Category Archives: DESTINATIONS

MEMASUKI THE WHITE HOUSE, MANILA AMERICAN CEMETERY & MEMORIAL

Pemakaman tentara Amerika ini memang menjadi salah satu tempat wisata yang ingin saya kunjungi di Manila. Tetapi tidak pada hari pertama ketika saya baru saja keluar rumah dan hanya ingin melihat-lihat sekeliling. Saya ingin punya waktu khusus untuk berkunjung ke pemakaman ini karena pemakaman buat saya lebih menarik ketimbang mall.

Tetapi, sore itu setelah beberapa menit perjalanan keliling pusat kota Manila, mendadak mobil yang saya tumpangi memutari sebuah bundaran. Lalu di kejauhan tampak barisan nisan putih yang sangat banyak.

“What is that?” tanya saya pada sopir.

“It is the white house,” jawabnya tertawa.

Aku bengong memandangi gerbang tinggi menjulang yang dijaga dua orang penjaga berseragam biru dengan wajah yang ramah.

“Sorry, just kidding. It is American Cemetery,” ralat sopir. “You wanna go inside or just passing by?”

Hmm, tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya memutuskan masuk ke areal pemakaman. Setelah menunjukkan kartu identitas ke penjaga dan mereka mengecek keamanan mobil, kami masuk ke areal pemakaman tanpa dipungut biaya. Pemakaman ini buka mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore kecuali tanggal 25 Desember dan 1 Januari.

Begitu memasuki areal pemakaman, mata saya disergap pemandangan ribuan nisan berwarna putih yang berbaris rapi bahkan menurut saya komposisinya enak di lihat hingga bisa dibilang artistik. Pohon-pohon besar dan rindang menaungi nisan-nisan itu, sementara rumput halus menghijau seperti permadani menghampar di sepanjang areal pemakaman. Mobil pemotong rumput dan orang lokal petugas kebersihan makam  sibuk mondar-mandir membersihkan bagian-bagian yang kotor seolah tak akan dibiarkan pemakaman ini kotor sedikt saja. Di kejauhan tampak pegunungan menjadi latar pemandangan sementara di sisi lain gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi.

Saya membayangkan tentara-tentara Amerika yang tidur di bawah sana begitu tenang dan damai berada di tempat sebagus ini, seluas ini dan sebersih ini meskipun pada kenyataannya Amerika pernah memerintah Filipina selama sejak 1898 hingga 1935 karena pada tahun 1935 itu Filipina menjadi negara persemakmuran Amerika. Kemudian Filipina baru mendapatkan kemerdekaannya di tahun 1946.

Pemakaman yang berdiri di areal seluas 62 hektare ini khusus dibuat untuk tentara Amerika yang meninggal dalam Perang Dunia II saat melawan Jepang.  Ada sekitar 16 ribuan lebih tentara yang di makamkan di sini dan 36 ribu lebih nama-nama tentara yang hilang dalam perang diabadikan dalam monumen di tengah pemakaman dekat sebuah kapel kecil. Pemakaman ini terletak di Global City, Taguig, Metro Manila dan dibiayai oleh ABMN (American Battle Monumens Commision).

Menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi, pemakaman tentara Amerika ini dipelesetkan sebagai The White House karena deretan nisannya yang putih dan monumen-monumennya yang kebanyakan juga berwarna putih.

 

 

MENDAKI GUNUNG SAMPAH BANTARGEBANG

Mendengar kata Bantargebang, ingatan saya melayang pada unggahan sebuah foto oleh actor Hollywood yang juga aktivis lingkungan, Leonardo Dicaprio, di akun resmi instagramnya pada 6 September 2019. Dalam foto karya Adam Dean tersebut tampak seorang pemulung sedang memungut sampah di Bantargebang. Unggahan ini menimbulkan reaksi netizen Indonesia yang kebanyakan merasa malu. Salah satunya, “bangga menjadi orang Indonesia. Kita suka membeli apapun dengan bungkus plastik.” 

Sampah memang menjadi masalah klasik yang belum juga ditemukan solusi terbaiknya di ibukota dari tahun ke tahun. Itu juga yang membuat saya tertarik mengunjungi Bantargebang. Pada bulan Maret 2022, tepat pukul 10 pagi, saya tiba di pintu gerbang Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Saya masuk lewat belakang kelurahan Sumur Batu.


Gunungan sampah yang tinggi seolah melambaikan tangan ketika ban mobil saya terperosok ke dalam lumpur. Dua orang pemuda mengenakan kaos hitam lengan panjang, topi rimba kusam dan sepatu boot plastik membantu saya keluar dari kubangan lumpur. Setelah mobil terparkir aman, saya melewati lorong kecil di depan rumah-rumah bedeng berdinding triplek yang dihuni pemulung Bantargebang. Beberapa pria dan wanita sedang duduk sambil mengobrol santai. Saya turun ke jalan utama yang dilewati truk-truk pengangkut sampah dan perlahan menyusuri jalan itu.
Ketika mendongak ke atas, tampak gunungan sampah dan para pemulung sedang bekerja. Mereka mengenakan baju panjang, sepatu boot plastik, penutup kepala dan keranjang yang terlilit di punggungnya. Tangannya memegang tongkat bercapit untuk memunguti sampah. Matahari yang menyengat menghitamkan wajah mereka. Saya terus melangkah.


Pembuangan sampah ibukota ini sudah mencapai titik kritis. Minimnya lahan sehingga sampah harus ditumpuk menyerupai piramida. Saat ini tinggi gunungan sampah sudah mencapai 40 meter dari maksimal yang diijinkan, 50 meter. Dari lima zona, empat diantaranya sudah mencapai batas maksimal. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Kehidupan warga yang tinggal dalam radius hingga lima kilometer dari TPST Bantargebang juga terancam. Bau busuk menyengat dan air sumur tercemar air lindi sampah. Air lindi sampah terbentuk dari air hujan yang terjebak tumpukan sampah. Ini sangat berbahaya dan beracun karena mengandung konsentrasi senyawa organik maupun anorganik tinggi.


“Mau naik ke atas, Mbak?” tanya seorang lelaki usia kisaran 35 tahun yang kemudian saya kenal bernama Usman.
Saya bergabung dengan Usman duduk di bangku bambu yang berada di depan rumah bedeng. Dua orang lelaki lainnya yang lebih tua, Sulaiman dan Markoni yang berusia kisaran 50 tahun ikut ngobrol sambil memilah-milah sampah.
“Saya baru enam bulan kerja di sini,” katanya sambil memandangi gunungan sampah di depan kami yang menjulang dengan sorot mata penuh harapan.
“Covid bikin sulit cari kerja. Jadi buruh pabrik susah diterima. Istri nyuruh jadi sopir angkot, tapi angkot juga susah dapat penumpang. Di sini lebih pasti.”
“Asal rajin ngambil sampah, pasti bisa makan,” timpal Sulaiman.


Sulaiman berasal dari Bekasi Timur, sudah 10 tahun bekerja sebagai pemulung di Bantargebang. Seluruh keluarganya dibawa tinggal di rumah bedeng. Bagi Sulaiman, Bantargebang menjadi tempat paling tepat untuk mengais rezeki karena ia tidak memiliki pendidikan. Ia sudah nyaman tinggal di Bantargebang dan tidak ingin pindah ke tempat lain. Sementara Markoni yang berasal dari Padang juga sudah 10 tahun lebih tinggal di rumah bedeng. Meski terlintas keinginan untuk kembali ke kampung halaman, tetapi sampah lebih menjanjikan.

Kerja keras dan ketelitian menjadi modal utama para pemulung di Bantargebang. Jika beruntung mereka bisa menemukan barang-barang mahal seperti emas dan handphone bekas yang bisa dijual kepada pengepul. Sementara barang lain yang diincar para pemulung adalah plastik sekali pakai, kertas, karung-karung bekas hingga busa kasur. Bahkan belatung juga laku dijual.


Menurut Usman, harga sampah plastik per kg Rp.400 tetapi jika langsung dijual ke pabrik bisa dua kali lipat. Ada sekitar 7000 pemulung yang tinggal di rumah bedeng seputar TPST Bantargebang. Mereka datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia mulai dari Madura, Padang, Tangerang, Cikarang, Karawang dan sekitaran Bekasi. Mereka terpaksa datang ke Bantargebang karena tidak ada lapangan kerja di kampung. Lahan pertanian sudah habis dan mereka tidak memiliki pendidikan yang memadai. Sampah kemudian menjadi pilihan terbaik.

Pertemuan saya dengan tiga lelaki itu membawa saya ke rumah bedeng di belakang mereka. Di sana ada gubuk kecil dari kayu beratap terpal. Empat ibu-ibu muda sedang mengobrol. Saya memperkenalkan diri lalu bergabung. Di samping mereka tampak bangunan terbuka dari bambu yang dipenuhi anak-anak sedang belajar membaca dan menulis. Ternyata ibu-ibu muda itu sedang menunggu anak mereka sekolah. Beberapa aktivis dan relawan mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak pemulung. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung dan agama.

“Saya tinggal di sini sejak tahun 2004,” kata Mama Akmal wanita berparas manis, mengenakan daster batik merah tanpa lengan dan riasan wajah lengkap. “Saya lebih kerasan di sini ketimbang di kampung, suami tidak punya kerjaan di sana. Mau bertani tidak bisa, jadi buruh tidak bisa.”


Sependapat dengan tiga lelaki yang saya temui, empat ibu-ibu muda ini juga meyakini bahwa sampah adalah berkah bagi mereka. Tidak ada yang lebih pasti soal rezeki dibanding sampah yang diangkut truk-truk dari Jakarta dan Bekasi.
Sudah 36 tahun TPST Bantargebang beroperasi. Dibuka tahun 1986, TPST terbesar di Indonesia bahkan di dunia menurut versi National Geografi ini, memiliki luas total 110.3 hektar. Secara administratif, wilayah TPST Bantargebang terletak di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat yaitu kelurahan Ciketing Udik, Sumur Batu dan Cikiwul. Namun status tanah dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setiap hari jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang sekitar 7000-7500 ton dari DKI Jakarta. Pembuangan sampah khusus milik Pemerintah Kota Bekasi terletak di Sumur Batu tempat saya masuk ke lokasi ini.


“Waktu banjir dan longsor, rumah ini kena juga. Beberapa pemulung meninggal tertimbun sampah,” kata Mama Akmal saat mempersilakan saya masuk ke dalam rumahnya.

Rumah bedeng mungil berdinding triplek itu cukup rapi. Dua kamar tidur disekat dengan tirai kain, dapur untuk memasak dan kamar mandi. Lantainya ditutupi plastik perlak warna abu-abu. Bagian dinding dihias tanaman gantung imitasi serta gambar doraemon di sisi yang lain. Meski berada tepat di depan gunung sampah dan jalan utama truk-truk sampah lewat, rumah bedeng ini terasa nyaman. Mama Akmal menyewa rumah bedeng ini dengan harga Rp.300.000.

“Tidak semua wanita ikut memulung, kami menjaga anak-anak di rumah,” kata teman Mama Akmal sambil mencomot makanan yang ada di depannya.

Lalat mengerubungi sisa makanan yang baru saja diambil, empat wanita itu tertawa-tawa menceritakan kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa anak selesai sekolah dan bergabung, ikut mengambil makanan yang dirubung lalat.

“Kita sudah kebal, tapi kalau tidak terbiasa jangan coba-coba, nanti sakit perut,” kata Mama Akmal seperti memahami kekhawatiran saya.


Seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun mendekati saya dan menarik-narik tangan saya. Sikapnya seolah sudah kenal dekat. Ia bernama Izan dan mengajak saya mendaki gunung sampah. Beberapa anak lain juga bergabung. Mereka berlari-lari kecil sambil menyanyi. Melompat ke atas bak sampah, naik ke atas tumpukan-tumpukan sampah sambil salto, menggantungkan tangan ke pinggiran bak sampah sambil menggoyang-goyangkan kakinya sementara teman yang lain menarik celananya sampai telanjang. Tawa mereka berderai penuh kegembiraan.
Saya kuwalahan mengikuti mereka mendaki gunung sampah. Beberapa kali Ijan mengulurkan tangan untuk menolong saya naik ke bukit yang lebih tinggi. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan sampah yang membusuk, para pemulung yang sibuk memunguti plastik dan truk-truk yang terus berdatangan. Saat truk datang, para pemulung berlari menyambut rezeki yang ditumpahkan dari atas truk dan berebut memunguti barang-barang yang bisa dijual.


“Dulu, ada yang meninggal tertimbun sampah yang ditumpahkan dari truk,” kata seorang anak perempuan setelah menyelamatkan kaki saya yang terjeblos sampah basah.

Saya tertegun memandang anak perempuan itu. Ia menceritakan hal tragis itu seperti hal biasa. Tidak ada yang menakutkan. Mungkin mereka tidak memahami betapa bahaya tempat bermain mereka dan tempat orang tuanya bekerja. Tetapi kenyataan memang berkata sebaliknya. Bisa jadi mereka telah kebal. Mereka terlihat sehat, ceria dan bersemangat bermain di tengah sampah rumah tangga, pasar, kantor, banjir, jalanan, bahkan sampah medis yang berbahaya saat covid-19 melanda.


Saya terus naik mengikuti langkah anak-anak itu. Di puncak gunung sampah terdapat tenda-tenda kecil yang dibangun para pemulung sebagai pelindung saat mereka bekerja. Seorang ibu tua berjaket abu-abu duduk berteduh di salah satu tenda kecil bersama teman-temannya. Saya bergabung dengan ibu tua itu dan membiarkan anak-anak berlarian di antara sampah.

“Ini rumah dan harapan saya, neng…” kata ibu tua itu tanpa saya tanya.

Saya memandang wajah ibu tua yang menghitam dan tampak kontras dengan kain penutup kepala warna merah muda yang ia kenakan. Senyum lebarnya mengembang menampakkan giginya yang telah habis. Tetapi saya memang melihat harapan di matanya, juga rumah yang enggan ia tinggalkan.

Lamat-lamat saya seolah mendengar suara Fiersa Besari menyanyikan lagu Alam Bukan Tempat Sampah. “Laut bukan tempat sampah, gunung bukan tempat sampah, alam bukan tempat sampah, jadikan bumi lebih indah…”
Tetapi bagi sebagian orang sampah adalah rumah dan harapan.

***

MENGAKRABI PESONA DAN BAHAYA KAWAH IJEN

Tropper yang saya tumpangi melesat menembus malam. Tersorot lampu depan tropper, jalanan beraspal halus dari Banyuwangi kota menuju pos Paltuding Ijen tampak berkelok-kelok dibayangi sisi kiri dan kanan hutan lebat. Udara dingin menerobos melalui jendela tropper yang terbuka sebagian. Tidak terlalu dingin, hanya sekitar 17 derajat sehingga saya tidak perlu mengenakan jaket.

“Perlu waktu satu jam dari kota sampai Paltuding dan banyak cerita mistis di jalanan ini, nanti saya ceritakan waktu kita balik,” kata Aldo, pemandu pendakian, yang duduk di samping sopir.

Sebelum melambung sebagai kota wisata, kota ini memang lebih dikenal dengan sitgma kota mistis. Saya melirik sisi jalan yang menikung tajam dan curam. Tampak dua pohon besar menjulang tertutup kain putih pada bagian tengahnya. Pohon itu memang kelihatan angker, tetapi pikiran saya berkecamuk pada hal lain. Saya membayangkan perjalanan mendaki gunung Ijen sebentar lagi. Tentu tidak mudah dengan kondisi kaki kiri bermasalah meskipun sudah minum obat dan cukup tidur.

Pukul 01.30 dini hari, tropper tiba di pos Paltuding, titik berkumpulnya para pendaki. Belum banyak pendaki yang datang. Aldo mengajak saya memasuki salah satu warung yang berjajar di sana dan memesan segelas teh panas sebelum gerbang pendakian dibuka 30 menit lagi. Dua orang bule duduk di pojok warung sedang mengobrol.

Tiket memasuki kawah Ijen sebenarnya bisa dibeli secara online, namun fasilitas pengecekan tiket masih manual sehingga tidak ada bedanya dengan pembelian di loket tiket.  Menurut Aldo, pada musim liburan, antrian pembelian tiket sangat panjang sehingga sebagian orang tidak kebagian tiket bahkan kesiangan untuk naik ke puncak.

“Pendakian ini hanya sekitar 3,4 kilometer saja, melewati enam pos dan akan terbagi menjadi tiga bagian. Pertama pemanasan, kedua jalan menanjak dan ketiga landai seperti di jalanan Thamrin Jakarta. Setiap pos ada toilet namun tidak selalu ada air,” jelas Aldo.

Tepat pukul 2 saat gerbang dibuka, saya, Aldo dan Astrid, seorang teman wanita mulai mendaki. Tidak banyak pendaki malam ini, sebagian besar rombongan bule bersama pemandunya masing-masing. Dua ojek dorong yang diikuti enam orang penariknya mengikuti kami. Mereka sudah sejak di pos Paltuding menawari kami naik ojek dorong saja ketimbang capek mendaki.

Dengan ketinggian 2386 mdpl, jalanan mendaki dari Paltuding hingga puncak gunung Ijen hanya satu jalur. Lebar jalan ini ada yang seluas 3 meter dan 1,5 meter dengan sisi kiri dan kanan jurang. Kontur tanah berpasir akan memadat setelah hujan. Beruntung sebelum tengah malam tadi, Banyuwangi diguyur hujan sehingga lebih nyaman didaki. Sepatu hiking yang saya kenakan juga sangat membantu. Meskipun begitu, mendekati pos 1 yang menurut Aldo hanya pemanasan sudah terasa tanjakannya. Astrid tampak menunduk lemas ketika tiba di pos 1, sementara napas saya mulai ngos-ngosan.

“Naik ojek saja Mbak, masih lima pos lagi, tanjakannya berat,” kata penarik ojek dorong itu santai.

Astrid masih menunduk bertumpu tongkat, sementara wajahnya pucat. Kalau menggunakan ojek dorong memang lebih baik dari awal mengingat ongkosnya tidak murah yaitu Rp.800.000, pulang pergi. Saya mulai menimbang seandainya sampai pos 3 tidak kuat maka sangat rugi membayar segitu banyak. Saya duduk bersandar di pojok pos sambil minum beberapa teguk air. Kaki kiri saya baik-baik saja, tidak terasa sakit. Saya kemudian memutuskan terus berjalan kaki.

“Saya nyerah, naik ojek saja deh,” kata Astrid tiba-tiba membuat saya terkejut sekaligus was-was.

Aldo kemudian memesankan satu ojek dorong yang ditarik oleh tiga orang. Saya menitipkan ransel pada Astrid sehingga bisa lebih ringan berjalan hanya membawa air mineral dan tongkat. Astrid begitu cepat menghilang dibawa ojek dorong dalam kegelapan, sementara saya kembali mulai mendaki.

Bulan menjelang purnama menerangi pendakian. Tiga rombongan bule menyalip saya yang berjalan bagaikan siput. Tidak ada satupun bule naik ojek dorong bahkan mereka setengah berlari melewati tanjakan. Diam-diam saya iri kepada mereka. Terbiasa berjalan kaki dan terlihat sangat bugar. Saya terlalu dimanjakan dengan kendaraan ini itu saat bepergian sehingga terasa berat untuk mendaki.

“Ojek saja Mbak, itu tanjakan depan semakin parah. Mbak ndak akan kuat naiknya. Enak pakai ojek langsung sampai,” kata penarik ojek dorong saat saya berhenti setiap sepuluh langkah.

“Depan pos 4, habis itu jalanan kayak di Thamrin,” bisik Aldo menyemangati namun tidak memaksaku. “Sekali tanjakan lagi saja kita sampai.”

Mendadak saya merasa pendakian ini seperti kehidupan. Ada malaikat yang membimbing saya menuju tujuan yaitu Aldo dan ada setan yang terus menggoda agar saya menyerah dalam perangkap rayuannya yaitu para penarik ojek dorong. Konsep sok mendalam di kepala saya itu menolong saya terus berjalan dan mengabaikan tawaran mereka naik ojek dorong.

Bayangan tentang jalanan landai seperti di Thamrin lenyap saat berhasil melewati pos 4.  Jalanan semakin menanjak bahkan saya menemukan sudut-sudut dengan kemiringan 45 derajat yang sangat melelahkan. Saya hampir menyerah di pos 5, tetapi tawaran penarik ojek dorong justru memacu semangat saya untuk terus berjalan. Saya tipe orang yang saat ditantang atau diremehkan justru akan berkobar mengejar tujuan saya.

Sampai titik ini saya tidak mengatakan kepada Aldo bahwa terdapat kista di kaki kiri saya yang belum dioperasi. Seharusnya tidak memungkinkan untuk pendakian ini. Biasanya saya hanya kuat berjalan maksimal sejauh 5000 langkah di dataran. Itupun setelahnya saya harus istirahat satu atau dua hari agar kaki saya normal kembali. Tidak hanya itu, Aldo juga tidak tahu bahwa saya penderita hypertensi yang tergantung pada obat harian. Saya merasa bersalah menyembunyikan semua ini, tetapi saya ingin membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya mampu melakukan ini. Saya sehat dan saya bisa!

Tiba di puncak, Astrid sudah menunggu sambil memandang berkeliling dari ketinggian. Jalanan landai ala Thamrin yang dikatakan Aldo hanya halusinasi semata. Hingga saya berhasil mencapai puncak, jalanan tetap menanjak meski tanjakannya tak sesulit saat melewati pos 4 dan 6.  Ada kegembiraan yang meluap saat mencapai puncak. Ternyata fisik saya tidak seburuk dugaan saya sendiri dan keluarga saya. Tetapi apakah setelah sampai puncak semuanya selesai? Oh, sepertinya belum.

Blue fire ada di bawah sana dengan medan berbatu terjal. Kalau berani turun, kita akan memulai perjalanan dari sana!” kata Aldo menunjuk gerbang kecil di ujung dengan senternya.

“Berapa jauh?” tanya saya mulai gamang.

“Butuh waktu 45 menit turun dan 45 menit naik. Tergantung kecepatan kalian. Kalau tidak mau kehilangan moment sunrise di atas sana harus cepat.”

Saya dan Astrid saling pandang. Tampak mata Astrid memberi kode untuk turun, mengingat dia tidak terlalu lelah karena naik ojek dorong, tetapi bagaimana dengan kaki saya? Medan terjal berbatu itu lebih sulit lagi. Saya melongok ke bawah dan tidak menemukan penampakan jalan yang akan kami tempuh selain hanya jurang dan tumpukan batu-batu dalam kegelapan. Saya menimbang-nimbang beberapa saat sebelum kemudian memutuskan yang terbaik.

“Ayo kita turun!”

BLUE FIRE DAN PEKERJA TAMBANG BELERANG

Jalan setapak berbatu terjal yang sulit dilihat pijakannya itu miring 45 derajat dan gelap. Hanya diterangi senter pada batu-batu yang saya pijak, samar-samar dalam terang bulan saya melihat sekeliling saya jurang. Salah pijak sedikit saja bisa menggelinding ke bebatuan yang tajam atau bahkan mendekati bibir kawah. Hanya sedikit pengunjung lokal yang turun ke bawah. Kebanyakan bule juga sudah berbalik arah ke atas. Mungkin mereka hanya perlu waktu 30 menit untuk sampai bawah.

Tujuan kami dini hari ini ingin melihat blue fire. Hanya ada di dua gunung aktif di dunia yaitu Indonesia dan Islandia, fenomena blue fire ini menjadi incaran pendaki manca negara. Orang lokal sendiri kebanyakan lebih suka menikmati sunrise di puncak ketimbang berlelah-lelah turun ke bawah dengan medan yang terjal. Sebagian orang lokal menyebut pemandangan itu hanya seperti kompor gas, jadi mengapa harus capek-capek turun melihatnya?

Panas bumi yang bertekanan tinggi bertemu dengan kandungan belerang sehingga terjadi oksidasi. Reaksi dari pembakaran belerang inilah yang kemudian menghasilkan panas dan cahaya. Oleh reseptor mata manusia diterima sebagai warna biru. Tidak salah jika orang lokal menyebut mirip api kompor gas, memang fenomena blue fire ini mirip kompor gas. Jika kompor mengalir melalui kapiler, blue fire Ijen keluar di permukaan belerang.

“Kita berhenti di pertengahan, jika api biru kelihatan dari sini tidak usah sampai bawah,” kata Aldo.

Sampai titik tengah kami membutuhkan waktu sekitar 30 menit, itupun nyaris seperti merangkak. Kami menepi di permukaan tanah datar dan melihat kejauhan pada titik lokasi blue fire. Belum tampak dari tempat kami berhenti. Setelah memasang masker gas, kami memutuskan meneruskan perjalanan turun.

Sekitar jam 4 dini hari, kami sampai di lokasi blue fire. Asap mengepul dari sisi kiri kawah dan seringkali terbawa angin menerpa pengunjung. Tidak main-main, asap ini terdiri dari karbon dioksida dan hydrogen sulfida. Jika terhisap akan merusak pernapasan bahkan mampu merenggut nyawa. Mata juga menjadi pedas dan berair saat terkena asap ini. Tetapi saya lihat para pekerja tambang hanya mengenakan kain penutup kepala bahkan tidak mengenakan apapun untuk melindungi pernapasan mereka. Beberapa orang menembus asap tebal itu untuk mengaduk-aduk belerang.

Tidak seperti dahulu, kini Blue fire hanya menyala kecil. Itupun dinyalakan dulu oleh penjaga tambang. Menurut salah satu pekerja tambang, jika dibiarkan terus menerus menyala, persediaan belerang akan habis. Maka mereka memilih jalan tengah, pekerja tambang dan wisatawan sama-sama mendapatkan manfaatnya.  Tambang tetap berjalan dan blue fire tetap menyala. Pengunjung juga disarankan memberikan uang seikhlasnya kepada penjaga blue fire atau lebih tepatnya yang menyalakan blue fire.

Tidak hanya asap yang sangat berbahaya untuk kesehatan, para pekerja tambang juga harus berhadapan dengan air kawah ijen yang memiliki kandungan asam sangat tinggi dan cukup mudah membunuh manusia. Bahkan sejak tahun 2012, sudah tiga kali terjadi tsunami kawah Ijen.

Pada 29, Mei 2020, gelombang setinggi 3 meter dari kawah menghantam areal pertambangan dan sekeliling cekungan kawah. Satu pekerja tambang tidak berhasil menyelamatkan diri dan ditemukan terapung di kawah esok harinya.

“Saya sudah duapuluh lima tahun bekerja di sini. Dari jam satu siang kemarin belum pulang,” kata seorang bapak penambang setelah menembus asap tanpa pelindung muka. “Demi anak istri, semua bahaya akan saya hadapi.”

“Teman saya meninggal waktu tsunami dua tahun lalu, sementara saya berhasil lari menyelamatkan diri. Tempat ini bahaya, makanya saya selalu mengingatkan pengunjung untuk hati-hati,” tambah bapak satunya.

Dua lelaki pekerja tambang itu memperlihatkan potongan-potongan belerang yang sudah dimasukkan ke dalam dua keranjang rotan. Dua rotan itu berisi sekitar 70 kilogram belerang yang akan mereka pikul melewati jalur terjal berbatu tempat saya turun tadi. Pundak mereka sudah mengeras kapalan selama puluhan tahun memikul. Sampai di puncak mereka memecah belerang menjadi lebih kecil dan memasukkan ke dalam karung. Dari puncak ke Paltuding mereka membawa belerang itu menggunakan troli. Dulu sebelum menggunakan troli, menurut Aldo mereka memikul belerang itu sampai Paltuding. Sebagian dari pekerja tambang ini juga menarik ojek dorong untuk pengunjung sehingga tak diragukan lagi kekuatan fisik mereka.

“Setiap hari para pekerja tambang mengumpulkan 150 sampai 200 kilogram belerang yang dijual ke pengepul dengan harga per kilogram Rp.1000 sampai Rp.1250. Penghasilan ini masih lebih baik ketimbang berladang,” kata bapak pekerja tambang itu.

Blue fire meredup pada pukul 05.00 pagi. Para wisatawan juga sudah berkumpul di puncak menunggu sunrise. Saya sudah merelakan ketinggalan sunrise karena perjalanan balik ke atas sudah pasti merangkak lagi. Tetapi perjalanan balik ke atas kali ini sudah terang sehingga kelihatan keseluruhan medan terjal yang kami lewati. Mengerikan tetapi juga luar biasa indah. Kami merangkak memutar di antara bebatuan seolah tidak berada di bumi.

Aldo selalu mengingatkan untuk menepi dan tidak menganggu perjalanan para pekerja tambang setiap berpapasan dengan mereka. Sambil memikul belerang seberat 70 kilogram ke puncak, para pekerja tambang menawarkan souvenir dari belerang dalam berbagai macam bentuk cetakan seperti kura-kura, ikan dan lain sebagainya dengan harga Rp.20.000 per biji. Belerang selain bisa dimanfaatkan untuk pertanian juga dapat digunakan untuk pengobatan.

SUNRISE DAN LOKASI INSTAGRAMABLE

Jelas sampai di puncak, saya ketinggalan sunrise. Pengunjung juga sudah mulai turun meninggalkan puncak Ijen sementara saya masih berjalan pelan menuju lokasi sunrise. Saya melihat pemandangan gunung lain yang ada di kompleks Pegunungan Ijen, di antaranya Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante dan puncak Gunung Merapi yang berada di timur Kawah Ijen. Berpadu dengan bukit berbatu yang saya daki, tempat ini memang luar biasa indah.

Sepanjang menuju lokasi sunrise, saya menemukan pohon-pohon mati yang sangat eksotis, gerombolan edelweiss yang tidak berbunga dan dahan-dahan pohon bekas terbakar. Kebakaran beberapa kali terjadi disebabkan para pendaki yang datang terlalu awal dan membuat api unggun karena  kedinginan.

Matahari memang sudah muncul, tetapi para pengunjung juga sudah turun sehingga tempat foto-foto instagramable menjadi kosong. Lokasi instagramable itu memang tepat berada di puncak dengan background Kawah Ijen yang berwarna toska. Tidak hanya pemandangan kawah yang sangat cantik, tetapi dahan-dahan mati juga menambah lokasi ini menjadi eksotis.

Semakin siang intensitas asap belerang semakin tinggi. Kawah Ijen yang berwarna toska tidak lagi terlihat selain hanya gumpalan-gumpalan asap. Di balik semua bahaya yang mengincar pekerja tambang maupun pengunjung, pemandangan puncak Ijen memang luar biasa mempesona. Bahaya dan pesona yang membuat saya merasa lebih akrab dengan Tuhan. ***

Ijen, Mei 2022

JOGJA, PANDEMI YANG MENGENDAPKAN RINDU

Setelah dua tahun saya tidak keluar kota, saya memutuskan untuk mengunjungi Yogjakarta begitu kondisi membaik. Dengan memantau pergerakan kasus yang semakin hari semakin mengecil, saya memberanikan diri memesan tiket kereta. Kenapa ke Jogja? Ya, saya tidak tahu lagi tempat yang paling saya rindukan selain Jogja. Benar memang, ada satu kalimat yang mengatakan bahwa Jogja itu terbuat dari angkringan dan rindu. Begitu juga saya, tidak kuat menahan rindu begitu lama saat tidak bisa mengunjungi Jogja. Tidak ada kejadian istimewa sebelumnya yang membuat saya menjadi seperti itu, tetapi sepertinya Jogja memang memikat hati banyak orang. Bahkan ada harapan kecil di hati saya, untuk bisa menghabiskan hari tua di Jogja.

 

 

Baiklah, kejauhan mengkhayalnya. Singkat cerita, akhirnya saya memesan tiket kereta ekonomi ke Jogja. Seorang teman nyeletuk, pasti kamu kangen duduk tegak di kereta ekonomi, ya? Pasti kamu ingin mengulang kegilaan masa lalu ya? Padahal kereta ekonomi zaman sekarang itu sudah bagus lho! Dan saya enjoy menikmati perjalanannya. Penumpang kereta menjaga prokes dengan baik dan kereta juga bersih. Saya memesan penginapan tidak jauh dari stasiun kereta sehingga dengan mudah saya menjangkau tempat itu untuk istirahat setelah delapan jam perjalanan dari Jakarta.

 

Pandemi belum berakhir, sehingga saya memutuskan untuk menjaga prokes dengan ketat. Begitu memasuki kamar hotel saya melepas semua pakaian dan menyingkirkan ke dalam tas tersendiri lalu mandi keramas dengan banyak sabun. Setelah merasa bersih, saya memesan makanan secara online agar tidak keluar kamar lagi. Begitu makanan datang saya makan lalu istirahat.  Saya tidak mau kecapekan.

Lalu baru esok harinya saya melihat-lihat Jogja. Entah mengapa, saya merasa kota ini menjadi lesu dan tidak bergairah. Sepertinya pandemi telah mengubah segalanya. Jalanan yang terasa sepi dan orang-orang yang terlihat tidak bersemangat. Bahkan saat saya menyusuri pinggiran alun-alun utara, saya merasa tidak di Jogja. Saya masih menghindari keramaian sehingga memutuskan untuk ke Gunung Kidul. Tujuan pertama saya adalah  Desa Wisata Nglangeran. Menurut saya berwisata ke alam masih lebih aman ketimbang berada di antara banyak orang. Sopir yang mengantar saya juga antigen lebih dahulu sehingga saya merasa lebih tenang.

Bagaimanapun lesunya di dalam kota, begitu tiba di Gunung Kidul saya terpesona. Desa Wisata Nglangeran ini menurut berita yang saya baca banyak meraih penghargaan sebagai desa wisata terbaik. Ada wisata alam, geologi, sejarah, dan kuliner di sini. Sebenarnya saya ingin mengunjungi puncak Gunung Api Purba yang menjadi ikon desa wisata Nglangeran dan sudah diakui UNESCO sebagai situs Geopark Global Gunung Sewu. Tetapi saya tidak menyiapkan fisik dan perbekalan untuk hiking. Akhirnya saya hanya bisa menikmati pemandangan gunung itu dari bawah. Padahal jika sampai puncak, kita bisa menikmati pemandangan Gunung Kidul dari ketinggian.

Jangan sedih dulu, jika tidak siap hiking sampai atas, kita masih bisa menikmati ketinggian dari waduk Embung Nglangeran. Danau buatan ini jernih dan berada di ketinggian. Pecinta lokasi instagramable pasti suka berada di sini. Saya tidak begitu suka segala sesuatu yang dibuat manusia dengan sengaja, tapi tempat ini sangat indah apalagi saat melihat tempat yang jauh dari ketinggian. Sangat rekomended.

Setelah dari Nglangeran yang baru kali ini saya kunjungi, saya menuju tempat lain yang juga baru sekali itu saya kunjungi. Yaitu, situs Warungboto. Beberapa waktu lalu, situs ini ngehits karena putri Presiden foto prewedding di sini. Begitu melihat dari sisi jalan saya yakin itu tempatnya. Tetapi sopir online mengatakan itu kuburan. Ya memang, situs Warungboto berdekatan dengan kuburan, tetapi jangan salah masuk karena ada petunjuk yang jelas.

Seorang bapak paruh baya sedang membersihkan bagian depan situs saat saya memasuki halaman situs Warungboto. Dan Pak Sugiyono mengatakan bahwa situs belum buka karena pandemic. Tetapi saya diizinkan mengambil foto-foto dari luar. Baiklah, tidak masalah. Situs ini dari depan tampak memiliki tiga bagian. Dua samping kiri dan kanan kemudian bagian tengah yang paling besar. Bagian kanan merupakan restorasi dari bangunan lama yang sudah runtuh. Menurut Pak Sugiyono, bangunan ini berhubungan dengan Taman Sari. Kalau Taman Sari merupakan tempat para putri, sementara Warungboto merupakan pesanggrahan raja. Memang arsitektur bangunannya sangat mirip dengan Taman Sari. Saya hanya bisa melihat-lihat dari luar sehingga tidak bisa mengenali bagian dalamnya.

Baru malam harinya saya mengunjungi Malioboro dan nongkrong di depan Malioboro Mall. Tetapi entah mengapa, aku merasa kota ini menjadi sedih karena hantaman pandemic. Bahkan saat duduk menikmati malam, Malioboro juga terasa mati. Orang-orang berjalan melewati Malioboro dengan semangat yang hanya sisa. Bisa jadi itu hanya aura yang saya tangkap sendiri, mungkin orang lain tidak merasakannya. Tetapi bagaimanapun, ketika saya meninggalkan Jogja, hati saya masih tertinggal di sana. Selalu ada janji untuk kembali. Ke Jogja suatu hari nanti. Dan memang, janjiku selalu kutepati untuk menumpahkan segala rindu yang mengendap.

SEBELUM SENJA DI WADUK JATILUHUR

Temen-temen yang suka traveling pasti ngalamin dong gimana stucknya di rumah selama pandemi. Bukan hanya itu sih, kalau biasanya kita suka bepergian menggunakan angkutan umum, sekarang agak susah karena harus menjaga diri dan harus menggunakan mobil pribadi demi kesehatan. Setelah sekitar enam bulan di rumah saja, saya mulai gangguan tidur dan gampang sedih. Saya harus ke suatu tempat tapi yang dekat saja, hanya untuk menikmati udara luar dan melihat alam. Karena di tempat tinggal saya susah menemukan wisata alam, maka saya bersama seorang teman memutuskan untuk pergi ke Purwakarta. Awalnya ingin sekalian melakukan riset, namun ya akhirnya kami piknik.

Saya belum pernah ke waduk Jatiluhur sebelumnya. Waduk terbesar di Indonesia ini ternyata cakep lho buat piknik. Ada banyak spot yang bisa kita kunjungi sambil menikmati pemandangan alam. Dibangun sejak tahun 1957 dan diresmikan sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 1967, waduk ini berfungsi sebagai penyedia air irigasi, perikanan dan pengendali banjir. Kalau pengen menginap di sekitar sini juga banyak villa dan hotel yang bisa dipilih sesuai kemampuan bujet. Tapi saya hanya beberapa jam di sana untuk duduk menikmati angin yang semilir.

 

Saya memilih tempat yang yang terdapat penyewaan tikar dan duduk di sana sambil menikmati pemandangan. Beberapa pedagang menjual makanan, tetapi sayangnya sebagian besar dari mereka tidak menggunakan masker. Juga pengunjung waduk yang kebanyakan tidak menggunakan masker. Saya memilih tikar di bawah pohon dan makan bekal yang saya bawa sendiri dari rumah. Setelahnya saya berjalan kaki mendekati waduk. Ada banyak perahu yang bisa disewa untuk berkeliling waduk, tetapi saya agak malas naik perahu, jadi hanya melihat-lihat sekeliling.

Setelah bosan duduk di tikar, saya mengajak teman saya ke areal sunset meskipun belum waktunya sunset. Ternyata lokasi itu merupakan resort dan dikenakan biaya saat memasukinya. Namun tidak mahal sepertinya hanya untuk parkir. Lokasi ini banyak spot bagus untuk foto kekinian, mulai dari sunset, moncong perahu besar sehingga pengunjung seperti duduk di perahu beneran, sisi-sisi pinggir waduk yang panoramanya indah dan sedang dibangun beberapa villa kecil. Sepertinya di tempat ini juga bisa digunakan untuk acara pernikahan karena ada aula luas dan saya pernah melihat di internet foto-foto pernikahan di sini.

Usai menjelajah tempat ini sampai ujung, saya sholat di mushala yang bersih dan sudah dilengkapi tanda jarak pandemi. Selesai sholat dan berganti masker, saya kembali ke mobil dan makan siang di mobil dengan bekal yang saya bawa. Ke tempat wisata saat pandemi memang ribet, tapi demi menjaga kesehatan kita harus melakukan semua itu. Setidaknya jika anda tinggal di sekitaran Jabodetabek, waduk Jatiluhur bisa menjadi pilihan. Murah dan dekat! Tertarik ke sana? Tapi tetap ingat menjaga prokes ya selama berwisata, karena kita belum lepas dari pandemi. Semoga teman-teman yang mampir ke blog ini tetap sehat dan semangat. Kita tunggu perjalanan lain yang lebih seru selesai pandemi!

 

 

KELUYURAN KE TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK

Suka jalan-jalan ke hutan? Kalau kalian tinggal di sekitaran Jabodetabek, Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini bisa jadi pilihan. Nggak jauh kok dan banyak hal menarik di dalamnya. Saya hanya mengunjungi sedikit sekali karena hanya sampai perkemahan Sukamantri, itupun sudah menemukan banyak hal menarik. Saya nggak akan cerita panjang lebar karena petunjuk dan banyak hal tentang Gunung Halimun Salak bisa teman-teman temukan dengan mudah di internet. Ini saya hanya ingin berbagi foto-fotonya saja. Selamat menikmati…

 

 

 

 

 

LEUWEUNG GELEDEGAN ECOLODGE BOGOR : GLAMPING & STAYCATION AMAN SAAT PANDEMI

Bosan 9 bulan isolasi karena pandemi? Jika anda tinggal di sekitaran Jabodetabek, banyak tempat untuk staycation yang aman untuk meredakan stress akibat pandemi. Karena saya memiliki beberapa penyakit bawaan, maka saya memilih perjalanan maksimal dua jam menggunakan mobil pribadi sehingga tidak terlalu lelah. Setelah browsing di internet, pilihan saya jatuh pada glamping & staycation di Leuweung Geledegan Ecolodge Bogor. Sepertinya menarik jika melihat Instagram dan websitenya, semoga saja begitu kenyataannya. Saya memesan melalui aplikasi perjalanan, meskipun sebenarnya lebih menguntungkan jika anda memesan melalui website mereka karena lebih murah sedikit dan included barbeque khusus weekend. Sementara jika memesan melalui aplikasi perjalanan, tidak included barbeque.

Mencari lokasi Leuweung Geledegan Ecolodge sangat mudah. Sebelum pintu keluar tol Jagorawi, ada petunjuk besar arah ke lokasi tersebut. Dari pintu keluar tol kita belok ke arah kanan, lalu setelah turunan Tugu Kujang dan menemukan BTM kita ambil jalan lurus hingga bertemu dengan pertigaan Pancasan belok ke kiri.  Nanti kita akan menemukan beberapa petunjuk ke arah lokasi. Setelah jalanan menanjak lalu belok ke arah kanan ke jalanan berbatu, kita akan menemukan lokasi luas dan asri dengan tulisan Leuweung Geledegan Ecolodge. Dari situ mobil bisa langsung memasuki parkiran yang luas dengan petugas yang ramah dan siap membantu parkir.

Dari pintu parkiran, tamu langsung bisa masuk ke arah gedung resepsionis yang tepat berada di depan air mancur yang tertata dengan cantik. Bangunan resepsionis ini juga menarik, tampak menjulang dan memiliki banyak tempat duduk untuk menunggu. Hanya satu sih nggak enaknya, meja resepsionis berbentuk miring sehingga susah untuk dipakai menulis, padahal kita pasti butuh menulis sesuatu di sana misalnya menandatangani formulir check in. Setelah mendapatkan kunci, kita akan mencari lokasi kamar kita sendiri tanpa diantar petugas. Ini nggak masalah buat saya karena konsepnya memang glamping bukan hotel.

Memasuki areal glamping, saya langsung bertemu kolam renang untuk dewasa dan anak-anak, dengan pemandangan background gunung Salak. Sementera di sisi kanan restaurant. Di lokasi ini juga sering digunakan untuk kondangan. Karena sedang pandemi, tamu yang datang dalam kondangan itu hanya sedikit dengan protokol kesehatan yang ketat. Oh ya, memasuki area Leuweung Geledegan Ecolodge ini wajib masker dan disediakan pencuci tangan di pintu masuk. Bahkan sebelum masuk parkiran semua yang ada dalam mobil dicek suhu tubuhnya.  Dilakukan penyemprotan desinfektan juga di kamar jadi penjagaan selama pandemi cukup aman.

Saya mendapatkan kamar Pinus 04 dengan kapasitas 5 orang yang posisinya ketika membuka pintu menghadap gunung Salak. Ada beberapa jenis kamar mulai dari untuk 6 orang, 5 orang dan 2 orang. Harga kamar bisa anda cek di website mereka. Fasilitas kamar hanya sabun mandi, handuk dan air mineral, jadi harus bersiap sendiri membawa sandal dan teko air panas. Meskipun kita bisa mengambil air panas di restoran. Keseluruhan areal Leuweung ini tidak terlalu luas dengan kontur yang berbukit-bukit. Tidak banyak hal bisa saya lakukan di lokasi glamping ini karena setelah satu kali putaran semua lokasi sudah saya kunjungi. Hanya ada kolam renang, restoran, sungai kecil untuk berperahu yang lintasannya hanya pendek saja dan jalur sepeda yang sepertinya agak sulit bersepeda di lokasi sempit itu. Tetapi penataan tenda tempat menginap dan taman-taman di sekelilingnya sangat cantik. Berbagai macam bunga mekar dan tumbuh dengan subur. Pemandangan akan semakin cantik saat hujan turun dengan langit yang berkabut sehingga kita bisa duduk-duduk di depan tenda sambil ngopi dan menikmati hujan.

 

Makan sarapan disediakan secara gratis dan enak dengan jumlah berlimpah. Saya datang sarapan jam 9 dan masih tersedia cukup banyak. Protokol kesehatan di areal sarapan ini juga sangat ketat. Semua wajib mengenakan masker dan cuci tangan sebelum masuk ke dalam restoran. Sementara pada waktu makan yang lain kita harus membeli di restoran karena tidak boleh membawa makanan dari luar. Namun ini masalahnya, makanan di restoran tidak tersedia cukup variasi atau mungkin saya makan sudah lewat jam makan dan kehabisan. Tersedia paket suki dan barbeque, namun jika anda tidak membeli kamar melalui website maka harus membeli terpisah untuk barbeque. Pemesanan suki dan barbeque harus semalam sebelumnya agar kebagian karena mereka hanya membuat menu itu secara terbatas. Saya mencoba suki dan rekomended karena sangat enak. Apalagi anda makan suki di tempat dingin dengan hujan yang turun deras. Itu luar biasa.

Jika anda gampang bosan seperti saya, menginap dua hari di sini pasti bingung mau ngapain. Anda bisa jalan sekitar lokasi glamping misalnya ke perkemahan Sukamantri, melihat sapi-sapi di depan lokasi glamping atau ke Setu Tamansari. Saya melakukan itu untuk mengisi kebosanan. Pada malam harinya anda bisa menikmati film di lokasi pemutaran film yang ada di area glamping atau menyalakan api unggun. Untuk menyalakan api unggun silakan kontak petugasnya. Sebenarnya memang tidak disediakan antaran makan ke kamar, namun selama pandemi sepertinya mereka bersedia mengantar ke kamar. Oya, semua kontak bisa dilakukan melalui WA dan mereka akan aktif membalas. So, dari pengalaman saya menginap di sini, over all oke, jikapun ada kekurangan, semoga depan mereka memperbaikinya. Selamat glamping dan staycation!

KARAWANG, YANG DEKAT NAMUN TERASA JAUH

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?  

~ Bait Pertama Puisi Chairil Anwar Karawang-Bekasi

Ini pertama kalinya saya keluar rumah untuk berwisata setelah 9 bulan isolasi karena pandemi. Masih belum berani naik angkutan umum, atau pergi menginap. Jadi saya memilih pergi dengan mobil sendiri dengan perjalanan one day. Tanpa tujuan hendak kemana, akhirnya saya memutuskan ke Karawang. Bekasi-Karawang tidak jauh, tapi entah kenapa terasa sangat jauh buat saya. Segala sesuatu yang tidak menarik memang terasa jauh, begitu juga dengan sebuah tempat. Saya sudah tinggal selama 20 tahun di Bekasi-Jakarta dan Bogor, tapi belum pernah sekalipun berniat mengunjungi Karawang. Paling saat naik kereta dari kampung saya selalu melewati Karawang itupun dini hari jadi tidak bisa melihat apa-apa.

Satu jam perjalanan bermobil dari Bekasi, saya memasuki wilayah Karawang yang memang sebenarnya tidak menarik. Tapi tunggu dulu, jangan putus asa dulu, bukankah saya selalu yakin semua tempat memiliki sisi yang unik untuk di ekplore? Benar, di tempat ini banyak kejadian bersejarah yang bisa kita kenang kembali mulai dari tragedi Rawagede dan Rumah Sejarah Soekarno Rengasdengklok. Tragedi Rawagede terjadi 9 Desember 1947 ketika Belanda melancarkan agresi militer pertama. 431 penduduk Karawang menjadi korban pembantaian ini. Saya tidak mengenal tragedi ini sebelum melihat monumen Rawagede di Karawang mungkin karena tragedi ini tidak pernah menjadi sejarah nasional. Desa Rawagede sudah berganti nama menjadi Balongsari saat ini, tetapi trauma itu masih tersisa. Saya hanya lewat sesaat di monument sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Rumah Sejarah Rengasdengklok.

Tempat wisata yang bisa dikunjungi di Karawang diantaranya situs candi Jiwa, Pantai Tanjung Baru, Curug Bandung, Vihara Sian Djin Ku po, Danau Cipute dan masih banyak lagi.  Saya hanya mengunjungi dua diantaranya, itupun ketika kembali ke rumah sudah malam. Entah kenapa tempat ini terasa sangat jauh.

RUMAH SEJARAH SOEKARNO RENGASDENGKLOK

Bertempat di Desa Kalijaya rumah bersejarah ini mudah ditemukan. Berjarak sekitar 20 meter dari gerbang masuk yang bertuliskan Rumah Sejarah Soekarno Rengasdengklok saya menyusuri jalan beton yang sepanjang sisinya terdapat graffiti tokoh bangsa. Lingkungan rumah ini seperti pemukiman biasa sehingga saya agak ragu rumahnya sebelah mana. Tetapi seorang tetangga rumah membantu parkir dan menunjukkan rumah yang saya cari. Setelah mengikuti protokol kesehatan pandemi, saya memasuki rumah sejarah itu. Seorang wanita, istri cucu (alm.) Djiaw Kie Siong menyambut di pintu dengan ramah. Rumah ini dahulu merupakan rumah alm. Djiaw Kie Song. Tidak dijelaskan dengan pasti kenapa rumah ini yang dipilih, namun menurut cucu alm pemilik rumah, mungkin karena rumah ini tidak terlalu mencolok dan sedikit tersembunyi sehingga tidak mencurigakan. Apalagi kondisi waktu itu sangat genting.

Rumah Rengasdengklok menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, pemuda dalam kelompok Menteng 31 menyembunyikan Soekarno dan Hatta dari pengaruh Jepang untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Desakan itu ditolak tetapi esok harinya proklamasi terjadi di Jakarta. Rumah Sejarah Soekarno ini memang berbeda dengan gambar rumah masa lalu yang saya lihat di internet, beberapa bagian tampak sudah dipoles lebih modern. Namun sebenarnya bangunan utama masih sama, ubin dan perabotan di dalamnya juga masih asli.

Sebuah meja tempat peribadatan berada di tengah ruangan dalam dengan foto-foto masa lalu di atasnya. Tempat tidur Seokarno dan Hatta dengan perabotan yang masih asli lengkap kelambunya tampak bersih dan rapi. Di pojok ruangan ada dua lemari yang berisi foto-foto masa lalu yang menyimpan kenangan sejarah peristiwa Rengasdengklok. Di dinding samping peribadatan, puisi Chairil Anwar terbingkai dengan rapi. Rumah sejarah yang sudah menjadi Cagar Budaya ini terawat dengan sangat baik, menurut cucu yang tinggal di bagian belakang rumah ini, ia memang menjaga rumah ini sesuai pesan kakeknya Djiaw Kie Song yang pada masa hidupnya seorang petani yang menggeluti Feng Sui. Berada di dalam rumah ini meskipun udaranya sangat sejuk, tapi saya bisa merasakan peliknya suasana puluhan tahun lalu saat menjelang proklamasi.

Setelah memotret semua sudut rumah, cucu pemilik rumah yang baik ini bahkan bersedia memotret saya di depan rumah dan membuka pagar depan. Beliau juga menyarankan saya mampir ke Candi Jiwa yang tidak jauh dari tempat itu. Maka setelah pamitan saya memutuskan mampie ke Candi Jiwa.

CANDI JIWA & CANDI BLANDONGAN

Dari rumah sejarah Rengasdengklok, saya menyusuri sepanjang jalan lurus yang bersisian dengan sungai, persawahan dan tanaman menghijau. Pemandangannya sangat indah sebenarnya jika sungai ini tidak dibelakangi dan bisa ditata dengan baik. Saya membayangkan bisa berperahu kecil di sepanjang sungai ini dengan tanaman bunga-bunga yang indah di sepanjang sisinya. Tapi kenyataannya di sepanjang sungai ini merupakan tempat penduduk mandi, mencuci apa saja, sikat gigi, buang hajat dan buang sampah. Jadi sebagian besar pemandangan jadi tidak mengenakkan.Di sudut-sudut jalan tampak poster pasangan yang sedang berlaga di pilkada nanti. Pasangan-pasangan ini tersenyum cerah dan bahagia di dalam fotonya. Salah satunya artis ibukota yang berperan dalam salah satu sinetron dengan rating tertinggi beberapa saat lalu. Semoga saja siapapun yang terpilih bisa mengubah segalanya lebih baik. Tempat ini menarik menurut saya, tetapi jadi sangat mengganggu dengan kegiatan di sepanjang sungai itu.

Setelah menemukan perempatan dengan tanda arah Candi Jiwa, saya belok ke arah kanan lalu tibalah di pinggir sawah. Kompleks candi ini memang terletak di tengah sawah tepatnya di kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Karawang. Setelah parkir di halaman rumah penduduk, saya menuju loket yang banyak orang antri. Ternyata ramai juga yang ingin mengunjungi candi. Tidak ada tiket sebenarnya tetapi harus membayar sukarela untuk memasuki kompleks candi. Lalu saya menyusuri pinggiran sawah yang sedang bagus-bagusnya hampir panen. Sepanjang pinggir sawah itu saya juga bisa menikmati padang luas yang terdapat banyak kambing sejenis biri-biri, ini sangat menarik seandainya digarap lebih maksimal. Jalan menuju candi disekitar persawahan juga sudah bagus dan bersih. Kompleks candi tampak di kejauhan di dalam pagar dan pengunjung hanya boleh melihat candi dari kejauhan.

Candi peninggalan Budha ini diperkirakan berkaitan dengan kerajaan Tarumanegara dan lebih tua dibanding Candi Borobudur. Di kompleks ini sebenarnya terdapat banyak titik candi, tetapi kemungkinan situs yang lain masih terpendam di dalam tanah. Setelah melihat Candi Jiwa, saya melewati persawahan yang sangat asri menuju Candi Blandongan. Candi Blandongan lebih luas dan terawat dengan sangat baik. Pengunjung juga hanya bisa melihat dari jauh karena dipagar. Di sekitar Candi Blandongan terdapat jalan-jalan kecil yang bisa dilewati memutar sehingga pengunjung bisa melihat candi dari berbagai arah. Karena lokasinya persis di tengah sawah maka udaranya terasa sangat enak. Suara penghalau burung dan aroma persawahan terasa khas. Pengunjung bahkan bisa duduk-duduk di bawah pohon menikmati siang di sekeliling candi. Tempat ini menarik menurut saya, hanya saja mungkin belum banyak dikenal. Atau saya yang nggak gaul?

Hampir sore ketika saya ingin melanjutkan ke pantai terdekat. Tetapi mobil malah kepentok jalan kecil yang mepet tambak. Takut jatuh ke dalam tambak, akhirnya saya memutuskan putar balik dan pulang. Karawang yang terasa jauh itu kini lebih dekat dengan saya. Kompleks percandiannya yang bersih dan berada di tengah sawah, sejarah yang melingkupi daerah ini dan bahkan sungai di pinggir jalan yang menyajikan pemandangan menganggu. Semoga saja ke depan tempat ini menjadi semakin menarik untuk dikunjungi.

*Photo monument dari Google, yang lainnya dokumentasi pribadi

YANG DIRINDUKAN DARI PERJALANAN

Perjalanan sekarang seperti angan-angan yang jauh. Pandemi menghancurkan semua tiket perjalanan yang saya miliki. Setidaknya tiga rencana traveling tahun 2020 yaitu ke China, Timor Timur dan Eropa. Bagusnya semua tiket perjalanan bisa direfund 100% karena memang pesawatnya tidak berangkat. Dalam kondisi seperti ini, sedih dan stuck sudah pasti, tetapi apa sih sebenarnya yang paling saya rindukan dari perjalanan?

Ada beberapa hal yang saya rindukan dari perjalanan mulai dari menyusuri tempat-tempat baru, nyasar dan menemukan hal aneh sampai teman-teman perjalanan yang kadang menyebalkan atau juga menyenangkan. Setiap perjalanan ada ceritanya masing-masing yang selalu sangat menarik buat saya. Tetapi yang paling saya rindukan adalah bertemu orang-orang lokal, bergaul dengan mereka untuk mengetahui kehidupan mereka dan mencecap keramahan mereka. Kejadian-kejadian spontan kebaikan orang lokal ini selalu saya rindukan saat saya lama tidak melakukan perjalanan. Sayangnya beberapa kejadian tidak terekam dalam kamera karena benar-benar spontan. Jadi mungkin cerita dan fotonya tidak bersesuaian.

Saya mengingat beberapa pertemuan menyenangkan dari perjalanan saya. Tahun 2016 saya pergi ke China. Saya nyasar ketika mencari penginapan saya dan semua orang hanya bisa berbahasa China. Semua tulisan jalan juga berbahasa China. Saya benar-benar hampir putus asa ketika itu ditambah lagi saya kelaparan. Tiba-tiba saya melihat rumah makan kecil di pinggir jalan milik orang muslim. Saya mampir dan membeli makanan. Sebenarnya toko itu belum buka, tapi melihat saya dan teman saya kelaparan serta kebingungan sepertinya pemilik toko kasihan. Saya kemudian dipersilakan makan bahkan ketika saya membayar dia menolak. Katanya kita satu saudara seiman, anda tidak usah bayar, kita saling mendoakan saja.

Di perjalanan yang lain pada tahun 2011 saat saya ke Korea, saya bersama seorang teman juga nyasar saat mencari salah satu gedung. Tiba-tiba seorang cowok bersedia mengantar saya sampai ke gedung itu menggunakan mobilnya. Awalnya saya ketakutan saat masuk mobil, tapi ternyata cowok itu benar-benar mengantarkan saya ke gedung yang saya cari. Teman saya memberikan souvenir dari Indonesia, lalu kami berpisah. Tak hanya itu, saat saya dan teman saya kelaparan, kami masuk ke kedai kecil di Korea. Seorang wanita paruh baya melayani kami dengan ramah bahkan menunggui kami makan. Kedai itu berasa kedai privat buat kami. Meskipun tidak bisa berbahasa Inggris tetapi ibu ini memahami komunikasi bahasa tubuh yang kami gunakan. Bahkan saat kami bingung mencari terminal, dua orang wanita mengantar kami hingga terminal. Kejadian di Korea ini benar-benar membuat saya rindu kembali ke sana.

Tahun 2019 saat ke Rusia, entah sudah berapa kali saya dan teman-teman kebingungan mencari alamat rumah. Sampai salah masuk ke sana dan ke mari berjam-jam. Tetapi selalu ada orang yang menolong kami. Memang sebagian mereka tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka berusaha menolong kami menemukan tempat yang kami cari. Bahkan membantu mengangkat koper kami tanpa mau dibayar.

Tahun 2017, saat saya pergi ke Geneva Swiss, saya ketiduran di tram karena sangat capek. Seorang penumpang membangunkan saya dan bilang kalau saya sudah sampai tempat tujuan. Sepertinya dia memang mendengar saat saya dan teman-teman menyebutkan tempat tujuan saya. Di Belanda juga saya mengalami hal spontan menyenangkan saat tidak bisa pulang karena tram berhenti. Waktu itu ada pertandingan bola dan kondisi jalanan banyak orang lalu lalang. Semakin malam akan semakin ramai bahkan banyak orang mabuk maka disarankan segera pulang, sayangnya tidak ada tram. Seorang wanita yang kebetulan juga menunggu tram kemudian mengajak kami jalan agak jauh ke stasiun yang lain. Dari stasiun ini, saya kemudian bisa mendapatkan tram menuju penginapan. Ternyata wanita ini rumahnya tidak jauh dari lokasi penginapan saya. Sementara di Paris, saat ke masjid saya bertemu seorang gadis yang belum lama menjadi mualaf. Gadis ini bahkan menjadi teman baik saya hingga saat ini. Kami masih bertukar kabar dan berbagi cerita.

Tahun 2019, saya ke Vietnam dan menjelajahi beberapa pasar bukan untuk belanja tapi untuk bertemu beberapa orang yang ingin saya tulis kisahnya. Ternyata saya menemukan banyak orang menarik di beberapa pasar ini. Mereka terbuka dan penuh perhatian. Saya merasa sangat bahagia bertemu mereka. Hal-hal seperti ini sebenarnya yang paling saya rindukan dalam perjalanan. Moment-moment yang spontan, jujur dan penuh ketulusan ini tidak sering saya dapatkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Kapan bisa traveling lagi? Saya merindukan mereka.

WISATA PEMAKAMAN

Entah sejak kapan tepatnya, saya suka berwisata ke pemakaman, apalagi jika pemakaman itu unik. Ada beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi dengan tujuan wisata maupun karena survey untuk pekerjaan saya menulis naskah. Menurut saya mengunjungi pemakaman tertentu selain magis juga banyak pembelajaran tentang hidup. Dari pemakaman yang unik kita bisa mempelajari tradisi daerah yang kita kunjungi. Ini sangat menarik. Berikut beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi.

1. GOA LONDA, TANA TORAJA

Tahun 2010 saya mengambil cuti dari pekerjaan saya sebaga karyawan di sebuah televisi dan pergi mengunjungi Tana Toraja dengan tujuan ke pemakaman Goa Londa. Goa Londa terletak di perbukitan dan sepanjang menyusuri goa akan menemukan jasad-jasad yang di semayamkan di liang-liang goa.  Di pintu goa terdapat deretan patung yang dinamakan Tau-Tau yang melambangkan jenazah yang ada di dalam goa. Di sisi lainnya tampak peti-peti janazah yang dinamakan Erong. Menyusuri Goa Londa semakin ke dalam semakin gelap dan lembab. Jika beruntung kita akan menemukan jenazah yang baru saja disemayamkan. Beruntung apa malah menakutkan? Hehe. Saya menemukan satu jenazah yang masih baru dan yang lainnya sudah menjadi tulang belulang maupun tengkorak.

2. BAYI KAMBIRA, TANA TORAJA

Pemakaman unik lainnya yang saya kunjungi di Tana Toraja adalah pemakaman bayi Kambira di pohon Tarra. Terletak di tengah rerimbunan pohon-pohon, pemakaman bayi di pohon ini memiliki pintu-pintu kecil yang terbuat dari daun ijuk. Proses pemakamanpun cukup unik. Pohon Tarra dilubangi dengan diameter seukuran bayi kemudian jenazah diletakkan di dalamnya lalu lubang ditutup menggunakan ijuk. Mereka percaya bayi yang dikuburkan akan kembali ke rahim ibunya.

3. TRUNYAN, BALI

Tahun 2014 tanpa sengaja saya mengunjungi pemakaman unik Trunyan di Bali. Gara-garanya dari Ubud ke Kintamani naik motor dan kecapekan. Saya merasa nggak ada gunanya kalau hanya berdiri di ketinggian Kintamani lihat pemandangan. Maka saat teman menawarkan mengunjungi Trunyan dengan menyisir jalur sisi perbukitan di pinggir danau Batur saya langsung setuju. Jadi nyisir lewat jalur darat, baru kemudian nyebrang ke pemakaman hanya sekitar 10 menit pakai perahu penduduk lokal. Di Desa Trunyan, mayat tidak dibakar melalui ritual Ngaben seperti umumnya masyarakat di Pulau Bali. Di sini mayat  diletakkan ditempat terbuka di dalam Ancak Saji (anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas. Posisinya berjejer berpakaian lengkap dan hanya kelihatan bagian mukanya saja dari celah Ancak Saji. Lagi-lagi saya beruntung atau menakutkan (?) ketika saya berkunjung, ada jenazah baru di Ancak Saji tersebut. Pemakaman ini dinaungi Pohon Taru Menyan yang sudah berusia ratusan tahun. Menurut penduduk lokal pohon berbau wangi inilah yang menetralisir bau jenazah sehingga tidak berbau sama sekali.

4. PEMAKAMAN JEPANG

Wisata saya ke pemakaman berlanjut ketika saya mengunjungi Jepang tahun 2015.  Teman saya, seorang host couchsurfing mengajak saya dan teman-teman berwisata non turistik, salah satunya ke pemakaman. Awalnya mau mengunjungi rumah seorang penulis terkenal pada masanya yang sudah dijadikan museum, tetapi karena kesorean kami diajak ke pemakaman. Pemakaman di Jepang sangat mahal sehingga menurut teman saya kematian jadi menakutkan.

Pemakaman pada umumnya dilakukan dalam tradisi gabungan Shinto dan Buddha, jenazah dikremasi lalu abunya dimasukkan ke pot abu. Dalam satu nisan ada banyak nama yang merupakan satu garis keturunan. Saya mengunjungi pemakaman ini menjelang maghrib, gara-gara kesorean ke museum itu, dan sepertinya teman saya tidak takut sama sekali malah senang menjelaskan ini itu. Ada yang pengen wisata ke pemakaman juga? Hehe. Berdekatan dengan kematian dan pemakaman kadang-kadang memberikan sudut pandang lain soal hidup yang telah dijalani. Coba saja, hehe.