Saigon, Vietnam

November 11, 2012
4 mins

PARIS IN THE ORIENT

When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.” – Clifton Fadiman

Saigon

  Perjalanan saya ke Saigon sangat singkat , tetapi lumayan mengesankan. Kadang-kadang saat kita terburu-buru mengunjungi suatu tempat justru ingin memaksimalkan segala sesuatunya dan seluruh waktu tidak ada yang terbuang. Begitu juga saat saya melakukan perjalanan ke Saigon.

Pedagang Keliling

Museum Perang

Restoran halal Saigon

Penjual Kartu ucapan

Saigon sekarang lebih dikenal dengan Ho Chi Minh City (HCMC). Pernah berganti nama sampai beberapa kali. HCMC dulunya merupakan kampung nelayan Prey Nokor yang dihuni oleh Khmer dan berada di bawah kekuasaaan Kerajaan Khmer atau Kamboja. Awal abad ke 17 dengan seizin Raja Kamboja, pengungsi dari Vietnam mulai berpindah ke Prey Nokor. Para pengungsi kemudian menamakannya Saigon. Dinas ti Nguyen yang memerintah Vietnam pada abad ke 17 akhirnya mengoneksasi Saigon lalu memberi nama Gia Dinh. Nama Saigon baru resmi dipakai ketika penjajah Prancis menaklukkan Vietnam tahun 1960-an. 

Kantor Pos Saigon

Cu Chi Tunnel

singkong ala Cu Chi Tunnel

Masjid satu-satunya di Saigon

Penjajah Prancis kemudian membangun gedung-gedung megah. Saigon disulap menjadi kota cantik hingga mendapat julukan “Paris in The Orient”. Saigon juga dijadikan ibukota Cochinchina, sebutan bagi jajahan Prancis di Indochina. Selain menjadi pusat pemerintahan, Saigon juga menjadi pusat perdagangan penting di Delta Sungai Mekong. Setelah Saigon jatuh di bawah pemerintahan komunis Vietnam Utara, nama kota itu diganti menjadi Ho Chi Minh City, sebagai bentuk penghormatan terhadap Ho Chi Minh, pemimpin tertinggi Vietnam kala itu. Sampai sekarang HCMC dipakai sebagai nama resmi, namun sebutan Saigon tetap lazim digunakan dalam suasana tidak resmi.

Puppet Show

Saigon malam hari

video clip

menunggu pesanan mie

pelukis kartu

Menikmati kota Saigon seperti mengenang Indonesia di tahun 80-an dengan model bangunan, jalanan dan kendaraan yang mereka gunakan. Bahkan saat saya melihat televisi dengan video-video clip yang nyaris seperti jaman Tomy J Pissa, menyanyi di tengah jalan dengan angin memburaikan rambut sang penyanyi. Dramatis dan oldist.  Jalanan dipenuhi dengan motor yang menyemut dan menyulitkan ketika menyeberang. Saya lebih banyak menggunakan taksi dan paket tour ketimbang melakukan perjalanan sendiri karena tranfortasi umum sedikit susah. Tapi tak menyurutkan niat saya untuk menikmati kota ini. Bukankah setiap tempat selalu menawarkan hal yang menarik? 

bergaya di depan kantor pos
jajanan pinggir jalan

Patung menimang anak

Notre Dame Catedral

hiasan bunga mai di jalanan

Berbagai tawaran lokasi wisata bisa kita kunjungi di sana dan saya menyempatkan diri mengunjungi museum perang, Cu Chi Tunnel, menyusuri pusat kota, shalat di satu-satunya masjid di negeri Komunis ini, nonton the puppet show dan belanja di Ben Thanh Market sebelum kembali ke Indonesia. Perjalanan singkat ini memang kurang membekas bagi saya, tapi saya menemukan magnet yang kuat saat menemukan bunga Mai di meja kafe. Saya membayangkan seseorang meninggalkan bunga itu untuk saya, bunga keabadian. Dan saat saya kembali ke Indonesia, bunga Mai itu sudah menjadi satu cerita pendek yang dimuat di majalah Femina.

So? Setiap perjalanan selalu memberikan sesuatu yang berharga. Dan saya selalu membuktikan itu dengan memaknai setiap perjalanan.













Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)