KELUYURAN KE TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK

Suka jalan-jalan ke hutan? Kalau kalian tinggal di sekitaran Jabodetabek, Taman Nasional Gunung Halimun Salak ini bisa jadi pilihan. Nggak jauh kok dan banyak hal menarik di dalamnya. Saya hanya mengunjungi sedikit sekali karena hanya sampai perkemahan Sukamantri, itupun sudah menemukan banyak hal menarik. Saya nggak akan cerita panjang lebar karena petunjuk dan banyak hal tentang Gunung Halimun Salak bisa teman-teman temukan dengan mudah di internet. Ini saya hanya ingin berbagi foto-fotonya saja. Selamat menikmati…

 

 

 

 

 

LEUWEUNG GELEDEGAN ECOLODGE BOGOR : GLAMPING & STAYCATION AMAN SAAT PANDEMI

Bosan 9 bulan isolasi karena pandemi? Jika anda tinggal di sekitaran Jabodetabek, banyak tempat untuk staycation yang aman untuk meredakan stress akibat pandemi. Karena saya memiliki beberapa penyakit bawaan, maka saya memilih perjalanan maksimal dua jam menggunakan mobil pribadi sehingga tidak terlalu lelah. Setelah browsing di internet, pilihan saya jatuh pada glamping & staycation di Leuweung Geledegan Ecolodge Bogor. Sepertinya menarik jika melihat Instagram dan websitenya, semoga saja begitu kenyataannya. Saya memesan melalui aplikasi perjalanan, meskipun sebenarnya lebih menguntungkan jika anda memesan melalui website mereka karena lebih murah sedikit dan included barbeque khusus weekend. Sementara jika memesan melalui aplikasi perjalanan, tidak included barbeque.

Mencari lokasi Leuweung Geledegan Ecolodge sangat mudah. Sebelum pintu keluar tol Jagorawi, ada petunjuk besar arah ke lokasi tersebut. Dari pintu keluar tol kita belok ke arah kanan, lalu setelah turunan Tugu Kujang dan menemukan BTM kita ambil jalan lurus hingga bertemu dengan pertigaan Pancasan belok ke kiri.  Nanti kita akan menemukan beberapa petunjuk ke arah lokasi. Setelah jalanan menanjak lalu belok ke arah kanan ke jalanan berbatu, kita akan menemukan lokasi luas dan asri dengan tulisan Leuweung Geledegan Ecolodge. Dari situ mobil bisa langsung memasuki parkiran yang luas dengan petugas yang ramah dan siap membantu parkir.

Dari pintu parkiran, tamu langsung bisa masuk ke arah gedung resepsionis yang tepat berada di depan air mancur yang tertata dengan cantik. Bangunan resepsionis ini juga menarik, tampak menjulang dan memiliki banyak tempat duduk untuk menunggu. Hanya satu sih nggak enaknya, meja resepsionis berbentuk miring sehingga susah untuk dipakai menulis, padahal kita pasti butuh menulis sesuatu di sana misalnya menandatangani formulir check in. Setelah mendapatkan kunci, kita akan mencari lokasi kamar kita sendiri tanpa diantar petugas. Ini nggak masalah buat saya karena konsepnya memang glamping bukan hotel.

Memasuki areal glamping, saya langsung bertemu kolam renang untuk dewasa dan anak-anak, dengan pemandangan background gunung Salak. Sementera di sisi kanan restaurant. Di lokasi ini juga sering digunakan untuk kondangan. Karena sedang pandemi, tamu yang datang dalam kondangan itu hanya sedikit dengan protokol kesehatan yang ketat. Oh ya, memasuki area Leuweung Geledegan Ecolodge ini wajib masker dan disediakan pencuci tangan di pintu masuk. Bahkan sebelum masuk parkiran semua yang ada dalam mobil dicek suhu tubuhnya.  Dilakukan penyemprotan desinfektan juga di kamar jadi penjagaan selama pandemi cukup aman.

Saya mendapatkan kamar Pinus 04 dengan kapasitas 5 orang yang posisinya ketika membuka pintu menghadap gunung Salak. Ada beberapa jenis kamar mulai dari untuk 6 orang, 5 orang dan 2 orang. Harga kamar bisa anda cek di website mereka. Fasilitas kamar hanya sabun mandi, handuk dan air mineral, jadi harus bersiap sendiri membawa sandal dan teko air panas. Meskipun kita bisa mengambil air panas di restoran. Keseluruhan areal Leuweung ini tidak terlalu luas dengan kontur yang berbukit-bukit. Tidak banyak hal bisa saya lakukan di lokasi glamping ini karena setelah satu kali putaran semua lokasi sudah saya kunjungi. Hanya ada kolam renang, restoran, sungai kecil untuk berperahu yang lintasannya hanya pendek saja dan jalur sepeda yang sepertinya agak sulit bersepeda di lokasi sempit itu. Tetapi penataan tenda tempat menginap dan taman-taman di sekelilingnya sangat cantik. Berbagai macam bunga mekar dan tumbuh dengan subur. Pemandangan akan semakin cantik saat hujan turun dengan langit yang berkabut sehingga kita bisa duduk-duduk di depan tenda sambil ngopi dan menikmati hujan.

 

Makan sarapan disediakan secara gratis dan enak dengan jumlah berlimpah. Saya datang sarapan jam 9 dan masih tersedia cukup banyak. Protokol kesehatan di areal sarapan ini juga sangat ketat. Semua wajib mengenakan masker dan cuci tangan sebelum masuk ke dalam restoran. Sementara pada waktu makan yang lain kita harus membeli di restoran karena tidak boleh membawa makanan dari luar. Namun ini masalahnya, makanan di restoran tidak tersedia cukup variasi atau mungkin saya makan sudah lewat jam makan dan kehabisan. Tersedia paket suki dan barbeque, namun jika anda tidak membeli kamar melalui website maka harus membeli terpisah untuk barbeque. Pemesanan suki dan barbeque harus semalam sebelumnya agar kebagian karena mereka hanya membuat menu itu secara terbatas. Saya mencoba suki dan rekomended karena sangat enak. Apalagi anda makan suki di tempat dingin dengan hujan yang turun deras. Itu luar biasa.

Jika anda gampang bosan seperti saya, menginap dua hari di sini pasti bingung mau ngapain. Anda bisa jalan sekitar lokasi glamping misalnya ke perkemahan Sukamantri, melihat sapi-sapi di depan lokasi glamping atau ke Setu Tamansari. Saya melakukan itu untuk mengisi kebosanan. Pada malam harinya anda bisa menikmati film di lokasi pemutaran film yang ada di area glamping atau menyalakan api unggun. Untuk menyalakan api unggun silakan kontak petugasnya. Sebenarnya memang tidak disediakan antaran makan ke kamar, namun selama pandemi sepertinya mereka bersedia mengantar ke kamar. Oya, semua kontak bisa dilakukan melalui WA dan mereka akan aktif membalas. So, dari pengalaman saya menginap di sini, over all oke, jikapun ada kekurangan, semoga depan mereka memperbaikinya. Selamat glamping dan staycation!

KARAWANG, YANG DEKAT NAMUN TERASA JAUH

Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?  

~ Bait Pertama Puisi Chairil Anwar Karawang-Bekasi

Ini pertama kalinya saya keluar rumah untuk berwisata setelah 9 bulan isolasi karena pandemi. Masih belum berani naik angkutan umum, atau pergi menginap. Jadi saya memilih pergi dengan mobil sendiri dengan perjalanan one day. Tanpa tujuan hendak kemana, akhirnya saya memutuskan ke Karawang. Bekasi-Karawang tidak jauh, tapi entah kenapa terasa sangat jauh buat saya. Segala sesuatu yang tidak menarik memang terasa jauh, begitu juga dengan sebuah tempat. Saya sudah tinggal selama 20 tahun di Bekasi-Jakarta dan Bogor, tapi belum pernah sekalipun berniat mengunjungi Karawang. Paling saat naik kereta dari kampung saya selalu melewati Karawang itupun dini hari jadi tidak bisa melihat apa-apa.

Satu jam perjalanan bermobil dari Bekasi, saya memasuki wilayah Karawang yang memang sebenarnya tidak menarik. Tapi tunggu dulu, jangan putus asa dulu, bukankah saya selalu yakin semua tempat memiliki sisi yang unik untuk di ekplore? Benar, di tempat ini banyak kejadian bersejarah yang bisa kita kenang kembali mulai dari tragedi Rawagede dan Rumah Sejarah Soekarno Rengasdengklok. Tragedi Rawagede terjadi 9 Desember 1947 ketika Belanda melancarkan agresi militer pertama. 431 penduduk Karawang menjadi korban pembantaian ini. Saya tidak mengenal tragedi ini sebelum melihat monumen Rawagede di Karawang mungkin karena tragedi ini tidak pernah menjadi sejarah nasional. Desa Rawagede sudah berganti nama menjadi Balongsari saat ini, tetapi trauma itu masih tersisa. Saya hanya lewat sesaat di monument sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke Rumah Sejarah Rengasdengklok.

Tempat wisata yang bisa dikunjungi di Karawang diantaranya situs candi Jiwa, Pantai Tanjung Baru, Curug Bandung, Vihara Sian Djin Ku po, Danau Cipute dan masih banyak lagi.  Saya hanya mengunjungi dua diantaranya, itupun ketika kembali ke rumah sudah malam. Entah kenapa tempat ini terasa sangat jauh.

RUMAH SEJARAH SOEKARNO RENGASDENGKLOK

Bertempat di Desa Kalijaya rumah bersejarah ini mudah ditemukan. Berjarak sekitar 20 meter dari gerbang masuk yang bertuliskan Rumah Sejarah Soekarno Rengasdengklok saya menyusuri jalan beton yang sepanjang sisinya terdapat graffiti tokoh bangsa. Lingkungan rumah ini seperti pemukiman biasa sehingga saya agak ragu rumahnya sebelah mana. Tetapi seorang tetangga rumah membantu parkir dan menunjukkan rumah yang saya cari. Setelah mengikuti protokol kesehatan pandemi, saya memasuki rumah sejarah itu. Seorang wanita, istri cucu (alm.) Djiaw Kie Siong menyambut di pintu dengan ramah. Rumah ini dahulu merupakan rumah alm. Djiaw Kie Song. Tidak dijelaskan dengan pasti kenapa rumah ini yang dipilih, namun menurut cucu alm pemilik rumah, mungkin karena rumah ini tidak terlalu mencolok dan sedikit tersembunyi sehingga tidak mencurigakan. Apalagi kondisi waktu itu sangat genting.

Rumah Rengasdengklok menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan Indonesia. Pada masa itu, pemuda dalam kelompok Menteng 31 menyembunyikan Soekarno dan Hatta dari pengaruh Jepang untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Desakan itu ditolak tetapi esok harinya proklamasi terjadi di Jakarta. Rumah Sejarah Soekarno ini memang berbeda dengan gambar rumah masa lalu yang saya lihat di internet, beberapa bagian tampak sudah dipoles lebih modern. Namun sebenarnya bangunan utama masih sama, ubin dan perabotan di dalamnya juga masih asli.

Sebuah meja tempat peribadatan berada di tengah ruangan dalam dengan foto-foto masa lalu di atasnya. Tempat tidur Seokarno dan Hatta dengan perabotan yang masih asli lengkap kelambunya tampak bersih dan rapi. Di pojok ruangan ada dua lemari yang berisi foto-foto masa lalu yang menyimpan kenangan sejarah peristiwa Rengasdengklok. Di dinding samping peribadatan, puisi Chairil Anwar terbingkai dengan rapi. Rumah sejarah yang sudah menjadi Cagar Budaya ini terawat dengan sangat baik, menurut cucu yang tinggal di bagian belakang rumah ini, ia memang menjaga rumah ini sesuai pesan kakeknya Djiaw Kie Song yang pada masa hidupnya seorang petani yang menggeluti Feng Sui. Berada di dalam rumah ini meskipun udaranya sangat sejuk, tapi saya bisa merasakan peliknya suasana puluhan tahun lalu saat menjelang proklamasi.

Setelah memotret semua sudut rumah, cucu pemilik rumah yang baik ini bahkan bersedia memotret saya di depan rumah dan membuka pagar depan. Beliau juga menyarankan saya mampir ke Candi Jiwa yang tidak jauh dari tempat itu. Maka setelah pamitan saya memutuskan mampie ke Candi Jiwa.

CANDI JIWA & CANDI BLANDONGAN

Dari rumah sejarah Rengasdengklok, saya menyusuri sepanjang jalan lurus yang bersisian dengan sungai, persawahan dan tanaman menghijau. Pemandangannya sangat indah sebenarnya jika sungai ini tidak dibelakangi dan bisa ditata dengan baik. Saya membayangkan bisa berperahu kecil di sepanjang sungai ini dengan tanaman bunga-bunga yang indah di sepanjang sisinya. Tapi kenyataannya di sepanjang sungai ini merupakan tempat penduduk mandi, mencuci apa saja, sikat gigi, buang hajat dan buang sampah. Jadi sebagian besar pemandangan jadi tidak mengenakkan.Di sudut-sudut jalan tampak poster pasangan yang sedang berlaga di pilkada nanti. Pasangan-pasangan ini tersenyum cerah dan bahagia di dalam fotonya. Salah satunya artis ibukota yang berperan dalam salah satu sinetron dengan rating tertinggi beberapa saat lalu. Semoga saja siapapun yang terpilih bisa mengubah segalanya lebih baik. Tempat ini menarik menurut saya, tetapi jadi sangat mengganggu dengan kegiatan di sepanjang sungai itu.

Setelah menemukan perempatan dengan tanda arah Candi Jiwa, saya belok ke arah kanan lalu tibalah di pinggir sawah. Kompleks candi ini memang terletak di tengah sawah tepatnya di kecamatan Batujaya dan Pakisjaya, Karawang. Setelah parkir di halaman rumah penduduk, saya menuju loket yang banyak orang antri. Ternyata ramai juga yang ingin mengunjungi candi. Tidak ada tiket sebenarnya tetapi harus membayar sukarela untuk memasuki kompleks candi. Lalu saya menyusuri pinggiran sawah yang sedang bagus-bagusnya hampir panen. Sepanjang pinggir sawah itu saya juga bisa menikmati padang luas yang terdapat banyak kambing sejenis biri-biri, ini sangat menarik seandainya digarap lebih maksimal. Jalan menuju candi disekitar persawahan juga sudah bagus dan bersih. Kompleks candi tampak di kejauhan di dalam pagar dan pengunjung hanya boleh melihat candi dari kejauhan.

Candi peninggalan Budha ini diperkirakan berkaitan dengan kerajaan Tarumanegara dan lebih tua dibanding Candi Borobudur. Di kompleks ini sebenarnya terdapat banyak titik candi, tetapi kemungkinan situs yang lain masih terpendam di dalam tanah. Setelah melihat Candi Jiwa, saya melewati persawahan yang sangat asri menuju Candi Blandongan. Candi Blandongan lebih luas dan terawat dengan sangat baik. Pengunjung juga hanya bisa melihat dari jauh karena dipagar. Di sekitar Candi Blandongan terdapat jalan-jalan kecil yang bisa dilewati memutar sehingga pengunjung bisa melihat candi dari berbagai arah. Karena lokasinya persis di tengah sawah maka udaranya terasa sangat enak. Suara penghalau burung dan aroma persawahan terasa khas. Pengunjung bahkan bisa duduk-duduk di bawah pohon menikmati siang di sekeliling candi. Tempat ini menarik menurut saya, hanya saja mungkin belum banyak dikenal. Atau saya yang nggak gaul?

Hampir sore ketika saya ingin melanjutkan ke pantai terdekat. Tetapi mobil malah kepentok jalan kecil yang mepet tambak. Takut jatuh ke dalam tambak, akhirnya saya memutuskan putar balik dan pulang. Karawang yang terasa jauh itu kini lebih dekat dengan saya. Kompleks percandiannya yang bersih dan berada di tengah sawah, sejarah yang melingkupi daerah ini dan bahkan sungai di pinggir jalan yang menyajikan pemandangan menganggu. Semoga saja ke depan tempat ini menjadi semakin menarik untuk dikunjungi.

*Photo monument dari Google, yang lainnya dokumentasi pribadi

YANG DIRINDUKAN DARI PERJALANAN

Perjalanan sekarang seperti angan-angan yang jauh. Pandemi menghancurkan semua tiket perjalanan yang saya miliki. Setidaknya tiga rencana traveling tahun 2020 yaitu ke China, Timor Timur dan Eropa. Bagusnya semua tiket perjalanan bisa direfund 100% karena memang pesawatnya tidak berangkat. Dalam kondisi seperti ini, sedih dan stuck sudah pasti, tetapi apa sih sebenarnya yang paling saya rindukan dari perjalanan?

Ada beberapa hal yang saya rindukan dari perjalanan mulai dari menyusuri tempat-tempat baru, nyasar dan menemukan hal aneh sampai teman-teman perjalanan yang kadang menyebalkan atau juga menyenangkan. Setiap perjalanan ada ceritanya masing-masing yang selalu sangat menarik buat saya. Tetapi yang paling saya rindukan adalah bertemu orang-orang lokal, bergaul dengan mereka untuk mengetahui kehidupan mereka dan mencecap keramahan mereka. Kejadian-kejadian spontan kebaikan orang lokal ini selalu saya rindukan saat saya lama tidak melakukan perjalanan. Sayangnya beberapa kejadian tidak terekam dalam kamera karena benar-benar spontan. Jadi mungkin cerita dan fotonya tidak bersesuaian.

Saya mengingat beberapa pertemuan menyenangkan dari perjalanan saya. Tahun 2016 saya pergi ke China. Saya nyasar ketika mencari penginapan saya dan semua orang hanya bisa berbahasa China. Semua tulisan jalan juga berbahasa China. Saya benar-benar hampir putus asa ketika itu ditambah lagi saya kelaparan. Tiba-tiba saya melihat rumah makan kecil di pinggir jalan milik orang muslim. Saya mampir dan membeli makanan. Sebenarnya toko itu belum buka, tapi melihat saya dan teman saya kelaparan serta kebingungan sepertinya pemilik toko kasihan. Saya kemudian dipersilakan makan bahkan ketika saya membayar dia menolak. Katanya kita satu saudara seiman, anda tidak usah bayar, kita saling mendoakan saja.

Di perjalanan yang lain pada tahun 2011 saat saya ke Korea, saya bersama seorang teman juga nyasar saat mencari salah satu gedung. Tiba-tiba seorang cowok bersedia mengantar saya sampai ke gedung itu menggunakan mobilnya. Awalnya saya ketakutan saat masuk mobil, tapi ternyata cowok itu benar-benar mengantarkan saya ke gedung yang saya cari. Teman saya memberikan souvenir dari Indonesia, lalu kami berpisah. Tak hanya itu, saat saya dan teman saya kelaparan, kami masuk ke kedai kecil di Korea. Seorang wanita paruh baya melayani kami dengan ramah bahkan menunggui kami makan. Kedai itu berasa kedai privat buat kami. Meskipun tidak bisa berbahasa Inggris tetapi ibu ini memahami komunikasi bahasa tubuh yang kami gunakan. Bahkan saat kami bingung mencari terminal, dua orang wanita mengantar kami hingga terminal. Kejadian di Korea ini benar-benar membuat saya rindu kembali ke sana.

Tahun 2019 saat ke Rusia, entah sudah berapa kali saya dan teman-teman kebingungan mencari alamat rumah. Sampai salah masuk ke sana dan ke mari berjam-jam. Tetapi selalu ada orang yang menolong kami. Memang sebagian mereka tidak bisa berbahasa Inggris, tetapi mereka berusaha menolong kami menemukan tempat yang kami cari. Bahkan membantu mengangkat koper kami tanpa mau dibayar.

Tahun 2017, saat saya pergi ke Geneva Swiss, saya ketiduran di tram karena sangat capek. Seorang penumpang membangunkan saya dan bilang kalau saya sudah sampai tempat tujuan. Sepertinya dia memang mendengar saat saya dan teman-teman menyebutkan tempat tujuan saya. Di Belanda juga saya mengalami hal spontan menyenangkan saat tidak bisa pulang karena tram berhenti. Waktu itu ada pertandingan bola dan kondisi jalanan banyak orang lalu lalang. Semakin malam akan semakin ramai bahkan banyak orang mabuk maka disarankan segera pulang, sayangnya tidak ada tram. Seorang wanita yang kebetulan juga menunggu tram kemudian mengajak kami jalan agak jauh ke stasiun yang lain. Dari stasiun ini, saya kemudian bisa mendapatkan tram menuju penginapan. Ternyata wanita ini rumahnya tidak jauh dari lokasi penginapan saya. Sementara di Paris, saat ke masjid saya bertemu seorang gadis yang belum lama menjadi mualaf. Gadis ini bahkan menjadi teman baik saya hingga saat ini. Kami masih bertukar kabar dan berbagi cerita.

Tahun 2019, saya ke Vietnam dan menjelajahi beberapa pasar bukan untuk belanja tapi untuk bertemu beberapa orang yang ingin saya tulis kisahnya. Ternyata saya menemukan banyak orang menarik di beberapa pasar ini. Mereka terbuka dan penuh perhatian. Saya merasa sangat bahagia bertemu mereka. Hal-hal seperti ini sebenarnya yang paling saya rindukan dalam perjalanan. Moment-moment yang spontan, jujur dan penuh ketulusan ini tidak sering saya dapatkan dalam kehidupan sehari-hari saya. Kapan bisa traveling lagi? Saya merindukan mereka.

WISATA PEMAKAMAN

Entah sejak kapan tepatnya, saya suka berwisata ke pemakaman, apalagi jika pemakaman itu unik. Ada beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi dengan tujuan wisata maupun karena survey untuk pekerjaan saya menulis naskah. Menurut saya mengunjungi pemakaman tertentu selain magis juga banyak pembelajaran tentang hidup. Dari pemakaman yang unik kita bisa mempelajari tradisi daerah yang kita kunjungi. Ini sangat menarik. Berikut beberapa pemakaman yang pernah saya kunjungi.

1. GOA LONDA, TANA TORAJA

Tahun 2010 saya mengambil cuti dari pekerjaan saya sebaga karyawan di sebuah televisi dan pergi mengunjungi Tana Toraja dengan tujuan ke pemakaman Goa Londa. Goa Londa terletak di perbukitan dan sepanjang menyusuri goa akan menemukan jasad-jasad yang di semayamkan di liang-liang goa.  Di pintu goa terdapat deretan patung yang dinamakan Tau-Tau yang melambangkan jenazah yang ada di dalam goa. Di sisi lainnya tampak peti-peti janazah yang dinamakan Erong. Menyusuri Goa Londa semakin ke dalam semakin gelap dan lembab. Jika beruntung kita akan menemukan jenazah yang baru saja disemayamkan. Beruntung apa malah menakutkan? Hehe. Saya menemukan satu jenazah yang masih baru dan yang lainnya sudah menjadi tulang belulang maupun tengkorak.

2. BAYI KAMBIRA, TANA TORAJA

Pemakaman unik lainnya yang saya kunjungi di Tana Toraja adalah pemakaman bayi Kambira di pohon Tarra. Terletak di tengah rerimbunan pohon-pohon, pemakaman bayi di pohon ini memiliki pintu-pintu kecil yang terbuat dari daun ijuk. Proses pemakamanpun cukup unik. Pohon Tarra dilubangi dengan diameter seukuran bayi kemudian jenazah diletakkan di dalamnya lalu lubang ditutup menggunakan ijuk. Mereka percaya bayi yang dikuburkan akan kembali ke rahim ibunya.

3. TRUNYAN, BALI

Tahun 2014 tanpa sengaja saya mengunjungi pemakaman unik Trunyan di Bali. Gara-garanya dari Ubud ke Kintamani naik motor dan kecapekan. Saya merasa nggak ada gunanya kalau hanya berdiri di ketinggian Kintamani lihat pemandangan. Maka saat teman menawarkan mengunjungi Trunyan dengan menyisir jalur sisi perbukitan di pinggir danau Batur saya langsung setuju. Jadi nyisir lewat jalur darat, baru kemudian nyebrang ke pemakaman hanya sekitar 10 menit pakai perahu penduduk lokal. Di Desa Trunyan, mayat tidak dibakar melalui ritual Ngaben seperti umumnya masyarakat di Pulau Bali. Di sini mayat  diletakkan ditempat terbuka di dalam Ancak Saji (anyaman bambu segitiga sama kaki yang berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang buas. Posisinya berjejer berpakaian lengkap dan hanya kelihatan bagian mukanya saja dari celah Ancak Saji. Lagi-lagi saya beruntung atau menakutkan (?) ketika saya berkunjung, ada jenazah baru di Ancak Saji tersebut. Pemakaman ini dinaungi Pohon Taru Menyan yang sudah berusia ratusan tahun. Menurut penduduk lokal pohon berbau wangi inilah yang menetralisir bau jenazah sehingga tidak berbau sama sekali.

4. PEMAKAMAN JEPANG

Wisata saya ke pemakaman berlanjut ketika saya mengunjungi Jepang tahun 2015.  Teman saya, seorang host couchsurfing mengajak saya dan teman-teman berwisata non turistik, salah satunya ke pemakaman. Awalnya mau mengunjungi rumah seorang penulis terkenal pada masanya yang sudah dijadikan museum, tetapi karena kesorean kami diajak ke pemakaman. Pemakaman di Jepang sangat mahal sehingga menurut teman saya kematian jadi menakutkan.

Pemakaman pada umumnya dilakukan dalam tradisi gabungan Shinto dan Buddha, jenazah dikremasi lalu abunya dimasukkan ke pot abu. Dalam satu nisan ada banyak nama yang merupakan satu garis keturunan. Saya mengunjungi pemakaman ini menjelang maghrib, gara-gara kesorean ke museum itu, dan sepertinya teman saya tidak takut sama sekali malah senang menjelaskan ini itu. Ada yang pengen wisata ke pemakaman juga? Hehe. Berdekatan dengan kematian dan pemakaman kadang-kadang memberikan sudut pandang lain soal hidup yang telah dijalani. Coba saja, hehe.

MENIKMATI MALAM DI THE BUND SHANGHAI

Ketika saya traveling ke Shanghai seorang teman yang sedang mengambil S2 di Shanghai menyarankan saya tinggal di kawasan The Bund. Apa sih, The Bund? Ternyata The Bund itu pusat kota Shanghai yang menjadi tujuan para turis.  Sebuah dermaga panjang di tepi Sungai Huangpu. Saya memesan penginapan yang letaknya hanya sekitar 1 km dari The Bund jadi bisa berjalan kaki ke The Bund kapan saja. Karena banyaknya tempat yang saya kunjungi saya baru bisa ke The Bund malam hari.

Dan, wow! Pada malam hari kawasan The Bund ini berkilau! Deretan gedung tinggi dan bangunan kuno berarsitek Eropa klasik memancarkan lampu-lampu keemasan. Saya juga bisa melihat kapal dengan lampu warna-warni yang melintasi Sungai Huangpu. Tak hanya itu, di tempat ini ada menara yang sangat terkenal di seluruh dunia yaitu Oriental Pearl Tower.

Pada malam hari kawasan ini hidup dan penuh energi. Saya duduk di tepi Sungai Huangpu ini hingga tengah malam bersama teman. Nah, saya bagikan foto-fotonya kali ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

10 KERETA BAWAH TANAH INI LAYAK DICOBA SAAT TRAVELING

Pejalan tanpa menggunakan paket tour pasti memerlukan transportasi umum untuk menjelajah. Selain lebih murah, menggunakan transportasi umum merupakan cara singkat untuk mempelajari budaya dan gaya hidup tempat baru. Saya dan teman-teman selalu menggunakan transportasi umum karena jelas lebih irit dan sebisa mungkin menghindari naik taksi. Alasannya tentu saja bangkrut kalau naik taksi kemana-mana. Berikut ini kereta bawah tanah yang pernah saya jajal di beberapa negara untuk menjelajahi sebagian kecil dari negara itu.

1. LONDON UNDERGROUND

 

Spring 2017, saya tiba di London pukul 2 dini hari waktu setempat setelah belasan jam terbang dari Jakarta. Negeri yang saya lihat dari buku-buku yang saya baca ini ingin saya kunjungi sejak saya kecil. Tetapi London sangat mahal untuk pejalan seperti saya, jadi saya harus menghemat salah satunya dengan naik transportasi umum ke berbagai tujuan. Begitu memasuki stasiun underground, saya langsung berbelok ke minimarket yang ada di pojokan stasiun untuk membeli kartu Oyster. Dengan kartu Oyster saya bisa menjelajah London menggunakan kereta bawah tanah/Tube/London Underground, tram, bus, London Overgound, TfL Rail, River Bus dan National Rail service. Dengan kartu Oyster di tangan saya menuju penginapan yang sudah saya pesan melalui internet. Karena nyasar-nyasar lebih dulu maka saya tiba di penginapan yang berada di kawasan Westminster sekitar pukul 7 pagi.

 

Dibangun ratusan tahun lalu, kereta bawah tanah London merupakan kereta bawah tanah pertama di dunia. Bahkan London Underground ini sudah beroperasi sejak tahun 1863, pada saat kereta api masih mengandalkan tenaga uap. Lalu pada tahun 1890 dimulai penggunaan kereta listrik. London Underground atau The Tube merupakan transportasi umum yang sangat diminati karena tidak macet dan lebih cepat. Saya menggunakan The Tube ini kemana-mana saat di London karena penginapan saya dekat dengan stasiun dan memang lebih mudah dijangkau.

Stasiun-stasiun Underground di London kebanyakan sudah tua namun terjaga dengan baik. Justru menurut saya jadi eksotis dan sangat menarik. Bayangkan stasiun-stasiun dengan desain tua ini sudah berumur ratusan tahun dan jadi saksi bisu sejarah yang bergerak di sana. Tetapi pada stasiun-stasiun tertentu tampak lebih modern. Untuk pecinta bola tentu tidak akan melewatkan stasiun-stasiun yang mengabadikan club bola kesayangan. Kalau saya paling suka dengan Baker Street stasiun. Karena di sana saya bisa bertemu dengan Sherlock Holmes. Pagi hingga malam kereta bawah tanah ini selalu ramai apalagi pada jam-jam sibuk. Pintunya bergerak sangat cepat jadi harus benar-benar hati-hati. Saya sempat terhantam pintu dan jatuh ke dalam kereta karena hampir kejepit pada suatu malam pulang dari keliling London. Memiliki 11 jalur yang bisa dipelajari dengan mudah, London Underground ini menjadi pilihan terbaik untuk sarana transportasi saat menjelajah London.

2. JAPAN SUBWAY

 

 

Spring tahun yang lain, saya traveling ke Jepang. Di Osaka dan Tokyo transportasi paling mudah yang bisa saya gunakan yaitu Subway atau kereta bawah tanah. Kartu yang saya gunakan adalah Pasmo yang bisa dibeli di mesin-mesin tiket stasiun Subway. Cara menggunakan mesin ini tidak jauh berbeda dengan cara membeli tiket di mesin MRT Jakarta. Hanya saja untuk membeli tiket Pasmo atau Suica kita harus membeli di mesin yang ada tulisannya Suica atau Pasmo. Sistemnya juga sama, membeli kartu kemudian mengisi saldo untuk ditap pada setiap perjalanan. Cara lebih detail soal kartu, jalur menggunakan Subway di Osaka dan Tokyo bisa kalian temukan di banyak website, saya tidak akan membahasnya di sini.

Jepang adalah negara pertama di Asia yang memiliki kereta bawah tanah. Tokyo Subway dibuka pada tahun 1927 dan menjadi kereta bawah tanah tercepat dan paling tepat waktu di dunia. Kereta akan datang di setiap stasiun dengan rentang waktu 2-3 menit saja. Subway di Tokyo mengangkut lebih dari 8,7 juta penumpang setiap harinya, karena itu jika menjelajah Tokyo sebaiknya jangan pada jam-jam sibuk. Saya punya pengalaman menarik saat pertama naik Subway di Tokyo. Karena banyak yang memakai baju atau jaket hitam saya bingung mencari teman saya yang naik ke Subway jalur kiri atau kanan. Saya naik ke kiri dan teman saya ternyata naik yang kanan. Akhirnya saya terpaksa turun dan balik lagi setelah nyasar-nyasar.

Subway di Tokyo menghubungkan banyak tempat wisata terkenal yang bisa dikunjungi turis. Mulai dari Kuil Sensoji (Asakusa), zebra Cross (Shibuya), Kabukicho (Shinjuku), Pasar Tsukiji (Tsukiji), Kabuki-za (Higashi-ginza) dan Menara Tokyo (Kamiyacho). Memiliki 9 Jalur utama yang masing-masingnya memiliki kode warna dan huruf yang berbeda, kereta pertama mulai dari jam 5 Pagi, dan kereta terakhir di pukul 12 malam.

3. HONGKONG MTR

 

Pertama kali traveling ke luar negeri Hongkong adalah tujuan pertama saya. Alasannya waktu itu karena ada tiket promo dan saya baru saja resign dari pekerjaan saya sebagai orang kantoran. Jadi di Hongkong ini merupakan pengalaman pertama saya menjelajah kota menggunakan kereta bawah tanah. Kereta bawah tanahnya Hongkong disebut MTR atau Mass Transit Railway. Pernah dinobatkan sebagai jaringan kereta bawah tanah terbaik di dunia, saya tidak sabar untuk mencobanya.

Saya suka mengoleksi kartu transportasi setiap pulang dari traveling dan kartu Octopus untuk naik MTR di Hongkong ini merupakan koleksi saya yang pertama. Seperti jalur kereta bawah tanah lainnya, kartu single trip bisa dibeli di mesin-mesin tiket di setiap stasiun kereta. Tetapi saya memilih Octopus agar memudahkan perjalanan tinggal mengisi saldo dan bisa saya koleksi kartunya. Memiliki 11 jalur, para turis biasanya akan banyak menggunakan 5 jalur saja yaitu Tung Chung Line, Disneyland Line, Island Line, Tsuen Wan Line dan Airport Express Line yang menghubungkan banyak tempat wisata populer. Kereta bawah tanah Hongkong ini mulai beroperasi pada tahun 1979 dan menjadi transportasi populer yang mengangkut 5 juta perjalanan setiap harinya.

Saya paling suka saat naik MTR di Hongkong saat melewati terowongan bawah laut ke Central. Saya membayangkan bagaimana mengerjakan terowongan bawah laut yang kemudian bisa dilewati kereta bawah tanah. Setiap melewati terowongan saya gemetaran, takut mendadak terowongan akan pecah dan kereta amblas ke dalam lautan. Pengalaman pertama naik kereta bawah tanah di Hongkong ini sangat berkesan buat saya meskipun saya sering nyasar karena kesulitan membawa peta. Yang jelas MTR Hongkong akan menjadi pilihan untuk menjelajah Hongkong dengan mudah.

4. CHINA SUBWAY

 

Banyak pilihan transportasi di China mulai dari bus, subway, atau taksi. Ketika saya traveling ke China saya terpaksa menggunakan tiga-tiganya sesuai kebutuhan karena tingkat nyasarnya yang sangat tinggi di China. Saat menuju The Great Wall gerbang Mutianyu yang lokasinya sekitar 70 km dari kota Beijing, saya diturunkan bus di lokasi antah berantah dan terpaksa saya naik taksi borongan. Untungnya ada penduduk lokal yang kebetulan bisa bahasa Inggris untuk menawarkan harga taksi ke sopir lokal itu. Beberapa tempat wisata populer di Beijing bisa dijangkau dengan menggunakan subway meskipun belum semuanya dan harus nyambung menggunakan bus atau jalan kaki. Tak hanya di Beijing, saya juga menggunakan subway ketika di Xi’an dari bandara ke pusat kota Xi’an. Sementara untuk keliling di dalam kota Xi’an lebih mudah menggunakan bus.

Beijing subway dibuka tahun 1969 dan merupakan sistem angkutan cepat dan tertua di Tiongkok daratan. Kemudian berkembang setelah tahun 2002 dan memiliki 15 jalur. Untuk tiket saya membeli tiket single trip setiap perjalanan di China karena tidak semua perjalanan saya menggunakan subway.

5. KOREA SELATAN SUBWAY

 

 

Subway di Korea Selatan menjadi moda transportasi favorit karena mudah dan cepat. Saya menggunakan subway ke berbagai tujuan karena hampir semua tempat wisata populer terkoneksi dengan subway dan terintregasi dengan angkutan lain seperti bus ke luar kota. Kebetulan penginapan saya di dekat Hongdae stasiun sehingga memang menggunakan subway adalah pilihan paling mudah. Jika teman-teman ke Seoul saya sarankan menginap di sekitaran Hongdae stasiun tepatnya dekat Hongik University karena tempat di sekitar itu sangat strategis baik untuk kemudahan mencari makanan maupun subway.

Subway di Korea Selatan dibuka pada tahun 1974, memiliki 18 jalur yang melayani Seoul Metropolitan Area. Kita bisa menggunakan tiket T-Money untuk naik subway dan membeli sesuatu di minimarket. Stasiun-stasiun Korea Selatan tampak modern dan ramai dengan gerai-gerai jualan mulai dari makanan, baju sampai mirip mall. Saya punya pengalaman menarik waktu naik subway di Korea Selatan. Hari pertama saya sudah keluar kota naik bus, namun sambungan sampai penginapan menggunakan subway. Nyaris jam 12 malam dan subway sudah kosong. Hanya ada satu orang cowok sedang mabuk di ujung gerbong. Waktu saya turun di Hongdae stasiun, ternyata banyak orang mabuk juga di jalanan dekat penginapan. Saya baru tahu sebaiknya tidak keluar terlalu malam karena kalau ketemu orang mabuk bisa jadi bahaya. Subway sangat rekomended untuk menjelajah Korea asal tidak tengah malam seperti saya.

6. PARIS METRO

 

Saya menginap di dekat stasiun metro selama traveling ke Paris. Jadi begitu turun dari bus setelah perjalanan 8 jam dari London saya langsung mencari stasiun metro menuju penginapan. Tiket dapat dibeli di setiap loket stasiun secara manual maupun otomatis. Jika membeli di mesin tiket, maka kita harus menggunakan kartu kredit. Ada banyak pilihan tiket. Ada yang satuan, ada yang membeli per-10 biji sehingga lebih murah. Bentuk tiketnya juga kecil dan lucu. Saya suka melewati gerbang tiket dan memasukkan tiket kecil itu ke dalam gerbang kemudian tiket akan keluar di ujung. Tetapi saat membeli tiket di mesin menggunakan kartu kredit harus hati-hati. Banyak mesin yang dipasangi scam sehingga nomor kartu kredit kita dicuri. Saya sempat kena juga.

Menjelajahi Paris menggunakan metro atau kereta bawah tanah adalah pilihan yang tepat. Metro ini terkoneksi dengan banyak tempat wisata populer di Paris. Tinggal mempelajari peta maka sampailah tempat yang kita tuju. Tetapi saya kurang suka suasana bawah tanah metro di Paris. Menurut saya agak menakutkan. Stasiun-stasiunnya sudah tua dan kusam, maklum metro di Paris dibuka pada tahun 1920. Setiap memasuki bawah tanah, saya merasa memasuki tempat yang penuh tantangan. Bukan hanya tangganya yang tanpa escalator dan super tinggi, tetapi mata orang lokal yang menatap curiga tanpa senyum membuat nyali saya ciut. Tapi jangan salah, meski begitu banyak juga yang ringan tangan menolong. Saat saya kesusahan mengangkat koper, seorang cowok sigap membawakan koper saya sampai tangga paling atas dan melambaikan tangan sambil tersenyum. Metro di Paris sangat unik menurut saya, bukan hanya stasiun dan metronya namun juga orang-orangnya. Jika anda berkesempatan traveling ke sana harus dicoba.

7. MOSCOW METRO

 

Metro Moscow ini salah satu tempat favorit saya. Bukan hanya sekedar moda transportasi yang memudahkan untuk menjelajah Moscow tetapi stasiun-stasiunnya merupakan mahakarya seni yang luar biasa. Anda bisa membaca tulisan saya khusus tentang metro Moscow di artikel yang lain di blog ini. Setiap tempat wisata populer di Moscow juga terkoneksi dengan metro sehingga memudahkan untuk menjangkau tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tiket bisa dibeli di stasiun melalui mesin tiket atau loket dengan mudah. Jika anda tidak memahami bahasa Rusia, pilih loket yang petugasnya bisa berbahasa Inggris, terdapat tulisan di loketnya.

Metro Moscow ini dibuka pada tahun 1935 sebagai jaringan kereta api bawah tanah pertama di Uni Soviet. Hingga saat ini metro Moscow memiliki 12 jalur dengan rata-rata penumpang harian sebesar 7 juta orang. Menurut saya metro Moscow merupakan metro tercantik di dunia dengan arsitektur yang sangat menawan di masing-masing stasiun. Tak hanya itu jalur metro ini juga menyimpan sejarah. Salah satu stasiun pada masa perang dunia II digunakan sebagai pos komando dan tempat perlindungan dari bom-bom Jerman. Jadi, menyusuri jalur metro Moscow ini nyaris seperti memasuki museum dengan bangunan yang sangat indah.

8. BANGKOK MRT

 

Saya menjajal Bangkok MRT hanya satu kali jalan saat menuju stasiun Thailand Cultural center untuk menonton pertunjukan Siam Niramit. Karena bersamaan dengan waktu jam pulang kantor, MTR-nya sangat penuh dan tidak nyaman. Saya sampai harus berdiri berdesakan dengan teman saya agar bisa masuk ke dalam MRT.

MRT Bangkok dibuka tahun 2004 dengan desain stasiun-stasiun yang modern mirip dengan di Jepang atau Jakarta. Pembelian tiket bisa dilakukan di mesin-mesin tiket stasiun secara mandiri. Di stasiun ini juga berjejer restoran dan minimarket. Saya tidak memiliki banyak pengalaman menjelajah Bangkok menggunakan MRT karena selain perjalanan saya ke pertunjukan Siam Niramit, saya lebih banyak jalan kaki di pusat kota.

9. SINGAPORE MRT

 

Menjelajah Singapore paling mudah tentu saja menggunakan MRT. Dibuka pada tahun 1987, MRT Singapore merupakan angkutan cepat tertua kedua di Asia Tenggara. MRT di Singapore memiliki lima jalur yang menghubungkan lebih dari 100 stasiun. Peta dan rutenya bisa anda temukan di internet dengan mudah dan anda pelajari sebelum menjelajah Singapore. MRT di Singapore sangat penting karena merupakan angkutan utama di sana.

Saya selalu memilih penginapan dekat dengan stasiun sehingga memudahkan saya untuk ke berbagai tempat. Begitu juga ketika pertama kali ke Singapore. Tiket MRT bisa kita dapatkan dengan mudah melalui mesin tiket. Sementara untuk Singapore EZ-Link Card bisa anda beli melalui layanan travel online. Jangan lupa jam operasional MRT Singapore mulai jam 5.30 pagi hingga 23.30 malam. Anda bisa menjelajah Singapore hingga tengah malam tanpa perlu takut tidak mendapatkan angkutan untuk kembali ke penginapan.

10. JAKARTA MRT

 

Jika London Underground dibuka ratusan tahun yang lalu, Jakarta memiliki MRT sejak tahun lalu, 2019. Dengan pembukaan jalur Bundaran HI – Lebak Bulus dengan desain MRT Jakarta mirip dengan Subway di Jepang. Stasiun-stasiunnya tampak simple dan modern. Beberapa stasiun memiliki escalator yang cukup dalam tetapi saya suka menggunakan MRT Jakarta ini jika tujuan perjalanan saya ke sekitaran Lebak Bulus. Karena sangat memudahkan dan tidak macet. Tiket bisa dibeli melalui loket atau mesin tiket. Meskipun sangat terlambat, tetapi bisa memiliki MRT membuat Jakarta layak disetarakan dengan beberapa negara maju lainnya. Semoga jalur-jalur lainnya segera dibuka.

SERIAL “13 REASONS WHY” DAN DEPRESI DI SEKITAR KITA

Seorang gadis tiba-tiba bunuh diri dan meninggalkan pesan berupa kaset kepada teman-teman di sekelilingnya. Hannah Baker, begitu nama gadis itu, tidak menunjukkan bahwa dia seorang yang menderita penyakit mental apapun. Hannah seorang gadis yang cantik, terlihat ceria dan berusaha bergaul dengan siapa saja. Tetapi diam-diam dia menyimpan kekecewaan yang dalam terhadap lingkungannya ; teman-teman sekolahnya yang saling membully dan tidak tulus, guru-gurunya yang tidak tanggap terhadap masalah-masalah anak didiknya dan orang tuanya yang egois. Kaset yang ditinggalkan itu membuka rahasia penyebab ia bunuh diri mulai dari orang-orang terdekatnya yang dia anggap tidak peduli pada perasaannya hingga puncak dari segalanya ia diperkosa teman sekolahnya pada suatu malam dan mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya. Tanpa kaset-kaset itu, tidak ada seorangpun yang tahu penyebab Hannah bunuh diri.

Orang-orang seperti Hannah banyak di sekeliling kita. Apalagi sebagian besar lingkungan kita menganggap remeh orang-orang yang sakit secara batin. Sebagian dari kita hanya peduli saat orang lain sakit secara fisik. Padahal sakit secara batin itu efeknya sangat besar dan bisa menimbulkan sakit-sakit fisik. Saya jadi ingat dalam satu wawancara televisi seorang cowok yang menderita depresi begitu lama mengalami kecelakaan. Kesan pertama yang dia terima dari orang-orang di sekelilingnya saat ia mengalami depresi banyak orang menertawakannya dan tidak memercayainya, sementara saat ia mengalami kecelakaan banyak yang menjenguk dan peduli. Ya, sebagian kita memang masih begitu, menganggap depresi adalah bentuk tidak kompetennya seseorang menghadapi terpaan badai hidup, tidak becusnya orang tersebut melihat sisi terang dari apa yang dia hadapi, merespon sesuatu terlalu dramatis dan berlebihan hingga ada pula yang membandingkan dengan orang lain yang kemungkinan penderitaannya lebih parah namun sanggup melewati itu.

“Tidak ada segala sesuatu yang berjalan sesuai maumu,” kata seorang teman suatu ketika saat saya menceritakan bahwa saya mengalami depresi. Saya juga pernah mengalami depresi meski levelnya tidak berat. Trauma masa kecil, rentetan pengkhianatan yang pahit dan tekanan hidup yang berat membuat saya jatuh ke liang depresi. Ada satu masa saya tidak bisa makan dalam seminggu dan hanya bisa minum air. Ada satu masa saya terbangun pagi hari dengan kondisi yang letih luar biasa. Ada satu masa dimana saya berkubang dalam kesedihan yang dalam tanpa sebab. Ada satu masa dimana saya tidak bisa menangis untuk mengekpresikan kepedihan yang dalam. Efeknya secara fisik kemana-mana, sakit lambung, paru-paru, ginjal bahkan tidak bisa berjalan. Tapi semua itu sudah berlalu. Sejak saya menemukan diri saya sendiri dan hidup membebaskan diri sesuai kata hati, saya perlahan sembuh. Itu butuh perjuangan bertahun-tahun, bahkan bantuan psikolog untuk menunjukkan petanya kemana saya akan berjalan. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Dengan semua itu saya tidak pernah meremehkan siapapun yang datang pada saya dan mengaku depresi. Saya selalu menyediakan dua telinga untuk mendengar mereka tanpa memvonis apapun. Karena saya tahu rasanya, saya tahu penderitaannya.

Bukan hanya dalam sebuah serial, banyak contoh di dunia nyata yang bisa kita lihat secara gamblang. Robin Williams, actor komedi yang periang dan selalu tampil menghibur dalam film-filmnya itu memutuskan bunuh diri karena depresi akut, halusinasi dan penyakit degenerative. Tetapi beberapa berita mengatakan ia memutuskan butuh diri karena merasa tidak lucu lagi. Dalam kacamata orang lain yang tidak peka pasti akan bilang “masa hanya karena tidak lucu lantas bunuh diri?” Lalu kita lupa melihat masalah dari sudut pandangnya. Kita sibuk membandingkannya dengan orang lain yang mungkin kelihatan lebih menderita tetapi sanggup melewati segalanya. Hey, kamu orang-orang yang suka meremehkan depresi dan penderitaan batin orang lain! Kita paham semua manusia memiliki masalahnya masing-masing. Tapi ingat setiap manusia memiliki proses yang berbeda menghadapi masalah. Kita tidak bisa menggeneralisir semua manusia sama sehingga kita jatuh pada penghakiman bahwa “kamu nggak kompeten, kamu cemen dan kamu memalukan!” Bisa jadi orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya ini sudah begitu lama bertarung menghadapi depresi, berjuang melawan tekanan-tekanan sampai kemudian ia merasa tidak mampu lagi. Atau bisa jadi orang itu telah datang padamu memohon kedua telingamu mendengarkan penderitaannya tetapi kamu justru memvonisnya tidak kompeten menghadapi hidup. Dan kamu menjadi salah satu teman Hannah Baker yang menyebabkan ia bunuh diri. Mau jadi orang seperti itu?

Mungkin sekaranglah waktunya kita memulai untuk peka terhadap sakit batin orang lain di sekeliling kita. Jika memiliki kedua telinga untuk mendengar, dengarkan mereka. Jika bisa membantu, bantulah mereka menemui psikolog atau psikiater. Jangan memvonis mereka saat mereka berkubang dalam depresi. Kita tidak pernah tahu, kata-kata kita yang bagian mana yang begitu menyakitkan sehingga justru memperburuk kondisinya. Kalau kita tidak punya hal yang baik untuk diberikan lebih baik diam. Jangan sampai kita mendorong ia melakukan hal yang lebih buruk dalam hidupnya. Mari kita mulai peduli pada orang-orang di sekeliling kita dan tidak menggeneralisir mereka. Setiap orang melewati proses yang berbeda dalam garis perjalanan hidupnya. Ingat itu!

*feature pic by ngopulse.org

PENULIS ‘JADUL’ DI ERA DIGITAL

Suatu siang saat membuka-buka laman berita online saya membaca kalimat ini : “Kita memerlukan 4000 tahun untuk berpindah dari penggunaan besi menjadi industri. Lalu kita hanya memerlukan 40 tahun untuk berpindah ke tahap computer. Namun ke depannya kita hanya memerlukan 4 tahun untuk menjadikan dunia ini berbeda dari sebelumnya. Hingga pada akhirnya setiap hari kita akan melihat teknologi yang berbeda.” Saya menyadari bahwa saat ini saya berada pada dunia di mana setiap hari melihat perkembangan teknologi yang sangat pesat dan berbeda untuk semua bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang tulis menulis yang saya tekuni.

Saya suka menulis sejak sekolah dasar ketika buku harian dengan gembok di pinggirnya sangat ngetrend. Ibu membelikan buku harian itu agar saya bisa menuliskan pikiran-pikiran saya karena saya sangat pemalu untuk bicara. Ibu juga memberikan saya banyak bacaan agar saya bisa melihat dunia luar dari tempat tinggal kami yang terpencil di pegunungan. Lalu saya mulai menulis di media koran dan majalah ketika duduk di bangku SMA. Pada masanya dimuat di koran atau majalah merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena dua atau tiga gelintir orang yang suka membaca di kampung itu akan menangis tersedu-sedu saat membaca cerita kita yang mengharu biru. Kadang mereka datang ke rumah untuk memeluk kita karena sedih setelah membaca ceritanya. Lucu memang, tapi itu sungguh pernah terjadi pada masa lalu.

Memasuki masa kuliah saya berhenti menulis. Hanya dua cerpen yang terbit di majalah selama empat tahun. Setelah kuliah saya bekerja di dunia computer dan selama empat tahun juga tidak menulis. Tetapi selama bekerja itu saya mulai punya keinginan kembali menulis. Tahun 2004 saya memutuskan berhenti sebagai karyawan perusahaan computer dan menjadi full writer dengan mendisiplinkan diri menulis setiap hari. Mulai tahun itu banyak tulisan saya terbit di media cetak baik berupa cerpen, cerita bersambung maupun cerita anak. Media-media yang pernah memuat tulisan saya waktu itu diantaranya adalah Majalah Femina, Majalah Paras, Majalah Annida, Koran Suara Pembaruan, Koran Republika, Majalah Sabili, Majalah Ummi, Majalah Noor, Koran Jawa Pos, Koran Kompas rubrik Kompas Anak dan entah majalah apalagi saya lupa. Tidak hanya dimuat dimedia cetak, tetapi saya juga menerbitkan sejumlah buku novel remaja, cerita anak dan kumpulan cerpen.  Seingat saya produktivitas saya menulis luar biasa. Mungkin karena saya membutuhkan uang dari menulis atau memang saya sedang semangat-semangatnya.

Pada masa itu menulis masih mengikuti alur lama. Penulis semedi menuliskan kisahnya – memberikan ke redaktur atau editor – kemudian kalau sesuai akan dimuat atau dicetak sebagai buku – penulis menerima honor/royalty. Tidak ada tugas penulis mempromosikan karyanya karena semua tugas promo ada dipundak marketing penerbitan atau majalah.  Maka pada masa itu banyak karya yang lebih terkenal dibanding pribadi penulisnya. Bahkan penulisnya terkesan misterius dan susah ditemukan. Saya suka berada dibalik layar seperti itu dan tidak diketahui banyak orang. Hingga tahun 2008 saya masuk ke industri televisi yang bergelut dengan ratusan naskah televisi di tempat saya bekerja, saya masih nyaman berada di balik layar menuliskan naskah, mempersiapkan syuting, mengikuti proses casting pemain untuk menyesuaikan dengan karakter naskah hingga menonton previewnya di ruangan tertutup dan diam-diam bertepuk tangan saat tontonan itu sukses. Tugas marketing sudah ada yang menjalankan sendiri, saya focus menulis dan mengedit naskah-naskah scenario itu.

Tetapi kini zaman mulai berubah total. Persis seperti kalimat yang saya temukan di laman berita online tentang teknologi di awal tulisan ini, saat ini saya berada di zaman yang setiap hari terjadi perubahan teknologi secara cepat. Nyaris saat saya berkedip hal-hal baru selalu muncul. Penulis juga tidak cukup bersembunyi di balik layar, semedi dan tepuk tangan diam-diam menikmati kesuksesannya. Dan ini masalah bagi saya! Beberapa masalah yang saya hadapi di era digital ini dan cara saya mencoba menyelesaikannya adalah :

  1. Penulis Sebagai Marketing.

Di era digital ini, penulis harus muncul mempromosikan sendiri karya-karyanya secara massive agar laku dijual. Sudah bukan zamannya penulis sembunyi dan bersikap misterius membiarkan karyanya berjalan sendiri menuju pembaca. Dengan tingkat daya baca yang rendah, penerbit harus berjuang lebih keras untuk menjual buku. Bagus jika penulis memiliki akun social media yang aktif dengan banyak followers. Beban marketing kemudian juga berpindah ke pundak penulis. Sudah bukan zamannya penulis bersikap misterius dan bersembunyi. Ini masalah besar buat saya. Saya tipikal orang yang sangat tidak suka menampakkan diri berlebihan. Saya tidak suka menjadi pusat perhatian dan berhadapan dengan banyak orang yang langsung melihat muka saya. Bahkan saya tidak suka bicara secara langsung di telepon karena saya butuh memproses informasi yang masuk sebelum menjawabnya. Saya lebih suka berkomunikasi melalui pesan sehingga saya punya waktu untuk berpikir.  Dalam kondisi yang sangat terbuka dan langsung, saya merasa tertekan dan tidak bisa berpikir.  Ini sangat berat bagi saya, tetapi saya mencoba tetap mempromosikan karya saya melalui tulisan, membuat blog, mengunggah status di social media dan berinteraksi langsung dengan teman-teman melalui komentar-komentar. Setidaknya muka saya tetap tidak muncul secara langsung dan saya masih memiliki ruang untuk berpikir sebelum bereaksi.

  1. Mengikuti Selera Pasar.

Sebenarnya tidak hanya di era digital penulis mengikuti selera pasar, tetapi pada masa lalu penulis masih memiliki banyak ruang untuk bergerak mengikuti seleranya sendiri. Bahkan dari selera asli para penulis di masa lalu itu muncul trend-trend baru. Saat ini apa yang diinginkan pasar akan diburu mati-matian sehingga kebanyakan orang bergerak ke arah sana untuk menjadi yang diburu. Ini juga masalah buat saya karena saya paling tidak suka selera kebanyakan. Kalau semua orang sudah membuat satu resep biasanya saya melihatnya saja sudah kenyang dan ingin membuat hal lain. Tetapi kenyataannya sesuatu yang melawan selera pasar memang agak susah dijual. Masalah ini saya hadapi dengan mempelajari selera pasar dan mengaplikasikan apa yang saya sukai ke dalamnya. Mungkin masih bergerak ke arah pasar sedikit, tetapi elemen-elemennya masih sesuatu yang saya sukai. Misalnya cerita remaja tetapi dengan muatan masalah yang lebih berat bukan hanya percintaan.

  1. Melawan Instant

Era digital menyuguhkan segala sesuatu yang berbau instant. Menulis di platform digital sangat berbeda dengan menulis pada masa lalu. Menulis di platform digital kita bisa mencicil novel yang kita tulis lalu menguploadnya untuk dibaca banyak orang. Kelebihannya, penulis jadi tertantang untuk cepat menyelesaikan tulisan itu. Sementara kekurangannya penulis tidak memiliki banyak waktu untuk mengendapkan karyanya dan merenungkan karyanya sebelum benar-benar diunggah. Saya menyiasati ini dengan gaya lama yaitu menulis sampai selesai, melakukan pengendapan dan menguploadnya setelah benar-benar siap. Proses ini akan melawan hal-hal instant yang disuguhkan era digital.

  1. Media Yang Rumit & Generasi Yang Beda

Untuk penulis jadul seperti saya media digital kadang-kadang menyulitkan. Saya perlu menyesuaikan diri beberapa lama untuk mempelajari menu-menu yang ada disana. Entah menu upload, menu hapus, dan banyak lagi. Tentu tidak mudah bagi mereka yang gaptek untuk memasuki era ini karena jangankan terlibat didalamnya, masuk ke platformnya saja seringkali tidak paham. Tak hanya itu generasi pengguna platform ini jelas generasi baru yang sangat berbeda. Selera mereka seringkali membuat saya menghela napas karena saya tidak memahaminya. Tetapi saya mencoba untuk menyesuikan diri dengan generasi ini, tetapi menulis hal-hal yang saya sukai dan sesekali membumbuhi dengan hal-hal yang terjadi pada generasi mereka. Untuk platform kebetulan saya suka ngoprek jadi meski membutuhkan waktu untuk memasukinya masih tidak terlalu bermasalah.

  1. Royalti Sesuai Viewers

Sebenarnya ini mirip dengan royalty yang sesuai dengan jumlah buku yang terjual. Hanya saja karena sesuai viewers maka selera pasar akan sangat mengendalikan penghasilan seorang penulis di era digital. Karya-karya dengan viewers banyak sudah pasti memiliki penghasilan lebih meskipun mungkin karya itu biasa-biasa saja. Sementara karya-karya yang sepi viewers tentu penghasilannya sedikit. Namun pada masa lalu, penulis buku masih mendapatkan DP dari bukunya dengan jumlah yang lumayan, apapun isi bukunya. Sementara pada masa digital semua hal diserahkan pada selera pasar.  Untuk masalah yang satu ini, ya.. bagaimana ya? Karena saya tidak mau menyerah begitu saja mengikuti selera pasar secara mentah-mentah, maka saya berusaha rajin mengiklankan link karya saya di platform digital ke social media.

Yeah, era digital bagi penulis jadul benar-benar melelahkan. Tetapi jangan menyerah wahai penulis jadul, mau tidak mau zaman memang pasti berubah dan kita harus pandai-pandai menyesuaikan diri kecuali cepat mati tergilas. Tetap semangat berkarya untuk saya sendiri khususnya dan teman-teman penulis jadul yang masih berjuang menyesuaikan diri. Semangat!

YOUTUBE CHANNELS SERIBULANGKAH

Akhirnya saya membuat YOUTUBE CHANNELS juga untuk SERIBULANGKAH karena memiliki banyak video dan foto perjalanan yang bisa teman-teman ikuti secara visual. Detail cerita perjalanan di blog ini, tetapi jika ingin mengikuti diary SERIBULANGKAH secara visual bisa di YOUTUBE. Teman-teman subscribe dong….. Terima kasih.

Akan banyak video-video di sana. Berikut linknya…