Tag Archives: Bantargebang

NOVIANA RACHMAWATI : MENYELAM KE TUMPUKAN SAMPAH BANTARGEBANG

Tumpukan sampah setinggi 40 meter menyambut saya di pintu masuk Tempat Penampungan Sampah Terpadu (TPST) Sumur Batu, Bantargebang. Matahari bersinar garang, aroma busuk menusuk penciuman bersamaan dengan ribuan lalat yang beterbangan dan air hitam yang mengalir dari sampah di jalanan tanah yang licin. Truk-truk terus berdatangan mengangkut sampah dari seluruh penjuru Bekasi dan Jakarta. Para pemulung, pria dan wanita, mengenakan baju panjang, sepatu boot plastik, penutup kepala dan keranjang yang terlilit di punggungnya berkerumun mendekati truk-truk yang menumpahkan sampah. Tangan mereka memegang tongkat bercapit untuk memunguti sampah. Wajahnya menghitam, tetapi semangatnya mengais rezeki tidak pernah padam.

“Saya baru enam bulan bekerja di sini. Covid membuat saya semakin susah mendapatkan pekerjaan. Jadi buruh pabrik susah diterima, sementara jadi sopir angkot semakin banyak saingan,” kata Usman, 35 tahun, duduk istirahat di balai-balai bambu bersama anak laki-lakinya yang berusia 12 tahun.

Anak laki-laki Usman tidak tinggal di Bantargebang. Ia hanya membantunya memulung saat liburan sekolah. Dua lelaki tua lainnya, Sulaiman dan Markoni yang usianya berkisar 50 tahun bergabung ikut mengobrol.  Menurut Sulaiman, di TPST Bantargebang nasibnya lebih pasti. Asal rajin mengambil sampah pasti setiap hari bisa makan. Sulaiman berasal dari Bekasi dan sudah 10 tahun bekerja sebagai pemulung di Bantargebang. Seluruh keluarganya dibawa tinggal di rumah bedeng.

Bagi Sulaiman, Bantargebang menjadi tempat paling tepat untuk mengais rezeki karena ia tidak memiliki ijazah. Ia sudah nyaman tinggal di Bantargebang dan tidak ingin pindah ke tempat lain. Sementara Markoni yang berasal dari Padang juga sudah 10 tahun lebih tinggal di rumah bedeng. Meski terlintas keinginan untuk kembali ke kampung halaman, tetapi sampah lebih menjanjikan.

Pertemuan itu membawa saya ke rumah bedeng di belakang mereka. Di sana ada gubug kecil dari kayu beratap terpal. Empat ibu-ibu sedang mengobrol sambil menunggu anak-anaknya belajar di saung sebelahnya.  Itulah awal pertemuan saya dengan Rumah Baca Umi (RUMI) yang digawangi oleh seorang wanita muda penuh semangat Noviana Rachmawati.

RUMI hanya berbentuk saung kecil dari bambu. Bangunan terbuka yang berdiri rapuh dan sederhana itu tepat berada di sisi jalan gunungan sampah.  Poster kain bertuliskan RUMI terpasang di sisi depan saung dan berkibar-kibar tertiup angin. Ada satu papan tulis besar yang berdiri miring di ujung lengkap dengan spidol. Sekitar 30 hingga 40 anak dengan kisaran usia taman kanak-kanak hingga kelas 2 SMP duduk melingkar di dalam saung.  Mereka tampak sehat, ceria dan antusias menyimak Noviana Rachmawati mengajar.

“Saung ini memang terlalu dekat dengan tumpukan sampah, tapi saya lebih suka jemput bola ke sini biar memudahkan anak-anak,” kata Novi disela kegiatan mengajarnya.

Noviana Rachmawati adalah anak sulung dari empat bersaudara yang lahir di Solo, 36 tahun yang lalu. Ia bekerja pada salah satu Universitas di Jakarta dan sedang menyelesaikan studi jenjang S2. Pada tahun 2020,  saat pandemi Covid-19 melanda, Novi melakukan penelitian kegiatan belajar mengajar di daerah Bantargebang. Dari sanalah Novi bertemu anak-anak pemulung Bantargebang. Anak-anak yang seharusnya belajar dan bermain, tetapi harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Novi berinisiatif mendirikan Rumah Baca untuk membantu anak-anak.

Setelah mengajukan izin ke pihak terkait dan ditolak dengan alasan lokasi itu akan digunakan untuk perluasan penampungan sampah, Novi tidak putus asa. Ia mengumpulkan warga setempat untuk berdiskusi. Mereka kemudian sepakat bersama-sama kembali mengajukan izin.

Setelah izin diterbitkan oleh pihak terkait, Novi harus memikirkan biaya untuk saung. Ia mengumpulkan teman-temannya dan meminta bantuan ke semua grup yang ia ikuti untuk berdonasi.  Novi juga merogoh koceknya sendiri untuk tambahan biaya yang dibutuhkan agar saung itu bisa berdiri. Dengan segala upaya itu, akhirnya pada 16 November 2020, RUMI berhasil didirikan.

***

Pada 6 September 2019, aktor Hollywood yang juga aktivis lingkungan, Leonardo Dicaprio, mengunggah foto penampungan sampah Bantargebang di akun resmi instagramnya. Dalam foto karya Adam Dean tersebut tampak seorang pemulung sedang memungut sampah di Bantargebang dengan pemandangan sekelilingnya hamparan sampah.

Unggahan ini menimbulkan reaksi netizen Indonesia yang kebanyakan merasa malu bahwa orang Indonesia sangat gemar menggunakan barang-barang yang terbuat dari plastik dan sulit mengubah kebiasaan itu sehingga menimbulkan masalah sampah yang tidak berkesudahan. Tidak hanya gemar menggunakan sampah plastik, namun juga tidak mau memisahkan sampah dari rumah saat membuangnya sehingga terjadi percampuran sampah organik dan non organik yang sulit diorganisir.

TPST Bantargebang sudah beroperasi selama 36 tahun. Dibuka tahun 1986, TPST terbesar di Indonesia bahkan di dunia menurut versi National Geografi ini, memiliki luas total 110.3 hektar. Secara administratif, wilayah TPST Bantargebang terletak di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat yaitu kelurahan Ciketing Udik, Sumur Batu dan Cikiwul. Namun status tanah dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setiap hari jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang sekitar 7000-7500 ton dari DKI Jakarta.

Pembuangan sampah ibukota ini sebenarnya sudah mencapai titik kritis. Minimnya lahan sehingga sampah harus ditumpuk menyerupai piramida.  Tinggi gunungan sampah sudah mencapai 40 meter dari maksimal yang diijinkan, 50 meter.  Bahkan dari lima zona, empat diantaranya sudah mencapai batas maksimal.

Kehidupan warga yang tinggal dalam radius hingga lima kilometer dari TPST Bantargebang juga terancam. Bau busuk menyengat dan air sumur yang sudah tercemar air lindi sampah. Air lindi sampah terbentuk dari air hujan yang terjebak dalam tumpukan sampah. Ini sangat berbahaya dan beracun karena mengandung konsentrasi senyawa organik maupun anorganik yang tinggi.

Di sinilah anak-anak pemulung Bantargebang tumbuh. Sebagian dari mereka memang terlahir di tempat penampungan sampah itu, dan sebagian yang lain mengikuti orang tuanya dari berbagai tempat di Indonesia menjadi pemulung.  Ada yang datang dari Sumatera, Jawa Timur, Jawa Barat atau daerah yang dekat dengan Bantargebang seperti Bekasi dan Karawang.

Mereka tinggal di rumah-rumah bedeng sewaan bersama orang tuanya yang menggantungkan hidup pada truk-truk sampah yang datang dari berbagai penjuru Jakarta dan Bekasi. Sebagian dari anak-anak ini bekerja membantu orang tuanya memulung atau yang umurnya lebih kecil mengikuti kemanapun orang tuanya memulung sampah sambil bermain di tumpukan sampah. Mereka tidak bisa membaca, menulis dan berhitung meski sebagian usianya telah setara dengan kelas 5 Sekolah Dasar.

“Saya sedih melihat dunia yang begini maju dengan teknologi tetapi masih ada anak-anak yang tidak bisa membaca dan menulis. Jadi tujuan jangka pendek saya hanya ingin mengajari mereka membaca, menulis dan berhitung, “ kata Novi sambil membagikan alat tulis menulis kepada anak-anak.

Anak-anak RUMI sekolah di saung setiap hari, mulai Senin hingga Jum’at pada jam 8 hingga 10 pagi. Mereka punya waktu belajar satu hingga dua jam per hari sebelum membantu orang tuanya. Sedangkan sore hari mereka bisa memilih untuk sekolah mengaji pada jam 3 sore, namun itu tidak wajib. Setelah mengaji mereka bisa bermain, membantu orang tua atau istirahat.

Pada akhir pekan anak-anak mendapatkan jadwal belajar bersama para pengajar relawan yang datang ke RUMI seperti membuat hiasan, melukis dan berbagi pengetahuan yang berguna. Para relawan ini datang dari berbagai kalangan dan disiplin ilmu mulai dari mahasiswa hingga pekerja kantoran.

Pada awal berdirinya Rumi, Novi mengurus semuanya sendiri. Ia mengajar sebelum bekerja di kantor. Kemudian ada dua temannya yang membantu mengajar yaitu Nijma dan Anggit.  Nijma mengajar membaca, menulis dan berhitung pada pagi hari, sementara Anggit mengajar mengaji pada sore hari. Bantuan Nijma dan Anggit ini tak ternilai harganya bagi Novi yang kemudian bisa fokus mengurus hal-hal lainnya dan mengajar pada akhir pekan.

Tujuan Novi mendirikan RUMI tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin anak-anak bisa membaca, menulis dan berhitung agar ke depannya memiliki kehidupan yang lebih baik. Sementara tujuan jangka panjangnya, anak-anak di RUMI bisa mengikuti kejar paket dan mendapatkan legalitas ijazah yang mungkin bisa dipakai untuk mengubah hidup mereka.

Legalitas ini memang tidak mudah bagi anak-anak pemulung Bantargebang karena banyak dari mereka yang lahir tanpa akta kelahiran, orang tuanya tidak memiliki KTP dan mereka juga tidak tahu bagaimana mendapatkan dokumen-dokumen itu. Bahkan bagi sebagian yang memiliki legalitas berupa KTP dan akta kelahiran juga masih menghadapi rintangan karena mereka lebih suka anak-anaknya bekerja membantu orangtuanya daripada mengejar ijazah.  Novi menyebutkan ada anak yang pintar tetapi tidak punya semua legalitas dokumen yang dibutuhkan, dan itu sangat disayangkan.

“Saya tidak mau anak-anak terjebak hidup di sini, tidak bisa keluar kemana-mana, tidak punya bekal pengatahuan apapun, lalu mereka dimanfaatkan orang lain dengan menjadi pemulung seumur hidup mereka,” kata Novi.

Semangat yang dimiliki Novi juga saya lihat di mata anak-anak pemulung Bantargebang. Dengan datang ke RUMI setiap hari untuk mengikuti proses belajar mengajar, artinya mereka memiliki kemauan kuat untuk mengubah hidupnya.   Motivasi dari orang seperti Novi memang sangat dibutuhkan. Mereka harus diyakinkan bahwa mereka punya kemampuan untuk mengubah dirinya sendiri.

Tidak hanya pada anak-anak, Novi juga memiliki peran penting untuk melakukan edukasi kepada orang tua mereka. Pada awal pendirian RUMI, orang tua anak-anak ini curiga dan khawatir kalau anak-anak mereka akan diajari hal-hal yang tidak benar. Namun, Novi menekankan bahwa saung tempat belajar anak-anak ini berbentuk terbuka dan bisa dilihat dari luar saat proses belajar mengajar. Jika ada materi yang menyimpang dan tidak sesuai, Novi siap bertanggungjawab.

Novi juga memberikan edukasi kepada ibu-ibu yang menunggu di dekat saung saat anak-anaknya belajar. Novi mengingatkan tentang pekerjaan rumah untuk anak-anak mereka. Jika ibu-ibu tidak bisa membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah, setidaknya anaknya diingatkan untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Awalnya memang tidak mudah, namun dengan berjalaannya waktu, semua jadi terkondisikan lebih baik. Ibu-ibu secara otomatis mengingatkan anaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mereka lebih paham bagaimana membantu anak-anaknya untuk belajar.

Masalah krusial yang dihadapi Novi adalah tidak memiliki donatur. Banyak teman-temannya yang membantu kegiatan ini, tetapi seringkali Novi bersama Nijma dan Anggit merogoh koceknya sendiri untuk kebutuhan anak-anak seperti fotokopi materi pelajaran. Jika di sekolah formal anak-anak mendapatkan materi pelajaran dan fasilitas, tetapi anak-anak pemulung Bantargebang bergantung pada sumbangan buku. Dari sumbangan buku-buku itu, Novi membuat sendiri materi ajar untuk anak-anak pemulung Bantargebang dengan merangkum seluruh pelajaran Sekolah Dasar selama satu tahun menjadi 30 halaman kemudian difotokopi dan dibagikan.

Selain belajar membaca, menulis dan berhitung, Novi juga mengajari anak-anak RUMI membuat kerajinan tangan seperti totebag yang hasilnya bisa dijual. Hal ini dilakukan bukan semata untuk mendapatkan uang, tetapi juga untuk memberi pengetahuan kepada anak-anak bahwa ada pekerjaan lain selain memulung yang bisa memberikan penghasilan. Sebagian uang penghasilan dari kerajinan ini disimpan untuk biaya ujian kejar paket.

Banyak suka duka yang dialami Novi dalam menggawangi RUMI. Saat anak-anak baru datang bergabung, Novi sangat gembira.  Tapi beberapa saat kemudian ada anak-anak yang tidak kembali lagi ke RUMI. Itu yang membuat Novi merasa sedih. Biasanya mereka dibawa pulang kampung oleh orang tuanya. Sehingga anak itu otomatis akan berhenti belajar sebelum mengikuti ujian kejar paket. Tetapi, Novi selalu menekankan kepada anak-anak agar tidak berhenti belajar di manapun mereka. Segala keterbatasan yang mereka hadapi tidak boleh menjadi penghalang.

***

“Saya ingin jadi dokter! Saya ingin jadi polisi! Saya ingin jadi guru!” teriak anak-anak RUMI saat ditanya cita-cita mereka saat besar nanti.

Seperti anak-anak yang lain, mereka juga berhak memiliki cita-cita. Meski mereka tinggal di rumah bedeng dan berkutat dengan sampah dari pagi sampai malam, mereka juga manusia yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Novi berusaha mendorong mereka untuk berani mewujudkan cita-cita itu.

Pada masa lalu kita mengenal RA. Kartini, Dewi Sartika dan Rohana Kudus yang sangat berjasa di dunia pendidikan Indonesia. Sementara di luar sana kita mengenal Malala Yousafzai, seorang remaja Pakistan yang menginspirasi anak-anak perempuan untuk memperjuangkan pendidikan mereka. Malala menjadi sorotan dunia ketika ditembak kepalanya oleh Taliban saat ia berusia 15 tahun. Lalu ada Mary McLeod Bethune, yang dikenal sebagai “The First Lady of The Struggle” karena kegigihannya memperjuangkan masyarakat Afrika-Amerika agar bisa memiliki penghasilan sendiri yang lebih baik melalui pendidikan.

Novi mungkin tidak tampak heroik seperti mereka, tetapi cita-citanya agar anak-anak pemulung Bantergebang bisa menulis, membaca dan berhitung akan berdampak besar jika terus dilakukan. Masa depan terletak di tangan anak-anak ini, tetapi bagaimana jika mereka tidak bisa membaca, menulis dan berhitung? Betapa menyedihkan melihat anak-anak yang lahir di zaman technologi namun buta huruf, sungguh ironis. Seolah mereka terbuang dari peradaban yang membentuk diri mereka sendiri.  Apakah harapan Novi untuk sedikit mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik itu akan terwujud?

“Beberapa bulan lalu saung tempat anak-anak belajar digusur untuk perluasan tempat penampungan sampah. Itu memang sudah diprediksi akan terjadi karena lokasi yang kami tempati memang sudah diperingatkan akan digusur, tapi tetap saja saya sangat sedih,” kata Novi menghela napas.

Anak-anak tidak memiliki saung lagi tetapi mereka kemudian belajar di mana saja. Sebelum pelajaran dimulai biasanya salah satu dari mereka mencari tempat yang tidak ada tahi ayamnya lalu menghamparkan alas duduk di sana. Mereka berpindah-pindah tempat yang memungkinkan untuk belajar. Tetapi kegiatan belajar mengajar masih terus berjalan dengan semangat yang sama.

“Hari ini kita tamasya!” seru Novi sambil menggandeng beberapa anak mendekati saya.

Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun, bernama Izan menarik-narik tangan saya untuk mengikuti langkah mereka menyusuri sepanjang sisi gunung sampah. Jalanan becek dan aliran air menghitam. Izan terus menuntun tangan saya diikuti Novi dan anak-anak yang lain. Mereka berlari-lari kecil sambil menyanyi. Melompat ke atas bak sampah, naik ke atas tumpukan-tumpukan sampah sambil salto, menggantungkan tangan ke pinggiran bak sampah sambil menggoyang-goyangkan kakinya sementara teman yang lain menarik celananya sampai telanjang. Tawa mereka berderai penuh kegembiraan.

“Mereka paling senang mengajak orang luar jalan-jalan ke tempat mereka bermain,” kata Novi tersenyum.

Saya kuwalahan mengikuti mereka mendaki gunung sampah. Beberapa kali Izan mengulurkan tangan untuk menolong saya naik ke bukit yang lebih tinggi. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan sampah yang membusuk, para pemulung yang sibuk memunguti plastik dan truk-truk yang terus berdatangan. Saat truk datang, para pemulung berlari menyambut rezeki yang ditumpahkan dari atas truk dan berebut memunguti barang-barang yang bisa dijual.

“Dulu, ada yang meninggal tertimbun sampah yang ditumpahkan dari truk,” kata Izan setelah menyelamatkan kaki saya yang terjeblos sampah basah.

Saya tertegun memandangi Izan. Ia menceritakan hal tragis itu seperti hal biasa. Tidak ada yang menakutkan. Mungkin mereka tidak memahami betapa bahaya tempat bermain mereka dan tempat orang tuanya bekerja. Tetapi kenyataan memang berkata sebaliknya. Bisa jadi mereka telah kebal. Mereka terlihat sehat, ceria dan bersemangat bermain di tengah sampah rumah tangga, pasar, kantor, banjir, jalanan, bahkan sampah medis yang berbahaya saat covid-19 melanda.

Saya terus naik mengikuti langkah anak-anak itu. Di puncak gunung sampah terdapat tenda-tenda kecil yang dibangun para pemulung sebagai pelindung saat mereka bekerja. Seorang ibu tua berjaket abu-abu duduk berteduh di salah satu tenda kecil bersama teman-temannya. Saya bergabung dengan ibu tua itu dan membiarkan anak-anak berlarian di antara sampah.

Saya memandang wajah ibu tua yang menghitam dan tampak kontras dengan kain penutup kepala warna merah muda yang ia kenakan. Senyum lebarnya mengembang menampakkan giginya yang telah habis dimakan usia dan keadaan. Tetapi saya memang melihat harapan di matanya, juga rumah yang enggan ia tinggalkan.

Lamat-lamat saya seolah mendengar suara Fiersa Besari menyanyikan lagu  Alam Bukan Tempat Sampah. “Laut bukan tempat sampah, gunung bukan tempat sampah, alam bukan tempat sampah, jadikan bumi lebih indah…”

Tetapi bagi sebagian orang sampah adalah rumah dan harapan. Harapan yang disematkan oleh Novi pada anak-anak pemulung Bantargebang untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik dengan terus belajar membaca, menulis dan berhitung meski saung tempat mereka belajar telah lenyap. ***

 

MENDAKI GUNUNG SAMPAH BANTARGEBANG

Mendengar kata Bantargebang, ingatan saya melayang pada unggahan sebuah foto oleh actor Hollywood yang juga aktivis lingkungan, Leonardo Dicaprio, di akun resmi instagramnya pada 6 September 2019. Dalam foto karya Adam Dean tersebut tampak seorang pemulung sedang memungut sampah di Bantargebang. Unggahan ini menimbulkan reaksi netizen Indonesia yang kebanyakan merasa malu. Salah satunya, “bangga menjadi orang Indonesia. Kita suka membeli apapun dengan bungkus plastik.” 

Sampah memang menjadi masalah klasik yang belum juga ditemukan solusi terbaiknya di ibukota dari tahun ke tahun. Itu juga yang membuat saya tertarik mengunjungi Bantargebang. Pada bulan Maret 2022, tepat pukul 10 pagi, saya tiba di pintu gerbang Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Saya masuk lewat belakang kelurahan Sumur Batu.


Gunungan sampah yang tinggi seolah melambaikan tangan ketika ban mobil saya terperosok ke dalam lumpur. Dua orang pemuda mengenakan kaos hitam lengan panjang, topi rimba kusam dan sepatu boot plastik membantu saya keluar dari kubangan lumpur. Setelah mobil terparkir aman, saya melewati lorong kecil di depan rumah-rumah bedeng berdinding triplek yang dihuni pemulung Bantargebang. Beberapa pria dan wanita sedang duduk sambil mengobrol santai. Saya turun ke jalan utama yang dilewati truk-truk pengangkut sampah dan perlahan menyusuri jalan itu.
Ketika mendongak ke atas, tampak gunungan sampah dan para pemulung sedang bekerja. Mereka mengenakan baju panjang, sepatu boot plastik, penutup kepala dan keranjang yang terlilit di punggungnya. Tangannya memegang tongkat bercapit untuk memunguti sampah. Matahari yang menyengat menghitamkan wajah mereka. Saya terus melangkah.


Pembuangan sampah ibukota ini sudah mencapai titik kritis. Minimnya lahan sehingga sampah harus ditumpuk menyerupai piramida. Saat ini tinggi gunungan sampah sudah mencapai 40 meter dari maksimal yang diijinkan, 50 meter. Dari lima zona, empat diantaranya sudah mencapai batas maksimal. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Kehidupan warga yang tinggal dalam radius hingga lima kilometer dari TPST Bantargebang juga terancam. Bau busuk menyengat dan air sumur tercemar air lindi sampah. Air lindi sampah terbentuk dari air hujan yang terjebak tumpukan sampah. Ini sangat berbahaya dan beracun karena mengandung konsentrasi senyawa organik maupun anorganik tinggi.


“Mau naik ke atas, Mbak?” tanya seorang lelaki usia kisaran 35 tahun yang kemudian saya kenal bernama Usman.
Saya bergabung dengan Usman duduk di bangku bambu yang berada di depan rumah bedeng. Dua orang lelaki lainnya yang lebih tua, Sulaiman dan Markoni yang berusia kisaran 50 tahun ikut ngobrol sambil memilah-milah sampah.
“Saya baru enam bulan kerja di sini,” katanya sambil memandangi gunungan sampah di depan kami yang menjulang dengan sorot mata penuh harapan.
“Covid bikin sulit cari kerja. Jadi buruh pabrik susah diterima. Istri nyuruh jadi sopir angkot, tapi angkot juga susah dapat penumpang. Di sini lebih pasti.”
“Asal rajin ngambil sampah, pasti bisa makan,” timpal Sulaiman.


Sulaiman berasal dari Bekasi Timur, sudah 10 tahun bekerja sebagai pemulung di Bantargebang. Seluruh keluarganya dibawa tinggal di rumah bedeng. Bagi Sulaiman, Bantargebang menjadi tempat paling tepat untuk mengais rezeki karena ia tidak memiliki pendidikan. Ia sudah nyaman tinggal di Bantargebang dan tidak ingin pindah ke tempat lain. Sementara Markoni yang berasal dari Padang juga sudah 10 tahun lebih tinggal di rumah bedeng. Meski terlintas keinginan untuk kembali ke kampung halaman, tetapi sampah lebih menjanjikan.

Kerja keras dan ketelitian menjadi modal utama para pemulung di Bantargebang. Jika beruntung mereka bisa menemukan barang-barang mahal seperti emas dan handphone bekas yang bisa dijual kepada pengepul. Sementara barang lain yang diincar para pemulung adalah plastik sekali pakai, kertas, karung-karung bekas hingga busa kasur. Bahkan belatung juga laku dijual.


Menurut Usman, harga sampah plastik per kg Rp.400 tetapi jika langsung dijual ke pabrik bisa dua kali lipat. Ada sekitar 7000 pemulung yang tinggal di rumah bedeng seputar TPST Bantargebang. Mereka datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia mulai dari Madura, Padang, Tangerang, Cikarang, Karawang dan sekitaran Bekasi. Mereka terpaksa datang ke Bantargebang karena tidak ada lapangan kerja di kampung. Lahan pertanian sudah habis dan mereka tidak memiliki pendidikan yang memadai. Sampah kemudian menjadi pilihan terbaik.

Pertemuan saya dengan tiga lelaki itu membawa saya ke rumah bedeng di belakang mereka. Di sana ada gubuk kecil dari kayu beratap terpal. Empat ibu-ibu muda sedang mengobrol. Saya memperkenalkan diri lalu bergabung. Di samping mereka tampak bangunan terbuka dari bambu yang dipenuhi anak-anak sedang belajar membaca dan menulis. Ternyata ibu-ibu muda itu sedang menunggu anak mereka sekolah. Beberapa aktivis dan relawan mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak pemulung. Mereka belajar membaca, menulis, berhitung dan agama.

“Saya tinggal di sini sejak tahun 2004,” kata Mama Akmal wanita berparas manis, mengenakan daster batik merah tanpa lengan dan riasan wajah lengkap. “Saya lebih kerasan di sini ketimbang di kampung, suami tidak punya kerjaan di sana. Mau bertani tidak bisa, jadi buruh tidak bisa.”


Sependapat dengan tiga lelaki yang saya temui, empat ibu-ibu muda ini juga meyakini bahwa sampah adalah berkah bagi mereka. Tidak ada yang lebih pasti soal rezeki dibanding sampah yang diangkut truk-truk dari Jakarta dan Bekasi.
Sudah 36 tahun TPST Bantargebang beroperasi. Dibuka tahun 1986, TPST terbesar di Indonesia bahkan di dunia menurut versi National Geografi ini, memiliki luas total 110.3 hektar. Secara administratif, wilayah TPST Bantargebang terletak di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat yaitu kelurahan Ciketing Udik, Sumur Batu dan Cikiwul. Namun status tanah dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Setiap hari jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang sekitar 7000-7500 ton dari DKI Jakarta. Pembuangan sampah khusus milik Pemerintah Kota Bekasi terletak di Sumur Batu tempat saya masuk ke lokasi ini.


“Waktu banjir dan longsor, rumah ini kena juga. Beberapa pemulung meninggal tertimbun sampah,” kata Mama Akmal saat mempersilakan saya masuk ke dalam rumahnya.

Rumah bedeng mungil berdinding triplek itu cukup rapi. Dua kamar tidur disekat dengan tirai kain, dapur untuk memasak dan kamar mandi. Lantainya ditutupi plastik perlak warna abu-abu. Bagian dinding dihias tanaman gantung imitasi serta gambar doraemon di sisi yang lain. Meski berada tepat di depan gunung sampah dan jalan utama truk-truk sampah lewat, rumah bedeng ini terasa nyaman. Mama Akmal menyewa rumah bedeng ini dengan harga Rp.300.000.

“Tidak semua wanita ikut memulung, kami menjaga anak-anak di rumah,” kata teman Mama Akmal sambil mencomot makanan yang ada di depannya.

Lalat mengerubungi sisa makanan yang baru saja diambil, empat wanita itu tertawa-tawa menceritakan kehidupan mereka sehari-hari. Beberapa anak selesai sekolah dan bergabung, ikut mengambil makanan yang dirubung lalat.

“Kita sudah kebal, tapi kalau tidak terbiasa jangan coba-coba, nanti sakit perut,” kata Mama Akmal seperti memahami kekhawatiran saya.


Seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun mendekati saya dan menarik-narik tangan saya. Sikapnya seolah sudah kenal dekat. Ia bernama Izan dan mengajak saya mendaki gunung sampah. Beberapa anak lain juga bergabung. Mereka berlari-lari kecil sambil menyanyi. Melompat ke atas bak sampah, naik ke atas tumpukan-tumpukan sampah sambil salto, menggantungkan tangan ke pinggiran bak sampah sambil menggoyang-goyangkan kakinya sementara teman yang lain menarik celananya sampai telanjang. Tawa mereka berderai penuh kegembiraan.
Saya kuwalahan mengikuti mereka mendaki gunung sampah. Beberapa kali Ijan mengulurkan tangan untuk menolong saya naik ke bukit yang lebih tinggi. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan sampah yang membusuk, para pemulung yang sibuk memunguti plastik dan truk-truk yang terus berdatangan. Saat truk datang, para pemulung berlari menyambut rezeki yang ditumpahkan dari atas truk dan berebut memunguti barang-barang yang bisa dijual.


“Dulu, ada yang meninggal tertimbun sampah yang ditumpahkan dari truk,” kata seorang anak perempuan setelah menyelamatkan kaki saya yang terjeblos sampah basah.

Saya tertegun memandang anak perempuan itu. Ia menceritakan hal tragis itu seperti hal biasa. Tidak ada yang menakutkan. Mungkin mereka tidak memahami betapa bahaya tempat bermain mereka dan tempat orang tuanya bekerja. Tetapi kenyataan memang berkata sebaliknya. Bisa jadi mereka telah kebal. Mereka terlihat sehat, ceria dan bersemangat bermain di tengah sampah rumah tangga, pasar, kantor, banjir, jalanan, bahkan sampah medis yang berbahaya saat covid-19 melanda.


Saya terus naik mengikuti langkah anak-anak itu. Di puncak gunung sampah terdapat tenda-tenda kecil yang dibangun para pemulung sebagai pelindung saat mereka bekerja. Seorang ibu tua berjaket abu-abu duduk berteduh di salah satu tenda kecil bersama teman-temannya. Saya bergabung dengan ibu tua itu dan membiarkan anak-anak berlarian di antara sampah.

“Ini rumah dan harapan saya, neng…” kata ibu tua itu tanpa saya tanya.

Saya memandang wajah ibu tua yang menghitam dan tampak kontras dengan kain penutup kepala warna merah muda yang ia kenakan. Senyum lebarnya mengembang menampakkan giginya yang telah habis. Tetapi saya memang melihat harapan di matanya, juga rumah yang enggan ia tinggalkan.

Lamat-lamat saya seolah mendengar suara Fiersa Besari menyanyikan lagu Alam Bukan Tempat Sampah. “Laut bukan tempat sampah, gunung bukan tempat sampah, alam bukan tempat sampah, jadikan bumi lebih indah…”
Tetapi bagi sebagian orang sampah adalah rumah dan harapan.

***