Category Archives: DESTINATIONS

Budapest Central Market Hall

Jika anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satu tempat yang selalu di kunjungi turis saat berada di Budapest adalah Central Market Hall atau Great Market Hall. Pagi hari sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest ini terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca.

Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali. Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar.

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi pasar ini? Pasar ini buka pada hari Senin sampai Sabtu mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hari minggu tutup. Jika anda tidak suka terlalu ramai maka anda bisa berkunjung pada pagi hari sekitar jam 8-9 hari Senin – Jumat, karena pada hari Sabtu pasar akan sangat ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Jangan lupa mengunjungi pasar ini saat anda ke Budapest!

 

Saturday Night Market Chiang Mai

Kalau anda berkunjung ke Chiang Mai, Thailand, sebaiknya jangan melewatkan hari Sabtu, karena malamnya ada Saturday Night Market yang semarak dan menarik. Saat saya berkunjung ke Chiang Mai, saya tidak tahu ada pasar malam ini, tetapi sepulang dari Chiang Rai sore hari, mobil yang mengantar saya menurunkan saya di dekat lokasi pasar malam dan mereka menyarankan saya mengunjungi pasar ini.

Saturday Night Market Chiang Mai hanya ada hari Sabtu mulai jam 5 sore sampai jam 11 malam. Terletak di Wulai street tepat di depan gate selatan kota kuno, pasar ini menjual souvenir, lukisan, pakaian dan gerai makanan. Saya yang sejak siang kecapekan ekplore Chiang Rai mencari gerai makanan yang cocok. Saya menemukan nenek-nenek penjual Pad Thai yang dikerubungi pembeli dan ikutan antre.

Pasar ini menurut saya sangat menarik dan hidup. Tidak hanya barang-barang yang dijual, tetapi suasananya juga terasa hangat. Pelaku seni tradisional juga berpentas di sepanjang jalanan ini sehingga selain lampu-lampu yang menyala dramatis, suara musik khas lokal juga membuat rasa capek saya seharian lenyap. Jangan lewatkan Saturday Night Market saat berkunjung ke sini.

Senyum Manis Adelita Dari Pasar Buah Berastagi

Hampir waktu makan malam saat mobil yang saya sewa seharian untuk keliling Medan melintasi jalanan berbukit dan udara sejuk (dingin) menyerbu kulit saya melalui jendela mobil yang saya buka sedikit. Bapak sopir yang sudah berusia 65 tahun tetapi masih gesit mengatakan kami tiba di kota Berastagi ; kota dengan pemandangan alam yang indah dan udaranya sejuk. Sayangnya saya tiba di sini sudah malam, sehingga hanya melihat sedikit pemandangan indah itu. Tetapi sepanjang perjalanan saya melihat perkebunan jeruk, hamparan bunga matahari dan sayur-sayuran. Berastagi yang berhawa sejuk dan terletak di perbukitan ini memang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani buah, sayuran dan bunga.

“Kita mampir dulu di pasar Berastagi,” kata Pak Sopir. “Kalau sampai sini tidak mampir pasar Berastagi nanti akan rugi,” lanjutnya. Saya menurut saja saat mobil berjuang melewati kemacetan yang panjang. Pasar Berastagi tidak jauh dari Tuju Perjuangan Berastagi yang menjadi gapura memasuki kota Berastagi. “Apa pasar masih buka malam hari seperti ini?” tanyaku. Sopir mengangguk dan berbelok mencari tempat parkir.

Pasar seluas 1 hektar ini tampak rapi. Lampu-lampu menyala menerangi penjual dan pembeli yang masih ramai saat malam tiba. Saya memasuki pasar dari arah samping dan tergoda melihat toko souvenir khas Medan. Berbagai macam souvenir ada di sini mulai dari tempelan kulkas, dompet kecil, gantungan kunci, kain khas Batak, t’shirt bersablon tempat wisata Medan dan banyak jenisnya lagi. Setelah membeli beberapa tempelan kulkas saya memasuki pasar. Deretan buah segar mulai dari jeruk, terong Belanda, markisa, sayuran dan bunga berjejer rapi. Saya kemudian berkeliling melihat buah-buahan yang menggoda itu.

Lalu saya berhenti di satu lapak yang dijaga gadis muda. Senyumnya mengembang saat saya melihat jeruk dan markisa yang dia jual. “Beli Kak, masih segar,” katanya. Saya sengaja berlama-lama memilih jeruk agar bisa ngobrol dengan pembelinya. Namanya Adelita, berjualan buah meneruskan pekerjaan orangtuanya yang petani buah-buahan. Dia tidak melanjutkan kuliah karena ingin membantu orangtuanya bekerja. Dan sepertinya dia juga menyukai pekerjaannya itu. Saya menawar harga jeruk perkilo yang dia ajukan dan dia menyetujuinya. Senyumnya mengembang saat menimbang jeruk dan memasukkan ke dalam tas plastik. “Saya boleh memotret kamu?” tanyaku. “Boleh, siapa tahu bisa masuk televisi,” jawabnya sambil tertawa lebar. Semangatmu semanis jeruk Medan yang kamu jual, Adelita.  Semoga kita bisa bertemu lagi.

 

Tertawa Bersama Ibu Dong di Central Market Hoi An

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di dunia seperti Edinburgh old town, Phuket old town, Geneva old town, Kyoto old town, Takayama old town, Kota Tua Jakarta, Penang old town, Chiang Mai old town dan beberapa tempat klasik lain yang saya lupa namanya, tetapi memasuki Hoi An old town membuat saya tercengang. Pada malam hari kota tua Hoi An akan dipenuhi lampion yang sangat indah. Saya merasa hidup di negeri dongeng bersama para peri yang terbang di atas sungai dengan perahu-perahu berlampion yang melintasi sungai. Saya janji pada diri sendiri untuk kembali ke kota ini suatu hari nanti!

Selain keindahan kota tua ini, Hoi An memiliki dua pasar yang banyak dikunjungi wisatawan. Hoi An night market dan Hoi An central market. Hoi An night market bisa kita temui di sepanjang jalan dekat sungai pusat kota tua Hoi An pada malam hari, tetapi jam 9 malam pusat kota ini sudah sangat sepi dan lampu dimatikan semua. Saya yang berniat nongkrong sampai pagi di pusat kota malah lampu kafe sudah dimatikan tepat jam 9 dan pemesanan makanan closing. Terpaksa saya balik ke hotel dengan kondisi sedikit gelap karena hanya beberapa lampu jalanan yang nyala. Bahkan hotel tempat saya menginap juga lampunya sudah dimatikan dan penjaga sudah tidur di depan pintu hotel.

Tetapi esok harinya saya tidak menyia-nyiakan untuk mengunjungi Central Market Hoi An sepulang dari My Son Sanctuary. Kebetulan letak pasarnya tak jauh dari tempat perahu kami ditambatkan. Guide yang mengantar kami ke My Son Sanctuary bilang kalau kami hanya perlu berjalan lurus sampai ketemu jembatan lalu belok kanan. Dan saya mengikuti petunjuk guide itu setelah pamitan.

Central market Hoi An lumayan luas dan bersih. Berbagai macam barang kebutuhan dijual disini, mulai dari sayuran, buah, makanan, kerajinan, pakaian dan kios makanan yang berjejer dengan menu yang menggoda. Saya menyusuri los-los pasar terbuka ini hingga berhenti di depan sebuah lapak yang menjual kopi Vietnam dan makanan khas Vietnam. Pemilik lapak ini sesuai nama tokonya namanya Ibu Dong. Beliau dengan ramah melayani saya yang aslinya hanya akan belanja sedikit tetapi ingin banyak ngobrol. Saya berpikir membeli kopi di sini akan lebih murah ketimbang di tempat lain. Meski kenyataannya kopi yang saya beli di pasar sama dengan harga yang ada di bandara Da Nang.  Ibu Dong sudah lama fokus berjualan kopi dan makanan khas Vietnam. Kopi yang dijualnya memiliki tingkatan tertentu dan orang akan membeli sesuai dengan seleranya. Salah satu kopi paling terkenal adalah merk Trung Ngu Yen dengan berbagai tingkatan nomor. Setelah tawar menawar saya membeli dua tingkatan nomor dengan bonus makanan khas Vietnam yang terbuat dari kelapa. Makanan ini kalau di Indonesia mirip sagon dengan bungkus plastik kecil-kecil rapi. Ibu Dong sangat ramah dan suka becanda. Bahasa Inggrisnya terbata-bata tetapi bisa saya pahami. Katanya berjualan di pasar membuatnya selalu ceria dan lupa masalah-masalah yang dihadapinya. Bertemu pembeli dari berbagai belahan dunia juga membuatnya bisa bertukar banyak informasi. Ibu Dong mengundang saya datang ke rumahnya jika saya masih lama di Hoi An, tetapi sayangnya sore itu saya harus kembali ke Da Nang dan melanjutkan perjalanan.  Obrolan itu kemudian menjadi panjang karena belum ada pembeli lain yang datang. Benar-benar lebih banyak obrolannya daripada barang yang saya beli.

 

Bertemu orang-orang baru selalu memberi energi baik dalam setiap perjalanan saya, salah satunya keceriaan Ibu Dong dan senyumnya yang selalu merekah saat melayani pembeli.“Let me know when you come  back to Hoi An!” katanya terbata saat memeluk saya yang berpamitan meninggalkan lapak dagangannya. Saya tersenyum, “I will.”

 

 

 

GADONG NIGHT MARKET

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tak banyak tempat wisata kita temukan di sana. Tetapi ada satu tempat yang sedikit ramai pada malam hari. Tempat itu adalah Pasar Malam Gadong.  Kalau anda berkunjung pada bulan Ramadhan, cobalah singgah di Gadong night market yang buka mulai pukul 3 sore hingga 10 malam ini. Anda akan menemukan kemacetan mobil di jalanan menuju Pasar Gadong. Kemacetan yang jarang ditemui di seluruh jalanan Brunei yang sepi hanya dilewati satu dua mobil.

Dengan naik DART (taksi online) dari Pasar Kianggeh yang ternyata hanya ada beberapa orang jualan dengan sebagian besar lapak-lapak kosong, saya tiba di Gadong Night Market tepat pukul 4 sore. Pasar ini sudah ramai dan warga lokal Brunei sudah mengantre di depan stand-stand makanan yang menjual berbagai menu. Ada beberapa orang Indonesia yang juga berjualan di pasar ini. Mereka memutar lagu-lagu Indonesia sehingga Pasar menjadi lebih ramai.

Saya berkeliling Pasar untuk membeli menu buka puasa, tetapi karena berbagai makanan enak ada di sana, saya jadi bingung. Ada nasi lemak, mie goreng, ayam bakar, ikan bakar, nasi ayam, gorengan khas Brunei, jajanan pasar dan banyak lagi. Saya kemudian membeli nasi ayam dan minuman sirup. Di ujung pasar tampak meja kursi untuk pengunjung yang ingin makan di tempat ini, tetapi meja kursi yang disediakan sudah dipenuhi pengunjung. Saya menemukan satu tempat yang masih kosong dan menunggu buka puasa di tempat itu.

Begitu terdengar suara adzan, warga yang menunggu buka puasa langsung menyantap makanannya.  Seorang warga lokal bersama temannya meminta ijin duduk di samping saya, dan kami buka puasa bersama sambil ngobrol. Katanya pasar ini selalu ramai meskipun bukan bulan Ramadhan. Pada hari-hari biasa,  pasar akan ramai hingga jam 10 malam dikunjungi orang yang makan malam di sini. Menyenangkan sekali bergabung dengan warga lokal buka puasa di pasar ini. Setelah buka puasa saya melangkah ke mushala yang ada di depan Pasar Gadong. Mushala ini meski kecil tampak bersih dan lengkap. Brunei memang bukan negara yang memiliki banyak tempat wisata, tapi kehidupan masyarakatnya yang tenang layak kita selami.

 

 

 

Bertemu Survivor Perang Vietnam di Pasar Dong Xuan

“Hello… shopping! Shopping! Very cheap! Very cheap!” teriak seorang lelaki tua yang berjualan souvenir di dekat pintu masuk pasar Dong Xuan Hanoi sambil melambaikan tangan ke saya. Saya yang tidak ingin belanja souvenir hanya menggeleng dan melangkah masuk ke dalam pasar terbesar di Hanoi itu. Tetapi sepanjang saya menyusuri pasar mencari baju Ao Dai (baju tradisional Vietnam), malah kepikiran lelaki tua itu dan berniat mampir melihat barang dagangannya setelah selesai mengelilingi pasar.

Terletak di jantung kota tua Hanoi Vietnam, pasar Dong Xuan yang dibangun oleh Perancis pada akhir abad 19 ini merupakan pasar tertutup yang terdiri dari beberapa lantai dengan banyak kios serta lorong-lorong kecil. Di lantai dasar bagian tengah, ada air mancur dengan tempat duduk di sekelilingnya sehingga pengunjung pasar bisa melepaskan lelah di sini.  Pasar ini menjual berbagai kebutuhan mulai dari pakaian, makanan, sepatu dan souvenir.

Saya kemudian naik ke lantai satu untuk mencari baju Ao Dai. Sudah lama saya ingin memiliki baju tradisional Vietnam ini karena unik dan cantik. Selain itu juga bisa dikenakan wanita berjilbab karena modelnya yang mirip baju kurung. Saya menemukan satu kios yang menjual baju Ao Dai dengan harga sesuai kantong saya dan warna yang saya cari, tetapi sayangnya ukuran untuk saya tidak ada. Akhirnya saya mengurungkan niat membeli baju Ao Dai di pasar ini karena tidak menemukan kios lain dengan harga yang lebih baik. Jika ingin berbelanja di pasar ini, jangan lupa menawar untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Setelah menyusuri lorong-lorong sempit dan mampir di beberapa kios, saya memutuskan untuk keluar dari pasar. Tetapi lebih dulu ingin singgah di kios souvenir lelaki tua di dekat pintu keluar. Begitu saya lewat, lelaki tua itu sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Tampak tenang dan fokus pada bacaannya. Saya memilih-milih souvenir dan dia meletakkan korannya sambil tersenyum lebar menatap saya.

“Shopping! Shopping! Very cheap!” katanya lagi.

Saya tertarik pada tas etnik berwarna merah yang terlihat seperti kain tenun. Lelaki tua itu bangkit mendekati saya, dan saya baru sadar kalau kaki beliau tinggal satu dan mengenakan kruk. Tapi gerakannya energik dan senyumnya sangat ramah. Saat menatap wajahnya saya merasakan aura positip menular ke diri saya.  Saya menanyakan harga tas, dan mengajukan tawaran. Entah tawaran saya terlalu tinggi atau beliau yang murah hati, tetapi tawaran pertama saya langsung disetujuinya. Bahkan beliau memberikan dua dompet kecil sebagai bonus. Teman perjalanan saya memutuskan belanja banyak souvenir di kios ini dan saya menunggunya.

“Take a seat!” katanya menyodori saya kursi plastik untuk duduk. Saya tersenyum dan mengangguk. “cảm ơn”

Matanya berbinar mendengar saya mengucap terima kasih dalam bahasa Vietnam. “Ah, you speak Vietnamese?” Saya tertawa sambil menunjukkan google translate di handphone saya,”No, no… i use google translate. See?”  “Oh, I see. Where are you from?” tanyanya sambil balas tertawa.  “Indonesia.”

“Oh ya, Indonesia. I know your country. Beautiful beach, ah?”

“Ya, i guess so…”

Lalu sambil menunggu teman saya memilih-milih souvenir, kami ngobrol. Saya merasa aura positipnya menulari saya sehingga saya ikut tersenyum lepas.

Namanya Pak Binh Phan, usianya menjelang 70 tahunan. Tapi badannya masih tegap, terlihat sehat dan jejak ketampannya masih jelas di wajahnya.  Saat terjadi perang Vietnam, beliau masih berusia 20-an dan kehilangan satu kakinya. Kondisi yang sulit paska perang dan menyesuaikan hidup dengan satu kaki hampir membuatnya putus asa. Tapi ia sanggup bertahan dan mengatasi kesulitannya dengan berbagai cara. Setelah merintis berbagai usaha namun gagal, kemudian ia berjualan souvenir di pasar Dong Xuan hingga saat ini. Menurutnya bertemu pembeli dari berbagai negara dan mendengar sedikit cerita mereka yang mampir di kiosnya membuatnya lebih semangat.

Saya justru kebalikannya. Saya mendapatkan semangat hidup saya yang sedang remuk saat keliling Vietnam ini kembali lewat Pak Binh Phan. Jika dengan satu kaki saja beliau bisa bertahan melewati banyak hal, bagaimana dengan saya yang memiliki kaki normal? Bahkan yang saya lakukan hanya mengeluh dan mengeluh. Di akhir obrolan saya, Pak Binh Phan memeluk saya penuh respect saat saya meminta foto bersama.  Beliau juga tidak keberatan saat saya mengambil fotonya dari berbagai sudut.  Saya seperti menangkap pesan dari matanya yang bersinar positip bahwa memiliki satu kaki bukan masalah, asalkan masih bisa menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang di sekelilingnya. Terima kasih Pak Binh Phan! You are awesome!

CERITA DARI PASAR CHOWRASTA

Pukul 7 pagi, saya keluar penginapan untuk menghirup udara pagi Penang, Malaysia. Orang-orang sering menyebutnya Pulau Pinang karena kota ini memang terletak di kepulauan kecil yang masih masuk dalam wilayah Seberang Parai.  Di kalangan orang Indonesia, Penang lebih terkenal sebagai tempat berobat karena memiliki beberapa rumah sakit yang bagus. Padahal tak hanya itu, Penang juga memiliki George Town, salah satu kota yang masuk daftar Unesco Heritage Site karena berhasil melestarikan bangunan bersejarah dari abad lampau.  Bangunan-bangunan tua cantik perpaduan arsitektur Eropa dan Asia yang difungsikan sebagai toko, cafe, restoran dan tempat tinggal ini bisa anda temui saat berjalan-jalan menyusuri George Town.

Tujuan saya pagi ini ke Pasar Chowrasta. Ide mengunjungi pasar ini datang dari seorang sahabat yang menitipkan pesannya ke salah satu penjual buku di Pasar Chowrasta. Tetapi Pasar Chowrasta yang berdiri sejak 1890 dan telah mengalami beberapa perbaikan ini memang menjadi salah satu tujuan wisata. Terletak di perempatan pusat kota tepatnya di jalan Lebuh Tamil, pasar tradisional ini menjual bermacam kebutuhan mulai dari jajanan, sayur mayur, daging, sembako, pakaian dan buku. Di sebelah pasar ini juga terdapat deretan tenda-tenda kecil yang berjualan makanan seperti cendol, rujak, es campur yang menurut saya sangat enak.

Setelah menyusuri lantai 1 pasar Chowrasta, saya naik ke lantai 2, tempat deretan lapak penjual buku berada. Tidak susah untuk menemukan lapak yang dimaksud sahabat saya untuk dikunjungi. Pemiliknya bernama Pakcik Iskandar, lelaki India yang ramah berusia sekitar 60 tahun. Kawasan pasar ini pada pertengahan abad 19 memang banyak dihuni suku Tamil yang berasal dari India Selatan, salah satunya nenek moyang Pakcik Iskandar. Meskipun sekarang populasi orang-orang India di sekitar kawasan Chowrasta mengecil, namun kita masih bisa menemukannya di pasar ini.

 

 

Pakcik Iskandar yang mencintai buku ini sejak muda sudah berjualan di Chowrasta. Koleksi bukunya cukup lengkap terdiri dari buku-buku baru dan buku bekas dari penulis berbagai negara seluruh dunia termasuk buku dari Indonesia. Saya menemukan buku-buku terbitan tahun 1945-1950-an dengan kondisi kertas masih bagus dan harga terjangkau. Pak Iskandar juga mempersilakan saya menawar harga yang beliau ajukan untuk mendapatkan harga yang bagus.

 

Saya kemudian membeli buku LITTLE BOY LOST dari penulis Inggris Marghanita Laski terbitan tahun 1949 yang bercerita tentang laki-laki yang mencari anaknya yang hilang di Perancis selama masa perang dan buku MERRIE ENGLAND dari penulis Paul Johnson terbitan tahun 1964. Ada beberapa buku tua tentang sejarah Melayu yang ingin saya beli tetapi harganya lumayan mahal sehingga saya batal membelinya. Pak Iskandar menguasai semua isi buku yang dijualnya dan menjelaskan setiap detail buku dengan gamblang ke pelanggannya.  Bahkan ketika beberapa orang generasi milenial datang mencari buku romans remaja, Pak Iskandar langsung tanggap dan memahami buku yang dimaksud. Baginya buku adalah denyut nadi kehidupannya dan jalan rezekinya. Meski dunia digital bisa jadi akan menenggelamkan semua buku-buku yang dijualnya, beliau selalu percaya rezeki akan menghampirinya melalui sesuatu yang dicintainya.

Hampir dua jam saya berbincang-bincang tentang Penang dan buku di lapaknya sambil melihatnya melayani pelanggan. Saya sempat menanyakan apakah pelanggannya banyak mencari buku dari penulis Indonesia? Menurut Pakcik Iskandar selalu ada yang mencari buku-buku tokoh Indonesia seperti Soekarno atau tokoh-tokoh Indonesia lainnya tetapi sayang koleksinya dari Indonesia sedikit. Dulu Pakcik sering datang ke Indonesia untuk mengambil buku-buku yang akan dijualnya sebelum kerjasamanya dengan salah satu penerbit berakhir karena penerbit itu tutup.Pasar selalu menghadirkan kehidupan khas manusia-manusia di kota yang ditinggalinya. Pakcik Iskandar dengan koleksi buku-bukunya adalah inspirasi bagi saya untuk bisa memahami bahwa cinta pada buku tak harus mati dengan banjirnya dunia digital. Karena begitulah cinta yang sebenarnya, tak mudah menyerah pada perubahan.

 

 

BRUNEI DARUSSALAM : NO SMOKING, NO TIPPING! (PART 2)

“Peace cannot be kept by force ; it can only be achieved by understanding, ~ Albert Einstein.

Hari kedua di Brunei Darussalam, saya merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat turistik seperti Regalia Museum dan Masjid Omar Ali Saefuddin.  Karena menunggu bus lewatnya sangat lama, maka saya memesan taksi online (DART) yang beroperasi seperti GRAB atau GOCAR kalau di Indonesia. Selain angkutan umum sangat jarang, kebanyakan warga menggunakan mobil untuk transportasi. Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil kancil dengan pengemudi muda menjemput saya.  Begitu mobil melaju di jalanan menuju Regalia Museum, pengemudi muda ini banyak mengajak saya ngobrol, mulai dari menunjukkan tempat yang menarik dikunjungi di Brunei, sampai obrolan tentang Jakarta.  Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai Regalia Museum dan pengemudi muda itu menolak kembalian ongkos taksi online yang sengaja saya tinggalkan untuknya. Ia mengembalikan tepat sesuai angka sen terkecil.  Sikap ini mendadak membuat saya nyaman berada di negera kecil ini.  Tidak hanya no tipping, negeri ini juga no smoking. Sejak tahun 2012  merokok tidak diperbolehkan di negera ini. Jika tertangkap polisi harus membayar denda yang cukup besar.  Brunei merupakan satu negara bebas rokok terluas di dunia.  Tidak ada smoking room dimanapun bahkan dikamar mandi dipasang signboard “no smoking”.  Di areal luar-pun dilarang merokok dengan alasan, semua orang berhak atas udara yang bersih, jadi jangan sampai tercemar oleh asap rokok orang lain.

Regalia Museum

 

Regalia Museum berada tepat di tengah kota Brunei Darussalam dan berisi koleksi tribute to Sultan. Berisi koleksi foto-foto Sultan dari masa kecil hingga dewasa, kunjungan-kunjungan berbagai negara ke Brunei Darussalam dan cinderamata dari berbagai negara. Pengunjung hanya boleh memotret di luar ruangan koleksi, sementara di bagian dalam hanya diperbolehkan melihat-lihat. Saya menemukan banyak cinderamata dari Indonesia terpajang di koleksi bagian dalam berjejeran dengan cinderamata dari berbagai negara lain.

Areal dalam Regalia Museum

 

Udara di luar sangat panas menjelang waktu dhuhur saat saya berjalan ke arah  belakang museum sekitar 100 meter tempat masjid Omar Ali Saefuddin berdiri.  Dengan gaya arsitektur Mughal Islam dan Italia, masjid ini selesai dibangun pada tahun 1958.  Nama Omar Ali Saefuddin diambil dari nama Sultan Brunei ke-28. Di sekitar masjid ini terdapat laguna atau kolam buatan di tepi sungai di Kampong Ayer serta replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke -16. Kubah masjid Omar Ali Saefuddin dilapisi emas murni dengan tinggi bangunan 52 meter sehingga dapat dipandang dari berbagai tempat di Brunei Darussalam.

Bagian dalam Masjid Omar Ali Saefuddin

 

Saya menghabiskan waktu hingga waktu taraweh di masjid Omar Ali Saefuddin ini. Selain mengambil foto juga ngobrol dengan pekerja migran dari Indonesia, Bangladesh dan India. Bahkan saya berbuka puasa di pelataran masjid dengan mereka dengan makanan yang disalurkan penduduk lokal ke masjid. “Saya dulu bekerja rumah tangga, tapi sekarang sudah punya usaha sendiri, jualan jamu,” kata pekerja dari Indonesia yang sudah di Brunei selama 18 tahun, bahkan satu anaknya sudah sekolah di sana. “Setahun saya pulang ke Jawa dua kali, “tambahnya. Banyak saudara kita bekerja di Brunei, bahkan saya selalu menemukan orang-orang Jawa di semua restoran tempat saya makan, rata-rata mereka sudah bekerja minimal 4 tahun dan akan kembali lagi.  Taraweh di Brunei 23 rakaat, tetapi beberapa jamaah yang memilih 8 rakaat menunggu di luar untuk kemudian bergabung lagi saat witir.  Di luar masjid saat taraweh juga tersedia banyak makanan gratis yang bisa diambil para jamaah atau siapa saja yang sedang berada di masjid.  Malam itu karena sudah lelah, saya memutuskan segera kembali ke hotel dan melanjutkan explore esok harinya.

Istana Nurul Iman, tempat kediaman Sultan

 

Hari berikutnya saya masih menggunakan DART untuk ekplore Brunei, dan kali ini dijemput dengan mobil Fortuner. Pengemudinya pendiam, sehingga saya tidak banyak ngobrol. Tujuan saya banyak sebenarnya, namun ternyata hampir semua lokasi tidak sama dengan bayangan saya. Kebanyakan lokasi yang saya kunjungi sepi sehingga saya seperti orang aneh jalan-jalan tidak jelas menyusuri lokasi wisata itu.  Pertama mengunjungi Istana Nurul Iman yang sepi dan hanya bisa melihat di depan pagarnya. Kedua saya mengunjungi pasar Kiangeh yang juga hanya ada beberapa penjual sayur. Lalu saya melanjutkan perjalanan ke Kampong Ayer. Ini agak lebih menarik ketimbang dua tempat sebelumnya.

Kampong Ayer

 

Kampong Ayer (kampung air) merupakan kawasan pemukiman yang secara historis merupakan pemukiman penting di Brunei. Pemukiman yang dibangun di atas sungai Brunei memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari sekolah, kantor polisi, kolam renang, hingga museum.  Satu bagian tampak dengan bangunan lebih tua sementara bagian lain sudah menggunakan beton dan sangat bagus. Saya hanya sempat menyusuri beberapa bagian karena ingin berkeliling menggunakan perahu.  Selama beberapa abad Kampong Ayer menjadi pusat ekonomi dan sosial yang penting di Brunei hingga awal imperialisme Inggris di Brunei.  Dari Kampong Ayer ini, saya memutuskan menyewa perahu untuk menyusuri sungai hingga ke pasar Gadong.  Jadi perjalanan saya tidak hanya menjelajah daratan namun juga melalui sungai.

Kampung Ayer

 

Sore menjelang buka puasa, saya mengunjungi pasar Gadong untuk berbuka puasa di sini bersama warga lokal yang antri belanja di pasar Gadong dan sebagian buka puasa di sini. Tulisan tentang Pasar Gadong, nanti akan saya tuliskan tersendiri.  Seminggu di Brunei Darussalam meninggalkan kenangan yang menarik buat saya. Negeri yang sepi namun tenang ini ramah dan nyaman untuk dikunjungi.  Saya memang tak mendapatkan tempat wisata sesuai impian saya, tetapi keramahan penduduknya dan ketenangan negara ini mempesona.

 

 

BRUNEI DARUSSALAM : RAMADHAN DI NEGERI SULTAN (PART 1)

“Ramadhan does not come to change our schedules. It comes to change our hearts.”

Masjid Omar Ali Saefuddien

Saya percaya perjalanan itu berkaitan dengan takdir. Begitu juga perjalanan saya ke Brunei Darussalam ramadhan ini. Selama 9 tahun menjalani hobby backpacker, Brunei tidak sedikitpun terlintas dalam kepala saya untuk dikunjungi karena saya selalu mencari tempat-tempat yang etnik dan eksotis. Tapi nyatanya saya malah mendapat tiket gratis return ke Brunei Darussalam. Dan berangkatlah saya ke negara terkaya kelima di dunia dari 182 negara yang memiliki ladang minyak bumi dan gas alam  versi Forbes ini.

 

Dengan penerbangan pagi dari Kualalumpur, di gate ruang tunggu keberangkatan saya bertemu seorang bapak-bapak dari Malang yang bekerja di salah satu bengkel di Brunei Darussalam selama tiga tahun terakhir setelah sebelumnya bekerja di Malaysia. Banyak orang Indonesia bekerja di sini, entah itu di rumah tangga atapun mereka memiliki usaha sendiri. Di restaurant samping hotel tempat saya menginap, waitresnya juga gadis dari Madiun, Jawa Timur.  Maka tidak mengherankan kalau saya sering mendengar percakapan bahasa Jawa di beberapa tempat.

Penerbangan dari Kualalumpur ke Brunei Darussalam memerlukan waktu 2 jam. Brunei International Airport tampak kecil, rapi dan efisien. Perjalanan kali ini saya memesan shuttle hotel karena menurut informasi angkutan umum di sini agak susah dan harus menunggu lama. Maklum kebanyakan penduduk Brunei menggunakan mobil pribadi sehingga ( sepertinya) angkutan umum tidak begitu diperlukan.  Tetapi kita bisa menggunakan aplikas taksi online DART yang biayanya lebih murah dari taksi umum. Sopir yang menjemput saya di airport sangat ramah dan berbahasa Melayu yang mudah saya pahami. Baru ngobrol dengan sopir ini saja, saya sudah mendapat feeling saya akan suka perjalanan ini. Dan benar, saya menyukai perjalanan saya.

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Tetapi jika anda suka bertemu orang-orang baru dari berbagai belahan dunia dan mempelajari karakter-karakter mereka maka anda akan suka berkunjung ke sini.  Kebanyakan orang Brunei ramah, hangat dan suka menolong. Setidaknya itu yang saya rasakan sejak saya datang. Mereka selalu tersenyum, memberi informasi detail tentang negaranya, dan sikapnya hangat. Saya yang memang suka tersenyum saat bertemu orang asing sekalipun jadi merasa nyaman di negara ini karena mereka juga tersenyum balik pada saya.

Terdiri dari 4 distrik yakni Belait, Brunei dan Muara, Temburong dan Tutong, negara kecil ini sangat sepi.  Penduduk asli mengatakan bahwa negara mereka ramai pada hari raya lebaran atau hari jadi Sultan. Saya memilih tinggal di Gadong, kawasan yang menurut informasi paling ramai karena banyak ruko, mall dan restaurant di banding tinggal di kawasan Bandar Seri Begawan yang jam 7 malam sudah sepi. Meskipun begitu untuk orang yang biasa tinggal di kebisingan Jakarta, Gadong inipun masih sepi.  Tetapi kondisi sepi ini tidak menakutkan, justru bagi saya terasa nyaman dan tenang.

Ada beberapa tempat wisata yang bisa anda kunjungi di Brunei Darussalam seperti Kampong Ayer, Masjid Omar Ali, Istana Nurul Iman, Jerudong Park, The Royal Regalia Museums dan Masjid Sultan Hassanal Bolkiah.  Saya baru mengunjungi Regalia Museums dan Masjid Omar Ali Saifuddin pada tulisan part 1 ini karena lebih suka banyak diam di masjid selain udara yang panas dan menghemat energi karena sedang puasa.

Regalia Museums terletak di pusat kota Bandar Seri Begawan dan buka setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore kecuali pada hari Jum’at yang hanya buka pukul 9 pagi hingga pukul 11.30 siang.  Museum yang berisi tentang sejarah Brunei dan tribute untuk Sultan ini sangat menarik untuk dikunjungi dan gratis. Semua tempat wisata di Brunei tidak menggunakan tiket berbayar untuk memasukinya.

Tidak jauh dari Regalia Museums, hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saya menemukan Masjid Omar Ali Saifuddien. Masjid ini dinamai berdasarkan Omar Ali Saifuddien III, Sultan Brunei ke-28. Masjid ini diselesaikan pada tahun 1958 dengan arsitektur Islam modern yang memadukan arsitektur Mughal dengan gaya Italia. Masjid ini dibangun diatas laguna di tepi sungai Brunei di Kampong Ayer dengan menara kubah emas dan dilengkapi dengan taman indah yang mengelilingi masjid. Ada jembatan yang membentang diatas laguna menuju replika perahu kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke 16.

Saya merencanakan diam di masjid ini mulai ashar hingga waktu berbuka puasa. Ternyata menjelang berbuka puasa banyak pekerja migran dari India, Bangladesh dan Indonesia berkumpul di sini untuk berbuka puasa bersama. Saya kemudian bergabung dengan mereka berbuka puasa di sini. Banyak yang menyiapkan makanan dan minuman untuk orang-orang yang berbuka di masjid. Dan sayapun kebagian makanan itu. Di tengah para perantau yang mengais rezeki di tanah asing, saya merasakan buka puasa saya begitu berharga.

(to be continued)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hoi An, Vietnam : Lawas Dan Romantis

“Some folks call her a runaway. A failure in the race. But she knows where her ticket takes her. She will find her place in the sun”

― Tracy Chapman

Setelah Google map membuat saya nyasar-nyasar mencari tempat makan halal dan tidak menemukannya, saya tiba di jalanan besar dengan lalu lalang orang yang kebanyakan turis berambut pirang. Dengan penerangan lampion yang artistik di berbagai tempat, suasana malam menjadi hangat dan romantis.

“Nanti saya ingin bulan madu di sini,” Saya terpesona pada malam yang romantis dan bangunan-bangunan tua yang eksotis. “Kamu sudah memilih tempat bulan madumu, jadi yang mana calon suamimu?” Saya balas tertawa.

Hoi An merupakan kota kecil di Vietnam Tengah yang pada abad ke 15 hingga abad ke 19 merupakan pelabuhan dagang utama di Asia Tenggara dan menjadi pusat kerajaan Champa. Namun seiring runtuhnya dinasti Nguyen dan redupnya kejayaan Hoi An pelabuhan dagang itu pindah ke Da Nang, kota pelabuhan terdekat.  Hampir selama ratusan tahun, Hoi An tak tersentuh modernisasi sehingga sampai hari ini bisa kita nikmati eksotisme keaslian bangunan-bangunan tuanya yang berarsitek perpaduan Jepang dan Tiongkok.

Bahkan sejak 1999, Hoi An ditetapkan sebagai salah satu warisan dunia UNESCO sebagai pelabuhan dagang Asia Tenggara yang terawat dengan baik. Bangunan-bangunan tua ini pada masa kini digunakan sebagai hotel, kafe, ruko dan tempat tinggal yang masih terjaga keasliannya.

Untuk mencapai Hoi An diperlukan waktu satu jam perjalanan udara atau sekitar semalam perjalanan darat dari Hanoi, kota yang saya kunjungi sebelumnya di Vietnam Utara.Karena waktu saya sempit, saya menggunakan pesawat dari Hanoi sore hari dan tiba di Da Nang international airport malam hari.  Tidak ada bandara di Hoi An, jadi bandara terdekatnya adalah di kota Da Nang. Dari Da Nang dibutuhkan waktu 40 menit untuk sampai di Hoi An menggunakan taksi, shuttle bus atau bus. Karena saya tiba di Da Nang sudah malam, maka yang tersedia hanya taksi. Beberapa taksi yang direkomendasikan oleh para traveler adalah Mai Linh, Son Han, Tien Sa Da Nang, dan Vinasun taksi. Saya kemudian memilih Vinasun taksi. 

Karena sebelumnya saya kena scam taksi di Hanoi saat terjebak macet pengalihan jalan akibat Trump-Kim Hanoi Summit, jadi saya langsung curiga saat taksi membelah jalanan kota Da Nang dan argo taksi bergerak cepat menuju angka million. Saya langsung nyolek sopir taksi dan menanyakan jumlah argonya. Ternyata saya salah lihat koma di argo. Argo yang benar menunjukan ratusan, bukan million. Sopir taksi malah menertawakan kecurigaan saya dan ketika sampai di depan hotel malah mengembalikan uang tips yang saya berikan untuk menunjukkan kejujurannya. Saya jadi malu.

Tak hanya Hoi An The Ancient Town yang menarik buat saya, tapi ada satu tempat yang ingin saya kunjungi yaitu MYSON SANCTUARY komplek candi Hindu sebagai peninggalan kejayaan kerajaan Champa. Dari kota Hoi An dibutuhkan waktu satu jam untuk sampai di komplek MYSON menggunakan bus bersama banyak traveler yang lain. Terletak di perbukitan, candi-candi ini sebagian telah hancur karena perang Vietnam. MYSON juga salah satu warisan peninggalan dunia UNESCO yang banyak dikunjungi wisatawan.

Saya sendiri mengunjungi candi ini karena dalam Babad Tanah Jawi disebutkan bahwa salah satu putri Champa yang bernama Anawarati atau Dwarawati menikah dengan raja Majapahit Brawijaya V (Kertabhumi) dan sekarang makamnya ada di Trowulan Mojokerto. Jadi saya merasa tempat ini ada hubungannya dengan negara saya.

Bahkan dalam salah satu ruangan candi tampak patung Garuda yang sekarang menjadi lambang negara kita. Saya tidak paham benar soal candi-candi Hindu, tetapi yang menarik lagi kemudian adalah orang-orang Champa ini setelah bersinggungan dengan pedagang Arab kemudian beragama Islam. Mereka tersebar di Saigon, Vietnam selatan, Kamboja dan Thailand. Lokasi ini kemudian menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik buat turis Asia maupun Barat. Dengan fasilitas yang nyaman, mobil terbuka hingga pintu masuk areal Myson dan kafe yang menyediakan makanan, pengunjung bisa menikmati kunjungannya dengan gembira.

Tetapi saya sarankan kalau berkunjung ke tempat ini lebih baik pagi hari karena jika siang hari panasnya luar biasa.
Sebagai kota pelabuhan, Hoi An sudah jelas lebih panas dibanding Hanoi. Keindahan kota ini akan tampak pada sore saat sunset hingga malam hari lampion-lampion menyala. Sungai yang membelah tengah kota tua semarak dengan perahu-perahu sewaan yang membawa pasangan-pasangan romantis diterangi temaram lampion. Saat teman saya mengajak naik, saya malah memilih duduk di sisi sungai melihat beberapa wanita tua yang menjual lampion kecil dalam wadah kertas untuk dilarung ke atas sungai.

Orang-orang berjuang untuk hidup tentu saja, ketika pasangan-pasangan romantis naik perahu, nenek-nenek tua ini berjuang menjual lampion-lampion kecil untuk melanjutkan hidupnya.  Saya ingin menghabiskan malam ini sampai pagi di tepi sungai, tetapi saya salah duga. Tepat jam 9, setelah saya mencicipi kopi Vietnam di salah satu kafe, lampion-lampion mulai mati. Kafe-kafe juga mulai closing dan mengusir pembelinya.

Turis-turis mulai pulang ke hotel masing-masing. Begitu saya, akhirnya memutuskan kembali ke hotel. Lebih lucu lagi ternyata hotel sudah mematikan semua lampu dan penjaga tidur di depan pintu masuk. Tepat jam 10 malam, kota romantis ini telah mati.

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di beberapa negeri seperti Edinburgh Old Town di Inggris, Phuket Old Town di Thailand, Kyoto Old Town di Jepang, Takayama Old Town di Jepang,  Jeonju Hanok village di Korea, Geneva Old Town di Geneva Swiss dan saya jatuh cinta pada Hoi An The Ancient Town dibanding yang lainnya. Saya akan kembali lagi untuk bulan madu. Semoga.