Mengingat Desember Di Macau Mosque & Cemetery (2)

January 22, 2015
3 mins


Masjid itu memang satu komplek dengan pemakaman muslim. Tampak lengang dan tidak nampak seorangpun di sana. Aku dan Meidy melangkah menuju pelataran belakang masjid yang dekat dengan pemakaman dan menemukan seorang wanita berjilbab hitam panjang sedang menangis. Aku dan Meidy saling pandang lalu memutuskan untuk duduk di samping wanita itu tanpa bicara apapun. Saat dia mengangkat wajahnya, aku bisa mengenali bahwa dia orang Indonesia. Ia tersenyum padaku dan Meidy lalu mengusap air matanya.
Masjid Macau
“Teman saya dari Indonesia sakit dan meninggal.  Dia masuk Macau dengan ilegal. Saya berharap masih bisa dimakamkan di sini,” katanya.
“Sakit apa?”
“Demam tinggi,” jawabnya. “Inilah susahnya kalau ilegal, kalau nggak dapat ijin dimakamkan di sini, kemungkinan dia akan di kremasi.”
Rumah nenek Aisha
Dan ia menangis terisak-isak lagi. Adzan dhuhur berkumandang, tampak beberapa lelaki berwajah Indonesia memasuki masjid dan mbak jilbab hitam bangkit dari duduknya untuk mengambil wudhu. Ia sempat bertanya kami siapa dan berasal dari Indonesia mana. Dalam sekejab kami sudah akrab seperti layaknya saudara. Tak lama kamipun sholat berjamaah.
Aku, nenek Aisha dan si mbak
Usai sholat jama’ah, seorang nenek masuk ke dalam masjid. Si mbak memperkenalkan kami ke nenek yang berwajah chinese ini. Beliau seorang mualaf dan tinggal di rumah mungil dekat masjid sendirian. Nama mualaf nenek ini Aisyah. Karena iman Islamnya, dia rela meninggalkan keluarganya dan hidup sendirian di usianya yang sudah renta. Subhanallah. Si mbak yang sering mengirimi nenek ini makanan setiap ke masjid. Aku jadi berkaca-kaca melihat kondisi nenek, rumahnya dan kekuatan iman Islamnya.
Karena ada titipan salam dari headwriter, aku diantar si mbak menemui imam masjid. Ternyata beliau berasal dari Sumatera. Rasanya lega setelah menyampaikan titipan salam. Kami menunggu ashar sambil menemani si mbak menunggu jenazah temannya. Tetapi sampai adzan ashar berkumandang, jenazaha tak juga datang. Ternyata si teman sudah di kremasi dan tidak bisa dimakamkan di sini. Si mbak menangis lagi, tetapi sambil terus berdoa untuk temannya.
Pemakaman di areal masjid
 Usai ashar kami memutuskan pulang. Karena tidak tahu jalan pulang ke hotel, si mbak berbaik hati mengantarkan kami sampai terminal. Sepanjang perjalanan kaki menuju terminal, si mbak cerita suka dukanya bekerja di negeri yang jauh dari kampung halaman. Tujuh tahun sudah si mbak merantau, bermula dari Hongkong. Ia bekerja untuk membiayai anak-anaknya. Pernah dikejar-kejar polisi karena berjualan asongan. Sampai kemudian dia bekerja di Macau sebagai pembantu rumah tangga. Sementara suaminya menceraikannya. “Hidup memang tidak selalu mudah, tetapi juga tidak sulit jika kita mau mensyukurinya,” katanya.
Sebelum berpisah, kami berpelukan lalu menghilang di keramaian terminal. Aku sendiri lupa nama si mbak dan lupa minta nomor handphonenya. Tetapi aku berharap suatu hari kalau aku ke Macau lagi bisa bertemu dengan Mbak ini. Semoga.
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)