Tag Archives: traveldiary

LUGGAGE STORAGE DI STASIUN LENINGRAD MOSCOW

Pengen jalan-jalan keliling kota Moscow tapi males bawa barang berat? Kamu bisa menitipkan barang-barangmu di Luggage Storage yang ada di beberapa train stasiun atau tempat tertentu seperti Red Square. Tapi sebelumnya kamu harus cek dulu informasi mengenai luggage storage itu mulai dari harga, ukuran barang yang dititipkan sampai persyaratan yang diperlukan untuk menitipkan luggage kamu.

Jika traveling sebelumnya saya membawa ransel, tapi traveling ke Rusia kali ini saya membawa koper 20’. Cukup repot dan berat untuk orang yang terbiasa dengan bawaan minim, tetapi karena musim gugur saya nggak mau kedinginan sehingga saya membawa beberapa jaket tebal.  Nah, masalah mulai muncul saat jam check out dan keberangkatan kereta ke kota lain masih tengah malam. Untuk menunggu waktu dari jam 12 siang hingga 12 malam, saya nggak mungkin menyeret koper keliling kota Moscow ‘kan? Ini dia saya memerlukan Luggage Storage yang bisa menyimpan barang saya hingga jam 12 malam nanti sehingga saya bisa menghabiskan waktu dengan nyaman.

Sebenarnya ada banyak Luggage Storage seperti di Red Square, namun menurut keterangan luggage stirage di Red Square menggunakan tangga dan tidak ada lift sehingga saya urung ke sana. Beberapa stasiun juga menyediakan Luggage Storage seperti Bellorussky tetapi saya memilih menitipkan koper saya di Leningrad stasiun karena malamnya saya akan naik kereta dari sini ke kota lain, jadi tidak perlu repot lagi menyeret koper ke tempat lain.

 


Terletak di lantai bawah stasiun kereta Leningrad berdekatan dengan toilet dan orang berjualan souvenir, Luggage Storage ini ada dua tipe yaitu manual dan otomatis. Untuk luggage otomatis ukuran tas hanya sesuai kotak yang ada di sana, jadi kalau koper kamu melebihi batas tidak akan bisa masuk. Tetapi untuk manual kamu bisa memasukkan ukuran berapapun ke dalam ruangan itu tanpa batas ukuran. Saya kemudian memilih menitipkan barang saya di tempat yang manual karena koper saya cukup besar dan ribet masukin ke dalam kotak. Harga per koper/tas 250 RUBEL atau sekitar Rp.66.000 untuk sehari menitipkan barang, hitungannya per tas bukan besarannya. Sementara harga storage luggage otomatis juga sama tergantung besaran box yang dipilih.

 

Itu pengalaman saya menitipkan tas di Leningrad stasiun, kalau ingin bertanya lebih banyak bisa melalui komen di bawah atau email. Saya masih akan melanjutkan kisah perjalanan saya di Rusia! Jangan pindah blog dulu 😊

 

Tertawa Bersama Ibu Dong di Central Market Hoi An

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di dunia seperti Edinburgh old town, Phuket old town, Geneva old town, Kyoto old town, Takayama old town, Kota Tua Jakarta, Penang old town, Chiang Mai old town dan beberapa tempat klasik lain yang saya lupa namanya, tetapi memasuki Hoi An old town membuat saya tercengang. Pada malam hari kota tua Hoi An akan dipenuhi lampion yang sangat indah. Saya merasa hidup di negeri dongeng bersama para peri yang terbang di atas sungai dengan perahu-perahu berlampion yang melintasi sungai. Saya janji pada diri sendiri untuk kembali ke kota ini suatu hari nanti!

Selain keindahan kota tua ini, Hoi An memiliki dua pasar yang banyak dikunjungi wisatawan. Hoi An night market dan Hoi An central market. Hoi An night market bisa kita temui di sepanjang jalan dekat sungai pusat kota tua Hoi An pada malam hari, tetapi jam 9 malam pusat kota ini sudah sangat sepi dan lampu dimatikan semua. Saya yang berniat nongkrong sampai pagi di pusat kota malah lampu kafe sudah dimatikan tepat jam 9 dan pemesanan makanan closing. Terpaksa saya balik ke hotel dengan kondisi sedikit gelap karena hanya beberapa lampu jalanan yang nyala. Bahkan hotel tempat saya menginap juga lampunya sudah dimatikan dan penjaga sudah tidur di depan pintu hotel.

Tetapi esok harinya saya tidak menyia-nyiakan untuk mengunjungi Central Market Hoi An sepulang dari My Son Sanctuary. Kebetulan letak pasarnya tak jauh dari tempat perahu kami ditambatkan. Guide yang mengantar kami ke My Son Sanctuary bilang kalau kami hanya perlu berjalan lurus sampai ketemu jembatan lalu belok kanan. Dan saya mengikuti petunjuk guide itu setelah pamitan.

Central market Hoi An lumayan luas dan bersih. Berbagai macam barang kebutuhan dijual disini, mulai dari sayuran, buah, makanan, kerajinan, pakaian dan kios makanan yang berjejer dengan menu yang menggoda. Saya menyusuri los-los pasar terbuka ini hingga berhenti di depan sebuah lapak yang menjual kopi Vietnam dan makanan khas Vietnam. Pemilik lapak ini sesuai nama tokonya namanya Ibu Dong. Beliau dengan ramah melayani saya yang aslinya hanya akan belanja sedikit tetapi ingin banyak ngobrol. Saya berpikir membeli kopi di sini akan lebih murah ketimbang di tempat lain. Meski kenyataannya kopi yang saya beli di pasar sama dengan harga yang ada di bandara Da Nang.  Ibu Dong sudah lama fokus berjualan kopi dan makanan khas Vietnam. Kopi yang dijualnya memiliki tingkatan tertentu dan orang akan membeli sesuai dengan seleranya. Salah satu kopi paling terkenal adalah merk Trung Ngu Yen dengan berbagai tingkatan nomor. Setelah tawar menawar saya membeli dua tingkatan nomor dengan bonus makanan khas Vietnam yang terbuat dari kelapa. Makanan ini kalau di Indonesia mirip sagon dengan bungkus plastik kecil-kecil rapi. Ibu Dong sangat ramah dan suka becanda. Bahasa Inggrisnya terbata-bata tetapi bisa saya pahami. Katanya berjualan di pasar membuatnya selalu ceria dan lupa masalah-masalah yang dihadapinya. Bertemu pembeli dari berbagai belahan dunia juga membuatnya bisa bertukar banyak informasi. Ibu Dong mengundang saya datang ke rumahnya jika saya masih lama di Hoi An, tetapi sayangnya sore itu saya harus kembali ke Da Nang dan melanjutkan perjalanan.  Obrolan itu kemudian menjadi panjang karena belum ada pembeli lain yang datang. Benar-benar lebih banyak obrolannya daripada barang yang saya beli.

 

Bertemu orang-orang baru selalu memberi energi baik dalam setiap perjalanan saya, salah satunya keceriaan Ibu Dong dan senyumnya yang selalu merekah saat melayani pembeli.“Let me know when you come  back to Hoi An!” katanya terbata saat memeluk saya yang berpamitan meninggalkan lapak dagangannya. Saya tersenyum, “I will.”