February 06, 2020
4 mins

Tiga bulan terakhir saya sibuk mengerjakan buku kenangan sebuah organisasi yang bentuknya seperti ensiklopedia tokoh yang menceritakan perjalanan hidup 32 orang di dalamnya. Meskipun ini hal baru dalam dunia kepenulisan yang saya jalani nyaris 15 tahun, tetapi menurut saya sangat menarik. Pertama karena saya sedang kurang nyaman menulis untuk industri dengan deadline yang sangat ketat sementara hypertensi mengincar saya sewaktu-waktu. Kedua, saya memang suka belajar hal baru apapun itu terlebih dalam dunia kepenulisan. Saya sudah lama selalu tertantang untuk belajar berbagai model kepenulisan mulai dari fiksi, artikel, opini, skenario, drama panggung dan yang terbaru penulisan biografi.

Sejak dulu, saya selalu belajar sambil langsung bekerja mulai dari menulis cerpen, novel, artikel hingga skenario. Dan begitu juga kali ini.  Saya membaca buku apa saja, tak terkecuali biografi. Dan bekal bacaan saya serta sedikit teori inilah yang menjadi pegangan saya memulai bekerja. Maka sudah pasti pertama yang saya lakukan adalah mencari narasumber untuk diwawancarai. Dari ensiklopedia 32 orang itu saya menemukan banyak hal menarik dari pribadi-pribadi mereka yang kemudian sangat menginspirai saya sendiri. Misalnya bagaimana mereka tetap menjalani hidup aktif tanpa malas-malasan dan penuh semangat di usia 60 tahunan ke atas. Bagaimana mereka tetap berkarya dan berguna untuk orang lain meskipun sudah usia senja.

Tetapi tokoh yang paling berkesan bagi saya adalah satu sosok yang menurut saya sangat inspiratif. Ia adalah seorang wanita hebat. Pengabdiannya untuk wanita di sekelilingnya perlu diacungkan jempol. Bagaimana tidak? Panggilan hidupnya adalah untuk memajukan wanita di sekelingnya menjadi wanita yang cerdas, mandiri dan setara dengan laki-laki dalam berdiskusi. Wanita menurut tokoh satu ini harus berani mempromosikan dirinya, keluar dari kungkungan budaya patriarki sehingga ia tidak hanya menjadi obyek dalam banyak tempat. Wanita harus menjadi subyek yang dominan dalam segala aspek kehidupan tanpa meninggalkan kodratnya sebagai wanita. Lelaki memang imamnya, tetapi wanita harus bisa menjadi mitra diskusi yang setara bagi laki-laki.  Sampai di sini saya mengagumi pemikiran-pemikiran sekaligus kegiatan-kegiatan kongkrit yang beliau lakukan untuk mewujudkan cita-citanya membebaskan wanita dari jurang kebodohan ini.

Bukan hanya itu, banyak hal yang saya kagumi dari tokoh satu ini. Beliau tentu saja bukan orang biasa baik secara materi, jabatan maupun asal usulnya. Tetapi beliau bisa berbaur dengan penulisnya yang “apa adanya”, bahkan bisa mencomot makanan yang sama di satu piring. Hal lain yang saya kagumi adalah cara dia menghargai waktu. Dia orang yang sangat ontime meski usianya sudah lewat 60 tahun dan kadang justru datang lebih awal, padahal seringkali saya yeng membutuhkan beliau bukan beliau yang membutuhkan saya. Caranya menjawab wawancara juga sangat menyenangkan, beliau ngajak ngobrol bahkan curhat, sama sekali tak nampak bahwa beliau salah satu tokoh yang luar biasa. Atau mungkin orang yang sudah sampai pada level tertentu memang begitu? Lebih bisa menempatkan dirinya sendiri ketika bertemu siapa saja.

Sebagai seorang pemimpin beliau bukan tipe one man show, jadi apapun potensi yang ada dalam teamnya beliau kembangkan sehingga orang-orang yang ada dalam teamnya maju dan berkembang. Sayapun ketika pertama bertemu dan terlihat diam, beliau langsung memahami pribadi saya dan berusaha memancing saya agar saya bisa menunjukkan kemampuan saya. Sungguh ini pengalaman yang berharga buat saya, bukan hanya soal bagaimana beliau memperlakukan saya, tapi bagaimana kemudian saya harus memperlakukan orang lain di kemudian hari.  Menulis selalu menjadi pekerjaan yang saya cintai apapun rintangannya, dan hal-hal baru yang bisa dipelajari akan terus saya kembangkan demi cinta itu. Terima kasih Ibu inspirasinya!

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)