Category Archives: Blogging

JOGJA, PANDEMI YANG MENGENDAPKAN RINDU

Setelah dua tahun saya tidak keluar kota, saya memutuskan untuk mengunjungi Yogjakarta begitu kondisi membaik. Dengan memantau pergerakan kasus yang semakin hari semakin mengecil, saya memberanikan diri memesan tiket kereta. Kenapa ke Jogja? Ya, saya tidak tahu lagi tempat yang paling saya rindukan selain Jogja. Benar memang, ada satu kalimat yang mengatakan bahwa Jogja itu terbuat dari angkringan dan rindu. Begitu juga saya, tidak kuat menahan rindu begitu lama saat tidak bisa mengunjungi Jogja. Tidak ada kejadian istimewa sebelumnya yang membuat saya menjadi seperti itu, tetapi sepertinya Jogja memang memikat hati banyak orang. Bahkan ada harapan kecil di hati saya, untuk bisa menghabiskan hari tua di Jogja.

 

 

Baiklah, kejauhan mengkhayalnya. Singkat cerita, akhirnya saya memesan tiket kereta ekonomi ke Jogja. Seorang teman nyeletuk, pasti kamu kangen duduk tegak di kereta ekonomi, ya? Pasti kamu ingin mengulang kegilaan masa lalu ya? Padahal kereta ekonomi zaman sekarang itu sudah bagus lho! Dan saya enjoy menikmati perjalanannya. Penumpang kereta menjaga prokes dengan baik dan kereta juga bersih. Saya memesan penginapan tidak jauh dari stasiun kereta sehingga dengan mudah saya menjangkau tempat itu untuk istirahat setelah delapan jam perjalanan dari Jakarta.

 

Pandemi belum berakhir, sehingga saya memutuskan untuk menjaga prokes dengan ketat. Begitu memasuki kamar hotel saya melepas semua pakaian dan menyingkirkan ke dalam tas tersendiri lalu mandi keramas dengan banyak sabun. Setelah merasa bersih, saya memesan makanan secara online agar tidak keluar kamar lagi. Begitu makanan datang saya makan lalu istirahat.  Saya tidak mau kecapekan.

Lalu baru esok harinya saya melihat-lihat Jogja. Entah mengapa, saya merasa kota ini menjadi lesu dan tidak bergairah. Sepertinya pandemi telah mengubah segalanya. Jalanan yang terasa sepi dan orang-orang yang terlihat tidak bersemangat. Bahkan saat saya menyusuri pinggiran alun-alun utara, saya merasa tidak di Jogja. Saya masih menghindari keramaian sehingga memutuskan untuk ke Gunung Kidul. Tujuan pertama saya adalah  Desa Wisata Nglangeran. Menurut saya berwisata ke alam masih lebih aman ketimbang berada di antara banyak orang. Sopir yang mengantar saya juga antigen lebih dahulu sehingga saya merasa lebih tenang.

Bagaimanapun lesunya di dalam kota, begitu tiba di Gunung Kidul saya terpesona. Desa Wisata Nglangeran ini menurut berita yang saya baca banyak meraih penghargaan sebagai desa wisata terbaik. Ada wisata alam, geologi, sejarah, dan kuliner di sini. Sebenarnya saya ingin mengunjungi puncak Gunung Api Purba yang menjadi ikon desa wisata Nglangeran dan sudah diakui UNESCO sebagai situs Geopark Global Gunung Sewu. Tetapi saya tidak menyiapkan fisik dan perbekalan untuk hiking. Akhirnya saya hanya bisa menikmati pemandangan gunung itu dari bawah. Padahal jika sampai puncak, kita bisa menikmati pemandangan Gunung Kidul dari ketinggian.

Jangan sedih dulu, jika tidak siap hiking sampai atas, kita masih bisa menikmati ketinggian dari waduk Embung Nglangeran. Danau buatan ini jernih dan berada di ketinggian. Pecinta lokasi instagramable pasti suka berada di sini. Saya tidak begitu suka segala sesuatu yang dibuat manusia dengan sengaja, tapi tempat ini sangat indah apalagi saat melihat tempat yang jauh dari ketinggian. Sangat rekomended.

Setelah dari Nglangeran yang baru kali ini saya kunjungi, saya menuju tempat lain yang juga baru sekali itu saya kunjungi. Yaitu, situs Warungboto. Beberapa waktu lalu, situs ini ngehits karena putri Presiden foto prewedding di sini. Begitu melihat dari sisi jalan saya yakin itu tempatnya. Tetapi sopir online mengatakan itu kuburan. Ya memang, situs Warungboto berdekatan dengan kuburan, tetapi jangan salah masuk karena ada petunjuk yang jelas.

Seorang bapak paruh baya sedang membersihkan bagian depan situs saat saya memasuki halaman situs Warungboto. Dan Pak Sugiyono mengatakan bahwa situs belum buka karena pandemic. Tetapi saya diizinkan mengambil foto-foto dari luar. Baiklah, tidak masalah. Situs ini dari depan tampak memiliki tiga bagian. Dua samping kiri dan kanan kemudian bagian tengah yang paling besar. Bagian kanan merupakan restorasi dari bangunan lama yang sudah runtuh. Menurut Pak Sugiyono, bangunan ini berhubungan dengan Taman Sari. Kalau Taman Sari merupakan tempat para putri, sementara Warungboto merupakan pesanggrahan raja. Memang arsitektur bangunannya sangat mirip dengan Taman Sari. Saya hanya bisa melihat-lihat dari luar sehingga tidak bisa mengenali bagian dalamnya.

Baru malam harinya saya mengunjungi Malioboro dan nongkrong di depan Malioboro Mall. Tetapi entah mengapa, aku merasa kota ini menjadi sedih karena hantaman pandemic. Bahkan saat duduk menikmati malam, Malioboro juga terasa mati. Orang-orang berjalan melewati Malioboro dengan semangat yang hanya sisa. Bisa jadi itu hanya aura yang saya tangkap sendiri, mungkin orang lain tidak merasakannya. Tetapi bagaimanapun, ketika saya meninggalkan Jogja, hati saya masih tertinggal di sana. Selalu ada janji untuk kembali. Ke Jogja suatu hari nanti. Dan memang, janjiku selalu kutepati untuk menumpahkan segala rindu yang mengendap.

YANG DIRINDUKAN DARI PERJALANAN

Perjalanan sekarang seperti angan-angan yang jauh. Pandemi menghancurkan semua tiket perjalanan yang saya miliki. Setidaknya tiga rencana traveling tahun 2020 yaitu ke China, Timor Timur dan Eropa. Bagusnya semua tiket perjalanan bisa direfund 100% karena memang pesawatnya tidak berangkat. Dalam kondisi seperti ini, sedih dan stuck sudah pasti, tetapi apa sih sebenarnya yang paling saya rindukan dari perjalanan?

Ada beberapa hal yang saya rindukan dari perjalanan mulai dari menyusuri tempat-tempat baru, nyasar dan menemukan hal aneh sampai teman-teman perjalanan yang kadang menyebalkan atau juga menyenangkan. Setiap perjalanan ada ceritanya masing-masing yang selalu sangat menarik buat saya. Tetapi yang paling saya rindukan adalah bertemu orang-orang lokal, bergaul dengan mereka untuk mengetahui kehidupan mereka dan mencecap keramahan mereka. Kejadian-kejadian spontan kebaikan orang lokal ini selalu saya rindukan saat saya lama tidak melakukan perjalanan. Sayangnya beberapa kejadian tidak terekam dalam kamera karena benar-benar spontan. Jadi mungkin cerita dan fotonya tidak bersesuaian.

Saya mengingat beberapa pertemuan menyenangkan dari perjalanan saya. Tahun 2016 saya pergi ke China. Saya nyasar ketika mencari penginapan saya dan semua orang hanya bisa berbahasa China. Semua tulisan jalan juga berbahasa China. Saya benar-benar hampir putus asa ketika itu ditambah lagi saya kelaparan. Tiba-tiba saya melihat rumah makan kecil di pinggir jalan milik orang muslim. Saya mampir dan membeli makanan. Sebenarnya toko itu belum buka, tapi melihat saya dan teman saya kelaparan serta kebingungan sepertinya pemilik toko kasihan. Saya kemudian dipersilakan makan bahkan ketika saya membayar dia menolak. Katanya kita satu saudara seiman, anda tidak usah bayar, kita saling mendoakan saja.

Di perjalanan yang lain pada tahun 2011 saat saya ke Korea, saya bersama seorang teman juga nyasar saat mencari salah satu gedung. Tiba-tiba seorang cowok bersedia mengantar saya sampai ke gedung itu menggunakan mobilnya. Awalnya saya ketakutan saat masuk mobil, tapi ternyata cowok itu benar-benar mengantarkan saya ke gedung yang saya cari. Teman saya memberikan souvenir dari Indonesia, lalu kami berpisah. Tak hanya itu, saat saya dan teman saya kelaparan, kami masuk ke kedai kecil di Korea. Seorang wanita paruh baya melayani kami dengan ramah bahkan menunggui kami makan. Kedai itu berasa kedai privat buat kami. Meskipun tidak bisa berbahasa Inggris tetapi ibu ini memahami komunikasi bahasa tubuh yang kami gunakan. Bahkan saat kami bingung mencari terminal, dua orang wanita mengantar kami hingga terminal. Kejadian di Korea ini benar-benar membuat saya rindu kembali ke sana.

Tahun 2019 saat ke Rusia, entah sudah berapa kali saya dan teman-teman kebingungan mencari alamat rumah. Sampai salah masuk ke sana dan ke mari berjam-jam. Tetapi selalu ada orang yang menolong kami. Memang sebagian mereka tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka berusaha menolong kami menemukan tempat yang kami cari. Bahkan membantu mengangkat koper kami tanpa mau dibayar.

Tahun 2017, saat saya pergi ke Geneva Swiss, saya ketiduran di tram karena sangat capek. Seorang penumpang membangunkan saya dan bilang kalau saya sudah sampai tempat tujuan. Sepertinya dia memang mendengar saat saya dan teman-teman menyebutkan tempat tujuan saya. Di Belanda juga saya mengalami hal spontan menyenangkan saat tidak bisa pulang karena tram berhenti. Waktu itu ada pertandingan bola dan kondisi jalanan banyak orang lalu lalang. Semakin malam akan semakin ramai bahkan banyak orang mabuk maka disarankan segera pulang, sayangnya tidak ada tram. Seorang wanita yang kebetulan juga menunggu tram kemudian mengajak kami jalan agak jauh ke stasiun yang lain. Dari stasiun ini, saya kemudian bisa mendapatkan tram menuju penginapan. Ternyata wanita ini rumahnya tidak jauh dari lokasi penginapan saya. Sementara di Paris, saat ke masjid saya bertemu seorang gadis yang belum lama menjadi mualaf. Gadis ini bahkan menjadi teman baik saya hingga saat ini. Kami masih bertukar kabar dan berbagi cerita.

Tahun 2019, saya ke Vietnam dan menjelajahi beberapa pasar bukan untuk belanja tapi untuk bertemu beberapa orang yang ingin saya tulis kisahnya. Ternyata saya menemukan banyak orang menarik di beberapa pasar ini. Mereka terbuka dan penuh perhatian. Saya merasa sangat bahagia bertemu mereka. Hal-hal seperti ini sebenarnya yang paling saya rindukan dalam perjalanan. Moment-moment yang spontan, jujur dan penuh ketulusan ini tidak sering saya dapatkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Kapan bisa traveling lagi? Saya merindukan mereka.

SERIAL “13 REASONS WHY” DAN DEPRESI DI SEKITAR KITA

Seorang gadis tiba-tiba bunuh diri dan meninggalkan pesan berupa kaset kepada teman-teman di sekelilingnya. Hannah Baker, begitu nama gadis itu, tidak menunjukkan bahwa dia seorang yang menderita penyakit mental apapun. Hannah seorang gadis yang cantik, terlihat ceria dan berusaha bergaul dengan siapa saja. Tetapi diam-diam dia menyimpan kekecewaan yang dalam terhadap lingkungannya ; teman-teman sekolahnya yang saling membully dan tidak tulus, guru-gurunya yang tidak tanggap terhadap masalah-masalah anak didiknya dan orang tuanya yang egois. Kaset yang ditinggalkan itu membuka rahasia penyebab ia bunuh diri mulai dari orang-orang terdekatnya yang dia anggap tidak peduli pada perasaannya hingga puncak dari segalanya ia diperkosa teman sekolahnya pada suatu malam dan mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya. Tanpa kaset-kaset itu, tidak ada seorangpun yang tahu penyebab Hannah bunuh diri.

Orang-orang seperti Hannah banyak di sekeliling kita. Apalagi sebagian besar lingkungan kita menganggap remeh orang-orang yang sakit secara batin. Sebagian dari kita hanya peduli saat orang lain sakit secara fisik. Padahal sakit secara batin itu efeknya sangat besar dan bisa menimbulkan sakit-sakit fisik. Saya jadi ingat dalam satu wawancara televisi seorang cowok yang menderita depresi begitu lama mengalami kecelakaan. Kesan pertama yang dia terima dari orang-orang di sekelilingnya saat ia mengalami depresi banyak orang menertawakannya dan tidak memercayainya, sementara saat ia mengalami kecelakaan banyak yang menjenguk dan peduli. Ya, sebagian kita memang masih begitu, menganggap depresi adalah bentuk tidak kompetennya seseorang menghadapi terpaan badai hidup, tidak becusnya orang tersebut melihat sisi terang dari apa yang dia hadapi, merespon sesuatu terlalu dramatis dan berlebihan hingga ada pula yang membandingkan dengan orang lain yang kemungkinan penderitaannya lebih parah namun sanggup melewati itu.

“Tidak ada segala sesuatu yang berjalan sesuai maumu,” kata seorang teman suatu ketika saat saya menceritakan bahwa saya mengalami depresi. Saya juga pernah mengalami depresi meski levelnya tidak berat. Trauma masa kecil, rentetan pengkhianatan yang pahit dan tekanan hidup yang berat membuat saya jatuh ke liang depresi. Ada satu masa saya tidak bisa makan dalam seminggu dan hanya bisa minum air. Ada satu masa saya terbangun pagi hari dengan kondisi yang letih luar biasa. Ada satu masa dimana saya berkubang dalam kesedihan yang dalam tanpa sebab. Ada satu masa dimana saya tidak bisa menangis untuk mengekpresikan kepedihan yang dalam. Efeknya secara fisik kemana-mana, sakit lambung, paru-paru, ginjal bahkan tidak bisa berjalan. Tapi semua itu sudah berlalu. Sejak saya menemukan diri saya sendiri dan hidup membebaskan diri sesuai kata hati, saya perlahan sembuh. Itu butuh perjuangan bertahun-tahun, bahkan bantuan psikolog untuk menunjukkan petanya kemana saya akan berjalan. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dengan semua itu saya tidak pernah meremehkan siapapun yang datang pada saya dan mengaku depresi. Saya selalu menyediakan dua telinga untuk mendengar mereka tanpa memvonis apapun. Karena saya tahu rasanya, saya tahu penderitaannya.

Bukan hanya dalam sebuah serial, banyak contoh di dunia nyata yang bisa kita lihat secara gamblang. Robin Williams, actor komedi yang periang dan selalu tampil menghibur dalam film-filmnya itu memutuskan bunuh diri karena depresi akut, halusinasi dan penyakit degenerative. Tetapi beberapa berita mengatakan ia memutuskan butuh diri karena merasa tidak lucu lagi. Dalam kacamata orang lain yang tidak peka pasti akan bilang “masa hanya karena tidak lucu lantas bunuh diri?” Lalu kita lupa melihat masalah dari sudut pandangnya. Kita sibuk membandingkannya dengan orang lain yang mungkin kelihatan lebih menderita tetapi sanggup melewati segalanya. Hey, kamu orang-orang yang suka meremehkan depresi dan penderitaan batin orang lain! Kita paham semua manusia memiliki masalahnya masing-masing. Tapi ingat setiap manusia memiliki proses yang berbeda menghadapi masalah. Kita tidak bisa menggeneralisir semua manusia sama sehingga kita jatuh pada penghakiman bahwa “kamu nggak kompeten, kamu cemen dan kamu memalukan!” Bisa jadi orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya ini sudah begitu lama bertarung menghadapi depresi, berjuang melawan tekanan-tekanan sampai kemudian ia merasa tidak mampu lagi. Atau bisa jadi orang itu telah datang padamu memohon kedua telingamu mendengarkan penderitaannya tetapi kamu justru memvonisnya tidak kompeten menghadapi hidup. Dan kamu menjadi salah satu teman Hannah Baker yang menyebabkan ia bunuh diri. Mau jadi orang seperti itu?

Mungkin sekaranglah waktunya kita memulai untuk peka terhadap sakit batin orang lain di sekeliling kita. Jika memiliki kedua telinga untuk mendengar, dengarkan mereka. Jika bisa membantu, bantulah mereka menemui psikolog atau psikiater. Jangan memvonis mereka saat mereka berkubang dalam depresi. Kita tidak pernah tahu, kata-kata kita yang bagian mana yang begitu menyakitkan sehingga justru memperburuk kondisinya. Kalau kita tidak punya hal yang baik untuk diberikan lebih baik diam. Jangan sampai kita mendorong ia melakukan hal yang lebih buruk dalam hidupnya. Mari kita mulai peduli pada orang-orang di sekeliling kita dan tidak menggeneralisir mereka. Setiap orang melewati proses yang berbeda dalam garis perjalanan hidupnya. Ingat itu!

*feature pic by ngopulse.org

PENULIS ‘JADUL’ DI ERA DIGITAL

Suatu siang saat membuka-buka laman berita online saya membaca kalimat ini : “Kita memerlukan 4000 tahun untuk berpindah dari penggunaan besi menjadi industri. Lalu kita hanya memerlukan 40 tahun untuk berpindah ke tahap computer. Namun ke depannya kita hanya memerlukan 4 tahun untuk menjadikan dunia ini berbeda dari sebelumnya. Hingga pada akhirnya setiap hari kita akan melihat teknologi yang berbeda.” Saya menyadari bahwa saat ini saya berada pada dunia di mana setiap hari melihat perkembangan teknologi yang sangat pesat dan berbeda untuk semua bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang tulis menulis yang saya tekuni.

Saya suka menulis sejak sekolah dasar ketika buku harian dengan gembok di pinggirnya sangat ngetrend. Ibu membelikan buku harian itu agar saya bisa menuliskan pikiran-pikiran saya karena saya sangat pemalu untuk bicara. Ibu juga memberikan saya banyak bacaan agar saya bisa melihat dunia luar dari tempat tinggal kami yang terpencil di pegunungan. Lalu saya mulai menulis di media koran dan majalah ketika duduk di bangku SMA. Pada masanya dimuat di koran atau majalah merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena dua atau tiga gelintir orang yang suka membaca di kampung itu akan menangis tersedu-sedu saat membaca cerita kita yang mengharu biru. Kadang mereka datang ke rumah untuk memeluk kita karena sedih setelah membaca ceritanya. Lucu memang, tapi itu sungguh pernah terjadi pada masa lalu.

Memasuki masa kuliah saya berhenti menulis. Hanya dua cerpen yang terbit di majalah selama empat tahun. Setelah kuliah saya bekerja di dunia computer dan selama empat tahun juga tidak menulis. Tetapi selama bekerja itu saya mulai punya keinginan kembali menulis. Tahun 2004 saya memutuskan berhenti sebagai karyawan perusahaan computer dan menjadi full writer dengan mendisiplinkan diri menulis setiap hari. Mulai tahun itu banyak tulisan saya terbit di media cetak baik berupa cerpen, cerita bersambung maupun cerita anak. Media-media yang pernah memuat tulisan saya waktu itu diantaranya adalah Majalah Femina, Majalah Paras, Majalah Annida, Koran Suara Pembaruan, Koran Republika, Majalah Sabili, Majalah Ummi, Majalah Noor, Koran Jawa Pos, Koran Kompas rubrik Kompas Anak dan entah majalah apalagi saya lupa. Tidak hanya dimuat dimedia cetak, tetapi saya juga menerbitkan sejumlah buku novel remaja, cerita anak dan kumpulan cerpen.  Seingat saya produktivitas saya menulis luar biasa. Mungkin karena saya membutuhkan uang dari menulis atau memang saya sedang semangat-semangatnya.

Pada masa itu menulis masih mengikuti alur lama. Penulis semedi menuliskan kisahnya – memberikan ke redaktur atau editor – kemudian kalau sesuai akan dimuat atau dicetak sebagai buku – penulis menerima honor/royalty. Tidak ada tugas penulis mempromosikan karyanya karena semua tugas promo ada dipundak marketing penerbitan atau majalah.  Maka pada masa itu banyak karya yang lebih terkenal dibanding pribadi penulisnya. Bahkan penulisnya terkesan misterius dan susah ditemukan. Saya suka berada dibalik layar seperti itu dan tidak diketahui banyak orang. Hingga tahun 2008 saya masuk ke industri televisi yang bergelut dengan ratusan naskah televisi di tempat saya bekerja, saya masih nyaman berada di balik layar menuliskan naskah, mempersiapkan syuting, mengikuti proses casting pemain untuk menyesuaikan dengan karakter naskah hingga menonton previewnya di ruangan tertutup dan diam-diam bertepuk tangan saat tontonan itu sukses. Tugas marketing sudah ada yang menjalankan sendiri, saya focus menulis dan mengedit naskah-naskah scenario itu.

Tetapi kini zaman mulai berubah total. Persis seperti kalimat yang saya temukan di laman berita online tentang teknologi di awal tulisan ini, saat ini saya berada di zaman yang setiap hari terjadi perubahan teknologi secara cepat. Nyaris saat saya berkedip hal-hal baru selalu muncul. Penulis juga tidak cukup bersembunyi di balik layar, semedi dan tepuk tangan diam-diam menikmati kesuksesannya. Dan ini masalah bagi saya! Beberapa masalah yang saya hadapi di era digital ini dan cara saya mencoba menyelesaikannya adalah :

  1. Penulis Sebagai Marketing.

Di era digital ini, penulis harus muncul mempromosikan sendiri karya-karyanya secara massive agar laku dijual. Sudah bukan zamannya penulis sembunyi dan bersikap misterius membiarkan karyanya berjalan sendiri menuju pembaca. Dengan tingkat daya baca yang rendah, penerbit harus berjuang lebih keras untuk menjual buku. Bagus jika penulis memiliki akun social media yang aktif dengan banyak followers. Beban marketing kemudian juga berpindah ke pundak penulis. Sudah bukan zamannya penulis bersikap misterius dan bersembunyi. Ini masalah besar buat saya. Saya tipikal orang yang sangat tidak suka menampakkan diri berlebihan. Saya tidak suka menjadi pusat perhatian dan berhadapan dengan banyak orang yang langsung melihat muka saya. Bahkan saya tidak suka bicara secara langsung di telepon karena saya butuh memproses informasi yang masuk sebelum menjawabnya. Saya lebih suka berkomunikasi melalui pesan sehingga saya punya waktu untuk berpikir.  Dalam kondisi yang sangat terbuka dan langsung, saya merasa tertekan dan tidak bisa berpikir.  Ini sangat berat bagi saya, tetapi saya mencoba tetap mempromosikan karya saya melalui tulisan, membuat blog, mengunggah status di social media dan berinteraksi langsung dengan teman-teman melalui komentar-komentar. Setidaknya muka saya tetap tidak muncul secara langsung dan saya masih memiliki ruang untuk berpikir sebelum bereaksi.

  1. Mengikuti Selera Pasar.

Sebenarnya tidak hanya di era digital penulis mengikuti selera pasar, tetapi pada masa lalu penulis masih memiliki banyak ruang untuk bergerak mengikuti seleranya sendiri. Bahkan dari selera asli para penulis di masa lalu itu muncul trend-trend baru. Saat ini apa yang diinginkan pasar akan diburu mati-matian sehingga kebanyakan orang bergerak ke arah sana untuk menjadi yang diburu. Ini juga masalah buat saya karena saya paling tidak suka selera kebanyakan. Kalau semua orang sudah membuat satu resep biasanya saya melihatnya saja sudah kenyang dan ingin membuat hal lain. Tetapi kenyataannya sesuatu yang melawan selera pasar memang agak susah dijual. Masalah ini saya hadapi dengan mempelajari selera pasar dan mengaplikasikan apa yang saya sukai ke dalamnya. Mungkin masih bergerak ke arah pasar sedikit, tetapi elemen-elemennya masih sesuatu yang saya sukai. Misalnya cerita remaja tetapi dengan muatan masalah yang lebih berat bukan hanya percintaan.

  1. Melawan Instant

Era digital menyuguhkan segala sesuatu yang berbau instant. Menulis di platform digital sangat berbeda dengan menulis pada masa lalu. Menulis di platform digital kita bisa mencicil novel yang kita tulis lalu menguploadnya untuk dibaca banyak orang. Kelebihannya, penulis jadi tertantang untuk cepat menyelesaikan tulisan itu. Sementara kekurangannya penulis tidak memiliki banyak waktu untuk mengendapkan karyanya dan merenungkan karyanya sebelum benar-benar diunggah. Saya menyiasati ini dengan gaya lama yaitu menulis sampai selesai, melakukan pengendapan dan menguploadnya setelah benar-benar siap. Proses ini akan melawan hal-hal instant yang disuguhkan era digital.

  1. Media Yang Rumit & Generasi Yang Beda

Untuk penulis jadul seperti saya media digital kadang-kadang menyulitkan. Saya perlu menyesuaikan diri beberapa lama untuk mempelajari menu-menu yang ada disana. Entah menu upload, menu hapus, dan banyak lagi. Tentu tidak mudah bagi mereka yang gaptek untuk memasuki era ini karena jangankan terlibat didalamnya, masuk ke platformnya saja seringkali tidak paham. Tak hanya itu generasi pengguna platform ini jelas generasi baru yang sangat berbeda. Selera mereka seringkali membuat saya menghela napas karena saya tidak memahaminya. Tetapi saya mencoba untuk menyesuikan diri dengan generasi ini, tetapi menulis hal-hal yang saya sukai dan sesekali membumbuhi dengan hal-hal yang terjadi pada generasi mereka. Untuk platform kebetulan saya suka ngoprek jadi meski membutuhkan waktu untuk memasukinya masih tidak terlalu bermasalah.

  1. Royalti Sesuai Viewers

Sebenarnya ini mirip dengan royalty yang sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Hanya saja karena sesuai viewers maka selera pasar akan sangat mengendalikan penghasilan seorang penulis di era digital. Karya-karya dengan viewers banyak sudah pasti memiliki penghasilan lebih meskipun mungkin karya itu biasa-biasa saja. Sementara karya-karya yang sepi viewers tentu penghasilannya sedikit. Namun pada masa lalu, penulis buku masih mendapatkan DP dari bukunya dengan jumlah yang lumayan, apapun isi bukunya. Sementara pada masa digital semua hal diserahkan pada selera pasar.  Untuk masalah yang satu ini, ya.. bagaimana ya? Karena saya tidak mau menyerah begitu saja mengikuti selera pasar secara mentah-mentah, maka saya berusaha rajin mengiklankan link karya saya di platform digital ke social media.

Yeah, era digital bagi penulis jadul benar-benar melelahkan. Tetapi jangan menyerah wahai penulis jadul, mau tidak mau zaman memang pasti berubah dan kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri kecuali cepat mati tergilas. Tetap semangat berkarya untuk saya sendiri khususnya dan teman-teman penulis jadul yang masih berjuang menyesuaikan diri. Semangat!

RAMADHAN, KENANGAN, PANDEMI DAN ISOLASI

“Mengko bengi budhal ning mesjid sakdurunge isya’ yo….(nanti malam berangkat ke masjid sebelum isya’ ya…” suara teman masa kecil saya itu masih terdengar hingga saat ini. Waktu itu umur saya 8 tahun dan baru saja pindah dari kota kabupaten ke pegunungan, sebuah desa terpencil rumah nenek saya berada. Di desa yang belum ada listrik, belum ada aspal dan bertelanjang kaki saat ke sekolah itu, saya memang agak sulit menyesuaikan diri. Apalagi saya memang tipikal introvert. Tetapi teman-teman masa kecil saya bisa menerima saya dan membolehkan saya ikut main bersama. Main boneka, masak-masakan, gobak sodor, badminton dan ‘klacen’ (mandi) dan bermain di sungai waktu siang hari yang panas.  ‘Klacen’ ini yang biasanya menyulut amarah ibu sehingga saya dihukum. Saya dilarang mandi dan main di sungai karena takut mendadak banjir dan terbawa arus. Tetapi saya sering menyelinap pergi ke sungai saat Ibu tidur siang. Paling-paling waktu pulang sore harinya saya dijewer.

Ramadhan selalu menjadi moment istimewa di masa kecil saya. Bersama teman satu geng, kami mendirikan gubuk kecil di belakang rumah teman saya dan main masak-masakan. Tetapi kali ini main masak-masakannya dengan perlengkapan masak memasak sungguhan, beras sungguhan, daun singkong sungguhan, bubur kacang ijo sungguhan dan dimakannya juga sungguhan meski rasanya terkadang aneh tak terkira. Satu geng kecil itu semuanya puasa, meski ada juga yang hanya sampai beduk dhuhur seperti saya, tetapi setidaknya kami buka puasa bersama di gubuk dengan penerangan lampu minyak dan nyamuk yang luar biasa banyaknya ikut-ikutan buka puasa. Setelah buka puasa dengan menu super aneh itu, kami pulang menyiapkan diri untuk sholat tarawih. Begitu adzan isya’ kami bersama-sama ke masjid dengan penerangan daun kelapa kering yang diikat lalu dibakar ujungnya. Sampai masjid biasanya badan kami apek bau asap tetapi tidak mengurangi kegembiraan kami untuk terus cekikikan menggoda teman-teman yang sholat tarawih.

Usai tarawih, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Saya biasanya menunggu sisa bubur kacang ijo dan peyek yang dijual ibu sambil melihat keramaian orang-orang pulang tarawih. Ibu menjual bubur kacang ijo dan peyek setiap ramadhan agar bisa membelikan saya baju lebaran. Sebenarnya ibu memang selalu menyisakan untuk saya, tetapi biasanya saya menunggu ibu selesai berjualan untuk memakannya. Saya suka makan berdua dengan Ibu sebelum tidur.  Melihat ibu makan dalam diam, saya seperti ikut larut dalam pikiran-pikirannya. Kegemaran makan berdua ibu dan menyelami diamnya itu masih saya lakukan hingga saat ini.  Usai makan berdua, kami lalu tidur.  Baru tidur tiga jam, biasanya jalanan depan rumah kami ramai suara orang menabuh berbagai macam alat musik untuk membangunkan sahur. Sebenarnya kalau dipikir-pikir itu bukan membangunkan sahur tapi mengajak ribut tengah malam saking ramainya. Ada banyak group ronda dengan berbagai macam music yang dimainkan. Tapi saya suka sekali melihat pasukan ronda itu lewat. Saya selalu bangun jam 1 malam lalu mengintip pasukan ronda itu lewat jendela nako kamar saya hingga mereka lewat satu persatu dalam kegelapan. Seperti makhluk gaib, mereka berjalan seperti bayang-bayang dan hanya suaranya yang terdengar memekakkan telinga.

Ramadhan kali ini bagi saya juga sama spesialnya dengan ramadhan pada masa kecil saya. Jika orang lain merasa kesepian karena banyak hal-hal yang berbeda saat ramadhan ini, tetapi buat saya kebalikannya. Sudah bertahun-tahun saya menjalani ramadhan sendirian hanya bersama orang-orang di masjid dekat rumah saya, karena keluarga saya saat ramadhan selalu pulang kampung dan saya harus bekerja mengejar deadline tayangan ramadhan hingga menjelang Idul Fitri. Ujungnya saya tidak bisa merayakan ramadhan di kampung karena kehabisan tiket kereta atau pesawat. Jadi tahun-tahun sebelumnya saya lebih banyak menjalani puasa ramadhan sendirian dan Idul Fitri sendirian. Tetapi tahun ini berbeda. Karena tidak ada yang bisa pulang kampung saya jadi ada temannya. Salah satunya bisa mengulangi kegemaran saya makan berdua dengan ibu sambil menyelami pikiran-pikirannya saat beliau terdiam menikmati makanannya.

Hari ini adalah hari ke 17 kami menjalani ramadhan bersama. Juga sudah dua bulan dalam isolasi karena pandemic covid-19. Saya bertugas keluar rumah beberapa hari sekali untuk belanja ke tukang sayur dan minimarket dengan perlengkapan seolah mau perang setiap keluar rumah. Masker, cairan pencuci tangan, kacamata dan perasaan was-was setiap bertemu manusia lain.  Pulang dari belanjapun tidak main-main hebohnya. Saya selalu mencuci tangan dan kaki di depan rumah lalu masuk kamar mandi mengganti pakaian sekalian mandi, mencuci semua barang belanjaan, menyemprot kendaraan dengan desinfektan dan mengelap uang kembalian serta semua kartu yang ada di dompet dengan alcohol. Tinggal di daerah zona merah membuat kami selalu waspada dengan musuh yang tak terlihat itu. Ibu sudah berusia lanjut dan saya punya penyakit bawaaan, jadi kami harus lebih bersiaga. Tetapi alhamdulillah, sampai hari ini kondisi kami baik-baik saja. Memang sudah mulai didera sedikit stress dan stuck karena di rumah saja, tetapi setiap perasaan stress itu datang saya berusaha mengingat orang-orang yang tidak lebih beruntung dari saya sehingga bisa banyak dirumah saja.

Di luar sana banyak orang yang tetap harus bekerja karena mereka pekerja harian, lebih banyak lagi yang di PHK dan tidak bisa makan, dan cerita menyedihkan lainnya. Saya sendiri sudah tidak bekerja sejak pandemic karena semua syuting dihentikan. Saya masih menulis karena memang menulis sudah menjadi bagian hidup saya, tetapi proyek-proyek scenario yang mendatangkan penghasilan semua sudah dihentikan. Saya melihat di timeline social media, penerbit-penerbit juga mengurangi jumlah penerbitan buku mereka bahkan sebagian penulis mengeluhkan royaltinya. Saat-saat ini banyak sekali teman-teman yang kehilangan pekerjaannya. Tetapi dalam kondisi buruk ini, banyak juga hal baik yang tumbuh. Saya melihat solidaritas menyebar dimana-mana, orang-orang saling membantu satu sama lain, mengirim makanan satu sama lain dan peduli dengan penderitaan orang lain. Selalu ada hal baik dalam setiap kejadian. Saya percaya itu.

Saya menemukan satu tulisan bagus di media social yang judulnya “We are not in the same boat,” tentang renungan pandemic ini. Sang penulis yang tidak disebutkan namanya menuliskan tentang perjalanan banyak orang mengarungi badai pandemic. Semua orang mengarungi badai dengan caranya dan penderitaannya masing-masing tetapi tidak dalam satu perahu yang sama.  Ada yang memiliki keberuntungan bisa bekerja dari rumah, tetap digaji dan pandemic ini justru menjadi waktu yang berharga untuk berkumpul dengan keluarganya karena sebelumnya pekerjaan mereka sangat menyita waktu. Ada yang harus bertarung diluar rumah karena pekerja harian untuk menghidupi keluarganya. Ada yang tenggelam dalam kesepian yang menyakitkan karena dia hidup sendirian. Ada yang baru mengenali kebiasaan anak-anaknya karena selama ini hanya diurus oleh orang lain. Dan ada yang kehilangan keluarganya karena pandemic. Banyak hal terjadi pada orang-orang di sekeliling kita bahkan mungkin tanpa bisa kita lihat secara nyata. Bagi saya sendiri, saya menemukan banyak hal dalam diri saya pada masa pandemic ini. Saya menemukan kekuatan diri bertahan dari banyak depresi, saya lebih bisa menghargai waktu saya dengan keluarga saya dan saya mengambil kendali hidup saya sendiri setelah banyak dikendalikan orang lain secara emosional.

Apakah kita semua akan keluar sebagai pemenang setelah pandemic ini selesai? Semoga. Ramadhan dan pandemic ini membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. **

SOLO TRAVELING MENUJU SUNYI

Pertengahan Maret ini seharusnya saya backpacking ke China tepatnya kota Changsa, Zhangjiajie. Sudah lama saya ingin menjelajah Zhangjiajie, tempat di mana hutan Avatar berada. Hutan yang menjadi lokasi syuting film Avatar (atau setidaknya jika syutingnya tidak di sana) hutan itu menjadi inspirasi setting film animasi keren itu. Saya sudah membayangkan betapa serunya menaklukkan ketakutan saya sendiri menjelajah ketinggian. Karena saya phobia ketinggian dan semua tempat yang akan saya kunjungi berada di ketinggian. Mulai dari Avatar mountain, glass bridge, lorong yang menembus gunung, hingga naik cable car yang jaraknya sangat Panjang.  Saat survey lokasi saja aslinya saya sudah mumet membayangkannya. Tetapi kapan lagi saya bisa menghadapi ketakutan say ajika tidak sekarang? Maka rencana perjalanan matang sudah saya siapkan. Mulai dari memesan hotel, bus, kereta hingga guide. Kali ini saya ingin memakai guide karena tidak sanggup nyasar-nyasar di hutan sendirian.

Lalu berita itu datang bulan Januari. Wabah corona di Wuhan. Saya sempat diskusi dengan teman dekat saya orang Belanda tentang perjalanan saya ini.  Teman dekat saya bilang sebaiknya saya mempertimbangkan beberapa hal. Pertama kesehatan saya yang akhir-akhir ini tidak stabil. Kedua lokasi wabah mungkin jauh dari tempat yang saya tuju. Dan ketiga melakukan pencegahan jika memang berangkat, mulai dari bersiap obat, menjaga kebersihan dan lain-lainnya. Saat ini saya masih percaya bisa berangkat karena Changsa berada lumayan jauh dari Wuhan, sementara Zhangjiajie lebih jauh lagi.  Maka saya bersiap-siap apa saja yang akan saya butuhkan selama backpacking. Hingga akhir Januari ternyata wabah di Wuhan meledak kemudian bandara melakukan screening ketat bahkan menutup perjalanan dari dan ke China. Sayapun memutuskan untuk membatalkan perjalanan ini. Menyusul kemudian pihak penerbangan mengembalikan uang tiket dan menutup semua penerbangan ke sana hingga waktu yang tak bisa ditentukan. Perjalanan inipun kemudian batal.

Dalam waktu yang cepat virus corona menyebar ke seluruh dunia, sehingga akses ke banyak negara ditutup dan para traveler memutuskan pulang ke rumah (saya membaca dari group-group perjalanan betapa chaosnya kondisi mereka yang pesawatnya dicancel, terjebak di karantina atau negara yang dikunjunginya mendadak lockdown). Kebanyakan traveler yang masih memungkinkan pulang ke rumah kemudian memutuskan pulang. Berdiam di rumah karena itu akan menjadi bentuk solidaritas kita untuk tidak menjadi perantara virus itu menyebar ke orang lain. Bahkan kemudian, sebagai pejalan kita akan menemukan dunia yang berbeda pada masa virus ini menyebar. Kita yang biasanya kemana-mana melihat dunia baru, bertemu dengan orang-orang baru, berkumpul di tempat-tempat tertentu untuk berbagi pengalaman perjalanan, kemudian harus pulang ke kesunyian. Tidak bisa bepergian, harus menjaga jarak dengan orang lain bahkan kemungkinan hanya bisa memandangi foto-foto perjalanan kita melalui laptop sambil duduk di pembaringan kamar kita.

“Kalau badai virus ini berlalu, gue mau traveling lagi!” kata seorang pejalan di salah satu komentar media social dengan nada prustasi. Bagi sebagian pejalan, lockdown dan karantina mandiri di seluruh dunia memang menciptakan kegelisahan tersendiri. Bosan dan emosi. Tetapi pernahkah kita menyadari bahwa semua perjalanan yang kita lakukan keliling dunia manapun pada akhirnya nanti kita akan kembali ke sunyi? Kita tidak akan pernah tahu, apakah bisa lolos dari badai ini lalu melakukan traveling lagi, tetapi yang pasti kita tahu, saat ini kita sedang melakukan perjalanan pulang ke kesunyian itu. Mungkin kita akan berhenti sejenak sebelum sampai, mampir-mampir dulu di Eropa, Afrika atau benua lainnya, tetapi toh kita akan melanjutkan perjalanan kita ke tempat sunyi itu. Sendirian. Ya, sendirian. Tanpa siapapun. Solo traveling.

Jika badai virus ini berlalu dan saya selamat, saya justru belum tahu apa yang hendak saya lakukan. Karena kejadian demi kejadian akhir-akhir ini begitu menampar saya. Kadang kita membenci orang-orang yang hidup soliter dan kita bangga berada dalam kerumunan-kerumunan tertentu, tetapi Allah justru saat ini menginginkan kita berada dalam sunyi, sendirian dan merenungi apa yang telah kita lakukan pada semesta juga orang-orang di sekeliling kita. Allah seperti ingin kita kembali sendiri. Hanya bersama-Nya merenungi untuk apa sebenarnya kehidupan yang diberikan pada kita ini.

Pada kenyataannya semua manusia memang sendirian. Solo traveling. Jika ada manusia-manusia yang ditakdirkan bersama kita, itu hanya karena garis perjalanan mereka dekat dengan jalan yang kita lalui. Pada akhirnya kita akan berbelok ke arah lain, ke jalan kita sendiri lalu pulang ke sunyi. Hanya bersama Allah. Mau kemana setelah badai ini lewat? Kita semua tujuannya satu, solo traveling ke tempat yang sunyi. Menghadap Allah cepat atau lambat.

 

FREELANCER ITU NGGAK SEPENUHNYA FREE! YAKIN PENGEN JADI FREELANCER?

Banyak teman-teman saya yang iri  melihat saya liburan saat mereka sibuk ‘ngantor’ di hari Senin. “Enak banget sih lo Ri, liburan mulu. Gue pengen kayak lo,” gitu kata mereka. Trus kalo saya lagi rese nyahutin, “kalo lo pengen kayak gue, resign aja dari kantor lo.” Tapi saya jarang sih rese hahaha, saya lebih suka nyahutin, “sama aja aslinya, kalo lo liburan, gue sibuk di depan laptop ngejar deadline.”

Sejak 2011, saya memutuskan bekerja sebagai ‘freelance writer’ setelah hampir 4 tahun bekerja full time di salah satu televisi swasta. Pekerjaan saya sebagai freelance saat ini sebenarnya nggak jauh beda dari pekerjaan saya saat full time di televisi. Masih berkutat di naskah skenario televisi. Bedanya saat di televisi saya sebagai pemeriksa naskah para penulis sekaligus memastikan naskah itu sejalan dengan visi dan misi program, sementara saat freelancer saya sebagai penulis naskah yang diperiksa oleh orang lain. Apakah pekerjaan saya sebagai freelancer jadi turun pangkat? Dari memeriksa jadi diperiksa? Itu tergantung sudut pandangnya.  Saya memang cinta menulis sejak remaja, jadi lebih suka menulis ketimbang memeriksa. Tetapi karena saya butuh banyak ilmu broadcasting sementara saya tidak punya background pendidikan broadcasting maka bekerja di televisi bagi saya adalah pembelajaran.  Maka ketika saya merasa telah cukup saya kembali lagi ke dunia menulis saya.

Menjadi freelancer kenyataannya tidak benar-benar ‘free’. Dimanapun bekerja pasti berkaitan dengan target, deadline dan profesionalisme. Itu nggak hanya ketika bekerja di kantor, saat bekerja sebagai freelancer malah dituntut lebih. Karena bekerja sebagai freelancer kita akan mudah ‘dibuang’ saat orang yang mempekerjakan kita melihat kekurangan kita misalnya ; tidak tepat deadline, tidak ontime dan memiliki attitude yang buruk. Dunia freelancer penulisan naskah televisi sangat sempit, orangnya hanya itu-itu saja, maka saat keburukan kita muncul akan menyebar dan berputar. Mereka akan enggan memakai kita dari berita buruk yang tersebar tentang hal-hal negatif kita saat bekerja. Karena itulah, bekerja sebagai freelancer justru harus memiliki performa yang bagus baik dalam managemen waktu, kemampuan maupun sikap.

Terus kenapa orang kantoran selalu memandang freelancer itu enak? Mungkin karena saat orang kantoran bekerja maka sang freelancer justru liburan di pulau. Leyeh-leyeh seolah nggak kerja tapi punya uang untuk liburan. Kenyataannya yang terjadi adalah, saat orang kantoran liburan maka sebagian besar freelancer justru bekerja mengejar setoran. Bisa jadi lho malah 24 jam pekerjaannya karena revisi yang tiada henti atau mengejar target tayangan misalnya. Sementara pekerja kantoran bisa 9 to 5 tetapi freelancer saat bekerja bisa sewaktu waktu dibutuhkan. Oh, ini saya ngomongin pekerjaan freelancer yang saya jalani yaitu penulis skenario televisi. Mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain sebagai freelancer di bidang lain.

Kalau kenyataannya sama saja dengan pekerja kantoran kenapa memilih bekerja sebagai freelancer dengan penghasilan yang tidak aman? Well, buat saya yang suka bebas, bekerja freelance memberi saya sedikit kebebasan untuk memilih pekerjaan yang saya suka tanpa terikat kontrak yang panjang seperti di kantor. Bekerja freelance hanya terikat project per project. Saya nggak akan pusing memikirkan kontrak jangka panjang yang mungkin saja menyesakkan. Saya bisa saya menyelesaikan satu project kemudian tidak mengambil kontrak selanjutnya karena saya kurang sreg, begitu misalnya. Jadi saya masih jadi pengendali keputusan atas project-project yang saya sukai atau tidak. Tidak seperti di kantor mau nggak mau saya harus mengerjakan apapun karena itu tugas saya untuk mendapatkan upah setiap bulannya.

Bagaimana bisa hidup dengan penghasilan yang tidak pasti? Oke, sudah banyak diketahui pekerjaan sebagai freelance ‘writer’ sangat tidak aman. Tetapi sebenarnya tidak sebegitu menakutkan ketika kita bekerja sebagai penulis naskah skenario. Saya tidak suka menyebutkan jumlahnya, yang jelas cukup untuk memehuni kehidupan saya sebagai single.  Tetapi bukan soal penghasilan sih yang memutuskan saya menjadi freelancer atau tidak. Sebenarnya ada satu hal yang saya suka ketika bekerja sebagai freelancer. Yaitu saya merasa lebih dekat dengan Tuhan karena setiap mendapatkan pekerjaan pada saat-saat sulit saya merasa Tuhan mengulurkan tangan untuk saya. Dan saya suka perasaan dekat dengan Tuhan itu.

Then…. kalau kamu freelancer, kamu akan sering mengalami ini. “Kerja di mana Kak?” Lalu kamu menjawab, “saya kerja freelance.” Terus yang nanya bengong nggak paham. Itu sering banget kejadian menyangkut status pekerjaan sebagai freelancer. Awal-awal saya keluar kantor, saya selalu agak malu jika bertemu tetangga dan mereka nanya “nggak ngantor lagi? Pengangguran?” Well, kita akan terlihat seperti pengangguran karena bekerja di rumah. Bahkan pengantar paket kita sendiri terkadang tidak percaya bahwa yang menerima paket itu kita sendiri karena berdandan dengan daster atau piyama sambil kerja dan lari ke depan menerima paket. Jadilah kita dikira ART di rumah kita sendiri.  Tetapi rasa malu saya lama-lama hilang dan berganti cuek. Ngapain saya peduli, saya nggak merepotkan mereka. Hanya mereka saja yang nggak tahu bahwa bekerja tidaklah harus di kantor.

Baiklah, saya sudah melewati dua status pekerjaan itu. 8 tahun bekerja kantoran dan 9 tahun bekerja freelance.  Sepertinya saya tetap akan memilih bekerja freelance meski resikonya lebih besar secara penghasilan dibanding bekerja kantoran. Karena saya lebih bisa memilih mana yang saya sukai atau tidak dalam mengerjakan sesuatu. Dan tentu saja bisa memilih waktu libur yang saya mau (meski kadang ini nggak semudah dikatakan juga).  Buat temen-temen yang pengen resign dan bekerja freelance sebaiknya dipikir kembali. Karena sebenarnya dimanapun selalu ada resiko dan tantangannya masing-masing. Terlihat enak karena kita hanya melihat hal-hal yang enak. Bisa jadi hal-hal sulit belum kita lihat di permukaan. Well, it’s up to you!

TAK SEMUA ORANG KAYA MENYEBALKAN

Tiga bulan terakhir saya sibuk mengerjakan buku kenangan sebuah organisasi yang bentuknya seperti ensiklopedia tokoh yang menceritakan perjalanan hidup 32 orang di dalamnya. Meskipun ini hal baru dalam dunia kepenulisan yang saya jalani nyaris 15 tahun, tetapi menurut saya sangat menarik. Pertama karena saya sedang kurang nyaman menulis untuk industri dengan deadline yang sangat ketat sementara hypertensi mengincar saya sewaktu-waktu. Kedua, saya memang suka belajar hal baru apapun itu terlebih dalam dunia kepenulisan. Saya sudah lama selalu tertantang untuk belajar berbagai model kepenulisan mulai dari fiksi, artikel, opini, skenario, drama panggung dan yang terbaru penulisan biografi.

Sejak dulu, saya selalu belajar sambil langsung bekerja mulai dari menulis cerpen, novel, artikel hingga skenario. Dan begitu juga kali ini.  Saya membaca buku apa saja, tak terkecuali biografi. Dan bekal bacaan saya serta sedikit teori inilah yang menjadi pegangan saya memulai bekerja. Maka sudah pasti pertama yang saya lakukan adalah mencari narasumber untuk diwawancarai. Dari ensiklopedia 32 orang itu saya menemukan banyak hal menarik dari pribadi-pribadi mereka yang kemudian sangat menginspirai saya sendiri. Misalnya bagaimana mereka tetap menjalani hidup aktif tanpa malas-malasan dan penuh semangat di usia 60 tahunan ke atas. Bagaimana mereka tetap berkarya dan berguna untuk orang lain meskipun sudah usia senja.

Tetapi tokoh yang paling berkesan bagi saya adalah satu sosok yang menurut saya sangat inspiratif. Ia adalah seorang wanita hebat. Pengabdiannya untuk wanita di sekelilingnya perlu diacungkan jempol. Bagaimana tidak? Panggilan hidupnya adalah untuk memajukan wanita di sekelingnya menjadi wanita yang cerdas, mandiri dan setara dengan laki-laki dalam berdiskusi. Wanita menurut tokoh satu ini harus berani mempromosikan dirinya, keluar dari kungkungan budaya patriarki sehingga ia tidak hanya menjadi obyek dalam banyak tempat. Wanita harus menjadi subyek yang dominan dalam segala aspek kehidupan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Lelaki memang imamnya, tetapi wanita harus bisa menjadi mitra diskusi yang setara bagi laki-laki.  Sampai di sini saya mengagumi pemikiran-pemikiran sekaligus kegiatan-kegiatan kongkrit yang beliau lakukan untuk mewujudkan cita-citanya membebaskan wanita dari jurang kebodohan ini.

Bukan hanya itu, banyak hal yang saya kagumi dari tokoh satu ini. Beliau tentu saja bukan orang biasa baik secara materi, jabatan maupun asal usulnya. Tetapi beliau bisa berbaur dengan penulisnya yang “apa adanya”, bahkan bisa mencomot makanan yang sama di satu piring. Hal lain yang saya kagumi adalah cara dia menghargai waktu. Dia orang yang sangat ontime meski usianya sudah lewat 60 tahun dan kadang justru datang lebih awal, padahal seringkali saya yeng membutuhkan beliau bukan beliau yang membutuhkan saya. Caranya menjawab wawancara juga sangat menyenangkan, beliau ngajak ngobrol bahkan curhat, sama sekali tak nampak bahwa beliau salah satu tokoh yang luar biasa. Atau mungkin orang yang sudah sampai pada level tertentu memang begitu? Lebih bisa menempatkan dirinya sendiri ketika bertemu siapa saja.

Sebagai seorang pemimpin beliau bukan tipe one man show, jadi apapun potensi yang ada dalam teamnya beliau kembangkan sehingga orang-orang yang ada dalam teamnya maju dan berkembang. Sayapun ketika pertama bertemu dan terlihat diam, beliau langsung memahami pribadi saya dan berusaha memancing saya agar saya bisa menunjukkan kemampuan saya. Sungguh ini pengalaman yang berharga buat saya, bukan hanya soal bagaimana beliau memperlakukan saya, tapi bagaimana kemudian saya harus memperlakukan orang lain di kemudian hari.  Menulis selalu menjadi pekerjaan yang saya cintai apapun rintangannya, dan hal-hal baru yang bisa dipelajari akan terus saya kembangkan demi cinta itu. Terima kasih Ibu inspirasinya!

Kenapa Saya Ingin Pergi ke Rusia?

Suatu sore sekitar tahun 1994 saat saya tenggelam membaca majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, yang populer pada masa itu di Jawa Timur, Bapak datang membawa sebuah buku dan menyodorkan ke saya. Buku asing itu saya pandangi dengan tidak tertarik. Buku apa sih ini? Mungkin buku pewayangan, begitu pikir saya karena Bapak saya seorang dalang dan hobbynya memaksa saya membaca kisah-kisah pewayangan.

“Ini buku kumpulan cerita pendek karya Anton Chekhov, sastrawan Rusia. Kamu harus membacanya kalau ingin jadi penulis,” kata Bapak. Lalu saya menjadi tertarik karena buku itu bukan buku pewayangan. Kata Bapak, Anton Chekhov seorang penulis besar Rusia yang terkenal karya cerpen-cerpen dan dramanya. Inilah awal ketertarikan saya dengan Rusia.

Tak hanya mengenalkan Rusia melalui karya Anton Chekchov, Bapak juga menceritakan hubungan kenegaraan antara Indonesia-Rusia pada masa Presiden Soekarno yang hangat tetapi berubah dingin sejak Presiden Soeharto memangku jabatan. Bapak saya seorang pemuja Soekarno tulen dan mengagumi Rusia. Saya melihat mata Bapak selalu berbinar saat bicara tentang Soekarno ataupun Rusia. Binar yang menulari saya menjadi ingin tahu apa dan bagaimana Rusia.

Tetapi mengenali negara dengan wilayah hampir 1/8 bumi dan terluas di dunia ini terasa sulit. Wajah Rusia melalui banyak media terlihat berbeda. Saat menonton film-film Hollywood wajah Rusia begitu mengerikan sementara saya tidak bisa menonton film-film asli buatan Rusia. Saat membaca karya-karya Chechov saya mengenali perilaku batin manusia Rusia yang unik. Sampai kemudian, Bapak membawakan saya buku lainnya yang berjudul ‘Mati Ketawa Ala Rusia’. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Gus Dur. Buku ini berisi lelucon ala Rusia mulai dari tema politis sampai rumah tangga. Lelucon-lelucon satire tentang kondisi Uni Soviet pada masa itu membuat saya terpingkal-pingkal. Ya Tuhan, Rusia sungguh lucu. Tetapi bagaimana mereka bisa kelihatan begitu misterius dan mengerikan?

Pandangan tentang Rusia yang saling bertolak belakang ini justru membuat saya sangat tertarik tentang Rusia. Bukankah hal-hal yang misterius menggugah adrenalin kita untuk mengetahui lebih banyak? Dan, begitulah saya. Saya tidak  bisa dihadapkan pada hal yang samar-samar dan hanya ‘kata media, kata orang’, saya ingin membuktikannya sendiri seperti apa Rusia itu suatu hari nanti. Itu tekad saya!

Lalu, bertahun-tahun kemudian saat tulisan saya berupa artikel perjalanan dan cerita pendek mulai dimuat media lokal maupun nasional, Uni Soviet-pun telah bubar dan Bapak juga sudah berpulang, saya masih terus mencari informasi tentang Rusia. Internet memuaskan keingintahuan saya tentang Rusia. Negara kaya budaya dengan bangunan-bangunan bersejarah yang luar biasa. Moskow, Saint Petersburg, Kazan, Sochi, Kaliningrad, Velikiy Nodgorod, Vladimir dan banyak lagi tempat menarik di sana yang layak dijelajahi dan dituliskan menjadi pengalaman saya melihat lebih luas. Pengalaman yang ingin saya persembahkan untuk Bapak saya yang telah tiada. Saya akan bilang padanya, “Bapak, saya mewujudkan mimpimu melihat Rusia yang sebenarnya. Dan Bapak benar, Rusia itu mengagumkan.”

Munjungan, Kenangan dan Harapan

“Kapan awakmu anjok? (kapan kamu turun gunung)?”

Itu pertanyaan teman-teman saya yang tinggal di Trenggalek kota, saat ingin bertemu sementara saya berada di Munjungan. (note : buat yang nggak tahu, Munjungan itu berada di kawasan pegunungan Trenggalek Jawa Timur, pinggir pantai selatan, sementara teman-teman saya tinggal di dataran Trenggalek kota kabupaten).  Dulu setiap mendengar pertanyaan itu saya jadi minder, Ya Tuhan betapa anggunnya saya (anak nggunung maksudnya) dibanding mereka yang tinggal di dataran kota Trenggalek, saya merasa seperti manusia purba yang masih memakai baju dari dedaunan dan menggunakan transportasi sulur-sulur pohon besar ala Tarzan untuk sampai ke seberang.

Sayangnya, meski kampung tempat saya dibesarkan ini sekarang telah menjelma kota, teman-teman saya masih takut “munggah” (naik) ke Munjungan. Mungkin mereka masih berpikir jalan yang meliuk-liuk di sela pegunungan itu akan melahapnya, mabuk perjalanan atau diculik Tarzan? Duh, kalian belum merasakan betapa asyiknya naik mobil pick up terbuka, duduk di belakang, menembus kabut pegunungan yang tinggi, melihat jurang-jurang terjal dengan pemandangan gunung yang dramatis, sungai penuh bebatuan di bawah sana dan menghirup udara segar di sela pohon-pohon yang menjulang. Atau berhenti di puncak tertinggi untuk melihat laut yang membiru di kejauhan sambil menghirup kopi panas dan menikmati semangkuk bakso.  Bahkan sebulan lalu, saya memilih naik mobil bak terbuka duduk di belakang pada malam hari sekitar jam 8-9 malam menembus hutan berkabut dan gerimis. Saya merasa seperti bertualang di Jurasic Park meskipun bak belakang mobil pick up yang saya duduki bekas kambing tapi saya bahagia. Saya jarang memilih naik mobil tertutup (kecuali hujan atau diomelin Ibu) saat pulang karena merasa akan kehilangan sensasi petualangan menembus hutan.

For your information…, Munjungan memiliki banyak tempat wisata yang mungkin tidak ada di dataran kota Trenggalek. “Ya iyalah, karena gunung dan dataran tentu saja berbeda Ri.” (mohon baca dulu, sebelum nyampluk saya, hahaha) Oke, deal! Mari kita lanjutkan sambil nangkis samplukan. Jika kalian ingin santai-santai di tepi pantai sambil nongkrong ngopi sore sampai malam, kami punya pantai Blado yang paling mudah untuk dikunjungi. Jika kalian ingin menikmati pantai berbatu yang romantis dengan pasir ‘agak putih’ lembut dengan background perahu-perahu nelayan, kalian bisa ke pantai Ngampiran. Jika kalian suka air terjun, kami punya coban Wonoasri yang mudah dijangkau dengan naik motor lalu nyambung hiking 15 menit. Jika kalian suka pemandangan hutan yang instagramable, kalian bisa coba Hutan Plumpit. Masih ada pantai Raja’an, Ngadipuro, Slah dan Dadapan yang tak kalah indah.

Kalau makanan bagaimana?  Sebagai daerah pesisir, jika suka kalian bisa memuaskan diri makan seafood. Ikan, udang, cumi, rumput laut dengan berbagai cara masaknya yang menggiurkan. Kalau kalian mau bisa menunggu jaring nelayan naik ke daratan dan membeli satu plastik ikan laut segar dengan harga lebih murah ketimbang esok harinya di pasar.  Atau cicipi jajanan pasar jadul yang enak dan murah seperti getuk, cenil, pecel, punten, tiwul, jadah dan banyak lagi. Tapi kalau kalian suka makanan masa kini, jangan salah! Di sini juga ada fried chicken, sate, tahu bulet, martabak, kue pukis, bakso, nasi goreng dan lain-lainnya. Kalau mau gratis, kalian bisa makan di rumah saya, hanya jika saya dan ibu saya sedang di sana, karena kalau tidak, rumah saya kosong. Oke, apakah sudah membuktikan bahwa kami tidak hanya makan daun-daunan mentah dan berburu binatang ala Tarzan? Kalau belum saya lanjutkan!

Sekarang soal nguri-nguri tradisi, melestarikannya agar tidak punah. Kalau kata eyang Mahatma Gandhi “sebuah budaya bangsa tinggal di hati dan di dalam jiwa rakyatnya.” Ada beberapa tradisi yang masih dilestarikan seperti longkangan dan syawalan. Beberapa tahun terakhir,  desa saya Karangturi-Munjungan merayakan tradisi Syawalan. Saya sengaja memperpanjang libur lebaran saya, agar bisa melihat Syawalan ini.  Seingat saya sejak kecil jika ingin melihat tradisi Syawalan harus ke daerah lain yang merayakannya. Namun kini, Kepala desa kami yang muda dan progresif tampak berusaha melestarikan tradisi ini setiap tahunnya dan melakukan banyak kemajuan di berbagai bidang sehingga desa kami lebih berdaya. Tidak hanya kirab gunungan ketupat, namun juga dilengkapi dengan tarian jaranan, drum band, pasar malam dan panggung hiburan. So, kalau kalian masih berkeinginan “munggah” (naik) ke Munjungan, banyak hal menarik bisa kalian gali, jangan kuatir orangnya juga cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Yakali saya mau bilang jelek, sementara saya juga orang sini. Hahaha.

 

Belasan tahun sudah saya “anjok kebablasan” dari Munjungan dan hidup lama di perantauan bahkan mungkin tak akan pernah kembali menetap di tanah kenangan ini. Saya tidak lahir di tanah kenangan ini, tapi saya datang bersama ibu saat usia saya 4 tahun. Ketika itu jalanan menembus hutan masih bebatuan dan alat transportasinya hanya jeep tua. Lalu saya meninggalkan tanah kenangan ini saat jalanan sudah beraspal, namun sawah-sawah belum banyak yang punah. Saya tidak mempunyai sumbangsih apa-apa untuk tanah tempat saya dibesarkan ini, bahkan mungkin saya memiliki banyak hutang budi. Karena di tanah kenangan ini saya dipaksa menerima hal-hal baru dalam usia 4 tahun, saya banyak belajar menjadi manusia, banyak berpikir tentang tujuan hidup, banyak protes sebagai perempuan yang dibesarkan dalam tradisi Jawa dan banyak mendapatkan inspirasi untuk dituliskan. Saya berharap, semakin maju tanah ini, semakin maju pula masyarakatnya.  Semoga.

Dan, saya berharap teman-teman saya di dataran Trenggalek kota yang selalu nanya, “kapan awakmu anjok?” akan mulai mau “munggah” untuk menikmati keindahannya. Saya percaya, kalian tidak akan kecewa! Saya jamin!

*Credit Picture : Doc. Pribadi dan Wanda