Bermimpi Keliling Dunia & Mewujudkannya

September 14, 2017
7 mins


“Mimpi tanpa tekad untuk mewujudkannya hanya akan menjadi khayalan tidak berguna.”

 

Saya di Emirates Stadium Inggris

 Sejak kecil saya suka bermimpi. Salah satu mimpi saya adalah keliling dunia melihat lokasi-lokasi dalam buku cerita yang saya baca. Tapi itu sepertinya mustahil. Bagaimana tidak? Keliling dunia itu sudah pasti memerlukan uang yang tidak sedikit. Dalam bayangan masa kecil saya, itu tidak akan mungkin terjadi. Saya hanyalah putri satu keluarga dengan tingkat ekonomi rendah dan tinggal di desa pesisir terpencil dengan akses ke kota terdekat saja susah. Tidak hanya itu, saya juga sakit-sakitan. Diam-diam, saya melupakan mimpi saya.
Saya di museum Louvre Paris
 Tetapi jangan main-main dengan mimpi. Ternyata saat kita belum benar-benar melupakannya, dia tumbuh dalam kepala kita dan mencari jalannya. Di Jakarta, saya bertemu teman-teman yang juga “pemimpi gila” untuk bisa melihat dunia dalam segala keterbatasannya. Dan dari sanalah semua bermula. Dengan keterbatasan biaya dan gaya perjalanan berbiaya minim (tapi tetap aman untuk perempuan) saya mengunjungi 7 negara di Asia Tenggara. Setelahnya saya menulis beberapa artikel dan buku mengenai perjalanan itu. Tak hanya sampai disitu, ternyata mimpi melihat dunia semakin menjadi-jadi, semakin jauh dan semakin jauh. Pada saat banyak masalah, hiburan kami adalah membaca diskusi di group traveler, nonton program jalan-jalan di discovery chanel dan membuat itinerary perjalanan. Semua itu kami lakukan dengan suka cita meskipun kami tidak tahu kapan akan pergi ke tempat tersebut.
Saya di depan kantor PBB Geneva, Swiss
 

Hingga suatu malam, saya menemukan promo tiket ke Eropa dengan full board airline yaitu Etihad dan Qatar seharga Rp. 5.5 juta return multicity. Setelah beberapa kali cek dan ricek saya memberitahu teman-teman “pemimpi gila” itu dan membeli tiket multicity, Jakarta-London dan Amsterdam-Jakarta untuk perjalanan tahun berikutnya. Selesai membeli tiket saya bengong. Buat yang sering pergi ke Eropa mungkin perasaan saya ini lebay. Tapi buat orang biasa kayak saya ini agak menakutkan. Benarkah mau pergi sejauh itu? Ya Allah, Eropa kan mahal! Uang dari mana? Bahkan saat itu belum memiliki biaya sama sekali. Tetapi teman-teman bilang, “kita punya waktu setahun untuk mempersiapkannya.” Oke! Bismillah saja!
Saya di Praha
   

Maka dalam waktu setahun kami semua berusaha keras menabung, khususnya saya banting tulang dan ngirit habis-habisan demi mewujudkan mimpi itu. Saya bahkan tidak berani memberitahu keluarga dan teman dekat sekalipun tentang mimpi itu. Saya hanya akan memberitahu ketika semuanya sudah jelas bisa berangkat. Kami merencanakan akan mengunjungi tujuh negara dan delapan kota yaitu : Inggris (London dan Edinburg/Skotlandia), Paris, Geneva Swiss, Austria Vienna, Budapest, Praha dan Amsterdam dalam satu bulan.  Dan mulailah kami berburu informasi, tiket promo bus atau kereta untuk sambungan antar negara hingga hunting hostel dan penginapan murah tapi aman. Kami membeli tiket bis dan kereta tiga bulan sebelum keberangkatan melalui web GOEURO dan STUDENT AGENCY dengan harga promo 50% hingga 25%. Sedangkan hostel dan Airbnb kami pesan mendekati keberangkatan karena menunggu approval visa.

Saya di museum Mozart Vienna Austria    
Tidak seru kalau sebuah perjalanan tidak diawali dengan drama. Dan persoalan visa ini benar-benar drama abis-abisan. Kami membutuhkan dua visa untuk keliling Inggris dan Eropa, satu visa UK dan satu lagi visa scengen. Semua persyaratan dan pengajuan visa kami lakukan secara mandiri. Isian formulir visa UK yang ada di website itu nyaris seperti wawancara kerja yang njlimetnya parah sehingga saya harus simulasi melakukan pengisian di lembar kertas sebelum mengisi di websitenya. Tetapi bagusnya, waktu kami mengisi formulir visa UK, ada pilihan formulir baru yang lebih sederhana. Dan kami memilih formulir baru itu. Begitu bikin janji temu pengajuan berkas melalui website, ternyata full booking hingga dua minggu berikutnya dan kami mendapatkan tanggal yang mepet keberangkatan. Sementara visa scengenpun belum kami urus. Kami mulai panik karena petugas bilang, paling cepat visa akan keluar 14 hari, tetapi tidak pasti karena sedang ramai dan bahkan bisa sebulan. Saya lemas. Bagaimana ini? Semua tiket sambungan antar negara sudah dipesan. Tetapi kemudian saya pasrahkan saja, kalau takdirnya berangkat juga pasti bisa berangkat. Akhirnya berkas kami masukkan semua dan kami menunggu dengan cemas.
Saya di tepi sunga Danube Budapest
 

Sembilan hari kemudian seorang teman saya mendapatkan email pemberitahuan dari VFS UK bahwa visa kami sudah dapat diambil. Waktu mengambil visa saya dan teman-teman gemetaran parah. Belum pernah sepanik ini mengurus visa. Tetapi alhamdulillah visa kami berlima semuanya lolos. Tinggal mengurus visa scengen. Begitu membuat janji temu dengan VFS Belanda, janji temu semuanya sudah full booking sampai tanggal 4 bulan depan. Kembali kami panik karena kami akan berangkat tanggal 4. Akhirnya kami memakai fasilitas premium longue untuk janji temu, dengan biaya lebih mahal untuk bisa mendapatkan janji temu dan memasukkan berkas lebih awal.  Dengan premium longue-pun kami baru bisa mendapatkan janji temu seminggu kemudian dengan asumsi visa akan selesai tepat tanggal 4.
Saya di Belanda
 Begitu bertemu dengan petugas untuk memasukkan berkas visa scengen, petugas bilang bahwa kemungkinan visa akan jadi lewat tanggal waktu berangkat karena kondisinya benar-benar sedang ramai. Kami bingung, karena kalau lewat tanggal berangkat kami harus membeli tiket baru dan menghanguskan semua tiket sambungan antar negara karena itinerarynya bergeser. Pilihannya hanya dua, memasukkan berkas dengan resiko membeli tiket baru atau tidak memasukkan berkas dengan resiko gagal mengunjungi enam negara lainnya yang menggunakan visa scengen. Setelah diskusi dan mikir, akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan berkas dan mengambil resiko pertama. Saya malah berpikir kalau ini gagal, mungkin memang belum waktunya pergi ke sana.
Saya di Edinburg Skotlandia
 

Dan… kami semua pasrah dalam doa. Agak lebay, tapi begitulah kenyataannya. Saya bahkan sudah ikhlas kalau memang tidak jadi berangkat. Tetapi tujuh hari kemudian, (beberapa hari sebelum kami berangkat), visa scengen sudah jadi dan bisa diambil. Saya yang cengeng menangis haru.  Akhirnya kami bisa berangkat melihat dunia lebih jauh lagi!  Kemudian saya percaya, semua hal berawal dari mimpi. Tetapi mimpi tanpa tekad untuk mewujudkannya akan menjadi khayalan tidak berguna. *
Avatar
Writer, Traveller and Dreamer

2 Responses for this article

  1. Avatar
    on
    Sep 16th, 2017

    Raniiiiiii….eh punya blog nggakkkk, ayo link ngelink meski aku lupa caranyaaaaaaa

    Reply

Leave a Reply

  • (not be published)