May 12, 2019
6 mins

“Ramadhan does not come to change our schedules. It comes to change our hearts.”

Masjid Omar Ali Saefuddien

Saya percaya perjalanan itu berkaitan dengan takdir. Begitu juga perjalanan saya ke Brunei Darussalam ramadhan ini. Selama 9 tahun menjalani hobby backpacker, Brunei tidak sedikitpun terlintas dalam kepala saya untuk dikunjungi karena saya selalu mencari tempat-tempat yang etnik dan eksotis. Tapi nyatanya saya malah mendapat tiket gratis return ke Brunei Darussalam. Dan berangkatlah saya ke negara terkaya kelima di dunia dari 182 negara yang memiliki ladang minyak bumi dan gas alam  versi Forbes ini.

 

Dengan penerbangan pagi dari Kualalumpur, di gate ruang tunggu keberangkatan saya bertemu seorang bapak-bapak dari Malang yang bekerja di salah satu bengkel di Brunei Darussalam selama tiga tahun terakhir setelah sebelumnya bekerja di Malaysia. Banyak orang Indonesia bekerja di sini, entah itu di rumah tangga atapun mereka memiliki usaha sendiri. Di restaurant samping hotel tempat saya menginap, waitresnya juga gadis dari Madiun, Jawa Timur.  Maka tidak mengherankan kalau saya sering mendengar percakapan bahasa Jawa di beberapa tempat.

Penerbangan dari Kualalumpur ke Brunei Darussalam memerlukan waktu 2 jam. Brunei International Airport tampak kecil, rapi dan efisien. Perjalanan kali ini saya memesan shuttle hotel karena menurut informasi angkutan umum di sini agak susah dan harus menunggu lama. Maklum kebanyakan penduduk Brunei menggunakan mobil pribadi sehingga ( sepertinya) angkutan umum tidak begitu diperlukan.  Tetapi kita bisa menggunakan aplikas taksi online DART yang biayanya lebih murah dari taksi umum. Sopir yang menjemput saya di airport sangat ramah dan berbahasa Melayu yang mudah saya pahami. Baru ngobrol dengan sopir ini saja, saya sudah mendapat feeling saya akan suka perjalanan ini. Dan benar, saya menyukai perjalanan saya.

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tidak banyak yang bisa dilihat di sini. Tetapi jika anda suka bertemu orang-orang baru dari berbagai belahan dunia dan mempelajari karakter-karakter mereka maka anda akan suka berkunjung ke sini.  Kebanyakan orang Brunei ramah, hangat dan suka menolong. Setidaknya itu yang saya rasakan sejak saya datang. Mereka selalu tersenyum, memberi informasi detail tentang negaranya, dan sikapnya hangat. Saya yang memang suka tersenyum saat bertemu orang asing sekalipun jadi merasa nyaman di negara ini karena mereka juga tersenyum balik pada saya.

Terdiri dari 4 distrik yakni Belait, Brunei dan Muara, Temburong dan Tutong, negara kecil ini sangat sepi.  Penduduk asli mengatakan bahwa negara mereka ramai pada hari raya lebaran atau hari jadi Sultan. Saya memilih tinggal di Gadong, kawasan yang menurut informasi paling ramai karena banyak ruko, mall dan restaurant di banding tinggal di kawasan Bandar Seri Begawan yang jam 7 malam sudah sepi. Meskipun begitu untuk orang yang biasa tinggal di kebisingan Jakarta, Gadong inipun masih sepi.  Tetapi kondisi sepi ini tidak menakutkan, justru bagi saya terasa nyaman dan tenang.

Ada beberapa tempat wisata yang bisa anda kunjungi di Brunei Darussalam seperti Kampong Ayer, Masjid Omar Ali, Istana Nurul Iman, Jerudong Park, The Royal Regalia Museums dan Masjid Sultan Hassanal Bolkiah.  Saya baru mengunjungi Regalia Museums dan Masjid Omar Ali Saifuddin pada tulisan part 1 ini karena lebih suka banyak diam di masjid selain udara yang panas dan menghemat energi karena sedang puasa.

Regalia Museums terletak di pusat kota Bandar Seri Begawan dan buka setiap hari mulai pukul 9 pagi hingga pukul 5 sore kecuali pada hari Jum’at yang hanya buka pukul 9 pagi hingga pukul 11.30 siang.  Museum yang berisi tentang sejarah Brunei dan tribute untuk Sultan ini sangat menarik untuk dikunjungi dan gratis. Semua tempat wisata di Brunei tidak menggunakan tiket berbayar untuk memasukinya.

Tidak jauh dari Regalia Museums, hanya dengan berjalan kaki sekitar 10 menit saya menemukan Masjid Omar Ali Saifuddien. Masjid ini dinamai berdasarkan Omar Ali Saifuddien III, Sultan Brunei ke-28. Masjid ini diselesaikan pada tahun 1958 dengan arsitektur Islam modern yang memadukan arsitektur Mughal dengan gaya Italia. Masjid ini dibangun diatas laguna di tepi sungai Brunei di Kampong Ayer dengan menara kubah emas dan dilengkapi dengan taman indah yang mengelilingi masjid. Ada jembatan yang membentang diatas laguna menuju replika perahu kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke 16.

Saya merencanakan diam di masjid ini mulai ashar hingga waktu berbuka puasa. Ternyata menjelang berbuka puasa banyak pekerja migran dari India, Bangladesh dan Indonesia berkumpul di sini untuk berbuka puasa bersama. Saya kemudian bergabung dengan mereka berbuka puasa di sini. Banyak yang menyiapkan makanan dan minuman untuk orang-orang yang berbuka di masjid. Dan sayapun kebagian makanan itu. Di tengah para perantau yang mengais rezeki di tanah asing, saya merasakan buka puasa saya begitu berharga.

(to be continued)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)