di sana. Beberapa kapal melintas membawa muatan. Sungai Neva memang selama berabad-abad menjadi sarana transportasi yang penting antara Rusia, Swedia, Finlandia dan Baltik hingga pernah terjadi peperangan di tepi sungai ini. Neva juga menjadi cikal bakal lahirnya kota Sank Petersburg.

Seperti di negara Eropa lainnya, banyak kapal wisata yang lalu lalang menyusuri sungai Neva. Semua tempat wisata di Sank Petersburg seperti Benteng  Peter dan Paul, Istana Musim Dingin, Penunggang Kuda Perunggu, Taman Musim Panas, Biara Alexander Nevsky, Katedral Smolny, Istana Marmer dan banyak lagi bisa dijangkau melalui sungai karena lokasinya dekat dengan sungai. Sehingga kapal wisata yang menyusuri sungai bisa berhenti untuk menurunkan turis di tempat wisata yang ingin mereka kunjungi. Tetapi dari semua tempat wisata itu, bagi saya Sungai Neva menjadi daya tarik tersendiri yang menyimpan sejarah masa lalu.  Jam menunjukkan pukul 9 malam saat saya berjalan terus menyusuri sepanjang sisi sungai Neva namun tidak juga menemukan mal. Akhirnya saya memesan taksi online yang kemudian mengantar saya ke Galeria Mal yang ternyata posisinya ada di sebelah apartemen tempat saya menginap. Untung di Galeria Mal saya bertemu mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kemudian memberi masukan agar tidak nyaasar-nyasar lagi. Tetapi kesulitan membaca peta itu ada baiknya karena ketemu hal-hal tak terduga yang menyenangkan saat perjalanan.

6.SUNGAI VOLKHOV, VELIKY NOVGOROD, RUSIA

Setelah naik bus 4 umum jam dari Sank Petersburg, saya sampai di kota Veliky Novgorod. Kota kecil yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Apartemen yang saya sewa berada di dekat Kremlin (Benteng) yang menjadi tujuan wisata sehingga hanya perlu berjalan kaki untuk memasuki Kremlin. Tetapi kota Veliky Novgorod memang kecil dan sebenarnya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki untuk mengunjungi kawasan wisatanya. Menikmati sungai pada senja hari sepertinya tidak mungkin dengan suhu bulan November yang sangat dingin, bahkan saat saya tiba di apartemen pukul 5 sore saja sudah tidak berani keluar karena hujan dan dinginnya luar biasa.

Maka saya mengunjungi Sungai Volkhov pada esok harinya. Itupun saat matahari tepat diatas kepala dan saya masih saja menggigil kedinginan. Setelah memasuki Kremlin dan mengunjungi situs-situs bersejarah di dalam Kremlin, saya menyeberangi jembatan yang berada tepat di atas sungai Volkhov. Banyak orang menikmati siang di pinggiran sungai bersama keluarganya dan memberi makan merpati yang beterbangan di sekitar situ. Di ujung jembatan ada kapal yang digunakan sebagai restoran dan bangku-bangku yang bisa digunakan untuk duduk menikmati ponorama sungai.

Sungai Volkhov memiliki panjang 224 km dan menghubungkan Danau Ilmen dan Danau Ladoga. Kota Veliky Novgorod terletak di sepanjang aliran sungai ini. Meskipun hanya kecil tetapi sungai ini memiliki peran yang sangat strategis sebagai transportasi perdagangan pada abad pertengahan.  Sungai Volkhov merupakan satu-satunya sungai yang menembus jauh ke pedalaman Rusia menuju Baltik. Di sekitar sungai ini masih berupa hutan kecil dengan banyak pohon menjulang.  Andai saja suhu dan cuaca bersahabat, sangat menyenangkan duduk-duduk menikmati senja di tepiannya ditemani burung-burung kecil yang jinak bersarang di pohon-pohon rendah. Tetapi meskipun kedinginan, musim gugur sangat cantik karena daun-daun merah beterbangan di sekeliling sungai. Pada senja harinya saat saya pulang dari pasar dan melewati sungai melalui jembatan diatasnya, saya melihat langit kemerahan dan orang-orang duduk di tepi sungai. Tetapi saya tidak sanggup melakukan itu karena udara semakin dingin. Mungkin saya akan kembali ke pinggir sungai Volkhov pada musim panas yang lain, semoga saja saya bisa kembali untuk menikmatinya.

7.SUNGAI CHEONGGYECHEON, SEOUL, KOREA SELATAN

Tempat favorit saya di Seoul, selain Taman Nasional Gunung Seoraksan, rumah-rumah tradisional di Jeonju, yaitu sungai Cheonggyecheon. Selama di Seoul saya mengunjungi sungai ini setiap sore hingga malam hanya untuk duduk menikmati suasana dan memandangi lalu lalang orang sambil mencelupkan kaki ke airnya yang sejuk. Orang-orang mengenal sungai Han sebagai sungai utama di Korea Selatan tetapi sungai Cheonggyecheon ini menjadi tujuan turis yang datang ke Seoul.  Siang sampai malam selalu ramai. Tetapi bagusnya berkunjung senja sampai malam karena tidak panas dan sering ada festival atau atraksi-atraksi gratis di sekitarnya. Saya sempat menonton festival musik gratis di dekat sungai ini waktu berkunjung ke sana.

Sungai Cheonggyecheon memang bukan sungai sebenarnya. Sungai ini adalah sungai buatan yang mengalir di tengah kota, diantara gedung-gedung tinggi. Melalui proses yang panjang akhirnya sungai ini menjadi primadona wisata Seoul. Tak hanya menjadi ruang publik yang menarik untuk berjalan kaki atau duduk menikmati kota, tetapi aliran sungai ini juga menjadi bukti bahwa suasana desa dengan gemericik air dan tumbuh-tumbuhan bisa dihadirkan di tengah gemerlap metropolitan.  Di sekeliling sungai ini juga banyak restoran dan kafe sehingga kita bisa duduk menikmati makanan sambil memandang aliran sungai. Jika malam hari dan kita turun ke bawah, kita bisa menyeberangi sungai melalui batu-batu yang sudah ditata sedemikian rupa. Di ujung sungai tampak patung dengan air mancur dan cekungan besar yang digunakan para turis dan orang lokal untuk melempar koin. Sepertinya itu koin keberuntungan. Saya menyusuri sepanjang sisi sungai dan menemukan beberapa penjual makanan dan pelukis foto.  Di tempat yang lumayan sepi saya duduk dan mencelupkan kaki ke air yang sejuk. Seketika kaki yang pegal karena menjelajah seharian hilang. Apalagi sambil menikmati es krim. Sungai Cheonggyecheon selalu akan menjadi tempat favorit saya ketika kembali ke Seoul.

8. SUNGAI CHAO PHRAYA, BANGKOK, THAILAND

Mengunjungi Bangkok tanpa menyusuri sungai Chao Phraya itu rasanya pasti ada yang kurang karena sungai Chao Phraya mengalir di hampir seluruh kota Thailand. Sungai dengan panjang 372 km ini mengalir dari Bangkok dan bermuara di Teluk Thailand.  Hari terakhir di Bangkok sambil menunggu penerbangan malam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar dan sampailah di tepi sungai Chao Phraya. Jadi tidak ada rencana untuk duduk-duduk manis melamun di tepi sungai seperti di kota lain karena waktu perjalanan saya kali itu sangat sempit.  Tapi karena di depan saya ada dermaga maka saya belok saja dan memesan tiket untuk naik boat keliling sungai. Pemandangan tetap cantik meskipun siang bolong dan panas, saya membayangkan pada waktu senja pasti lebih cantik lagi.

Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan 4 sungai kecil yaitu sungai Ping, Wang, Nan dan Yom. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi yang sangat penting, sungai ini juga berfungsi untuk irigasi dan pasar terapung. Dari sungai ini kita juga bisa melihat ikon wisata Bangkok seperti Wat Arun, Grand Palace, kawasan belanja Asiatique dan hotel-hotel mewah yang berjajar di tepi sungai. Karena memilih tiket paling murah maka saya hanya sekali jalan dan turun pada dermaga berikutnya. Saya benar-benar tidak puas dengan perjalanan ini dan berharap bisa mengulangnya. Karena menurut saya menyurusi Bangkok melalui sungai Chao Phraya adalah cara terbaik untuk mengenali kota ini. Apalagi saya belum mendapatkan sunsetnya. Saya akan kembali suatu saat nanti jika ada kesempatan.

9. SUNGAI MEKONG, PHNOM PENH, KAMBOJA

Terletak di tepi sungai Mekong Phnom Penh memiliki banyak tempat menarik untuk di ekplore salah satunya sungai Mekong itu sendiri yang tepiannya menjadi tempat publik berjalan kaki, duduk menikmati senja dan pedagang asongan berjualan. Sungai ini tepat berada di tengah kota, dekat dengan taman di depan Royal Palace dan deretan restoran serta hotel di sepanjang sisi yang lainnya. Saya menikmati sungai Mekong Phnom Penh pada senja hari tepat sebelum matahari terbenam.  Sedang asyik melamun membayangkan naik kapal menyusuri sungai terpanjang di Asia ini, seorang penjual cemilan Kamboja sebangsa jangkrik, kalajengking, kecoa dan belalang lewat di dekat saya menawarkan dagangannya. Pada masa kecil ketika saya tinggal di desa, tetangga juga banyak makan belalang dan jangkrik tetapi bukan kecoa dan kalajengking. Saya tidak membeli tetapi jika ingin memotret saya harus membeli dulu. Akhirnya saya beringsut ke sisi yang lain berpapasan dengan para biksu yang sedang lewat dan berhenti di dekat penjual balon yang dikerubungi anak-anak.

Dengan panjang 4200 km, sumber aliran sungai Mekong dari dataran tinggi Tibet Cina yang kemudian melintasi Kamboja bagian utara hingga selatan dan melewati Phnom Penh. Sebenarnya selain duduk melihat sungai yang mengalir tenang itu ada cara lain untuk menikmati sungai Mekong yaitu dengan menyewa kapal dan menyusuri sepanjang sungai. Dengan kapal ini wisatawan juga bisa mampir ke ikon-ikon wisata di Phnom Penh. Tetapi selain mahal, saya lebih suka menikmati sungai ini dengan bergabung bersama orang-orang lokal dan pedagang asongan yang sibuk menawarkan dagangannya. Sementara untuk mengunjungi ikon-ikon wisata itu saya menggunakan tuk-tuk. Hampir jam 7 malam ketika saya meninggalkan pinggir sungai Mekong dan berjalan menuju hostel bersama beberapa biksu yang juga berjalan dengan arah yang sama. Setiap kota selalu menarik untuk di ekplore dengan semua kekayaan khasnya, saya menyukai keramaian orang-orang lokal yang menunggu matahari terbenang di pinggir sungai Mekong Phnom Penh.

 10. SUNGAI KAMOGAWA, KYOTO, JEPANG

 Kyoto menyuguhkan wisata klasik yang diburu para pemuja eksotisme seperti saya. Selain bangunan-bangunan tua peninggalan bersejarah dari zaman Edo di Gion district, kuil Kiyomizudera,  Fushimi Inari Taisha, hutan bambu Arashiyama, kuil Nijo, pasar Nishiki juga ada satu sungai yang menarik untuk disusuri tepiannya yaitu sungai Kamogawa.  Setelah menyusuri Gion dan mencari makanan di Pasar Nishiki, saya berjalan terus menyusuri trotoar yang disampingnya banyak restoran dan toko-toko hingga kemudian saya menemukan sungai Kamogawa. Sungai Kamogawa adalah sungai utama yang membelah Kyoto menjadi dua bagian yaitu barat dan timur. Untuk menikmati sungai ini kita bisa berjalan kaki atau bersepeda menyusuri sepanjang sisinya. Saat senja banyak turis dan orang-orang lokal mengenakan pakaian tradisional Jepang Kimono berjalan menyusuri tepian sungai ini sementara sebagaian yang lain duduk di pinggir sungai menikmati senja. Di sepanjang sungai ini juga nampak berjejer rumah-rumah penduduk dengan nuansa khas Kyoto. Karena lokasinya yang masih banyak pohon dan seperti hutan kecil, saat menyusuri sungai Kamogawa, kadang kita akan berjumpa hewan-hewan yang belum pernah kita jumpai sebelumnya.

Sumber air sungai Kamogawa berasal dari gunung Sajikigatake yang berada di sisi utara Kyoto dan mengalir hingga ke Teluk Osaka. Karena berasal dari pegunungan air sungai ini jernih dan lingkungan sekitarnya juga masih natural. Kita bisa menikmati sungai Kamogawa tanpa halangan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Bahkan duduk di dekat sungai ini seperti berada di kawasan pegunungan yang sejuk dan asri. Kata seorang teman, pada malam hari sungai ini juga ramai dikunjungi penduduk lokal dan turis. Mereka duduk di sepanjang sungai untuk menikmati malam sambil memandang lampu-lampu dari jembatan yang memantul gemerlapan ke permukaan air.  Sungai yang masih alami ini sangat menarik untuk disusuri saat anda berkunjung ke Kyoto. (*)

MUSIM GUGUR DI SAINT PETERSBURG

Matahari belum muncul saat saya keluar apartemen dan menyusuri trotoar yang dipenuhi daun-daun merah musim gugur. Saya tak memiliki banyak waktu untuk menjelajahi Saint Petersburg, kota yang pada tahun 1914-1924 bernama Petrograd dan pada masa Uni Soviet bernama Leningrad untuk mengenang Vladimir Lenin. Malam sebelumnya saya sudah nyasar sampai pinggiran sungai Neva yang bersih sekaligus terlihat menakutkan karena ketenangannya. Saya membayangkan sungai Neva menjadi saksi bisu perguliran sejarah di Rusia. Air tenang itu melihat segalanya, tetapi ia tak mengabarkan pada siapapun.

Banyak tempat yang ingin saya tuju di sini. Tetapi waktu yang saya miliki sangat sempit. Tiga hari di tempat ini dengan udara musim gugur yang dingin otomatis kulit tropis saya tidak mudah menyesuaikan diri.  Belum lagi kondisi tubuh saya yang gampang lelah dalam perjalanan dan mimisan. Sebagai orang yang suka menulis dan membaca, tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah Perpustakaan Nasional Rusia. Konon disana menyimpan beberapa manuskrip Melayu, termasuk Sejarah Melayu yang pernah dibawa seorang Laksamana dalam pelayarannya sekitar tahun 1798. Tetapi cita-cita mengunjungi perpustakaan itu tak terlaksana karena saya memutuskan ke tujuan touristik yang lain lebih dulu.  Tempat touristik itu adalah Istana Peterhof, Museum Hermitage dan beberapa tempat lainnya.

HANGATNYA SINAR MATAHARI DI TAMAN ISTANA PETERHOF

Suasana jalanan sekeliling istana masih sepi saat saya turun dari taksi online dan turun tepat di samping pintu masuk istana Peterhof.  Hanya beberapa bus lewat dan orang-orang berangkat kerja dengan mengenakan jaket-jaket tebal. Mukanya masih tampak ngantuk dan hanya melirikku sekilas. Saya celingukan mencari pintu masuk ketika menemukan serombongan kecil turis Tiongkok memasuki pintu di ujung. Saya menebak itulah pintu masuknya karena beberapa petunjuk dalam bahasa Rusia. Dan benar saja, pintu masuknya memang di sana.

Memasuki gerbang istana Peterhof, saya langsung berhadapan dengan taman yang indah. Pohon-pohon yang berjajar teratur dengan daunnya yang memerah, air mancur di berbagai sisi, dan bangku-bangku untuk duduk menikmati taman. Masih terlalu pagi dan matahari belum muncul sementara udara sangat dingin. Saya melompat-lompat kecil untuk menghalau udara dingin dan usaha saya lumayan berhasil meski efeknya saya jadi agak lapar sementara dari apartemen belum sempat sarapan.

Istana Peterhof lebih dikenal dengan Istana Musim Panas. Istana dibangun pada masa Peter Yang Agung pada tahun 1714 dan terinspirasi saat ia berkunjung ke Istana Versailles di Perancis. Terletak di tepi teluk Finlandia, Istana Peterhof langsung berhadapan dengan laut. Pembangunan istana ini bersamaan dengan perang antara Kekaisaran Rusia melawan Swedia pada tahun 1700-1721, sehingga Peter Yang Agung mendedikasikan istana ini sebagai istana kemenangan Rusia atas Swedia.

Saya tidak punya waktu untuk memasuki istana yang sangat luas ini jadi hanya berjalan-jalan di areal taman. Untuk memasuki areal dalam kita perlu membeli tiket lagi sekitar 400 ribu rupiah. Di samping kanan dari arah masuk ada konter tiket yang melayani pembelian tiket tetapi kita juga bisa membelinya melalui berbagai aplikasi online. Sementara di sebelah tempat penjualan tiket ada kafetaria. Matahari belum tinggi saat saya melihat jam dan sudah harus kembali ke pusat kota karena ditunggu pemilik apartemen.  Saya sebenarnya belum puas menikmati hangatnya matahari di taman Istana Peterhof, tetapi saya harus berlari-lari kembali ke pusat kota. Saya berharap di kunjungan yang lain bisa menjelajahi keseluruhan istana ini dengan tenang dan detail.

KEHUJANAN DI CHURCH OF THE SAVIOR ON SPILLED BLOOD

Setelah menunggu teman yang berdoa di salah satu gereja, tujuan saya selanjutnya adalah mengunjungi Church of the Savior on Spilled Blood.  Jalanan sangat ramai turis dan warga lokal. Hujan mulai turun saat saya berjalan menyusuri sepanjang sisi kanal menuju gereja. Beberapa orang mengenakan kostum kerajaan Rusia zaman dulu menawari saya untuk berfoto bersama. Saya tahu mereka akan mematok harga mahal saat saya menuruti keinginannya berfoto bersama. Karena mereka tahu saya paham modusnya, eh, malah mereka mengejar saya. Bercanda memang, tapi saya yang takut kehilangan uang rubel saya untuk foto yang tidak saya inginkan maka saya berlari. Mereka mengejar dan menangkap saya sambil tertawa-tawa. “Oh, you’re so small!” Apa makasudnya coba? Tapi mereka tertawa puas melihat saya meronta-ronta kesal melepaskan diri. Lalu begitu saya lepas mereka melambaikan tangan sambil senyum. Nyebelin banget!

Well, sayapun melanjutkan perjalanan menyusuri sepanjang sisi kanal Griboyedov. sambil kesal. Sesampainya di depan gereja ternyata gereja sedang direnovasi dan tidak diijinkan masuk. Di halaman gereja tampak anak-anak sekolahan sedang melakukan kegiatan zombie-zombiean entah apa. Mereka mengenakan pakaian ala hantu-hantuan dengan muka dicoret-coret.  Saya tertarik dengan kegiatan mereka dan mulai memotret-motret mereka. Sepertinya mereka sadar saya memotretnya dan mereka malah bergaya. Katanya mereka sedang ada kegiatan sekolah. Lucunya mereka melihat saya yang memotret nama teman saya di papan yang saya pegang. “Who is Andrew?” tanyanya. Seorang teman memang menitip foto namanya di depan gereja ini agar suatu hari dia bisa ke sini dan berdoa di sini. Saya dan dia berbeda keyakinan, tetapi dia teman baik saya dan saya tidak pernah keberatan dengan titipan foto seperti ini.

Church of the Savior on Spilled Blood dibangun oleh Tsar Alexander III untuk menghormati Tsar Alexander II yang terbunuh pada tahun 1881 di tempat ini. Gereja ini dibangun sejak 1883 hingga 1907.  Gereja ini memiliki arsitektur yang sangat unik dan cantik, tetapi sejak tahun 1930 diubah penggunaannya menjadi museum. Gereja ini menjadi salah satu gereja yang memiliki mosaik paling banyak di dunia. Sayang saya tidak memasuki bagian dalamnya untuk menjelajah lebih jauh.  Anak-anak berpakaian hantu itu masih berlari-lari mengejar temannya, sementara saya duduk di bangku depan gereja. Penjual souvenir di deretan depan gereja tampak berdiri beku merapatkan jaket tebalnya sambil memandang entah. Sayapun melambaikan tangan ke remaja-remaja tanggung berpakaian zombie lalu melintasi penjual-penjual souvenir tanpa membeli. Kejadian berdarah bertahun-tahun lalu di tempat ini kemudian menjadi kenangan untuk dikunjungi.  The Savior on Spilled Blood.

SENJA DI MUSEUM HERMITAGE DAN WINTER PALACE

Sebenarnya saya membayangkan matahari tenggelam di sekitaran istana musim dingin yang ada di tengah kota ini, tetapi sepertinya tidak mungkin. Bagaimana mungkin akan ada sunset sementara hujan mengguyur sejak siang dan langit gelap mendung. Tetapi suasana ini jadi romantis menurut saya karena saya lebih menyukai hujan ketimbang sunset.  Melihat orang-orang mengenakan mantel hitam panjang dengan sepatu boot yang menimbulkan bunyi tersendiri saat menghantam jalanan basah membuat saya berimajinasi kembali ke kejayaan istana musim dingin yang dibangun Peter yang Agung ini. Istana musim dingin ini menjadi salah satu kediaman resmi keluarga kerajaan Rusia pada tahun 1731 hingga 1917. Bergaya Baroque dengan perpaduan warna hijau dan putih, istana ini tampak megah dan sangat luas ;  terdapat ribuan ruangan, anak tangga, pintu dan jendela. Mungkin beberapa hari menyusurinya baru bisa dijelajahi semuanya.

Di komplek istana musim dingin ini pula terletak Museum Hermitage yang merupakan museum terbesar di dunia. Terdapat jutaan karya seniman terkenal seperti Rembrandt, Da Vinci juga Michaelangelo.  Hermitage merupakan satu museum tertua di Rusia.  Benda-benda dari jaman pra-sejarah atau zaman batu dari seluruh wilayah Rusia dikumpulkan di museum ini sehingga kita bisa mempelajari sejarah peradaban panjang Rusia di museum ini. Jika kita ingin melihat bagaimana kekaisaran Rusia pada masa lalu, kita bisa melihat ruangan-ruangan kekaisaran Rusia yang masih asli. Mulai dari zaman Tsar Alexander II hingga Nicholas II. Semua disusun berdasarkan kronologis dan era masing-masing zaman. Mengunjungi museum ini seperti kembali ke masa lalu yang masih asli.

HUJAN DERAS DI KATEDRAL SAINT ISAAC

Malam sebelumnya, beberapa mahasiswa Indonesia yang saya temui di galeria mall menyarankan jika ingin mengambil view foto terbaik dari Katedral Saint Isaac adalah dari taman di depannya yang ada di pinggir sungai dan saat senja turun. Tapi malah kenyataannya saat saya sampai depan katedral hujan deras turun. Saya pun hanya mengambil foto dari samping menunggu moment bus yang lewat lengang dan tidak terlalu bagus. Sebenarnya ingin ke taman pinggir sungai tapi saya malas menyeberang jalan yang cukup ramai di depan saya. Sayapun memutuskan menikmati Katedral Saint Isaac dari pojokan pinggir jalan tanpa menyeberang jalan.

Gereja ini terletak di St. Isaac Square dan merupakan gereja terbesar ke empat di dunia. Dibangun tahun 1881 hingga 1885. Memiliki kubah sebesar 101 meter dilapisi emas murni, gereja ini dibangun untuk menghormati Saint Isaac Dalmatia, sang pelindung dari Peter yang Agung.  Ini merupakan satu tempat dari sekian banyak tempat menarik di Sank Peterburg yang banyak dikunjungi turis. Sekeliling tempat ini juga sangat menarik untuk berjalan kaki atau bahkan nongkrong di kafe. Sayangnya hujan deras dan saya basah kuyup, jadi saya kurang nyaman untuk nongkrong di kafe dengan baju basah kuyup. Sebelum senja benar-benar selesai saya kembali ke pelataran Hermitage lalu mencari taksi online kembali ke apartemen. Terlalu luas untuk menjelajahi Rusia dalam waktu hanya 10 hari. Saya perlu waktu berbulan-bulan untuk kembali suatu saat nanti. Semoga saya bisa kembali.

 

 

RANI AULIA : SOLO TRAVELER YANG MERDEKA

Sejak beberapa tahun terakhir ini, saya mengagumi traveler wanita yang satu ini. Saya belum pernah bertemu dengannya secara darat, tetapi saya mengikuti perjalanannya keliling dunia melalui sosial media. Pada 2016, Rani Aulia memulai perjalanan solo travelingnya selama 333 hari mengunjungi 22 negara  diantaranya Eropa, Kanada, Norway, Maroko, Turky, Iran, Georgia, India dan ratusan kota di dalamnya.  Mengaku sebagai sosok yang takut ketinggian, takut air, takut naik motor dan takut pada ulat bulu, wanita yang akrab di sapa Teh Rani ini sempat tidak percaya mampu bertahan solo traveler selama setahun. Perjalanan itu kemudian mengawali perjalanan-perjalanan menakjubkan lainnya seperti yang terbaru solo traveling menjelajah Afrika dalam 3 bulan.

Jika melihat dari sosial medianya, gaya perjalanan Teh Rani sangat membumi dan merdeka. Menyusuri berbagai negara dengan gembira, berbaur dengan warga lokal dan berusaha mengenali kehidupan orang-orang lokal.  Saya kemudian mengirimkan email untuk ngobrol-ngobrol dengan Teh Rani dan mengajaknya berbagi di SHARING seribulangkah.com/. Berikut ini obrolan saya dengan Teh Rani, semoga saja menginspirasi teman-teman yang ingin solo traveling juga seperti Teh Rani.

Hai Teh Rani, apa kabar? Saat ini sedang traveling di negeri mana? Ceritakan dong sedikit tentang diri Teh Rani. Ada nggak pengaruh keluarga yang membuat Teh Rani suka traveling?

Halo… kabar baikk… saat ini kebetulan lagi di Indonesia, lagi liburan… Halo halo nama saya Rani asal dari Bandung, saya seneng traveling ga ada pengaruh dari siapa-siapa ya.. dari dulu emang seneng jalan-jalan muter-muter kayak gangsing.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani sejak masih kerja sampai travel around the world.  Ada nggak proses ragu-ragu saat memutuskan keluar dari pekerjaan lalu traveling ?

Perasaan ragu jelas ada ya, itu salah satu keputusan besar yang saya buat, biasanya saya resign untuk pindah kerja ke tempat lain tapi waktu itu saya resign untuk memburu mimpi saya nyoba traveling menyusuri dunia dalam waktu yang lama. Galaunya lamaaaa banget, karena sejujurnya saya udah nyaman dengan pekerjaan saya, teman-teman yang cocok banget, tapi emang desire untuk traveling dalam waktu lama tinggi banget, karena saya kesel cuman bisa traveling 10 hari mana ijinnya cutinya repot lagi, tiap pengen traveling dilema karena cuti, jadinya ya dengan bersimbah air mata saya lapor pak boss mau resign..

Apa sih Teh yang perlu dipersiapkan sebagai cewek untuk menjadi solo traveler seperti Teh Rani? Bagaimana reaksi keluarga saat Teh Rani berpamitan untuk solo traveling? Lalu apa kendalanya di perjalanan dan bagaimana mengatasinya?

Siapin niat dan mental aja dulu, kadang saya bingung sama pertanyaan begini hahhahaha karena sejujurnya tidak ada yang saya siapkan, saya ini penakut banget, naek motor aja saya takut, dibonceng orang saya takut hahahahhah tapi mungkin tiap orang racikannya beda ya.. ada yang emang berani di sisi ini ada yang berani di sisi itu, ada yang belajar motor itu easy peasy tapi buat saya belajar motor itu menggerikan. Tapi sebetulnya kalau udah ada niat kita pasti bisa, apapun itu yang kita hadapi di jalanan kita pasti bisa menghadapinya, karena emang insting survival itu pada dasarnya ada di racikan masing-masing manusia. Reaksi keluarga, shock haha waktu itu saya bawa kabarnya pas mama lagi di opname di rumah sakit lagi, biasanya kalo mama lagi di sakit gitu bawaanya mellow gitu.. taulah jadinya ngobrol kemana-mana, waktu itu mama sama kakak saya lagi serius ngajak ngobrol, nanya kapan saya punya niatan menikah hahahahahha tapi sama saya malah dijatuhin bomb, mau resign trus pergi traveling selama setahun, mama shock berat, kakak saya nyoba menerima dan beliau memberi pengertian ke mama. Kendalanya  banyaklaah.. tapi yang utama sih masalah pasport, pasport kita lemah banget kemana-mana butuh visa, jadinya opsi untuk long trip gitu jadi terbatas. Mengatasinya ya cari rute yang free visa atau bisa e-visa atau voa. Kendala lainnya mungkin karena saya itu orangnya clumsy dan pelupa lupa ini itu yang akhirnya banyak drama, istilahnya you name it lah gara-gara kecerobohan saya, rasanya semua pernah yang belum itu ilang pasport (amiiiit amiiittt jabang bayiiii.. jangan sampai yaaa), bahkan saya pernah jatuh ketimpa tangga ketimpa anak tangga lagi. Key bca diblokir trus dompet ilang terus ketinggalan pesawat tanpa uang yang tersisa. Bayangkan.. kemping di bandara Casablanca selama seminggu sampe akhirnya berhasil keluar bandara.

Saya mengikuti perjalanan Teh Rani setahun ke berbagai tempat dengan biaya minim dan menurut saya itu sangat menarik. Bagaimana mengatur bujet perjalanan dengan biaya seperti itu?  Bagaimana jika terjadi sesuatu di perjalanan, apakah Teh Rani mempersiapkan second plan misalnya tabungan lain untuk mencover perjalanan?

Sebetulnya ga ada istilah mengatur budget saking minimnya budget saya, uang perhari saya hanya cukup untuk biaya transportasi ama makan aja, saya selalu nyari tumpangan tidur makan-pun ga pernah ke restaurant paling cuman roti sama telor saja, dengan budget yang saya punya, beneran ga ada pilihan. Saya ga punya tabungan lain untuk mencover perjalanan, ya intinya sih harus hati-hati supaya meminimalisir kejadian-kejadian yang tidak diinginkan yang berujung saya harus mengeluarkan dana lebih. Walaupun ada asuransi perjalanan tetap hati-hati.

Saat ini sudah berapa negara yang Teh Rani kunjungi dan negara mana yang menurut Teh Rani paling berkesan sehingga ingin kembali dan kembali lagi?

Berapa negara ya.. udah lupa, udah ga pernah ngitung lagi hahhahaha.. yang berkesan banyak, tapi Switzerland, Norwegia itu 2 negara langganan, yang setiap tahun saya pasti kembali kesana untuk menikmati alamnya. India Jepang atau Korea itu lebih ke karena saya ada ikatan aja, ntah itu untuk maen snowboarding atau untuk meditasi.

Menurut Teh menarik mana traveling di Indonesia atau di luar negeri? Apa sih kemudahan dan kesulitan masing-masing itu.

Kalo saya bilang sama menariknya karena mau sok nasionalis, artinya saya bohong hahahha, tbh traveling ke luar lebih menarik, berada di tempat dimana saya tidak bisa bahasa mereka tidak familiar dengan keadaaanya itu lebih menarik aja. Kemudahan traveling di Indonesia itu saya familiar dengan bahasanya jadi gampang bertanya kalo nyasar sedangkan di luar harus keluar sedikit energi untuk bertanya karena bahasa yang berbeda, kesulitan traveling di Indonesia itu mungkin transportasi ya, ujung ke ujung belum terkoneksi dengan bagus, sebetulnya di luar juga sama ada banyak yang masih dibawah Indonesia, transportasinya banyak yang masih berantakan, secara saya seneng buat eksplore negara2 yang emang kurang familiar bagi para turis-turis karena aksesnya susah.

Saya melihat dari sosmed Teh Rani banyak menjalin persahabatan saat traveling dan itu sangat menyentuh. Bagaimana menjalin persahabatan melalui perjalanan karena tentu mereka memiliki karakter yang berbeda dari masing-masing negara. Orang mana yang menurut Teh paling mudah menjalin persahabatan?

Kadang kalo gitu itu semacam takdir aja gitu, kita berada di frekuensi yang cocok sehingga kita cocok aja, saya di host sama seorang wanita di Tromso dan sekarang dia jadi teman baik saya, mungkin pemikiran frekuensi kami sama sehingga kami cocok, dan karena itu saya akhirnya mendapatkan kesempatan eksplor Norwegia utara secara gratis, diajak roadtrip sampe ke perbatasan Rusia. Tromso itu kota yang sangat mahal tapi saya selalu bisa kembali kapan saja tanpa harus membayar penginapan, yang ada temen saya itu merasa senang karena saya menyempatkan diri untuk mengunjungi dia di Artic Circle. Terus pernah ketemu tiga orang traveler dari Polandia di Gergeti Triniry church di Kazbegi pas winter, kita cuman sapa-sapaan yang berakhir janjian dinner bareng dan sekarang mereka jadi teman baik saya, beberapa kali kami bertemu lagi dan beberapa kali saya sempatkan untuk mampir ke Warsaw bertemu mereka. Kalo seperti pas traveling di Afrika ya saya berusaha untuk menyapa orang lokalnya dan berinteraksi dengan mereka karena berkomunikasi dengan orang lokal itu hal yang sangat menarik buat saya, mengetahui keseharian mereka, cerita mereka, hal-hal itu merupakan hal yang menarik dan itu juga sebagai bahan cerita saya nanti saat pulang.

Teh Rani juga kemudian bikin paket trip. Bagaimana syaratnya bisa bergabung dalam paket trip Teh Rani?

Ga ada syaratnya sih. Tinggal cepet-cepetan daftar aja. Syaratnya harus tau siapa saya, harus tau model traveling saya gimana biar nanti ga kaget begitu join ama tripnya. Kemana aja? Negara2 yang punya view bagus macam New Zealand, Iceland, Canada, India, atau less tourist macam Mongolia, Georgia. Itulah kenapa kadang saya suka nanya “tau saya ga? tau gimana cara saya traveling ga?” soalnya kalo tau, saya yakin yang manja-manja udah menjauh duluan hehehe.

Masih ada nggak negara yang dicita-citakan tetapi belum dikunjungi? Kenapa belum bisa ke sana?

Ga ada hahahahhahha.. semua negara yg ingin saya liat sudah saya liat, sisanya ya mungkin negara-negara lain yang punya jajaran pegunungan yang belum saya liat. Kalo cita2 sih saya pengen ke Kutub Utara or Selatan, itu tuh negara bukan sih?

Teh Rani juga pecinta K-Pop ya, group apa sih yang paling Teh Rani sukai dan kalau nggak salah perjalanan ke konser-konser K-Pop menjadi perjalanan yang dinikmati secara pribadi. Ada nggak nanti akan dinikmati rame-rame sama paket tripnya?

Saya bukan pecinta K-Pop saya pecinta BTS hahahahahha.. mengikuti world tour BTS itu betul-betul perjalanan yang seru. Sabtu – Minggu nonton konser, Senin – Jumat traveling  atau eksplor kotanya. Ga ada bedanya dengan Backpacking biasa, tinggal di penginapan murah di outskirt city sehingga jadi tantangan saat pulang konser yang notabene diatas jam 10 malam, ya pada intinya nonton konser tapi dengan dibarengi oleh skill backpacking yang mumpuni itu sangat menguntungkan sehingga budget yang dikeluarkan itu ga terlalu besar. Saat orang lain habis puluhan juta untuk sekali nonton konser, dengan jumlah yang sama saya bisa pergi 6 kali konser di 3 kota berbeda.  Trus lagi mengikuti world itu sangat menarik karena saya berpindah-pindah tepat, jadi biar ga hanya konser aja biar lebih berfaedah ya sambil traveling, Sabtu Minggu saya jingkrak2 sisanya saya pake buat discover kota yang saya datangi. Wah enggak deh, nonton konser itu Me-Time.. kalo barengan oke, tapi kalau harus ngurus orang lain enggak deh, soalnya dapat tiket konser BTS itu susah dan kalau momentnya dihancurkan orang lain bisa-bisa saya menyesal seumur hidup hahaha

Kalau disuruh memilih, lebih suka investasi pada pengalaman perjalanan atau investasi barang-barang? Kenapa?

Investasi pengalaman donk, karena menyenangkan aja. Menceritakan pengalaman kita ke orang lain itu menyenangkan sekali. Membahagiakan sekali. Storytelling itu hal yang paling membahagiakan buat saya.

Setelah keliling dunia nanti, ada nggak cita-cita lain yang pengen Teh Rani capai? Apakah masih berhubungan dengan traveling?

Ga ada, saya punya keinginan apa-apa. Cuman pengen menjalani hari demi hari rileks, jauh dari prahara dan tetap bahagia.

Kasih semangat dan tips dong Teh buat traveler cewek yang masih takut melakukan perjalanan sendirian seperti saya ini.

Kamu kuat! Kamu bisa! Salah satu yang paling menyenangkan buat saya saat traveling adalah saat saya menemukan kalo saya itu bisa, saya lebih kuat dari yang saya pikirkan.

Terima kasih Teh Rani!

(Semua foto diambil dari facebook Rani Aulia)

 

WIN RUHDI BATHIN : “KOPI GAYO DAN TEMPAT SINGGAH TRAVELER MANCA NEGARA”

Ngobrol tentang Kopi Gayo dan dataran tinggi Gayo dengan Bang Win (begitu saya memanggil beliau) selalu mendatangkan banyak inspirasi di kepala saya untuk menuliskan banyak hal. Tak hanya soal kopi Gayo, tetapi Bang Win juga menyediakan tempat singgah untuk para traveler di rumahnya.  Saya sebagai traveler amatir semakin tertarik untuk mengajaknya berbagi cerita di SHARING kali ini.  Ada banyak hal bisa didapatkan dari cerita-cerita Bang Win, semoga pembaca juga mendapatkan inspirasi dari obrolan kami.

Salam Bang, apa kabar keluarga dan Tanah Gayo? Apakah sekarang masih musim panen kopi? Apa saja kesibukan abang saat ini?

Alhamdulillah, segala puji hanya untuk dan bagi Allah. Keluarga sehat dengan Rahmat Allah. Semoga syukur tak henti dalam senang dan sedih. Sekarang sedang panen kopi. Bermula di bulan September lalu hingga tirus di bulan April tahun depan. Kesibukan saya seperti biasa rutinitas dengan pekerjaan yang saya banggakan lalu antar jemput dua anak perempuan saya. Dua anak saya lainnya sekolah di luar daerah. Selain itu, pagi ke kafe hingga tengah hari, melayani penikmat kopi gayo sambil bercerita ngalor ngidul isu terkini di daerah bersama pelanggan. Juga menyiapkan kopi untuk kafe, pelanggan di luar daerah dan luar negeri.

Bang Win selain wartawan dan fotografer juga petani kopi dari hulu sampai hilir (menanam kopi sendiri, mengolah sendiri dan memiliki kafe sendiri yaitu WRB kafe). Ceritakan dong Bang suka dukanya menjadi petani kopi dari hulu ke hilir.

Sukanya menjadi petani adalah kita bisa mengawal kopi. Dari tanam hingga panen. Petani adalah pekerja keras dan Insya Allah hadiahnya adalah sehat. Kita bisa mengolah semua variant kopi Gayo yang diminati pelanggan. Seperti kopi madu/ honey, natural, semi washed, full washed, Luwak dan lain sebagainya. Dukanya tentu saja repot, saya mengerjakan sendiri kopinya, sementara kalau ada permintaan lebih, saya mengambil dari kawan kawan saya yang saya tahu betul prosesnya.

Tanoh Gayo merupakan salah satu penghasil kopi terbaik di dunia, apakah kopi Gayo menjadi motivasi Bang Win menyediakan tempat singgah bagi traveler manca negara?

Kopi Gayo sudah dikenal dunia sejak era Belanda. Belanda sudah menanam Arabica sejak 1908. Kemudian mengekspor-nya lewat VOC bersama kentang dan teh.
Jadi, kopi Gayo sudah banyak dikenal khususnya di Eropa.  Kebetulan saya ikut Sosial Media Couch Surfing (CS) yang menyediakan tempat bagi traveler untuk tinggal, menginap dan mengenal budaya setempat . Para traveler yang singgah di rumah saya menyatakan sangat menyukai kopi Gayo. Tak hanya kopinya tetapu juga alam Gayo yang cantik dan masyarakatnya yang ramah dan bersahabat.

Tempat singgah bagi traveler yang datang ke rumah saya hanyalah tempat biasa kami makan bersama keluarga yang disebut dapur. Ukurannya sekitar 2 x 3 meter dan ada di kampung. Tetapi dari tempat ini saya mendapatkan banyak kisah menarik dari para traveler dunia. Ada tamu dari Afrika Selatan yang bangga bisa mencicipi kopi termahal dunia, yakni kopi Luwak. Sangking senangnya, tamu Afrika Ini telpon kerabatnya di Afrika dan mengatakan sedang minum kopi luwak di Gayo. Lain lagi cerita Stass dari Rusia. Saking sukanya dengan kopi Gayo,Stass mengirim kopi Gayo untuk keluarganya di Rusia. Biaya kirimnya hampir satu juta. “Saya ingin keluarga saya juga merasakan kopi luar biasa ini,” kata Stass.

Bagaimana sih awalnya Bang Win tertarik bergabung dengan couchsurfing dan menyediakan tempat bagi traveler?

Awalnya Saya berkenalan dengan dua wisatawan di Takengon. Mereka dari Inggris dan Sumatra Utara, keduanya tergabung di CS. Dari sana saya berpikir, CS ini sosmed ysng menarik dan bisa mendatangkan orang dari seluruh dunia. Kalau saya jadi host di Gayo, orang bisa datang dari seluruh dunia dan menjadi semacam magnet penarik wisatawan. Dari situlah saya kemudian bergabung di CS. Dan ternyata dugaan saya benar, sejak bergabung di CS, puluhan wisman datang ke Gayo dari seluruh dunia.

Traveler dari negara mana saja yang singgah di rumah Bang Win? Bagaimana komentar mereka tentang Tanoh Gayo?

Wisatawan yang datang ke rumah saya dari Ukraina, Rusia, Spanyol, Ecuador, Australia, Afrika Selatan, Inggris. Amerika, Thailland, Polandia, Francis. Switzerland. Afrika Selatan, Belanda, Italia, Jakarta, Jambi dan lain sebagainya. Umumnya para wisman ini sudah tahu kopi Gayo sebagai salah satu kopi terbaik dunia meskipun ada juga yang baru mengenalnya. Bahkan ada bule yang baru tahu pohon kopi, mereka kira kopi itu menjalar. Ada juga yang setelah merasakan kopi Gayo kemudian tertarik untuk berbisnis kopi Gayo di negara mereka.

Tamu asing ini mengakui bahwa Tanoh Gayo sangat indah pemandangannya. Memiliki sejarah panjang sendiri. Termasuk prasejarah Gayo di Mendale dan Ujung Karang. Mereka mengakui keramahan dan kearifan lokal gayo masih sangat murni dan jujur. Berbeda dengan beberapa kawasan wisata lain di Asia, seperti Thailand dan Philipina.

Apa sih suka dukanya menerima tamu dari manca negara? Ada nggak kendala dengan lingkungan saat menerima orang asing di rumah Bang Win dan menemani mereka keliling Tanoh Gayo?

Banyak sukanya sih karena berbagi kisah hidup di negara masing masing tentang budaya, mata pencaharian, agama dan banyak lagi. Kendalanya paling soal bahasa. Bahasa Inggris saya tak begitu fasih tapi saya sih nekat saja. Tidak semua wisman ini juga lancar berbahasa Inggris. Kalau kendala lingkungan tempat tinggal saya, tidak ada. Sebelum menerima tamu asing ini, waktu chatting saya menekankan bahwa di Gayo berlaku Syariat Islam.
Tamu lelaki harus  pisah ruangan tidur dengan perempuan. Kecuali ada surat nikah. Tapi umumnya mereka sudah tahu tentang Islam.

Apakah Bang Win lebih banyak menerima tamu dari manca negara ketimbang wisatawan dari Indonesia?

Saya tidak saja menerima tamu dari luar  negeri saja. Ada juga yang wisatawan dari negara kita sendiri. Dari berbagai kota Indonesia.karena di CS, anggotanya banyak di Indonesia.

Apa sih sebenarnya yang Bang Win dapat dari pertemuan dengan traveler-traveler manca negara ini?

Ini yang paling menarik menurut saya. Setelah makan malam bersama kami  biasanya bercerita tentang banyak hal, mulai dari bagaimana mereka hidup di negara mereka, biaya hidup, sumber penghasilan, pernikahan, agama dan kenapa mereka berwisata keliling dunia juga apa yang mereka dapat dari berkelana keliling dunia.  Hidup di Barat umumnya berbiaya tinggi, mereka setiap hari bekerja keras dari pagi hingga petang. Hidup jadi membosankan karena seperti robot dengan rutinitas. Untuk liburan keliling dunia, mereka bisa menabung bertahun tahun, barulah di musim dingin di negaranya, mereka liburan. 2 hingga 3 bulan bahkan setahun. Saat berlibur ini mereka merasakan kebebasan, kemerdekaan dan interaksi dengan penduduk dunia lainnya. Mereka sangat terkesanbelajar makan menggunakan tangan, sulit awalnya tetapi kemudian bisa melakukannya. Juga bagaimana mengajarkan wisman ini duduk bersila untuk lelaki dan tempoh untuk wanita.

Kami juga berdiskusi tentang Islam dan agama mereka. Sebagai Muslim, kami ingin menunjukkan bahwa Islam itu Rahmat bagi siapa saja. Wajah Islam sesungguhnya yang kami miliki adalah ahlak. Adab dan keramahan serta toleransi dalam praktek. Kami tidak membedakan kewarganegaraan, agama dan budaya asing. Wisatawan asing ini ternyata tahu bahwa Islam itu agama damai. Sehingga mereka tidak pernah takut saat menjadi tamu di rumah warga Muslim di Aceh lagi dan Teroris itu bukan ajaran  Islam.
Bagi kami, Islam itu adalah akhlak. Representasi nyata adalah Rasulullah sebsgai contohnya.

Menurut Bang Win, apakah ke depan Gayo bisa menjadi pusat kopi dunia yang akan menjadi magnet wisatawan untuk datang ke sana lebih banyak lagi? Misalnya dengan mulai dari adanya sekolah kopi hingga mungkin museum kopi nantinya?

Sebenarnya Gayo sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan manca negara. Banyak wisatawan asing, seperti Korea Selatan , Taiwan dan negara lainnya datang untuk berwisata kopi. Salah satu mereka menyebut tanag sucinya kopi adalah Gayo.

Bagi pengusaha kopi dunia, atau para penikmat kopi, pasti tahu kopi Gayo. Perdagangan kopi Gayo sudah dimulai sejak pra kemerdekaan, era kolonial dan penjajahan Belanda. Kawasan Gayo, Takengon, Bener Meriah dan Gayo Lues adalah kawasan spesial arabica Gayo yaitu Gayo mountain coffee. Bisa dibayangkan, lahan di tiga kabupaten ini diisi pohon kopi, kecuali untuk jalan,rumah, sungai dan kawasan hutan. Ratusan ribu penduduknya menggantungkan hidupnya dari pohon kopi. Nilai perdagangannya satu kabupaten hingga Rp. 4-5 Trilyun setahun. Gayo adalah kawasan terbesar di Asia dengan lahan kopi arabicanya, sekolah sekolah kopi juga tumbuh pesat, khususnya cupping atau uji citarasa kopi yang diberi angka atau skor. Di Universitas Gajah Putih Takengon program studi kopi Gayo juga sudah dibuka tahun ini dan mulai menerima mahasiswa. Museum kopi mungkin masih akan menjadi mimpi dan wacana semata jika melihat lambatnya pihak yang memiliki kebijakan soal ini.

Bang Win sebenarnya suka traveling juga nggak? Kalau iya, ada nggak rencana berkunjung balik ke negeri para traveler yang datang ke rumah Bang Win suatu hari nanti?

Iya, saya sangat suka traveling. Traveling memperkaya khasanah berpikir dan bertindak. Kita jadi kaya rasa. Hal ini berdampak pada ekspektasi kita tentang semua hal. Bagaimana bermanfaat bagi orang lain. Saya sangat ingin ke luar negeri. Mengunjungi teman teman yg pernah datang ke sini.Dan mereka berkata, datanglah ke tempat mereka kapan saja. Any time.Tapi, masih mimpi. Saya hanyalah petani biasa. Pendapatan saya belum mampu membiayai perjalanan ke luar negeri bersama anak dan istri.

Terakhir, kasih masukan dong Bang buat para traveler saat menjejakkan kaki di tanah baru agar mereka bisa lebih berguna buat warga lokal. Terima kasih Bang Win. Salam buat keluarga.

Ketika berkunjung ke tempat baru, orang baru, situasi baru. Satu hal yg berlaku seperti mata uang. Yakni, adab dan kejujuran. Adab akan dikenang orang sebagai budi baik. Selain itu jika Kita tinggal d irumah host,keterampilan memasak, mendongeng, sulap dan keterampilan lainnya sangat membantu membuat kehadiran kita akan dikenang. Juga souvenir kecil  murah dari daerah kita akan menjadi penjalin silaturrahmi.

(Semua foto diambil dari facebook Win Ruhdi Bathin)

METRO MOSKOW, MAHAKARYA SENI DAN ARSITEKTUR DI BAWAH TANAH

Seorang teman pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah terus menerus mengirim pesan agar saya memotret semua bangunan lawas bersejarah yang saya lewati selama saya melakukan perjalanan di Rusia.  Bagi pecinta bangunan-bangunan lawas bersejarah dan benda-benda seni yang masih terjaga kelestariannya, Rusia memang surganya. Rusia memiliki bangunan-bangunan dari berbagai zaman yang menjadi saksi perubahan zaman dan bertahan dari kebakaran, invasi Tartar-Mongol hingga revolusi.

Salah satu tempat yang saya susuri adalah stasiun metro di Moskow, Rusia. Tidak hanya sebagai alat transportasi yang mudah dijangkau, namun hampir semua stasiun metro di Moskow adalah mahakarya seni dan arsitektur yang sangat indah. Saat menyusuri stasiun-stasiun ini, saya merasa berada dalam galeri seni yang besar dan menikmati karya-karya seniman pada masa lampau yang terukir di dinding stasiun.  Dibuka pada tahun 1935, sarana transportasi bawah tanah ini memiliki 13 jalur dan 236 stasiun.  Saya tidak bisa mengunjungi semua stasiun itu karena waktu perjalanan yang singkat tetapi setidaknya saya mengunjungi beberapa stasiun terindah.

Saat mendorong pintu stasiun, saya sudah merasakan aroma masa lalu. Pintu yang saya dorong terbuat dari kayu, kokoh dan klasik.  Bersamaan dengan ramainya warga Moskow yang pulang kerja sore hari, saya mencari mesin untuk membeli kartu  Troika. Beberapa mesin menyediakan pilihan Bahasa Inggris dan sangat mudah digunakan. Tetapi jika anda ragu, bisa membeli di loket yang juga disediakan petugas khusus yang bisa berbahasa Inggris (English Speaking) jika anda tidak bisa berbahasa Rusia.  Setelah beres urusan tiket, saya masuk ke dalam stasiun dan turun menggunakan eskalator untuk menuju jalur yang saya tuju. Kebanyakan stasiun metro di Moskow berada di dalam tanah dengan kedalaman maksimal 74 meter di Stasiun Park Pobedy. Tetapi pada setiap stasiun, saya merasa gemetar karena eskalatornya curam dan dalam. Begitu sampai di bawah, saya tercengang melihat stasiun di depan mata saya.

 

Stasiun cantik pertama yang saya lewati bernama Taganskaya. Dibuka pada tahun 1950, dengan arsitektur abad pertengahan stasiun bernuansa biru ini didesain oleh arsitek K.Ryzhkov dan A.Medvedev.  Stasiun ini dinamai Taganskaya karena posisinya terletak di bawah Taganskaya Square. Desainnya bergaya flamboyan pasca perang dengan motif tradisional Rusia. Tampak lengkungan-lengkungan menyerupai kubah pada bagian atap, dinding dan pintu keluar menuju masing-masing jalur. Pilar-pilarnya dihiasi panel majolika berwarna biru sedangkan lantainya terbuat dari granit berwarna hitam dan abu-abu. Pencahayaan stasiun ini berasal dari 12 lampu gantung antik yang berhias panel majolika berwarna biru senada.  Pada dinding stasiun ini terdapat profil-profil seperti pelaut, operator tangki dan pilot juga pahlawan tentara Soviet. Nuansa stasiun ini terasa lembut karena perpaduan warna biru, krem dan pencahayaan dari lampu gantung yang dramatis.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun cantik yang lainnya. Stasiun kedua yang saya lewati adalah Kiyevskaya.  Stasiun yang dibuka tahun 1954 ini didesain oleh E.I.Katolin, V.K. Skugarev dan G.E. Golubev. Menurut informasi, stasiun ini dibangun dibawah pengawasan langsung pemimpin Soviet Nikita Khruschev sebagai penghormatan pada tanah kelahirannya Ukraina.  Pembukaan stasiun ini juga bertepatan dengan peringatan tahun penyatuan kembali Ukraina dan Rusia sehingga desain yang ditampilkan bertemakan persahabatan kedua bangsa. Berjalan di stasiun ini, saya seperti berada di galeri Renaissance yang megah dan indah.  Bernuansa emas dengan lobby yang dihiasi marmer dan granit serta pada dindingnya terdapat 18 panel mosaik dalam tradisi Florentine karya A.V. Myzin. Panel relief di dinding itu menunjukkan sejarah hubungan antara Rusia dan Ukraina dari masa Pereyaslav tahun 1954 hingga revolusi pada 1917. Di bawah relief-relief itu terdapat tempat duduk kecil yang bisa digunakan untuk menunggu atau menikmati stasiun ini. Banyak turis rombongan atau sendiri mengunjungi stasiun ini. Saya memutuskan untuk menikmati suasana keramaian pulang kerja di stasiun megah ini sambil duduk di bawah salah satu relief sebelum melanjutkan ke stasiun lainnya.

 

Stasiun berikutnya yang tak kalah cantik adalah Novoslobodskaya. Saat memasuki stasiun ini saya seperti memasuki gereja.  Menurut informasi, pada awal pembukaannya memang para arsitek sempat takut stasiun ini akan menyerupai gereja tetapi saat ini mereka justru melihat stasiun ini seperti akuarium bawah laut yang sangat  cantik. Saya berjalan berkeliling di antara lalu lalang orang dan  tampak 32 panel kaca berwarna-warni yang sangat cantik di dinding stasiun. 32 panel kaca ini merupakan karya 3 seniman yaitu M.Ryskin, E.Krests dan Latvia E.Veylandan. Di dalam setiap panel kaca ini terdapat keping kaca warna-warni yang disatukan dalam frame  kuning keemasan.  Enam dari panel kaca berwarna itu menggambarkan orang-orang dari berbagai peofesi mulai dari arsitek, musisi, ahli agronomi sementara 26 sisanya merupakan gambar bintang yang rumit dan pola-pola geometris. Di ujung koridor stasiun, saya melihat ada satu karya yang sedikit berbeda dan mengusung nilai perdamaian. Mosaik ini ternyata karya Pavel Korin yang diberi judul “Peace Throughout the World.”  Dengan penerangan lampu gantung yang pas stasiun ini tampak bersinar seperti istana bawah laut yang sangat cantik.

 

Mayakovskaya adalah stasiun berikutnya yang membuat saya kagum. Terletak 33 meter di bawah permukaan tanah, stasiun ini memiliki dinding-dinding tinggi dan ramping yang terbuat dari baja pesawat terbang. Berjalan di stasiun ini saya seolah mengelilingi sebuah aula besar yang tampak futuristik. Dibuka pada tahun 1938, stasiun ini dirancang oleh arsitek Alexey Dushkin sedangkan nama Mayakovskaya diambil dari nama penyair terkenal Soviet pada tahun 1893-1930 yang bernama Vladimir Mayakovskiy. Tema stasiun ini adalah “24 Jam di Tanah Soviet.” Penggambaran tema itu tampak di 34 mosaik yang terdapat di langit-langit stasiun. Stasiun Mayakovskaya selama perang dunia II digunakan sebagai pos komando sekaligus tempat perlindungan dari serangan bom Jerman.  Bahkan Joseph Stalin tinggal di tempat ini selama perang dunia II dan berpidato di depan para pemimpin partai dan orang-orang Moskow di tengah aula stasiun ini. Tak hanya desainnya yang mengagumkan dan cantik, tetapi stasiun ini juga memiliki nilai historis pada perang dunia II.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi stasiun yang lainnya. Stasiun berikutnya adalah Komsomolskaya.  Terletak 37 meter di bawah tanah, stasiun metro dari rangkaian nomor 5 ini berada di jalur Koltsevaya di antara stasiun Prospekt Mira dan Kurskaya.  Dibuka pada tahun 1952, tepat di bawah Komsomolskaya square, stasiun ini merupakan salah satu stasiun paling sibuk di Moskow. Stasiun Komsomolskaya tampak mewah dengan desain kekaisaran Rusia dan Moskow Baroque.  Dengan lampu gantung perunggu yang elegan, mozaik yang terbuat dari smalt, arcade marmer dan lantai yang dirancang oleh Alexey Shchusev, stasiun ini merupakan puncak gaya kekaisaran Stalinis. Pavel Korin merupakan seniman yang paling berpengaruh dalam menciptakan  delapan mozaik indah di langit-langit stasiun ini dimana inspirasinya datang dari pidato Joseph Stalin di Parade Moskow tahun 1941, sementara gagasan untuk mendesain mozaik ini berasal dari Katedral Saint Shopia di Kiev. Dari lantai atas stasiun yang megah ini saya menikmati lalu lalang warga Moskow yang mengejar kereta yang datang setiap 90 detik itu.

 

Dan stasiun terakhir yang sempat saya kunjungi adalah Ploshchad Revolyutsii.  Terletak di bawah Revolution Square, stasiun dengan penerangan redup ini tampak luar biasa megah.  Ada 76 patung perunggu dengan gaya realisme sosialis di dinding-dindingnya yang menggambarkan masyarakat Uni Soviet dengan beragam profesinya mulai dari pekerja pabrik, insinyur, pelajar, tentara, petani, pelaut, atlet, penulis, penerbang dan lain sebagainya.  Karena tempatnya yang tidak terlalu luas, patung-patung ini hampir semuanya berposisi duduk. Konon orang yang melewati stasiun dan menyentuh patung-patung ini akan mendapat keberuntungan. Stasiun yang arsitekturnya dirancang oleh Alexey Dushkin ini mengarah ke jantung kota Moskow dan berada di jalur biru. Dibuka pada tahun 1938 patung-patung yang berada dalam stasiun ini sebenarnya menggambarkan transformasi Rusia dari masa pra-revolusioner, revolusi kemudian era kotemporer.  Sayang saya melewati stasiun ini menjelang tengah malam sehingga sedikit gelap untuk mengambil foto dan suasananya jadi agak menakutkan. Tapi itu toh tidak mengurangan kemegahan stasiun Ploshchad Revolyutsii.  Mengunjungi stasiun-stasiun metro di Moskow tak hanya menikmati keindahan mahakarya seni dan arsitektur, tetapi juga menengok kembali jejak-jejak sejarah Rusia dalam karya para seniman Rusia.

 

Pctures by : mine and Google

VELIKY NOVGOROD (2) : JEJAK RURIK DI PINGGIR SUNGAI VOLKHOV

“We have fond memories of the old location”

Saya terbangun linglung melihat teman perjalanan saya berdiri di hadapan saya dengan ketakutan. “Ada apa Ri? Ada apa?” Saya terengah-engah dan mengambil minuman di meja lalu menghela napas dalam. Saya menoleh ke arah gudang kecil di samping saya dan tidak ada siapapun di sana. Gadis kecil berkuncir telah lenyap dari pandangan. Saya kembali membaringkan tubuh sambil meminta teman saya kembali ke kamarnya, “besok aja aku ceritain, sekarang tidur lagi aja.”

Saya terbangun jam 5 pagi untuk sholat subuh kemudian tidur lagi sampai jam 8 pagi. Di luar udara sangat dingin dan gerimis turun membuat malas beranjak dari selimut. Gadis berkuncir mungkin juga bergelung dalam selimutnya sehingga enggan menemui saya lagi. Baru sekitar jam 11 siang saat hujan mulai reda, saya bersiap untuk menjelajahi kota tua kecil kelahiran Rusia ini. Dengan berbekal payung, peta dan jaket tebal saya keluar apartemen. Begitu keluar pintu apartemen, saya bertemu nenek-nenek yang sibuk bercengkerama dengan kucingnya. Kebanyakan nenek-nenek ini hanya tinggal sendirian di apartemen bersama kucingnya di berbagai lantai tanpa lift.  Saya menaiki lantai 4 melalui tangga dengan langkah terseok sementara nenek-nenek ini dengan santai naik turun tangga diikuti para kucingnya. Di Rusia jumlah wanita lebih banyak daripada pria, mungkin karena itu juga saya lebih banyak menemukan wanita lansia daripada pria lansia.  Saya berjalan menyusuri jalan di samping apartemen dan menemukan banyak tempat makan, supermarket, cafe, penjual buah-buahan, bunga, sayuran bahkan makanan halal. Hanya perlu melewati satu blok, saya sudah sampai di jalan besar yang diseberangnya terdapat Kremlin (sebuah bangunan yang berbentuk benteng dan memiliki gerbang). Kremlin di Veliky Novgorod bisa jadi merupakan Kremlin tertua di Rusia.

Setelah melewati jalan setapak hutan kecil yang rimbun, tampak menara Kremlin menyembul dari kejauhan. Saya jadi teringat benteng kota Xi’an Tiongkok yang cantik. Kremlin di Veliky Novgorod juga secantik benteng di kota Xi’an Tiongkok.  Angin berhembus kencang bersamaan dengan udara dingin yang menusuk tulang. Saya merapatkan jaket dan memandangi Kremlin dari tempat saya berdiri. Saya membayangkan bangsa Viking yang datang ke Veliky Novgorod pada masa lalu melalui jalur laut untuk berdagang dan membajak di lautan. Pada abad ke IX, sungai-sungai Novgorod merupakan bagian dari rute perdagangan bangsa Viking ke Yunani. Dari perdagangan inilah kemudian bangsa Viking yang terkenal terampil dalam berperang menjadi prajurit di bawah penguasa Slavia, kemudian menetap di Novgorod dan menjadi penduduk Rus.  Salah satu bangsa Viking yang bernama Rurik menurut sejarah datang di kota ini karena diminta untuk melindungi kota dari serangan perampok namun kemudian Rurik berkuasa di kota ini.  Saya akan menyusuri jejak-jejak Rurik yang masih tertinggal di kota ini.

Angin dingin dan kencang menghamburkan jilbabku bersamaan dengan daun-daun merah musim gugur yang berjatuhan dari pepohonan. Saya terus melangkah menyusuri sepanjang sisi Kremlin yang panjang untuk mencapai gerbang utama.  Di depan gerbang Kremlin tampak seorang wanita tua sedang memainkan akordion. Mengenakan baju tebal berwarna merah, kerudung kuning dan sepatu boots hitam, wanita tua itu tersenyum padaku. Duduk di strollernya yang berwarna biru, wanita tua itu tampak menikmati permainan musiknya sendiri. Saya suka melihat caranya tersenyum yang ramah dan bersahabat tidak seperti orang Rusia kebanyakan yang kaku. Setelah menaruh uang di kotak yang ada di depannya, saya segera memasuki gerbang Kremlin.

Veliky Novgorod terletak di pinggir Sungai Volkhov. Sungai ini membagi kota menjadi dua bagian yaitu Sofiyskaya dan Torgovaya. Terkenal dengan warisan budayanya, Veliky Novgorod merupakan satu-satunya tanah Rusia kuno yang tidak hancur selama abad ke 9 hingga ke 13. Banyak sekali peninggalan bersejarah yang masih terjaga dengan baik di kota ini, bahkan ada 37 benda yang masuk dalam daftar Warisan Dunia Unesco.  Saya melewati gerbang Kremlin tanpa dipungut biaya wisata apapun, kemudian memasuki areal dalam Kremlin dan mata saya disergap pemandangan taman dengan eksotisme musim gugur.  Terdapat Monumen Millennium of Rusia di sisi kanan dari arah masuk gerbang Kremlin, lalu Katedral St. Sophia, St. Sophia Bell Tower, The History Museum dan Kokuy Tower. Saya kemudian keluar gerbang Kremlin dan menyeberangi jembatan bersama orang-orang lokal yang lalu lalang. Dari jembatan penyeberangan (pendestrian bridge) ini, saya bisa memandang Kremlin yang megah dan eksotis dengan Kokuy Tower yang menjulang.

 

Setelah sampai di seberang, saya bertemu dengan patung gadis yang sedang duduk santai di pinggir sungai seolah sedang melepas penat setelah berjalan mengelilingi kota Veliky yang cantik. Sepatunya dilepas di sebelahnya, bibirnya tersenyum simpul, matanya menatap langit yang biru cerah. Patung ini lebih dikenal dengan The Girl Tourist yang menjadi spot menarik untuk berfoto para turis karena di belakang sang gadis tampak pemandangan sungai Volkhov yang mengalir tenang dan bersih serta kapal cantik yang sedang bersandar. Gadis ini tampak modern dan pastilah tidak pernah bertemu Pangeran Rurik.

 

Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke Court Of Yaroslav.  Taman dengan gereja-gereja kecil seperti Cathedral of St. Nicholas dan Gereja St. George.  Saya duduk beberapa saat di taman karena banyak burung-burung kecil yang berumah di tanaman sekitar taman. Burung-burung ini tidak terbang menjauh dan jinak dengan manusia seolah saat saya duduk di salah satu bangku taman mereka mengajak ngobrol.  Tak hanya burung-burung kecil, tampak beberapa lansia juga duduk di taman sambil bercengkeram dan memberi makanan pada burung-burung ini.

Setelah menikmati suasana lengang bersama burung-burung dan lansia, saya melanjutkan perjalanan ke arah jalan raya kemudian menyeberang untuk melihat toko souvenir di sana. Kota ini sangat sepi dan nyaris seperti tanpa aktivitas. Tetapi saat kita memasuki toko atau restoran, terasa kehangatan para penguhuninya. Seorang pemuda dengan bahasa Inggris terbata meminta maaf saat saya menunggu antrian di belakangnya untuk menukar uang di salah satu money changer. Dia bilang keluarganya yang sedang antri sedang menjual rumah dan memerlukan uang untuk menukar tapi perlu konsultasi agak lama. Saya sebenarnya tidak masalah, tetapi dia yang tidak enak sendiri karena saya lama menunggu. Bahkan saat saya hendak membeli salah satu souvenir dengan bahasa Rusia, dia menerjemahkan bahasa dalam souvenir itu. Kota ini memang lengang dan terlihat dingin, tetapi manusianya hangat dan ramah.

 

 

Penjelajahan hari itu saya akhiri dengan mengunjungi perbukitan yang merupakan jejak-jejak kediaman Pangeran pertama Rusia, Rurik. Terletak di perbukitan, bangunan tua itu menjadi saksi bisu bahwa pada abad 9 hingga 10 dinasti Rurik menjadi cikal bakalnya Rusia. Di sisa-sisa kediaman asli Rurik yang masih dilestarikan inilah saya dapat merasakan negeri terluas di dunia ini bermula. Negeri besar yang melewati banyak perubahan zaman mulai dari invasi Mongol Tartar hingga revolusi. Namun dari semua perubahan zaman itu, Veliky Novgorod satu-satunya kota yang terselamatkan dari kehancuran.  Sebelum malam, saya meninggalkan sisa-sisa kediaman Rurik sambil berharap bisa kembali ke kota ini dan melihat lebih dalam lagi tentang kehidupan penghuninya. Semoga.

VELIKY NOVGOROD (1) : THE BIRTHPLACE OF RUSSIA & HANTU GADIS KECIL

“Old things always seems better”

Hampir pukul 4 sore saat bus yang saya tumpangi dari Saint Petersburg tiba di terminal bus Veliky Novgorod. Sopir yang wajahnya khas Rusia menunggu saya menurunkan koper dari bagasi bus tanpa tersenyum sedikitpun.

“Spasiba!” kataku sambil mengangguk sopan pada sopir lalu mendorong koper ke pinggir. Selama di Rusia, kata yang paling saya kuasai hanyalah “spasiba” alias terima kasih karena bahasa Rusia kedengeran begitu ruwet di telingaku meski jadi menantang untuk dikuasai lebih banyak. Bus itu melanjutkan perjalanan lagi sementara saya celingukan mencari jalan keluar terminal. Lalu saya menyeret koper saya ke arah pintu terminal. Tidak banyak orang di terminal, hanya ada beberapa pemuda memanggul tas mirip tas belanja tanah abang kalau di Jakarta dan beberapa keluarga yang baru datang dari perjalanan. Saya terus menyeret koper saya menuju depan terminal lalu berhenti di samping kios kecil yang menjual kopi dan makanan. Saya melihat berkeliling untuk mengenal wajah kota yang baru saja masuki.

Veliky Novgorod awalnya bukan tujuan perjalanan saya. Tetapi karena saya tidak mendapatkan kereta ke Kazan maka saya memutuskan untuk singgah di kota ini beberapa hari. Sepertinya akan menarik karena menurut sejarahnya kota ini adalah kota tertua di Rusia yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di kota ini ada sisa-sisa kediaman asli Rurik, pangeran pertama Rusia. Saya selalu tertarik dengan hal-hal yang terhubung dengan masa lalu karena banyak yang bisa dipelajari dari kisah-kisah masa lalu. Tidak hanya pembelajaran itu yang saya kejar namun juga penampakannya yang eksotis. Benar saja, kota ini memang tua, tenang dan eksotis.

Bus-bus tua berseliweran di jalanan yang bertabur daun-daun kekuningan musim gugur, para Babushka (nenek) berjalan di trotoar bersama binatang piaraannya dan ibu-ibu muda berjalan cepat sepulang aktivitas mengenakan jaket merah, kuning atau hijau. Orang-orang di kota ini memakai pakaian yang lebih berwarna ketimbang warna pakaian orang-orang di Moscow atau Saint Petersburg. Tetapi memang saya lihat lebih banyak lansia yang tinggal di kota ini ketimbang anak muda. Mungkin anak mudanya bekerja di kota lain seperti Moscow atau Veliky Novgorod.

Sebenarnya saya ingin naik bus menuju apartemen yang telah saya sewa, tetapi dengan bawaan koper yang berat saya memutuskan menggunakan taksi online Yandex. Tidak sampai lima menit taksi Yandex sudah menjemput saya di depan terminal lalu mengantarkan saya menuju apartemen. Hanya membutukan waktu sekitar 10 menit untuk sampai apartemen. Saya tiba agak terlambat sehingga pemilik apartemen sudah menunggu lama di depan gedung apartemen. Pemiliknya seorang wanita muda yang tidak bisa bahasa Inggris, mengenakan jaket hijau army dan wajah polos tanpa make up. Setelah komunikasi menggunakan bahasa isyarat yang bisa saling dipahami, wanita itu hendak meninggalkan apartemen. Saya menanyakan dimana meletakkan kunci saat saya check out nanti dan dia menyuruh saya meninggalkan kunci di meja televisi. Sepertinya keamanan di Rusia terjaga sehingga beberapa apartemen yang saya inapi selalu cuek meminta meninggalkan saja kuncinya check out jika dia belum datang.

Apartemen itu ada di lantai 4 dengan gedung yang sudah tua. Tanpa lift saya harus mengangkat koper saya menaiki tangga hingga tiba di depan pintunya. Tetangga apartemen seorang Babushka (nenek) yang hidup sendirian bersama kucingnya. Dan begitu pintu apartemen terbuka, saya merasakan aura yang kurang enak, sepertinya tempat ini ada yang ‘menunggu’ di dalam. Tapi saya tidak memedulikan dan masuk ke dalam, meletakkan koper lalu memilih tempat tidur di dalam yang dekat dengan gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Mengabaikan semua yang saya rasakan, saya membuka pintu balkon, melihat kejauhan kota tua yang mulai menguning karena senja turun dan menikmati daun-daun jatuh menimpa balkon apartemen.

Suhu menunjukkan angka 10 derajat dan di luar hujan mulai turun. Saya mengurungkan niat untuk berjalan-jalan sekitar apartemen karena suhu 10 derajat bagi orang tropis sangat dingin dan memutuskan duduk di depan jendela dapur sambil memandangi hujan dan menyesap kopi perlahan-lahan. Entah kenapa, saya merasa terhubung dengan kota ini, rasanya seperti pulang ke rumah. Kota yang tenang, eksotis dan nyaman untuk ditinggali. Berbeda dengan Moscow dan Saint Petersburg yang ramai dan sibuk. Veliky Novgorod tampak sederhana, apa adanya dan cantik. Saya merasa di sini bisa menjadi diri saya sendiri, tanpa perlu mengenakan topeng.  Saya jatuh cinta pada kota tua ini, sejak pertama melihatnya.

Sambil membaca-baca booklet tentang Veliky Novgorod dan tempat-tempat menarik yang bisa saya kunjungi esok harinya, saya membayangkan bertemu Pangeran Pertama Rusia dari dinasti Rurik di tempat ini. Mungkin sangat menarik jika saja ada mesin waktu yang bisa membawa saya menemui mereka, ngobrol tentang kehidupan mereka di tempat menarik ini dan cita-cita mereka di masa depan. Lalu saya tertawa sendiri dengan lamunan saya dan memutuskan untuk membuat mie instant yang saya bawa dari Indonesia untuk makan malam. Selesai makan malam kantuk tak tertahankan dan saya langsung tidur meringkuk di pembaringan samping gudang kecil yang gelap tanpa penerangan. Dan time travel itu terjadi dalam mimpi saya.

Seorang gadis kecil dengan rambut merah berponi dan dikuncir sepinggang berjalan pelan keluar dari gudang kecil gelap di samping tempat tidur saya. Gadis kecil itu mengenakan rok pendek kotak-kotak warna merah dan atasan putih tulang lengan panjang, mengenakan sabuk tampak rapi dan manis. Sepatunya hitam dengan kaos kaki tinggi. Gadis itu tersenyum pada saya dan mengulurkan tangannya untuk menyalami saya. Tidak ada kata-kata, tetapi wajahnya ramah dan penuh senyum seolah mengucapkan selamat datang. Saya menyambutnya tak kalah ramah dan merasa terhubung dengannya. Tetapi saat saya mau melepaskan tangan saya, gadis kecil itu memegang tangan saya begitu erat dan menarik saya hingga jatuh tertelungkup di gudang. Beberapa saat saya mengigau, akhirnya saya bisa terbangun. Dengan mata masih buram, saya melihat bayangan gadis itu berdiri di depan gudang kecil gelap itu.

(to be continued…)

ANDREAS TRIJAYA : “Selalu Ada Kisah Dari Setiap Perjalanan”

Bekerja sebagai presenter dan reporter salah satu stasiun televisi swasta  membuat sahabat saya satu ini sering bertugas ke berbagai tempat. Dia juga seorang backpacker yang sudah mengunjungi banyak negara di Asia.  Saya menyimak kisah perjalanannya yang menarik melalui akun instagramnya @andreastj. Banyak hal inspiratif yang saya dapat darinya dan menggerakkan saya untuk menyerap hal-hal baik. Sikapnya yang positip, tenang dan sabar dalam berbagai kondisi membuat orang di sekelilingnya tertular aura positip. Dia tak banyak berubah selama 9 tahun saya mengenalnya. Sharing kali ini saya ingin ngobrol dengan sahabat saya Andreas Trijaya tentang kisah perjalanannya.

Hai Andre! Cerita sedikit dong kegiatan kamu sehari-hari saat ini.

Hai! Saat ini saya Associate Producer di salah satu stasiun TV Swasta, kegiatan saya sehari-hari nggak jauh dari koordinasi dengan tim liputan, edit naskah dan mendampingi proses editing video. Ada kalanya juga turun ke lapangan untuk liputan, tapi udah agak jarang. Sebagai netizen, sehari-hari ya scrolling sosmed, posting instastory sampah dan liat2 flash sale di marketplace.

Sejak kapan sih suka traveling? Ada nggak hal yang bikin Andre suka traveling waktu kecil dulu?

 

Waktu kecil sebenernya jarang traveling karena saya bukan dari keluarga berkelebihan. Semua serba cukup-cukup aja, jadi nggak ada dana lebih untuk traveling. Kalau pun pergi keluar kota, biasanya mengunjungi saudara yang paling jauh pun cuma ke Malang. Waktu SMA dan masa kuliah saya nggak pernah traveling, jadi setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, saya baru coba-coba traveling.
Tahun 2013 saya mulai coba-coba traveling dengan dua teman dekat sejak SMA, ke Malang karena waktu itu ada tiket murah Jakarta-Surabaya PP hanya 400ribu. Perjalanan Surabaya-Malang kami tempuh menggunakan mobil “taksi” dari bandara Juanda. Kami satu mobil dengan sepasang suami istri. Dalam perjalanan, si bapak yang pernah bekerja di Vietnam bercerita pada kami soal negara itu. Kami pun bertekad suatu saat bakal ke Vietnam juga (yang akhirnya kesampaian tahun 2016 sewaktu trip 3 negara Vietnam – Kamboja – Thailand). Tahun 2015, kami mulai “latihan” traveling ke luar negeri ke Malaysia dan Singapura. Dari situlah, setiap tahun kami berusaha traveling bareng keluar negeri. Sekaligus jadi titik awal saya untuk menyelesaikan trip ASEAN sebelum usia 30 tahun (meski kenyataannya meleset juga).

Andre sudah mengunjungi banyak negara dan pelosok Indonesia. Semua itu karena pekerjaan kamu sebagai reporter atau murni sebagai backpacker?

Untuk trip ke 9 negara ASEAN selain Indonesia, saya solo backpacker dan bareng teman. Tapi  ada juga saya ke Malaysia, Singapura, Thailand dan Timor Leste karena pekerjaan. Untuk Indonesia, mostly karena pekerjaan dan  saya sudah mengunjungi 25 provinsi.

Gimana sih Ndre mengatur perjalanan biar jatuhnya murah tapi tetap nyaman?

Murah mahal itu sebetulnya relatif ya. Tapi paling tidak, selama bepergian saya mendapat harga tiket lebih murah daripada biasanya. Untuk mendapat tiket murah, biasanya saya menunggu musim promo, mayoritas sih dari AirAsia. Biasanya dari pembelian sampai keberangkatan, paling tidak ada rentang waktu 6 bulan sampai setahun. Rentang waktu itulah saya pakai untuk cicilan tiket, menabung untuk biaya traveling dan mencari alternatif akomodasi. Soal nyaman, tidak semua orang bisa bepergian tanpa bagasi pesawat. Untungnya, saya selalu bisa menakar barang bawaan sehingga cukup di kabin pesawat yang maksimal hanya 7-10kg. Biasanya, saya membawa baju atau barang yang kira-kira bisa dibuang saja, sehingga tidak menambah beban saat kepulangan (karena digantikan dengan sedikit oleh-oleh). Penginapan yang nyaman dan murah juga penting. Saya bukan tipe orang yang bisa menginap di dormitory, jadi sebisa mungkin saya mencari kamar yang murah dan terjangkau transportasi publik.

Dari semua negara yang sudah Andre kunjungi, negara mana yang paling Andre suka? Kenapa?

Entah kenapa saya suka Kuala Lumpur. Suasananya nggak beda jauh dengan Jakarta, tapi biaya makan cukup murah dan akses transportasi publik mudah dijangkau. Selain itu, banyak street food yang enak-enak.

Asyik mana sih solo trip sama pergi rame-rame? Kalau lagi solo trip gimana caranya Andre ngambil moment dari foto-foto itu sendirian di tengah keramaian?

Saya fleksibel kok, dua duanya asik. Mau pergi sendiri atau bersama teman bisa bikin saya nyaman. Hanya saja, kalau pergi bersama teman ada kalanya harus meredam ego. Semua harus disepakati bersama. Soal foto, sejak 2013 saya sudah mencoba jadi turis mandiri. Berbekal tripod, kamera ponsel dan remote bluetooth. Kalau lagi ramai ya cuek aja, kan nggak kenal ini. Paling diliatin aja.

Ada nggak yang Andre cari dari setiap perjalanan?

Nggak ada yang saya cari sih, cuma pingin liat tempat-tempat yang berbeda dari Indonesia aja. Tapi dalam setiap perjalanan, selalu ada kisah untuk diceritakan. Cara hidup dan keyakinan yang berbeda dengan Indonesia, membuat kita bisa lebih berempati dan menghargai perbedaan.

Setelah mengunjungi negara-negara Asean, Tiongkok, Jepang, Korea, Jordan dan Jerusalem destinasi selanjutnya kemana? Kenapa ingin ke negara tersebut?

Rencananya mau ke Taiwan, pengen lihat Ing Te-nya Meteor Garden. Hehehe.. Saya nggak pernah menargetkan tahun ini harus ke sini atau ke sana. Kalau ada tiket murah, ya itu saya beli. Setelah beli, baru cari tau apa yang istemewa dan unik dari negara tersebut. Kebetulan saya sudah ke China, Jepang dan Korea. Yah itung-itung nambah list negara di Asia Timur (walaupun Taiwan termasuk negara yang nggak diakui PBB).

Gimana cara Andre menanggapi orang-orang nyinyir kayak misalnya “traveling itu cuma buang-buang uang mending dibeliin rumah atau mobil, traveling itu kerjaan orang yang melarikan diri dari hal-hal menyedihkan.”

Sama seperti orang nggak paham dengan kegemaran traveling, saya juga nggak paham kenapa orang mencari kebahagiaan dengan berumah tangga. Hahaha.. Jadi ya udah diemin aja, karena standar kebahagiaan orang kan beda-beda. Tapi karena “terlihat” sering traveling, kadang teman-teman saya malah suka nanya gimana caranya dapat tiket murah.

Andre tuh selalu kelihatan positip, sabar dan tenang. Gimana sih bisa konsisten bersikap kayak gitu?

Saya nggak selalu positip juga sih. Ada kalanya berpikiran negatif buat jaga-jaga kemungkinan terburuk. Kalaupun ada kejadian yang nggak menyenangkan saya coba merespon dengan berpikir begini, “mungkin memang jalannya harus begini.” Saya berada di posisi sekarang juga efek dari mencoba berpikiran positip di masa lalu. Misalnya, saya dulu nggak keterima di PTN dan akhirnya kuliah di PTS. Awalnya sedih, tapi kalau saya nggak kuliah disitu, mungkin saya nggak akan bekerja di media yang bisa membawa saya keliling Indonesia. Soal sabar, saya menganggap nggak ada gunanya marah-marah. Kalau semua bisa diselesaikan dengan kepala dingin, kenapa harus buang-buang energi untuk adu mulut atau baku hantam?

Oke deh Ndre, buat mereka yang ingin traveling tapi masih berangan-angan, Andre punya saran nggak?

Kaya jargonnya Tokopedia, mulai aja dulu. Kalau untuk traveling keluar negeri, bisa coba dari yang dekat-dekat dulu. Teman-teman saya suka bertanya, soal kendala bahasa. Perbedaan bahasa ternyata juga jadi salah satu alasan orang takut traveling. Padahal jaman sudah canggih, ada google maps dan google translate. Kalaupun nggak cukup, ada bahasa universal yaitu bahasa tubuh. Nggak perlu malu, karena hakekatnya bahasa hanyalah sarana untuk berkomunikasi. Kalau bahasa tubuh jadi sarana komunikasi yang efektif, kenapa enggak?

 

Note :  All pictures are taken from Andreas Trijaya Instagram.

 

 

 

NISHIKI MARKET KYOTO : Pasar Sejak 400 Tahun Lalu

Mengunjungi Kyoto, selalu membuat saya seperti kembali ke Jepang pada zaman Edo. Kebudayaan ratusan tahun lalu yang masih dilestarikan itu tercermin dari bangunan-bangunan eksotis di sepanjang Gion. Tak hanya bangunan-bangunan eksotis pada zaman Edo, tetapi di sini juga ada Nisiki Market. Pasar rakyat yang ada sejak 400 tahun lalu. Banyak wisatawan manca negara maupun warga lokal berkunjung ke pasar ini. Pasar ini tampak bersih, rapi, dinamis dan menyenangkan. Berkunjung ke Kyoto tanpa mampir ke Nisiki market tidak akan lengkap. Apalagi kalau anda penggemar kuliner Jepang. Nisiki Market menjual banyak sekali kuliner khas Kyoto yang sangat menarik.

Saya berkunjung ke Nishiki Market setelah mengelilingi Gion untuk melihat bangunan-bangunan zaman Edo yang masih berdiri kokoh. Sebenarnya ingin mencicipi teh di salah satu bangunan itu namun batal karena harganya mahal. Maka saya memilih untuk berburu kuliner di Nishiki Market. Memasuki pasar ini saya justru kebingungan mau membeli apa karena segala kuliner Jepang ada di sini. Mulai dari makanan khas Kyoto, buah-buahan, acar, teh sampai ikan asin.

Saya tergoda untuk membeli buah strowberry yang terlihat segar dan besar-besar. Saya jarang menemukannya di Indonesia. Lalu teman saya membeli teh hijau untuk oleh-oleh. Ada bermacam-macam teh bisa kita dapatkan di pasar ini dengan harga terjangkau. Jangan lupa mencoba sushi dan beberapa penganan lokal yang sangat menarik. Jika anda penggemar kuliner, jangan lewatkan mampir ke Nishiki Market!