Category Archives: Traditional Market Trip

MOSKOW : BERBURU MATRYOSHKA DI IZMAILOVO MARKET

“Jangan lupa beliin aku Matryoshka ya, Ci,” pesan ponakan beberapa hari sebelum saya berangkat ke Rusia. Matryoshka merupakan boneka khas Rusia yang di dalamnya terdapat boneka-boneka dengan ukuran lebih kecil. Model-model boneka ini bermacam-macam mulai dari karakter dongeng, pemimpin salah satu negara tertentu sampai gadis petani Rusia. Matryoshka berasal dari kata Matryona yang merupakan nama dari seorang wanita bertubuh gemuk sehingga di dalamnya terdapat banyak boneka lain yang lebih kecil.

Menurut sejarahnya, boneka Matryoskha diperkenalkan pada Pameran Dunia di Paris pada tahun 1900. Seorang pelukis bernama Sergey Malyutin membuat sketsa matryoskha dan meminta bantuan Vasiliy Zvyozdochkin, seorang pengrajin kayu untuk membuat matryoskha. Malyutin kemudian mengecat boneka tersebut menjadi sosok gadis manis yang menggunakan pakaian tradisional Rusia, lengkah dengan kerudungnya dan pernak-pernik khas Rusia lainnya. Sejak di perkenalkan pada pameran di Paris itu, matryoskha kemudian diproduksi besar-besaran di Sergiyev Posad, sebuah wilayah pinggiran Moskow yang hingga saat ini daerah tersebut menjadi pusat kerajinan matryoshka di Rusia.

Sayangnya, saya tidak sempat mengunjungi Sergiyev Posad karena mepetnya waktu backpacking saya di Rusia. Saya hanya mengunjungi Izmailovo market karena menurut informasi banyak menjual boneka matryoskha sekaligus souvenir khas Rusia. Maka, pada hari Jum’at sore, sebelum saya pergi menonton sirkus, saya menyempatkan diri berburu matryoskha di Izmailovo market.  Saya hanya punya waktu 3 jam untuk naik metro, mencari-cari lokasi pasar hingga membeli barang yang saya cari. Apalagi ternyata saat cek di internet, hari Jum’at itu pasarnya libur. Tetapi saya dan teman saya nekat pergi ke Izmailovo market.

 

Izmailovo market terletak di Moskow bagian timur dapat dijangkau dengan metro line 3 dan turun di Partizanskaya Station. Dari stasiun ini bisa jalan kaki sekitar 10 menit menuju Izmailovo market. Di depan Izmailovo market ada Izmailovo kremlin yang di dalamnya terdapat museum juga. Tetapi saya tidak sempat mampir karena kuatir telat nonton sirkus. Jadi setelah makan di mall dekat pasar, saya buru-buru ke pasar yang ternyata sepi. Memang hari Jum’at sebenarnya pasar tutup, tetapi masih ada beberapa kios yang berjualan.

Begitu memasuki pasar, penjual souvenir yang lancar berbahasa Indonesia langsung memanggil saya. Mereka hapal pengunjung dari Indonesia suka belanja sampai mereka bisa berbahasa Indonesia. Deretan souvenir khas Rusia dan boneka Matryoskha berbagai ukuran tampak sangat menarik di beberapa kios. Bahkan pasmina-pasmina buatan Khasmir juga berderet diantara souvenir-souvenir itu. Saya memilih beberapa souvenir dan matryoskha untuk oleh-oleh. Harga di pasar ini cukup miring meskipun kalau dibandingnya dengan souvenir di Arbat Street tidak jauh-jauh juga jika kita tidak bisa menawarnya. Mungkin pada hari lain saat kios-kios di pasar Izmailovo buka semua pasti lebih semarak. Saya hanya mengunjunginya sekilas karena mengejar waktu dengan suhu 8 derajat sehingga sangat kedinginan. Tepat jam 5 sore saya berlari kembali ke stasiun metro untuk mengejar waktu nonton sirkus.  Duh, sayang sekali saya tidak bisa kembali ke pasar itu esok harinya karena sudah kecapekan. Harusnya lebih banyak yang bisa saya ceritakan jika saya bisa kembali. Mungkin lain waktu saya akan kembali. Semoga.

BLUSUKAN DI PASAR TRADISIONAL VELIKY NOVGOROD RUSIA

Tempat yang paling saya incar untuk blusukan di setiap negara yang saya kunjungi itu adalah pasar tradisional. Bukan untuk belanja (meskipun kadang jadi belanja juga), tapi saya senang melihat orang-orang lokal berkegiatan di pasar, bertransaksi, saling ngobrol dan menjajakan barang dagangannya. Tak hanya manusianya, barang-barangnya sudah tentu unik dan berbeda dari setiap negara.  Kali ini saya blusukan ke salah satu pasar tradisional yang ada di Veliky Novgorod, kota tertua di Rusia.

Jam 3 sore karena kedinginan setelah menyusuri jalanan kota Veliky yang sepi, saya belok ke pasar tradisional ini. Sebenarnya hanya ingin menghangatkan badan dengan masuk ke dalam pasar, tapi jadi malah keterusan menyusuri semua lorongnya. Pasar ini tidak luas, namun bersih dan rapi. Terdiri dari dua lantai, pembagian kios-kiosnya tidak menentu, bahkan terkesan tidak beraturan sehingga lantai satu bisa jadi berjualan makanan basah dan kering, pakaian, bunga plastik, mini market dan minuman. Begitu juga dengan lantai dua yang berisi kain, pakaian, mainan anak-anak dan minuman.

Saya kemudian kembali ke lantai satu untuk mencari teh khas Rusia setelah mengecek di internet teh mana yang sebaiknya saya beli. Saya memang suka membeli teh dari berbagai negara saat ke pasar selain hanya ingin ngobrol dengan penjualnya. Tetapi di sini saya tidak bisa mengobrol karena semuanya berbahasa Rusia sementara saya tidak paham bahasa Rusia. Tidak ada yang bicara dalam bahasa Inggris, sehingga saya hanya menduga-duga pembicaraan mereka, menggunakan kalkulator untuk menawar harga atau menggunakan google translate.

Saya menemukan teh yang saya cari di lantai satu, dekat dengan penjual coklat. Harga tehnya hanya 95 Rubel atau Rp.25.000 lalu saya membeli satu setelah bingung mau membeli yang mana dan penjualnya menyarankan saya membeli jenis teh hitam. Setelah ngobrol pakai bahasa tubuh dan akhirnya nggak saling paham juga, saya hanya senyum-senyum dan meminta untuk memotret penjualnya. Penjualnya ramah dan murah senyum, dia mengijinkan saya memotret apa saja yang ingin saya potret.  Dari penjual teh saya bergeser ke penjual coklat.  Ada berbagai coklat dengan harga yang murah dibandingkan di Indonesia (tentu saja) tetapi saya tidak membeli coklat. Saya malah jalan-jalan ke arah lain bagian pakaian dan sepatu.

Begitu memasuki satu kios saya disambut mbak-mbak cantik yang penampilannya nyaris seperti artis di film-film spionase. Ternyata mbak cantik ini penjual jaket di salah satu kios. Dia menawarkan jaketnya yang sedang sale seharga sekitar 100 ribuan jika dirupiahkan menggunakan bahasa Rusia. Orangnya ramah, tetapi sayangnya lagi, dia tidak bisa berbahasa Inggris, jadi kami hanya ngobrol menggunakan google translate yang sangat terbatas dan kalkulator untuk menanyakan harga.  Teman saya kemudian tergoda untuk melihat jaket-jaketnya lebih detail bahkan kemudian membelinya sementara saya justru berpindah ke bagian lain yaitu sepatu setelah meminta ijin untuk memotret mbak cantik itu. Dia bilang ke teman-temannya di pasar kalau saya fotographer, dan saya tertawa ngikik menjawabnya menggunakan bahasa Indonesia, “bukan-bukan, saya hanya suka memotret, bukan fotographer.” Ya, sekali-kali menggunakan dua bahasa berbeda nggak apa-apa ‘kan? Biar sekalian saja sama bingungnya.

Seorang ibu paruh baya menjual sepatu boots sambil menggendong anjing pudelnya berwarna coklat yang lucu. Ibu ini tampak ngos-ngosan setiap bergerak. Tetapi begitu saya melihat-lihat sepatunya, dia tampak antusias. Saya menanyakan harga menggunakan kalkulator dan lagi-lagi berkomunikasi menggunakan bahasa tubuh, tetapi ibu ini cukup bisa memahami maksud saya.  Karena saya membutuhkan sepatu boots dan harga yang ditawarkan hanya 100 ribuan dalam rupiah, maka saya membelinya satu. Tetapi setelah beres pembelian, saya meminta untuk memotret ibu paruh baya itu. Awalnya saya pikir ibu itu akan menolak di foto, ternyata begitu saya menunjuk kamera saya, si ibu malah mengambil anjing pudelnya dan memeluknya untuk diajak foto bersama.

Setelah puas menyusuri pasar malah kebablasan belanja saya kemudian keluar pasar. Tampak di luar, penjual labu sibuk melayani pembeli, kios-kios roti dan minuman kaleng sementara saya memutuskan untuk menyeberang melalui penyeberangan bawah tanah ke seberang pasar. Dalam penyeberangan bawah tanah juga ada penjual pakaian dan minuman. Di seberang pasar tampak pasar kaget yang menjual sayuran, tanaman hias, bunga, bawang putih, jamur dan umbi-umbian.  Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke arah lain untuk mencari mini market. Kota tua Novgorod sangat cantik, saya akan mengulaskan tersendiri di bagian destinasi. Ikuti terus perjalanan saya di Rusia, ya! Terima kasih!

NISHIKI MARKET KYOTO : Pasar Sejak 400 Tahun Lalu

Mengunjungi Kyoto, selalu membuat saya seperti kembali ke Jepang pada zaman Edo. Kebudayaan ratusan tahun lalu yang masih dilestarikan itu tercermin dari bangunan-bangunan eksotis di sepanjang Gion. Tak hanya bangunan-bangunan eksotis pada zaman Edo, tetapi di sini juga ada Nisiki Market. Pasar rakyat yang ada sejak 400 tahun lalu. Banyak wisatawan manca negara maupun warga lokal berkunjung ke pasar ini. Pasar ini tampak bersih, rapi, dinamis dan menyenangkan. Berkunjung ke Kyoto tanpa mampir ke Nisiki market tidak akan lengkap. Apalagi kalau anda penggemar kuliner Jepang. Nisiki Market menjual banyak sekali kuliner khas Kyoto yang sangat menarik.

Saya berkunjung ke Nishiki Market setelah mengelilingi Gion untuk melihat bangunan-bangunan zaman Edo yang masih berdiri kokoh. Sebenarnya ingin mencicipi teh di salah satu bangunan itu namun batal karena harganya mahal. Maka saya memilih untuk berburu kuliner di Nishiki Market. Memasuki pasar ini saya justru kebingungan mau membeli apa karena segala kuliner Jepang ada di sini. Mulai dari makanan khas Kyoto, buah-buahan, acar, teh sampai ikan asin.

Saya tergoda untuk membeli buah strowberry yang terlihat segar dan besar-besar. Saya jarang menemukannya di Indonesia. Lalu teman saya membeli teh hijau untuk oleh-oleh. Ada bermacam-macam teh bisa kita dapatkan di pasar ini dengan harga terjangkau. Jangan lupa mencoba sushi dan beberapa penganan lokal yang sangat menarik. Jika anda penggemar kuliner, jangan lewatkan mampir ke Nishiki Market!

Budapest Central Market Hall

Jika anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satu tempat yang selalu di kunjungi turis saat berada di Budapest adalah Central Market Hall atau Great Market Hall. Pagi hari sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest ini terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca.

Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali. Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar.

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi pasar ini? Pasar ini buka pada hari Senin sampai Sabtu mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hari minggu tutup. Jika anda tidak suka terlalu ramai maka anda bisa berkunjung pada pagi hari sekitar jam 8-9 hari Senin – Jumat, karena pada hari Sabtu pasar akan sangat ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Jangan lupa mengunjungi pasar ini saat anda ke Budapest!

 

Saturday Night Market Chiang Mai

Kalau anda berkunjung ke Chiang Mai, Thailand, sebaiknya jangan melewatkan hari Sabtu, karena malamnya ada Saturday Night Market yang semarak dan menarik. Saat saya berkunjung ke Chiang Mai, saya tidak tahu ada pasar malam ini, tetapi sepulang dari Chiang Rai sore hari, mobil yang mengantar saya menurunkan saya di dekat lokasi pasar malam dan mereka menyarankan saya mengunjungi pasar ini.

Saturday Night Market Chiang Mai hanya ada hari Sabtu mulai jam 5 sore sampai jam 11 malam. Terletak di Wulai street tepat di depan gate selatan kota kuno, pasar ini menjual souvenir, lukisan, pakaian dan gerai makanan. Saya yang sejak siang kecapekan ekplore Chiang Rai mencari gerai makanan yang cocok. Saya menemukan nenek-nenek penjual Pad Thai yang dikerubungi pembeli dan ikutan antre.

Pasar ini menurut saya sangat menarik dan hidup. Tidak hanya barang-barang yang dijual, tetapi suasananya juga terasa hangat. Pelaku seni tradisional juga berpentas di sepanjang jalanan ini sehingga selain lampu-lampu yang menyala dramatis, suara musik khas lokal juga membuat rasa capek saya seharian lenyap. Jangan lewatkan Saturday Night Market saat berkunjung ke sini.

Senyum Manis Adelita Dari Pasar Buah Berastagi

Hampir waktu makan malam saat mobil yang saya sewa seharian untuk keliling Medan melintasi jalanan berbukit dan udara sejuk (dingin) menyerbu kulit saya melalui jendela mobil yang saya buka sedikit. Bapak sopir yang sudah berusia 65 tahun tetapi masih gesit mengatakan kami tiba di kota Berastagi ; kota dengan pemandangan alam yang indah dan udaranya sejuk. Sayangnya saya tiba di sini sudah malam, sehingga hanya melihat sedikit pemandangan indah itu. Tetapi sepanjang perjalanan saya melihat perkebunan jeruk, hamparan bunga matahari dan sayur-sayuran. Berastagi yang berhawa sejuk dan terletak di perbukitan ini memang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani buah, sayuran dan bunga.

“Kita mampir dulu di pasar Berastagi,” kata Pak Sopir. “Kalau sampai sini tidak mampir pasar Berastagi nanti akan rugi,” lanjutnya. Saya menurut saja saat mobil berjuang melewati kemacetan yang panjang. Pasar Berastagi tidak jauh dari Tuju Perjuangan Berastagi yang menjadi gapura memasuki kota Berastagi. “Apa pasar masih buka malam hari seperti ini?” tanyaku. Sopir mengangguk dan berbelok mencari tempat parkir.

Pasar seluas 1 hektar ini tampak rapi. Lampu-lampu menyala menerangi penjual dan pembeli yang masih ramai saat malam tiba. Saya memasuki pasar dari arah samping dan tergoda melihat toko souvenir khas Medan. Berbagai macam souvenir ada di sini mulai dari tempelan kulkas, dompet kecil, gantungan kunci, kain khas Batak, t’shirt bersablon tempat wisata Medan dan banyak jenisnya lagi. Setelah membeli beberapa tempelan kulkas saya memasuki pasar. Deretan buah segar mulai dari jeruk, terong Belanda, markisa, sayuran dan bunga berjejer rapi. Saya kemudian berkeliling melihat buah-buahan yang menggoda itu.

Lalu saya berhenti di satu lapak yang dijaga gadis muda. Senyumnya mengembang saat saya melihat jeruk dan markisa yang dia jual. “Beli Kak, masih segar,” katanya. Saya sengaja berlama-lama memilih jeruk agar bisa ngobrol dengan pembelinya. Namanya Adelita, berjualan buah meneruskan pekerjaan orangtuanya yang petani buah-buahan. Dia tidak melanjutkan kuliah karena ingin membantu orangtuanya bekerja. Dan sepertinya dia juga menyukai pekerjaannya itu. Saya menawar harga jeruk perkilo yang dia ajukan dan dia menyetujuinya. Senyumnya mengembang saat menimbang jeruk dan memasukkan ke dalam tas plastik. “Saya boleh memotret kamu?” tanyaku. “Boleh, siapa tahu bisa masuk televisi,” jawabnya sambil tertawa lebar. Semangatmu semanis jeruk Medan yang kamu jual, Adelita.  Semoga kita bisa bertemu lagi.

 

Tertawa Bersama Ibu Dong di Central Market Hoi An

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di dunia seperti Edinburgh old town, Phuket old town, Geneva old town, Kyoto old town, Takayama old town, Kota Tua Jakarta, Penang old town, Chiang Mai old town dan beberapa tempat klasik lain yang saya lupa namanya, tetapi memasuki Hoi An old town membuat saya tercengang. Pada malam hari kota tua Hoi An akan dipenuhi lampion yang sangat indah. Saya merasa hidup di negeri dongeng bersama para peri yang terbang di atas sungai dengan perahu-perahu berlampion yang melintasi sungai. Saya janji pada diri sendiri untuk kembali ke kota ini suatu hari nanti!

Selain keindahan kota tua ini, Hoi An memiliki dua pasar yang banyak dikunjungi wisatawan. Hoi An night market dan Hoi An central market. Hoi An night market bisa kita temui di sepanjang jalan dekat sungai pusat kota tua Hoi An pada malam hari, tetapi jam 9 malam pusat kota ini sudah sangat sepi dan lampu dimatikan semua. Saya yang berniat nongkrong sampai pagi di pusat kota malah lampu kafe sudah dimatikan tepat jam 9 dan pemesanan makanan closing. Terpaksa saya balik ke hotel dengan kondisi sedikit gelap karena hanya beberapa lampu jalanan yang nyala. Bahkan hotel tempat saya menginap juga lampunya sudah dimatikan dan penjaga sudah tidur di depan pintu hotel.

Tetapi esok harinya saya tidak menyia-nyiakan untuk mengunjungi Central Market Hoi An sepulang dari My Son Sanctuary. Kebetulan letak pasarnya tak jauh dari tempat perahu kami ditambatkan. Guide yang mengantar kami ke My Son Sanctuary bilang kalau kami hanya perlu berjalan lurus sampai ketemu jembatan lalu belok kanan. Dan saya mengikuti petunjuk guide itu setelah pamitan.

Central market Hoi An lumayan luas dan bersih. Berbagai macam barang kebutuhan dijual disini, mulai dari sayuran, buah, makanan, kerajinan, pakaian dan kios makanan yang berjejer dengan menu yang menggoda. Saya menyusuri los-los pasar terbuka ini hingga berhenti di depan sebuah lapak yang menjual kopi Vietnam dan makanan khas Vietnam. Pemilik lapak ini sesuai nama tokonya namanya Ibu Dong. Beliau dengan ramah melayani saya yang aslinya hanya akan belanja sedikit tetapi ingin banyak ngobrol. Saya berpikir membeli kopi di sini akan lebih murah ketimbang di tempat lain. Meski kenyataannya kopi yang saya beli di pasar sama dengan harga yang ada di bandara Da Nang.  Ibu Dong sudah lama fokus berjualan kopi dan makanan khas Vietnam. Kopi yang dijualnya memiliki tingkatan tertentu dan orang akan membeli sesuai dengan seleranya. Salah satu kopi paling terkenal adalah merk Trung Ngu Yen dengan berbagai tingkatan nomor. Setelah tawar menawar saya membeli dua tingkatan nomor dengan bonus makanan khas Vietnam yang terbuat dari kelapa. Makanan ini kalau di Indonesia mirip sagon dengan bungkus plastik kecil-kecil rapi. Ibu Dong sangat ramah dan suka becanda. Bahasa Inggrisnya terbata-bata tetapi bisa saya pahami. Katanya berjualan di pasar membuatnya selalu ceria dan lupa masalah-masalah yang dihadapinya. Bertemu pembeli dari berbagai belahan dunia juga membuatnya bisa bertukar banyak informasi. Ibu Dong mengundang saya datang ke rumahnya jika saya masih lama di Hoi An, tetapi sayangnya sore itu saya harus kembali ke Da Nang dan melanjutkan perjalanan.  Obrolan itu kemudian menjadi panjang karena belum ada pembeli lain yang datang. Benar-benar lebih banyak obrolannya daripada barang yang saya beli.

 

Bertemu orang-orang baru selalu memberi energi baik dalam setiap perjalanan saya, salah satunya keceriaan Ibu Dong dan senyumnya yang selalu merekah saat melayani pembeli.“Let me know when you come  back to Hoi An!” katanya terbata saat memeluk saya yang berpamitan meninggalkan lapak dagangannya. Saya tersenyum, “I will.”

 

 

 

GADONG NIGHT MARKET

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tak banyak tempat wisata kita temukan di sana. Tetapi ada satu tempat yang sedikit ramai pada malam hari. Tempat itu adalah Pasar Malam Gadong.  Kalau anda berkunjung pada bulan Ramadhan, cobalah singgah di Gadong night market yang buka mulai pukul 3 sore hingga 10 malam ini. Anda akan menemukan kemacetan mobil di jalanan menuju Pasar Gadong. Kemacetan yang jarang ditemui di seluruh jalanan Brunei yang sepi hanya dilewati satu dua mobil.

Dengan naik DART (taksi online) dari Pasar Kianggeh yang ternyata hanya ada beberapa orang jualan dengan sebagian besar lapak-lapak kosong, saya tiba di Gadong Night Market tepat pukul 4 sore. Pasar ini sudah ramai dan warga lokal Brunei sudah mengantre di depan stand-stand makanan yang menjual berbagai menu. Ada beberapa orang Indonesia yang juga berjualan di pasar ini. Mereka memutar lagu-lagu Indonesia sehingga Pasar menjadi lebih ramai.

Saya berkeliling Pasar untuk membeli menu buka puasa, tetapi karena berbagai makanan enak ada di sana, saya jadi bingung. Ada nasi lemak, mie goreng, ayam bakar, ikan bakar, nasi ayam, gorengan khas Brunei, jajanan pasar dan banyak lagi. Saya kemudian membeli nasi ayam dan minuman sirup. Di ujung pasar tampak meja kursi untuk pengunjung yang ingin makan di tempat ini, tetapi meja kursi yang disediakan sudah dipenuhi pengunjung. Saya menemukan satu tempat yang masih kosong dan menunggu buka puasa di tempat itu.

Begitu terdengar suara adzan, warga yang menunggu buka puasa langsung menyantap makanannya.  Seorang warga lokal bersama temannya meminta ijin duduk di samping saya, dan kami buka puasa bersama sambil ngobrol. Katanya pasar ini selalu ramai meskipun bukan bulan Ramadhan. Pada hari-hari biasa,  pasar akan ramai hingga jam 10 malam dikunjungi orang yang makan malam di sini. Menyenangkan sekali bergabung dengan warga lokal buka puasa di pasar ini. Setelah buka puasa saya melangkah ke mushala yang ada di depan Pasar Gadong. Mushala ini meski kecil tampak bersih dan lengkap. Brunei memang bukan negara yang memiliki banyak tempat wisata, tapi kehidupan masyarakatnya yang tenang layak kita selami.

 

 

 

Bertemu Survivor Perang Vietnam di Pasar Dong Xuan

“Hello… shopping! Shopping! Very cheap! Very cheap!” teriak seorang lelaki tua yang berjualan souvenir di dekat pintu masuk pasar Dong Xuan Hanoi sambil melambaikan tangan ke saya. Saya yang tidak ingin belanja souvenir hanya menggeleng dan melangkah masuk ke dalam pasar terbesar di Hanoi itu. Tetapi sepanjang saya menyusuri pasar mencari baju Ao Dai (baju tradisional Vietnam), malah kepikiran lelaki tua itu dan berniat mampir melihat barang dagangannya setelah selesai mengelilingi pasar.

Terletak di jantung kota tua Hanoi Vietnam, pasar Dong Xuan yang dibangun oleh Perancis pada akhir abad 19 ini merupakan pasar tertutup yang terdiri dari beberapa lantai dengan banyak kios serta lorong-lorong kecil. Di lantai dasar bagian tengah, ada air mancur dengan tempat duduk di sekelilingnya sehingga pengunjung pasar bisa melepaskan lelah di sini.  Pasar ini menjual berbagai kebutuhan mulai dari pakaian, makanan, sepatu dan souvenir.

Saya kemudian naik ke lantai satu untuk mencari baju Ao Dai. Sudah lama saya ingin memiliki baju tradisional Vietnam ini karena unik dan cantik. Selain itu juga bisa dikenakan wanita berjilbab karena modelnya yang mirip baju kurung. Saya menemukan satu kios yang menjual baju Ao Dai dengan harga sesuai kantong saya dan warna yang saya cari, tetapi sayangnya ukuran untuk saya tidak ada. Akhirnya saya mengurungkan niat membeli baju Ao Dai di pasar ini karena tidak menemukan kios lain dengan harga yang lebih baik. Jika ingin berbelanja di pasar ini, jangan lupa menawar untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Setelah menyusuri lorong-lorong sempit dan mampir di beberapa kios, saya memutuskan untuk keluar dari pasar. Tetapi lebih dulu ingin singgah di kios souvenir lelaki tua di dekat pintu keluar. Begitu saya lewat, lelaki tua itu sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Tampak tenang dan fokus pada bacaannya. Saya memilih-milih souvenir dan dia meletakkan korannya sambil tersenyum lebar menatap saya.

“Shopping! Shopping! Very cheap!” katanya lagi.

Saya tertarik pada tas etnik berwarna merah yang terlihat seperti kain tenun. Lelaki tua itu bangkit mendekati saya, dan saya baru sadar kalau kaki beliau tinggal satu dan mengenakan kruk. Tapi gerakannya energik dan senyumnya sangat ramah. Saat menatap wajahnya saya merasakan aura positip menular ke diri saya.  Saya menanyakan harga tas, dan mengajukan tawaran. Entah tawaran saya terlalu tinggi atau beliau yang murah hati, tetapi tawaran pertama saya langsung disetujuinya. Bahkan beliau memberikan dua dompet kecil sebagai bonus. Teman perjalanan saya memutuskan belanja banyak souvenir di kios ini dan saya menunggunya.

“Take a seat!” katanya menyodori saya kursi plastik untuk duduk. Saya tersenyum dan mengangguk. “cảm ơn”

Matanya berbinar mendengar saya mengucap terima kasih dalam bahasa Vietnam. “Ah, you speak Vietnamese?” Saya tertawa sambil menunjukkan google translate di handphone saya,”No, no… i use google translate. See?”  “Oh, I see. Where are you from?” tanyanya sambil balas tertawa.  “Indonesia.”

“Oh ya, Indonesia. I know your country. Beautiful beach, ah?”

“Ya, i guess so…”

Lalu sambil menunggu teman saya memilih-milih souvenir, kami ngobrol. Saya merasa aura positipnya menulari saya sehingga saya ikut tersenyum lepas.

Namanya Pak Binh Phan, usianya menjelang 70 tahunan. Tapi badannya masih tegap, terlihat sehat dan jejak ketampannya masih jelas di wajahnya.  Saat terjadi perang Vietnam, beliau masih berusia 20-an dan kehilangan satu kakinya. Kondisi yang sulit paska perang dan menyesuaikan hidup dengan satu kaki hampir membuatnya putus asa. Tapi ia sanggup bertahan dan mengatasi kesulitannya dengan berbagai cara. Setelah merintis berbagai usaha namun gagal, kemudian ia berjualan souvenir di pasar Dong Xuan hingga saat ini. Menurutnya bertemu pembeli dari berbagai negara dan mendengar sedikit cerita mereka yang mampir di kiosnya membuatnya lebih semangat.

Saya justru kebalikannya. Saya mendapatkan semangat hidup saya yang sedang remuk saat keliling Vietnam ini kembali lewat Pak Binh Phan. Jika dengan satu kaki saja beliau bisa bertahan melewati banyak hal, bagaimana dengan saya yang memiliki kaki normal? Bahkan yang saya lakukan hanya mengeluh dan mengeluh. Di akhir obrolan saya, Pak Binh Phan memeluk saya penuh respect saat saya meminta foto bersama.  Beliau juga tidak keberatan saat saya mengambil fotonya dari berbagai sudut.  Saya seperti menangkap pesan dari matanya yang bersinar positip bahwa memiliki satu kaki bukan masalah, asalkan masih bisa menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang di sekelilingnya. Terima kasih Pak Binh Phan! You are awesome!

CERITA DARI PASAR CHOWRASTA

Pukul 7 pagi, saya keluar penginapan untuk menghirup udara pagi Penang, Malaysia. Orang-orang sering menyebutnya Pulau Pinang karena kota ini memang terletak di kepulauan kecil yang masih masuk dalam wilayah Seberang Parai.  Di kalangan orang Indonesia, Penang lebih terkenal sebagai tempat berobat karena memiliki beberapa rumah sakit yang bagus. Padahal tak hanya itu, Penang juga memiliki George Town, salah satu kota yang masuk daftar Unesco Heritage Site karena berhasil melestarikan bangunan bersejarah dari abad lampau.  Bangunan-bangunan tua cantik perpaduan arsitektur Eropa dan Asia yang difungsikan sebagai toko, cafe, restoran dan tempat tinggal ini bisa anda temui saat berjalan-jalan menyusuri George Town.

Tujuan saya pagi ini ke Pasar Chowrasta. Ide mengunjungi pasar ini datang dari seorang sahabat yang menitipkan pesannya ke salah satu penjual buku di Pasar Chowrasta. Tetapi Pasar Chowrasta yang berdiri sejak 1890 dan telah mengalami beberapa perbaikan ini memang menjadi salah satu tujuan wisata. Terletak di perempatan pusat kota tepatnya di jalan Lebuh Tamil, pasar tradisional ini menjual bermacam kebutuhan mulai dari jajanan, sayur mayur, daging, sembako, pakaian dan buku. Di sebelah pasar ini juga terdapat deretan tenda-tenda kecil yang berjualan makanan seperti cendol, rujak, es campur yang menurut saya sangat enak.

Setelah menyusuri lantai 1 pasar Chowrasta, saya naik ke lantai 2, tempat deretan lapak penjual buku berada. Tidak susah untuk menemukan lapak yang dimaksud sahabat saya untuk dikunjungi. Pemiliknya bernama Pakcik Iskandar, lelaki India yang ramah berusia sekitar 60 tahun. Kawasan pasar ini pada pertengahan abad 19 memang banyak dihuni suku Tamil yang berasal dari India Selatan, salah satunya nenek moyang Pakcik Iskandar. Meskipun sekarang populasi orang-orang India di sekitar kawasan Chowrasta mengecil, namun kita masih bisa menemukannya di pasar ini.

 

 

Pakcik Iskandar yang mencintai buku ini sejak muda sudah berjualan di Chowrasta. Koleksi bukunya cukup lengkap terdiri dari buku-buku baru dan buku bekas dari penulis berbagai negara seluruh dunia termasuk buku dari Indonesia. Saya menemukan buku-buku terbitan tahun 1945-1950-an dengan kondisi kertas masih bagus dan harga terjangkau. Pak Iskandar juga mempersilakan saya menawar harga yang beliau ajukan untuk mendapatkan harga yang bagus.

 

Saya kemudian membeli buku LITTLE BOY LOST dari penulis Inggris Marghanita Laski terbitan tahun 1949 yang bercerita tentang laki-laki yang mencari anaknya yang hilang di Perancis selama masa perang dan buku MERRIE ENGLAND dari penulis Paul Johnson terbitan tahun 1964. Ada beberapa buku tua tentang sejarah Melayu yang ingin saya beli tetapi harganya lumayan mahal sehingga saya batal membelinya. Pak Iskandar menguasai semua isi buku yang dijualnya dan menjelaskan setiap detail buku dengan gamblang ke pelanggannya.  Bahkan ketika beberapa orang generasi milenial datang mencari buku romans remaja, Pak Iskandar langsung tanggap dan memahami buku yang dimaksud. Baginya buku adalah denyut nadi kehidupannya dan jalan rezekinya. Meski dunia digital bisa jadi akan menenggelamkan semua buku-buku yang dijualnya, beliau selalu percaya rezeki akan menghampirinya melalui sesuatu yang dicintainya.

Hampir dua jam saya berbincang-bincang tentang Penang dan buku di lapaknya sambil melihatnya melayani pelanggan. Saya sempat menanyakan apakah pelanggannya banyak mencari buku dari penulis Indonesia? Menurut Pakcik Iskandar selalu ada yang mencari buku-buku tokoh Indonesia seperti Soekarno atau tokoh-tokoh Indonesia lainnya tetapi sayang koleksinya dari Indonesia sedikit. Dulu Pakcik sering datang ke Indonesia untuk mengambil buku-buku yang akan dijualnya sebelum kerjasamanya dengan salah satu penerbit berakhir karena penerbit itu tutup.Pasar selalu menghadirkan kehidupan khas manusia-manusia di kota yang ditinggalinya. Pakcik Iskandar dengan koleksi buku-bukunya adalah inspirasi bagi saya untuk bisa memahami bahwa cinta pada buku tak harus mati dengan banjirnya dunia digital. Karena begitulah cinta yang sebenarnya, tak mudah menyerah pada perubahan.