All posts by Admin2

Saturday Night Market Chiang Mai

Kalau anda berkunjung ke Chiang Mai, Thailand, sebaiknya jangan melewatkan hari Sabtu, karena malamnya ada Saturday Night Market yang semarak dan menarik. Saat saya berkunjung ke Chiang Mai, saya tidak tahu ada pasar malam ini, tetapi sepulang dari Chiang Rai sore hari, mobil yang mengantar saya menurunkan saya di dekat lokasi pasar malam dan mereka menyarankan saya mengunjungi pasar ini.

Saturday Night Market Chiang Mai hanya ada hari Sabtu mulai jam 5 sore sampai jam 11 malam. Terletak di Wulai street tepat di depan gate selatan kota kuno, pasar ini menjual souvenir, lukisan, pakaian dan gerai makanan. Saya yang sejak siang kecapekan ekplore Chiang Rai mencari gerai makanan yang cocok. Saya menemukan nenek-nenek penjual Pad Thai yang dikerubungi pembeli dan ikutan antre.

Pasar ini menurut saya sangat menarik dan hidup. Tidak hanya barang-barang yang dijual, tetapi suasananya juga terasa hangat. Pelaku seni tradisional juga berpentas di sepanjang jalanan ini sehingga selain lampu-lampu yang menyala dramatis, suara musik khas lokal juga membuat rasa capek saya seharian lenyap. Jangan lewatkan Saturday Night Market saat berkunjung ke sini.

TIPS KELILING EROPA MURAH

Setiap mendengar kata Eropa yang terbayang di kepala kita pasti satu kata, “MAHAL!”. Memang benar Eropa mahal apalagi untuk pengguna mata uang rupiah. Di Eropa, mata uang rupiah seakan tiada harganya. Lantas bagaimana mewujudkan mimpi keliling Eropa dengan “acuan” kata mahal itu? Apakah kita perlu menunggu sampai kaya raya baru bisa keliling Eropa? Saya sih, nggak mau menunggu sampai kaya dulu baru keliling Eropa.  Takutnya saat menjadi kaya ternyata tidak sehat atau buruknya tidak punya umur lagi. So, banyak cara menuju Roma, banyak cara menuju Eropa! Itu bener banget! Jadi gimana dong caranya? Ini cara saya, mungkin akan beda dengan cara Anda, karena itu tadi, banyak jalan menuju Eropa!

Saya keliling Eropa satu bulan secara backpacker bersama beberapa teman. Semua persiapan mulai dari tiket, penginapan, rute perjalanan, makanan dan semua hal yang menyangkut kebutuhan traveling kami urus sendiri. Saya sih suka melakukan semuanya karena jadi belajar banyak hal dan tidak bergantung pada penyedia paket perjalanan. Satupun kami tidak menggunakan jasa agen atau paket perjalanan. Dengan cara itu kami bisa irit lebih dari setengah harga paket yang ditawarkan oleh travel tour.  Saya keliling London, Skotlandia, Paris, Geneva, Vienna, Praha, Amsterdam dengan biaya Rp. 29 juta selama satu bulan. Kalau menggunakan paket perjalanan minimal biaya pasti dua kali lipat. Iya dong, kita kan perlu membayar biaya penyelenggara paket tour. Iya kan?

Nah, apa saja sih yang mesti disiapkan untuk perjalanan murah ala saya ini?  Oke, saya akan share di sini, mungkin bisa berguna buat teman-teman yang ingin keliling Eropa dengan cara murah.

 

TIKET PROMO

Mencari tiket promo ini penting bahkan menjadi kunci murahnya perjalanan. Kita bisa mendapatkan tiket promo dengan mencegatnya melalui informasi group-group traveling.  Rajin-rajinlah mengecek group traveling yang selalu berbagi informasi tiket promo karena mereka selalu share seluk beluk tiket promo. Jangan kuatir tidak kebagian, tiket promo ini pada tahun-tahun terakhir banyak sekali dan mudah di dapatkan. Pesawat-pesawat full bujet dengan pelayanan yang bagus seperti Qatar, Etihad dan Emirates juga berlomba mengadakan promo. Bahkan Garuda meski harganya masih mahal buat kantong saya juga promo. Saya sendiri mendapatkan tiket Etihad multicity promo dengan pembelian setahun sebelum keberangkatan di harga Rp. 5,6 juta return dengan rincian perjalanan Jakarta- London kemudian kembali dari Amsterdam – Jakarta.

 

TIKET SAMBUNGAN ANTAR NEGARA

Bus merupakan transportasi murah sambungan antar negara. Tetapi ada kalanya kereta dan pesawat juga murah. Tiket promo sambungan antar negara biasanya untuk pembelian tiga bulan sebelum keberangkatan. Saya mencegatnya dengan menggunakan aplikasi GOEURO di android, FLIXBUS dan STUDENT AGENCY. Dengan selalu mengecek aplikasi itu kita akan tahu saat harga termurah muncul. Saya membeli tiket sambungan dengan harga yang lumayan murah. Misalnya London-Skotlandia menggunakan bus mendapat harga Rp.60 ribu, busnya bagus dan nyaman. Skotlandia-London menggunakan pesawat Ryan Air dengan harga Rp.200 ribu. Dan sambungan lain menggunakan kereta seperti Paris-Geneva yang kami beli dengan harga lebih murah dari harga normal. Sebelum berangkat ke Eropa, kami sudah membeli semua tiket sambungan antar negara dengan harga promo. Memang paling murah menggunakan bus, tetapi ada kalanya pesawat lebih murah dari bus jika harga promo. Hanya saja menggunakan pesawat untuk sambungan antar negara itu ribet karena proses check in sementara menggunakan kereta atau bus tinggal masuk dan duduk menunggu berangkat. Saya menyarankan jika anda punya banyak waktu lebih baik menggunakan bus atau kereta daripada pesawat.

 

PENGINAPAN

Penginapan di Eropa kebanyakan mahal, tetapi tetap bisa kita diakali. Pembelian harus jauh-jauh hari sebelum keberangkatan karena mendekati tanggal berangkat semakin mahal. Banyak pilihan penginapan yang bisa dipakai para backpacker. Tidak hanya hostel tetapi bisa airbnb. Menggunakan airbnb tentu lebih irit jika bersama banyak orang karena harganya akan dibagi. Tetapi kelemahan airbnb, kebanyakan jauh dari pusat kota sehingga perlu biaya transportasi lagi. Sementara hostel dengan tipe dormitory bisa menjadi pilihan murah dengan lokasi lebih strategis.  Sekali lagi, mencari informasi tentang penginapan yang direkomendasikan teman-teman traveler sangat dianjurkan, sehingga tidak salah pilih.

 

MAKANAN

Untuk sarapan kami membawa makanan instant dari Indonesia seperti indomie, energen dan biskuit. Kami biasanya makan sehari dua kali dan jika porsinya besar, kami bisa makan berbagi. Porsi makanan di Eropa itu besar sehingga kita bisa berbagi berdua atau bahkan bertiga. Karena saya tinggal di airbnb, saya memasak sendiri dengan membeli bahan masakan di minimarket.

 

INFORMASI NEGARA YANG KITA KUNJUNGI

Sebelum berangkat kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya melalui berita, artikel, grup traveler dan bertanya langsung ke mereka yang tinggal disana. Informasi ini sangat berharga agar kita bisa tahu apa yang mesti kita pilih dan kita lakukan selama perjalanan. Saya hampir semua informasi di negara yang saya lewati saya catat dalam buku kecil. Mulai dari mata uang, penukaran uang yang aman, tempat wisata, makanan, penginapan, kebiasaan orang setempat hingga tempat-tempat yang tidak banyak dikunjungi turis. Jangan lupa kartu transportasi yang akan kita gunakan di negara yang kita kunjungi jika kemungkinan bisa mendapatkan kartu yang lebih murah dari harga normal.

Masih banyak sebenarnya tips untuk mengirit perjalanan ke Eropa, yang saya tuliskan diatas hanya yang besar-besar, ohya, yang terpenting juga tidak banyak belanja. Saya sih tidak suka belanja sambil traveling jadi saya juga irit disini. Paling banter hanya membeli tempelan kulkas untuk kenang-kenangan. So…. sebenarnya ke Eropa nggak harus nunggu kaya kalau kita tahu jalan lain menuju Eropa. Let’s go!

 

Senyum Manis Adelita Dari Pasar Buah Berastagi

Hampir waktu makan malam saat mobil yang saya sewa seharian untuk keliling Medan melintasi jalanan berbukit dan udara sejuk (dingin) menyerbu kulit saya melalui jendela mobil yang saya buka sedikit. Bapak sopir yang sudah berusia 65 tahun tetapi masih gesit mengatakan kami tiba di kota Berastagi ; kota dengan pemandangan alam yang indah dan udaranya sejuk. Sayangnya saya tiba di sini sudah malam, sehingga hanya melihat sedikit pemandangan indah itu. Tetapi sepanjang perjalanan saya melihat perkebunan jeruk, hamparan bunga matahari dan sayur-sayuran. Berastagi yang berhawa sejuk dan terletak di perbukitan ini memang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani buah, sayuran dan bunga.

“Kita mampir dulu di pasar Berastagi,” kata Pak Sopir. “Kalau sampai sini tidak mampir pasar Berastagi nanti akan rugi,” lanjutnya. Saya menurut saja saat mobil berjuang melewati kemacetan yang panjang. Pasar Berastagi tidak jauh dari Tuju Perjuangan Berastagi yang menjadi gapura memasuki kota Berastagi. “Apa pasar masih buka malam hari seperti ini?” tanyaku. Sopir mengangguk dan berbelok mencari tempat parkir.

Pasar seluas 1 hektar ini tampak rapi. Lampu-lampu menyala menerangi penjual dan pembeli yang masih ramai saat malam tiba. Saya memasuki pasar dari arah samping dan tergoda melihat toko souvenir khas Medan. Berbagai macam souvenir ada di sini mulai dari tempelan kulkas, dompet kecil, gantungan kunci, kain khas Batak, t’shirt bersablon tempat wisata Medan dan banyak jenisnya lagi. Setelah membeli beberapa tempelan kulkas saya memasuki pasar. Deretan buah segar mulai dari jeruk, terong Belanda, markisa, sayuran dan bunga berjejer rapi. Saya kemudian berkeliling melihat buah-buahan yang menggoda itu.

Lalu saya berhenti di satu lapak yang dijaga gadis muda. Senyumnya mengembang saat saya melihat jeruk dan markisa yang dia jual. “Beli Kak, masih segar,” katanya. Saya sengaja berlama-lama memilih jeruk agar bisa ngobrol dengan pembelinya. Namanya Adelita, berjualan buah meneruskan pekerjaan orangtuanya yang petani buah-buahan. Dia tidak melanjutkan kuliah karena ingin membantu orangtuanya bekerja. Dan sepertinya dia juga menyukai pekerjaannya itu. Saya menawar harga jeruk perkilo yang dia ajukan dan dia menyetujuinya. Senyumnya mengembang saat menimbang jeruk dan memasukkan ke dalam tas plastik. “Saya boleh memotret kamu?” tanyaku. “Boleh, siapa tahu bisa masuk televisi,” jawabnya sambil tertawa lebar. Semangatmu semanis jeruk Medan yang kamu jual, Adelita.  Semoga kita bisa bertemu lagi.

 

Tertawa Bersama Ibu Dong di Central Market Hoi An

Saya sudah mengunjungi beberapa kota tua di dunia seperti Edinburgh old town, Phuket old town, Geneva old town, Kyoto old town, Takayama old town, Kota Tua Jakarta, Penang old town, Chiang Mai old town dan beberapa tempat klasik lain yang saya lupa namanya, tetapi memasuki Hoi An old town membuat saya tercengang. Pada malam hari kota tua Hoi An akan dipenuhi lampion yang sangat indah. Saya merasa hidup di negeri dongeng bersama para peri yang terbang di atas sungai dengan perahu-perahu berlampion yang melintasi sungai. Saya janji pada diri sendiri untuk kembali ke kota ini suatu hari nanti!

Selain keindahan kota tua ini, Hoi An memiliki dua pasar yang banyak dikunjungi wisatawan. Hoi An night market dan Hoi An central market. Hoi An night market bisa kita temui di sepanjang jalan dekat sungai pusat kota tua Hoi An pada malam hari, tetapi jam 9 malam pusat kota ini sudah sangat sepi dan lampu dimatikan semua. Saya yang berniat nongkrong sampai pagi di pusat kota malah lampu kafe sudah dimatikan tepat jam 9 dan pemesanan makanan closing. Terpaksa saya balik ke hotel dengan kondisi sedikit gelap karena hanya beberapa lampu jalanan yang nyala. Bahkan hotel tempat saya menginap juga lampunya sudah dimatikan dan penjaga sudah tidur di depan pintu hotel.

Tetapi esok harinya saya tidak menyia-nyiakan untuk mengunjungi Central Market Hoi An sepulang dari My Son Sanctuary. Kebetulan letak pasarnya tak jauh dari tempat perahu kami ditambatkan. Guide yang mengantar kami ke My Son Sanctuary bilang kalau kami hanya perlu berjalan lurus sampai ketemu jembatan lalu belok kanan. Dan saya mengikuti petunjuk guide itu setelah pamitan.

Central market Hoi An lumayan luas dan bersih. Berbagai macam barang kebutuhan dijual disini, mulai dari sayuran, buah, makanan, kerajinan, pakaian dan kios makanan yang berjejer dengan menu yang menggoda. Saya menyusuri los-los pasar terbuka ini hingga berhenti di depan sebuah lapak yang menjual kopi Vietnam dan makanan khas Vietnam. Pemilik lapak ini sesuai nama tokonya namanya Ibu Dong. Beliau dengan ramah melayani saya yang aslinya hanya akan belanja sedikit tetapi ingin banyak ngobrol. Saya berpikir membeli kopi di sini akan lebih murah ketimbang di tempat lain. Meski kenyataannya kopi yang saya beli di pasar sama dengan harga yang ada di bandara Da Nang.  Ibu Dong sudah lama fokus berjualan kopi dan makanan khas Vietnam. Kopi yang dijualnya memiliki tingkatan tertentu dan orang akan membeli sesuai dengan seleranya. Salah satu kopi paling terkenal adalah merk Trung Ngu Yen dengan berbagai tingkatan nomor. Setelah tawar menawar saya membeli dua tingkatan nomor dengan bonus makanan khas Vietnam yang terbuat dari kelapa. Makanan ini kalau di Indonesia mirip sagon dengan bungkus plastik kecil-kecil rapi. Ibu Dong sangat ramah dan suka becanda. Bahasa Inggrisnya terbata-bata tetapi bisa saya pahami. Katanya berjualan di pasar membuatnya selalu ceria dan lupa masalah-masalah yang dihadapinya. Bertemu pembeli dari berbagai belahan dunia juga membuatnya bisa bertukar banyak informasi. Ibu Dong mengundang saya datang ke rumahnya jika saya masih lama di Hoi An, tetapi sayangnya sore itu saya harus kembali ke Da Nang dan melanjutkan perjalanan.  Obrolan itu kemudian menjadi panjang karena belum ada pembeli lain yang datang. Benar-benar lebih banyak obrolannya daripada barang yang saya beli.

 

Bertemu orang-orang baru selalu memberi energi baik dalam setiap perjalanan saya, salah satunya keceriaan Ibu Dong dan senyumnya yang selalu merekah saat melayani pembeli.“Let me know when you come  back to Hoi An!” katanya terbata saat memeluk saya yang berpamitan meninggalkan lapak dagangannya. Saya tersenyum, “I will.”

 

 

 

GADONG NIGHT MARKET

Brunei Darussalam memang bukan negara tujuan wisata. Tak banyak tempat wisata kita temukan di sana. Tetapi ada satu tempat yang sedikit ramai pada malam hari. Tempat itu adalah Pasar Malam Gadong.  Kalau anda berkunjung pada bulan Ramadhan, cobalah singgah di Gadong night market yang buka mulai pukul 3 sore hingga 10 malam ini. Anda akan menemukan kemacetan mobil di jalanan menuju Pasar Gadong. Kemacetan yang jarang ditemui di seluruh jalanan Brunei yang sepi hanya dilewati satu dua mobil.

Dengan naik DART (taksi online) dari Pasar Kianggeh yang ternyata hanya ada beberapa orang jualan dengan sebagian besar lapak-lapak kosong, saya tiba di Gadong Night Market tepat pukul 4 sore. Pasar ini sudah ramai dan warga lokal Brunei sudah mengantre di depan stand-stand makanan yang menjual berbagai menu. Ada beberapa orang Indonesia yang juga berjualan di pasar ini. Mereka memutar lagu-lagu Indonesia sehingga Pasar menjadi lebih ramai.

Saya berkeliling Pasar untuk membeli menu buka puasa, tetapi karena berbagai makanan enak ada di sana, saya jadi bingung. Ada nasi lemak, mie goreng, ayam bakar, ikan bakar, nasi ayam, gorengan khas Brunei, jajanan pasar dan banyak lagi. Saya kemudian membeli nasi ayam dan minuman sirup. Di ujung pasar tampak meja kursi untuk pengunjung yang ingin makan di tempat ini, tetapi meja kursi yang disediakan sudah dipenuhi pengunjung. Saya menemukan satu tempat yang masih kosong dan menunggu buka puasa di tempat itu.

Begitu terdengar suara adzan, warga yang menunggu buka puasa langsung menyantap makanannya.  Seorang warga lokal bersama temannya meminta ijin duduk di samping saya, dan kami buka puasa bersama sambil ngobrol. Katanya pasar ini selalu ramai meskipun bukan bulan Ramadhan. Pada hari-hari biasa,  pasar akan ramai hingga jam 10 malam dikunjungi orang yang makan malam di sini. Menyenangkan sekali bergabung dengan warga lokal buka puasa di pasar ini. Setelah buka puasa saya melangkah ke mushala yang ada di depan Pasar Gadong. Mushala ini meski kecil tampak bersih dan lengkap. Brunei memang bukan negara yang memiliki banyak tempat wisata, tapi kehidupan masyarakatnya yang tenang layak kita selami.

 

 

 

Bertemu Survivor Perang Vietnam di Pasar Dong Xuan

“Hello… shopping! Shopping! Very cheap! Very cheap!” teriak seorang lelaki tua yang berjualan souvenir di dekat pintu masuk pasar Dong Xuan Hanoi sambil melambaikan tangan ke saya. Saya yang tidak ingin belanja souvenir hanya menggeleng dan melangkah masuk ke dalam pasar terbesar di Hanoi itu. Tetapi sepanjang saya menyusuri pasar mencari baju Ao Dai (baju tradisional Vietnam), malah kepikiran lelaki tua itu dan berniat mampir melihat barang dagangannya setelah selesai mengelilingi pasar.

Terletak di jantung kota tua Hanoi Vietnam, pasar Dong Xuan yang dibangun oleh Perancis pada akhir abad 19 ini merupakan pasar tertutup yang terdiri dari beberapa lantai dengan banyak kios serta lorong-lorong kecil. Di lantai dasar bagian tengah, ada air mancur dengan tempat duduk di sekelilingnya sehingga pengunjung pasar bisa melepaskan lelah di sini.  Pasar ini menjual berbagai kebutuhan mulai dari pakaian, makanan, sepatu dan souvenir.

Saya kemudian naik ke lantai satu untuk mencari baju Ao Dai. Sudah lama saya ingin memiliki baju tradisional Vietnam ini karena unik dan cantik. Selain itu juga bisa dikenakan wanita berjilbab karena modelnya yang mirip baju kurung. Saya menemukan satu kios yang menjual baju Ao Dai dengan harga sesuai kantong saya dan warna yang saya cari, tetapi sayangnya ukuran untuk saya tidak ada. Akhirnya saya mengurungkan niat membeli baju Ao Dai di pasar ini karena tidak menemukan kios lain dengan harga yang lebih baik. Jika ingin berbelanja di pasar ini, jangan lupa menawar untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Setelah menyusuri lorong-lorong sempit dan mampir di beberapa kios, saya memutuskan untuk keluar dari pasar. Tetapi lebih dulu ingin singgah di kios souvenir lelaki tua di dekat pintu keluar. Begitu saya lewat, lelaki tua itu sedang duduk di kursinya sambil membaca koran. Tampak tenang dan fokus pada bacaannya. Saya memilih-milih souvenir dan dia meletakkan korannya sambil tersenyum lebar menatap saya.

“Shopping! Shopping! Very cheap!” katanya lagi.

Saya tertarik pada tas etnik berwarna merah yang terlihat seperti kain tenun. Lelaki tua itu bangkit mendekati saya, dan saya baru sadar kalau kaki beliau tinggal satu dan mengenakan kruk. Tapi gerakannya energik dan senyumnya sangat ramah. Saat menatap wajahnya saya merasakan aura positip menular ke diri saya.  Saya menanyakan harga tas, dan mengajukan tawaran. Entah tawaran saya terlalu tinggi atau beliau yang murah hati, tetapi tawaran pertama saya langsung disetujuinya. Bahkan beliau memberikan dua dompet kecil sebagai bonus. Teman perjalanan saya memutuskan belanja banyak souvenir di kios ini dan saya menunggunya.

“Take a seat!” katanya menyodori saya kursi plastik untuk duduk. Saya tersenyum dan mengangguk. “cảm ơn”

Matanya berbinar mendengar saya mengucap terima kasih dalam bahasa Vietnam. “Ah, you speak Vietnamese?” Saya tertawa sambil menunjukkan google translate di handphone saya,”No, no… i use google translate. See?”  “Oh, I see. Where are you from?” tanyanya sambil balas tertawa.  “Indonesia.”

“Oh ya, Indonesia. I know your country. Beautiful beach, ah?”

“Ya, i guess so…”

Lalu sambil menunggu teman saya memilih-milih souvenir, kami ngobrol. Saya merasa aura positipnya menulari saya sehingga saya ikut tersenyum lepas.

Namanya Pak Binh Phan, usianya menjelang 70 tahunan. Tapi badannya masih tegap, terlihat sehat dan jejak ketampannya masih jelas di wajahnya.  Saat terjadi perang Vietnam, beliau masih berusia 20-an dan kehilangan satu kakinya. Kondisi yang sulit paska perang dan menyesuaikan hidup dengan satu kaki hampir membuatnya putus asa. Tapi ia sanggup bertahan dan mengatasi kesulitannya dengan berbagai cara. Setelah merintis berbagai usaha namun gagal, kemudian ia berjualan souvenir di pasar Dong Xuan hingga saat ini. Menurutnya bertemu pembeli dari berbagai negara dan mendengar sedikit cerita mereka yang mampir di kiosnya membuatnya lebih semangat.

Saya justru kebalikannya. Saya mendapatkan semangat hidup saya yang sedang remuk saat keliling Vietnam ini kembali lewat Pak Binh Phan. Jika dengan satu kaki saja beliau bisa bertahan melewati banyak hal, bagaimana dengan saya yang memiliki kaki normal? Bahkan yang saya lakukan hanya mengeluh dan mengeluh. Di akhir obrolan saya, Pak Binh Phan memeluk saya penuh respect saat saya meminta foto bersama.  Beliau juga tidak keberatan saat saya mengambil fotonya dari berbagai sudut.  Saya seperti menangkap pesan dari matanya yang bersinar positip bahwa memiliki satu kaki bukan masalah, asalkan masih bisa menciptakan kebahagiaan untuk diri sendiri dan orang di sekelilingnya. Terima kasih Pak Binh Phan! You are awesome!

Munjungan, Kenangan dan Harapan

“Kapan awakmu anjok? (kapan kamu turun gunung)?”

Itu pertanyaan teman-teman saya yang tinggal di Trenggalek kota, saat ingin bertemu sementara saya berada di Munjungan. (note : buat yang nggak tahu, Munjungan itu berada di kawasan pegunungan Trenggalek Jawa Timur, pinggir pantai selatan, sementara teman-teman saya tinggal di dataran Trenggalek kota kabupaten).  Dulu setiap mendengar pertanyaan itu saya jadi minder, Ya Tuhan betapa anggunnya saya (anak nggunung maksudnya) dibanding mereka yang tinggal di dataran kota Trenggalek, saya merasa seperti manusia purba yang masih memakai baju dari dedaunan dan menggunakan transportasi sulur-sulur pohon besar ala Tarzan untuk sampai ke seberang.

Sayangnya, meski kampung tempat saya dibesarkan ini sekarang telah menjelma kota, teman-teman saya masih takut “munggah” (naik) ke Munjungan. Mungkin mereka masih berpikir jalan yang meliuk-liuk di sela pegunungan itu akan melahapnya, mabuk perjalanan atau diculik Tarzan? Duh, kalian belum merasakan betapa asyiknya naik mobil pick up terbuka, duduk di belakang, menembus kabut pegunungan yang tinggi, melihat jurang-jurang terjal dengan pemandangan gunung yang dramatis, sungai penuh bebatuan di bawah sana dan menghirup udara segar di sela pohon-pohon yang menjulang. Atau berhenti di puncak tertinggi untuk melihat laut yang membiru di kejauhan sambil menghirup kopi panas dan menikmati semangkuk bakso.  Bahkan sebulan lalu, saya memilih naik mobil bak terbuka duduk di belakang pada malam hari sekitar jam 8-9 malam menembus hutan berkabut dan gerimis. Saya merasa seperti bertualang di Jurasic Park meskipun bak belakang mobil pick up yang saya duduki bekas kambing tapi saya bahagia. Saya jarang memilih naik mobil tertutup (kecuali hujan atau diomelin Ibu) saat pulang karena merasa akan kehilangan sensasi petualangan menembus hutan.

For your information…, Munjungan memiliki banyak tempat wisata yang mungkin tidak ada di dataran kota Trenggalek. “Ya iyalah, karena gunung dan dataran tentu saja berbeda Ri.” (mohon baca dulu, sebelum nyampluk saya, hahaha) Oke, deal! Mari kita lanjutkan sambil nangkis samplukan. Jika kalian ingin santai-santai di tepi pantai sambil nongkrong ngopi sore sampai malam, kami punya pantai Blado yang paling mudah untuk dikunjungi. Jika kalian ingin menikmati pantai berbatu yang romantis dengan pasir ‘agak putih’ lembut dengan background perahu-perahu nelayan, kalian bisa ke pantai Ngampiran. Jika kalian suka air terjun, kami punya coban Wonoasri yang mudah dijangkau dengan naik motor lalu nyambung hiking 15 menit. Jika kalian suka pemandangan hutan yang instagramable, kalian bisa coba Hutan Plumpit. Masih ada pantai Raja’an, Ngadipuro, Slah dan Dadapan yang tak kalah indah.

Kalau makanan bagaimana?  Sebagai daerah pesisir, jika suka kalian bisa memuaskan diri makan seafood. Ikan, udang, cumi, rumput laut dengan berbagai cara masaknya yang menggiurkan. Kalau kalian mau bisa menunggu jaring nelayan naik ke daratan dan membeli satu plastik ikan laut segar dengan harga lebih murah ketimbang esok harinya di pasar.  Atau cicipi jajanan pasar jadul yang enak dan murah seperti getuk, cenil, pecel, punten, tiwul, jadah dan banyak lagi. Tapi kalau kalian suka makanan masa kini, jangan salah! Di sini juga ada fried chicken, sate, tahu bulet, martabak, kue pukis, bakso, nasi goreng dan lain-lainnya. Kalau mau gratis, kalian bisa makan di rumah saya, hanya jika saya dan ibu saya sedang di sana, karena kalau tidak, rumah saya kosong. Oke, apakah sudah membuktikan bahwa kami tidak hanya makan daun-daunan mentah dan berburu binatang ala Tarzan? Kalau belum saya lanjutkan!

Sekarang soal nguri-nguri tradisi, melestarikannya agar tidak punah. Kalau kata eyang Mahatma Gandhi “sebuah budaya bangsa tinggal di hati dan di dalam jiwa rakyatnya.” Ada beberapa tradisi yang masih dilestarikan seperti longkangan dan syawalan. Beberapa tahun terakhir,  desa saya Karangturi-Munjungan merayakan tradisi Syawalan. Saya sengaja memperpanjang libur lebaran saya, agar bisa melihat Syawalan ini.  Seingat saya sejak kecil jika ingin melihat tradisi Syawalan harus ke daerah lain yang merayakannya. Namun kini, Kepala desa kami yang muda dan progresif tampak berusaha melestarikan tradisi ini setiap tahunnya dan melakukan banyak kemajuan di berbagai bidang sehingga desa kami lebih berdaya. Tidak hanya kirab gunungan ketupat, namun juga dilengkapi dengan tarian jaranan, drum band, pasar malam dan panggung hiburan. So, kalau kalian masih berkeinginan “munggah” (naik) ke Munjungan, banyak hal menarik bisa kalian gali, jangan kuatir orangnya juga cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Yakali saya mau bilang jelek, sementara saya juga orang sini. Hahaha.

 

Belasan tahun sudah saya “anjok kebablasan” dari Munjungan dan hidup lama di perantauan bahkan mungkin tak akan pernah kembali menetap di tanah kenangan ini. Saya tidak lahir di tanah kenangan ini, tapi saya datang bersama ibu saat usia saya 4 tahun. Ketika itu jalanan menembus hutan masih bebatuan dan alat transportasinya hanya jeep tua. Lalu saya meninggalkan tanah kenangan ini saat jalanan sudah beraspal, namun sawah-sawah belum banyak yang punah. Saya tidak mempunyai sumbangsih apa-apa untuk tanah tempat saya dibesarkan ini, bahkan mungkin saya memiliki banyak hutang budi. Karena di tanah kenangan ini saya dipaksa menerima hal-hal baru dalam usia 4 tahun, saya banyak belajar menjadi manusia, banyak berpikir tentang tujuan hidup, banyak protes sebagai perempuan yang dibesarkan dalam tradisi Jawa dan banyak mendapatkan inspirasi untuk dituliskan. Saya berharap, semakin maju tanah ini, semakin maju pula masyarakatnya.  Semoga.

Dan, saya berharap teman-teman saya di dataran Trenggalek kota yang selalu nanya, “kapan awakmu anjok?” akan mulai mau “munggah” untuk menikmati keindahannya. Saya percaya, kalian tidak akan kecewa! Saya jamin!

*Credit Picture : Doc. Pribadi dan Wanda

CERITA DARI PASAR CHOWRASTA

Pukul 7 pagi, saya keluar penginapan untuk menghirup udara pagi Penang, Malaysia. Orang-orang sering menyebutnya Pulau Pinang karena kota ini memang terletak di kepulauan kecil yang masih masuk dalam wilayah Seberang Parai.  Di kalangan orang Indonesia, Penang lebih terkenal sebagai tempat berobat karena memiliki beberapa rumah sakit yang bagus. Padahal tak hanya itu, Penang juga memiliki George Town, salah satu kota yang masuk daftar Unesco Heritage Site karena berhasil melestarikan bangunan bersejarah dari abad lampau.  Bangunan-bangunan tua cantik perpaduan arsitektur Eropa dan Asia yang difungsikan sebagai toko, cafe, restoran dan tempat tinggal ini bisa anda temui saat berjalan-jalan menyusuri George Town.

Tujuan saya pagi ini ke Pasar Chowrasta. Ide mengunjungi pasar ini datang dari seorang sahabat yang menitipkan pesannya ke salah satu penjual buku di Pasar Chowrasta. Tetapi Pasar Chowrasta yang berdiri sejak 1890 dan telah mengalami beberapa perbaikan ini memang menjadi salah satu tujuan wisata. Terletak di perempatan pusat kota tepatnya di jalan Lebuh Tamil, pasar tradisional ini menjual bermacam kebutuhan mulai dari jajanan, sayur mayur, daging, sembako, pakaian dan buku. Di sebelah pasar ini juga terdapat deretan tenda-tenda kecil yang berjualan makanan seperti cendol, rujak, es campur yang menurut saya sangat enak.

Setelah menyusuri lantai 1 pasar Chowrasta, saya naik ke lantai 2, tempat deretan lapak penjual buku berada. Tidak susah untuk menemukan lapak yang dimaksud sahabat saya untuk dikunjungi. Pemiliknya bernama Pakcik Iskandar, lelaki India yang ramah berusia sekitar 60 tahun. Kawasan pasar ini pada pertengahan abad 19 memang banyak dihuni suku Tamil yang berasal dari India Selatan, salah satunya nenek moyang Pakcik Iskandar. Meskipun sekarang populasi orang-orang India di sekitar kawasan Chowrasta mengecil, namun kita masih bisa menemukannya di pasar ini.

 

 

Pakcik Iskandar yang mencintai buku ini sejak muda sudah berjualan di Chowrasta. Koleksi bukunya cukup lengkap terdiri dari buku-buku baru dan buku bekas dari penulis berbagai negara seluruh dunia termasuk buku dari Indonesia. Saya menemukan buku-buku terbitan tahun 1945-1950-an dengan kondisi kertas masih bagus dan harga terjangkau. Pak Iskandar juga mempersilakan saya menawar harga yang beliau ajukan untuk mendapatkan harga yang bagus.

 

Saya kemudian membeli buku LITTLE BOY LOST dari penulis Inggris Marghanita Laski terbitan tahun 1949 yang bercerita tentang laki-laki yang mencari anaknya yang hilang di Perancis selama masa perang dan buku MERRIE ENGLAND dari penulis Paul Johnson terbitan tahun 1964. Ada beberapa buku tua tentang sejarah Melayu yang ingin saya beli tetapi harganya lumayan mahal sehingga saya batal membelinya. Pak Iskandar menguasai semua isi buku yang dijualnya dan menjelaskan setiap detail buku dengan gamblang ke pelanggannya.  Bahkan ketika beberapa orang generasi milenial datang mencari buku romans remaja, Pak Iskandar langsung tanggap dan memahami buku yang dimaksud. Baginya buku adalah denyut nadi kehidupannya dan jalan rezekinya. Meski dunia digital bisa jadi akan menenggelamkan semua buku-buku yang dijualnya, beliau selalu percaya rezeki akan menghampirinya melalui sesuatu yang dicintainya.

Hampir dua jam saya berbincang-bincang tentang Penang dan buku di lapaknya sambil melihatnya melayani pelanggan. Saya sempat menanyakan apakah pelanggannya banyak mencari buku dari penulis Indonesia? Menurut Pakcik Iskandar selalu ada yang mencari buku-buku tokoh Indonesia seperti Soekarno atau tokoh-tokoh Indonesia lainnya tetapi sayang koleksinya dari Indonesia sedikit. Dulu Pakcik sering datang ke Indonesia untuk mengambil buku-buku yang akan dijualnya sebelum kerjasamanya dengan salah satu penerbit berakhir karena penerbit itu tutup.Pasar selalu menghadirkan kehidupan khas manusia-manusia di kota yang ditinggalinya. Pakcik Iskandar dengan koleksi buku-bukunya adalah inspirasi bagi saya untuk bisa memahami bahwa cinta pada buku tak harus mati dengan banjirnya dunia digital. Karena begitulah cinta yang sebenarnya, tak mudah menyerah pada perubahan.

 

 

MENJENGUK MASA LALU.

Memories warm you up from the inside. But they also tear you apart” ~ Haruki Murakami

Lebaran ini saya pulang ke kampung masa kecil saya setelah 4 lebaran sebelumnya saya lewatkan di tempat lain. Terletak di pesisir Laut Selatan, sebenarnya  kampung masa kecil saya ini  sudah menjadi kota. Jalanan mulus, gang-gang yang sudah dicor rapi, rumah-rumah yang berdiri bagus dengan sanitasi yang memadai dan terdapat ruang publik untuk hiburan masyarakat . Jika saat saya kecil dulu jalanan depan rumah hanya dilewati kerbau yang mau ke sawah, sekarang menjadi jalur utama yang sangat ramai.  Motor yang pengendaranya tanpa helm ngebut bak balapan di sirkuit, mobil yang lalu lalang memasuki gang, pemuda-pemuda tanggung berambut stylis dengan cat merah, pirang, ungu di puncaknya, gadis-gadis ber-make-up lengkap dengan gaya fashioanable dan tak ketinggalan makanan-makanan kota seperti burger, sosis, fried chicken dijual di sini. Tidak bisa dihindari, kampung masa kecil saya telah lenyap dan berubah menjadi kota.

 

Bagi saya, pulang ke tempat ini adalah menjenguk masa lalu. Masa lalu yang menjadikan saya seperti sekarang. Seandainya rumah tidak bisa rusak, kami sekeluarga lebih suka membiarkan bangunan lama tetap berdiri tanpa polesan sesuatu yang baru, agar kami bisa sama-sama mengais kenangan ; makan bersama di wajan bekas memasak ikan kecap, tidur di tikar pandan, menggoreng satu telur dibagi banyak orang, membaca buku berulang-ulang karena buku waktu saya kecil sangat langka, meminta Bu Guru membuka perpustakaan agar saya dapat membaca buku lain, berebut wafer di kaleng Kong Guan dan melihat orang berjalan di hutan yang jauh dari kamar kami.

Tidak hanya kenangan-kenangan bersifat fisik yang saya kais dari masa lalu saya di tempat ini, tapi juga pemikiran-pemikiran saya di masa kecil.  Saya dibesarkan oleh ibu yang suka membaca dan menginginkan anak-anaknya lebih maju. Meski pendidikan ibu hanya tamat SMP, tetapi dari bacaannya yang banyak, beliau bisa memandang lebih luas ketimbang orang-orang di sekelilingnya. Dan begitulah saya dibesarkan. Di tengah banyak luka perjalanan hidup keluarga saya, saya dididik menjadi perempuan mandiri dan tidak hanya bercita-cita untuk menikah. Memasuki usia SMP saya haus bacaan dan informasi sementara akses bacaan dan informasi sangat sulit. Kami tidak memiliki televisi dan antena radio jarang bisa sampai. Maka saya mengirim surat-surat ke berbagai penjuru Indonesia melalui kolom sahabat pena yang ada di majalah remaja yang dipinjamkan ibu untuk saya. Dari surat-surat itulah saya bertukar pikiran dengan banyak teman di banyak tempat di Indonesia dan bercita-cita suatu ketika saya akan pergi lebih jauh untuk bertemu mereka. Ketika teman-teman seusia saya mulai puber dan sibuk pacaran, saya haus informasi dan jatuh cinta pada buku.

 

Masa remaja saya menjadi sedikit beda dengan teman-teman saya. Jika teman-teman memandang saya sebagai pendiam, sebenarnya pikiran saya bergolak. Saya sedikit pemberontak, antimainstrem dan benci feodalisme.  Ketika orang di sekitar saya bangga bergaul dengan pejabat serta nepotisme, saya membenci sikap-sikap itu. Bergaul bisa dengan siapa saja asal itu menyenangkan dan bermanfaat, tidak perduli siapapun dia. Saya juga berpikir bahwa cita-cita tidak harus menjadi PNS (kamu bisa menjadi apa saja, asalkan bisa memaksimalkan potensi dirimu), perempuan tidak hanya bertugas menikah dan beranak pinak, perempuan harus bisa dipandang karena kepandaiannya bukan hanya karena fisiknya yang menawan dan perempuan tidak harus berkulit putih agar tidak dicaci maki.  Saya tidak mampu mengungkapkan pikiran-pikiran saya yang bergolak itu melalui ucapan kecuali melalui sedikit tulisan saya dan menerapkan dalam kehidupan saya sendiri.

Melihat kehidupan teman-teman saya, saya seringkali merasa kehidupan saya berhenti. “Saya hanya begini-begini saja, sementara orang lain sudah berjalan jauh.” Tetapi kenyataannya hidup ini terus berjalan dan berubah.  Setiap mengais kenangan di tempat ini, saya melihat saya banyak berubah ; cara pandang saya, cara saya menghadapi masalah dan memperlakukan orang lain. Tetapi perubahan itu tidak menjauh dari pemikiran-pemikiran saya di masa kecil dan remaja. Jika dulu saya tersiksa dengan lingkungan yang memvonis saya, sekarang saya bisa memahami bahwa cara pandang saya memang berbeda dengan mereka sehingga mereka mungkin sulit menerima cara pandang saya. Maka saya sekarang bisa tersenyum menghadapi cara pandang mereka terhadap saya.

 

Ada perasaan senang sekaligus sedih melihat tempat masa kecil saya ini menjadi kota.  Saya kehilangan hal-hal eksotis yang dulu saya miliki di tempat ini, tetapi itu tidak bisa ditolak lagi. Semua tempat cepat atau lambat telah menjadi kota. Serbuan budaya kota mengalir deras melalui internet tanpa batas. Semua trend yang ada di kota dengan mudah diadopsi semua orang di manapun lokasinya asal terjangkau signal. Semoga yang terserap hal-hal yang baik dan bermanfaat yang akan merangsang pemikiran-pemikiran untuk lebih maju, bukan malah mundur.

Namun, jika semua tempat telah menjadi kota, semoga saya masih bisa menyimpan barang-barang masa lalu di tempat ini untuk mengais kenangan. Agar saya tidak lupa dari mana pemikiran-pemikiran berbeda saya pada masa kini berasal.  Saya akan menjenguknya selama umur masih ada.

 

 

BRUNEI DARUSSALAM : NO SMOKING, NO TIPPING! (PART 2)

“Peace cannot be kept by force ; it can only be achieved by understanding, ~ Albert Einstein.

Hari kedua di Brunei Darussalam, saya merencanakan untuk mengunjungi beberapa tempat turistik seperti Regalia Museum dan Masjid Omar Ali Saefuddin.  Karena menunggu bus lewatnya sangat lama, maka saya memesan taksi online (DART) yang beroperasi seperti GRAB atau GOCAR kalau di Indonesia. Selain angkutan umum sangat jarang, kebanyakan warga menggunakan mobil untuk transportasi. Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil kancil dengan pengemudi muda menjemput saya.  Begitu mobil melaju di jalanan menuju Regalia Museum, pengemudi muda ini banyak mengajak saya ngobrol, mulai dari menunjukkan tempat yang menarik dikunjungi di Brunei, sampai obrolan tentang Jakarta.  Hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk sampai Regalia Museum dan pengemudi muda itu menolak kembalian ongkos taksi online yang sengaja saya tinggalkan untuknya. Ia mengembalikan tepat sesuai angka sen terkecil.  Sikap ini mendadak membuat saya nyaman berada di negera kecil ini.  Tidak hanya no tipping, negeri ini juga no smoking. Sejak tahun 2012  merokok tidak diperbolehkan di negera ini. Jika tertangkap polisi harus membayar denda yang cukup besar.  Brunei merupakan satu negara bebas rokok terluas di dunia.  Tidak ada smoking room dimanapun bahkan dikamar mandi dipasang signboard “no smoking”.  Di areal luar-pun dilarang merokok dengan alasan, semua orang berhak atas udara yang bersih, jadi jangan sampai tercemar oleh asap rokok orang lain.

Regalia Museum

 

Regalia Museum berada tepat di tengah kota Brunei Darussalam dan berisi koleksi tribute to Sultan. Berisi koleksi foto-foto Sultan dari masa kecil hingga dewasa, kunjungan-kunjungan berbagai negara ke Brunei Darussalam dan cinderamata dari berbagai negara. Pengunjung hanya boleh memotret di luar ruangan koleksi, sementara di bagian dalam hanya diperbolehkan melihat-lihat. Saya menemukan banyak cinderamata dari Indonesia terpajang di koleksi bagian dalam berjejeran dengan cinderamata dari berbagai negara lain.

Areal dalam Regalia Museum

 

Udara di luar sangat panas menjelang waktu dhuhur saat saya berjalan ke arah  belakang museum sekitar 100 meter tempat masjid Omar Ali Saefuddin berdiri.  Dengan gaya arsitektur Mughal Islam dan Italia, masjid ini selesai dibangun pada tahun 1958.  Nama Omar Ali Saefuddin diambil dari nama Sultan Brunei ke-28. Di sekitar masjid ini terdapat laguna atau kolam buatan di tepi sungai di Kampong Ayer serta replika Perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan Bolkiah yang memerintah pada abad ke -16. Kubah masjid Omar Ali Saefuddin dilapisi emas murni dengan tinggi bangunan 52 meter sehingga dapat dipandang dari berbagai tempat di Brunei Darussalam.

Bagian dalam Masjid Omar Ali Saefuddin

 

Saya menghabiskan waktu hingga waktu taraweh di masjid Omar Ali Saefuddin ini. Selain mengambil foto juga ngobrol dengan pekerja migran dari Indonesia, Bangladesh dan India. Bahkan saya berbuka puasa di pelataran masjid dengan mereka dengan makanan yang disalurkan penduduk lokal ke masjid. “Saya dulu bekerja rumah tangga, tapi sekarang sudah punya usaha sendiri, jualan jamu,” kata pekerja dari Indonesia yang sudah di Brunei selama 18 tahun, bahkan satu anaknya sudah sekolah di sana. “Setahun saya pulang ke Jawa dua kali, “tambahnya. Banyak saudara kita bekerja di Brunei, bahkan saya selalu menemukan orang-orang Jawa di semua restoran tempat saya makan, rata-rata mereka sudah bekerja minimal 4 tahun dan akan kembali lagi.  Taraweh di Brunei 23 rakaat, tetapi beberapa jamaah yang memilih 8 rakaat menunggu di luar untuk kemudian bergabung lagi saat witir.  Di luar masjid saat taraweh juga tersedia banyak makanan gratis yang bisa diambil para jamaah atau siapa saja yang sedang berada di masjid.  Malam itu karena sudah lelah, saya memutuskan segera kembali ke hotel dan melanjutkan explore esok harinya.

Istana Nurul Iman, tempat kediaman Sultan

 

Hari berikutnya saya masih menggunakan DART untuk ekplore Brunei, dan kali ini dijemput dengan mobil Fortuner. Pengemudinya pendiam, sehingga saya tidak banyak ngobrol. Tujuan saya banyak sebenarnya, namun ternyata hampir semua lokasi tidak sama dengan bayangan saya. Kebanyakan lokasi yang saya kunjungi sepi sehingga saya seperti orang aneh jalan-jalan tidak jelas menyusuri lokasi wisata itu.  Pertama mengunjungi Istana Nurul Iman yang sepi dan hanya bisa melihat di depan pagarnya. Kedua saya mengunjungi pasar Kiangeh yang juga hanya ada beberapa penjual sayur. Lalu saya melanjutkan perjalanan ke Kampong Ayer. Ini agak lebih menarik ketimbang dua tempat sebelumnya.

Kampong Ayer

 

Kampong Ayer (kampung air) merupakan kawasan pemukiman yang secara historis merupakan pemukiman penting di Brunei. Pemukiman yang dibangun di atas sungai Brunei memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari sekolah, kantor polisi, kolam renang, hingga museum.  Satu bagian tampak dengan bangunan lebih tua sementara bagian lain sudah menggunakan beton dan sangat bagus. Saya hanya sempat menyusuri beberapa bagian karena ingin berkeliling menggunakan perahu.  Selama beberapa abad Kampong Ayer menjadi pusat ekonomi dan sosial yang penting di Brunei hingga awal imperialisme Inggris di Brunei.  Dari Kampong Ayer ini, saya memutuskan menyewa perahu untuk menyusuri sungai hingga ke pasar Gadong.  Jadi perjalanan saya tidak hanya menjelajah daratan namun juga melalui sungai.

Kampung Ayer

 

Sore menjelang buka puasa, saya mengunjungi pasar Gadong untuk berbuka puasa di sini bersama warga lokal yang antri belanja di pasar Gadong dan sebagian buka puasa di sini. Tulisan tentang Pasar Gadong, nanti akan saya tuliskan tersendiri.  Seminggu di Brunei Darussalam meninggalkan kenangan yang menarik buat saya. Negeri yang sepi namun tenang ini ramah dan nyaman untuk dikunjungi.  Saya memang tak mendapatkan tempat wisata sesuai impian saya, tetapi keramahan penduduknya dan ketenangan negara ini mempesona.