NISHIKI MARKET KYOTO : Pasar Sejak 400 Tahun Lalu

Mengunjungi Kyoto, selalu membuat saya seperti kembali ke Jepang pada zaman Edo. Kebudayaan ratusan tahun lalu yang masih dilestarikan itu tercermin dari bangunan-bangunan eksotis di sepanjang Gion. Tak hanya bangunan-bangunan eksotis pada zaman Edo, tetapi di sini juga ada Nisiki Market. Pasar rakyat yang ada sejak 400 tahun lalu. Banyak wisatawan manca negara maupun warga lokal berkunjung ke pasar ini. Pasar ini tampak bersih, rapi, dinamis dan menyenangkan. Berkunjung ke Kyoto tanpa mampir ke Nisiki market tidak akan lengkap. Apalagi kalau anda penggemar kuliner Jepang. Nisiki Market menjual banyak sekali kuliner khas Kyoto yang sangat menarik.

Saya berkunjung ke Nishiki Market setelah mengelilingi Gion untuk melihat bangunan-bangunan zaman Edo yang masih berdiri kokoh. Sebenarnya ingin mencicipi teh di salah satu bangunan itu namun batal karena harganya mahal. Maka saya memilih untuk berburu kuliner di Nishiki Market. Memasuki pasar ini saya justru kebingungan mau membeli apa karena segala kuliner Jepang ada di sini. Mulai dari makanan khas Kyoto, buah-buahan, acar, teh sampai ikan asin.

Saya tergoda untuk membeli buah strowberry yang terlihat segar dan besar-besar. Saya jarang menemukannya di Indonesia. Lalu teman saya membeli teh hijau untuk oleh-oleh. Ada bermacam-macam teh bisa kita dapatkan di pasar ini dengan harga terjangkau. Jangan lupa mencoba sushi dan beberapa penganan lokal yang sangat menarik. Jika anda penggemar kuliner, jangan lewatkan mampir ke Nishiki Market!

Kenapa Saya Ingin Pergi ke Rusia?

Suatu sore sekitar tahun 1994 saat saya tenggelam membaca majalah berbahasa Jawa, Jaya Baya, yang populer pada masa itu di Jawa Timur, Bapak datang membawa sebuah buku dan menyodorkan ke saya. Buku asing itu saya pandangi dengan tidak tertarik. Buku apa sih ini? Mungkin buku pewayangan, begitu pikir saya karena Bapak saya seorang dalang dan hobbynya memaksa saya membaca kisah-kisah pewayangan.

“Ini buku kumpulan cerita pendek karya Anton Chekhov, sastrawan Rusia. Kamu harus membacanya kalau ingin jadi penulis,” kata Bapak. Lalu saya menjadi tertarik karena buku itu bukan buku pewayangan. Kata Bapak, Anton Chekhov seorang penulis besar Rusia yang terkenal karya cerpen-cerpen dan dramanya. Inilah awal ketertarikan saya dengan Rusia.

Tak hanya mengenalkan Rusia melalui karya Anton Chekchov, Bapak juga menceritakan hubungan kenegaraan antara Indonesia-Rusia pada masa Presiden Soekarno yang hangat tetapi berubah dingin sejak Presiden Soeharto memangku jabatan. Bapak saya seorang pemuja Soekarno tulen dan mengagumi Rusia. Saya melihat mata Bapak selalu berbinar saat bicara tentang Soekarno ataupun Rusia. Binar yang menulari saya menjadi ingin tahu apa dan bagaimana Rusia.

Tetapi mengenali negara dengan wilayah hampir 1/8 bumi dan terluas di dunia ini terasa sulit. Wajah Rusia melalui banyak media terlihat berbeda. Saat menonton film-film Hollywood wajah Rusia begitu mengerikan sementara saya tidak bisa menonton film-film asli buatan Rusia. Saat membaca karya-karya Chechov saya mengenali perilaku batin manusia Rusia yang unik. Sampai kemudian, Bapak membawakan saya buku lainnya yang berjudul ‘Mati Ketawa Ala Rusia’. Kata pengantar buku ini ditulis oleh Gus Dur. Buku ini berisi lelucon ala Rusia mulai dari tema politis sampai rumah tangga. Lelucon-lelucon satire tentang kondisi Uni Soviet pada masa itu membuat saya terpingkal-pingkal. Ya Tuhan, Rusia sungguh lucu. Tetapi bagaimana mereka bisa kelihatan begitu misterius dan mengerikan?

Pandangan tentang Rusia yang saling bertolak belakang ini justru membuat saya sangat tertarik tentang Rusia. Bukankah hal-hal yang misterius menggugah adrenalin kita untuk mengetahui lebih banyak? Dan, begitulah saya. Saya tidak  bisa dihadapkan pada hal yang samar-samar dan hanya ‘kata media, kata orang’, saya ingin membuktikannya sendiri seperti apa Rusia itu suatu hari nanti. Itu tekad saya!

Lalu, bertahun-tahun kemudian saat tulisan saya berupa artikel perjalanan dan cerita pendek mulai dimuat media lokal maupun nasional, Uni Soviet-pun telah bubar dan Bapak juga sudah berpulang, saya masih terus mencari informasi tentang Rusia. Internet memuaskan keingintahuan saya tentang Rusia. Negara kaya budaya dengan bangunan-bangunan bersejarah yang luar biasa. Moskow, Saint Petersburg, Kazan, Sochi, Kaliningrad, Velikiy Nodgorod, Vladimir dan banyak lagi tempat menarik di sana yang layak dijelajahi dan dituliskan menjadi pengalaman saya melihat lebih luas. Pengalaman yang ingin saya persembahkan untuk Bapak saya yang telah tiada. Saya akan bilang padanya, “Bapak, saya mewujudkan mimpimu melihat Rusia yang sebenarnya. Dan Bapak benar, Rusia itu mengagumkan.”

Mudahnya Mengurus Sendiri VISA RUSIA

Rusia terkesan misterius sekaligus buruk karena sebagian kita melihatnya dari film-film Hollywood. Tapi bukankah hal-hal yang misterius itu justru menantang sebagian orang untuk melihat faktanya? Salah satunya saya. Saya sangat tertarik datang ke Rusia untuk membuktikan hal-hal misterius itu.  Maka, saya menyiapkan sendiri proses perjalanan saya ke Rusia, salah satunya mengurus visa Rusia saya sendiri.

Sesulit apa sih mengurus visa Rusia kita sendiri? Jawabannya ; Tidak sulit! Jika anda mau membaca petunjuk proses step by step yang tersebar di internet dan mengikutinya. Dengan mengurus sendiri, anda akan menghemat biaya yang diambil agen sekaligus dapat bonus belajar hal baru mengurus visa Rusia. Karena saya suka belajar hal baru dan tidak punya uang untuk berbagi dengan agen, maka saya lebih suka melakukan semuanya sendiri.

Dokumen apa saja yang harus disiapkan untuk mengurus visa Rusia?

  1. Passpor yang masih berlaku sekurangnya 6 bulan sebelum keberangkatan dan harus ada halaman kosong, jangan sampai halaman passpor anda sudah dicap semua sehingga tidak menyisakan halaman kosong.
  2. Invitation Letter yang harus disertakan saat mengajukan dokumen. Invitation Letter ini akan saya jelaskan nanti.
  3. Pas foto berwarna 3.5×4,5 satu lembar, dengan background putih. Foto ini nanti untuk ditempelkan di formulir dan saya tidak diminta foto yang lain lagi.
  4. Tiket Pesawat return Jakarta-Rusia yang sudah dibayar lunas.
  5. Formulir aplikasi visa Rusia yang sudah diisi secara online, kemudian diprint dan dilengkapi dengan foto kita. Petunjuk pengisian formulir dan link-nya bisa anda search sendiri di internet. Sangat mudah tinggal mengikuti saja.
  6. Menyiapkan uang USD untuk membayar visa. USD 80 untuk single entry dengan waktu regular sekitar 14 hari dan USD 160 untuk single entry kilat 5 hari. Biaya untuk double entry atau multiple entry bisa anda cek di website kedutaan Rusia. Sebaiknya anda membawa uang dollar karena kedutaan hanya menerima pembayaran menggunakan USD.

Ada nggak dokumen lain yang perlu disiapkan sebagai pendukung? Saya selalu menyiapkan semua dokumen pendukung meskipun tidak selalu diambil oleh kedutaan karena saya malas bolak-balik ke rumah saya yang di planet lain sementara lokasi kedutaan jauh, jika dokumen itu diperlukan.

  1. Print out semua penginapan yang telah saya pesan dengan bukti PAID.
  2. Print out tiket sambungan antar kota (kereta malam, bus, pesawat dalam Rusia) yang telah saya pesan dengan bukti PAID.
  3. Fotocopy hartu identitas/KTP.
  4. Itinerary perjalanan selama di Rusia, tidak harus detail tetapi itinerary ini bersesuian dengan penginapan, tiket antar kota dan invitation letter.
  5. Asuransi perjalanan, meskipun ini dikembalikan oleh pihak kedutaan. Saya selalu membuat asuransi perjalanan untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi maka saya tidak terlalu merepotkan keluarga saya. Dan salah satu asuransi perjalanan mengcover satu orang biaya keluarga yang berkunjung karena kita sakit di negara tersebut, hingga pemulangan jenazah sampai negara asal.

Apakah persyaratan visa Rusia tidak menggunakan bank reference dan jumlah uang tertentu di rekening seperti visa Scengen, United Kingdom atau beberapa negara lainnya? Tidak! Visa Rusia tidak memerlukan syarat rekening tabungan. Tetapi yang diwajibkan adalah invitation letter dari biro resmi perjalanan di Rusia dan menggunakan bahasa Rusia. Terus gimana cara mendapatkan invitation letter ini? Mereka yang tinggal di hotel sebagian bisa minta invitation letter ke hotel tersebut. Tetapi pihak kedutaan memiliki agen resmi yang mereka percaya yaitu www.brovenik.com. Kita tinggal klik brovenik.com dan disana sudah ada petunjuk dalam bahasa Inggris bagaimana mendapatkan invitation letter itu. Kita akan mengisi formulir kecil, lalu membayar $39.5. Dalam 24 jam invitation letter itu akan dikirimkan ke email kita dalam bentuk PDF dan siap di print untuk digunakan sebagai dokumen syarat pengajuan visa. Semudah itu! Iya, asal kita mau membaca dan mengikuti petunjuknya saja kok!

Formulir isian Visa online

 

Setelah dokumen lengkap, kita datang ke kedutaan Rusia yang ada di seberang Plaza Festival kawasan Kuningan. Tapi jangan harap datang begitu saja akan dapat nomor antrian. Pelayanan di sini masih manual. Kita akan menulis nama kita di dinding pagar kedutaan pada jam 5 pagi agar mendapat nomor antrian sebelum 10 orang (karena mereka hanya melayani 10 nomor, soal ini jangan tanyakan ke saya, saya juga nggak ngerti kenapa di zaman seperti ini, pelayanan antrian masih manual). Lalu kita datang lagi jam 8.30, saat pagar kedutaan hampir buka. Jangan lupa setelah anda menulis nama anda di dinding pagar itu anda potret, jadi misalnya petugas mengatakan nama anda tidak ada, anda masih memiliki buktinya dalam foto itu.

Kedutaan Besar Rusia di Jakarta

Proses memasukkan dokumen tidak begitu rumit, jika semua dokumen lengkap, anda akan mendapatkan kwitansi pembayaran untuk pengambilan visa anda diwaktu yang telah ditentukan. Jika dokumen anda belum lengkap maka akan dikembalikan dan anda diminta untuk memenuhi kekurangan itu. Jadi keutungan pengurusan visa Rusia, kita tidak akan kehilangan uang yang kita bayarkan karena jika dokumen sudah lengkap dan membayar bisa dipastikan kita akan mendapatkan visa.

Kwitansi bukti penerimaan dokumen dan pembayaran untuk pengambilan visa

Dua minggu kemudian, saya mengambil visa saya. Tanpa menggunakan nomoe antrian dan mereka memberikan passport beserta visa di dalamnya sekitar jam 12 siang. Sebaiknya anda datang jam 11-12 untuk pengambilan visa. Karena pagi hari mereka masih mengurus dokumen-dokumen yang masih seabrek meskipun nomor yang mereka berikan hanya 10 biji. Hidup di era online membuat hal-hal manual terasa menyesakkan, tetapi demi bisa melihat Rusia, saya tidak keberatan! Akhirnya saya dapatkan visa saya, dan pengalaman itu saya share ke teman-teman semua. Jangan ragu mengurus visa sendiri!

 

 

 

Hoi An Roastery ; Secangkir Kopi Di Tepi Sungai Thu Bon

Di tepi sungai Thu Bon yang mengalir tenang, kota kuno Hoi An yang sudah berusia 300 tahun lebih tampak eksotis.  Pada malam hari lampion-lampion akan menyala menerangi seluruh penjuru kota kuno dengan bentuk-bentuk yang antik sekaligus cantik.  Bangunan-bangunan kuno ini digunakan sebagai kafe, toko souvenir, restoran, hotel dan bermacam-macam aktivitas. Malam kedua saya berada di kota ini, saya ingin menikmati secangkir kopi sambil memandangi gemerlapnya lampion yang semarak di sepanjang pinggir sungai Thu Bon. Setelah menyusuri sepanjang sisi sungai dan menolak tawaran pengemudi perahu serta penjual lilin kecil yang dilarung di sungai, saya memilih belok ke satu kafe unik yang terletak di pinggir jalan tepi sungai.  Kata seorang teman, saya harus mencoba kopi telur saat berkunjung ke Hoi An. Maka saya memilih Hoi An Roastery. Setelah memilih tempat duduk tepat di pinggir jalan sehingga bisa melihat lalu lalang orang dan gemerlap lampion persis seperti rencana sebelumnya, seorang waitress memberikan daftar menu.

Hoi An Roastery selain menyajikan menu kopi, coklat, jus dan pastry, juga menyajikan menu sarapan. Saya dan teman saya kemudian memesan kopi telur dan kopi drip. Cha Pe Trung atau kopi telur memiliki tampilan mirip dengan cappuccino. Hanya saja foam milk atau bisa susunya diberi campuran kuning telur hingga tampak kekuningan. Bahan-bahan untuk membuat racikan kopi ini terdiri dari kopi bubuk Vietnam, jenis Robusta, air panas, susu kental manis dan kuning telur ayam.  Rasanya menurut saya hampir kayak adonan roti. Jujur saja, saya lebih suka kopi latte daripada kopi telur. Tapi daripada penasaran jadi saya memang harus mencobanya.

Kopi vietnam drip adalah kopi yang diseduh dengan dripper vietnam dan disajikan bersama susu/krimer. Penyajian minuman ini lahir karena menyesuaikan karakter biji robusta dari hasil perkebunan di Vietnam. Metode ini akan menghasilkan minuman dengan cara ekstraksi lewat tetesan. Dripper berbentuk seperti gelas metal dan terdiri dari tabung, plunger, dan tutup metal. Penggunaannya sangat mudah, setelah bubuk kopi dimasukkan, masukkan plunger lalu tekan, taruh dripper di atas gelas, lalu tuang air panas. Saya kemudian menunggu tetesan demi tetesan kopi ini memenuhi cangkir sampai siap diminum. Teman saya mengingatkan jangan sampai saya menyentuh gelas metal itu karena pasti akan terbakar.  Saya lebih menyukai ini ketimbang kopi telur.

Tepat jam 9 malam jalanan di depan sungai mulai sepi. Lampu-lampu kafe mulai mati. Saya yang berniat begadang sampai pagi di kafe dihampiri waitress yang mengatakan bahwa sebentar lagi kafe tutup.  Kopi drip segera saya habiskan dan beranjak meninggalkan kafe.  Tetapi sebelum pergi saya melihat beberapa kemasan kopi bubuk di pojok kafe. Saya ingin membelinya tetapi waitress bilang sudah closing dan meminta saya kembali esok harinya.  Hoi An Roastery, tempat asyik untuk ngopi sambil menikmati semaraknya malam di pinggir sungai Thu Bon.

doc. pribadi & google

VINH HUNG HOI AN, VIETNAM ; LIBRARY HOTEL UNTUK PECINTA BUKU

Anda suka membaca buku disela perjalanan sambil leyeh-leyeh di hotel yang nyaman? Jika perjalanan anda sampai kota tua Hoi An, Vietnam, saya merekomendasikan Vinh Hung Library hotel. Hotel yang terletak tepat di kota tua Hoi An ini selain memiliki desain yang klasik dan cantik juga berkonsep library.

Sebagi backpacker sebenarnya saya lebih suka menginap di hostel karena jelas lebih murah dan akan menemukan banyak teman baru dari berbagai negara jika saya tinggal di dormitori. Cerita teman-teman baru dari berbagai negara ini menjadi amunisi buat saya menulis. Tetapi saat memilih-milih hostel di Hoi An saya malah menemukan hotel library ini di mesin pencari. Saya yang biasanya memang selalu membawa buku untuk dibaca dalam setiap perjalanan, ingin merasakan atmosfir yang berbeda dengan menginap di sini.

Saat sopir taksi menurunkan saya di depan hotel, saya langsung penasaran melihat desain unik di bagian depan. Begitu memasuki ruang resepsionis, tampak berbagai macam buku ditata rapi dan siap dibaca. Koleksinya pun tidak sedikit dan mencakup buku dari berbagai belahan dunia. Didominasi novel dan buku perjalanan, siapa saja bebas membawa buku yang ada di rak untuk dibaca asal dikembalikan.

Ada dua tipe kamar yang bisa kita sewa yaitu kamar dengan balkon yang berada di lantai atas, dan kamar tanpa balkon yang berada di lantai satu. Dilengkapi dengan wifi, kolam renang dan cafe kecil hotel ini sangat nyaman. Kamar saya ada di lantai dua dengan balkon yang memiliki pemandangan kota Hoi An meskipun pemandangan ini tidak terlalu cantik karena membentur jalanan gang. Di dalam kamar juga terdapat beberapa buku yang siap dibaca. Tampak buku populer dan wajib buat para pejalan “Eat, Pray and Love” di atas rak dan beberapa novel barat.  Desain kamarnya juga sangat unik dan klasik. Dengan barang-barang klasik khas Vietnam anda pecinta hal-hal eksotis akan menyukai hotel ini. Tak hanya di dalam kamar dan di ruang resepsionis buku-buku itu berada, di pojokan lorong hotel juga terdapat rak-rak buku yang siap dibaca. Bahkan saat sarapan pagi, di sekeliling ruang makan juga dipenuhi buku yang ditata sedemikian menarik.

Anda pecinta buku? Jangan lupa menginap di sini, saya yakin anda tak akan kecewa!

 

Budapest Central Market Hall

Jika anda pernah menonton film The Grand Budapest Hotel, Anda tentu mengenal Budapest yang merupakan ibukota Hungaria ini. Terletak di Eropa Tengah, negara ini berbatasan dengan Austria di sebelah barat, Ukraina dan Rumania di timur, serta Serbia dan Croatia di sebelah selatan. Kota cantik yang merupakan pintu masuk menuju Eropa Timur ini, memiliki sejumlah situs warisan dunia Unesco yang menjadi daya tarik wisatawan dari seluruh penjuru dunia.

Salah satu tempat yang selalu di kunjungi turis saat berada di Budapest adalah Central Market Hall atau Great Market Hall. Pagi hari sebelum matahari tinggi saya menyusuri jalanan kota Pest menuju Central Market Hall.  Pasar indoor terbesar di Budapest ini terletak di dekat jembatan Liberty dan Fovam square, tepat di ujung areal perbelanjaan Vaciutca.

Pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1897, namun sempat rusak dan ditutup selama perang dunia. Baru tahun 1990 restorasi selesai dilakukan kemudian dibuka kembali. Ketika saya memasuki gerbang besar Central Market Hall, saya disergap pemandangan sebuah pasar yang luas, bersih dan etnik. Memiliki bangunan seluas 10.000 meter persegi, pasar ini terdiri dari tiga lantai.  Lantai dasar menjual sayuran, buah-buahan, sosis, daging dan berbagai bumbu dapur.  Sebagian besar kios menjual paprika, baik yang sudah diolah maupun yang masih segar.

Saya naik ke lantai dua dan menemukan banyak penjual souvenir , baju serta taplak meja khas Hungaria.  Ketika berjalan memutar, saya menemukan penjual makanan khas Hungaria yang ramai dikerumuni para wisatawan. Pasar ini buka mulai jam 7 pagi, dilengkapi dengan ATM, toilet dan wifi.  Tempatnya yang luas, bersih dan penataannya yang menarik membuat pengunjung betah berlama-lama di pasar ini.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi pasar ini? Pasar ini buka pada hari Senin sampai Sabtu mulai dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Hari minggu tutup. Jika anda tidak suka terlalu ramai maka anda bisa berkunjung pada pagi hari sekitar jam 8-9 hari Senin – Jumat, karena pada hari Sabtu pasar akan sangat ramai dikunjungi turis maupun warga lokal. Jangan lupa mengunjungi pasar ini saat anda ke Budapest!

 

Saturday Night Market Chiang Mai

Kalau anda berkunjung ke Chiang Mai, Thailand, sebaiknya jangan melewatkan hari Sabtu, karena malamnya ada Saturday Night Market yang semarak dan menarik. Saat saya berkunjung ke Chiang Mai, saya tidak tahu ada pasar malam ini, tetapi sepulang dari Chiang Rai sore hari, mobil yang mengantar saya menurunkan saya di dekat lokasi pasar malam dan mereka menyarankan saya mengunjungi pasar ini.

Saturday Night Market Chiang Mai hanya ada hari Sabtu mulai jam 5 sore sampai jam 11 malam. Terletak di Wulai street tepat di depan gate selatan kota kuno, pasar ini menjual souvenir, lukisan, pakaian dan gerai makanan. Saya yang sejak siang kecapekan ekplore Chiang Rai mencari gerai makanan yang cocok. Saya menemukan nenek-nenek penjual Pad Thai yang dikerubungi pembeli dan ikutan antre.

Pasar ini menurut saya sangat menarik dan hidup. Tidak hanya barang-barang yang dijual, tetapi suasananya juga terasa hangat. Pelaku seni tradisional juga berpentas di sepanjang jalanan ini sehingga selain lampu-lampu yang menyala dramatis, suara musik khas lokal juga membuat rasa capek saya seharian lenyap. Jangan lewatkan Saturday Night Market saat berkunjung ke sini.

TIPS KELILING EROPA MURAH

Setiap mendengar kata Eropa yang terbayang di kepala kita pasti satu kata, “MAHAL!”. Memang benar Eropa mahal apalagi untuk pengguna mata uang rupiah. Di Eropa, mata uang rupiah seakan tiada harganya. Lantas bagaimana mewujudkan mimpi keliling Eropa dengan “acuan” kata mahal itu? Apakah kita perlu menunggu sampai kaya raya baru bisa keliling Eropa? Saya sih, nggak mau menunggu sampai kaya dulu baru keliling Eropa.  Takutnya saat menjadi kaya ternyata tidak sehat atau buruknya tidak punya umur lagi. So, banyak cara menuju Roma, banyak cara menuju Eropa! Itu bener banget! Jadi gimana dong caranya? Ini cara saya, mungkin akan beda dengan cara Anda, karena itu tadi, banyak jalan menuju Eropa!

Saya keliling Eropa satu bulan secara backpacker bersama beberapa teman. Semua persiapan mulai dari tiket, penginapan, rute perjalanan, makanan dan semua hal yang menyangkut kebutuhan traveling kami urus sendiri. Saya sih suka melakukan semuanya karena jadi belajar banyak hal dan tidak bergantung pada penyedia paket perjalanan. Satupun kami tidak menggunakan jasa agen atau paket perjalanan. Dengan cara itu kami bisa irit lebih dari setengah harga paket yang ditawarkan oleh travel tour.  Saya keliling London, Skotlandia, Paris, Geneva, Vienna, Praha, Amsterdam dengan biaya Rp. 29 juta selama satu bulan. Kalau menggunakan paket perjalanan minimal biaya pasti dua kali lipat. Iya dong, kita kan perlu membayar biaya penyelenggara paket tour. Iya kan?

Nah, apa saja sih yang mesti disiapkan untuk perjalanan murah ala saya ini?  Oke, saya akan share di sini, mungkin bisa berguna buat teman-teman yang ingin keliling Eropa dengan cara murah.

 

TIKET PROMO

Mencari tiket promo ini penting bahkan menjadi kunci murahnya perjalanan. Kita bisa mendapatkan tiket promo dengan mencegatnya melalui informasi group-group traveling.  Rajin-rajinlah mengecek group traveling yang selalu berbagi informasi tiket promo karena mereka selalu share seluk beluk tiket promo. Jangan kuatir tidak kebagian, tiket promo ini pada tahun-tahun terakhir banyak sekali dan mudah di dapatkan. Pesawat-pesawat full bujet dengan pelayanan yang bagus seperti Qatar, Etihad dan Emirates juga berlomba mengadakan promo. Bahkan Garuda meski harganya masih mahal buat kantong saya juga promo. Saya sendiri mendapatkan tiket Etihad multicity promo dengan pembelian setahun sebelum keberangkatan di harga Rp. 5,6 juta return dengan rincian perjalanan Jakarta- London kemudian kembali dari Amsterdam – Jakarta.

 

TIKET SAMBUNGAN ANTAR NEGARA

Bus merupakan transportasi murah sambungan antar negara. Tetapi ada kalanya kereta dan pesawat juga murah. Tiket promo sambungan antar negara biasanya untuk pembelian tiga bulan sebelum keberangkatan. Saya mencegatnya dengan menggunakan aplikasi GOEURO di android, FLIXBUS dan STUDENT AGENCY. Dengan selalu mengecek aplikasi itu kita akan tahu saat harga termurah muncul. Saya membeli tiket sambungan dengan harga yang lumayan murah. Misalnya London-Skotlandia menggunakan bus mendapat harga Rp.60 ribu, busnya bagus dan nyaman. Skotlandia-London menggunakan pesawat Ryan Air dengan harga Rp.200 ribu. Dan sambungan lain menggunakan kereta seperti Paris-Geneva yang kami beli dengan harga lebih murah dari harga normal. Sebelum berangkat ke Eropa, kami sudah membeli semua tiket sambungan antar negara dengan harga promo. Memang paling murah menggunakan bus, tetapi ada kalanya pesawat lebih murah dari bus jika harga promo. Hanya saja menggunakan pesawat untuk sambungan antar negara itu ribet karena proses check in sementara menggunakan kereta atau bus tinggal masuk dan duduk menunggu berangkat. Saya menyarankan jika anda punya banyak waktu lebih baik menggunakan bus atau kereta daripada pesawat.

 

PENGINAPAN

Penginapan di Eropa kebanyakan mahal, tetapi tetap bisa kita diakali. Pembelian harus jauh-jauh hari sebelum keberangkatan karena mendekati tanggal berangkat semakin mahal. Banyak pilihan penginapan yang bisa dipakai para backpacker. Tidak hanya hostel tetapi bisa airbnb. Menggunakan airbnb tentu lebih irit jika bersama banyak orang karena harganya akan dibagi. Tetapi kelemahan airbnb, kebanyakan jauh dari pusat kota sehingga perlu biaya transportasi lagi. Sementara hostel dengan tipe dormitory bisa menjadi pilihan murah dengan lokasi lebih strategis.  Sekali lagi, mencari informasi tentang penginapan yang direkomendasikan teman-teman traveler sangat dianjurkan, sehingga tidak salah pilih.

 

MAKANAN

Untuk sarapan kami membawa makanan instant dari Indonesia seperti indomie, energen dan biskuit. Kami biasanya makan sehari dua kali dan jika porsinya besar, kami bisa makan berbagi. Porsi makanan di Eropa itu besar sehingga kita bisa berbagi berdua atau bahkan bertiga. Karena saya tinggal di airbnb, saya memasak sendiri dengan membeli bahan masakan di minimarket.

 

INFORMASI NEGARA YANG KITA KUNJUNGI

Sebelum berangkat kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya melalui berita, artikel, grup traveler dan bertanya langsung ke mereka yang tinggal disana. Informasi ini sangat berharga agar kita bisa tahu apa yang mesti kita pilih dan kita lakukan selama perjalanan. Saya hampir semua informasi di negara yang saya lewati saya catat dalam buku kecil. Mulai dari mata uang, penukaran uang yang aman, tempat wisata, makanan, penginapan, kebiasaan orang setempat hingga tempat-tempat yang tidak banyak dikunjungi turis. Jangan lupa kartu transportasi yang akan kita gunakan di negara yang kita kunjungi jika kemungkinan bisa mendapatkan kartu yang lebih murah dari harga normal.

Masih banyak sebenarnya tips untuk mengirit perjalanan ke Eropa, yang saya tuliskan diatas hanya yang besar-besar, ohya, yang terpenting juga tidak banyak belanja. Saya sih tidak suka belanja sambil traveling jadi saya juga irit disini. Paling banter hanya membeli tempelan kulkas untuk kenang-kenangan. So…. sebenarnya ke Eropa nggak harus nunggu kaya kalau kita tahu jalan lain menuju Eropa. Let’s go!

 

Senyum Manis Adelita Dari Pasar Buah Berastagi

Hampir waktu makan malam saat mobil yang saya sewa seharian untuk keliling Medan melintasi jalanan berbukit dan udara sejuk (dingin) menyerbu kulit saya melalui jendela mobil yang saya buka sedikit. Bapak sopir yang sudah berusia 65 tahun tetapi masih gesit mengatakan kami tiba di kota Berastagi ; kota dengan pemandangan alam yang indah dan udaranya sejuk. Sayangnya saya tiba di sini sudah malam, sehingga hanya melihat sedikit pemandangan indah itu. Tetapi sepanjang perjalanan saya melihat perkebunan jeruk, hamparan bunga matahari dan sayur-sayuran. Berastagi yang berhawa sejuk dan terletak di perbukitan ini memang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani buah, sayuran dan bunga.

“Kita mampir dulu di pasar Berastagi,” kata Pak Sopir. “Kalau sampai sini tidak mampir pasar Berastagi nanti akan rugi,” lanjutnya. Saya menurut saja saat mobil berjuang melewati kemacetan yang panjang. Pasar Berastagi tidak jauh dari Tuju Perjuangan Berastagi yang menjadi gapura memasuki kota Berastagi. “Apa pasar masih buka malam hari seperti ini?” tanyaku. Sopir mengangguk dan berbelok mencari tempat parkir.

Pasar seluas 1 hektar ini tampak rapi. Lampu-lampu menyala menerangi penjual dan pembeli yang masih ramai saat malam tiba. Saya memasuki pasar dari arah samping dan tergoda melihat toko souvenir khas Medan. Berbagai macam souvenir ada di sini mulai dari tempelan kulkas, dompet kecil, gantungan kunci, kain khas Batak, t’shirt bersablon tempat wisata Medan dan banyak jenisnya lagi. Setelah membeli beberapa tempelan kulkas saya memasuki pasar. Deretan buah segar mulai dari jeruk, terong Belanda, markisa, sayuran dan bunga berjejer rapi. Saya kemudian berkeliling melihat buah-buahan yang menggoda itu.

Lalu saya berhenti di satu lapak yang dijaga gadis muda. Senyumnya mengembang saat saya melihat jeruk dan markisa yang dia jual. “Beli Kak, masih segar,” katanya. Saya sengaja berlama-lama memilih jeruk agar bisa ngobrol dengan pembelinya. Namanya Adelita, berjualan buah meneruskan pekerjaan orangtuanya yang petani buah-buahan. Dia tidak melanjutkan kuliah karena ingin membantu orangtuanya bekerja. Dan sepertinya dia juga menyukai pekerjaannya itu. Saya menawar harga jeruk perkilo yang dia ajukan dan dia menyetujuinya. Senyumnya mengembang saat menimbang jeruk dan memasukkan ke dalam tas plastik. “Saya boleh memotret kamu?” tanyaku. “Boleh, siapa tahu bisa masuk televisi,” jawabnya sambil tertawa lebar. Semangatmu semanis jeruk Medan yang kamu jual, Adelita.  Semoga kita bisa bertemu lagi.

 

Tertawa Bersama Ibu Dong di Central Market Hoi An

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di dunia seperti Edinburgh old town, Phuket old town, Geneva old town, Kyoto old town, Takayama old town, Kota Tua Jakarta, Penang old town, Chiang Mai old town dan beberapa tempat klasik lain yang saya lupa namanya, tetapi memasuki Hoi An old town membuat saya tercengang. Pada malam hari kota tua Hoi An akan dipenuhi lampion yang sangat indah. Saya merasa hidup di negeri dongeng bersama para peri yang terbang di atas sungai dengan perahu-perahu berlampion yang melintasi sungai. Saya janji pada diri sendiri untuk kembali ke kota ini suatu hari nanti!

Selain keindahan kota tua ini, Hoi An memiliki dua pasar yang banyak dikunjungi wisatawan. Hoi An night market dan Hoi An central market. Hoi An night market bisa kita temui di sepanjang jalan dekat sungai pusat kota tua Hoi An pada malam hari, tetapi jam 9 malam pusat kota ini sudah sangat sepi dan lampu dimatikan semua. Saya yang berniat nongkrong sampai pagi di pusat kota malah lampu kafe sudah dimatikan tepat jam 9 dan pemesanan makanan closing. Terpaksa saya balik ke hotel dengan kondisi sedikit gelap karena hanya beberapa lampu jalanan yang nyala. Bahkan hotel tempat saya menginap juga lampunya sudah dimatikan dan penjaga sudah tidur di depan pintu hotel.

Tetapi esok harinya saya tidak menyia-nyiakan untuk mengunjungi Central Market Hoi An sepulang dari My Son Sanctuary. Kebetulan letak pasarnya tak jauh dari tempat perahu kami ditambatkan. Guide yang mengantar kami ke My Son Sanctuary bilang kalau kami hanya perlu berjalan lurus sampai ketemu jembatan lalu belok kanan. Dan saya mengikuti petunjuk guide itu setelah pamitan.

Central market Hoi An lumayan luas dan bersih. Berbagai macam barang kebutuhan dijual disini, mulai dari sayuran, buah, makanan, kerajinan, pakaian dan kios makanan yang berjejer dengan menu yang menggoda. Saya menyusuri los-los pasar terbuka ini hingga berhenti di depan sebuah lapak yang menjual kopi Vietnam dan makanan khas Vietnam. Pemilik lapak ini sesuai nama tokonya namanya Ibu Dong. Beliau dengan ramah melayani saya yang aslinya hanya akan belanja sedikit tetapi ingin banyak ngobrol. Saya berpikir membeli kopi di sini akan lebih murah ketimbang di tempat lain. Meski kenyataannya kopi yang saya beli di pasar sama dengan harga yang ada di bandara Da Nang.  Ibu Dong sudah lama fokus berjualan kopi dan makanan khas Vietnam. Kopi yang dijualnya memiliki tingkatan tertentu dan orang akan membeli sesuai dengan seleranya. Salah satu kopi paling terkenal adalah merk Trung Ngu Yen dengan berbagai tingkatan nomor. Setelah tawar menawar saya membeli dua tingkatan nomor dengan bonus makanan khas Vietnam yang terbuat dari kelapa. Makanan ini kalau di Indonesia mirip sagon dengan bungkus plastik kecil-kecil rapi. Ibu Dong sangat ramah dan suka becanda. Bahasa Inggrisnya terbata-bata tetapi bisa saya pahami. Katanya berjualan di pasar membuatnya selalu ceria dan lupa masalah-masalah yang dihadapinya. Bertemu pembeli dari berbagai belahan dunia juga membuatnya bisa bertukar banyak informasi. Ibu Dong mengundang saya datang ke rumahnya jika saya masih lama di Hoi An, tetapi sayangnya sore itu saya harus kembali ke Da Nang dan melanjutkan perjalanan.  Obrolan itu kemudian menjadi panjang karena belum ada pembeli lain yang datang. Benar-benar lebih banyak obrolannya daripada barang yang saya beli.

 

Bertemu orang-orang baru selalu memberi energi baik dalam setiap perjalanan saya, salah satunya keceriaan Ibu Dong dan senyumnya yang selalu merekah saat melayani pembeli.“Let me know when you come  back to Hoi An!” katanya terbata saat memeluk saya yang berpamitan meninggalkan lapak dagangannya. Saya tersenyum, “I will.”