February 21, 2020
7 mins

Banyak teman-teman saya yang iri  melihat saya liburan saat mereka sibuk ‘ngantor’ di hari Senin. “Enak banget sih lo Ri, liburan mulu. Gue pengen kayak lo,” gitu kata mereka. Trus kalo saya lagi rese nyahutin, “kalo lo pengen kayak gue, resign aja dari kantor lo.” Tapi saya jarang sih rese hahaha, saya lebih suka nyahutin, “sama aja aslinya, kalo lo liburan, gue sibuk di depan laptop ngejar deadline.”

Sejak 2011, saya memutuskan bekerja sebagai ‘freelance writer’ setelah hampir 4 tahun bekerja full time di salah satu televisi swasta. Pekerjaan saya sebagai freelance saat ini sebenarnya nggak jauh beda dari pekerjaan saya saat full time di televisi. Masih berkutat di naskah skenario televisi. Bedanya saat di televisi saya sebagai pemeriksa naskah para penulis sekaligus memastikan naskah itu sejalan dengan visi dan misi program, sementara saat freelancer saya sebagai penulis naskah yang diperiksa oleh orang lain. Apakah pekerjaan saya sebagai freelancer jadi turun pangkat? Dari memeriksa jadi diperiksa? Itu tergantung sudut pandangnya.  Saya memang cinta menulis sejak remaja, jadi lebih suka menulis ketimbang memeriksa. Tetapi karena saya butuh banyak ilmu broadcasting sementara saya tidak punya background pendidikan broadcasting maka bekerja di televisi bagi saya adalah pembelajaran.  Maka ketika saya merasa telah cukup saya kembali lagi ke dunia menulis saya.

Menjadi freelancer kenyataannya tidak benar-benar ‘free’. Dimanapun bekerja pasti berkaitan dengan target, deadline dan profesionalisme. Itu nggak hanya ketika bekerja di kantor, saat bekerja sebagai freelancer malah dituntut lebih. Karena bekerja sebagai freelancer kita akan mudah ‘dibuang’ saat orang yang mempekerjakan kita melihat kekurangan kita misalnya ; tidak tepat deadline, tidak ontime dan memiliki attitude yang buruk. Dunia freelancer penulisan naskah televisi sangat sempit, orangnya hanya itu-itu saja, maka saat keburukan kita muncul akan menyebar dan berputar. Mereka akan enggan memakai kita dari berita buruk yang tersebar tentang hal-hal negatif kita saat bekerja. Karena itulah, bekerja sebagai freelancer justru harus memiliki performa yang bagus baik dalam managemen waktu, kemampuan maupun sikap.

Terus kenapa orang kantoran selalu memandang freelancer itu enak? Mungkin karena saat orang kantoran bekerja maka sang freelancer justru liburan di pulau. Leyeh-leyeh seolah nggak kerja tapi punya uang untuk liburan. Kenyataannya yang terjadi adalah, saat orang kantoran liburan maka sebagian besar freelancer justru bekerja mengejar setoran. Bisa jadi lho malah 24 jam pekerjaannya karena revisi yang tiada henti atau mengejar target tayangan misalnya. Sementara pekerja kantoran bisa 9 to 5 tetapi freelancer saat bekerja bisa sewaktu waktu dibutuhkan. Oh, ini saya ngomongin pekerjaan freelancer yang saya jalani yaitu penulis skenario televisi. Mungkin saja berbeda dengan pengalaman orang lain sebagai freelancer di bidang lain.

Kalau kenyataannya sama saja dengan pekerja kantoran kenapa memilih bekerja sebagai freelancer dengan penghasilan yang tidak aman? Well, buat saya yang suka bebas, bekerja freelance memberi saya sedikit kebebasan untuk memilih pekerjaan yang saya suka tanpa terikat kontrak yang panjang seperti di kantor. Bekerja freelance hanya terikat project per project. Saya nggak akan pusing memikirkan kontrak jangka panjang yang mungkin saja menyesakkan. Saya bisa saya menyelesaikan satu project kemudian tidak mengambil kontrak selanjutnya karena saya kurang sreg, begitu misalnya. Jadi saya masih jadi pengendali keputusan atas project-project yang saya sukai atau tidak. Tidak seperti di kantor mau nggak mau saya harus mengerjakan apapun karena itu tugas saya untuk mendapatkan upah setiap bulannya.

Bagaimana bisa hidup dengan penghasilan yang tidak pasti? Oke, sudah banyak diketahui pekerjaan sebagai freelance ‘writer’ sangat tidak aman. Tetapi sebenarnya tidak sebegitu menakutkan ketika kita bekerja sebagai penulis naskah skenario. Saya tidak suka menyebutkan jumlahnya, yang jelas cukup untuk memehuni kehidupan saya sebagai single.  Tetapi bukan soal penghasilan sih yang memutuskan saya menjadi freelancer atau tidak. Sebenarnya ada satu hal yang saya suka ketika bekerja sebagai freelancer. Yaitu saya merasa lebih dekat dengan Tuhan karena setiap mendapatkan pekerjaan pada saat-saat sulit saya merasa Tuhan mengulurkan tangan untuk saya. Dan saya suka perasaan dekat dengan Tuhan itu.

Then…. kalau kamu freelancer, kamu akan sering mengalami ini. “Kerja di mana Kak?” Lalu kamu menjawab, “saya kerja freelance.” Terus yang nanya bengong nggak paham. Itu sering banget kejadian menyangkut status pekerjaan sebagai freelancer. Awal-awal saya keluar kantor, saya selalu agak malu jika bertemu tetangga dan mereka nanya “nggak ngantor lagi? Pengangguran?” Well, kita akan terlihat seperti pengangguran karena bekerja di rumah. Bahkan pengantar paket kita sendiri terkadang tidak percaya bahwa yang menerima paket itu kita sendiri karena berdandan dengan daster atau piyama sambil kerja dan lari ke depan menerima paket. Jadilah kita dikira ART di rumah kita sendiri.  Tetapi rasa malu saya lama-lama hilang dan berganti cuek. Ngapain saya peduli, saya nggak merepotkan mereka. Hanya mereka saja yang nggak tahu bahwa bekerja tidaklah harus di kantor.

Baiklah, saya sudah melewati dua status pekerjaan itu. 8 tahun bekerja kantoran dan 9 tahun bekerja freelance.  Sepertinya saya tetap akan memilih bekerja freelance meski resikonya lebih besar secara penghasilan dibanding bekerja kantoran. Karena saya lebih bisa memilih mana yang saya sukai atau tidak dalam mengerjakan sesuatu. Dan tentu saja bisa memilih waktu libur yang saya mau (meski kadang ini nggak semudah dikatakan juga).  Buat temen-temen yang pengen resign dan bekerja freelance sebaiknya dipikir kembali. Karena sebenarnya dimanapun selalu ada resiko dan tantangannya masing-masing. Terlihat enak karena kita hanya melihat hal-hal yang enak. Bisa jadi hal-hal sulit belum kita lihat di permukaan. Well, it’s up to you!

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)