6 KEJADIAN HOROR SAAT TRAVELING

Sebelum berangkat traveling kita biasanya  excited sama hal-hal menyenangkan ala-ala liburan.  Kalau saya selalu tidak sabar untuk bertemu hal-hal baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Entah itu sebuah kota, bangunan, orang-orangnya dan yang paling menarik tentu budayanya. Saya juga sangat suka menjalin pertemanan dengan orang-orang baru yang saya temui di perjalanan. Rasanya kebahagiaan saya meledak saat bisa berkomunikasi dengan mereka dan berbagi tawa dengan mereka. Tetapi ternyata nggak semuanya seperti imajinasi sebelum berangkat. Banyak kejadian horror mulai dari hantu sampai orang-orang di perjalanan yang membuat perjalanan menjadi lebih dramatis. Apa aja sih, yang pernah saya alami? Ini beberapa kisah horror yang pernah saya alami saat traveling.

  1. GADIS KECIL BERKEPANG SATU

Veliky Novgorod adalah kota tua yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Di sana banyak bangunan-bangunan tua bersejarah ataupun gedung-gedung apartemen yang bangunannya memang sudah sangat tua. Nah, saya menginap di salah satu apartemen yang berada di bangunan tua itu bertetangga dengan seorang wanita tua yang tinggal bersama kucingnya. Saya lihat banyak wanita-wanita tua yang hidup sendirian di apartemen bersama kucingnya.  Pemilik apartemen seorang wanita paruh baya yang tidak bisa berbahasa Inggris tetapi untungnya kami bisa saling memahami menggunakan bahasa isyarat dan kertas print bukti sewa apartemen. Si pemilik langsung pergi begitu saya menyelesaikan pembayaran.

Begitu mendorong pintu gedung tua ini, saya disergap suasana muram dan sepi. Saya merasa ada yang mengamati dari sudut-sudutnya. Cat dinding yang kelabu dan debu yang menempel di setiap sisinya membuat pemandangan menjadi menyeramkan. Apartemen yang saya sewa ada di lantai 4 tanpa lift jadi saya harus mengusung koper saya melalui tangga tua yang sudah rompal pinggirannya. Saya menyesal membawa koper bukan ransel seperti biasanya. Begitu sampai di lantai 4 dan membuka apartemen yang saya sewa, entah kenapa saya merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Itu tadi, saya merasa ada yang mengawasi diam-diam. Tetapi sudah malam dan lelah maka saya mengabaikan itu.

Apartemen ini lumayan luas, ada empat tempat tidur meski dua antaranya sofa bed,  balkon, satu kamar mandi, satu dapur beserta semua perlengkapannya dan gudang kecil yang ada di dekat kamar tidur dalam. Gudang ini kosong, hanya ada cantolan baju saja dan perlengkapan jas hujan.  Saya menyewa apartemen ini bersama beberapa teman, dan memilih kamar dalam yang dekat dengan gudang.  Usai membersihkan diri, saya membaringkan tubuh karena kecapekan sementara beberapa teman mencari makan malam. Saya menitip makanan ke mereka dan memanaskan air di dapur untuk membuat minuman hangat. Suhu sekitar 13 derajat celcius, tidak terlalu dingin meskipun untuk orang tropis seperti saya tetap saja menggigil. Begitu mereka pulang saya langsung makan malam dan tidur lebih dulu.

Ketika membaringkan tubuh di dipan bersprei putih itu, saya masih merasa ada sesuatu yang mengawasi saya diam-diam. Saya jadi tidak nyaman tidur di samping gudang kecil itu. Tetapi saya mengabaikannya dan mencoba berdoa. Di luar terdengar ramai sekali suara orang sedang pesta, mungkin di sebelah apartemen ini bar atau tempat nongkrong-nongkrong. Sementara teman-teman masih ribut makan malam dan memilih-milih foto di handphone mereka. Saya terlalu capek sehingga terlelap lebih dahulu.

Tiba-tiba saya melihat gadis kecil berusia sekitar 13 tahun, berperawakan ramping, rambutnya yang pirang dikepang satu, mengenakan baju atasan warna broken white dengan kerah bundar dipadu dengan rok pendek kain planel kotak-kotak merah, tampak rapi dan manis dimasukkan dengan sabuk. Gadis kecil ini keluar dari gudang di samping saya sambil tersenyum manis. Ia mengulurkan tangannya mengajak saya salaman lalu mengucapkan sesuatu dalam bahasa Rusia, saya seperti memahami bahwa itu ucapan selamat datang. Saya bangkit dari tempat tidur dan menyalami gadis itu dengan senang. “Terima kasih,” jawabku. “Saya akan tinggal di sini beberapa hari.” Lalu, setelah bersalaman cukup lama, saya ingin melepaskan tanganku. Mendadak tangan gadis itu terasa sangat dingin, dan ia tidak mau melepaskan tanganku. Ia menarik tanganku dengan kuat sampai aku jatuh terperosok ke dalam gudang kecil itu. Gadis itupun tertawa cekikikan melihatku jatuh, tawanya sangat menakutkan.

Saya berteriak-teriak ketakutan dalam mimpi yang membuat teman-teman yang belum tidur lari ke arahku dan membangunkanku. Saya bangun dengan ketakutan lalu menoleh ke gudang di sebelah saya. Tetap saja saya merasa ada yang mengawasi dari sana, akhirnya sepanjang malam saya menyalakan lampu padahal saya tidak bisa tidur menggunakan lampu. Kejadian itu membuat kami semua waspada dan tidak membiarkan salah satu dari kami sendirian. Tetapi meski kejadian selanjutnya teman yang lain justru melihat secara nyata penampakannya, saya tidak diganggu lagi. Mungkin itu ucapan selamat datang dan saya tidak diganggu lagi.

  1. SIAPA YANG MEMANGGIL NAMAKU?

Siem Reap Kamboja terkenal dengan eksotisme masa lalunya yang berupa candi-candi tua. Tetapi di sana juga banyak hotel-hotel dengan bangunan yang sudah tua. Saya memesan hotel itu dari aplikasi karena harganya miring dan mendapatkan sarapan yang berlimpah berupa prasmanan. Tetapi ternyata hotel ini banyak yang menunggu tanpa bisa dilihat oleh mata tamu-tamunya.

Halaman hotel ini teduh sekaligus gelap karena banyak tumbuhan. Kamar saya ada di lantai dua. Begitu memasuki kamar saya sudah disambut dengan lukisan wanita berbaju tradisional warna putih dengan rambut lurus panjang berponi dan mata menatap ke siapa saja di depan lukisan. Mata gadis dalam lukisan itu seperti hidup. Sangat menganggu dan menakutkan. Tetapi saya mengabaikan semua perasaan tidak enak itu dan berusaha untuk istirahat. Sangat melelahkan perjalnaan naik bus umum dari Phnom Penh selama delapan jam. Saya langsung tidur setelah membersihkan badan dan mengganti baju.

Tiga jam tidur, waktu saya terbangun tiba-tiba lantai di kamar itu banjir. Baju-baju yang saya letakkan di lantai karena kecapekan untuk memasukkan ke dalam ransel basah semua. Anehnya basahnya hanya di samping tempat tidur saya. Saya mengecek apakah ada kebocoran dari kamar mandi atau AC ternyata tidak ada, lagipula AC ada di sisi yang lain. Tetapi saat melaporkan kondisi ini ke resepsionis mereka bilang kemungkinan AC-nya rusak. Baik, saya bisa menerima, memang mungkin saja AC-nya rusak meski saya melihatnya baik-baik saja. Saya hanya merasa ada yang tidak beres. Dan benar saja, setelahnya teman saya bermimpi seseorang memasuki kamar melalui jendela dan memaksa untuk masuk. Teman saya sampai teriak-teriak karena ketakutan. Akhirnya kami-pun pindah ke kamar lain bersama beberapa teman lain.

Di kamar lain ini lebih luas dan terang suasananya. Ada 4 bed besar sehingga kami bisa berbagi. Tetapi  saya merasa tidak nyaman memasuki kamar mandi entah kenapa. Karena banyak teman, malam itu saya bisa tidur dengan nyaman. Baru kemudian terjadilah hal menakutkan itu. Seorang teman ke kamar mandi sekitar dini hari, teman-teman yang lainnya termasuk saya masih tidur. Tiba-tiba teman yang baru keluar dari kamar mandi membangunkan saya dan bertanya, “kamu barusan nggedor-nggedor pintu kamar mandi dan manggil aku?” Saya bingung karena semua yang ada di kamar sedang tidur. “Nggak tuh, aku lagi tidur, yang lain juga tidur.” Temen saya mulai panik. “Jadi siapa yang barusan manggil-manggil aku?” Teman saya langsung masuk ke selimutnya dan menutup mukanya dengan selimut, sayapun melakukan hal yang sama. Untung esok harinya kami kembali ke Jakarta, jadi tidak terulang lagi kejadian yang lain.

  1. WANITA BERBAJU PUTIH BERMUKA MENGERIKAN

Suatu hari di tahun 2010, saya masih bekerja kantoran dan sangat jenuh. Saya mengambil cuti dengan alasan ingin istirahat tetapi malah saya gunakan kesempatan ini untuk traveling ke Sulawesi Selatan. Ini kejadian paling mengerikan yang pernah saya alami. Apalagi itu pertama kalinya saya traveling. Masih belum pengalaman dan hanya berbekal nekat saja.  Melalui internet saya memesan hotel yang bagus dan murah menurut saya. Saya ingin merasakan suasana tinggal di hotel yang bangunannya seperti rumah adat mereka. Tetapi begitu sampai lokasi hati saya langsung ciut seciut-ciutnya.  Gimana enggak? Hotel itu besar sekali dan tamunya sangat jarang. Mungkin karena memang bukan waktunya liburan atau mungkin lokasinya jauh dari pusat kota jadi susah dijangkau kendaraan. Saya dan teman saya menghuni satu kamar di sebuah gedung yang tidak ada orang sama sekali. Begitu masuk kamar saya sudah ngeri sendiri karena bakal kesepian. Tetapi kejadian mengerikan itu bukan di kamar yang ini meskipun tanda-tandanya sudah berasa.

Esoknya saya pindah ke kamar lain yang lebih besar nyaris seperti pavilion. Berbentuk panggung saya harus naik tangga kayu untuk sampai pintunya. Begitu membuka pintu mulai terasa hal-hal yang tidak enak itu. Lampunya yang temaram dan perabotan yang tua. Males banget lihatnya. Sama sekali bukan hal romantik tetapi malah mengerikan. Begitu ke kamar mandi, saya ragu mau masuk karena kamar mandi itu luas sekali. Ada tiga ruangan besar mulai dari bathup, pancuran, toilet hingga kaca besar-besar untuk berhias. Saya ketakutan waktu mandi karena merasa ada yang memerhatikannya. Bagaimana kalau mendadak sesuatu muncul di bathup atau di kaca? Saya akhirnya membuka pintu kamar mandi dan meminta temen saya menemani di samping pintu. Oke, kegiatan mandi berlangsung aman. Saya menghela napas lega.

Tetapi malamnya sekitar jam 11 malam saat saya sedang menerima telepon tiba-tiba teman saya yang sudah tidur teriak-teriak keras. Ia berlari ke pembaringan saya sambil ketakutan dan menangis. Ada apa sih? Itu, itu! Katanya sambil menunjuk-nunjuk sesuatu di depannya. Ada apaan? Aku nggak ngelihat apapun. Saya mengambil minum untuk teman saya dan menenangkannya.  Dia masih menangis. “Kamu tadi bangunin aku, tapi pas aku bangun aku lihat kamu pake baju putih panjang, rambut panjang dan wajahmu nakutin,” katanya terus menangis. Saya memang merasa ada yang mengawasi sejak datang di kamar ini, akhirnya semalaman kami tidak tidur. Semua lampu saya nyalakan dan suara murotal dari handphone membelah malam. Untung hanya semalam di kamar itu. Pagi hari belum waktunya check out saya sudah buru-buru keluar dari kamar dan meninggalkan hotel itu.

  1. WAJAH DI CERMIN MUSEUM

Saya menyukai museum, karena dari museum saya belajar banyak hal tentang masa lalu. Nah, siang itu sepulang mengantar teman di daerah Jawa Barat, saya mampir ke salah satu museum yang sangat terkenal di tempat itu. Tidak usah saya sebut nama museumnya ketimbang jadi takut ke sana.  Sebuah museum dengan bangunan rumah kuno yang cantik dan halaman yang luas sangat asri. Ketika saya berkunjung tidak ada pengunjung lain karena sudah sore. Seorang penjaga mengantarkan saya masuk tetapi saya sudah merasakan ketidaknyamanan saat memasuki lorong menuju ruang utama. Penjaga menjelaskan barang peninggalan ini itu dan saya nyelonong masuk ke salah satu ruangan yang di dalamnya penuh barang masih asli dari masanya. Wah, menarik nih, saya kemudian mengeluarkan kamera digital saya.

Di ruangan itu ada satu cermin berbentuk lonjong berdiri, satu lemari lawas dengan pintu geser dan satu meja. Semua benda di kamar ini asli dari masanya. Saya mengambil beberapa foto benda di kamar itu dari berbagai sisi termasuk sisi dalam lemari. Namun saya tidak mengambil foto cermin dari arah depan saya. Saya memotret cermin itu dari samping sehingga saya tidak akan nampak di foto. Menjelang petang setelah menjelajahi halaman, saya pulang. Perjalanan pulang ke Jakarta lama dan macet, maka saya mengisi waktu dengan mengecek foto-foto di kamera. Betapa kagetnya saya saat melihat foto-foto itu banyak penampakan di sana. Ada sosok laki-laki bule mengenakan kacamata bulat sedang melongok dari dalam lemari, ada orang-orang yang duduk di meja dan yang paling mengerikan adalah saya muncul tepat di tengah kaca dengan wajah yang mengerikan. Tubuh dan pakaiannya saya, tetapi wajahnya meleleh. Saya benar-benar ketakutan melihat foto-foto itu. Saya sempat menunjukkan kepada kakak saya, tetapi karena terasa mengerikan saya mendelete semua foto-foto itu.

 

  1. KETUKAN DI DINDING HOTEL

 

Kisah yang ini dalam satu perjalanan liburan sama keluarga ke Bali. Kami memesan dua kamar, satu kamar saya dan yang lain kamar kakak saya. Kamar kami bersebelahan. Sampai di hotel saya tidak merasakan hal-hal yang aneh, apalagi bangunannya terlihat baru dan tidak menampakan suasana yang menakutkan. Saya langsung istirahat dan tertidur hingga jam 11 malam. Tiba-tiba kakak saya yang di kamar sebelah menelepon saya dengan marah-marah. “Nggak usah becanda, saya mau istirahat.” Lalu telepon ditutup. Becanda apa ya? Saya bingung, soalnya saya sedang tidur. Saya biarkan saja kakak saya, tiba-tiba dia mengetuk pintu. Saat saya membuka pintu kakak saya ngamuk karena katanya saya menganggu dia tidur. Menganggu apa sih? “Kamu ngetuk-ngetuk dinding berisik sekali.” Astaga aku tidur, masa ngetuk-ngetuk dinding. Coba cek kamar sebelah. Kamipun pergi ke kamar sebelah yang ternyata tidak ada tamu alias kosong.

Kakak saya mulai agak takut, tapi dia bukan tipe penakut. Dia balik lagi ke kamarnya dan tidur lagi. Tidak lama dia balik lagi ke kamar saya. Karena televisi mendadak nyala sangat keras sampai dia merasa terganggu, lalu televisi itu juga mati sendiri. Ia menyalakan murotal di handphone tetapi kemudian mati sendiri. Baiklah, kakak yang yang tidak penakut ini akhirnya menyerah dan tidur di kamar saya. Luar biasa memang penganggu iseng ini, saya menajamkan pendengaran ke kamar kakak, tetapi tidak mendengar suara apapun.

 

  1. WANITA BERAMBUT BOB DI DEPAN PIANO

Sewaktu di Moscow Rusia saya juga menginap di salah satu apartemen yang terletak di gedung tua. Setelah nyaris satu jam mencari alamatnya dengan menyeret koper ke sana kemari, akhirnya saya menemukan alamatnya, itupun dengan bantuan orang lokal. Mencari alamat di Rusia sangat sulit, karena meskipun nomor yang tertera sama, gedungnya bisa jadi beda.

Apartemen ini ada di lantai 4 tanpa lift dengan kondisi sedang direnovasi. Gedungnya jelas sudah sangat tua, itu terlihat dari bangunan lama yang masih tertinggal. Saya mengangkut koper saya naik ke lantai 4 dengan terseok-seok. Luar biasa, saya benar-benar kapok membawa koper ke Eropa. Beneran nih, mending ransel! Seorang wanita setengah tua mengantar kami ke apartemen dan dia tidak bisa berbahasa Inggris. Orangnya ramah dan baik, sayangnya kami susah berkomunikasi. Jadi semua hal hanya terjadi dalam bahasa isyarat.

Memiliki dua kamar yang besar, satu berdekatan dengan jendela ke jalanan besar di Moscow dan satu lagi ada pianonya. Saya memilih kamar yang ada jendela ke jalan besar. Di sisi lain ada dapur dengan ruang makan kecil dan kamar mandi yang auranya sungguh menakutkan. Kamar mandi itu bercat hijau dengan penerangan yang temaram, kalau lagi mandi dan lampu mati sudahlah, aku nggak tau lagi kondisinya kayak apa. Saya dan teman-teman agak takut memasuki kamar mandi. Tetapi ternyata kemunculan hal menakutkan itu bukan di kamar mandi melainkan di depan piano. Saat malam-malam saya ke kamar mandi, saya mendengar piano di kamar sebelah berbunyi lirih, saya pikir teman saya membunyikannya, ternyata seorang wanita berambut bob sedang duduk di depan piano. Entah siapa dia karena tidak ada teman saya yang berambut bob. Saya segera kabur ke kamar saya dan sembunyi dalam selimut. Suara piano itu lama kelamaan menghilang dan saya tertidur.

 

MY BOOKS & MOVIES

Webseries, 2019

Ini adalah jejak perjalanan saya dalam dunia tulis menulis. Saya jatuh cinta pada tulisan dan ingin terus menulis sampai akhir hayat saya….

 

Webseries, 2019
Serial Ramadhan, 2019

Movie First Media, 2015
Movie 2019
SitKom NetTV, 2016
Short Movie TransTV, 2010
Webseries, 2019
Serial Remaja TransTV, 2010
Travel Diary 2017, Penerbit Grasindo
Novel Anak 2009, Penebit Mitra Bocah Muslim
Novel 2010, Penerbit Lingkar Pena Publishing House
Cerita Anak 2009, Penerbit Mizan
Kumpulan Cerpen 2004, Penerbit Mizan
Novel 2006, Penerbit Mizan
Kumpulan Cerpen 2006, Penerbit Mizan

 

Novel 2003, Penerbit Gema Insani Press

 

RAMADHAN, KENANGAN, PANDEMI DAN ISOLASI

“Mengko bengi budhal ning mesjid sakdurunge isya’ yo….(nanti malam berangkat ke masjid sebelum isya’ ya…” suara teman masa kecil saya itu masih terdengar hingga saat ini. Waktu itu umur saya 8 tahun dan baru saja pindah dari kota kabupaten ke pegunungan, sebuah desa terpencil rumah nenek saya berada. Di desa yang belum ada listrik, belum ada aspal dan bertelanjang kaki saat ke sekolah itu, saya memang agak sulit menyesuaikan diri. Apalagi saya memang tipikal introvert. Tetapi teman-teman masa kecil saya bisa menerima saya dan membolehkan saya ikut main bersama. Main boneka, masak-masakan, gobak sodor, badminton dan ‘klacen’ (mandi) dan bermain di sungai waktu siang hari yang panas.  ‘Klacen’ ini yang biasanya menyulut amarah ibu sehingga saya dihukum. Saya dilarang mandi dan main di sungai karena takut mendadak banjir dan terbawa arus. Tetapi saya sering menyelinap pergi ke sungai saat Ibu tidur siang. Paling-paling waktu pulang sore harinya saya dijewer.

Ramadhan selalu menjadi moment istimewa di masa kecil saya. Bersama teman satu geng, kami mendirikan gubuk kecil di belakang rumah teman saya dan main masak-masakan. Tetapi kali ini main masak-masakannya dengan perlengkapan masak memasak sungguhan, beras sungguhan, daun singkong sungguhan, bubur kacang ijo sungguhan dan dimakannya juga sungguhan meski rasanya terkadang aneh tak terkira. Satu geng kecil itu semuanya puasa, meski ada juga yang hanya sampai beduk dhuhur seperti saya, tetapi setidaknya kami buka puasa bersama di gubuk dengan penerangan lampu minyak dan nyamuk yang luar biasa banyaknya ikut-ikutan buka puasa. Setelah buka puasa dengan menu super aneh itu, kami pulang menyiapkan diri untuk sholat tarawih. Begitu adzan isya’ kami bersama-sama ke masjid dengan penerangan daun kelapa kering yang diikat lalu dibakar ujungnya. Sampai masjid biasanya badan kami apek bau asap tetapi tidak mengurangi kegembiraan kami untuk terus cekikikan menggoda teman-teman yang sholat tarawih.

Usai tarawih, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Saya biasanya menunggu sisa bubur kacang ijo dan peyek yang dijual ibu sambil melihat keramaian orang-orang pulang tarawih. Ibu menjual bubur kacang ijo dan peyek setiap ramadhan agar bisa membelikan saya baju lebaran. Sebenarnya ibu memang selalu menyisakan untuk saya, tetapi biasanya saya menunggu ibu selesai berjualan untuk memakannya. Saya suka makan berdua dengan Ibu sebelum tidur.  Melihat ibu makan dalam diam, saya seperti ikut larut dalam pikiran-pikirannya. Kegemaran makan berdua ibu dan menyelami diamnya itu masih saya lakukan hingga saat ini.  Usai makan berdua, kami lalu tidur.  Baru tidur tiga jam, biasanya jalanan depan rumah kami ramai suara orang menabuh berbagai macam alat musik untuk membangunkan sahur. Sebenarnya kalau dipikir-pikir itu bukan membangunkan sahur tapi mengajak ribut tengah malam saking ramainya. Ada banyak group ronda dengan berbagai macam music yang dimainkan. Tapi saya suka sekali melihat pasukan ronda itu lewat. Saya selalu bangun jam 1 malam lalu mengintip pasukan ronda itu lewat jendela nako kamar saya hingga mereka lewat satu persatu dalam kegelapan. Seperti makhluk gaib, mereka berjalan seperti bayang-bayang dan hanya suaranya yang terdengar memekakkan telinga.

Ramadhan kali ini bagi saya juga sama spesialnya dengan ramadhan pada masa kecil saya. Jika orang lain merasa kesepian karena banyak hal-hal yang berbeda saat ramadhan ini, tetapi buat saya kebalikannya. Sudah bertahun-tahun saya menjalani ramadhan sendirian hanya bersama orang-orang di masjid dekat rumah saya, karena keluarga saya saat ramadhan selalu pulang kampung dan saya harus bekerja mengejar deadline tayangan ramadhan hingga menjelang Idul Fitri. Ujungnya saya tidak bisa merayakan ramadhan di kampung karena kehabisan tiket kereta atau pesawat. Jadi tahun-tahun sebelumnya saya lebih banyak menjalani puasa ramadhan sendirian dan Idul Fitri sendirian. Tetapi tahun ini berbeda. Karena tidak ada yang bisa pulang kampung saya jadi ada temannya. Salah satunya bisa mengulangi kegemaran saya makan berdua dengan ibu sambil menyelami pikiran-pikirannya saat beliau terdiam menikmati makanannya.

Hari ini adalah hari ke 17 kami menjalani ramadhan bersama. Juga sudah dua bulan dalam isolasi karena pandemic covid-19. Saya bertugas keluar rumah beberapa hari sekali untuk belanja ke tukang sayur dan minimarket dengan perlengkapan seolah mau perang setiap keluar rumah. Masker, cairan pencuci tangan, kacamata dan perasaan was-was setiap bertemu manusia lain.  Pulang dari belanjapun tidak main-main hebohnya. Saya selalu mencuci tangan dan kaki di depan rumah lalu masuk kamar mandi mengganti pakaian sekalian mandi, mencuci semua barang belanjaan, menyemprot kendaraan dengan desinfektan dan mengelap uang kembalian serta semua kartu yang ada di dompet dengan alcohol. Tinggal di daerah zona merah membuat kami selalu waspada dengan musuh yang tak terlihat itu. Ibu sudah berusia lanjut dan saya punya penyakit bawaaan, jadi kami harus lebih bersiaga. Tetapi alhamdulillah, sampai hari ini kondisi kami baik-baik saja. Memang sudah mulai didera sedikit stress dan stuck karena di rumah saja, tetapi setiap perasaan stress itu datang saya berusaha mengingat orang-orang yang tidak lebih beruntung dari saya sehingga bisa banyak dirumah saja.

Di luar sana banyak orang yang tetap harus bekerja karena mereka pekerja harian, lebih banyak lagi yang di PHK dan tidak bisa makan, dan cerita menyedihkan lainnya. Saya sendiri sudah tidak bekerja sejak pandemic karena semua syuting dihentikan. Saya masih menulis karena memang menulis sudah menjadi bagian hidup saya, tetapi proyek-proyek scenario yang mendatangkan penghasilan semua sudah dihentikan. Saya melihat di timeline social media, penerbit-penerbit juga mengurangi jumlah penerbitan buku mereka bahkan sebagian penulis mengeluhkan royaltinya. Saat-saat ini banyak sekali teman-teman yang kehilangan pekerjaannya. Tetapi dalam kondisi buruk ini, banyak juga hal baik yang tumbuh. Saya melihat solidaritas menyebar dimana-mana, orang-orang saling membantu satu sama lain, mengirim makanan satu sama lain dan peduli dengan penderitaan orang lain. Selalu ada hal baik dalam setiap kejadian. Saya percaya itu.

Saya menemukan satu tulisan bagus di media social yang judulnya “We are not in the same boat,” tentang renungan pandemic ini. Sang penulis yang tidak disebutkan namanya menuliskan tentang perjalanan banyak orang mengarungi badai pandemic. Semua orang mengarungi badai dengan caranya dan penderitaannya masing-masing tetapi tidak dalam satu perahu yang sama.  Ada yang memiliki keberuntungan bisa bekerja dari rumah, tetap digaji dan pandemic ini justru menjadi waktu yang berharga untuk berkumpul dengan keluarganya karena sebelumnya pekerjaan mereka sangat menyita waktu. Ada yang harus bertarung diluar rumah karena pekerja harian untuk menghidupi keluarganya. Ada yang tenggelam dalam kesepian yang menyakitkan karena dia hidup sendirian. Ada yang baru mengenali kebiasaan anak-anaknya karena selama ini hanya diurus oleh orang lain. Dan ada yang kehilangan keluarganya karena pandemic. Banyak hal terjadi pada orang-orang di sekeliling kita bahkan mungkin tanpa bisa kita lihat secara nyata. Bagi saya sendiri, saya menemukan banyak hal dalam diri saya pada masa pandemic ini. Saya menemukan kekuatan diri bertahan dari banyak depresi, saya lebih bisa menghargai waktu saya dengan keluarga saya dan saya mengambil kendali hidup saya sendiri setelah banyak dikendalikan orang lain secara emosional.

Apakah kita semua akan keluar sebagai pemenang setelah pandemic ini selesai? Semoga. Ramadhan dan pandemic ini membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. **

10 SUNGAI INI MENYUGUHKAN PANORAMA YANG MENARIK

Perjalanan bagi saya adalah waktu yang tepat untuk kontemplasi. Karena itu juga, saya tidak suka bersama banyak orang. Salah satu tempat yang selalu saya kunjungi selain kota tua adalah sungai.  Sungai menjadi saksi bisu bergulirnya sejarah di negara tersebut dan menjadi tempat yang asyik untuk duduk melamun saat senja. Berikut sungai yang pernah saya kunjungi di beberapa negara.

1. SUNGAI DANUBE BUDAPEST, HUNGARIA

Mengunjungi sungai Danube pada senja hari merupakan ide yang tepat. Saya sampai di Budapest pada malam sebelumnya naik bus dari Vienna Austria. Begitu sampai, saya  kebingungan saat hendak masuk ke gedung tua tempat saya menginap.  Hostel itu berada di lantai 4 gedung tua dengan pintu gerbang yang besar dan berat sampai saya tidak kuat mendorongnya. Seorang cowok lewat dan kasihan melihat saya kesulitan mendorong pintu. Dia membantu saya mendorong pintu dan menyelesaikan drama itu. Tetapi memang banyak drama saat di Budapest. Saya kesulitan mencari kartu transportasi sehingga memutuskan mengikuti google map untuk berjalan kaki sampai sungai. Untung dari hostel ke sungai tidak terlalu jauh. Justru saya menemukan banyak hal menarik sepanjang perjalanan dari hostel ke sungai seperti yang bisa saya kunjungi esok harinya.

Saya tiba di pinggir sungai tepat saat lampu-lampu kota yang berwarna kekuningan mulai menyala tetapi langit masih terang. Lampu yang diatur sedemikian artistik itu membuat bangunan-bangunan tua di sekitar sungai berubah keemasan. Salah satunya adalah gedung Parlemen Budapest yang menjadi tujuan wisata para turis. Beberapa operator cruise yang mengangkut turis tampak bolak balik menyusuri sungai. Mereka menikmati pemandangan senja dan bangunan-bangunan bersejarah di kota Buda dan Pest dari kapal. Sebagian penumpang melambaikan tangan ke arah turis yang duduk menikmati senja di tepi sungai.  Sungai Danube pada senja hari sangat cantik dan romantis.

Sungai Danube merupakan sungai panjang yang bersumber dari Jerman hingga Laut Hitam di Rumania.  Ada 10 negara yang dilewati sungai ini mulai dari Austria, Bulgaria, Kroasia, Jerman, Hungaria, Moldavia, Slowakia, Rumania, Ukraina dan Serbia. Sungai Danube membagi Budapest menjadi dua bagian yaitu kota Buda dan kota Pest.  Kota Pest terletak di dataran sebelah timur, merupakan pusat kota yang memiliki banyak pusat perbelanjaan dan kafe-kafe sementara kota Buda terletak di sebelah barat dengan kontur berbukit-bukit. Keduanya dihubungkan oleh 9 jembatan, salah satunya jembatan Chain yang terkenal dan menjadi tujuan wisata para turis. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat bangunan-bangunan tua cantik di kota Buda yang ada di seberang sungai.

Setelah duduk menikmati suasana Budapest dari pinggir sungai Danube sekitar tiga jam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar pinggir sungai ke arah jembatan Chain. Sebelum sampai di jembatan Chain, saya melewati Szechenyi Street. Tampak beberapa orang membawa bunga mawar dan meletakkan bunga mereka di atas sepatu besi yang ada di pinggir sungai.  Tempat itu adalah Shoes on The Danube Promenade, memorial untuk memeringati korban Holocaust, “Mengenang korban yang ditembak ke Sungai Danube oleh milisi Arrow Cross pada 1944-1945”. Instalasi yang terdiri dari 60 pasang sepatu dari besi dan di belakangnya terdapat bangku yang terbuat dari batu sepanjang 1.188 meter dengan tinggi 71 cm ini merupakan saksi salah satu momen terkelam di Budapest selama Perang Dunia II tepatnya pada musim dingin 1944-1945.  Ribuan orang Yahudi pada masa itu diikat bersamaan dan ditembak ditepi sungai. Jasad mereka dilemparkan ke Sungai Danube oleh Arrow Cross Party. Sungai Danube menjadi pemakaman Yahudi paling mengeringkan pada masa itu. Karena sepatu saat itu sangat berharga maka sebelum ditembak mereka dipaksa melepaskan sepatunya dan sepatu itu akan dijual ke pasar gelap oleh para eksekutornya. Memorial ini terbuka untuk dikunjungi para turis, terkadang juga kerabat para korban. Mereka meletakkan bunga, koin dan lilin di sana.

Malam semakin sepi saya melanjutkan perjalanan ke jembatan Chain yang masih ramai. Orang-orang duduk di pinggir sungai sekitar jembatan Chain menikmati malam. Sayapun bergabung untuk duduk di sana. Sungai Danube yang cantik dan romantis namun menyimpan tragedi kelam dari masa lalu ini sayang untuk dilewatkan jika anda ke Budapest.

2.SUNGAI SEINE PARIS, PRANCIS

Sungai Seine memang menjadi tujuan utama saya saat berkunjung ke Paris. Sebagai orang yang suka melamun di pinggir sungai, tempat ini tidak akan saya lewatkan. Sungai Seine tidak hanya menjadi ikon pariwisata di Paris tetapi juga menjadi inspirasi banyak seniman Prancis ; pematung, pelukis, filmmaker bahkan penulis dalam karya-karya mereka. Maka setelah seharian berjalan kaki menyusuri kota Paris yang super eksotis, saya turun ke trotoar tepi sungai Seine. Siapa tahu saya juga mendapatkan inspirasi seperti para seniman itu, meskipun kenyataannya saya malah terkagum-kagum dengan pemandangan sepanjang sungai sehingga tidak mendapatkan inspirasi apapun.

Sungai Seine membelah kota Paris menjadi dua bagian yaitu utara dan Selatan dengan panjang 776 kilometer dan memiliki puluhan jembatan yang bertengger diatasnya. Sebagai sungai terpanjang kedua di Perancis setelah Sungai Loire, pada awalnya Sungai Seine digunakan sebagai sarana transportasi dan pembuangan. Tetapi pada masa kini, sungai Seine menjadi salah satu cagar budaya UNESCO. Tidak hanya sebagai jalur lalu lintas komersial, sungai ini juga menjadi tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Selain Eiffel, sungai Seine merupakan ikon kota Paris. Di sepanjang pinggir sungai banyak turis, orang lokal yang duduk menikmati senja atau olahraga juga mereka yang bekerja di sungai.  Wisata yang ditawarkan adalah menyusuri sungai dengan naik cruise yang akan melewati ikon-ikon wisata di Paris. Jika menyisir dari arah timur menuju arah barat Sungai Seine, akan tampak puluhan situs yang terletak di kanan-kiri lembah Sungai Seine. Di lembah kiri sungai tampak berturut-turut la Grand Bibliotheque, Institut de Paris, Musee d’Orsay, hingga Menara Eiffel. Sementara, di sayap kanan sungai berdiri dengan megah bangunan yang lain dari Bercy, Hotel de Ville, Musee du Louvre, hingga Jardin Trocadero. Ada bermacam operator cruise di Paris seperti Batobos, Bateux Parisiens dan Vandettes du Pont Neuf.  Masing-masing bisa dipilih sesuai fasilitas yang ditawarkan dan kemampuan kantong kita. Ada cruise yang menawarkan tour biasa hanya keliling melihat wisata melalui sungai Seine, ada dinner tour hingga private tour. Saya memilih tour biasa menggunakan Vandettes du Pont Neuf dengan tiket yang bisa dibeli langsung di dermaga atau online di website. Saya memilih membeli langsung di dermaga.

Tepat menjelang matahari terbenam cruise yang saya naiki memulai perjalanan menyusuri sungai Seine. Saya memilih duduk di bagian atas kapal yang terbuka sehingga lebih leluasa mengambil foto. Tidak banyak turis yang naik cruise ini sehingga saya bebas memilih tempat duduk. Seorang wanita Asia berambut panjang dan cantik memandu perjalanan itu.  Matahari bersinar keemasan menerpa menara Eiffel sehigga terlihat sangat cantik dari sungai. Udara musim semi terasa dingin di tubuh tropis saya sehingga saya perlu merapatkan jaket. Jika anda ingin menyusuri sungai Seine ketika berlibur ke Paris, saya sarankan waktu sunset karena romantisnya kota Paris dan sungai Seine akan berpadu menciptakan keindahannya.

3.SUNGAI THAMES, INGGRIS

Menyusuri tepian sungai Thames selalu menjadi satu bundel kegiatan berwisata para turis seluruh dunia yang datang ke London, Inggris. Karena selain sangat populer, di sekitar sungai ini bisa dijumpai banyak ikon kota London seperti Big Ben, London Eye, dan Tower Bridge. Saya hanya memiliki waktu sebentar pada siang hari selepas mengunjungi Big Ben untuk menyusuri tepi sungai ini sehingga tidak sempat melamun lama-lama dan menunggu senja datang. Tetapi waktu sebentar itu saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Sungai Thames mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut sepanjang 356 kilometer.  Selain sebagai penyedia ikan bagi penduduk kota, sungai ini juga menjadi pensuplai air serta sarana transportasi. Meskipun dinobatkan sebagai sungai terbersih di dunia, tetapi pada masa lalu sungai ini pernah menjadi sungai mati karena limbah sampah dan manusia dengan polusi yang sangat tinggi. Kemudian pemerintah Inggris bekerja keras untuk mengatasi masalah polusi itu dengan berbagai proyek konservasi dan perbaikan sitem. Semua kerja keras itu menampakkan hasilnya hingga saat ini sungai Thames menjadi sungai bersih yang menjadi lokasi wisata turis dari berbagai belahan dunia.

Seperti di beberapa negara Eropa lainnya, banyak cara yang bisa dilakukan untuk menikmati sungai Thames mulai dari mengikuti tour cruise dengan berbagai jenis paket yang akan membawa turis ke berbagai ikon wisata seperti London Eye, Tower Bridge, Gedung Parlemen Kerajaan Inggris, Big Ben dan Gereja Katedral St. Paul. Atau bisa juga mampir di salah satu kafe-kafe pinggir sungai dan duduk di sana menikmati lalu lalang orang sambil memesan beberapa makanan kecil. Saya tidak memiliki waktu untuk keduanya sehingga hanya berdiri beberapa menit di pinggiran sungai sambil melihat lalu lalang orang di sekitaran Tower Bridge. Seorang penjual kacang almond tampak ramai dikerubungi turis dan saya ikut bergabung untuk membeli kacang almond dalam berbagai rasa itu. Begitu saya memegang kacang almond, merpati yang beterbangan di situ mendekat. Sayapun menikmati kacang almond bersama beberapa merpati sambil menunggu matahari tidak terlalu panas untuk meninggalkan tempat itu.

4.SUNGAI VLTAVA, PRAHA, REPUBLIK CEKO

Saya tiba di Praha pagi hari setelah nyasar-nyasar mencari apartemen tempat saya menginap yang ternyata jauh dari pusat kota dan ada di ujung blok. Pemilik apartemen itu, Miroslav, seorang cowok gondrong berwajah baik dan penuh senyum datang satu jam setelah saya menunggu dengan kaki kesemutan di depan gedung. Tetapi begitu memasuki apartemen semua rasa lelah itu terobati dengan kegugupan naik lift tua yang cara operasinya masih manual dan ruangan apartemen yang terasa wow sekali. Bagaimana tidak?  Apartemen itu cukup besar dan bagus. Bahkan Miro melengkapinya dengan beberapa bahan makanan gratis di kulkas, peta kota Praha dan konsultasi gratis lokasi-lokasi menarik yang harius saya kunjungi. Saya bebas memasak, mencuci dan melakukan apa saja layaknya di rumah sendiri selama tinggal di Praha. Meskipun lokasinya agak jauh dari tujuan wisata, tetapi berdekatan dengan mall yang disana saya bisa mendapatkan makanan dengan mudah.

Saya lupa menulis kota tua Praha di tulisan saya sebelumnya tentang Old Town padahal Praha adalah kota tua paling eksotis. Memasuki pusat kota Praha saya seperti memasuki  masa lalu. Nyaris semua bangunan tua masih berdiri dengan megahnya menjadi fokus pariwisata. Sebelum duduk di pinggir sungai Vltava, saya memutuskan untuk menjelajahi kota tua Praha dan memulainya dari Charles Bridge. Satu dari puluhan jembatan yang sangat terkenal dan menjadi tujuan utama para turis. Karena masih pagi, Charles Bridge belum ramai sehingga tenang untuk menikmatinya.  Charles Bridge merupakan jembatan bersejarah yang sudah berumur 8 abad dibangun pada masa pemerintahan Raja Charles IV. Jembatan ini membentang di atas sungai Vlatva ini menghubungkan dua kota di Praha yaitu Old Town dan Lesser Town. Sebelum menyeberangi jembatan, saya naik ke menara yang ada di gerbang jembatan untuk melihat kota Praha dari ketinggian. Di menara ini juga ada kisah sejarah masa lalu jembatan Charles.

Sekelompok pemuda memainkan musik di dekat pintu masuk jembatan Charles membuat suasana semakin romantis. Lampu-lampu antik dan patung bergaya Eropa klasik di sisi kiri dan kanan jembatan tampak sangat cantik saat diabadikan dengan kamera dengan latar kota tua. Saya merasakan aura eksotis dan mistis yang bersamaan. Kota ini benar-benar menjerat saya. Apalagi saat turun dari jembatan lalu mampir ke Praha Castle dan masuk ke salah satu library kafe di salah satu bangunan tua. Saya benar-benar terkesima dengan kecantikan kota ini. Endingnya, menjelang sore saya turun ke pinggir sungai Vltava.

Pinggiran sungai Vltava tempat saat menikmati suasana tampak masih natural dan tidak dibangun macam-macam. Ada beberapa bangku tua dan pohon-pohon meranggas di sekelilingnya. Burung-burung beterbangan bebas dan bebek-bebek liar berwarna hijau cantik berenang di sungai. Sungai Vltava merupakan sungai terpanjang di Republik Ceko, 430 km, yang mengalir ke tenggara di sepanjang hutan Bohemia dan kemudian ke utara melintasi Bohemia, melalui Cesky Krumlov, Ceske Budejovice dan Praha. Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat jembatan Charles yang melintang dengan patung-patung Baroque yang menghiasinya. Sungai Vltava juga menjadi tempat berkumpul penduduk lokal yang melakukan aktivitas seperti berjualan di pasar loak, melakukan olahraga dan masih banyak lagi. Saya ingin menunggu senja di tepi sungai Vltava, tetapi matahari terbenam baru pukul 10 malam, jadi saya memutuskan meninggalkan pinggir sungai Vltava dan kembali ke apartemen. Untuk anda yang menyukai hal-hal klasik seperti saya, Praha jangan dilewatkan.

5.SUNGAI NEVA, SANK PETERSBURG, RUSIA

Saya tiba di Sank Petersburg setelah semalaman naik kereta dari Moscow. Di kota ini banyak tempat yang saya rencanakan untuk dikunjungi salah satunya sungai Neva. Tetapi saya terdampar di tepi sungai Neva karena nyasar mencari makan malam. Setelah mengunjungi salah satu gereja kuno dan salah belok saat di pertigaan, saya malah tiba di lokasi antah berantah. Berharap menemukan mall tetapi malah tiba di pinggir jalan besar bebas hambatan. Setelah mencari penyeberangan yang ternyata jauh sekali, akhirnya saya tiba di tepi sungai Neva. Pada suhu 9 derajat dan malam yang sangat sepi, sungai Neva mengalir tenang. Hanya ada satu orang lokal sedang memancing saat saya tiba. Sungai Neva melintasi Sank Petersburg dan bermuara di Teluk Finlandia. Meskipun panjangnya hanya 74 km, tetapi sungai Neva merupakan salah satu sungai yang memiliki volume air terbesar di Eropa. Sungai Neva menghubungkan Danau Ladoga yang merupakan danau terbesar di Eropa dengan Laut Baltik.

Menikmati malam yang dingin di tepi sungai Neva pada sisi jalan bebas hambatan terasa sangat privat karena hanya berteman seorang pemancing lokal. Di seberang sungai tampak gedung-gedung megah menjulang dengan lampu yang menyala gemerlapan. Saya berpikir mungkin di sana ada mall dengan foodcourt didalamnya sehingga saya bisa makan malam. Tetapi rasanya sayang melewatkan duduk melamun di pinggir Sungai Neva karena saya khawatir besok tidak memiliki waktu lagi. Maka saya memutuskan untuk turun ke pinggir sungai melalui undakan semen yang tertata rapi dan duduk di salah satu bangku semen yang memang disiapkan untuk orang yang bersantai di sana. Beberapa kapal melintas membawa muatan. Sungai Neva memang selama berabad-abad menjadi sarana transportasi yang penting antara Rusia, Swedia, Finlandia dan Baltik hingga pernah terjadi peperangan di tepi sungai ini. Neva juga menjadi cikal bakal lahirnya kota Sank Petersburg.

Seperti di negara Eropa lainnya, banyak kapal wisata yang lalu lalang menyusuri sungai Neva. Semua tempat wisata di Sank Petersburg seperti Benteng  Peter dan Paul, Istana Musim Dingin, Penunggang Kuda Perunggu, Taman Musim Panas, Biara Alexander Nevsky, Katedral Smolny, Istana Marmer dan banyak lagi bisa dijangkau melalui sungai karena lokasinya dekat dengan sungai. Sehingga kapal wisata yang menyusuri sungai bisa berhenti untuk menurunkan turis di tempat wisata yang ingin mereka kunjungi. Tetapi dari semua tempat wisata itu, bagi saya Sungai Neva menjadi daya tarik tersendiri yang menyimpan sejarah masa lalu.  Jam menunjukkan pukul 9 malam saat saya berjalan terus menyusuri sepanjang sisi sungai Neva namun tidak juga menemukan mal. Akhirnya saya memesan taksi online yang kemudian mengantar saya ke Galeria Mal yang ternyata posisinya ada di sebelah apartemen tempat saya menginap. Untung di Galeria Mal saya bertemu mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kemudian memberi masukan agar tidak nyaasar-nyasar lagi. Tetapi kesulitan membaca peta itu ada baiknya karena ketemu hal-hal tak terduga yang menyenangkan saat perjalanan.

6.SUNGAI VOLKHOV, VELIKY NOVGOROD, RUSIA

Setelah naik bus 4 umum jam dari Sank Petersburg, saya sampai di kota Veliky Novgorod. Kota kecil yang menjadi cikal bakalnya Rusia. Apartemen yang saya sewa berada di dekat Kremlin (Benteng) yang menjadi tujuan wisata sehingga hanya perlu berjalan kaki untuk memasuki Kremlin. Tetapi kota Veliky Novgorod memang kecil dan sebenarnya bisa dikelilingi dengan berjalan kaki untuk mengunjungi kawasan wisatanya. Menikmati sungai pada senja hari sepertinya tidak mungkin dengan suhu bulan November yang sangat dingin, bahkan saat saya tiba di apartemen pukul 5 sore saja sudah tidak berani keluar karena hujan dan dinginnya luar biasa.

Maka saya mengunjungi Sungai Volkhov pada esok harinya. Itupun saat matahari tepat diatas kepala dan saya masih saja menggigil kedinginan. Setelah memasuki Kremlin dan mengunjungi situs-situs bersejarah di dalam Kremlin, saya menyeberangi jembatan yang berada tepat di atas sungai Volkhov. Banyak orang menikmati siang di pinggiran sungai bersama keluarganya dan memberi makan merpati yang beterbangan di sekitar situ. Di ujung jembatan ada kapal yang digunakan sebagai restoran dan bangku-bangku yang bisa digunakan untuk duduk menikmati ponorama sungai.

Sungai Volkhov memiliki panjang 224 km dan menghubungkan Danau Ilmen dan Danau Ladoga. Kota Veliky Novgorod terletak di sepanjang aliran sungai ini. Meskipun hanya kecil tetapi sungai ini memiliki peran yang sangat strategis sebagai transportasi perdagangan pada abad pertengahan.  Sungai Volkhov merupakan satu-satunya sungai yang menembus jauh ke pedalaman Rusia menuju Baltik. Di sekitar sungai ini masih berupa hutan kecil dengan banyak pohon menjulang.  Andai saja suhu dan cuaca bersahabat, sangat menyenangkan duduk-duduk menikmati senja di tepiannya ditemani burung-burung kecil yang jinak bersarang di pohon-pohon rendah. Tetapi meskipun kedinginan, musim gugur sangat cantik karena daun-daun merah beterbangan di sekeliling sungai. Pada senja harinya saat saya pulang dari pasar dan melewati sungai melalui jembatan diatasnya, saya melihat langit kemerahan dan orang-orang duduk di tepi sungai. Tetapi saya tidak sanggup melakukan itu karena udara semakin dingin. Mungkin saya akan kembali ke pinggir sungai Volkhov pada musim panas yang lain, semoga saja saya bisa kembali untuk menikmatinya.

7.SUNGAI CHEONGGYECHEON, SEOUL, KOREA SELATAN

Tempat favorit saya di Seoul, selain Taman Nasional Gunung Seoraksan, rumah-rumah tradisional di Jeonju, yaitu sungai Cheonggyecheon. Selama di Seoul saya mengunjungi sungai ini setiap sore hingga malam hanya untuk duduk menikmati suasana dan memandangi lalu lalang orang sambil mencelupkan kaki ke airnya yang sejuk. Orang-orang mengenal sungai Han sebagai sungai utama di Korea Selatan tetapi sungai Cheonggyecheon ini menjadi tujuan turis yang datang ke Seoul.  Siang sampai malam selalu ramai. Tetapi bagusnya berkunjung senja sampai malam karena tidak panas dan sering ada festival atau atraksi-atraksi gratis di sekitarnya. Saya sempat menonton festival musik gratis di dekat sungai ini waktu berkunjung ke sana.

Sungai Cheonggyecheon memang bukan sungai sebenarnya. Sungai ini adalah sungai buatan yang mengalir di tengah kota, diantara gedung-gedung tinggi. Melalui proses yang panjang akhirnya sungai ini menjadi primadona wisata Seoul. Tak hanya menjadi ruang publik yang menarik untuk berjalan kaki atau duduk menikmati kota, tetapi aliran sungai ini juga menjadi bukti bahwa suasana desa dengan gemericik air dan tumbuh-tumbuhan bisa dihadirkan di tengah gemerlap metropolitan.  Di sekeliling sungai ini juga banyak restoran dan kafe sehingga kita bisa duduk menikmati makanan sambil memandang aliran sungai. Jika malam hari dan kita turun ke bawah, kita bisa menyeberangi sungai melalui batu-batu yang sudah ditata sedemikian rupa. Di ujung sungai tampak patung dengan air mancur dan cekungan besar yang digunakan para turis dan orang lokal untuk melempar koin. Sepertinya itu koin keberuntungan. Saya menyusuri sepanjang sisi sungai dan menemukan beberapa penjual makanan dan pelukis foto.  Di tempat yang lumayan sepi saya duduk dan mencelupkan kaki ke air yang sejuk. Seketika kaki yang pegal karena menjelajah seharian hilang. Apalagi sambil menikmati es krim. Sungai Cheonggyecheon selalu akan menjadi tempat favorit saya ketika kembali ke Seoul.

8. SUNGAI CHAO PHRAYA, BANGKOK, THAILAND

Mengunjungi Bangkok tanpa menyusuri sungai Chao Phraya itu rasanya pasti ada yang kurang karena sungai Chao Phraya mengalir di hampir seluruh kota Thailand. Sungai dengan panjang 372 km ini mengalir dari Bangkok dan bermuara di Teluk Thailand.  Hari terakhir di Bangkok sambil menunggu penerbangan malam, saya berjalan kaki menyusuri trotoar dan sampailah di tepi sungai Chao Phraya. Jadi tidak ada rencana untuk duduk-duduk manis melamun di tepi sungai seperti di kota lain karena waktu perjalanan saya kali itu sangat sempit.  Tapi karena di depan saya ada dermaga maka saya belok saja dan memesan tiket untuk naik boat keliling sungai. Pemandangan tetap cantik meskipun siang bolong dan panas, saya membayangkan pada waktu senja pasti lebih cantik lagi.

Sungai Chao Phraya merupakan pertemuan 4 sungai kecil yaitu sungai Ping, Wang, Nan dan Yom. Selain berfungsi sebagai sarana transportasi yang sangat penting, sungai ini juga berfungsi untuk irigasi dan pasar terapung. Dari sungai ini kita juga bisa melihat ikon wisata Bangkok seperti Wat Arun, Grand Palace, kawasan belanja Asiatique dan hotel-hotel mewah yang berjajar di tepi sungai. Karena memilih tiket paling murah maka saya hanya sekali jalan dan turun pada dermaga berikutnya. Saya benar-benar tidak puas dengan perjalanan ini dan berharap bisa mengulangnya. Karena menurut saya menyurusi Bangkok melalui sungai Chao Phraya adalah cara terbaik untuk mengenali kota ini. Apalagi saya belum mendapatkan sunsetnya. Saya akan kembali suatu saat nanti jika ada kesempatan.

9. SUNGAI MEKONG, PHNOM PENH, KAMBOJA

Terletak di tepi sungai Mekong Phnom Penh memiliki banyak tempat menarik untuk di ekplore salah satunya sungai Mekong itu sendiri yang tepiannya menjadi tempat publik berjalan kaki, duduk menikmati senja dan pedagang asongan berjualan. Sungai ini tepat berada di tengah kota, dekat dengan taman di depan Royal Palace dan deretan restoran serta hotel di sepanjang sisi yang lainnya. Saya menikmati sungai Mekong Phnom Penh pada senja hari tepat sebelum matahari terbenam.  Sedang asyik melamun membayangkan naik kapal menyusuri sungai terpanjang di Asia ini, seorang penjual cemilan Kamboja sebangsa jangkrik, kalajengking, kecoa dan belalang lewat di dekat saya menawarkan dagangannya. Pada masa kecil ketika saya tinggal di desa, tetangga juga banyak makan belalang dan jangkrik tetapi bukan kecoa dan kalajengking. Saya tidak membeli tetapi jika ingin memotret saya harus membeli dulu. Akhirnya saya beringsut ke sisi yang lain berpapasan dengan para biksu yang sedang lewat dan berhenti di dekat penjual balon yang dikerubungi anak-anak.

Dengan panjang 4200 km, sumber aliran sungai Mekong dari dataran tinggi Tibet Cina yang kemudian melintasi Kamboja bagian utara hingga selatan dan melewati Phnom Penh. Sebenarnya selain duduk melihat sungai yang mengalir tenang itu ada cara lain untuk menikmati sungai Mekong yaitu dengan menyewa kapal dan menyusuri sepanjang sungai. Dengan kapal ini wisatawan juga bisa mampir ke ikon-ikon wisata di Phnom Penh. Tetapi selain mahal, saya lebih suka menikmati sungai ini dengan bergabung bersama orang-orang lokal dan pedagang asongan yang sibuk menawarkan dagangannya. Sementara untuk mengunjungi ikon-ikon wisata itu saya menggunakan tuk-tuk. Hampir jam 7 malam ketika saya meninggalkan pinggir sungai Mekong dan berjalan menuju hostel bersama beberapa biksu yang juga berjalan dengan arah yang sama. Setiap kota selalu menarik untuk di ekplore dengan semua kekayaan khasnya, saya menyukai keramaian orang-orang lokal yang menunggu matahari terbenang di pinggir sungai Mekong Phnom Penh.

 10. SUNGAI KAMOGAWA, KYOTO, JEPANG

 Kyoto menyuguhkan wisata klasik yang diburu para pemuja eksotisme seperti saya. Selain bangunan-bangunan tua peninggalan bersejarah dari zaman Edo di Gion district, kuil Kiyomizudera,  Fushimi Inari Taisha, hutan bambu Arashiyama, kuil Nijo, pasar Nishiki juga ada satu sungai yang menarik untuk disusuri tepiannya yaitu sungai Kamogawa.  Setelah menyusuri Gion dan mencari makanan di Pasar Nishiki, saya berjalan terus menyusuri trotoar yang disampingnya banyak restoran dan toko-toko hingga kemudian saya menemukan sungai Kamogawa. Sungai Kamogawa adalah sungai utama yang membelah Kyoto menjadi dua bagian yaitu barat dan timur. Untuk menikmati sungai ini kita bisa berjalan kaki atau bersepeda menyusuri sepanjang sisinya. Saat senja banyak turis dan orang-orang lokal mengenakan pakaian tradisional Jepang Kimono berjalan menyusuri tepian sungai ini sementara sebagaian yang lain duduk di pinggir sungai menikmati senja. Di sepanjang sungai ini juga nampak berjejer rumah-rumah penduduk dengan nuansa khas Kyoto. Karena lokasinya yang masih banyak pohon dan seperti hutan kecil, saat menyusuri sungai Kamogawa, kadang kita akan berjumpa hewan-hewan yang belum pernah kita jumpai sebelumnya.

Sumber air sungai Kamogawa berasal dari gunung Sajikigatake yang berada di sisi utara Kyoto dan mengalir hingga ke Teluk Osaka. Karena berasal dari pegunungan air sungai ini jernih dan lingkungan sekitarnya juga masih natural. Kita bisa menikmati sungai Kamogawa tanpa halangan gedung-gedung tinggi pencakar langit. Bahkan duduk di dekat sungai ini seperti berada di kawasan pegunungan yang sejuk dan asri. Kata seorang teman, pada malam hari sungai ini juga ramai dikunjungi penduduk lokal dan turis. Mereka duduk di sepanjang sungai untuk menikmati malam sambil memandang lampu-lampu dari jembatan yang memantul gemerlapan ke permukaan air.  Sungai yang masih alami ini sangat menarik untuk disusuri saat anda berkunjung ke Kyoto. (*)

10 KOTA TUA CANTIK INI LAYAK ANDA KUNJUNGI

Saya menyukai hal-hal berbau klasik dan eksotis. Begitu juga saat traveling. Tempat yang tidak akan saya lewatkan adalah mengunjungi kota tua (OLD TOWN) di setiap negara yang saya lewati. Karena bangunan-bangunan lawas eksotis itu akan bicara banyak hal sekaligus mengajarkan nilai-nilai tertentu pada saya. Jika bangunan-bangunan lawas itu masih berdiri megah hingga saat ini, ada dua hal yang saya kagumi. Pendirinya ratusan tahun yang lalu sekaligus mereka yang berusaha menjaga kelestariannya hingga saat ini. Tidak mudah melestarikan sebuah peninggalan bersejarah berupa bangunan, kenyataannya di negara saya sendiri kebanyakan sudah tinggal puing-puing. Maka, berikut 10 kota tua cantik di dunia yang pernah saya kunjungi dan saya sarankan untuk anda kunjungi jika kebetulan anda lewat di negara tersebut.

1. KOTA TUA EDINBURGH (EDINBURGH OLD TOWN)

Saya tiba di Edinburgh pagi hari setelah naik bus semalaman dari London. Begitu keluar terminal bus, udara dingin 9 derajat sudah menunggu. Tetapi tidak hanya itu yang menunggu saya, begitu kaki menapak trotoar, bangunan-bangunan masa lalu yang yang sangat indah dan sudah berumur seabad lebih menjulang di mana-mana. Seperti time traveler ke masa lalu atau jika anda penggemar serial Harry Potter maka anda akan merasa hidup satu tempat dengan penyihir berwajah imut itu. Hanya saja orang-orang yang melintas di jalanan menggunakan jaket tebal, sepatu boots, bukan pakaian seabad lalu yang penuh renda-renda.  Sayapun melanjutkan berjalan kaki menyusuri Princess street menuju hostel yang sudah saya pesan. Ternyata hostel yang saya pesan tepat berada di tengah kota tua Edinburgh, bahkan keluar sedikit dari pintunya sudah sampai Royal Mile.

Apa itu Royal Mile? Royal Mile adalah sebuah kawasan yang menjadi  jantung kota tua Edinburgh. Di jalanan ini banyak bangunan bersejarah yang bisa kunjungi para turis seperti Kastil Edinburgh (Edinburgh castle), Holyrood Palace, museum nasional Skotlandia, St. Gilles Katedral. Museum penulis, pasar tradisional, gedung parlemen Skotlandia dan Universitas Edinburgh. Oh ya, jika anda penggemar Harry Potter, di kota tua inilah penulisnya JK. Rowling menuliskan bab-bab awal Harry Potter di salah satu kafe bernama The Elephant House yang kemudian menjadi sangat terkenal untuk dikunjungi turis dari seluruh dunia. Saya sengaja menikmati kopi di kafe ini di meja dekat tempat JK. Rowling menulis yang menghadap ke jendela terbuka dengan pemandangan Kastil Edinburgh.  Tak hanya kafe yang menjadi jejak Harry Potter, tapi juga Victoria Street yang menjadi inspirasi JK.Rowling untuk menciptakan Diagon Alley. Di sini juga ada toko souvenir antik seperti The Boys Wizard yang menjual barang-barang sihirnya Harry Potter. Selain bangunan-bangunan bersejarah itu. Edinburgh juga menjadi rumah bagi para penemu besar di dunia seperti David Hume, Adam Smith dan Robert Burns yang direpresentasikan dengan patung-patung mereka di setiap sisi jalan.

Jalanan Royal Mile juga menyediakan atraksi-atraksi menarik seperti festival dan pertunjukan pada waktu-waktu tertentu. Jika anda ingin menyusuri kota tua lebih mendalam, banyak tersedia paket tour berbayar ataupun gratis.  Ada banyak tour gratis berjalan kaki mengelilingi kota tua bersama banyak turis dengan titik kumpul di satu tempat yang dipandu guide orang lokal. Biasanya peserta akan memberi tips sukarela kepada guide lokal tersebut. Bahkan pada malam hari ada paket tour mengunjungi tempat-tempat berhantu. Dan jangan kuatir, jika anda lelah atau lapar banyak restoran di sisi jalanan Royal Mile dan kafe-kafe cantik. Bahkan restoran bertulisan halal di pintunya juga ada jika anda muslim.  Toko-toko yang menjual pakaian khas Skotlandia dan penjual makanan khas Skotlandia juga tersedia di sepanjang jalan ini. Dan pada senja harinya, anda bisa menikmati matahari terbenam dari Calton Hill. Dari ketinggian yang bisa dijangkau dengan jalan kaki dari pusat kota ini, anda bisa melihat keseluruhan kota Edinburgh yang seperti di negeri dongeng tersapu sinar matahari keemasan. Saya yakin anda tak mau melewatkan kota tua yang sangat cantik ini jika berkunjung ke Britania Raya.

2. KOTA TUA GENEVA (GENEVA OLD TOWN)

Orang-orang pergi ke Switzerland atau Swiss biasanya untuk menikmati panorama alam yang luar biasa cantiknya seperti ke Luzern, Lauterbrunnen, Grindelwald, Interlaken dan banyak yang lainnya, tetapi saya malah datang ke Geneva.  Selain danau yang cantik dengan bebek-bebek berenang di dalamnya, kota ini memanjakan pejalan kaki dengan trotoar yang luas dan nyaman. Jika anda tinggal di hostel ataupun hotel akan mendapat kartu transportasi gratis selama di Geneva karena memang transportasi umum di Geneva gratis. Jadi anda bisa keliling kota sepuasnya naik tram dan bus tanpa membayar. Selain gedung PBB Geneva yang ingin saya kunjungi disini, tentu saja kota tua Geneva.

Mengunjungi kota tua Geneva pada senja hari bukanlah waktu yang tepat. Tapi saya membayangkan keliling kota tua pada waktu senja bakal mengasyikkan. Kenyataanny memasuki waktu senja kota sudah mulai sepi nyaris seperti mati. Tetapi kota tua Geneva sangat menarik untuk dijelajahi meskipun hanya kecil saja. Perancis menyebut kota tua Geneva sebagai Vieille Ville yang merupakan kawasan kecil berbentuk bujur sangkar yang didalamnya terdapat bangunan-bangunan lawas yang digunakan sebagai kafe-kafe cantik dan artistik, restoran (Cafe De Ville), galleri, museum sejarah Geneva (Maison Tavel), tempat bersejarah yang menjadi hotel terkenal yaitu Hotel de Ville dan Katedral St. Peter (St.Peter’s Cathedral).  Di tempat ini kita juga diajak kembali ke Geneva ratusan tahun lalu. Jika waktunya tepat kita bisa menikmati festival l’Escalaude yang hanya ada dua tahun sekali. Tapi saat saya ke sana sedang tidak ada festival.

Di sekitar kota tua Geneva terdapat mall, tempat makan dan pendestrian yang banyak dikunjungi turis. Tetapi karena saya ke sana sore maka semua tempat sudah tutup. Bahkan kota sudah sangat sepi. Meskipun tidak banyak yang bisa saya ekplore tetapi kota tua Geneva menjadi salah satu kota tua yang sangat menarik untuk dikunjungi.

3. KOTA TUA KYOTO (KYOTO OLD TOWN)

Selain tempat kelahiran Doraemon, Jepang menyimpan kekayaan zaman kekaisaran Edo yang masih dilestarikan di banyak Prefektur di Jepang. Salah satu tempat yang masih menyimpan eksotisme masa lalu itu adalah Kyoto. Saya tiba di Kyoto setelah semalaman naik bus dari Tokyo. Berbeda jauh dengan Tokyo yang hingar bingar dengan hal-hal modern, Kyoto sangat tenang dan penuh keindahan masa lalu.

Saya menjelajahi Kyoto dari Kiyomizudera temple yang sudah berumur lebih dari seribu tahun. Dibangun dari kayu yang tidak lapuk dengan jalanan yang menanjak dengan taman-taman di pinggirannya yang sangat cantik. Lalu mengunjungi Sogano Bamboo Forest yang didalamnya terdapat kuil Tenryu, kuil Zen terbesar di Jepang dan Fushimi Inaro Taisha, lorong panjang dengan deretan torri (dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal berwarna oranye).  Dan sorenya saya mengunjungi Gion district. Disinilah sebenarnya old town itu karena deretan rumah-rumah kuno peninggalan kekaisaran Edo banyak terdapat disini berjajar dan masih digunakan sebagai tempat tinggal, tempat minum teh, penginapan bahkan rumah tinggal. Keaslian rumah-rumah kuno itu masih terjaga hingga saat ini. Di district ini kita juga bisa bertemu Geisha yang bekerja di rumah-rumah minum teh untuk memainkan kesenian tradisional Jepang. Meskipun hanya district kecil saja, tetapi tempat ini sangat menarik dikunjungi pecinta kota tua.

4. KOTA TUA TAKAYAMA (TAKAYAMA OLD TOWN)

Takayama berada di Prefektur Gifu, yang dikelilingi oleh pegunungan. Bisa disebut sebagai pedesaan Jepang meskipun kenyataanya Takayama tidak seperti desa yang saya bayangkan.  Lebih mirip kota kecil yang penghuninya kebanyakan manula dan ketika bulan Mei saya berkunjung udaranya sangat panas. Memang alam pedesaan dalam mimpi saya hanya ada di Shirakawa Go yang terletak diantara pegunungan, banyak tanaman dan bunga-bunga liar yang indah juga sungai-sungai yang jernih. Dan tujuan saya ke Takayama memang awalnya ke Shirakawa Go. Tapi ternyata di Takayama ada Old Town yang terletak di jalan Sannomachi yang kawasannya lebih luas dari Gion Kyoto.

Selama periode Edo, Takayama dipertahankan sebagai kota budaya dan dagang. Di sepanjang jalan Sannomachi ini kita bisa melihat budaya periode Edo yang masih dipertahankan. Tampak bangunan-bangunan lawas dari kayu yang digunakan sebagai kafe, restoran, toko souvenir, tempat penginapan khas Jepang yang dinamakan Ryokan juga sebagai tempat tinggal. Ada rumah pembuatan sake yang bisa dikunjungi dan dicicipi juga sake-nya dengan gratis. Jika anda penggemar nuansa eksotis kekaisaran Edo, anda tak akan melewatkan jalan Sannomachi di Takayama.

 5. KOTA TUA PHUKET (PHUKET OLD TOWN)

Sebagian besar turis yang berkunjung ke Phuket ingin menikmati pantai, tetapi saya malah menginap di dekat kota tua Phuket. Kota tua Phuket lumayan luas untuk dijelajahi. Dan sebaiknya menjelajah dengan berjalan kaki. Karena sepanjang menyusuri trotoar kota tua, kita akan menemukan banyak bangunan antik dan eksotis yang sayang untuk dilewatkan jika kita naik mobil. Bisa juga menggunakan tuk-tuk tetapi jalanan hanya satu arah, jadi kemungkinan akan memutar dan kembali ke jalanan semula.

Bangunan-bangunan lawas bergaya Portugis menjadi saksi pengaruh Eropa di kota Phuket sekitar abad 16 hingga 18. Kota ini memang mengundang kedatangan kaum kolonial dengan kekayaan timah yang dimilikinya sebagai komoditi yang sangat mahal. Sementara para pekerjanya datang dari Cina sehingga bangunan sehingga ada nuansa Cina yang warna-warni di bangunan-bangunan lawas itu.

Saat ini bangunan-bangunan lawas itu digunakan sebagai kafe, restoran, penginapan bahkan tempat tinggal. Arsitekturnya masih dipertahankan sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi turis untuk mengunjunginya. Jika anda muslim dan mencari makanan halal, jangan kuatir. Ada beberapa restoran Malaysia yang menyediakan makanan halal di jalanan kota tua ini. Phuket Old Town jangan sampai anda lewatkan kalau anda berkunjung ke Phuket.

6. KOTA TUA CHIANG MAI (CHIANG MAI OLD TOWN)

Satu kota tua lagi di Thailand yang pernah saya kunjungi adalah Chiang Mai Old Town. Chiang Mai dengan sebutan “Mawar dari Utara” merupakan satu kota cantik yang berada di Thailand bagian utara. Berada di dataran tinggi, Chiang Mai memiliki suhu lebih dingin di banding Phuket atau Bangkok. Dan memasuki Chiang Mai seperti memasuki kota seribu candi karena ada ratusan candi di dalamnya yang sangat menarik untuk di jelajahi.

Kota tua Chiang Mai sendiri merupakan kawasan bujur sangkar yang di dalamnya terdapat rumah-rumah peninggalan masa lalu dan candi-candi yang dibangun ratusan tahun lalu. Kawasan bujur sangkar ini merupakan peninggalan kerajaan Lanna kuno yang menjadi cikal bakalnya bangsa Thailand.  Di kelilingi oleh parit dan tembok yang sebagian telah menjadi puing di beberapa sisi dan tidak diperbolehkan ada bangunan baru di dalam kawasan bujur sangkar ini. Jadi di dalam kawasan kota tua ini hanya ada rumah-rumah masa lalu yang masih dijaga kelestariannya dan candi-candi.

Pada akhir pekan, di dalam kota kuno ini ada pasar malam yang sangat ramai. Posisi pasar malam ini juga berada di sepanjang jalur kota tua. Berbagai souvenir dan makanan khas Chiang Mai ada di sini. Bahkan ada pertunjukan seni yang bisa dinikmati.

7. KOTA TUA HOI AN (HOI AN OLD TOWN)

Kota tua Hoi An berada di Vietnam sekitar satu jam dari kota Da Nang. Jika anda naik pesawat, dari bandara Da Nang perlu sekitar satu jam untuk sampai kota tua Hoi’an. Ini salah satu kota tua favoritku bahkan saya pengen bulan madu ke sini suatu saat nanti. Saya tiba di Hoi An sekitar jam 7 malam, naik taksi dari bandara Da Nang. Tetapi harus hati-hati kalau memilih taksi, gunakan taksi yang benar-benar direkomendasikan sehingga tidak tertipu dengan argo kuda.

Kota tua Hoi An sangat romantis pada malam hari karena seluruh lampu yang menyala di kota ini berbentuk lampion-lampion yang sangat cantik.  Di tengah kota tua kecil ini ada sungai yang mengalir tenang dan perahu-perahu dengan hiasan lampion cantik hilir mudik membawa pasangan-pasangan melintasi sungai sambil menikmati malam. Tidak hanya lampu-lampu itu, tetapi bangunan-bangunan lawas dan jalanan sempit di Hoi An berusia ribuan tahun dengan arsitektur perpaduan gaya lokal dengan pengaruh Jepang dan Tiongkok sangat menarik untuk dijelajahi.  Hoi An merupakan salah satu World Heritage Site kategori pelabuhan dagang Asia Tenggara abad ke 15 hingga 19 yang masih terawat dengan baik hingga saat ini.

Bangunan-bangunan lawas ini digunakan sebagai rumah tinggal, hotel, restoran, kafe-kafe cantik, toko-toko baju dan souvenir serta tempat pertunjukan seni. Hanya saja jika anda berkunjung siang hari situasinya tidak semenarik malam hari dan sangat panas karena kota pelabuhan. Sementara pada malam hari, semua tempat ini akan tutup tepat jam 9 malam. Saya sebenarnya ingin menghabiskan malam nongkrong di kafe sambil menikmati lampu-lampu lampion yang cantik, tetapi tepat jam 9 malam kafe-kafe ini sudah tutup, listrik dimatikan dan kondisi jadi sangat sepi seperti kota mati. Tapi meski begitu, Hoi An tetap salah satu kota favorit saya.

 8. KOTA TUA SHANGHAI (SHANGHAI OLD TOWN)

Shanghai Cina sebenarnya kota metropolis yang sangat gemerlap. Tapi di sini kita bisa menemukan Old Street yang menyuguhkan nuansa masa lalu Cina. Begitu memasuki jalanan ini, kita akan melihat kuil dan Vihara yang membawa kita ke masa lalu Cina. Di kawasan ini kita juga bisa menemukan taman terkenal di Shanghai yang bernama Yuyuan Garden, sebuah taman yang dibangun poada masa Dinasti Ming sekitar tahun 1559. Dengan kolam yang cantik dan bangunan lawas yang eksotis, taman ini menjadi incaran para turis saat mengunjungi Shanghai. Tidak hanya Yuyuan Garden, di tempat ini banyak bangunan tua yang digunakan sebagai tempat berjualan souvenir dan makanan khas Cina. Bahkan di sekitar tempat ini juga ada masjid dan kuil. Sebaiknya jika ingin mampir ke tempat ini jangan  musim liburan karena akan sangat penuh turis dan anda tidak akan bisa menikmatinya. Saya sendiri berkunjung ke sana saat turun hujan, jadi meski kurang nyaman ada hal menarik lainnya yaitu melihat air hujan menimpa kolam cantik di taman Yuyuan membuat saya time travel ke abad-abad saat taman itu dibuat. Tempat ini sangat menarik dan rekomended untuk dikunjungi saat anda berada di Shanghai.

 9. KOTA TUA XI’AN (XI’AN OLD TOWN)

Tujuan utama saya ke Xi’an adalah museum Terracotta.  Tetapi ternyata Xi’an adalah kota kuno yang sangat menarik. Begitu bus yang saya tumpangi memasuki gerbang kota Xi’an saya merasa memasuki abad lampau. Semua bangunan di kota ini kebanyakan masih bernuansa masa lalu, jadi saya merasa benar-benar hidup di masa itu. Xi’an Moslem Quarter adalah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi selain naik ke benteng-benteng yang mengelilingi seluruh kota Xi’an.  Jika ingin naik ke benteng-benteng yang mengelilingi kota Xi’an baiknya pada pagi hari. Di sana juga disediakan sepeda sehingga anda bisa berkeliling benteng dan melihat keseluruhan kota Xi’an dari ketinggian sambil mengendarai sepeda.

Pada masa dinasti Han ribuan tahun lalu, Xi’an merupakan jalur sutra perdagangan. Banyak pedagang dari Arab dan Persia datang bahkan menetap di Xi’an hingga terbentuklah muslim street. Orang-orang muslim ini dipanggil muslim Hui oleh orang-orang lokal dan mereka berada di Xi’an hingga saat ini.

Moslem Quarter sangat ramai mulai sore hari. Segala jenis makanan khas Xi’an ada di sini, juga souvenir-souvenir. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan ini masih kuno dan digunakan sebagai tempat berjualan seperti restoran, kafe dan toko baju. Beberapa tempat makanan khas Xi’an menyediakan atraksi menarik bagaimana makanan itu diolah oleh para chef mereka. Menyusuri sepanjang moslem quarter kita juga bisa berbelok ke gang-gang sempit dimana para penduduk lokal tinggal. Lalu jika kita menyusuri gang itu akan menemukan masjid agung Xi’an. Masjid dengan arsitektur nyaris seperti kuil ini sudah berusia ratusan tahun dan sanggup menampung banyak jamaah.  Mengunjungi Xi’an seperti kembali ke masa-masa para pedagang Arab berdatangan lalu menetap di kota ini sehingga saya masih bisa menikmati keramaian moslem quarter.

10. KOTA TUA PENANG (PENANG OLD TOWN)

Jujur saja saya kurang menyukai Kualalumpur, tetapi saya jatuh cinta pada Penang khususnya George Town. Sebenarnya kota ini terkenal sebagai kota berobat bagi orang Indonesia karena banyak rumah sakit bagus di sini. Tetapi jangan salah, Penang juga merupakan satu kota tua yang sangat menarik untuk dikunjungi. Memang sih, tidak seperti kota lain yang banyak dikunjungi muda-mudi bule, saya lebih banyak menemukan manula berjalan-jalan disini. Mungkin karena kotanya sepi dan tenang.

Menyusuri George Town, kita akan menemukan bangunan-bangunan peninggalan serdadu Inggris yang mendarat di pulau itu dan membentuk benteng sekaligus kota pertama mereka. Berdiri sejak tahun 1800-an kawasan kota tua ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Core Zone yang berada dekat bibir pantai dan Buffer Zone yang merupakan perluasan kota.

Berjalan mengelilingi George Town kita tidak akan bosan karena di setiap sudut selalu ada mural-mural yang bisa kita gunakan untuk berfoto selain bangunan-bangunan klasik yang masih terawat dengan baik. Tetapi jika kecapekan, kita bisa naik becak yang banyak mangkal di sepanjang sisi jalan.  Bangunan-bangunan tua itu juga digunakan sebagai restoran, kafe, hotel, tempat tinggal bahkan kantor-kantor penting. Jika anda sudah lelah menyusuri George Town anda bisa naik bus dari terminal ke tempat wisata lain seperti Penang Hill atau Kek lok Sie Temple. Kota tua di berbagai belahan dunia menunggu anda untuk dikunjungi, jangan sampai anda lewatkan.

SOLO TRAVELING MENUJU SUNYI

Pertengahan Maret ini seharusnya saya backpacking ke China tepatnya kota Changsa, Zhangjiajie. Sudah lama saya ingin menjelajah Zhangjiajie, tempat di mana hutan Avatar berada. Hutan yang menjadi lokasi syuting film Avatar (atau setidaknya jika syutingnya tidak di sana) hutan itu menjadi inspirasi setting film animasi keren itu. Saya sudah membayangkan betapa serunya menaklukkan ketakutan saya sendiri menjelajah ketinggian. Karena saya phobia ketinggian dan semua tempat yang akan saya kunjungi berada di ketinggian. Mulai dari Avatar mountain, glass bridge, lorong yang menembus gunung, hingga naik cable car yang jaraknya sangat Panjang.  Saat survey lokasi saja aslinya saya sudah mumet membayangkannya. Tetapi kapan lagi saya bisa menghadapi ketakutan say ajika tidak sekarang? Maka rencana perjalanan matang sudah saya siapkan. Mulai dari memesan hotel, bus, kereta hingga guide. Kali ini saya ingin memakai guide karena tidak sanggup nyasar-nyasar di hutan sendirian.

Lalu berita itu datang bulan Januari. Wabah corona di Wuhan. Saya sempat diskusi dengan teman dekat saya orang Belanda tentang perjalanan saya ini.  Teman dekat saya bilang sebaiknya saya mempertimbangkan beberapa hal. Pertama kesehatan saya yang akhir-akhir ini tidak stabil. Kedua lokasi wabah mungkin jauh dari tempat yang saya tuju. Dan ketiga melakukan pencegahan jika memang berangkat, mulai dari bersiap obat, menjaga kebersihan dan lain-lainnya. Saat ini saya masih percaya bisa berangkat karena Changsa berada lumayan jauh dari Wuhan, sementara Zhangjiajie lebih jauh lagi.  Maka saya bersiap-siap apa saja yang akan saya butuhkan selama backpacking. Hingga akhir Januari ternyata wabah di Wuhan meledak kemudian bandara melakukan screening ketat bahkan menutup perjalanan dari dan ke China. Sayapun memutuskan untuk membatalkan perjalanan ini. Menyusul kemudian pihak penerbangan mengembalikan uang tiket dan menutup semua penerbangan ke sana hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Perjalanan inipun kemudian batal.

Dalam waktu yang cepat virus corona menyebar ke seluruh dunia, sehingga akses ke banyak negara ditutup dan para traveler memutuskan pulang ke rumah (saya membaca dari group-group perjalanan betapa chaosnya kondisi mereka yang pesawatnya dicancel, terjebak di karantina atau negara yang dikunjunginya mendadak lockdown). Kebanyakan traveler yang masih memungkinkan pulang ke rumah kemudian memutuskan pulang. Berdiam di rumah karena itu akan menjadi bentuk solidaritas kita untuk tidak menjadi perantara virus itu menyebar ke orang lain. Bahkan kemudian, sebagai pejalan kita akan menemukan dunia yang berbeda pada masa virus ini menyebar. Kita yang biasanya kemana-mana melihat dunia baru, bertemu dengan orang-orang baru, berkumpul di tempat-tempat tertentu untuk berbagi pengalaman perjalanan, kemudian harus pulang ke kesunyian. Tidak bisa bepergian, harus menjaga jarak dengan orang lain bahkan kemungkinan hanya bisa memandangi foto-foto perjalanan kita melalui laptop sambil duduk di pembaringan kamar kita.

“Kalau badai virus ini berlalu, gue mau traveling lagi!” kata seorang pejalan di salah satu komentar media social dengan nada prustasi. Bagi sebagian pejalan, lockdown dan karantina mandiri di seluruh dunia memang menciptakan kegelisahan tersendiri. Bosan dan emosi. Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa semua perjalanan yang kita lakukan keliling dunia manapun pada akhirnya nanti kita akan kembali ke sunyi? Kita tidak akan pernah tahu, apakah bisa lolos dari badai ini lalu melakukan traveling lagi, tetapi yang pasti kita tahu, saat ini kita sedang melakukan perjalanan pulang ke kesunyian itu. Mungkin kita akan berhenti sejenak sebelum sampai, mampir-mampir dulu di Eropa, Afrika atau benua lainnya, tetapi toh kita akan melanjutkan perjalanan kita ke tempat sunyi itu. Sendirian. Ya, sendirian. Tanpa siapapun. Solo traveling.

Jika badai virus ini berlalu dan saya selamat, saya justru belum tahu apa yang hendak saya lakukan. Karena kejadian demi kejadian akhir-akhir ini begitu menampar saya. Kadang kita membenci orang-orang yang hidup soliter dan kita bangga berada dalam kerumunan-kerumunan tertentu, tetapi Allah justru saat ini menginginkan kita berada dalam sunyi, sendirian dan merenungi apa yang telah kita lakukan pada semesta juga orang-orang di sekeliling kita. Allah seperti ingin kita kembali sendiri. Hanya bersama-Nya merenungi untuk apa sebenarnya kehidupan yang diberikan pada kita ini.

Pada kenyataannya semua manusia memang sendirian. Solo traveling. Jika ada manusia-manusia yang ditakdirkan bersama kita, itu hanya karena garis perjalanan mereka dekat dengan jalan yang kita lalui. Pada akhirnya kita akan berbelok ke arah lain, ke jalan kita sendiri lalu pulang ke sunyi. Hanya bersama Allah. Mau kemana setelah badai ini lewat? Kita semua tujuannya satu, solo traveling ke tempat yang sunyi. Menghadap Allah cepat atau lambat.

 

FREELANCER ITU NGGAK SEPENUHNYA FREE! YAKIN PENGEN JADI FREELANCER?

Banyak teman-teman saya yang iri  melihat saya liburan saat mereka sibuk ‘ngantor’ di hari Senin. “Enak banget sih lo Ri, liburan mulu. Gue pengen kayak lo,” gitu kata mereka. Trus kalo saya lagi rese nyahutin, “kalo lo pengen kayak gue, resign aja dari kantor lo.” Tapi saya jarang sih rese hahaha, saya lebih suka nyahutin, “sama aja aslinya, kalo lo liburan, gue sibuk di depan laptop ngejar deadline.”

Sejak 2011, saya memutuskan bekerja sebagai ‘freelance writer’ setelah hampir 4 tahun bekerja full time di salah satu televisi swasta. Pekerjaan saya sebagai freelance saat ini sebenarnya nggak jauh beda dari pekerjaan saya saat full time di televisi. Masih berkutat di naskah skenario televisi. Bedanya saat di televisi saya sebagai pemeriksa naskah para penulis sekaligus memastikan naskah itu sejalan dengan visi dan misi program, sementara saat freelancer saya sebagai penulis naskah yang diperiksa oleh orang lain. Apakah pekerjaan saya sebagai freelancer jadi turun pangkat? Dari memeriksa jadi diperiksa? Itu tergantung sudut pandangnya.  Saya memang cinta menulis sejak remaja, jadi lebih suka menulis ketimbang memeriksa. Tetapi karena saya butuh banyak ilmu broadcasting sementara saya tidak punya background pendidikan broadcasting maka bekerja di televisi bagi saya adalah pembelajaran.  Maka ketika saya merasa telah cukup saya kembali lagi ke dunia menulis saya.

Menjadi freelancer kenyataannya tidak benar-benar ‘free’. Dimanapun bekerja pasti berkaitan dengan target, deadline dan profesionalisme. Itu nggak hanya ketika bekerja di kantor, saat bekerja sebagai freelancer malah dituntut lebih. Karena bekerja sebagai freelancer kita akan mudah ‘dibuang’ saat orang yang mempekerjakan kita melihat kekurangan kita misalnya ; tidak tepat deadline, tidak ontime dan memiliki attitude yang buruk. Dunia freelancer penulisan naskah televisi sangat sempit, orangnya hanya itu-itu saja, maka saat keburukan kita muncul akan menyebar dan berputar. Mereka akan enggan memakai kita dari berita buruk yang tersebar tentang hal-hal negatif kita saat bekerja. Karena itulah, bekerja sebagai freelancer justru harus memiliki performa yang bagus baik dalam managemen waktu, kemampuan maupun sikap.

Terus kenapa orang kantoran selalu memandang freelancer itu enak? Mungkin karena saat orang kantoran bekerja maka sang freelancer justru liburan di pulau. Leyeh-leyeh seolah nggak kerja tapi punya uang untuk liburan. Kenyataannya yang terjadi adalah, saat orang kantoran liburan maka sebagian besar freelancer justru bekerja mengejar setoran. Bisa jadi lho malah 24 jam pekerjaannya karena revisi yang tiada henti atau mengejar target tayangan misalnya. Sementara pekerja kantoran bisa 9 to 5 tetapi freelancer saat bekerja bisa sewaktu waktu dibutuhkan. Oh, ini saya ngomongin pekerjaan freelancer yang saya jalani yaitu penulis skenario televisi. Mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain sebagai freelancer di bidang lain.

Kalau kenyataannya sama saja dengan pekerja kantoran kenapa memilih bekerja sebagai freelancer dengan penghasilan yang tidak aman? Well, buat saya yang suka bebas, bekerja freelance memberi saya sedikit kebebasan untuk memilih pekerjaan yang saya suka tanpa terikat kontrak yang panjang seperti di kantor. Bekerja freelance hanya terikat project per project. Saya nggak akan pusing memikirkan kontrak jangka panjang yang mungkin saja menyesakkan. Saya bisa saya menyelesaikan satu project kemudian tidak mengambil kontrak selanjutnya karena saya kurang sreg, begitu misalnya. Jadi saya masih jadi pengendali keputusan atas project-project yang saya sukai atau tidak. Tidak seperti di kantor mau nggak mau saya harus mengerjakan apapun karena itu tugas saya untuk mendapatkan upah setiap bulannya.

Bagaimana bisa hidup dengan penghasilan yang tidak pasti? Oke, sudah banyak diketahui pekerjaan sebagai freelance ‘writer’ sangat tidak aman. Tetapi sebenarnya tidak sebegitu menakutkan ketika kita bekerja sebagai penulis naskah skenario. Saya tidak suka menyebutkan jumlahnya, yang jelas cukup untuk memehuni kehidupan saya sebagai single.  Tetapi bukan soal penghasilan sih yang memutuskan saya menjadi freelancer atau tidak. Sebenarnya ada satu hal yang saya suka ketika bekerja sebagai freelancer. Yaitu saya merasa lebih dekat dengan Tuhan karena setiap mendapatkan pekerjaan pada saat-saat sulit saya merasa Tuhan mengulurkan tangan untuk saya. Dan saya suka perasaan dekat dengan Tuhan itu.

Then…. kalau kamu freelancer, kamu akan sering mengalami ini. “Kerja di mana Kak?” Lalu kamu menjawab, “saya kerja freelance.” Terus yang nanya bengong nggak paham. Itu sering banget kejadian menyangkut status pekerjaan sebagai freelancer. Awal-awal saya keluar kantor, saya selalu agak malu jika bertemu tetangga dan mereka nanya “nggak ngantor lagi? Pengangguran?” Well, kita akan terlihat seperti pengangguran karena bekerja di rumah. Bahkan pengantar paket kita sendiri terkadang tidak percaya bahwa yang menerima paket itu kita sendiri karena berdandan dengan daster atau piyama sambil kerja dan lari ke depan menerima paket. Jadilah kita dikira ART di rumah kita sendiri.  Tetapi rasa malu saya lama-lama hilang dan berganti cuek. Ngapain saya peduli, saya nggak merepotkan mereka. Hanya mereka saja yang nggak tahu bahwa bekerja tidaklah harus di kantor.

Baiklah, saya sudah melewati dua status pekerjaan itu. 8 tahun bekerja kantoran dan 9 tahun bekerja freelance.  Sepertinya saya tetap akan memilih bekerja freelance meski resikonya lebih besar secara penghasilan dibanding bekerja kantoran. Karena saya lebih bisa memilih mana yang saya sukai atau tidak dalam mengerjakan sesuatu. Dan tentu saja bisa memilih waktu libur yang saya mau (meski kadang ini nggak semudah dikatakan juga).  Buat temen-temen yang pengen resign dan bekerja freelance sebaiknya dipikir kembali. Karena sebenarnya dimanapun selalu ada resiko dan tantangannya masing-masing. Terlihat enak karena kita hanya melihat hal-hal yang enak. Bisa jadi hal-hal sulit belum kita lihat di permukaan. Well, it’s up to you!

MUSIM GUGUR DI SAINT PETERSBURG

Matahari belum muncul saat saya keluar apartemen dan menyusuri trotoar yang dipenuhi daun-daun merah musim gugur. Saya tak memiliki banyak waktu untuk menjelajahi Saint Petersburg, kota yang pada tahun 1914-1924 bernama Petrograd dan pada masa Uni Soviet bernama Leningrad untuk mengenang Vladimir Lenin. Malam sebelumnya saya sudah nyasar sampai pinggiran sungai Neva yang bersih sekaligus terlihat menakutkan karena ketenangannya. Saya membayangkan sungai Neva menjadi saksi bisu perguliran sejarah di Rusia. Air tenang itu melihat segalanya, tetapi ia tak mengabarkan pada siapapun.

Banyak tempat yang ingin saya tuju di sini. Tetapi waktu yang saya miliki sangat sempit. Tiga hari di tempat ini dengan udara musim gugur yang dingin otomatis kulit tropis saya tidak mudah menyesuaikan diri.  Belum lagi kondisi tubuh saya yang gampang lelah dalam perjalanan dan mimisan. Sebagai orang yang suka menulis dan membaca, tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah Perpustakaan Nasional Rusia. Konon disana menyimpan beberapa manuskrip Melayu, termasuk Sejarah Melayu yang pernah dibawa seorang Laksamana dalam pelayarannya sekitar tahun 1798. Tetapi cita-cita mengunjungi perpustakaan itu tak terlaksana karena saya memutuskan ke tujuan touristik yang lain lebih dulu.  Tempat touristik itu adalah Istana Peterhof, Museum Hermitage dan beberapa tempat lainnya.

HANGATNYA SINAR MATAHARI DI TAMAN ISTANA PETERHOF

Suasana jalanan sekeliling istana masih sepi saat saya turun dari taksi online dan turun tepat di samping pintu masuk istana Peterhof.  Hanya beberapa bus lewat dan orang-orang berangkat kerja dengan mengenakan jaket-jaket tebal. Mukanya masih tampak ngantuk dan hanya melirikku sekilas. Saya celingukan mencari pintu masuk ketika menemukan serombongan kecil turis Tiongkok memasuki pintu di ujung. Saya menebak itulah pintu masuknya karena beberapa petunjuk dalam bahasa Rusia. Dan benar saja, pintu masuknya memang di sana.

Memasuki gerbang istana Peterhof, saya langsung berhadapan dengan taman yang indah. Pohon-pohon yang berjajar teratur dengan daunnya yang memerah, air mancur di berbagai sisi, dan bangku-bangku untuk duduk menikmati taman. Masih terlalu pagi dan matahari belum muncul sementara udara sangat dingin. Saya melompat-lompat kecil untuk menghalau udara dingin dan usaha saya lumayan berhasil meski efeknya saya jadi agak lapar sementara dari apartemen belum sempat sarapan.

Istana Peterhof lebih dikenal dengan Istana Musim Panas. Istana dibangun pada masa Peter Yang Agung pada tahun 1714 dan terinspirasi saat ia berkunjung ke Istana Versailles di Perancis. Terletak di tepi teluk Finlandia, Istana Peterhof langsung berhadapan dengan laut. Pembangunan istana ini bersamaan dengan perang antara Kekaisaran Rusia melawan Swedia pada tahun 1700-1721, sehingga Peter Yang Agung mendedikasikan istana ini sebagai istana kemenangan Rusia atas Swedia.

Saya tidak punya waktu untuk memasuki istana yang sangat luas ini jadi hanya berjalan-jalan di areal taman. Untuk memasuki areal dalam kita perlu membeli tiket lagi sekitar 400 ribu rupiah. Di samping kanan dari arah masuk ada konter tiket yang melayani pembelian tiket tetapi kita juga bisa membelinya melalui berbagai aplikasi online. Sementara di sebelah tempat penjualan tiket ada kafetaria. Matahari belum tinggi saat saya melihat jam dan sudah harus kembali ke pusat kota karena ditunggu pemilik apartemen.  Saya sebenarnya belum puas menikmati hangatnya matahari di taman Istana Peterhof, tetapi saya harus berlari-lari kembali ke pusat kota. Saya berharap di kunjungan yang lain bisa menjelajahi keseluruhan istana ini dengan tenang dan detail.

KEHUJANAN DI CHURCH OF THE SAVIOR ON SPILLED BLOOD

Setelah menunggu teman yang berdoa di salah satu gereja, tujuan saya selanjutnya adalah mengunjungi Church of the Savior on Spilled Blood.  Jalanan sangat ramai turis dan warga lokal. Hujan mulai turun saat saya berjalan menyusuri sepanjang sisi kanal menuju gereja. Beberapa orang mengenakan kostum kerajaan Rusia zaman dulu menawari saya untuk berfoto bersama. Saya tahu mereka akan mematok harga mahal saat saya menuruti keinginannya berfoto bersama. Karena mereka tahu saya paham modusnya, eh, malah mereka mengejar saya. Bercanda memang, tapi saya yang takut kehilangan uang rubel saya untuk foto yang tidak saya inginkan maka saya berlari. Mereka mengejar dan menangkap saya sambil tertawa-tawa. “Oh, you’re so small!” Apa makasudnya coba? Tapi mereka tertawa puas melihat saya meronta-ronta kesal melepaskan diri. Lalu begitu saya lepas mereka melambaikan tangan sambil senyum. Nyebelin banget!

Well, sayapun melanjutkan perjalanan menyusuri sepanjang sisi kanal Griboyedov. sambil kesal. Sesampainya di depan gereja ternyata gereja sedang direnovasi dan tidak diijinkan masuk. Di halaman gereja tampak anak-anak sekolahan sedang melakukan kegiatan zombie-zombiean entah apa. Mereka mengenakan pakaian ala hantu-hantuan dengan muka dicoret-coret.  Saya tertarik dengan kegiatan mereka dan mulai memotret-motret mereka. Sepertinya mereka sadar saya memotretnya dan mereka malah bergaya. Katanya mereka sedang ada kegiatan sekolah. Lucunya mereka melihat saya yang memotret nama teman saya di papan yang saya pegang. “Who is Andrew?” tanyanya. Seorang teman memang menitip foto namanya di depan gereja ini agar suatu hari dia bisa ke sini dan berdoa di sini. Saya dan dia berbeda keyakinan, tetapi dia teman baik saya dan saya tidak pernah keberatan dengan titipan foto seperti ini.

Church of the Savior on Spilled Blood dibangun oleh Tsar Alexander III untuk menghormati Tsar Alexander II yang terbunuh pada tahun 1881 di tempat ini. Gereja ini dibangun sejak 1883 hingga 1907.  Gereja ini memiliki arsitektur yang sangat unik dan cantik, tetapi sejak tahun 1930 diubah penggunaannya menjadi museum. Gereja ini menjadi salah satu gereja yang memiliki mosaik paling banyak di dunia. Sayang saya tidak memasuki bagian dalamnya untuk menjelajah lebih jauh.  Anak-anak berpakaian hantu itu masih berlari-lari mengejar temannya, sementara saya duduk di bangku depan gereja. Penjual souvenir di deretan depan gereja tampak berdiri beku merapatkan jaket tebalnya sambil memandang entah. Sayapun melambaikan tangan ke remaja-remaja tanggung berpakaian zombie lalu melintasi penjual-penjual souvenir tanpa membeli. Kejadian berdarah bertahun-tahun lalu di tempat ini kemudian menjadi kenangan untuk dikunjungi.  The Savior on Spilled Blood.

SENJA DI MUSEUM HERMITAGE DAN WINTER PALACE

Sebenarnya saya membayangkan matahari tenggelam di sekitaran istana musim dingin yang ada di tengah kota ini, tetapi sepertinya tidak mungkin. Bagaimana mungkin akan ada sunset sementara hujan mengguyur sejak siang dan langit gelap mendung. Tetapi suasana ini jadi romantis menurut saya karena saya lebih menyukai hujan ketimbang sunset.  Melihat orang-orang mengenakan mantel hitam panjang dengan sepatu boot yang menimbulkan bunyi tersendiri saat menghantam jalanan basah membuat saya berimajinasi kembali ke kejayaan istana musim dingin yang dibangun Peter yang Agung ini. Istana musim dingin ini menjadi salah satu kediaman resmi keluarga kerajaan Rusia pada tahun 1731 hingga 1917. Bergaya Baroque dengan perpaduan warna hijau dan putih, istana ini tampak megah dan sangat luas ;  terdapat ribuan ruangan, anak tangga, pintu dan jendela. Mungkin beberapa hari menyusurinya baru bisa dijelajahi semuanya.

Di komplek istana musim dingin ini pula terletak Museum Hermitage yang merupakan museum terbesar di dunia. Terdapat jutaan karya seniman terkenal seperti Rembrandt, Da Vinci juga Michaelangelo.  Hermitage merupakan satu museum tertua di Rusia.  Benda-benda dari jaman pra-sejarah atau zaman batu dari seluruh wilayah Rusia dikumpulkan di museum ini sehingga kita bisa mempelajari sejarah peradaban panjang Rusia di museum ini. Jika kita ingin melihat bagaimana kekaisaran Rusia pada masa lalu, kita bisa melihat ruangan-ruangan kekaisaran Rusia yang masih asli. Mulai dari zaman Tsar Alexander II hingga Nicholas II. Semua disusun berdasarkan kronologis dan era masing-masing zaman. Mengunjungi museum ini seperti kembali ke masa lalu yang masih asli.

HUJAN DERAS DI KATEDRAL SAINT ISAAC

Malam sebelumnya, beberapa mahasiswa Indonesia yang saya temui di galeria mall menyarankan jika ingin mengambil view foto terbaik dari Katedral Saint Isaac adalah dari taman di depannya yang ada di pinggir sungai dan saat senja turun. Tapi malah kenyataannya saat saya sampai depan katedral hujan deras turun. Saya pun hanya mengambil foto dari samping menunggu moment bus yang lewat lengang dan tidak terlalu bagus. Sebenarnya ingin ke taman pinggir sungai tapi saya malas menyeberang jalan yang cukup ramai di depan saya. Sayapun memutuskan menikmati Katedral Saint Isaac dari pojokan pinggir jalan tanpa menyeberang jalan.

Gereja ini terletak di St. Isaac Square dan merupakan gereja terbesar ke empat di dunia. Dibangun tahun 1881 hingga 1885. Memiliki kubah sebesar 101 meter dilapisi emas murni, gereja ini dibangun untuk menghormati Saint Isaac Dalmatia, sang pelindung dari Peter yang Agung.  Ini merupakan satu tempat dari sekian banyak tempat menarik di Sank Peterburg yang banyak dikunjungi turis. Sekeliling tempat ini juga sangat menarik untuk berjalan kaki atau bahkan nongkrong di kafe. Sayangnya hujan deras dan saya basah kuyup, jadi saya kurang nyaman untuk nongkrong di kafe dengan baju basah kuyup. Sebelum senja benar-benar selesai saya kembali ke pelataran Hermitage lalu mencari taksi online kembali ke apartemen. Terlalu luas untuk menjelajahi Rusia dalam waktu hanya 10 hari. Saya perlu waktu berbulan-bulan untuk kembali suatu saat nanti. Semoga saya bisa kembali.

 

 

JUM’ATAN DI MASJID KATEDRAL MOSKOW

Bisa melewati hari Jum’at di satu kota asing itu bagi saya luar biasa. Artinya saya punya kesempatan untuk mengunjungi masjid di kota itu jika memungkinan ada masjidnya. Masuk ke masjid dimana Islam menjadi minoritas dan bertemu saudara-saudara seiman di tanah asing selalu menjadi hal yang saya tunggu-tunggu. Maka waktu sampai Moskow Kamis malam, esoknya saya langsung merencanakan ke masjid yang ada di tengah kota Moskow. Namanya Masjid Katedral Moskow.

Kok namanya agak aneh ya? Masjid Katedral Moskow.  Biasanya nama Katedral berhubungan dengan gereja tapi menurut informasi, orang Moskow terbiasa menyebut gereja besar dengan nama Katedral, maka masjid besar di Moskow inipun disebutnya Katedral. Selain itu, masjid ini juga disebut Masjid Sabornaya atau Masjid Agung karena memang berfungsi sebagai masjid terbesar di kota itu.  Masjid ini terletak di Prospect Mira Street, tepat di sebelah bangunan Olympic Indoor Stadium. Jadi jika naik metro bisa turun di stasiun Prospect Mira kemudian jalan kaki ke arah Prospect Mira street. Karena kebetulan saya ke sana hari Jum’at maka tinggal mengikuti Ja’maah yang berjalan berduyun-duyun menuju masjid.

Awalnya saya kira masjid ini akan sepi, tetapi ternyata sangat ramai. Jama’ahnya sangat banyak dan memang masjid ini melayani lebih dari 2 juta umat Islam di Moskow. Saudara-saudara muslim disini saya lihat dari berbagai negara pecahan Rusia seperti Tajikistan, Kyrgystan, Turkmenistan, dan juga muslim Moskow. Masjid Katedral Moskow dibangun pada tahun 1903 dan menjadi salah satu masjid tertua dari empat masjid yang masih berdiri di kota Moskow setelah Moscow Historical Mosque yang dibangun pada 1928. Saya mengikuti aliran jamaa’ah hingga sampai pada pagar pemeriksaan satpam dan diijinkan masuk ke halaman masjid.

Tempat wudhu wanita ternyata ada di bagian bawah. Jadi setelah masuk halaman kemudian belok ke kanan, kita akan menemukan tangga ke arah bawah. Di sana ada tempat wudhu wanita yang kemudian juga terhubung dengan lorong menuju lift khusus wanita. Ruang sholatnya ada di lantai atas. Di dekat ruang sholat disediakan mukena dan tempat menyimpan sepatu serta tas. Tetapi saya membawa tas saya ke ruang sholat kuatir kenapa-napa jika saya letakkan disana. Sampai di ruang sholat ternyata penuh. Banyak sekali Jama’ah wanita yang ikut sholat Jumat. Melihat dari wajahnya sepertinya mereka kebanyakan dari negara-negara pecahan Rusia. Saya sebenarnya ingin komunikasi dengan mereka, sayangnya mereka tidak bisa bahasa Inggris dan saya tidak bisa Bahasa Rusia, jadilah hanya tersenyum-senyum saja.  Khutbah Jum’at juga menggunakan Bahasa Rusia tetapi suasanya sangat menyejukkan meski saya tidak memahami bahasanya.

Setelah selesai sholat Jum’at, diluar ada penjual teh hangat dan makanan kecil. Sebenarnya saya ingin mencoba makanan kecil yang pembelinya antri sampai panjang itu, tetapi setelah sadar yang membeli teh hangat semuanya laki-laki, saya kemudian mundur dan meninggalkan tempat itu. Di depan masjid sembari mengambil foto, seorang pria tua menghampiri saya dan mengajak ngobrol dengan Bahasa Rusia. Setelah saya bilang minta maaf tidak bisa Bahasa Rusia, pria itu kemudian ngajak ngobrol terbata-bata dengan Bahasa Inggris. Wajahnya ramah, sejuk dan rambutnya telah memutih. Tapi saya tahu, pria ini sedang menceramahi saya tentang sesuatu. Saya hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum lalu pamitan dan salam.

Di bagian kiri masjid, ada kantin memanjang yang menjual banyak makanan. Saya sangat ingin masuk ke sana untuk membeli teh hangat karena suhu 10 derajat itu membuat saya membeku. Tetapi lagi-lagi isinya hampir kebanyakan laki-laki dan mereka berdesakan di kantin memanjang itu. Akhirnya saya mengurungkan niat ke sana dan memutuskan kembali ke stasiun. Sempat nyasar saat balik ke stasiun tetapi malah menemukan beberapa hal menarik di sekitaran masjid, seperti bazar Jum’at yang menjual berbagai macam barang seperti pasmina, buku dan makanan. Jum’atan di masjid Agung Moskow ini sangat berkesan bagi saya terutama bertemu dengan saudara-saudara muslim dari tempat yang jauh. Kita bersaudara dalam Islam, mari saling memegang tangan dan menguatkan.

TAK SEMUA ORANG KAYA MENYEBALKAN

Tiga bulan terakhir saya sibuk mengerjakan buku kenangan sebuah organisasi yang bentuknya seperti ensiklopedia tokoh yang menceritakan perjalanan hidup 32 orang di dalamnya. Meskipun ini hal baru dalam dunia kepenulisan yang saya jalani nyaris 15 tahun, tetapi menurut saya sangat menarik. Pertama karena saya sedang kurang nyaman menulis untuk industri dengan deadline yang sangat ketat sementara hypertensi mengincar saya sewaktu-waktu. Kedua, saya memang suka belajar hal baru apapun itu terlebih dalam dunia kepenulisan. Saya sudah lama selalu tertantang untuk belajar berbagai model kepenulisan mulai dari fiksi, artikel, opini, skenario, drama panggung dan yang terbaru penulisan biografi.

Sejak dulu, saya selalu belajar sambil langsung bekerja mulai dari menulis cerpen, novel, artikel hingga skenario. Dan begitu juga kali ini.  Saya membaca buku apa saja, tak terkecuali biografi. Dan bekal bacaan saya serta sedikit teori inilah yang menjadi pegangan saya memulai bekerja. Maka sudah pasti pertama yang saya lakukan adalah mencari narasumber untuk diwawancarai. Dari ensiklopedia 32 orang itu saya menemukan banyak hal menarik dari pribadi-pribadi mereka yang kemudian sangat menginspirai saya sendiri. Misalnya bagaimana mereka tetap menjalani hidup aktif tanpa malas-malasan dan penuh semangat di usia 60 tahunan ke atas. Bagaimana mereka tetap berkarya dan berguna untuk orang lain meskipun sudah usia senja.

Tetapi tokoh yang paling berkesan bagi saya adalah satu sosok yang menurut saya sangat inspiratif. Ia adalah seorang wanita hebat. Pengabdiannya untuk wanita di sekelilingnya perlu diacungkan jempol. Bagaimana tidak? Panggilan hidupnya adalah untuk memajukan wanita di sekelingnya menjadi wanita yang cerdas, mandiri dan setara dengan laki-laki dalam berdiskusi. Wanita menurut tokoh satu ini harus berani mempromosikan dirinya, keluar dari kungkungan budaya patriarki sehingga ia tidak hanya menjadi obyek dalam banyak tempat. Wanita harus menjadi subyek yang dominan dalam segala aspek kehidupan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Lelaki memang imamnya, tetapi wanita harus bisa menjadi mitra diskusi yang setara bagi laki-laki.  Sampai di sini saya mengagumi pemikiran-pemikiran sekaligus kegiatan-kegiatan kongkrit yang beliau lakukan untuk mewujudkan cita-citanya membebaskan wanita dari jurang kebodohan ini.

Bukan hanya itu, banyak hal yang saya kagumi dari tokoh satu ini. Beliau tentu saja bukan orang biasa baik secara materi, jabatan maupun asal usulnya. Tetapi beliau bisa berbaur dengan penulisnya yang “apa adanya”, bahkan bisa mencomot makanan yang sama di satu piring. Hal lain yang saya kagumi adalah cara dia menghargai waktu. Dia orang yang sangat ontime meski usianya sudah lewat 60 tahun dan kadang justru datang lebih awal, padahal seringkali saya yeng membutuhkan beliau bukan beliau yang membutuhkan saya. Caranya menjawab wawancara juga sangat menyenangkan, beliau ngajak ngobrol bahkan curhat, sama sekali tak nampak bahwa beliau salah satu tokoh yang luar biasa. Atau mungkin orang yang sudah sampai pada level tertentu memang begitu? Lebih bisa menempatkan dirinya sendiri ketika bertemu siapa saja.

Sebagai seorang pemimpin beliau bukan tipe one man show, jadi apapun potensi yang ada dalam teamnya beliau kembangkan sehingga orang-orang yang ada dalam teamnya maju dan berkembang. Sayapun ketika pertama bertemu dan terlihat diam, beliau langsung memahami pribadi saya dan berusaha memancing saya agar saya bisa menunjukkan kemampuan saya. Sungguh ini pengalaman yang berharga buat saya, bukan hanya soal bagaimana beliau memperlakukan saya, tapi bagaimana kemudian saya harus memperlakukan orang lain di kemudian hari.  Menulis selalu menjadi pekerjaan yang saya cintai apapun rintangannya, dan hal-hal baru yang bisa dipelajari akan terus saya kembangkan demi cinta itu. Terima kasih Ibu inspirasinya!