May 10, 2020
9 mins

“Mengko bengi budhal ning mesjid sakdurunge isya’ yo….(nanti malam berangkat ke masjid sebelum isya’ ya…” suara teman masa kecil saya itu masih terdengar hingga saat ini. Waktu itu umur saya 8 tahun dan baru saja pindah dari kota kabupaten ke pegunungan, sebuah desa terpencil rumah nenek saya berada. Di desa yang belum ada listrik, belum ada aspal dan bertelanjang kaki saat ke sekolah itu, saya memang agak sulit menyesuaikan diri. Apalagi saya memang tipikal introvert. Tetapi teman-teman masa kecil saya bisa menerima saya dan membolehkan saya ikut main bersama. Main boneka, masak-masakan, gobak sodor, badminton dan ‘klacen’ (mandi) dan bermain di sungai waktu siang hari yang panas.  ‘Klacen’ ini yang biasanya menyulut amarah ibu sehingga saya dihukum. Saya dilarang mandi dan main di sungai karena takut mendadak banjir dan terbawa arus. Tetapi saya sering menyelinap pergi ke sungai saat Ibu tidur siang. Paling-paling waktu pulang sore harinya saya dijewer.

Ramadhan selalu menjadi moment istimewa di masa kecil saya. Bersama teman satu geng, kami mendirikan gubuk kecil di belakang rumah teman saya dan main masak-masakan. Tetapi kali ini main masak-masakannya dengan perlengkapan masak memasak sungguhan, beras sungguhan, daun singkong sungguhan, bubur kacang ijo sungguhan dan dimakannya juga sungguhan meski rasanya terkadang aneh tak terkira. Satu geng kecil itu semuanya puasa, meski ada juga yang hanya sampai beduk dhuhur seperti saya, tetapi setidaknya kami buka puasa bersama di gubuk dengan penerangan lampu minyak dan nyamuk yang luar biasa banyaknya ikut-ikutan buka puasa. Setelah buka puasa dengan menu super aneh itu, kami pulang menyiapkan diri untuk sholat tarawih. Begitu adzan isya’ kami bersama-sama ke masjid dengan penerangan daun kelapa kering yang diikat lalu dibakar ujungnya. Sampai masjid biasanya badan kami apek bau asap tetapi tidak mengurangi kegembiraan kami untuk terus cekikikan menggoda teman-teman yang sholat tarawih.

Usai tarawih, kami langsung pulang ke rumah masing-masing. Saya biasanya menunggu sisa bubur kacang ijo dan peyek yang dijual ibu sambil melihat keramaian orang-orang pulang tarawih. Ibu menjual bubur kacang ijo dan peyek setiap ramadhan agar bisa membelikan saya baju lebaran. Sebenarnya ibu memang selalu menyisakan untuk saya, tetapi biasanya saya menunggu ibu selesai berjualan untuk memakannya. Saya suka makan berdua dengan Ibu sebelum tidur.  Melihat ibu makan dalam diam, saya seperti ikut larut dalam pikiran-pikirannya. Kegemaran makan berdua ibu dan menyelami diamnya itu masih saya lakukan hingga saat ini.  Usai makan berdua, kami lalu tidur.  Baru tidur tiga jam, biasanya jalanan depan rumah kami ramai suara orang menabuh berbagai macam alat musik untuk membangunkan sahur. Sebenarnya kalau dipikir-pikir itu bukan membangunkan sahur tapi mengajak ribut tengah malam saking ramainya. Ada banyak group ronda dengan berbagai macam music yang dimainkan. Tapi saya suka sekali melihat pasukan ronda itu lewat. Saya selalu bangun jam 1 malam lalu mengintip pasukan ronda itu lewat jendela nako kamar saya hingga mereka lewat satu persatu dalam kegelapan. Seperti makhluk gaib, mereka berjalan seperti bayang-bayang dan hanya suaranya yang terdengar memekakkan telinga.

Ramadhan kali ini bagi saya juga sama spesialnya dengan ramadhan pada masa kecil saya. Jika orang lain merasa kesepian karena banyak hal-hal yang berbeda saat ramadhan ini, tetapi buat saya kebalikannya. Sudah bertahun-tahun saya menjalani ramadhan sendirian hanya bersama orang-orang di masjid dekat rumah saya, karena keluarga saya saat ramadhan selalu pulang kampung dan saya harus bekerja mengejar deadline tayangan ramadhan hingga menjelang Idul Fitri. Ujungnya saya tidak bisa merayakan ramadhan di kampung karena kehabisan tiket kereta atau pesawat. Jadi tahun-tahun sebelumnya saya lebih banyak menjalani puasa ramadhan sendirian dan Idul Fitri sendirian. Tetapi tahun ini berbeda. Karena tidak ada yang bisa pulang kampung saya jadi ada temannya. Salah satunya bisa mengulangi kegemaran saya makan berdua dengan ibu sambil menyelami pikiran-pikirannya saat beliau terdiam menikmati makanannya.

Hari ini adalah hari ke 17 kami menjalani ramadhan bersama. Juga sudah dua bulan dalam isolasi karena pandemic covid-19. Saya bertugas keluar rumah beberapa hari sekali untuk belanja ke tukang sayur dan minimarket dengan perlengkapan seolah mau perang setiap keluar rumah. Masker, cairan pencuci tangan, kacamata dan perasaan was-was setiap bertemu manusia lain.  Pulang dari belanjapun tidak main-main hebohnya. Saya selalu mencuci tangan dan kaki di depan rumah lalu masuk kamar mandi mengganti pakaian sekalian mandi, mencuci semua barang belanjaan, menyemprot kendaraan dengan desinfektan dan mengelap uang kembalian serta semua kartu yang ada di dompet dengan alcohol. Tinggal di daerah zona merah membuat kami selalu waspada dengan musuh yang tak terlihat itu. Ibu sudah berusia lanjut dan saya punya penyakit bawaaan, jadi kami harus lebih bersiaga. Tetapi alhamdulillah, sampai hari ini kondisi kami baik-baik saja. Memang sudah mulai didera sedikit stress dan stuck karena di rumah saja, tetapi setiap perasaan stress itu datang saya berusaha mengingat orang-orang yang tidak lebih beruntung dari saya sehingga bisa banyak dirumah saja.

Di luar sana banyak orang yang tetap harus bekerja karena mereka pekerja harian, lebih banyak lagi yang di PHK dan tidak bisa makan, dan cerita menyedihkan lainnya. Saya sendiri sudah tidak bekerja sejak pandemic karena semua syuting dihentikan. Saya masih menulis karena memang menulis sudah menjadi bagian hidup saya, tetapi proyek-proyek scenario yang mendatangkan penghasilan semua sudah dihentikan. Saya melihat di timeline social media, penerbit-penerbit juga mengurangi jumlah penerbitan buku mereka bahkan sebagian penulis mengeluhkan royaltinya. Saat-saat ini banyak sekali teman-teman yang kehilangan pekerjaannya. Tetapi dalam kondisi buruk ini, banyak juga hal baik yang tumbuh. Saya melihat solidaritas menyebar dimana-mana, orang-orang saling membantu satu sama lain, mengirim makanan satu sama lain dan peduli dengan penderitaan orang lain. Selalu ada hal baik dalam setiap kejadian. Saya percaya itu.

Saya menemukan satu tulisan bagus di media social yang judulnya “We are not in the same boat,” tentang renungan pandemic ini. Sang penulis yang tidak disebutkan namanya menuliskan tentang perjalanan banyak orang mengarungi badai pandemic. Semua orang mengarungi badai dengan caranya dan penderitaannya masing-masing tetapi tidak dalam satu perahu yang sama.  Ada yang memiliki keberuntungan bisa bekerja dari rumah, tetap digaji dan pandemic ini justru menjadi waktu yang berharga untuk berkumpul dengan keluarganya karena sebelumnya pekerjaan mereka sangat menyita waktu. Ada yang harus bertarung diluar rumah karena pekerja harian untuk menghidupi keluarganya. Ada yang tenggelam dalam kesepian yang menyakitkan karena dia hidup sendirian. Ada yang baru mengenali kebiasaan anak-anaknya karena selama ini hanya diurus oleh orang lain. Dan ada yang kehilangan keluarganya karena pandemic. Banyak hal terjadi pada orang-orang di sekeliling kita bahkan mungkin tanpa bisa kita lihat secara nyata. Bagi saya sendiri, saya menemukan banyak hal dalam diri saya pada masa pandemic ini. Saya menemukan kekuatan diri bertahan dari banyak depresi, saya lebih bisa menghargai waktu saya dengan keluarga saya dan saya mengambil kendali hidup saya sendiri setelah banyak dikendalikan orang lain secara emosional.

Apakah kita semua akan keluar sebagai pemenang setelah pandemic ini selesai? Semoga. Ramadhan dan pandemic ini membuat kita menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. **

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)