Travel Mates

April 02, 2015
7 mins

“Have you found the right travel mates?”
Dita, saya dan mantan pacar 😀
Kalau kata penulis buku-buku traveling Claudia Kaunang, “travel mates bisa jadi teman baik, tapi teman baik belum tentu bisa jadi travel mates. Itu bener banget!
Empat tahun lalu ketika saya resign dari kantor, saya memutuskan untuk memulai perjalanan.  Tetapi saya tidak berani melakukannya sendirian. Pertama karena saya sering sakit mendadak dan kedua saya memang penakut.  Menunggu teman yang sudah saya kenal sebelumnya rasanya sulit, karena rata-rata teman saya tidak suka melakukan perjalanan secara nekad dan susah menemukan waktu yang pas. Saya kemudian masuk ke sebuah millist jalan-jalan untuk memantau orang-orang didalamnya dan mencari teman. 
Dita
Sampai suatu hari ada cewek yang posting begini :  “Dear all, gue mau ke Vietnam 4 hari, udah beli tiket Air Asia buat bulan ini tanggal ini, anyone? Email me kalo tertarik join.” Cewek itu namanya Dita. Cuma pake good feeling aja aslinya, saya kemudian respon emailnya dan nanya-nanya sedikit buat mencocokkan pribadi saja. Pertanyaan saya memang agak ndeso sih hehe, karena saya memang asli ndeso. Saya nanya begini, “Loe suka dugem  nggak?” Dia jawab ,” enggak.” Pertanyaan kedua,”Loe traveling bawa pacar?” Dia jawab,” nggak.” Pertanyaan ketiga, “Loe hobby shooping?” Dia jawab, “suka tapi kalo traveling lebih suka nyasar ke tempat asing ketimbang shooping.”  That’s good!  Kayaknya dia nggak jauh beda sih sama saya. “Nggak bisa/nggak suka dugem, nggak bawa pacar dan traveling bukan untuk shooping!” Mendadak saya girang dan semangat. Saya berdoa semoga kami cocok di perjalanan.

Mengelilingi Thailand sama Dita
Pertemuan pertama kami di bus damri bandara dan meski awalnya agak kaku, lanjutannya kami bisa akrab.  Orangnya mandiri khas traveler, selalu pengen tahu, suka pernik-pernik lucu, suka kucing dan hobby banget sama sesuatu yang gratisan buat para backpacker. Hahaha. Siapa sih yang nggak suka gratisan?  Dita juga gampang mengingat suatu tempat meskipun masih aja nyasar is the best.  Oh, nggak hanya itu, dia juga pemberani. Tahun 2013 gegara saya gagal ikut ke Jepang, dia berangkat sendirian selama 10 hari dan menginap couchsurfing.  Perjalanan di Vietnam seru meskipun terlalu singkat. Perjalanan berikutnya kami menyusuri 3 kota di Thailand dalam 10 hari. Beberapa perjalanan kemudian kami rencanakan tetapi gagal, sampai akhirnya kami kembali melakukan perjalanan ke Jepang, menyusuri 4 kota dalam 11 hari. 
Dita dan Icha ngubek-ngubek peta
Dalam perjalanan ke Jepang inilah, Dita mengenalkan saya pada Icha. Teman lain yang juga tergila-gila traveling. Icha tidak jauh beda dari kami, dia juga tidak suka dugem, tidak bawa pacar dan lebih hobby nyasar ketimbang shooping. Di setiap hostel tempat kami menginap, Icha selalu bangun paling pagi, rajin packing dan nguprek-nguprek temannya buat jalan pagi ngelihat sekeliling. Icha juga selalu membawa segala keperluan yang kadang tidak dibawa temannya, perhatian banget sama teman-temannya. Traveling sama Icha artinya nggak usah takut lupa sesuatu karena Icha pasti membawanya dan pasti membaginya. Hahaha. Makasih Icha.

Icha
Tidak hanya mereka berdua teman traveling saya, ada satu lagi namanya Sita. Saya mengenal Sita di internet dan melakukan briefing sebelum berangkat ke Korea Selatan tahun 2012.  Ceilaaa resmi banget pake briefing segala, hahaha! Sita mengenakan jilbab, hobby nyasar juga dan suka bergaul dengan orang lokal.  Pernah kejadian waktu kami naik subway, tiba-tiba beberapa orang minta foto-foto sama kami, eh, ternyata itu kenalan barunya si Sita di subway. Hadehhh! Sita penggila drama Korea dan dibelain nyasar seharian buat nyari kantor si managemen artis pujaannya. Tapi kehebohan nyasar terbayar setelah berhasil menemukan gedungnya di Gangnam District diantar cowok Korea keren pula. Meskipun waktu masuk mobil cowok korea keren itu, saya sampai baca ayat kursi saking takutnya mau dibawa kemana.  Dalam perjalanan dengan Sita juga, saya mendapatkan banyak teman baru dari berbagai negara yang masih komunikasi hingga hari ini. Terakhir saya merencanakan umroh bareng Sita tapi Allah sepertinya merencanakan hal lain. Waktu kami tidak cocok dan kami pergi sendiri-sendiri.
Sita dan saya di Korea
Dari pertemanan traveling ini lama kelamaan meningkat jadi persahabatan. Saya, Dita dan Icha punya group khusus yang tanpa direncanakan sudah menjadi tempat berbagi tips perjalanan, info tiket promo, rencana perjalanan berikutnya, berbagi mimpi dan tempat curcol. Kami juga terbiasa berbagi tugas dalam merencanakan sebuah perjalanan. Ada yang pesan tiket, ada yang pesan hostel, ada yang bikin itenerary dan mencari info tempat yang mau dikunjungi. Pembagian tugas itu sudah otomatis terjadi dengan kesadaran dan kemandirian masing-masing.  Kami saling menghargai dan toleransi kemana saja tempat yang masing-masing ingin kami kunjungi.  Jika sesuatu terjadi dan ada yang tidak terpenuhi, kami saling berbesar hati dan berpikir positip plus ngarep dengan kata-kata andalan,”ini artinya kita akan ke sini lagi buat melihat yang belum kita lihat.”
Dita dan Icha
Dalam salah satu perjalanan pendek naik kereta, seseorang bertanya pada kami,”Kalian bekerja di tempat yang sama? Satu kampung? Satu kampus atau sepupu?” Dan semua jawabannya “Tidak,” tapi kami disatukan oleh “kegilaan yang sama dan kehausan yang sama mengintip dunia yang berbeda dari dunia yang kita lihat setiap hari.” 
Ketemu Dina Duaransel di Chiangmai
Dan… persahabatan selalu butuh waktu. Kita tidak bisa memaksa setiap orang yang kita temui atau orang yang baru kita kenal menjadi sahabat. Label sahabat selalu butuh proses panjang terkadang jatuh bangun. Ada kalanya bahkan persahabatan itu kadaluwarsa dan tidak bisa dilanjutkan lagi. Saya, Dita, Icha dan juga Sita sepertinya tipe orang yang santai memandang label sahabat. Kami tidak membebani satu sama lain dengan label sahabat. Tetapi mengalir dan bertumbuh dalam setiap ketikan di whassup.“Tahun ini kita kemana? Eh, ada tiket promo noh! Ketemuan yuk? Naik kereta yuk! Udah, jangan sedih mending browsing tiket promo! Dan bla bla bla lainnya.” Lalu seribu rencana mengalir dan seribu mimpi menunggu terealisasi.
Terimakasih sahabat perjalananku, kalian sudah sabar menemani saya dalam setiap perjalanan, meskipun kalau moody saya kambuh saya suka rese. Hihihi 
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)