February 20, 2020
11 mins

Matahari belum muncul saat saya keluar apartemen dan menyusuri trotoar yang dipenuhi daun-daun merah musim gugur. Saya tak memiliki banyak waktu untuk menjelajahi Saint Petersburg, kota yang pada tahun 1914-1924 bernama Petrograd dan pada masa Uni Soviet bernama Leningrad untuk mengenang Vladimir Lenin. Malam sebelumnya saya sudah nyasar sampai pinggiran sungai Neva yang bersih sekaligus terlihat menakutkan karena ketenangannya. Saya membayangkan sungai Neva menjadi saksi bisu perguliran sejarah di Rusia. Air tenang itu melihat segalanya, tetapi ia tak mengabarkan pada siapapun.

Banyak tempat yang ingin saya tuju di sini. Tetapi waktu yang saya miliki sangat sempit. Tiga hari di tempat ini dengan udara musim gugur yang dingin otomatis kulit tropis saya tidak mudah menyesuaikan diri.  Belum lagi kondisi tubuh saya yang gampang lelah dalam perjalanan dan mimisan. Sebagai orang yang suka menulis dan membaca, tempat yang paling ingin saya kunjungi adalah Perpustakaan Nasional Rusia. Konon disana menyimpan beberapa manuskrip Melayu, termasuk Sejarah Melayu yang pernah dibawa seorang Laksamana dalam pelayarannya sekitar tahun 1798. Tetapi cita-cita mengunjungi perpustakaan itu tak terlaksana karena saya memutuskan ke tujuan touristik yang lain lebih dulu.  Tempat touristik itu adalah Istana Peterhof, Museum Hermitage dan beberapa tempat lainnya.

HANGATNYA SINAR MATAHARI DI TAMAN ISTANA PETERHOF

Suasana jalanan sekeliling istana masih sepi saat saya turun dari taksi online dan turun tepat di samping pintu masuk istana Peterhof.  Hanya beberapa bus lewat dan orang-orang berangkat kerja dengan mengenakan jaket-jaket tebal. Mukanya masih tampak ngantuk dan hanya melirikku sekilas. Saya celingukan mencari pintu masuk ketika menemukan serombongan kecil turis Tiongkok memasuki pintu di ujung. Saya menebak itulah pintu masuknya karena beberapa petunjuk dalam bahasa Rusia. Dan benar saja, pintu masuknya memang di sana.

Memasuki gerbang istana Peterhof, saya langsung berhadapan dengan taman yang indah. Pohon-pohon yang berjajar teratur dengan daunnya yang memerah, air mancur di berbagai sisi, dan bangku-bangku untuk duduk menikmati taman. Masih terlalu pagi dan matahari belum muncul sementara udara sangat dingin. Saya melompat-lompat kecil untuk menghalau udara dingin dan usaha saya lumayan berhasil meski efeknya saya jadi agak lapar sementara dari apartemen belum sempat sarapan.

Istana Peterhof lebih dikenal dengan Istana Musim Panas. Istana dibangun pada masa Peter Yang Agung pada tahun 1714 dan terinspirasi saat ia berkunjung ke Istana Versailles di Perancis. Terletak di tepi teluk Finlandia, Istana Peterhof langsung berhadapan dengan laut. Pembangunan istana ini bersamaan dengan perang antara Kekaisaran Rusia melawan Swedia pada tahun 1700-1721, sehingga Peter Yang Agung mendedikasikan istana ini sebagai istana kemenangan Rusia atas Swedia.

Saya tidak punya waktu untuk memasuki istana yang sangat luas ini jadi hanya berjalan-jalan di areal taman. Untuk memasuki areal dalam kita perlu membeli tiket lagi sekitar 400 ribu rupiah. Di samping kanan dari arah masuk ada konter tiket yang melayani pembelian tiket tetapi kita juga bisa membelinya melalui berbagai aplikasi online. Sementara di sebelah tempat penjualan tiket ada kafetaria. Matahari belum tinggi saat saya melihat jam dan sudah harus kembali ke pusat kota karena ditunggu pemilik apartemen.  Saya sebenarnya belum puas menikmati hangatnya matahari di taman Istana Peterhof, tetapi saya harus berlari-lari kembali ke pusat kota. Saya berharap di kunjungan yang lain bisa menjelajahi keseluruhan istana ini dengan tenang dan detail.

KEHUJANAN DI CHURCH OF THE SAVIOR ON SPILLED BLOOD

Setelah menunggu teman yang berdoa di salah satu gereja, tujuan saya selanjutnya adalah mengunjungi Church of the Savior on Spilled Blood.  Jalanan sangat ramai turis dan warga lokal. Hujan mulai turun saat saya berjalan menyusuri sepanjang sisi kanal menuju gereja. Beberapa orang mengenakan kostum kerajaan Rusia zaman dulu menawari saya untuk berfoto bersama. Saya tahu mereka akan mematok harga mahal saat saya menuruti keinginannya berfoto bersama. Karena mereka tahu saya paham modusnya, eh, malah mereka mengejar saya. Bercanda memang, tapi saya yang takut kehilangan uang rubel saya untuk foto yang tidak saya inginkan maka saya berlari. Mereka mengejar dan menangkap saya sambil tertawa-tawa. “Oh, you’re so small!” Apa makasudnya coba? Tapi mereka tertawa puas melihat saya meronta-ronta kesal melepaskan diri. Lalu begitu saya lepas mereka melambaikan tangan sambil senyum. Nyebelin banget!

Well, sayapun melanjutkan perjalanan menyusuri sepanjang sisi kanal Griboyedov. sambil kesal. Sesampainya di depan gereja ternyata gereja sedang direnovasi dan tidak diijinkan masuk. Di halaman gereja tampak anak-anak sekolahan sedang melakukan kegiatan zombie-zombiean entah apa. Mereka mengenakan pakaian ala hantu-hantuan dengan muka dicoret-coret.  Saya tertarik dengan kegiatan mereka dan mulai memotret-motret mereka. Sepertinya mereka sadar saya memotretnya dan mereka malah bergaya. Katanya mereka sedang ada kegiatan sekolah. Lucunya mereka melihat saya yang memotret nama teman saya di papan yang saya pegang. “Who is Andrew?” tanyanya. Seorang teman memang menitip foto namanya di depan gereja ini agar suatu hari dia bisa ke sini dan berdoa di sini. Saya dan dia berbeda keyakinan, tetapi dia teman baik saya dan saya tidak pernah keberatan dengan titipan foto seperti ini.

Church of the Savior on Spilled Blood dibangun oleh Tsar Alexander III untuk menghormati Tsar Alexander II yang terbunuh pada tahun 1881 di tempat ini. Gereja ini dibangun sejak 1883 hingga 1907.  Gereja ini memiliki arsitektur yang sangat unik dan cantik, tetapi sejak tahun 1930 diubah penggunaannya menjadi museum. Gereja ini menjadi salah satu gereja yang memiliki mosaik paling banyak di dunia. Sayang saya tidak memasuki bagian dalamnya untuk menjelajah lebih jauh.  Anak-anak berpakaian hantu itu masih berlari-lari mengejar temannya, sementara saya duduk di bangku depan gereja. Penjual souvenir di deretan depan gereja tampak berdiri beku merapatkan jaket tebalnya sambil memandang entah. Sayapun melambaikan tangan ke remaja-remaja tanggung berpakaian zombie lalu melintasi penjual-penjual souvenir tanpa membeli. Kejadian berdarah bertahun-tahun lalu di tempat ini kemudian menjadi kenangan untuk dikunjungi.  The Savior on Spilled Blood.

SENJA DI MUSEUM HERMITAGE DAN WINTER PALACE

Sebenarnya saya membayangkan matahari tenggelam di sekitaran istana musim dingin yang ada di tengah kota ini, tetapi sepertinya tidak mungkin. Bagaimana mungkin akan ada sunset sementara hujan mengguyur sejak siang dan langit gelap mendung. Tetapi suasana ini jadi romantis menurut saya karena saya lebih menyukai hujan ketimbang sunset.  Melihat orang-orang mengenakan mantel hitam panjang dengan sepatu boot yang menimbulkan bunyi tersendiri saat menghantam jalanan basah membuat saya berimajinasi kembali ke kejayaan istana musim dingin yang dibangun Peter yang Agung ini. Istana musim dingin ini menjadi salah satu kediaman resmi keluarga kerajaan Rusia pada tahun 1731 hingga 1917. Bergaya Baroque dengan perpaduan warna hijau dan putih, istana ini tampak megah dan sangat luas ;  terdapat ribuan ruangan, anak tangga, pintu dan jendela. Mungkin beberapa hari menyusurinya baru bisa dijelajahi semuanya.

Di komplek istana musim dingin ini pula terletak Museum Hermitage yang merupakan museum terbesar di dunia. Terdapat jutaan karya seniman terkenal seperti Rembrandt, Da Vinci juga Michaelangelo.  Hermitage merupakan satu museum tertua di Rusia.  Benda-benda dari jaman pra-sejarah atau zaman batu dari seluruh wilayah Rusia dikumpulkan di museum ini sehingga kita bisa mempelajari sejarah peradaban panjang Rusia di museum ini. Jika kita ingin melihat bagaimana kekaisaran Rusia pada masa lalu, kita bisa melihat ruangan-ruangan kekaisaran Rusia yang masih asli. Mulai dari zaman Tsar Alexander II hingga Nicholas II. Semua disusun berdasarkan kronologis dan era masing-masing zaman. Mengunjungi museum ini seperti kembali ke masa lalu yang masih asli.

HUJAN DERAS DI KATEDRAL SAINT ISAAC

Malam sebelumnya, beberapa mahasiswa Indonesia yang saya temui di galeria mall menyarankan jika ingin mengambil view foto terbaik dari Katedral Saint Isaac adalah dari taman di depannya yang ada di pinggir sungai dan saat senja turun. Tapi malah kenyataannya saat saya sampai depan katedral hujan deras turun. Saya pun hanya mengambil foto dari samping menunggu moment bus yang lewat lengang dan tidak terlalu bagus. Sebenarnya ingin ke taman pinggir sungai tapi saya malas menyeberang jalan yang cukup ramai di depan saya. Sayapun memutuskan menikmati Katedral Saint Isaac dari pojokan pinggir jalan tanpa menyeberang jalan.

Gereja ini terletak di St. Isaac Square dan merupakan gereja terbesar ke empat di dunia. Dibangun tahun 1881 hingga 1885. Memiliki kubah sebesar 101 meter dilapisi emas murni, gereja ini dibangun untuk menghormati Saint Isaac Dalmatia, sang pelindung dari Peter yang Agung.  Ini merupakan satu tempat dari sekian banyak tempat menarik di Sank Peterburg yang banyak dikunjungi turis. Sekeliling tempat ini juga sangat menarik untuk berjalan kaki atau bahkan nongkrong di kafe. Sayangnya hujan deras dan saya basah kuyup, jadi saya kurang nyaman untuk nongkrong di kafe dengan baju basah kuyup. Sebelum senja benar-benar selesai saya kembali ke pelataran Hermitage lalu mencari taksi online kembali ke apartemen. Terlalu luas untuk menjelajahi Rusia dalam waktu hanya 10 hari. Saya perlu waktu berbulan-bulan untuk kembali suatu saat nanti. Semoga saya bisa kembali.

 

 

Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

Leave a Reply

  • (not be published)