Tanah Suci dan Cinta

January 22, 2015
5 mins

“Tidak ada cinta yang abadi selain cinta-Nya”


Banyak orang bilang, melakukan perjalanan ke tanah suci tidak hanya membutuhkan uang tetapi juga membutuhkan undangan dari Allah. Menurutku itu benar!
Ada satu masa dalam hidupku, aku bisa melakukan perjalanan itu dengan mengandalkan uang. Tetapi kenyataannya aku sama sekali tidak berminat dan memilih melakukan perjalanan ke negara lain. Bahkan saat kakak dan teman mulai mengkritik perjalanan-perjalananku ke beberapa negara dan menunda keberangkatanku ke tanah suci, aku mulai marah. Kenapa mereka ikut campur urusanku? Aku mau kemanapun itu uangku dan itu urusanku. 
Tetapi pada pertengahan tahun 2014 segalanya berubah. Tidak hanya berada di titik kritis kehidupan dengan berbagai masalah, sisa trauma yang susah disembuhkan dan luka baru yang datang tiba-tiba, tetapi aku juga sangat merindukan pergi ke tanah suci. Rindu yang sangat. Padahal aku sama sekali tidak punya uang untuk membayar paket perjalanan ke tanah suci. 
Apa yang bisa kulakukan? Aku dengan gegabah mendaftar ke satu agen travel umroh lalu mencairkan sisa tabungan yang jumlahnya hanya separuh dari harga paket yang mesti kubayar. Lalu sisanya bagaimana? Masih sibuk mikir gimana dapat uang separuhnya lagi, agen travel mendesak terus sampai seperti rentenir mengejar buruannya padahal masih ada waktu satu setengah bulan lagi. Merasa tidak nyaman dikejar-kejar sekaligus panik bagaimana mencari separuh uang itu, aku memutuskan membatalkan bergabung dengan travel ini dengan resiko kehilangan uang pendaftaran. Jadi uangku yang sudah nggak cukup makin aja nggak cukup.

Tapi aku tidak menyerah. Aku memutuskan daftar lagi di salah satu pameran travel dan disana mendapatkan diskon sebanyak uang pendaftaranku yang hilang di travel sebelumnya. Tetapi masalahnya uangku tetap masih kurang separuhnya. Dari mana aku akan mendapatkan kekurangan uang itu? Tiba-tiba pulang dari mendaftar, rezeki itu datang. Separuh uang yang kurang plus uang saku sekitar satu juta sampai di tanganku. Alhamdulillah. 

 
Apakah semudah itu? Ternyata tidak. Sebulan menjelang berangkat aku sakit-sakitan. Darah tinggi sampai 175/110 dan sempat pingsan di blok M. Bahkan kondisi depresiku semakin parah. Aku seperti tidak punya harapan melanjutkan hidup, tidak punya semangat dan sangat sedih. Makan susah dan tidur tidak nyenyak. Berat badan susut begitu banyak. Apa yang terjadi denganku? Keluargaku bingung juga sahabat-sahabatku. Seorang sahabat muslimah dari Kanada bilang, ”Allah akan menyembuhkanmu di tanah suci nanti sis, kalau perlu teman bicara aku akan selalu ada.” Dan, melalui email-email yang panjang, aku menumpahkan semua kegalauanku. Kegalauan yang aku sendiri kurang tahu pasti karena apa. Dengan sabar dia membaca dan membalasnya sekaligus mensupport bahwa aku akan baik-baik saja. Terimakasih sahabat.
Hingga hari keberangkatan itu tiba. 12 Januari 2015.
Begitu mendarat di Madinah dan naik bis menuju hotel air mataku tumpah ruah. Memandangi hamparan tanah haram, mataku tidak percaya. Benarkah aku sudah sampai? Inilah tanah haram? Di sinikah Islam yang kupilih sebagai petunjuk hidup dan matiku berawal? Islam yang membuatku jatuh cinta sejak aku kelas dua SD. Aku terisak-isak terus dalam perjalanan ke hotel. Menarik perhatian beberapa orang di bis, tapi aku tak peduli. Lagipula aku tidak bisa mengendalikan perasaanku yang tidak menentu.
Pada hari pertama kedatangan itu, aku bisa menikmati makanan dengan lahap. Kesehatanku prima dan aku bisa mengikuti semua ibadah tanpa jeda. Dengan waktu tidur hanya 2 jam permalam, aku sangat kuat, sehat dan semangat. Subhanallah! Hari demi hari semakin membuatku semangat. Apalagi begitu menginjakkan kaki di Mekah. Aku menangis bahagia. Sangat bahagia. Semua penyakitku sepertinya terbang hilang. Semua luka berasa menguap. Semua trauma berasa lenyap. Yang tertinggal hanya cinta. Cinta-Nya.
Tidak hanya merasakan cinta-Nya yang begitu nyata dan kuat, cerita hidup teman-teman dalam perjalanan ini membuatku banyak merenung. Tidak ada manusia yang lepas dari cobaan. Salah seorang teman yang selalu tersenyum, gemar menolong dan tidak pernah menampakkan kesedihan ternyata baru kehilangan suaminya. Mereka baru saja menikah empat bulan dan sang suami dipanggil menghadap Rabb-Nya. Lalu pasangan senior yang tidak dikaruniai putra dan selalu kelihatan gembira. Pada akhirnya manusia hanya singgah sebentar di dunia dengan segala senda guraunya. Tujuan akhirnya adalah akherat dan pertemuan dengan Tuhan-nya. Lalu kenapa kita begitu sedih, sedangkan cinta-Nya begitu besar?
Kini, aku juga sadar kenapa orang-orang sholeh tersenyum saat kembali menemui Rabb-Nya. Karena mereka bahagia bertemu kekasihnya. Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya mereka saat bertemu Rabb-Nya. Sedangkan aku yang bergelimang dosa saja, sangat bahagia bisa berdekatan dengan Allah. Aku merasa cinta-Nya memancar begitu indah, menyembuhkan semua luka-luka. Aku ingin kembali ke tanah itu. Ya Rabb, panggillah aku kembali.
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer
NEXT ARTICLE

Leave a Reply

  • (not be published)