TIPS BERKELANA DENGAN ORANG “GENGGES”

“Sekali bertemu orang gengges, maka perjalananmu akan menyiksa lahir batin.” Begitulah motto hidup para pejalan yang menderita parah akibat ke”genggesan” seseorang di perjalanan.  Apa sih orang gengges itu? Kalo menurut internet gengges itu artinya merepotkan, ribet dan menyebalkan. Satu kata terakhir saya tambahin sendiri. Kalau kita terbiasa traveling dengan santai, simple alias nggak mau ribet sama bawaan dan dandanan maka perjalananmu akan jadi neraka saat mendadak seseorang dengan karakter seperti itu muncul memasuki areal hidupmu.

Dia bawaannya berkontainer-kontainer, sementara kamu hanya bawa ransel 24 liter. Dia dandannya bisa 3 jam sebelum explore sebuah kota sementara kamu bedakan aja jarang. Dia hobbynya ke mall dan belanja sementara target jalanmu ke tempat-tempat baru di kota tersebut. Dia gampang marah jika keinginannya tidak terpenuhi sementara kamu sudah banyak toleransi ke dia. Dia ngelead sesuai maunya sementara kamu juga bayar mahal untuk perjalanan ini. Dia susah kompromi untuk banyak hal, sementara tinggal di apartemen yang sama. Dan yang paling bahaya, dia bisa memanipulasi dengan menjadikan dirinya korban atas banyak hal yang terjadi dalam perjalanan padahal semua temannya justru meladeni banyak kemauannya.

Okay! Well! Tapi hal-hal seperti itu bisa saja kan terjadi dalam perjalanan? Bisa banget, karena kita tidak bisa menebak siapa yang akan muncul dalam hidup kita, tiba-tiba saja seorang teman membawa temannya yang super gengges tanpa aba-aba dan mendadak aja kita shock! Atau…. bisa jadi kita sendiri gengges di mata teman-teman kita tanpa kita sadari. Maka kejadian-kejadian menyebalkan itu sebenarnya bisa membuat kita intropeksi sejauh mana kita juga menyebalkan di mata teman-teman kita.

Ada beberapa antisipasi yang bisa kamu lakukan sebelum moodmu jadi bener-bener buruk lalu kamu ngamuk-ngamuk dan perjalanan kamu jadi nggak bahagia. Sudah keluar uang banyak tapi nggak bahagia? Oh NO! BIG NO!

  1. Kalau model gengges datang dalam perjalananmu, kamu harus siap-siap. Jangan sampai bergantung soal kunci penginapan dan internet sama dia. Karena kamu harus mempersiapkan diri untuk misah jalan dengan dia sebelum bomnya meledak. Tapi lihat dulu segengges apa dia, kalau kamu masih bisa tolerat ya oke-oke saja.
  2. Kamu harus tegas, jangan ikutan menye-menye tapi akhirnya kamu sendiri yang rugi. Beberapa orang gengges justru manfaatin ketidaktegaan kita dan kebaikan kita. So, do it! Say no if you dont like it! Kamu nggak usah kasihan kalau misalnya dia nggak berani sendirian tapi justru tetep ngerepotin kamu. Tega-tega deh!
  3. Kamu tetap harus fokus pada tujuanmu. Terlebih kalau tujuan dia mulai sangat mendominasi sehingga kamu nggak kebagian tujuanmu sendiri. Kamu harus berani ngomong dan memisahkan diri darinya.
  4. Lain kali cek dulu teman yang akan bergabung dalam perjalanan kamu. Jika dia terlihat benih-benih gengges mending sebelum berangkat bikin perjanjian pra perjalanan. Ini penting kalo perlu tertulis biar nggak bikin masalah di kemudian hari.

Sebenarnya perjalanan itu juga berlaku seleksi alam. Jika kita tidak menyenangkan nggak akan ada orang yang mau jalan sama kita. Tapi kalo kita oke, maka banyak teman yang akan jalan sama kita. Itu aja sih ukurannya! Oh wait! Kadang-kadang hal buruk yang datang dalam hidup kita itu juga berkah khususnya buat penulis seperti saya. Karena sejak bertemu beberapa orang gengges saya jadi dapat ide cerita untuk menulis hal-hal yang sebelumnya diluar jangkauan otak saya. Nah! Selamat berjuang jika kalian bertemu teman gengges dalam perjalanan!

 

BERTEMU “BULAT OKUDZHAVA” DI ARBAT STREET MOSKOW

Saya hanya memiliki waktu 3 jam untuk mengunjungi Arbat Street sebelum meninggalkan kota Moscow. Sementara perjalanan dari stasiun Leningradsky tempat saya nge-locker koper ke Arbaskaya pasti membutuhkan waktu lama karena nyari-nyari jalan dulu sekaligus nyasar-nyasarnya. Belum lagi metro sore yang padat oleh orang-orang Moscow pulang kerja. Tapi apapun yang terjadi saya harus ke Arbat Street!

 

Arbat Street itu kalau di Indonesia semacam Malioboro di Yogyakarta. Pendestrian yang sisi kiri dan kanannya berjajar orang-orang berjualan souvenir, kafe-kafe dan gedung-gedung tua bersejarah.  Arbat street sebenarnya sudah ada sejak abad ke 15 namun sempat rusak karena kebakaran. Baru kemudian dibangun lagi pada abad ke 19.  Harga souvenir di sini memang lebih mahal ketimbang di Izmailovo market tetapi memang lebih bagus. Bahkan boneka Matryoshka yang dijual disini lebih detail dan lebih halus. Karena saya sudah membeli boneka Matryoshka di Izmaolovo market maka di sini saya ingin mencari barang yang lain.

Menurut informasi, jika pergi ke Rusia barang yang seharusnya dibeli adalah benda-benda seni seperti lukisan dan vodka. Karena saya tidak minum vodka maka saya membeli salah satu lukisan berukuran kecil seharga sekitar Rp.300 ribu kalau dirupiahkan. Harusnya harganya lebih mahal tetapi karena saya merengek pada penjualnya agar kasih diskon pada saya yang datang jauh-jauh dari Indonesia, penjual handsome yang juga pelukisnya itu akhirnya mengijinkan saya membeli dengan harga diskon.  Lukisan bergambar dua wanita Rusia sedang di depan rumahnya bersalju itu akhirnya saya masukkan ke dalam tas.

 

Ada dua jalan di Arbat street yaitu old Arbat dan new Arbat. Old Arbat lebih klasik dengan bangunan-bangunan tua dan barang-barang yang dijual juga souvenir-souvenir khas Rusia dan benda-benda seni, sementara di New Arbat lebih seperti mall yang menjual barang-barang branded. Di pertengahan jalan old Arbat, saya menemukan patung yang saat saya mengambil fotonya malah dia seperti hidup dan memandang saya. Saya ketakutan karena sebelumnya banyak kejadian horor di apartemen tempat kami menginap. Tetapi ternyata patung yang disampingnya berdiri lelaki sedang menunjukkan foto untuk mencari anaknya yang hilang itu adalah patung Bulat Okudzhava.

Siapa Bulat Okudzhava? Ia salah satu penyair, penulis, musisi, novelis dan penyanyi Rusia pada tahun 1960-an. Lagu yang diciptakan Bulat Okudzhava merupakan lagi terkeren sepanjang masa yang dicintai orang-orang Rusia. Salah satunya lagu “Kami Butuh Satu Kemenangan” tahun 1970 untuk film perang ikonik, Belorussian Station.  Patung Bulat Okudzhava yang ada di Arbat Street seolah sedang berjalan dengan gulungan koran terselip di sakunya ini dibuat oleh Georgy Frangulyan. Patung ini menurutku sangat menarik karena matanya seperti hidup saat menatap orang yang ada di depannya. Saya belum pernah membaca syair atau mendengar lagu dari Bulat Okudzhava tetapi entah kenapa patung di depan saya itu berasa seperti dekat dan ingin mengajak ngobrol saya. Jika teman saya tidak menarik lengan saya, mungkin saya akan berdiri lama di sana berpandangan dengan Bulat Okudzhava.  Saya ingin menjelajah Arbat street hingga ke ujung, tetapi penerbangan saya sudah mepet. Sebelum sampai ujung saya berbalik arah ke stasiun Arbaskaya meninggalkan Bulat Okudzhava. Selamat tinggal Bulat! Aku akan kembali lagi nanti!